Société des Missions Etrangères de Paris, Bertumbuh Bersama Gereja Lokal

Imam Diosesan, Giginya Uskup

Imam diosesan itu ibarat giginya uskup. Demikian Pastor M. Dwijowandowo, pernah menulis dengan gaya yang renyah. Maksudnya dengan memiliki sejumlah imam diosesan, uskup mempunyai kekuatan untuk menjalankan karya penggembalaannya sebab para imam diosesan akan bekerja secara menetap di keuskupannya dan di bawah pimpinannya.

Tetapi karena berbagai kendala tidak selalu mudah bagi sebuah keuskupan untuk mendidik dan memiliki imam diosesannya sendiri. Di Keuskupan Tanjungkarang, tahun 1968  Rm. Marselinus Dwijowandowo ditabiskan sebagai imam diosesan pertama. Lama kemudian baru ditahbiskan satu lagi imam diosesan pribumi.

Memasuki tahun 1970-an jumlah umat semakin berkembang.   Tenaga imam SCJ yang selama ini berkarya di Keuskupan Tanjungkarang dan Palembang pun terbatas. Mungkin hal-hal tersebut  menjadi  alasan Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras SCJ meminta tenaga Serikat Misi Imam-imam Praja dari Paris atau dikenal sebagai MEP untuk berkarya di Lampung. Menjelang penghujung dekade 1970-an uskup pertama keuskupan Tajungkarang itu mendapat balasan surat dari pimpinan MEP bahwa untuk Lampung akan dikirim 4 orang misionaris. Mereka adalah Vincent le Baron (31), Paul Billaud (32), Joseph Gourdon (33) dan Ferdinando Pecoraro (57).

mep2b0012bmodified1

  • Berdiri kika : Jo Gourdon, Vincent le Baron dan Paul Billaud. Duduk : Ferdinando Pecoraro.
  • Foto 1978

Begitu membaca usia Pastor Percoraro yang uzur untuk ukuran seorang misionaris, Mgr. Hermelink menolaknya. “Tiga pastor yang muda dipersilakan datang,” tulisnya dalam surat. Pasti tidak mudah untuk orang yang berusia hampir 60 tahun untuk menyesuikan diri dan berpastoral di tempat baru, meski sebelumnya ia memilki “track record” yang luar biasa hebat sebagai misionaris di Tibet dan Taiwan.

Pastor Pecoraro bisa memahami penolakan itu. Tetapi 3 pastor muda itu menolak datang ke Lampung jika Pastor Peco tidak bersama mereka. “Peco itu payung kami. Dia diterima, atau tidak satu pun dari kami yang berangkat,” demikian suatu saat Pastor Vincent Le Baron bercerita tentang peristiwa hampir 40 tahun lalu itu. Mgr. Hermelink mengalah. Mereka berempat akhirnya tiba di Lampung pada 18 Maret 1978. Selama tiga bulan mereka mengenali keuskupan Tanjungkarang dan selama 6 bulan selanjutnya mereka mempelajari bahasa Indonesia di Bandung. Awal 1979 mereka kembali ke Lampung dan mulai bekerja untuk Keuskupan Tanjungkarang.

Pastor Pecoraro, yang tertua di antara mereka dan biasa dipanggil Simbah oleh umat,  berkarya di Paroki Katedral Tanjungkarang.  Ia kemudian menjadi Vikaris Jenderal atau wakil uskup, Mgr. Andreas Henrisoesanta. Usia lanjut tak mengahalanginya untuk mendatangi umat di desa-desa terisolir dalam wilayah paroki ini. Ia menghabiskan sisa usianya di paroki Tanjungkarang, sampai akhirnya penyakit kanker hati dan pankreas mengantarnya pada ajal, 26 januari 2002 di Charmauvillers, Perancis.

Pastor Vincent le Baron ditunjuk untuk bekerja di Paroki Kotagajah dan Pastor Joseph Gourdon di Paroki Pringsewu. “Kami berempat tidak bisa tinggal bersama dalam satu rumah,” kata Pastor Jo suatu saat. Ia melanjutkan sambil tertawa kecil, “ Vincent dan Paul bertengkar terus kalau tinggal bersama. Hanya masalah sepele. Misalnya Vincent merokok, abunya tercecer di mana-mana. Atau ia masak mie, bungkusnya tidak dibuang di tempat sampah. Paul orang yang selalu rapi. Dan Peco, tahu sendiri, seperti itu orangnya.”

Mungkin mereka masing-masing punya karakter mandiri yang unik.  Mereka tidak hidup berkomunitas dengan sesama pastor MEP, melainkan membentuk kolegialitas dengan imam-imam yang lain. Mereka sepenuhnya mengabdi kepada umat keuskupan di mana mereka berkerja di bawah wewenang uskup setempat.

Kehadiran keempatnya memberi warna baru bagi Gereja Lampung. Sebelumnya umat hanya mengenal para pastor religius dari kongregasi SCJ. Sekarang umat mengenal lebih dekat sosok seorang imam projo dengan gaya komunikasi dan pastoral yang berbeda. Memang sebelum mereka datang, di Keuskupan Tanjungakarang pernah berkarya dua pastor projo MSP dari Filipina. Tapi mereka tidak lama bekerja di Lampung.

Mengenal Serikat MEP

Société des Missions étrangères de Paris atau MEP didirikan  tahun 1658 berdasar pemikiran Alexandre du Rhodes SJ untuk menanggapi situasi misioner zaman itu. Kerajaan Spanyol dan Portugal menguasai berbagai belahan bumi. Dengan kekuasaan yang sangat besar tersebut kedua kerajaan itu memonopoli penyelenggaraan karya misioner dan seringkali hanya seturut cara yang menguntungkan mereka sendiri. Dengan situasi semacam ini dibutuhkan suatu  presbiterium yang terdiri dari klerus sekulir pribumi dan juga dipimpin oleh hirarki pribumi. Dengan demikian uskup dan imam setempat dapat berkarya secara lebih sempurna, tidak bergantung kepada dua kerajaan itu.

Beberapa orang di Perancis sepakat untuk menjalankan model misi di bawah bimbingan langsung Tahta Suci, tanpa bergantung kepada dua kerajaan tersebut. Untuk itu Vatikan mengangkat François Pallu, Pierre Lambert de la Motte dan kemudian Ignace Cotolendi, anggota pertama serikat MEP, sebagai Vikaris Apostolik yang akan diutus ke Asia. Tahun 1659 Propaganda Fide menyerahkan kepada mereka pedoman pokok karya misioner mereka.

Beberapa kutipan antara lain : Janganlah berusaha untuk meyakinkan bangsa-bangsa agar mereka mengubah kebiasaan dan adat mereka kecuali kebiasaan itu bertentangan dengan moral. Sebaliknya para anggota serikat MEP diminta agar mendorong bangsa-bangsa di tempat mereka berkarya untuk mencintai dan menjunjung tinggi tradisi mereka sendiri. Mereka hanya membawa iman kepada bangsa-bangsa dan tidak sama sekali “memindahkan Perancis, Itali, Spanyol, dll ke salah satu negara lain.”

Tahun 1660 Mgr. Pallu, Mgr. De la Motte dan Mgr. Cotolendi bersama beberapa imam sekulir berangkat menuju Asia. Mereka harus berjalan kaki sebab Portugal menolak membawa mereka dengan kapal-kapal mereka, sementara pemeritah kolonial Inggris dan Belanda menolak misionaris Katolik. Selama berbulan-bulan mereka berjalan berkelompok melewati Irak, Iran, dan India. Ada juga yang mencapai Thailand, Vietnam dan China. Beberapa anggota meninggal dalam perjalanan.

Mgr. Pallu bersama empat imam dan dua awam dapat mencapai Bantam (sekitar Jakarta sekarang). Merekalah yang mengawali karya misi MEP di Indonesia. Kerena Perancis dan Belanda bermusuhan waktu itu, rumah mereka ditutup pada tahun 1684.

MEP dicatat dalam sejarah Gereja Indonesia sebagai serikat misioner pertama yang menanamkan iman Katolik di antara kaum pribumi. “Upaya pertama untuk bermisi di antara orang Indonesia pribumi tidak dilaksanakan oleh imam-imam Belanda tetapi oleh imam-imam Perancis.  Pada tahun 1824 sekitar 30 budak dan mantan budak dibawa dari Nias oleh para saudagar China. Di Penang mereka dibaptis oleh seorang imam dari Société des Missions étrangères de Paris. Setelahnya, dua orang imam muda, Jean-Pierre Vallon dan Jean-Laurent Bérard berangkat ke Nias. Ditemani seorang katekis asal Nias dan isterinya mereka tiba di Gunung Sitoli pada Maret 1832. Kedua imam itu meninggal karena demam. Dua orang anggota Serikat MEP diutus untuk menggantikan mereka. J.J. Candhal dan A. Galabert tiba di Padang pada 1834. Mereka menghadapi kesulitan dalam hal politik dan administratif dengan pemerintah kolonial Belenda. Pada April 1835 mereka terpaksa meninggalkan Padang.” (Karel Steenbrink, Orang-orang Katolik Indonesia jilid I, Ledalero, Maumere, 2006, hlm. 33-35).

Jaman telah berganti. Negara-negara di Timur yang dulu merupakan tanah jajahan telah merdeka. Yang dulu merupakan tanah misi kini telah berdiri  hirarki pribumi yang mandiri. Itulah memang yang dicita-citakan para pendiri MEP. Tujuan pokok pendirian MEP sudah tercapai. Sesorang mengatakan, “Tampaknya MEP didirikan untuk menghapuskan diri. Mereka memandang diri berhasil jika pelayanannya tak dibutuhkan lagi !” Jawab mereka, “Dipandang dari segi tertentu, memang demikianlah.”

Saat ini masih ada lebih dari 200 imam MEP yang berkerja di berbagai negara,  menemani para imam setempat di bawah pimpinan uskup di mana mereka berkarya. Di tempat-tempat tersebut mereka berusaha agar panggilan biarawan-biarawati dan imam diosesan tumbuh subur. Meski panggilan imamat di Perancis bahkan Eropa sudah amat jarang, mereka tidak menerima anggota dari negara di mana mereka bekerja.  Tetapi mereka bersedia membantu imam-imam diosesan yang akan melanjutkan studi di Perancis demi pelayanan kepada keuskupan mereka sendiri.

Dalam buku kecil peringatan 350 tahun berdirinya serikat MEP, mereka mengajukan pertanyaan reflektif kepada diri sendiri. “Apakah serikat ini masih berguna ?” Kalau pertanyaan ini diajukan kepada umat Keuskupan Tanjungkarang, tentu akan dijawab secara positif. Tidak berlebihanlah kiranya jika segenap umat Keuskupan Tanjungkarang mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan atas kehadiran mereka di Lampung. Lewat pemberian diri yang tulus mereka telah menjadi benih-benih awal tersemainya panggilan imam diosesan di Lampung.

Romo “Simbah” Peco, Romo Jo, Romo Vincent, dan Romo Paul : mercy beacoup, terima kasih, matur nuwun. Romo Peco telah hidup dalam damai surgawi. Semoga romo bertiga tetap gembira berkarya, melewatkan masa tua, menemani kami  di bumi Ruwa Jurai ini. ***

*) Bagian kedua tulisan ini disadur dari buku kecil peringatan 350 tahun berdirinya Serikat MEP dan sumber lain. 

 

 

 

 

 

JEJAK REKSA SANG GEMBALA

Ia seperti gembala sesungguhnya. Lereng dan lembah  Bukit Barisan dijelajah. Menghilir Sungai Tulangbawang,  dan menyisir jalan-jalan berlumpur di pedesaan translok  biasa dilakoninya. Segala cara ditempuh,  naik mobil, membonceng ojek, bahkan berjalan kaki selama berjam-jam. Energinya tak pernah surut untuk menemui umat yang dipercayakan dalam reksa pastoralnya.

Menemui dan berdialog dengan umat di stasi, itulah salah satu sumber energi kegembiraan almarhum Mgr. Henrisoesanta. Antara tahun 1995 – 1999 ia sangat intensif mengadakan visitasi pastoral. Berangkat dari Bandarlampung Jumat sore  dan kembali pada Senin atau Selasa, bergantung dari jauh dekatnya dan sedikit atau  banyak kelompok yang harus dikunjunginya.

Tema dialog dengan kelompok umat bisa beragam, tentang visi dasar pastoral Keuskupan Tanjungkarang, katekese, sosial politik ekonomi, sampai masalah ringan misalnya tentang muda-mudi yang “loncat pagar”.  Ia selalu mencatat pertanyaan-pertanyaan umat itu dalam buku tulis tebal, yang  dibawanya dalam setiap kunjungan. Berikut beberapa catatan tentang kunjungan almarhum uskup emeritus itu.

Membonceng Rm. Janto menuju stasi way Kambas, 1997

Jatuh di Suwoh

Sampai  1999 Unit pastoral Liwa merupakan salah satu wilayah dalam keuskupan Tanjungkarang yang medannya cukup berat. Pada bulan September Mgr. Henrisoesanta terjadwal untuk mengunjungi Suwoh, sebuah stasi yang terletak di cekungan pegunungan Bukit Barisan. Mgr. Henri selalu bangga pada stasi ini karena kemandirian umatnya selama sekian tahun ngumbul–  merintis perladangan baru – di tempat terpencil  tetapi  mampu mempertahankan iman tanpa kehadiran pastor.

Saat itu merupakan kunjungan uskup yang kedua ke Suwoh. Lima tahun sebelumnya, 1994,  Suwoh merupakan tempat yang cukup parah dilanda gempa tektonik. Desa subur penghasil kopi itu total terisolir. Untuk sampai ke sana orang harus naik helikopter, kuda atau berjalan kaki. Naik motor juga bisa tetapi tidak lebih cepat atau lebih aman, karena jalan tanah sangat buruk dan terputus di beberapa tempat.

Dalam perjalanan yang kedua itu, Mgr. Henri bercerita tentang pengalamannya lima tahun sebelumnya. Bersama rombongan kecil di bawah pimpinan Rm. Vincent le Baron, ia bermaksud mengunjungi Suwoh. Perjalanan  paling cepat dapat ditempuh dalam 8 jam. Setelah beberapa jam berjalan kaki, Rm. Baron memaksa Mgr. Henri untuk membonceng motor. Dipanggillah tukang ojek berjuluk Si Teler. “Dia crosser paling handal, Bapa Uskup,” kata Rm. Baron.

Mgr. Henri pasrah. Tetapi apa daya, di tengah perjalanan motor itu jatuh. Mgr. Henri dan si Teler terbanting. Rm. Baron dengan enteng berkometar, “Bapa Uskup, kalau tidak jatuh, belum ke Suwoh namanya.” Mgr. Henri bercerita sambil tertawa, menganggap hal itu sebagai sesuatu yang menggelikan.  Mungkin pengalaman itu membuat ia pernah terpikir untuk membelikan seekor kuda untuk Rm. Baron.

Tahun 1999 kondisi jalan sedikit lebih baik, meski belum diaspal, dan tetap rawan longsor. Jam 8 pagi rombongan kecil bapa uskup bertolak dari Sekincau. Tengah hari rombongan tiba di Dusun Sri Mulyo, Suwoh,  dan bertemu dengan kelompok umat di sana. Mgr. Henri  masih mengingat beberapa perintis jemaat. Ramah ia menyapa, “Panen menapa Pak Bibit ?”  Yang disapa menjawab, “ Dereng panen, Monsinyur.” Tanpa senyum Mgr. Henri menimpali, “Lha panjenengan niku asmane Bibit, dados mboten panen-panen.” Orang yang mendengar cakap akrab itu tersenyum.

Malam itu rombongan  menginap di rumah umat di Talang Gendung, sebuah tempat yang lebih “mblusuk” dibanding Suwoh. Tempat itu masih bisa dicapai dengan mobil tapi jauh lebih lambat daripada dengan sepeda motor atau kuda. Mgr. Henri  memilih membonceng motor. Desa umbulan itu berpenghuni 25 keluarga dan hanya 5 keluarga yang Katolik.

Malam hari selepas misa, penduduk non-Katolik ikut makan malam bersama dan berdialog dengan uskup. Mereka bercerita tentang bagaimana mereka merawat instalasi air bersih sederhana  yang beberapa tahun sebelumnya dibangun bersama Rm. Baron. Mereka bertanya, bagaimana pandangan uskup tentang kepemimpinan perempuan dalam politik bernegara, dan berbagai masalah sosial lain.

Memasyarakat dan Loncat Pagar

Antara tahun 1995 – 1999 seluruh paroki / unit pastoral di Keuskupan Tanjungkarang mendapat jatah kunjungan Mgr. Henri . Diawali tahun 1995 kunjungan kepada kaum muda dan tahun 1997 kunjungan kepada keluarga. Dilanjutkan tahun 1998 kepada kaum muda dan tahun 1999 kepada keluarga lagi. Tahun 2000 tidak ada kunjungan kepada kelompok umat karena kegiatan lebih terfokus kepada perayaan Tahun Yubileum Agung.

Bisa dikatakan penghujung dekade 90-an itu merupakan tahun-tahun yang sarat dengan permasalahan politik. Orde Baru sangat kuat menancapkan kuku kekuasaannya dan pada 1998 KWI mengeluarkan Surat Gembala KWI, yang bagi sebagian orang dinilai sangat berani bahkan kontroversial. Maka dalam dialog umat dengan Mgr. Henri permasalahan politik dan sosial sangat  sering mengemuka. Misalnya, bagaimana menyikapi tekanan pemerintah tentang adanya target pemenangan pemilu sementara Gereja memberi arahan agar orang Katolik selalu berpedoman pada hati nurani dan kebenaran.

Menghadapi hal-hal semacam itu Mgr. Henri tak jemu-jemunya mengingatkan umat Katolik untuk melaksanakan hasil-hasil Perpas Gelar II yang dilaksanakan tahun 1992. Dalam peristiwa itu dihasilkan lima butir kesepakatan yaitu paradigma baru, dialog, keterbukaan, memasyarakat dan nilai penebusan atau semina verbi. Memasyarakat menjadi butir penting untuk berperan serta dalam aktivitas bernegara.

Menanggapi penjelasan Mgr. Henri,  seorang pemuda di suatu stasi  berkata, “Kami orang muda sudah memasyarakat, tapi hasilnya malah justru banyak yang murtad.” Anak muda lain yang menimpali, bagaimana mereka akan memasyarakat, jika di antara mereka sendiri tidak kompak. Ada juga yang merasa pesimis, “Bagaimana kami mau memasyarakat jika baru keluar saja sudah disindir dengan kata-kata nylekit.”

Kepada mereka Mgr. Henri selalu memberi dorongan agar tetap membaur, ambil bagian dalam bidang ilmu, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan pertahanan (ipoleksosbudhankam), karena itulah bidang panggilan khas kaum awam. “Masuklah KNPI, Pemuda Pansasila, FKPPI dan berbagai ormas lain atau  organisasi politik,” kata Mgr. Henri selalu.  Ia tidak menolak bahwa ada tantangan. Tapi di situlah justru kaum muda Katolik diharapkan menjadi garam atau matahari. “Iman Katolik itu seperti matahari,  menerangi  tanpa memilih-milih.”

Di luar politik, salah satu hal yang banyak dibicarakan umat adalah tentang kawin campur atau bahkan anak muda Katolik meninggalkan imannya. Tidak peduli orang tua atau orang muda sering membicarakan hal ini kepada Mgr. Henri. Menurut almarhum uskup emeritus itu, dalam kawin campur berarti seseorang membawa duri dalam daging, atau menyimpan potensi konflik dalam perkawinan mereka. Salah satu solusi yang ditawarkannya adalah memasyarakat.

“Memasyarakatlah, mungkin nanti kalian bisa ketemu jodoh, eh…ada seorang Katolik yang menarik di sana. Juga dengan bergaul dengan banyak orang kalian akan tahu perbedaan mendasar dengan mereka dan iman kalian bertambah kuat.” Memang betul Gereja bisa memberi dispensasi terhadap perkawinan campur. Tapi dispensasi hanyalah kelonggaran hukum yang tidak bisa menjamin iman Katolik seseorang akan berkembang dan berbuah.

Beberapa orang tua mengenang masa keemasan RKPK sekitar tahun 1980-an di mana kaum muda Katolik aktif dalam berbagai kegiatan olah raga dan seni antarmereka sendiri. “Banyak pemuda dan pemudi Katolik ketemu jodoh di acara itu,” kata mereka. Beberapa dari mereka mempertanyakan kepada Mgr. Henri apakah mungkin acara-acara seperti itu dapat dilaksanakan lagi.

Tetapi menurut Mgr. Henri saat itu (tahun 1990-an)  sudah tidak tepat lagi hidup secara eksklusif seperti itu. “Tidak ada sepak bola Katolik, tidak ada duwit Katolik,” kata uskup. Membaur, hidup inklusif, ambil bagian dalam setiap aktivitas bernegara, membangun persaudaraan sejati dengan semua orang, itulah hal penting yang ingin ditekankan Mgr. Henri dalam butir memasyarakat yang dihasilkan oleh Perpas Gelar II.

Adakalanya perbincangan dengan kelompok keluarga bukanlah hal-hal yang berat-berat, tetapi hal-hal praktis menyangkut kehidupan sehari—hari mereka misalnya tentang sulitnya izin mendirikan atau merehab kapel atau pendidikan agama anak-anak. Bahkan di stasi pedesaan ada pertanyaan yang unik, misalnya bagaimana pandangan Gereja Katolik tentang inseminasi buatan. Sebisa mungkin Mgr. Henri menjawab dengan kalimat sederhana tapi mengena.

Tak Pernah Menolak

Mgr. Henrisoesanta sering dikesankan sebagai seseorang yang tegas, kaku, mahal senyum. Sebenarnya kalau kita sudah mendekat,  ia tidaklah seseram itu. Hidupnya sangat teratur memang. Segala aktivitasnya seakan terjadwal.  Tubuhnya seperti  punya alarm alami, jam berapa bangun pagi, berdoa, makan, minum, bekerja dan istirahat. Tetapi dalam kunjungan ke stasi-stasi jadwal rutin bisa saja berubah demi bertemu umat.

Di rumahnya,  Mgr. Henri bekerja sampai jam 1 siang, lalu makan, dan beristirahat. Jam 4 sore mulai bekerja lagi atau menerima tamu-tamu, diawali dengan berdoa. Jam 11 malam biasanya ia akan beristirat. Dalam kunjungan ke stasi-stasi tak ada istirahat siang. Pertemuan dimulai pagi hari dan terus berlanjut sampai malam. Selama itu nyaris tak ada keluhan kesehatan atau kelelahan.

Uniknya, jam berapapun ia berangkat tidur, tetap saja ia bangun saat subuh. Dalam suatu rangkaian kunjungan ke Mesuji, rombongan uskup emeritus  baru pulang ke pastoran jam 11 malam. Jalanan buruk, dan mobil pastoran Mesuji rewel di jalan.

Sesampai pastoran belasan umat sudah menunggu. Keluarga koster mengatakan bahwa mereka bersikeras untuk bertemu uskup dan tidak mau disuruh pulang. “Baik, saya akan temui mereka sebentar,” kata Mgr. Henri. Tidak ada rasa jengkel terpancar di wajahnya. Ternyata pembicaraan tidak bisa sebentar. Sekitar jam satu malam, Mgr. Henri baru bisa beristirahat.

Keesokan paginya, anggota rombongan kecil kami sengaja bangun agak siang, karena tidak ada jadwal pertemuan lagi. Sekitar jam 7.30  pastor kepala Unit Pastoral Mesuji, Rm. Suhendri, membangunkan tiap orang dan mengajak sarapan. Mgr. Henri tidak ada di kamarnya. Ditunggu di ruang makan, akhirnya ia muncul dari gereja di samping pastoran. “Saya bangun subuh tadi dan berdoa di gereja. Saya pikir kalian akan  menyusul. Ternyata tidak,  maka saya misa sendiri.” Kami yang hadir  di ruang makan hanya membalas dengan, “Hahahaha… .” Ia tidak dingin dan kaku  seperti yang diduga banyak orang.

Beristirahatlah sekarang dalam bahagia kekal Bapa Uskup Henrisoesanta.   Kami akan bekerja meneruskan apa yang telah engkau awali dengan sangat baik. ***

 

 

 

 

 

JEJAK SANG GURU

Mengajar adalah salah satu sumber kegembiraan Almarhum Mgr. Andreas Henrisoesanta (1933 – 2016) Sampai menjelang tahun 2000 setiap hari Jumat ia mengajar agama di SMP Fransiskus Pasir Gintung dan dilanjut di Universitas Lampung. Sebulan sekali ia mengajar para novis FSGM dan suster-suster yunior Hati Kudus. Ia  masih turun gunung, seminggu sekali mengajar katekese calon baptis di gereja katedral Tanjungkarang. 

Presentation1

Sepulang dari studi di Roma pada 1966, Mgr. Henrisoesanta, waktu itu masih dipanggil sebagai Pastor Henri, menjadi guru dan kemudian kepala sekolah di SMA Xaverius Pahoman. Selain agama dan budi pekerti ia juga mengajar bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Ia seorang poliglot. Meski memegang ijazah doktor hukum gereja, ia tak canggung mengajar anak kecil. Ketika menjadi pastor kepala paroki kedaton, ia bahkan mengajar agama di SD Sejahtera.

Muridnya tak terbilang lagi banyaknya. Kebanyakan mereka mengatakan Mgr. Henrisoesanta mengajar dengan sistematis dan menarik. Ada pula yang mengatakan bahwa ia sedikit pelit dalam memberi nilai. Tapi ada kesan yang hampir sama dikatakan yaitu bahwa Mgr. Henri adalah guru yang tegas, keras bahkan. Ya, sesekali bisa melucu tapi tetap tak menghilangkan kesan kaku.

Ia bukan guru yang lugu, yang tak tahu jurus tipu-tipu para murid. Selembar arsip naskah kotbah misa reuni SMA Xaverius Pahoman pada 1990 membuktikannya. Dalam teks itu Mgr. Henri bercerita tentang peristiwa 20 tahun sebelumnya. Pada suatu hari raya Tionghoa, seorang guru menghadap padanya. Di sebuah kelas hanya 5 anak memakai seragam, sisanya berpakaian bebas.

Kepada guru tersebut  pastor Henri menginstruksikan agar 5 anak tersebut diberi pelajaran, dan sisanya diperintahkan menuju  aula. Di aula Pastor Henri memberi mereka pelajaran khusus, yaitu bahasa Inggris, bahasa Jerman dan agama / budi pekerti. Tanpa jeda, mereka hanya boleh meninggalkan kelas untuk izin ke toilet saja. Jam 9 pagi di luar gerbang ada suara klakson dengan irama khusus, tapi pastor henri tidak peduli. Para “sandera” tak berdaya. Baru pada pk. 12 mereka dibolehkan keluar berdua-dua. Tiba-tiba seseorang berteriak, “Gagal, gagal, kalah!”

Beberapa hari kemudian skenario itu terungkap. Para murid sepakat untuk pergi ke pantai. Itu hari raya Tionghoa, mungkin Pechun,  tapi bukan tanggal merah. Mereka berharap agar anak-anak yang tidak pakai seragam dipulangkan. Seterusnya 5 anak yang memakai seragam seminta  pulang juga karena tak berminat belajar.

Dalam mengenang peristiwa tersebut Mgr. Henri mempertanyakan kepada mantan muridnya yang sedang merayakan reuni, mengapa orang mau bergembira kok dihalangi. Selanjutnya tulis Mgr. Henri, “Orang muda berwatak dinamis, ingin belajar, mau mengembangkan diri tapi perlu pengarahan agar sampai pada tujuan. Sebagai guru diperlukan kesabaran dan harus bisa menghadapi benturan. ”

Pada saat itu Mgr. Henri, menutup kotbahnya dengan kalimat-kalimat yang menyentuh hati. “Pada kesempatan reuni ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas tindakan dan kata-kata saya selama mendidik Saudara di SMA Xaverius; yang menyakitkan, yang menjengkelkan atau menghalangi keinginan Saudara. Saya akui keterbatasan dan kekurangan saya, misalnya terlalu keras, terlalu tertib, kurang kebijaksanaan, dsb. Mudah-mudahan yang jelek dan menyusahkan itu tak disimpan di dalam hati. Yang baik dan berguna saja yang dimekarkan.”

“Terimakasih, kalian pun sudah mendidik saya. Kita saling mendidik dan memberi, saling memperkaya kehidupan. Keberhasilan kita tergantung pada banyak faktor dan banyak orang. Terima kasih kepada Allah, kepada manusia dan lingkungan. Mudah-mudahan reuni meningkatkan kekayaan kita akan bidang rohani, sifat tertib, jujur, kerja keras, juga sabar dan tahu batas. Dengan itu semua kita ikut membangun bangsa dan negara kita, “ demikian Mgr. Henrisoesanta.

Rupanya Almarhum  Uskup  Keuskupan Tanjungkaranng itu sadar bahwa ia sering dicitrakan sebagai orang yang keras. Perjalanan hidupnya sebagai anak transmigran bisa jadi membentuk karakternya. Hidup tentu tak mudah baginya,   berpindah tempat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik dan berpindah sekolah untuk mendapat pendidikan yang lebih tinggi. Menjalani  peralihan dari zaman penjajahan ke masa revolusi kemerdekaan dan kemudian ditahbiskan sebagai uskup pribumi pertama. Ia harus  mengubah pola pikir orang dan mengimplementasikan dalam reksa pastoralnya. Pasti butuh kesabaran, ketegaran dan seperti ditulisnya sendiri, dan kadang kala, berani menghadapi benturan.

Orang tuanya, Yacobus Samadi Kasandikrama dan Jacoba Wasijem meninggalkan Ngijorejo, Gunung Kidul, DIY,  untuk ikut transmigrasi di Metro pada tahun 1939. Dusun yang terletak beberapa kilometer menjelang kota Wonosari pada waktu itu kurang subur, keras  berbatu cadas. Tanah kelahirannya mungkin memberi sedikit pengaruh. Maka, bisa jadi ia adalah jembatan batu kokoh yang mengantar kita,  generasi gereja yang lebih muda,  menyeberang ke masa depan yang lebih baik. Requiscat in pace Mgr. Andreas Soewijata Henrisoesanta.***

Sharing…..

Caring….

Perhelatan Pengantin Lampung Tempo Doeloe

Saya menemukan foto-foto menarik tentang pengantin Lampung tempo dulu. Sembilan foto ini diletakkan dalam satu halaman album kuno, berbanjar 3, masing-masing berukuran 6 x 6 cm dan tidak  bertannggal. Saya  menduga foto-foto ini berasal dari dekade akhir 1940-an. Lihat saja model pakaian para pengiring pengantin, yang bawa bendera itu lho. Pakaian seperti itu meniru model pakaian yang biasa dipakai Bung Karno. Duh, uniknya perarakan pengantin kok didahului pembawa bendera….  Mungkin karena baru saja usai revolusi, jadi terasa patriotik.

Nampaknya pemilik album foto ini (mbah gue, huehehehe…..) menangkap peristiwa istimewa ini di tengah turne tugasnya. Mungkin lokasinya antara Metro- Tanjungkarang atau Pringsewu – Tanjungkarang. Ia berhenti sejenak dan mengabadikan peristiwa ini. Lihat, betapa kooperatifnya para fotomodel dadakan ini. Mereka menghadap kamera dan tersenyum.

Perhelatan pengantin ini tentu saja terjadi di pedesaan bahkan istilah lokalnya umbulan. Kita lihat misalnya para tetangga yang menonton dari kejauhan, di muka rumah-rumah gubug mereka, yang berada di atas gerumbul bukit kecil.

Menarik pula dicermati model pakaian yang dikenakan. Kita bisa melihat Indonesia masa lalu.  Pengantin perempuan mengenakan mahkota yang berbeda dengan model siger zaman sekarang. Blouse berlengan pendek dikenakan di bagian atas melengkapi kain tapisnya. Pengantin lalki-laki mengenakan jas dan dasi, (kain songket ?) menyilang di dadanya.

Dandanan para perempuan pengiring terasa menarik.  Mereka kebanyakan  mengenakan kain kebaya, berkonde dengan selendang yang dikudungkan begitu saja.  Ada juga yang selendang kudungnya diukel ke atas, ini pasti model Sumatera. Model kebanyanya juga ada dua macam. Ada yang model kutu baru dengan setagen, ada pula yang model buju kurung terusan. Beberapa anak-anak perempuan dan gadis muda mengenakan rok. Ada yang melengkapinya kudung pula.

Perhatikan foto tiga gadis kecil itu. Tampaknya ini adalah sebuah ruang kelas. Di latar belakang ada ibu guru berkebaya kutu baru dan berkonde tanpa kudung. Ibu itu pasti dari Jawa. Sekali lagi lihat foto pembawa bendera. Ada beberapa anak laki-laki mengenakan baju yang sama. Mungkinkah anak-anak perempuan tetap di dalam kelas, sementara anak laki-laki boleh membolos sebentar untuk membantu tetangga hajatan ?

Oh, Berasa Indonesia  :) !

Monggo dinikmati saja…..

Didahului perarakan bendera

Pengantin laki-laki di antara pengiringnya

Pengantin perempuan dan pengiringnya

Pengantin wanita diapit para wanita pengiringnya

Para tetangga menonton dari kejauhan

Rumah di kampung mereka

Bocah penonton

Pengantin laki-laki

Close up : Pengantin wanita

Stasi Tatakarya, Paroki Murnijaya

MELACAK JEJAK JEMAAT PERDANA WAY ABUNG 

Gereja Stasi Tatakarya, 2015

Buku adalah mesin waktu. Ia mengantar pembaca menerabas sekat-sekat,  menikmati perjumpaan dengan peristiwa dan orang-orang dari ruang dan masa yang berbeda. Berbekal buku berjudul Th. Bosrt SCJ, Aotubiografi Seorang Misionaris, saya mencoba melacak jejak para pemula di stasi Tatakarya.

Sekarang Tatakarya merupakan salah satu stasi Paroki Murnijaya (sebelumnya disebut Dayamurni). Sesungguhnya tempat ini adalah titik awal di mana benih iman Katolik tumbuh di wilayah Way Abung.  Di sini pula untuk pertama kalinya seorang pastor, Martinus van Ooij SCJ tinggal menetap untuk melayani umat. Sebelumnya Romo Borst disusul para pastor yang lain, melayani dari paroki Kotabumi. Romo van Ooij pula yang pada tahun 1982 memulai pembangunan  pusat paroki di Murnijaya karena tempat terakhir ini terletak di tengah-tengah dan dipandang lebih bisa memberi harapan untuk berkembang.

Dengan diantar oleh Yohanes Parijo,63, saya menziarahi perjalanan Rm Borst di Tatakarya dan sekitarnya. Ia juga seorang mantan katekis yang bermukim di wilayah ini sejak 1975, sehingga bisa menjadi narasumber ketika saya kehilangan missing link antarperistiwa. Perjalanan saya tentu tidak dengan  jeep tua diselingi jalan kaki menembus alang-alang setinggi orang seperti Romo Bosrt dulu.

Berikut narasi Romo Borst yang saya sadur secara agak bebas agar bahasanya menjadi aktual tanpa mengubah maknanya.

“Tahun 1965 saya dengar akan dibuka transmigrasi baru, Way Abung I dan II, ± 25 km dari Kotabumi. Jalannnya masih dapat ditempuh dengan mobil. “Lahan baru” ini sama sekali tidak berarti. Belum ada seorang katolik di sini. Sdr. Muhadi menerima saya dalam gubuknya. Sewaktu sekolah ia pernah menjadi katekumen dan ingin melanjutkan pelajaran agama” – halaman 69. 

Romo Theodorus Borst, SCJ

Dalam catatan itu rupanya Romo Bosrt pun tidak bisa banyak berharap. Proyek transmigrasi Way Agung I dan II lebih merupakan rintisan dan gugur prematur. Pemukiman yang semula diangankan meliputi lahan yang luas di timur laut Kotabumi itu mangkrak karena meletusnya peristiwa G30S. Sekitar Agustus 1965 pemerintah  telah mengirim beberapa angkatan trasnmigran ke dua desa yaitu Tatakarya dan Purbasakti. Selanjutnya proyek terhenti. Proyek transmigrasi Way Abung baru dimulai kembali sesudah tahun 1970.

Pak Muhadi yang dicacat Rm. Bosrt dalam bukunya, masih bisa ditemui dan mampu mengingat dengan baik peristiwa lima puluh tahun lampau itu. Ia adalah salah satu dari 49 keluarga peserta transmigrasi umum angkatan pertama yang dimukimkan di wilayah ini. Yulius Lilik Argo Reni Muhadi, 76, bersama isternya Lucia Sudarni, 77, tiba Tatakarya – dulu disebut Proyek Rukti – pada Agustus 1965. “Dulu dari Jawa dijanjikan bahwa tujuan kami itu Belitang. Tetapi entah mengapa kami diturunkan di sini,” katanya. Tanah yang dijanjikan pemerintah hanyalah hutan sekunder, belukar dan rawa-rawa. Tak ada bantuan apapun dari pemerintah untuk mengolahnya, bahkan untuk bertahan hidup.

Selama seminggu mereka ditumpangkan di rumah keluarga orang Lampung asli di desa Surakarta. Kemudian para pemukim baru tersebut diperintahkan membuat bedeng di desa Bandar Abung (dulu bernama kampung Ajan). Kepada mereka juga ditunjukkan kawasan akan dijadikan kampung pemukiman mereka nantinya, masing-masing kepala keluarga mendapat ¼ hektare yanng harus dibuka sendiri.

Muhadi menginngat betapa sulitnya awal kehidupan mereka di sini. Dari 49 KK akhirnya hanya tersisa 13 KK saja yang bertahan di sini. Hidup menjadi lebih sulit ketika pecah tragedi September 1965. Proyek transmigrasi Way Abung terhenti. Para staf unit transmigrasi tak pernah muncul lagi. Untuk bertahan hidup para transmigran bekerja semampunya, buruh kepada penduduk  Lampung asli untuk mendapatkan upah bahan makanan. Kadang mereka pergi ke hutan atau rawa mencari apapun yang bisa menopang hidup.

Suatu hari di tahun 1966 Muhadi pergi ke hutan. Di rumah hanya ada isterinya dan dua anaknya yang masih kecil. Tiba-tiba Romo Borst yang dikawal dua tentara dari Kodim muncul di gubuk mereka. “Saya berkata ‘Berkah dalem Romo’ sambil saya salami dan persilakan masuk,” kata Sudarni, isteri Muhadi. Pasutri ini pernah menjadi katekumen di Jawa. Bahkan ke tanah rantau ini mereka membawa rosario dan buku Padupan Kencana. Pada kunjungan Romo Borst yang ke-3 keluarga kecil ini dibaptis tanpa proses katekumenat lagi.

Sesudah itu ada sekitar 27 KK yang berminat mengikuti pelajaran agama di Tatakarya. Romo Borst mengutus Darjono, katekis pembantu dari Propan untuk mengajar para magangan. Tahun 1967 mereka membangun gereja sederhana, berdinding papan dan beratap welit, di atas tanah jatah transmigrasi yang diberi nama Gereja Sang Timur. Misa sebulan sekali dapat dilaksanaan di gereja setelah sebelumnya dilaksanakan di rumah-rumah umat. Kalau tak ada misa diselenggarakan ibadat sabda dipimpin oleh Muhadi.

Yulius Lilik Argo Reni Muhadi dan Lucia Sudarni

“Suatu saat datang seseorang dari Purbasakti meminta Romo rawuh. (dari Tatakarya) ke tempat itu belum ada jalan, tetapi dapat ditempuh melalui alang-alang. Ketika saya menuju ke sana, ternyata lupa petunjuk  jalannya, tetapi akhirnya sampai juga setelah bertemu beberapa orang, salah seorang di antaranya guru. Saya berjanji akan datang lagi berkunjung bila ke Tatakarya. “ – halaman 70.

Petrus Matyani adalah guru yang dijumpai oleh Romo Bosrt di Purbasakti pada tahun 1966 itu. Ia adalah transmigran gelombang pertama di Purbasakti, hampir bersamaan dengan kedatangan transmigran di Rukti. Ada sekitar 25 KK yang bersedia mengikuti plejaran agama di sini. Tahun 1967 mereka mendirikan gereja di pekarangan H. Mulyodiharjo. Tahun 1970 kapel itu dipipindahkan dekat sekolah tamansiswa dan pada 1981 dibangun permanen di lokasi sekarang, di muka rumah keluarga Matyani.

Di antara Tatakarya dan Purbasakti ada kampung orang asli Lampung bernama Surakarta. Di tempat inilah dulu, para tarnsmigran sementara waktu ditumpangkan.

“… Pulang ke rumah, di Surakarta, kampung orang asli, tiba-tiba mobil saya dihentikan oleh seorang anak, Cyrius namanya. Bapak Simpson seorang guru, mempersilahkan saya mampir. Keluarga ini kemudian menjadi Katolik dan menyediakan tempatnya untuk mendirikan gereja.” – halaman 70.

Keluarga Simpson Simbolon semula penganut Protestan. Karena tak menemukan anggota jemaat yang lain mereka kemudian bergabung dengan gereja Katolik. Selain mereka ada tiga keluarga katolik di surakarta yang mengikuti mereka bergaung dalam gereja Katolik. Jadi sebelum tahun 1970 ada 3 gereja di wilayah Way Abung, yaitu Tatakarya, Purbasakti dan Surakarta. Tetapi pusatnya tetap di Tatakarya.

Proyek Way Abung kemudian terhenti. Baru diteruskan sesudah tahun 1970.  “Di Tatakarya dan Purbasakti tak ada lagi penempatan transmigran dalam skala besar. Paling-paling hanya trasmigrasi lokal atau spontan, itupun di areal yang sangat terbatas,” demikian ditambahkan oleh Parijo. Pertumbuhan jemaat Katolik pun surut karena berbagai sebab.

Tetapi sebaliknya di wilayah Way Abung yang lain dibuka pemukiman secara masif. Dimulai dari Dayasakti, Dayamurni dan seterusnya. Akhir dekade 1970-an jalan tembus dari arah Terbanggi Besar mulai dirintis, sehingga tak lagi harus memutar melewati Kotabumi. Desa dan kota kecil mulai berkembang hingga kini, begitu juga jemaat Katolik.

Mengakhiri tulisan ini perkenankan saya kembali menyadur Romo Borst.

Mereka (jemaat Katolik) menjadi terang dunia hendaknya. Kehidupan Kristiani hendaknya membawa kebahagiaan kepada orang yang belum mengenal dan mencintai Yesus. Gereja katolik berkembang, tetapi tiada akan selesai dalam perutusannya di dunia. “ – halaman 87.

Requiescat in pace Romo Borst. 

Bocah-bocah Way Abung

Yohanes Parijo

Stasi Srimenanti, Paroki Sribawono

Paroki Sribawono  tahun ini merayakan 10 tahun usianya. Paroki yang meliputi kawasan pesisir timur Sumatera ini terdiri dari 23 stasi, yang berdasar kedekatan geografisnya dihimpun dalam 6 wilayah. Stasi-stasi tersebut pernah sebagian dilayani dari paroki Metro dan Kotagajah. Sebagai unit pastoral pernah pula dilayani dari Paroki Telukbetung.

Berikut ini saya menuliskan riwayat stasi Srimenanti, di mana gereja pusat paroki berdiri, sebagaimana diceritakan oleh beberapa narasumber. Storyteller kita kali ini  adalah Yustinus Tamino 73, Agapitus Suyatmin 66, Victoria Iswantiatun 57 dan Yacobus Sadimin 60, yang merupakan genererasi umat perdana dan generasi kedua stasi ini.  Desa Srimenanti juga merupakan “inti” dari kota kecamatan Bandar Sribawono.

 

Gereja St. Thomas, Paroki Sribawono

Sribawono, Tanah Harapan

Wilayah yang kini dikenal dengan nama desa Srimenanti, Kecamatan Bandar Sribawono dibuka 1952 sebagai daerah transmigrasi Biro Rekonstruksi Nasional (BRN). Mereka adalah  mantan veteran perang kemerdekaan yang disipilkan. Ada sekitar 200 kepala keluarga dimukimkan di tempat ini, berasal  dari di Lampung Tengah dan Jawa Barat. Lokasi BRN terletak sekitar Danau Kemuning sekarang.

Sebagaimana peserta transmigrasi lain, para veteran BRN mendapat 2 hektare ladang dan ¼ hektare pekarangan. Ladang dan pekarangan dibuka oleh pemerintah. “Tahun 1953, masih ada alat-alat berat bekas pencetakan ladang di sana, “ Agapitus Suyatmin mengenang. Ia ingat para kepala rombong pembukaan transmigran BRN itu adalah Surowitono dari Metro, Ruslim Mangkuprojo dari Metro, Ibrahim dari Metro dan Haji Embeng dari Jawa Barat.

Pada dasarnya di seluruh kawasan yang kini dikenal sebagai Sribawono hanya transmigrasi BRN ini yang dibuka pemerintah. Pembukaan ladang dan pemukiman baru sangat terbatas karena adanya tanah register kawasan hutan lindung. Sebagian orang-orang yang ingin truka, merintis perladangan baru, ikut para veteran tersebut. Wilayah Sribawono yang berpusat di desa Srimenanti cepat berkembang. “Dulu wilayah itu lebih dikenal dengan nama Puseran. Disebut begitu karena ada 20 batang jambu air yang buahnya sangat lebat. Bahasa Jawanya muser, “ Yacobus kata Sadimin.

Di luar kawasan trasnmigrasi BRN itu dulu dikenal dengan nama Mataram Baru. Di kawasan ini masih banyak tanah-tanah kosong milik marga Lampung. Orang-orang dari berbagai tempat yang ingin  mengadu nasib di Sribawono bisa membeli kaplingan tanah kepada pemiliknya. Satu kapling tanah luasnya sekitar ½ hektare. Biasanya mereka menempati tanah di luar Puseran sampai simpang pasar Sribawono.

Sementara itu,  daerah eks transmigrasi di sekitar Lampung Tengah telah menjadi sangat padat. Generasi kedua transmigran harus mencari lahan baru untuk bertani. Diceritakan oleh Suyatmin bahwa keluarganya yang berasal dari Wonogiri mengikuti program transmigrasi umum yang diselenggarakan pemerintah para tahun 1951. Bersama banyak kerabat sedesanya mereka di tempatkan di bedeng 63, Sekampung, Metro. Tetapi kondisi tanah tidak seperti yang diharapkan. “Tanahnya berpasir, sehingga tidak cocok untuk pertanian,” katanya. Akhirnya banyak transmigran ini yang berpindah di Sribawono. Maka sampai kini di desa Srimenanti banyak bermukim anak keturunan transmigran asal Wonogiri.

Pasutri Tarsisius Isti Susanto dan Rosalia Ismiyati, umat Katolik pertama di stasi Srimenanti, Sribawono

Benih Iman Jemaat Perdana

Sebelum tahun 1965 tidak terdengar seorang pun yang secara terbuka mengaku beragama Katolik di antara para pemukim baru tersebut. Yacobus Sadiman bercerita bahwa pada masa itu kehidupan bergama menjadi urusan pribadi tiap orang. Dalam KTP, seseorang boleh mencantumkan agamanya, boleh tidak mencantumkan, bahkan boleh mencantumkan kata: NON. Tahun 1965 ia baru kelas 5 SD, tapi banyak tahu situasi desanya sebab ia anak kamituwa.  “Bapak saya buta huruf, maka saya menjadi semacam sekretarisnya, “ katanya. Dengan begitu ia banyak tahu kondisi sosial desanya.

Sesudah meletusnya G30S, pemerintah Indonesia menerapkan politik agama lewat TAP MPRS XXVII/1966. Setiap warganegara  harus memeluk dan menjalankan ritual salah satu dari lima agama yang diakui negara yaitu Islam, Hindu, Buda, Kristen Protestan dan Katolik. Perlakuan aparat kepada penduduk di desa-desa bisa sangat keras. “Kalau tidak patuh bisa di PKI-kan dan digebuki,” kenang Sadimin. Setiap ada hajatan, selalu ada pidato dari aparat tentang pentingnya menjalankan kewajiban agama. Batalyon Kompi 2 yang bermarkas di Srbawono waktu itu ikut mengawasi pelaksanaan program “operasi mental” itu.

Berdasar aturan baru itu,  sepulang rapat di kawedanan Sukadana, Lurah Sribawono, Giyin Ranupuspito, memanggil semua penduduk. Semua orang harus punya surat-surat kependudukan antara lain KTP dan surat nikah. Ambil gampangnya saja mereka yang tak bisa menunjukkan surat nikah,  dinikahkan kembali secara Islam. Tetapi Pak Lurah juga memberi pengumuman, bahwa siapa yang merasa “tidak sreg” dengan agama Islam, boleh memilih, menjalankan dan mendirikan rumah ibadat masing-masing.

Waktu itu ada 13 KK yang mengaku bergama Buddha dan mereka boleh mendirikan wihara di kampung itu. Tarsisius Isti Susanto, yang sejak 1963 bermukim dan membuka usaha bengkel sepeda di simpang pasar Sribawono mengemukakan bahwa sejatinya ia seorang penganut Katolik. Maka ia pamitan untuk menjalankan agamanya, meski hanya keluarganya sendiri yang Katolik di desa itu.

Segera saja beberapa orang menyatakan ikut bergabung dengannya. Mereka antara lain keluarga Karyotomo, Keluarga Tukijo dan isterinya Tukiyem, beberapa bujangan antara lain : Tamino, Sipan, Katiman (dari Mandalasari) dan Suraji. Suyatmin, anak Karyotomo,   memperkirakan jumlah magangan waktu itu ada 20 orang. Beberapa dari mereka telah mengenal agama Katolik sejak dari Jawa tetapi belum dibaptis, termasuk keluarga besarnya. Isti Susanto sendiri yang mengajar katekese di rumahnya.

Narasumber yang lain yang juga termasuk generasi pertama ini adalah Yustinus Tamino asal Wonogiri. Ia  tiba di Srimenanti tahun 1964 menyusul  kakaknya pasutri Tukijo dan Tukiyem. Mereka bertiga juga telah mengenal agama Katolik sejak dari Jawa. Setelah setahun mengikuti magangan, jemaat Katolik perdana ini dibaptis oleh Romo Albert Grein, SCJ di rumah Isti Susanto.

Selain pelajaran agama, jemaat perdana ini juga melaksanakan doa bergilir dari rumah ke rumah.  “Jadwal Misa Kudus dulu tidak pasti, pokoknya kalau Romo akan datang, kami diberitahu,” kata Suyatmin. Tapi bila tidak ada Misa Kudus, umat tetap melaksanakan ibadat pada hari Minggu. Biasanya Romo datang ke Srimenanti dalam satu rangkaian kunjungan ke Jabung, di sana juga ada komunitas jemaat Katolik.

Seingat Suyatmin, cukup lama mereka menggunakan rumah Isti Susanto untuk kegiatan keagamaan.  Mungkin sampai sekitar tahun 1968, saat mereka mampu mendirikan kapel sendiri. Kapel yang mereka dirikan itupun sangat sederhana  pada mulanya. Bangunan itu berlantai tanah dan berdinding papan tiga per empat.  Maksudnya, dindingnya tak utuh sampai menyentuh atap. “Pokoknya kalau orang berdiri tidak terlihat dari luar, “ katanya.

Isti Susanto sendiri, yang merupakan umat Katolik pertama Stasi Srimenanti merupakan seorang petani sederhana, berasal dari desa Turi,  Tempel, Sleman, DIY.  Diceritakan oleh Victoria Iswantiatun, anaknya, dan Yacobus sadimin, menantunya, ia dilahirkan sekitar tahun 1938 dan meninggal dunia pada tahun 1999. Pada tahun 1957 ia dan isterinya Rosalia Ismiyati, pergi ke Lampung mengikuti program transmigrasi korban bencana Merapi. “Hari ini mereka nikah, besoknya berangkat ke Lampung. Untuk ikut transmigrasi kan syaratnya harus sudah menikah,” kata Sadiman.  Mereka ditempatkan di Raman Fajar, Kecamatan Raman Utara.

Di Raman Utara, kondisi ekonominya tidak membaik, sawah pun sering kebanjiran. Maka pada tahun 1963, ia  membawa isteri dan seorang anak balitanya pindah  ke desa Srimenanti. Banyak orang dari berbagai tempat mulai truka, atau merintis perladangan baru. “Ia membuka bengkel sepeda di tempat yang kini dikenal sebagai simpang pasar Sribawono. Jaman itu, katanya, orang yang punya pompa sepeda hanya satu orang,” kata Sadimin. Saat itu wilayah tersebut  belum ramai, tetapi cukup memberi harapan.

Isti Susanto, meninggalkan desanya di Jawa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Lampung. Sebagai petani ia bekerja keras mengolah tanah, berharap memperoleh panenan berlimpah dan hidup yang lebih berkah. Rupanya Gusti Yesus yang diimaninya,  menuntunnya ke lahan pertanian yang lain, meski ia tak punya dasar pendidikan katekese. Ia dipanggil untuk menumbuhkan dan merawat benih  iman umat perdana jemaat Katolik di stasi Srimenanti, Paroki Sribawono. Dan ia tak ragu menjawab panggilan itu.

Storyteller : serah jarum jam dari atas kiri : Yustinus Tamino, Apaitus Suyatmin, Yacobus Sadimin dan Victoria Iswantiatun

Danau Kemuning atau lebih dikenal dengan nama Kali Mesin, sekarang

Vihara yang berdiri hampir bersamaan waktunya dengan gereja

Narsis

 

Romo Martinus van Ooij : Hadir dan Berkarya bagi Umat Sederhana.

#‪#‎Sareng_Gusti_Lumampah_ing_Tanah_Berkah_Narasi_Kecil_tentang_Jemaat_Perdana_Gereja_Katolik_Lampung‬#

(**..**) TENTANG PARA LEGENDA (**..**)

Bagi umat Katolik generasi pertama di Paroki Kotagajah nama Romo Martinus Antonius van Ooij, SCJ bersama pendahulunya Romo C. Van Vroenhoven dikenang sebagai “legenda”. Mereka berdua – tanpa merendahkan jasa para pastor yang lain – mengawali pelayanan kepada komunitas-komunitas kecil di mana jemaat Katolik perdana bermukim.

Rm. Martin van Ooij

Akhir dekade 50-an dan awal dekade 60-an wilayah yang membentang dari Lampung bagian tengah hingga menjelang pantai timur ini dibuka sebagai pemukiman baru. Di antara para pemukim baru itu terselip beberapa orang atau keluarga Katolik. Saat itu kadang mereka belum membentuk komunitas. Pertemuan dan pendampingan para pastor meneguhkan mereka untuk setia sebagai pengikut Kristus. Bersama pastor mereka mencari saudara seiman dan perlahan membentuk  komunitas-komunitas kecil.

Bagi Romo Martin van Ooij sendiri perjumpaan dan pendampingan kepada jemaat perdana di wilayah yang kini disebut sebagai paroki Kotagajah meyakinannya bahwa cara berpastoralnya bukanlah sesuatu yang mustahil. Pada waktu itu pelayanan yang umum diberikan oleh para misionaris adalah melalui sekolah, klinik atau rumah sakit. Tetapi Romo Martin berkeyakinan bahwa pendampingan kepada jemaat tidak harus melalui sekolah formal, bahkan tidak pula harus dengan bersegera mendirikan gedung gereja.

Ia terus berjalan, mencari, mengunjungi dan menemani para pemukim baru tersebut. Ia bahkan kadang tak berbuat apapun, tetapi belajar memahami adat, budaya dan pemikiran mereka. Dalam kunjungan jemaat ia bahkan tidak mengutamakan pengajaran katekismus. Tentu, Romo Martin sangat percaya bahwa pendidikan adalah salah satu cara memajukan kehidupan masyarakat. Tanpa pernah mendirikan sekolah formal, Ia banyak membantu pendidikan anak muda di wilayah Kotagajah. Pada saat yang tepat hasil pendidikan itu tidak saja berguna bagi mereka dan keluarganya tetapi juga bagi wilayah di mana mereka berada. Mereka menjadi ragi semesta.

Masa kecil dan Panggilan Menjadi Imam

Romo Martin van Ooij senang hidup dan berkarya di pedesaan di antara para petani sederhana. Hampir seluruh pengabdiannya di Keuskupan Tanjungkarang selama tiga puluh tahun dihabiskan di paroki-paroki pedesaan. Ia sendiri memang terlahir dari pasangan petani sederhana, Henricus van Ooij dan Anna Maria Bennenbroek di Deurne, Netherland pada 14 Desember 1935. Ia merupakan anak nomor lima dari 11 bersaudara.

Kehidupan keluarga yang tenang di desanya terkoyak karena Perang Dunia II. Ibunya, beserta adik nomor sembilan meninggal dunia ketika pada 10 September 1944 sebuah pesawat Jerman memuntahkan tembakan ke arah rumahnya. Martin kecil, 9 tahun waktu itu, terluka parah di bagian kakinya. Ia dibawa ke rumah sakit dan hampir diamputasi. Tetapi pamannya yang mendampinginya – ayahnya sedang bertugas memberikan pertolongan kepada korban perang di tempat lain – mengatakan bahwa lebih baik Martin kecil itu meninggal dunia daripada hidup hanya dengan satu kaki. Akhirnya ia dioperasi tanpa pembiusan. Obat-obatan sangat terbatas waktu itu.

Rm. Martin, nomor lima dari kiri

Ayahnya adalah contoh iman baginya. Ia seorang seorang pendoa yang kuat dan rajin ke gereja. Ketika seorang kakaknya menanyakan hal itu padanya, ayahnya menjawab,” Bagaimana saya bisa mengatasi masalah dengan delapan anak tanpa ibu di samping mereka. Saya bisa gila kalau tidak berdoa.” Dua tahun kemudian ayahnya menikahi Martina Bennenbroek yang merupakan adik kandung almarhum ibunya.

“Tuhan memberi saya dua ibu terbaik. Satu yang melahirkan saya dan satu yang mencintai saya,” demikian komentar Romo Martin tentang keluarganya. Dari bibinya tersebut Romo Martin mendapat lagi tiga orang adik. Sepuluh orang dari sebelas bersaudara itu masih hidup hingga kini.

Waktu kecil, ia tak terpikir untuk menjadi imam apalagi berkarya di Indonesia. “Pernah suatu kali ketika pulang dari gereja ke rumah, saya berdoa agar Tuhan memberi kami seorang imam,” katanya. Waktu itu gereja terdekat dari kampungya berjarak 2,5 km dan sebagai anak kecil ia harus berjalan kaki. “Saya tidak berdoa untuk menjadi imam, tetapi kok saya yang dipanggil,” kata Rm. Martin.

Baru setelah kelas 6 SD ia menyatakan minatnya untuk menjadi imam kepada orang tuanya. Ia masuk dalam seminari SCJ, mengikrarkan kaul pertama pada 8 September 1956 dan ditahbiskan sebagai imam pada 23 Maret 1963 di Nijmegen.

Selama di seminari ia bercita-cita untuk menjadi misionaris di Kanada. Untuk itu ia mempersiapkan diri belajar bahasa Perancis. Sewaktu akan menjalankan Tahun Orientasi Pastoral (TOP), Kanada merupakan salah satu negara yang ditawarkan kepada para seminaris. Para pimpinan seminari meminta agar seminaris yang akan berangkat minta izin kepada orang tua, dan selanjutnya diberangkatkan tanpa syarat apapun.

“Ayah saya mengizinkan saya berangkat, tetapi minta tahbisan saya tetap di Belanda,” kenang Rm. Martin. Permintaan ayahnya ini membuatnya tidak diberangkatkan ke Kanada. Ketika dua temannya kembali dari Kanada, Romo Martin bertanya bagaimana kesan-kesan mereka tentang tempat itu. Mereka menjawab bahwa Kanada bukanlah daerah misi. Jawaban ini merupakan titik balik bagi hidupnya.

Selanjutnya ia tidak berminat lagi untuk pergi ke Kanada. Urutannya kemudian untuk berkarya adalah Indonesia, Brazil, dan Chile. Tetapi ia berprinsip bahwa “bukan aku tetapi Tuhan yang mengutus aku.” Maka ia masih meletakkan Kanada para urutan prioritas ke-4 untuk berkarya.

Mendengar keputusannya untuk mengutamakan berkarya ke Indonesia, satu kata terlontar dari orang tuanya, “Sinting!” Indonesia belum terlalu lama memerdekakan diri dari penjajahan panjang Belanda. Relasi dua belah pihak belum baik saat itu. Jelas keluarganya merasa khawatir.

Tetapi Romo Martin bergeming. Ia tetap pergi. Satu tahun setelah tahbisan imamat, pada 22 Mei 1964 ia berangkat ke Indonesia. Dari bulan Mei sampai Agustus ia ditempatkan untuk membantu Paroki Pringsewu sekaligus belajar bahasa Jawa. Ia juga ditugaskan untuk melayani wilayah Lor Kali, yang kemudian menjadi Paroki Kalirejo. Bulan September sampai 8 Desember tahun itu juga ia tinggal menetap dan melayani Kalirejo.

Tanggal 8 Desember 1964 ia berpindah ke paroki Metro, khususnya untuk melayani wilayah Punggur. Di paroki yang berdiri sejak 1937 itu, sudah ada dua konfrater seniornya, Romo Albert Grein, SCJ dan Romo C. Van Vroenhoeven, SCJ. Tidak terlalu mudah untuk berelasi bila menyangkut tentang konsep pelayanan pastoral.

Kedua seniornya adalah imam-imam yang dididik pada masa sebelum Konsili Vatikan II. Sementara dirinya telah mulai menerapkan sejumlah pembaruan pastoral yang digaungkan oleh konsili tersebut. Perbedaan itu misalnya, Romo Vroen mengutamakan pengajaran katekismus. Sementara Rm. Martin “tidak berbuat apa-apa”.

Ia lebih ingin hadir untuk mengetahui pikiran, budaya, adat kebiasaan dan harapan-harapan orang-orang yang dilayaninya. Cara-cara inilah yang ia terapkan, sampai terjadinya tragedi besar 1965 yang mengubah banyak hal dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan tentu saja dalam cara – cara berpastoral….. *** (dilanjut bagian ke-2).

SEbagai seminaris

Bersama Rm. Martin