~MAMPIR MÛI NÉ ~ 

Jadi juga aku ke Mui ne (dibaca Mu Né). Biasanya aku tak terlalu suka laut, pantai, panas sengangar matahari membakar perkampungan nelayan. Kali ini mungkin karena aku tak mau lagi berlama-lama terjebak dalam hiruk pikuk Saigon. Mungkin juga karena penasaran.

Begitu banyak informasi dengan kata kunci Mui ne, yang langsung merujuk wisata red and white sand dunes. Bisa pilih sun set atau sunrise. Kata para blogger itu, keduanya merupakan mini padang pasir, yang istimewa, yang tak dinyana ada Vietnam, yang serasa gimana… Tetapi juga harus hati-hati : Scam. Ini bentuknya lainlah, bukan pemaksaan langsung yang kasar, tapi sama menjebak. Nanti kuceritakan.

Jam 7 pagi aku sudah siap di halaman Trung Cang Hotel. Kantor agen travel Sinh Tourist numpang di halamannya. Bus yang janjinya berangkat jam 7.30 molor sekitar setengah jam kemudian. Harga tiketnya 120.000 VND. Thuy, induk semangku di Dalat menawarkan tiket lebih murah, 100 VND, tapi tidak kuambil. Intuisiku tepat. Fibiie, mahasiswi Malaysia yang sehari sebelumnya bersamaku dalam tur countryside Dalat, ambil tiket itu. Menjelang tengah hari kukontak dia dan ternyata dia belum sampai Mui Ne. “Ini bus tua,” katanya. Busku bagus.

Ada perbaikan jalan, sekitar 2 jam sesudah bus meninggalkan Dalat. Macet di situ cukup lama. Waduh, ingin aku minta waktu sebentar ke pak sopir, buat pipis. Embuh, di balik semak pinggir jalan juga nggak apa. Dingin AC membuat aku beser. Selebihnya jalanan lancar. Aspalnya mulus. Jalan berkelok-kelok indah menuruni kawasan pegunungan Lam Dong yang dipenuhi hutan pinus. Hanya aku agak heran, kenapa bus ini hampir tak pernah berpapasan dengan bus lain ? Hampir tak menemukan desa dan kota pula sepanjang 4 jam perjalanan itu. Apakah Sinh tourist menempuh jalur tersendiri, agar mata para turist dimanjakan dengan pemandangan pegunungan ini ? Bersamaku ada rombongan besar turis dari China, tua muda. Wow, benar kabar itu. Bahwa mereka adalah angkatan orang kaya baru karena ekonomi negaranya yang booming.

Jam 12 tengah hari bus berhenti di agen Sinh tourist Mui Ne. Hotel Song Huong yang sudah kupesan cuma terletak di seberangnya. Aku ingin praktis saja, karena aku toh tidak akan berlama-lama di sini. Hotel-hotel terletak hanya di satu jalur jalan Nguyen Dinh Chieu, distrik Ham Tien ini. Meski demikian lokasi agen Sinh tourist terasa sepi. Tumben. Pusat keramaian, maksudku toko-toko, fasilitas ATM, dll terletak pada bagian yang lain dari jalur jalan ini. Ketika hari beranjak sore, jalur jalan ini terasa senyap. Lampu-lampu redup. Hanya sedikit kendaraan yang lewat. Tapi karena kali ini aku menyukai ketenangan, suasana di sini sangat mendukung.

Song Huong hotel dikelola dua perempuan muda bersaudara. Yang satu sedang hamil tua, mengelola resto dan yang satu mengelola hotelnya. Ada spa juga di situ. Aku diberi kamar di samping bangunan utama, semacam bedeng yang terdiri dari 3 kamar, dengan pintu menghadap halaman yang luas. Ada teras dengan bangku terbuat dari batu marmer. Galon air minum diletakkan di meja, gratis. Ini bukan hal yang biasa di tempat-tempat wisata begini.

Masih ada waktu bagiku untuk bergabung dengan tur sunset sand dunes. Katanya kami akan dijemput jam 2. Harga tur 5 dolar, sedikit lebih murah daripada di Sihn Tourist yang 149.000 VND. Tapi, nanti dulu…, kepalamu akan diketok palu (+arit… 🙂 )di tempat lain. Secepat kilat aku makan, mandi, ganti baju.

Jeep menjemputku jam 14.30. Sopirnya seorang lelaki gempal, wajahnya lebih mirip Pinoy daripada Vietnamese. Usianya sekitar pertengahan 40-an kukira. Kacamata gelapnya tak dibuka ketika bercakap denganku. Aku tak suka sepasang mata dibaliknya. Cara dia memandang tak membuatku nyaman. Dia menyuruhku duduk di sampingya. Aku orang pertama yang dia jemput.

“Are you Chinese?”
“No, Indonesian. Why.”
“I don’t like Chinese.”

Jab yang makjleb ke ulu hati. Kasar. Terus terang. Rasis. Sambil terus memandang ke depan, ia bercerita. Banyak turis dari China datang ke tempat ini dan mereka sering menipu. Misalnya, mereka membeli kepala muda yang ditawarkan seharga 50.000 VND oleh penduduk lokal. Mereka menawar sangat rendah, 10.000 VND. Harga itu ditolak oleh penjualnya. Lantas si turis sepakat 50.000 VND. Tetapi sesudahnya, mereka membayar 10.000 VND dan langsung ngeloyor pergi. Orang kampung yang menjual kelapa muda melongo tak berdaya. Begitu katanya. Aku diam.

Tak lama berselang, dua gadis Korea bergabung. Lalu juga seorang lelaki Eropa paruh baya didampingi perempuan Vietnam, mungkin usia 30-an. Semula kukira mereka suami isteri, ternyata bukan. Belum lama berjalan, jeep berhenti di muka warung kecil. Ada jembatan sederhana, di atas sebuah aliran sungai kecil. “Fairy stream, 30 minutes,” katanya, dingin.

Kami turun melewati bagian samping warung itu. Pohon-pohon bambu menaungi sungai di bagian bawah jembatan. Yang disebut fairy stream adalah aliran sungai kecil, sedalam mata kaki di atas pasir merah lembut. Para turis berjalan menghulu aliran itu. Ada dinding batu kapur di dekat situ yang bisa jadi spot cantik untuk berfoto. Matahari menjelang senja membuat warna bias warna redup kemerahan.

Tanpa berlama-lama aku dan dua gadis Korea kembali ke jeep. Ada tambahan penumpang. Seorang lelaki tambun berkulit coklat yang disuruh menggantikan aku duduk di samping sopir, dan dua perempuan muda Filipina. Aku duduk di belakang sopir bersama dua gadis Korea. Dua perempuan Filipina dan pasangan mix Vietnam – Eropa itu akan duduk berhadapan di belakang kami. Jadi kami bersembilan. Ditunggu cukup lama, dua orang terakhir itu tak juga muncul. “Did you see them?”, tanya sopir. Akhirnya dia turun mencari kedua orang itu.

Tujuan kami selanjutnya fishing village. “20 minutes,” kata sopir. Sampai tur berakhir aku tak bertanya namanya. Malas juga berakrab-akrab dengannya. Tak ada istimewanya sama sekali tempat ini. Sebuah teluk kecil, turun beberapa meter dari jalan aspal. Di tepi jalan ada bangunan tanpa dinding. Beberapa baskom berisi ikan diletakkan di situ sebagai sampel hasil tangkapan nelayan. Weleh….

Tujuan selanjutnya adalah white sand dunes. Tempat ini agak jauh, mungkin lebih dari 30 menit berkendara. Barisan jeep pengangkut turis berpancu ke tujuan yang sama. Di sini drama scam dimulai. “ Here 50 minutes,” kata si sopir. Jeep diparkir di pangkalan ATV, tak jauh dari danau kecil di tepi jalan. Untuk mencapai bukit pasir kita harus sewa ATV. Tapi harga sewa ATV ini dikendalikan oleh si sopir jeep. Kita tak bisa tawar-menawar langsung dengan sopir ATV. Sopir jeep yang kami tumpangi mematok harga 200.000 VND per orang (gilee…), tak bisa digoyang. Mau segitu, nggak mau ya jalan kakilah sana. Sebenarnya, jeep bisa masuk sampai ke bukit pasir. Tapi ini strategi bagi-bagi rejekilah.

Satu ATV bisa ditumpangi 3 orang, 4 dengan sopir. Kita akan diantar ke bukit pasir dan nanti dijemput. Kelihatannya jauh, karena ATV akan berputar sebentar (ngebut, jadi hati-hati…) lalu mengantar kita ke kaki salah satu bukit pasir. Sebenarnya bukit pasir pertama tidak terlalu jauh dari pangkalan ATV. Kita cukup maju sedikit, belok kiri dan berjalan lurus. Sepatu tinggal saja di jeep. Tapi, kalau harus jalan sendirian yah…. Bukan capeknya sih, tapi ngilunya hati saat lihat orang lain naik ATV berseliweran.

Agak ngos-ngosan juga aku mendaki bukit pasir. Baru terasa usia sudah menanjak. Tapi sampai di atas kepenatan terbayar. Pemandangan sangat bagus. Tekstur pasir sangat halus. Warna putih kecoklatan sangat kontras dengan warna-warni pakaian, warna langit biru yang kemudian berubah kelabu gelap bercampur kuning merah keemasan candik ayu. Dari puncak bukit pasir kita bisa melihat gundukan-gundukan bukit pasir lain di kejauhan. Tak ada tenaga untuk naik turun gundukan, mengarungi hamparan luas itu. Huassyuuu. Kupikir harga 200.000 VND itu untuk bayar tur mengelilingi hamparan padang pasir ini. Rupanya cuma mengantar ke satu gundukan saja.

Aku berjalan ke ujung bukit pasir. Narsis sendirian. Tak terasa hari menjadi gelap. Agak kaget juga ketika tersadar bahwa tak banyak lagi orang di padang pasir luas ini, 20 km memanjang pada garis pantai. Di bukit tempatku berdiri hanya tinggal dua orang laki-laki, agak jauh di depan sana. Aku berjalan ke ujung yang lain. Tiba-tiba angin bertiup amat kencang dari arah samping kiriku. Pasir-pasir beterbangan, masuk telinga, mata… . Aku terpaksa berjalan menyamping. Limbung melawan hempasan. di Suara angin yang menerbangkan pasir itu seperti ribuan siulan yang mendesing di telinga. Horor, ketika kau hanya sendirian, di keluasan padang yang mulai gelap ini.

Untungnya kendaraan jemputan segera datang. Dua lelaki dengan mobil sejenis Rocky menghampiri kami bertiga. Salah satu bicara dengan bahasa Vietnam. Maksudnya kupahami, bahwa kami terlambat. Di pangkalan, jeep dan sopirnya sudah siap, begitu juga teman-teman rombonganku sudah duduk manis di kursi masing-masing. “Sorry,” kataku. Tanpa babibu lagi kami berngkat.

Kami berkendara balik ke arah semula, sejauh 24 km, red sand dunes sekarang. “30 minutes,” kata si sopir. Ia memarkir kendaraannya di tepi jalan. Kami cukup menyeberang. Red sand dunes hanya seluas 50 hektar saja. Warnanya lembut kemerahan. Banyak orang menyewakan seluncur pasir. Hati-hati dengan anak-anak yang menawarkan jasa untuk membawakan tas sementara kita bermain seluncur. Kata orang, pantai di ujung hamparan pasir ini sangat cantik. Tapi aku tak sempat ke sana.

Baru beberapa langkah berjalan, satu-satunya bule dalam rombonganku mengajak ngobrol. Dia asal Hungaria ternyata. Selalu saja aku lupa nama. Entah apa kerjanya di negaranya sana. Tapi ia cukup punya pengetahuan tentang Indonesia. “Hai, kenapa kau tak berhijab?” dia bertanya. Lantas kami bercerita tentang pengungsi Timur Tengah di Eropa, dan kecenderungan mereka yang semakin fundamentalis. Lalu tentang Rohingnya dan Indonesia.

Dua gadis Korea bergabung, tapi tak banyak ikut bicara. Kami hanya foto-foto. Tapi kenapa perempuan Vietnam yang bersamanya malah menyingkir ? Kupanggil dia. Malu-malu dia bergabung. Semula kukira dia Pinay, sebab kulitnya kecoklatan dan matanya tidak sipit. Ternyata dia Vietnamese, mengaku aslinya Saigon. Lelakinya ini orang baik, agak gimana gitu… Ramah, cerdas tapi juga agak berlebih memberi perhatian pada perempuan lain.

Tur kami menjelang usai. Dua gadis Korea ingin menghabiskan malam di sebuah restoran Korea yang cukup eksklusif dan minta diantar ke sana. Si sopir keberatan, sebab jaraknya 5 km dari titik akhir perjalanan kami petang itu. Si lelaki bule ini meminta kepada sopir untuk mengantar, “Kita harus memastikan mereka safe sampai sana…” Oyaowoh…

Jeep berhenti beberapa meter dari hotelku. Si sopir berkata, “Sorry, tak kuantar. Lihat itu Song Huong hanya 30 meter dari sini.” Tangannya menunjuk plang neon hotel yang telah menyala. Aku mengangguk, mengucap terima kasih pada semua orang di rombonganku. Entahlah, apakah 4 orang dari mereka ini akan meneruskan malam di resto Korea itu. Sempat kudengar perempuan Vietnam itu merengek manja ke lelakinya, “I don’t want to gooo…”

Badanku penuh pasir. Sesudah mandi, terasa sangat cepat malam merambat. Resto Song Huong tutup jam 10. Jalanan di depan terasa senyap. Jam 11 keesokan harinya aku telah berada di atas sleeper bus menuju Distrik satu, Saigon. ****

Advertisements

MLEBUNE METU NGENDI ? – WONG NDESO NONTON CASINO Genting Highland

“Mlebune metu ngendi .. , ”  kalimat tanya orang Jawa selalu yang menimbulkan senyum. Masuknya keluar dari mana, begitu kalau diterjemahkan secara harafiah. Ini konteks dua bahasa yang berbeda. Terjemahan yang tepat adalah “masuknya dari mana”. Tapi kalimat tanya itu bisa jadi adalah ekspresi kebingungan seseorang. Dan orang itu adalah aku, saat berada di tempat yang tak tepat : gegar budaya.

Genting highland, Pahang, jauh dari daftar antrian tempat yang ingin kukunjungi. Bukan tak yakin bahwa tempat itu indah dan menarik.  Cuma, rasanya, itu bukan habitatku. . Meski ada banyak sarana hiburan,  Genting terkenal dengan kasinonya. Kalau cuma udara sejuk, nge-mall, wahana permainan keluarga, hutan, dsb , itu bisa ditemukan di berbagai tempat lain, dan hampir sama saja.

Sementara sampai saat ini, aku lebih suka berinteraksi dengan alam, manusia dan budayanya yang unik, yang bisa jadi sangat berbeda dengan yang kuhayati. Nah! Ternyata aku salah kali ini ! Di Genting kudapatkan pengalaman unik. Alam yang indah dengan hawa sejuk, kebiasaan – kalau tak boleh disebut budaya –  yang sangat berbeda dengan keseharianku , dan menikmati kejutan-kejutan  gegar budaya. dan itu bisa kunikmati sambil ketawa-ketawa. Oooo.. dasar ndeso!!

Pengalaman ke Genting bermula dari ajakan travelmate-ku. “Ada promo di First World Resort. Cheeep, cheeep. Ayooo,” katanya. Kami jalan sendiri-sendiri dan berjanji bertemu di KLIA. Tetapi  tragedi penjemputan (aku mendarat di KLIA dia ngampiri di KLIA2), ditambah lagi harus mengantar kerabat ke Shah Alam, membuat menjelang tengah malamkami  baru mencapai Genting. Tapi kelelahan fisik dan hati terbayar oleh keindahan alam. Jalan berkelok-kelok,  gemerlap resor-resor terlihat di ketinggian.  Kereta gantung, perlahan bersliweran dengan  lampunya yang redup menghias langit malam. Kami akan ke sana.

Setelah memarkir mobil di basement lantai 6, terlihat sebuah pintu besi. Tanpa pikir panjang kami masuk. Kami pikir itu semacam pintu belakang bangunan ini, kalau naik sedikit kami sudah akan mencapai lobi. Ternyata eh ternyata, kami harus terus naik entah berapa tingkat lagi ke atas. Lalu kesasar ke dapur pastry. Baru di situ ketemu orang yang bisa ditanya. Mestinya tadi kami cari lift. Ooh… bego juga kami nii…!!

Gegar budaya belum selesai. Ada beberapa mesin check in otomatis di ruang lobi. Hanya ada sekitar 4 pegawai di resepsionis. Tamu-tamu ada banyak; yang baru datang, yang duduk saja, yang foto-foto, bersliweran entah apa yang dikerjakan. Lampu redup, di teras malah pohon-pohon atrifisial dihias dengan lampu warna-warni kerlap -kerlip. Itu membuat siang atau malam tak ada bedanya di sini. Kulihat travelmate-ku agak kesulitan juga dengan mesin check in otomatis. Ah, percuma toh kalau kutolong. Aku lebih gaptek lagi. Jadi lebih baik aku duduk saja. Akhirnya dari mesin sialan itu keluar juga sepotong kartu sebesar kartu kredit yang harus kami pakai untuk membuka pintu kamar dan nanti dimasukkan lagi ke mesin ini untuk check out.

Tragedi selanjutnya terjadi  di depan pintu kamar. Kartu itu kami masukkan ke slot yang ada di pintu. Setelah nyala biru muncul segera kami putar grendel pintu. Ooops.. sialan, berkali-kali begitu, tak terbuka juga pintu itu. Harus ditendangkah? Ya, aku dhewe sing bakal kejengkang… .

Selanjutnya “Aku turun ya, mau nanya pegawai di lobi tadi.  Kamu di sini saja, “ katanya. Ternyata, kartu tadi cukup di-scan saja. Tak perlu dimasukkan ke dalam slot. Kalau lampu biru sudah menyala segera buka grendel. Oh… bukan salah kami toh? Biasanya kalau ada lubang slot, ya kartu di pasang di situ, dan baru dicabut kalau pintu sudah terbuka. Ampyuuun!!!

Las Vegas-nya Malaysia

Kata orang, Genting ini Las Vegasnya Malaysia. Segala aktivitas judi tersedia. Jaraknya hanya 1 ½ jam dari Kuala lumpur tapi jika kita masuk ke dalam resor ini suasananya amat berbeda. Serasa di Hongkong atau tempat manalah di daratan China sana.  Pegawai resor ini pun kebanyakan dari etnis Chinese, ada juga sedikit etnis India, ehm.. ketemu satu atau dua tadi perempuan bertudung di gerai makanan. Para tetamu pun begitu, hampir semua etnis Chinese.

Sampai lima puluh tahun yang lampau Genting hanyalah tanah kosong yang dibeli oleh Lim Goh Tong untuk membangun mimpinya:  sebuah pusat hiburan di tempat berudara sejuk dan tidak jauh dari pusat kota. Pada awalnya banyak yang pesimis, tetapi ternyata insting bisnisnya amat baik. Sekarang Genting Highland menjadi salah satu tempat wisata terbaik Malaysia dan tentunya mendatangkan devisa yang besar. Tak terbilang resor dan tempat hiburan berdiri di sini.  Judi hanya salah satunya. Ada banyak aktivitas wisata lainnya sebenarnya.

Meski dikenal sebagai negara Islam tapi judi dilegalkan di sini. Ketika sarapan, kulihat 6 orang polisi berbaris berbanjar dua di ruang lobi. Pastilah lengkap dengan senjatanya. Harap maklum,  karena ini pusat judi perputaran uang cash sangat deras. Kata travelmateku, orang-orang dari China daratan banyak mengunjungi tempat ini, membawa segepok uang kontan, berjudi dan bersenang-senang di sini.

“Negara mereka masih menganut sistem ekonomi komunis sosialis, sementara bisnis mereka berkembang.” Dengan kata lain, banyak OKB – orang kaya baru – di sana. Dengan sistem ekonomi sosialis macam itu, mereka tak percaya pada bank yang diawasi oleh pemerintah. Kebijakan ekonomi bisa saja setiap saat merugikan mereka. Jadi lebih baik mereka menyimpan uang cash, di bawah kasur. Mereka bisa setiap saat bersenang-senang menghibur diri  di luar negeri.

Mungkin cerita ini sebuah kebenaran. Sepanjang perjalananku di Vietnam, aku selalu menjumpai orang –orang Chinese di banyak tempat. Biasanya mereka datang  dalam rombongan besar. Biarpun sama-sama berkulit putih dan bermata sipit, aku bisa membedakan mereka dengan orang Korea atau Jepang. Orang-orang China daratan biasanya akan teriak-teriak, seolah bicara dengan orang selapangan. Karena mereka datang berombongan atau mungkin karena faktor bahasa, mereka terlihat eksklusif. Ada juga perkecualiannya.

Di Genting ini, setidaknya yang kulihat di First World Resort, orang-orang dari China daratan ini datang dalam rombongan-rombongan besar juga. Kebanyakan usianya 40-an tahun ke atas.  Sebagian terlihat renta, berjalan memakai tongkat, bahkan ada yang duduk di kursi roda. Kadang dipandu oleh sesorang tur-guide dengan tongkat berujung bendera kecil menjulang ke atas. Seperti tongkat Musa. Gelombang kedatangan mereka tak terputus, 24 jam terus menerus. Ada lebih 3000 kamar di sini.

Banyak  yang terlihat familiar dengan tempat ini. Berjalan santai menyeberangi hall menuju kasino. Bagi sebagian besar orang, memang itu tujuan mereka. Sesudah sarapan, kami coba ikuti mereka. Cita-cita semula, “Bolehlah kita satu atau dua slot main di kasino….”  Haha.. cita-cita yang tak kesampian. Kami terlalu ndeso untuk terlibat dalam aneka permainan di sana. Akhirnya ya hanya putar-putar dari satu meja ke meja yang lain, menonton bagaimana para opa dan oma, OKB (oh sorry, not in the negative sense-lah) dari China daratan itu menghamburkan recehannya. Untung mereka begitu asyik terlarut dalam permainan dan tak peduli dengan dua makhluk asing yang mengintip dari balik punggung mereka. Petugas juga tak peduli dengan kehadiran kami, meski mereka cukup awas. Terbukti ketika aku mengeluarkan kamera saku, salah satu mendekati. “No, picture please,” dingin, tegas. Satu jepretan terlanjut lolos. Untung itu tak diminta untuk dihapus.

Kami keluar. Kembali ke parkiran di basement, mencoba melihat pemandangan dari ketinggian. Genting berkabut tebal sepanjang hari itu, diseling gerimis tipis. Jadi tak banyak yang bisa dilihat. Setelah putar-putar mall dan food court (yang terasa sepi), kami putuskan untuk mengunjungi Chin Swee Temple, sebuah tempat peribadatan yang dibangun oleh dato’ Lim Goh Tong dan teman-teman bsinisnya yang berasal dari Provinsi Fujian pada 1975.

Cara satu-satunya menuju ke sana dari resor ini ya naik kereta gantung, Awana Skyway. Tidak tahu stasion berada di lantai berapa. Pokoknya aku keukeuh pada prinsip, “Lu pigi  mana, gua ikut aja.” Travelmateku  tahu betul  itu. Aku  sering disorientasi kalau pergi-pergi. Sebenarnya mungkin tidak sebodoh itu juga sih. Aku bisa backpacking ke mana-mana sendiri. Alhamdullilah, aman kok. Dulu sebelum ada google map, aku biasa bawa kompas dan peta (wuih… pramuka banget) dan memperhatikan gedung, pengkolan, pohon, dsb sebagai penanda. Tapi kalau ada temannya, aku cenderung  malas berpikir. Eman-eman, aku milih ngepenakke awak, hehehe…

Kami membeli tiket terusan yang harus dipindai setiap  masuk stasiun demi stasiun. “Ini tiketmu, jangan sampai hilang atau kau tak bisa pulang,” ancam si travelmate. Dia nyelonong berjalan duluan. Baru beberapa langkah, “Sinih  tiketmu, aku aja yang bawa. Kalau hilang, aku lagi yang repot.” Lantas dia mengungkit-ungkit kisruhnya titik pertemuan kami di bandara kemarin. “Lho… kan, kamu juga yang salah baca tiketku…” Dia  ketawa, takut membuka front pertempuran lagi.

 

 

 

 

 

Perhelatan Pengantin Lampung Tempo Doeloe

Saya menemukan foto-foto menarik tentang pengantin Lampung tempo dulu. Sembilan foto ini diletakkan dalam satu halaman album kuno, berbanjar 3, masing-masing berukuran 6 x 6 cm dan tidak  bertannggal. Saya  menduga foto-foto ini berasal dari dekade akhir 1940-an. Lihat saja model pakaian para pengiring pengantin, yang bawa bendera itu lho. Pakaian seperti itu meniru model pakaian yang biasa dipakai Bung Karno. Duh, uniknya perarakan pengantin kok didahului pembawa bendera….  Mungkin karena baru saja usai revolusi, jadi terasa patriotik.

Nampaknya pemilik album foto ini (mbah gue, huehehehe…..) menangkap peristiwa istimewa ini di tengah turne tugasnya. Mungkin lokasinya antara Metro- Tanjungkarang atau Pringsewu – Tanjungkarang. Ia berhenti sejenak dan mengabadikan peristiwa ini. Lihat, betapa kooperatifnya para fotomodel dadakan ini. Mereka menghadap kamera dan tersenyum.

Perhelatan pengantin ini tentu saja terjadi di pedesaan bahkan istilah lokalnya umbulan. Kita lihat misalnya para tetangga yang menonton dari kejauhan, di muka rumah-rumah gubug mereka, yang berada di atas gerumbul bukit kecil.

Menarik pula dicermati model pakaian yang dikenakan. Kita bisa melihat Indonesia masa lalu.  Pengantin perempuan mengenakan mahkota yang berbeda dengan model siger zaman sekarang. Blouse berlengan pendek dikenakan di bagian atas melengkapi kain tapisnya. Pengantin lalki-laki mengenakan jas dan dasi, (kain songket ?) menyilang di dadanya.

Dandanan para perempuan pengiring terasa menarik.  Mereka kebanyakan  mengenakan kain kebaya, berkonde dengan selendang yang dikudungkan begitu saja.  Ada juga yang selendang kudungnya diukel ke atas, ini pasti model Sumatera. Model kebanyanya juga ada dua macam. Ada yang model kutu baru dengan setagen, ada pula yang model buju kurung terusan. Beberapa anak-anak perempuan dan gadis muda mengenakan rok. Ada yang melengkapinya kudung pula.

Perhatikan foto tiga gadis kecil itu. Tampaknya ini adalah sebuah ruang kelas. Di latar belakang ada ibu guru berkebaya kutu baru dan berkonde tanpa kudung. Ibu itu pasti dari Jawa. Sekali lagi lihat foto pembawa bendera. Ada beberapa anak laki-laki mengenakan baju yang sama. Mungkinkah anak-anak perempuan tetap di dalam kelas, sementara anak laki-laki boleh membolos sebentar untuk membantu tetangga hajatan ?

Oh, Berasa Indonesia  🙂 !

Monggo dinikmati saja…..

Didahului perarakan bendera

Pengantin laki-laki di antara pengiringnya

Pengantin perempuan dan pengiringnya

Pengantin wanita diapit para wanita pengiringnya

Para tetangga menonton dari kejauhan

Rumah di kampung mereka

Bocah penonton

Pengantin laki-laki

Close up : Pengantin wanita

Stasi Tatakarya, Paroki Murnijaya

MELACAK JEJAK JEMAAT PERDANA WAY ABUNG 

Gereja Stasi Tatakarya, 2015

Buku adalah mesin waktu. Ia mengantar pembaca menerabas sekat-sekat,  menikmati perjumpaan dengan peristiwa dan orang-orang dari ruang dan masa yang berbeda. Berbekal buku berjudul Th. Bosrt SCJ, Aotubiografi Seorang Misionaris, saya mencoba melacak jejak para pemula di stasi Tatakarya.

Sekarang Tatakarya merupakan salah satu stasi Paroki Murnijaya (sebelumnya disebut Dayamurni). Sesungguhnya tempat ini adalah titik awal di mana benih iman Katolik tumbuh di wilayah Way Abung.  Di sini pula untuk pertama kalinya seorang pastor, Martinus van Ooij SCJ tinggal menetap untuk melayani umat. Sebelumnya Romo Borst disusul para pastor yang lain, melayani dari paroki Kotabumi. Romo van Ooij pula yang pada tahun 1982 memulai pembangunan  pusat paroki di Murnijaya karena tempat terakhir ini terletak di tengah-tengah dan dipandang lebih bisa memberi harapan untuk berkembang.

Dengan diantar oleh Yohanes Parijo,63, saya menziarahi perjalanan Rm Borst di Tatakarya dan sekitarnya. Ia juga seorang mantan katekis yang bermukim di wilayah ini sejak 1975, sehingga bisa menjadi narasumber ketika saya kehilangan missing link antarperistiwa. Perjalanan saya tentu tidak dengan  jeep tua diselingi jalan kaki menembus alang-alang setinggi orang seperti Romo Bosrt dulu.

Berikut narasi Romo Borst yang saya sadur secara agak bebas agar bahasanya menjadi aktual tanpa mengubah maknanya.

“Tahun 1965 saya dengar akan dibuka transmigrasi baru, Way Abung I dan II, ± 25 km dari Kotabumi. Jalannnya masih dapat ditempuh dengan mobil. “Lahan baru” ini sama sekali tidak berarti. Belum ada seorang katolik di sini. Sdr. Muhadi menerima saya dalam gubuknya. Sewaktu sekolah ia pernah menjadi katekumen dan ingin melanjutkan pelajaran agama” – halaman 69. 

Romo Theodorus Borst, SCJ

Dalam catatan itu rupanya Romo Bosrt pun tidak bisa banyak berharap. Proyek transmigrasi Way Agung I dan II lebih merupakan rintisan dan gugur prematur. Pemukiman yang semula diangankan meliputi lahan yang luas di timur laut Kotabumi itu mangkrak karena meletusnya peristiwa G30S. Sekitar Agustus 1965 pemerintah  telah mengirim beberapa angkatan trasnmigran ke dua desa yaitu Tatakarya dan Purbasakti. Selanjutnya proyek terhenti. Proyek transmigrasi Way Abung baru dimulai kembali sesudah tahun 1970.

Pak Muhadi yang dicacat Rm. Bosrt dalam bukunya, masih bisa ditemui dan mampu mengingat dengan baik peristiwa lima puluh tahun lampau itu. Ia adalah salah satu dari 49 keluarga peserta transmigrasi umum angkatan pertama yang dimukimkan di wilayah ini. Yulius Lilik Argo Reni Muhadi, 76, bersama isternya Lucia Sudarni, 77, tiba Tatakarya – dulu disebut Proyek Rukti – pada Agustus 1965. “Dulu dari Jawa dijanjikan bahwa tujuan kami itu Belitang. Tetapi entah mengapa kami diturunkan di sini,” katanya. Tanah yang dijanjikan pemerintah hanyalah hutan sekunder, belukar dan rawa-rawa. Tak ada bantuan apapun dari pemerintah untuk mengolahnya, bahkan untuk bertahan hidup.

Selama seminggu mereka ditumpangkan di rumah keluarga orang Lampung asli di desa Surakarta. Kemudian para pemukim baru tersebut diperintahkan membuat bedeng di desa Bandar Abung (dulu bernama kampung Ajan). Kepada mereka juga ditunjukkan kawasan akan dijadikan kampung pemukiman mereka nantinya, masing-masing kepala keluarga mendapat ¼ hektare yanng harus dibuka sendiri.

Muhadi menginngat betapa sulitnya awal kehidupan mereka di sini. Dari 49 KK akhirnya hanya tersisa 13 KK saja yang bertahan di sini. Hidup menjadi lebih sulit ketika pecah tragedi September 1965. Proyek transmigrasi Way Abung terhenti. Para staf unit transmigrasi tak pernah muncul lagi. Untuk bertahan hidup para transmigran bekerja semampunya, buruh kepada penduduk  Lampung asli untuk mendapatkan upah bahan makanan. Kadang mereka pergi ke hutan atau rawa mencari apapun yang bisa menopang hidup.

Suatu hari di tahun 1966 Muhadi pergi ke hutan. Di rumah hanya ada isterinya dan dua anaknya yang masih kecil. Tiba-tiba Romo Borst yang dikawal dua tentara dari Kodim muncul di gubuk mereka. “Saya berkata ‘Berkah dalem Romo’ sambil saya salami dan persilakan masuk,” kata Sudarni, isteri Muhadi. Pasutri ini pernah menjadi katekumen di Jawa. Bahkan ke tanah rantau ini mereka membawa rosario dan buku Padupan Kencana. Pada kunjungan Romo Borst yang ke-3 keluarga kecil ini dibaptis tanpa proses katekumenat lagi.

Sesudah itu ada sekitar 27 KK yang berminat mengikuti pelajaran agama di Tatakarya. Romo Borst mengutus Darjono, katekis pembantu dari Propan untuk mengajar para magangan. Tahun 1967 mereka membangun gereja sederhana, berdinding papan dan beratap welit, di atas tanah jatah transmigrasi yang diberi nama Gereja Sang Timur. Misa sebulan sekali dapat dilaksanaan di gereja setelah sebelumnya dilaksanakan di rumah-rumah umat. Kalau tak ada misa diselenggarakan ibadat sabda dipimpin oleh Muhadi.

Yulius Lilik Argo Reni Muhadi dan Lucia Sudarni

“Suatu saat datang seseorang dari Purbasakti meminta Romo rawuh. (dari Tatakarya) ke tempat itu belum ada jalan, tetapi dapat ditempuh melalui alang-alang. Ketika saya menuju ke sana, ternyata lupa petunjuk  jalannya, tetapi akhirnya sampai juga setelah bertemu beberapa orang, salah seorang di antaranya guru. Saya berjanji akan datang lagi berkunjung bila ke Tatakarya. “ – halaman 70.

Petrus Matyani adalah guru yang dijumpai oleh Romo Bosrt di Purbasakti pada tahun 1966 itu. Ia adalah transmigran gelombang pertama di Purbasakti, hampir bersamaan dengan kedatangan transmigran di Rukti. Ada sekitar 25 KK yang bersedia mengikuti plejaran agama di sini. Tahun 1967 mereka mendirikan gereja di pekarangan H. Mulyodiharjo. Tahun 1970 kapel itu dipipindahkan dekat sekolah tamansiswa dan pada 1981 dibangun permanen di lokasi sekarang, di muka rumah keluarga Matyani.

Di antara Tatakarya dan Purbasakti ada kampung orang asli Lampung bernama Surakarta. Di tempat inilah dulu, para tarnsmigran sementara waktu ditumpangkan.

“… Pulang ke rumah, di Surakarta, kampung orang asli, tiba-tiba mobil saya dihentikan oleh seorang anak, Cyrius namanya. Bapak Simpson seorang guru, mempersilahkan saya mampir. Keluarga ini kemudian menjadi Katolik dan menyediakan tempatnya untuk mendirikan gereja.” – halaman 70.

Keluarga Simpson Simbolon semula penganut Protestan. Karena tak menemukan anggota jemaat yang lain mereka kemudian bergabung dengan gereja Katolik. Selain mereka ada tiga keluarga katolik di surakarta yang mengikuti mereka bergaung dalam gereja Katolik. Jadi sebelum tahun 1970 ada 3 gereja di wilayah Way Abung, yaitu Tatakarya, Purbasakti dan Surakarta. Tetapi pusatnya tetap di Tatakarya.

Proyek Way Abung kemudian terhenti. Baru diteruskan sesudah tahun 1970.  “Di Tatakarya dan Purbasakti tak ada lagi penempatan transmigran dalam skala besar. Paling-paling hanya trasmigrasi lokal atau spontan, itupun di areal yang sangat terbatas,” demikian ditambahkan oleh Parijo. Pertumbuhan jemaat Katolik pun surut karena berbagai sebab.

Tetapi sebaliknya di wilayah Way Abung yang lain dibuka pemukiman secara masif. Dimulai dari Dayasakti, Dayamurni dan seterusnya. Akhir dekade 1970-an jalan tembus dari arah Terbanggi Besar mulai dirintis, sehingga tak lagi harus memutar melewati Kotabumi. Desa dan kota kecil mulai berkembang hingga kini, begitu juga jemaat Katolik.

Mengakhiri tulisan ini perkenankan saya kembali menyadur Romo Borst.

Mereka (jemaat Katolik) menjadi terang dunia hendaknya. Kehidupan Kristiani hendaknya membawa kebahagiaan kepada orang yang belum mengenal dan mencintai Yesus. Gereja katolik berkembang, tetapi tiada akan selesai dalam perutusannya di dunia. “ – halaman 87.

Requiescat in pace Romo Borst. 

Bocah-bocah Way Abung

Yohanes Parijo

Jelajah Murah Asean

Keliling lima negara Asean dengan biaya murah, saat ini bukan mimpi lagi. Yang dibutuhkan hanyalah otot betis yang kuat. Bisa dilatih toh ? Namanya juga backpacking, maka kita akan banyak berjalan kaki. Ini bukan petualangan keluar masuk hutan yang memungkinkan kita ketemu binatang buas. Jadi jangan takut!  Begitu melangkah keluar rumah, orang baik bisa dijumpai di mana saja, meski kita juga tetap harus hati-hati.

 Berikut ini saya mencoba berbagi pengalaman tentang perjalanan ke lima negara : Singapura, Vietnam, Cambodia, Thailand dan Malaysia. Kenapa lima negara ini ? Karena sesama negara Asean jadi kita tidak memutuhkan visa. Itu alasan pertama. Alasan kedua, karena untuk melintasi  lima negara ini, transportasinya sangat mudah.  Teman sesama backpacker dari berbagai bangsa akan menempuh rute yang sama, sehingga cenderung aman.

Berapa total biaya yang kita butuhkan untuk mengunjungi lima negara tersebut ?  Setiap orang bisa berbeda. Biaya paling tinggi itu pesawat. Tapi kalau bisa dapat  satu juta pp pada saat promo akan sangat membantu. Juga tergantung ketabahan  mental seseorang. Misalnya, apakah cukup tabah untuk naik bus yang termurah dalam jelajah darat. Atau apakah cukup ulet untuk selalu naik transportasi umum dan bukan taksi untuk mengeksplorasi sebuah kota. Usahan juga naik bus / kereta antarkota atau antarnegara pada waktu malam sehingga menghemat sewa hostel. Ada teman yang bisa hanya 5 juta keliling negara-negara tersebut. Tambahkan 1/3-nya untuk biaya tak terduga. Hemat dalam tiap pengeluaran meski tetap harus jaga kesehatan. Tidur di dorm, beli tiket bus / kereta  yang termurah, beli makanan yang terjangkau itu kuncinya. Nggak usah beli oleh-oleh yang aneh-aneh cukup postcard atau gantungan kunci.

Tulisan ini hanyalah uraian bauat para pemula. Yang sudah biasa menjelajah ke banyak negara tentu tak perlu lagi uraian macam begini. Saya berharap tulisan ini bisa memberi semangat. Banyak hal yang bisa diperoleh dengan berlibur ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi, misalnya pikiran yang segar, badan yang sehat, mental yang lebih liat.

Ayo terus berjalan – untuk menjaga nyala di dada !

Seekor kupu terbang sendiri di Angkor Wat

  1. Persiapan
  • Siapkan paspor. Kalau belum punya buat dulu di Kantor Imigrasi. Cepat dan tidak ribet kok, paling dua hari sudah kelar. Biaya sekitar Rp 250.000. Kalau  paspor elektronik mungkin Rp 500-600 ribu ya ? Saya belum punya.
  • Berburu tiket murah. Tiket murah tujuan Asia tenggara biasa ditawarkan oleh www.airasia.comwww.jetstar.com ,   atau www.tigerair.com. Rajin-rajinlah membuka web mereka agar mendapat tiket promo. Salah satu caranya, daftarkan email anda pada maskapai tersebut, jadi jika ada tiket promo anda langsung akan mendapat pemberitahuan. Tiket promo bisa dicari setengah tahun bahkan setahun sebelumnya. Lebih mudah membeli tiket online selewat tengah malam.
  • Buatlah itinerary: kota-kota yang akan dikunjungi, tempat menginap dan sarana transportasi yang akan digunakan. Selain tiket, komponen mahal dalam setiap perjalanan adalah penginapan. Kita bisa mendapat penginapan murah di  di dorm hostel, artinya tidur beramai-ramai dan kita hanya membayar per bed. Hostel dapat dilihat di sini: www.hostelworld.com ,   www.hostelbookers.com  ,  atau www.agoda.com. Usahakan memilih tempat di mana para backpacker berkumpul. Misal di Singapura adalah kampung Bugis, HCMC di Pham Ngu Lao dan Bui Vien Street. Phnom Pen disekitar River Side, Siem Reap di sekitar Old Market atau Pub Street, Bangkok disekitar Khao San, Banglampoo, Tani Road, Soi Rambutri dan Soi Kraisi. Lihat review dari pengguna terdahulu.  Pertimbangan dari www.tripadvisor bisa pula membantu.
  • Pada umumnya kita bisa mendapatkan penginapan secara go show. Tetapi kalau merasa kurang nyaman karena harus membawa-bawa backpack sambil putar-putar, baik pula jika sudah booking sebelumnya. Booking hostel tidak perlu berbulan-bulan sebelumnya seperti membeli tiket. Seminggu atau dua minggu sebelumnya cukuplah.

2. Sarana komunikasi

Sarana komunikasi bisa menjadi komponen yang amat mahal kalau kita tidak tahu cara mensiasatinya. Berikut sedikit tips untuk membuat kita tetap terhubung dengan keluarga dan sahabat dengan cara murah. Pengalaman saya selama 14 hari perjalanan  hanya menghabiskan Rp 35.000 saja. Ini bukan mengiklankan Telkomsel, hanya kebetulan saya menggunakan kartu ini.

  • Persiapkan kartu sim ; daftarkan roaming internasional *266# untuk Telkomsel. Operator lain saya kurang tahu. Pengalaman saya berkeliling, di bandara, hostel, restoran dan cafe yang saya singgahi WIFI cukup kencang. Sesampai LN matikan data seluler dan aktifkan WIFI, kemudian  ganti setting / pengaturan ponsel.  Ini adalah operator yang bekerja sama dengan Telkomsel.
  • Jika anda pakai android, Klik sebagai berikut :
  • Pengaturan
  • Selengkapnya
  • Jaringan Seluler
  • Operator Jaringan
  • Pilih Manual – tunggu –  menelusuri
  • Kemudian pilih operator sbb : Ini adalah operator yang bekerja sama dengan Telkomsel.
    • Singapura : Singtel
    • Vietnam : Vitel Grup / Vnm
    • Cambodia : Mvone, Areth
    • Thailand : Taco Thact Awn
    • Malaysia : Maxis Mobile, Celcom Asiata
  •  Idealnya pilih setting manual, karena ini berhubungan tarif, jika kita terpaksa menggunakan call atau sms. Tapi kenyataannya di perbatasan antarnegara, sering operator yang bekerjasama dengan   telkomsel tidak ada sinyal. Ya, sudah pakai saja setingan otomatis. Kenyataannya baik-baik saja kok, asal sementara waktu puasa nelpon, menerima telpon dan sms. Selalu matikan data seluluer.
  • Beberapa aplikasi dari android baik pula diunduh. Triposo untuk memberi petunjuk wisata kota-kota tertentu. Maps.me merupakan petunjuk peta offline.
  • Baik pula jika anda bawa print-out google map untuk tujuan wisata dan hostel anda selain untuk pegangan pribadi juga untuk ditunjukkan kepada sopir taksi, tuk-tuk atau orang lain jika menanyakan alamat.

3. Peralatan yang dibawa

Apa saja yang perlu dibawa ? Sesuai kebutuhan kitalah. Anda mau bawa netbook atau tablet baik juga. Buku untuk membunuh rasa jenuh saat menunggu bus, itu juga baik. Ini beberapa bawaan saya :

  • Kabel ekstension listrik dan colokannya. Bawa dua macam yang ujungnya pipih dan bulat.
  • Botol minum dan tempat makan pribadi. Di tempat-tempat tertentu kita bisa membeli nasi dan lauknya secara terpisah. Karena porsinya besar, sebagian bisa di bawa ke hostel untuk menghemat.
  • Lauk keringan juga baik untuk dibawa.
  • Satu daily backpack, berupa ransel kecil yang bisa kita bawa sehari-hari. Dalam perjalanan letakkan di depan badan.
  • Dompet tipis yang dikalungkan atau bisa juga yang berbentuk dompet pinggang yang melekat di badan. Tutupi dengan kemeja / kaos. Gunanya untuk menyimpan paspor, tiket dan uang. Ingat di luar negeri paspor adalah ibarat nyawa anda. Jangan sampai hilang.
  • Seperangkat gembok kecil untuk mengunci retsliting backpack anda.
  • Buku notes untuk mencatat peristiwa yang dialami, saat tak ada WIFI.
  • Kamera dan monopod / tripod kecil.
  • Sandal jepit

4. Packing :

Kita tidak perlu membeli bagasi pesawat tetapi ingat  tentengan tas kabin 7 kg saja untuk AirAsia dan Tiger Air  atau 10 kg kalau Jetstar. Ini contoh isi backpack 7 kg  yang saya pakai untuk 2 minggu, intinya seringan mungkin :

  • 1 celana panjang dengan banyak saku (celana gunung ? nggak tahu apa namanya)
  • 1 jeans warna gelap (biar nggak kelihatan kotor)
  • 1 celana kolor panjang batik
  • 1 celana pendek
  • 4 tshirt dan 1 kemeja
  • 1 kain pantai, boleh juga sarung; bisa jadi alat serba guna misal : syal, selimut, partisi di dorm, dll
  • Pakaian dalam: celana dalam beli disposal saja – sekali pakai buang, bisa dibeli di supermarket.
  • Toiletris : sampo, hand n body lotion, sabun, odol, dll bawa dalam ukuran kecil. Semua yang berbentuk cair maksimal 100 ml saja. Handuk sebaiknya bawa, tidak nyaman rasanya memakai handuk dari hostel. Tidak semua hostel menyediakan handuk.

5. Daftar Perjalanan

Setelah semua siap kita tinggal berangkat, Ini contoh itinerary Jakarta – Singapura – Vietnam – Cambodia – Malaysia selama  setengah bulan dengan biaya murah. Tujuan wisata bisa dibolak-baik tergatung tiket murahnya dapat yang mana. Misalnya anda mulai dari Singapura- Malaysia- thailand – Cambodia dan berakhir di Vietnam, begitu juga tidak masalah.

Day 1 : Bandara Soetta – Changi – Singapura

  • Tiger Air dan Jetstar akan transit di Singapura. Jika anda memilih dua maskapai ini, bisa pilih tiket dengan jeda transit yang panjang (ada yang lebih dari 24 jam lho !), sehingga jeda waktu ini bisa kita manfaatkan untuk mengelilingi beberapa tempat di Singapura, misalnya anda mendarat siang hari, sementara pesawat lanjutan ke HCMC baru subuh keesokan harinya.
  • Isi formulir imigrasi dengan cermat, jangan ada yang dikosongi supaya tidak dicereweti pegawai imigrasi. Ambil peta Singapura sebelum keluar bandara. Backpack bisa dititipkan di bandara. Selanjutnya anda bisa  putar-putar Marina Bay–patung Singa Merlion, China Town, Sentosa island/Universal Studio . Jalur  MRT bisa dipelajari di http://www.visitsingapore.org/ .

~~ tur gratis Singapore ~~

  • Kalau anda hanya punya waktu transit minimal selama 5 / 6  jam saja, anda bisa ikut tur gratis diadakan oleh pihak bandara dan Singapore Airlines yaitu Tur Warisan Budaya (4 kali sehari, pk 9.00, 11.30, 14.30, 16.00). Tur akan bekeliling ke landmark ikonik Singapura, seperti Merlion Park, Colonial District, Chinatown dan Little India.  Paket yang satunya yaitu City Light tur (hanya ada sekali jam 6 sore), anda akan dibawa  melawat Singapore Flyer, Marina Bay Sands, dan Gardens by the Bay. Pendaftaran  di stan Tur Singapura yang terletak di Terminal 2 dan 3, Lantai 2, Ruang Transit Keberangkatan. Sebelumnya cek di buku panduan Banadara Changi apakah paket tur gratis ini masih ada. Penghujung tahun lalu saya masih kebagian.  Kalau tidak ada anda bisa keliling sendiri dengan pedoman peta dan jalur MRT singapura seperti perunjuk di atas..
  • Spot tidur di Bandara Changi

  • Malam hari segera kembali ke bandara untuk menunggu penerbangan ke HCMC. Banyak yang bisa dilakukan di sini tanpa harus keluar dari bandara ; lihat toko-toko, makan, ngopi, tukar uang, main internet semalaman, berenang, nonton film, pijat kaki dsb. Kalau jenuh ya tidur saja, ada beberapa spot untuk tidur dengan nyaman. Panduan tentang Bandara Changi klik di sini http://www.changiairport.com/at-changi/downloadable-airport-guides.
  • Pagi –pagi boarding lagi menuju Saigon (Ho Chi Minh City).

Sejoli Vietnam berfoto usai pemberkatan nikah di Katedral Saigon

Day 2 : Ho Chi Min City (Saigon)

  • Tiba di bandara pagi-pagi. Keluar dari terminal,  ATM ada di sebelah kanan.
  • Kalau mau naik taksi pilih Vinasun warna putih. Pilih yang pakai argo, kalau dia tidak mau pilih yang lain.
  • Kalau mau naik bus: parkirnya di sebelah kiri terminal kedatangan; ambil no 152, akan berhenti di pasar Ben Tanh. Ticket 4000 VND bayar di atas bus. Dari Pasar Ben Than tinggal menyeberangi Taman Cong Vien 22/9 dan anda sudah sampai di Pam Ngu Lao street.
  • Saran saya sebaiknya naik taksi saja, kecuali anda sudah kedua kalinya datang di Saigon. Taksi tidak mahal. Kalau naik bus turun di Ben Tahn market, anda harus cari-cari arah di mana letaknya Pham Ngu Lao dsb, nanti malah repot sendiri. Tanya –tanya orang mereka tidak bisa bahasa Inggris. Pengendara cyclos (seperti becak dengan satu penumpang)atau ojek motor akan menjebak anda dengan tarif yang tidak masuk akal.
  • Ke hostel di Pham Ngu Lao atau Bui Vien Street.
  • Saya sih menginap di Hongkong Keiteki Hotel, Bui Vien street no 22; recommended-lah. Ini merupakan capsule hotel sehingga kita masih punya privacy, harga sekitar 7 dolar per malam. WIFI bagus. Ada yang dorm yang lebih murah lagi yang sekitar 4 – 5 dollar saja. Sekali lagi cek di http://www.hostelworld. com
  • Jalan-jalan di seputar Distrik satu. Ada apa saja di sini ? Klik di sini 
  •  Malam hari nonton Water Puppet show. Ada 3 kali pertunjukan yaitu jam 5, 6.30 dan 8 sore / malam. Harga tiket sekitar 4 dolar (tanpa buffet atau dinner ya …). Beli tiket secara langsung tidak usah dari agen / hostel supaya lebih hemat. Tempatnya di Golden Dragon water puppet show, Nguyen Thi Mihn Kai Street no 55. Tidak jauh kok dari Ben Than Market.

Day 3 : Ikut tur Chao Day temple dan Cuchi Tunnel seharian.

  • Yang bagus beli paket tur di Sihnn Tourist, di jalan De Tham. Beli sehari / semalam sebelumnya. Harga sekitar 10 – 11 dollar.

Day 4 : Tur Sungai Mekhong seharian

  • Ikut Mekhong River tur seharian bersama Sihn Tourist. Tiket dibeli sehari sebelumnya. Harga sekitar 10 – 11 dollar.
  • Malam hari, jalan ke Pasar Ben Than cari oleh-oleh : gantungan kunci, post cards, kaos dengan macam-macam desain (yang unik misal dengan gambar palu arit atau bintang emas. Berani pakai nggak ?) bisa dibeli dengan 50.000 dong saja.

Hail Uncle Ho! Sebuah mural di samping kantor pos pusat Saigon

Day  5 :  Phnom Phen

  • Pagi sekitar jam 7 naik bus ke Phnom Phen. Beli tiket bus sesaat setelah kita tiba di Saigon. Bus yang bagus Mekhong Express atau Sapaco. Tiket bisa beli di agen Pham Ngu Lao, tapi lebih mahal dari harga resmi tentu saja. Cek website kedua agen bus tersebut. Harga resmi sekitar $13. Ada yang jalan malam, sleeper bus Virak Bhuntam namanya, juga sedikit lebih murah. Tetapi banyak pihak tidak merekomendasikan bus ini; berangkatnya terlalu malam (jam 1 malam), waktu tempuh yang lebih lama, karena kita akan tertahan di perbatasan Cambodia. Konon pelayanannya juga tidak bagus. Staf hostel yang saya tumpangi bahkan dengan tegas melarang saya naik bus ini. “Not good for you madam…”
  • Sampai di Phnom Phen sekitar jam 2 siang. Cari penginapan disekitar River Side. Yang wajib dikunjungi Killing field Choeng Ex, penjara Toul Sleng dan the Royal Palace . Mampir ke Warung Bali dekat Royal Palace, pemiliknya orang Indonesia. Sewa tuk-tuk setengah hari paling mahal 8 dollar.

Day 6, Siem Reap

  • Pagi-pagi naik bus ke Siem Reap. Tiket dibeli sesaat setelah kita tiba ya.. . Selewat tengah hari bus tiba di Siem Reap.  Cari penginapan sekitar Old market atau Pub street. Kalau anda sudah booking hostel secara online, biasanya hostel akan menjemput kita dengan tuk-tuk di perhentian bus asal kita memberi tahu sebelumnya apa nama bus kita.
  • Malam hari jalan-jalan ke old market / pub street. Ada restoran yang memberi sajian tari apsara secara gratis bagi pengunjungnya. Saya lupa namanya.
  • Subuh sampai matahari terbenam sewa tuk-tuk $ 15 – 18 untuk menjelajah Angkor Wat (minta saja mini tur : artinya anda hanya berkeliling ke candi-candi penting sampai jam 1, lalu makan siang di kompleks itu). Sisa waktunya bisa dipakai untuk mengunjungi objek wisata yang lain misalnya kampung apung di danau Tonle Sap atau Cambodian Cultural Village. Tiket masuk ke Angkor Wat 20 dollar. Kalau cuma keliling seharian di Angkor Wat sih $ 15. Minta hostel untuk mengorganisir sharecost dengan traveler lain. Satu tu-tuk bisa untuk 4 orang.
  • Jangan lupa sesudah makan siang minta supir tuk-tuk mengantar ke agen bus / minivan untuk beli tiket ke Bangkok. Minivan ke Bangkok sekitar $18 – $22, bus lebih murah. Bedanya; dengan minivan anda akan diantar langsung ke Khaosan, sedangkan bus hanya berhenti di Mochit / Northern terminal.
  • Sedikit tips : siapkan juga uang lokal Cambodia untuk membeli suvenir dan makanan dalam perjalanan di bus. Kalau kita pakai dollar jatuhnya akan mahal. Cambodia memakai dua mata uang tersebut.

Day 7. Siem Reap – Bangkok

  • Pagi-pagi naik bus atau minivan ke Bangkok. Bus / minivan akan berhenti di border check point  Poipet (Cambodia) dan Aranyaphratet (Thailand). Kita makan siang dan berganti kendaraan di situ.
  • Tiba jam 6 sore dan check in hostel di sekitar Khao San. Sebaiknya cari hostel di sekitar Soi Rambutri, Soi Tani dan Soi Kraisi yang terletak di sebelah utara Khaosan. Khaosan sangat ramai kalau malam, sehingga tidak nayaman untuk istirahat. Dorm ada yang sekitar Rp150.00 – Rp 180.00  sudah dengan sarapan. Segala sesuatu tentang Bangkok bisa dipelajari di sini : http://www.sawadee.com/

Day, 8 Bangkok

  • Pagi-pagi naik Perahu Klong Saen Saeb ke kompleks perbelanjaan di sekitar Mahboonkrong (MBK) atau National Stadium. Anda naik perahu si dermaga Panfa Leelard pier  dekat Monumen Demokrasi,  dan berhenti di Sapan Huachang pier. Informasi baca di sini http://khlongsaensaep.com/.  Alternatif lain Anda juga bisa naik bus nomor 47.
  • Bila berniat belanja di MBK jangan lupa minta MBK tourist card di counter informasi (lantai dasar). Dengan kartu ini kita bisa mendapatkan diskon untuk produk-produk tertentu
  • Siam Paragon, Siam Discovery, Siam Centre dan Jim Thomson Museum saling berdekatan. Bisa dicapai dengan jalan kaki dari MBK. Madam Tussaud ada di Siam Discovery, foto dengan ornamen yang di luar aja karena tiket masuknya mahal. Siam paragon adalah depertement store untuk produk mewah, ada Ocean World di sini. Siam Centre untuk fashion yang lebih bercorak remaja. Ada juga Jim Thomson museum sutera, bayar 100 bath.
  • Siang hari naik BTS Sky Train Silom Line, turun di Saphan Taksin. Jalan dikit ke Sathorn Pier. Dari Sini naik boat ke Ratchawongse Pier. Jalan kaki dan putar – putar di Chinatown. Siapkan otot betis yang kuat untuk jalan kaki. peta juga wajib dibawa sebab gangnya hampir sama. Kalau tersesat usahakan mencari Yaowarat Road, jalan utama di Chinatown yang dipenuhi gerai makanan dan toko emas. Tak jauh dari Yaowarat ada Phahurat street yang disebut juga little India. Berbagai hal yang bercorak India dapat kita temui di sini.
  • Dari Chinatown hari sudah malam, kita bisa ke Asiatique Riverfront. Caranya naik boat ke Sathorn Pier lagi. Mau jalan kaki juga boleh, kalau kuat hehehe… :). Dari dermaga ini (exit 2) naik  shuttle boat gratis selama 15 menit ke Asiatique Riverfront. Tempat ini menggabungkan konsep pusat perbelanjaan dengan pasar malam. Bukanya jam 17 – 24. Apa yang bisa didapat di sini ? Asiatique adalah bekas dermaga eksport kayu jati pada tahun 1900-an dan kini dihidupkan lagi sebagai objek wisata bernuansa kejayaan perdagangan abad itu. Ada 40 restoran dengan berbagai tema, 1500 butik, Ada 1000 toko yang menjual baju, suvenir dsb. Anda juga bisa nonton pertunjukan ladyboy yang terkenal di Bangkok di Calypso Cabaret Show. Tiket seharga 1000 bath (oh my goat!).  Buka sekitar jam 8 malam. Ingat shuttle boat menuju Sathorn pier paling akhir jam 23.30. Jam begini perahu Chao Praya sudah tak beroperasi. Naik taksi dari Sathorn Pier menuju Khaosan juga tidak akan terlalu mahal.

Day 9,  Bangkok

  •  Pagi check out dari hostel,  tapi ransel dan barang berharga dititipkan saja. Kita masih punya waktu seharian menyusuri objek wisata di tepi Sungai Chao Praya.
  • Jam 8 naik boat dari Phra Athiet Pier turun di Ta Chang Pier. Jalan ke Grand Palace. Grand Palace dan Emerald Buddha berada dalam satu gerbang. Tiketnya 500 bath. Kalau tertarik,  luangkan waktu beberapa jam sebab sangat banyak hal menarik yang dilihat. Kalau cuma mau foto-foto dari luar saja ya gratis. Makan siang di sekitar Taman Sanam Luang yang terletak di depan  Grand Palace.
  • Keluar dari Grand Palace jalan kaki ke arah belakang (ke kiri) untuk mengunjungi Wat Pho (reclining Budha). Tiket masuk seharga 100 bath. Ada patung Buddha raksasa yang berbaring. Di sini juga bisa belajar pijat lho !
  • Setelah itu jalan sedikit ke Tha Tien Pier. Beli tiket penyeberangan seharga 3 bath. ke Wat Arun (temple of down). Tiket seharga 40 bath. Pemandangan kota Bangkok sangat indah dilihat dari puncaknya, apalagi saat matahari terbenam.
  • Menyeberang lagi ke Tha Tien Pier dan naik perahu ke Pra Athiet pier, selanjutnya ke hostel untuk ambil ransel.
  • Sore berangkat ke Southern terminal. Kita menuju Hatyai. Ingat sore hari bangkok macet-cet, perhitungkan waktu. Naik buskota nomor 55 dari Banglampoo. Pilihan keberangkatan ke Hatyai jam 17, 18, 19, 20. Lama perjalanan sekitar 12- 14 jam. Rentang harga  600 – 1100 bath, tergantung jenis bus. Sekali lagi cek http://www.sawadee.com/.  Tiket bus bisa juga dibeli pada agen perjalanan di Khaosan tetapi harganya akan jauh lebih mahal.

    Get lost someday ! Kaos lucu di Khaosan

    Day 10 Hatyai – Songkla

  • Pagi tiba terminal bus Hatyai. Naik tuk-tuk ke central Hatyai (dekat stasion kereta api), ada banyak penginapan di sini.
  • Saya sih menginap di Laemthong Hotel, sekitar Rp 170.000 per malam. Single room luas non-AC, dan yang penting early check in tidak dimintai biaya tambahan. Tapi yang lebih murah ada beberapa dorm di sekitar situ.
  • Mandi, sarapan dan sewa tuk-tuk untuk keliling Sleeping Budha (Hat Yai Nai), Nora Plaza,Vihara Kwan Im Pho Sat, Pantai Samila Beach (Songkhla), dan floating market. Keliling setengah hari, sewa tuk-tuk sekitar 400 bath.
  • Hatyai terkenal dengan night life and of course red light-nya. So many Arabs come there.  Ada pertunjukan kabaret yang mungkin menarik, tapi tiketnya 1000 bath (Oh My Ghost !!!).

Day 11 : Penang

  • Pagi sekitar jam 9.30 naik minivan Hatyai – Penang, lama perjalanan sekitar 4 jam. Titip tas di terminal lalu keliling Penang. Harga tiket minivan sekitar 400 / 450 bath.
  • Tengah malam naik bus ke KL. Bus Penang – Hatyai sekitar RM 30.

Day 12 : KL

  • Subuh bus tiba di terminal Pudu Raya. Naik taksi sekitar RM 11 ke hostel di kawasan Alor, tidak jauh dari Jalan Bukit Bintang. Atau cari hostel di sekitar belakang Berjaya Times Square. Jalan kaki tidak jauh, tapi repot juga kalau harus bawa backpack. Kalau mau gratisan ya naik GoKL. Pelajari trayeknya dari tautan yang saya sertakan di bawah.
  • Pagi titip tas di hostel, numpang cuci muka, sikat gigi dan duduk sebentar di lobby. Katakan kita akan chek in siang. Early check in kadang harus membayar lagi. Sarapan pagi di sekitar Bukit Bintang.
  • Ikut keliling bus wisata gratis (Go KL). Ada empat jalur bus yaitu yang berwarna ungu, biru, merah dan hijau. Bus akan berkeliling tempat-tempat bisnis dan wisata terkenal di Kuala Lumpur. Untuk kawasan Bukit Bintang, perhentian bus (ungu) ada di dekat Sungai Wang Plaza. Bus Go KL akan keliling kota sampai jam 11 malam pada sabtu dan minggu. Selebihnya jalur goKl dapat dicek di sini : http://www.gokl.com.my/. Download saja jalurnya supaya kita tahu di mana menunggu busnya. Ini lebih jelas ;  klik di sini 

Day 13

  • Naik Monorail Rapid KL ke KL Central selanjutnya naik skybus ke KLIA 2 dan dengan AirAsia kembali ke Jakarta.
  • 🙂 🙂 Dengan hati lega bernyanyi … “ke Jakarta aku ‘kan kembali” ….  🙂 🙂

  FAQ

T          : Bagi solo backpacker woman apakah perjalanan tersebut di atas aman ?

J           : Ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan pada saya. Jawabnya, sangat aman, selama kita mengikuti jalur bus / kereta dan mengunjungi tempat-tempat yang umum didatangi para backpacker. HCMC-Phnom Phen- Siem Reap – Bangkok itu merupakan jalur backpacker yang ramai banget. Kita akan berkendara ramai-ramai dengan wisatawan bule, Korea, Jepang dan Filipina.  Mulai dari Bangkok ke arah selatan (hatyai) tak banyak wisatawan manca, saya naik bus bersama penduduk lokal. Dari Hatyai ke arah KL agak sama situasinya. Bahkan saya berombongan dengan pekerja migran dari Lao (Thailand Utara). Tak apa-apa. Mereka baik dan dengan komunikasi yang sangat terbatas berusaha take care saat tahu saya baru pertama kali melintasi border  Sadao – Bukit Kayu Hitam.

T          : Apa nggak garing jalan sendiri ?

J           : Sama sekali tidak, kecuali anda seorang introvert akut. Jalan seorang diri membuat adrenalin mengalir kencang. Justru anda akan menemukan pengalaman dan pertemanan baru. Menginaplah di hostel bukan hotel sebab kita bisa berinteraksi dengan banyak orang.

T          : Apakah saya sebaiknya membeli asuransi perjalanan ? Kan sudah ada asuransi dalam pembelian tiket pesawat.

J           : Sebaiknya beli asuransi perjalanan sehingga jika terjadi hal-hal buruk ada yang menanggung.  Usahakan membeli yang bisa bayar kontan di tempat bukan yang sistem reimburse (penggantian kemudian). Pengalaman beberapa teman, Assist card dan Chartis bisa.   Maksudnya jika seandainya (jangan sampai sih) kita sakit di perjalanan, pihak asuransi langsung membayar kepada rumah sakit tempat kita dirawat. Kita tinggal telpon emergency call-nya. Asuransi pada tiket pesawat  hanya menanggung segala hal yang berhubungan dengan pesawat anda. Sebenarnya kalaupun tidak beli asuransi pada tiket pesawat tidak masalah, sebab (ini ngomong pahitnya lho ya!!) kalaupun terjadi kecelakaan pesawat, semua ahli waris penumpang akan menerima haknya. Nah, yang tak perlu dibeli adalah asuransi yang dijual lepas saat kita berada di bandara. Polis di tangan anda, kalau ada apa-apa keluarga tak punya bukti ada sudah membeli. Letakkan copy tiket pesawat, polis asuransi dan itinerary di tempat yang mudah dilihat / dijangkau oleh keluarga / teman kantor sehingga mereka bisa ikut memantau keberadaan kita.

T          : Apakah aman menginap di mix-dorm ?

J           : Aman. Para backpacker itu punya etika untuk saling menghargai. Kalau mau ngobrol biasanya mereka akan keluar dari ruang tidur. Jam 9 malam juga lampu sudah dimatikan. Masukkan barang-barang ke dalam locker dan kunci. Saya selalu minta lower bed di ujung. Bagian bawah ranjang tingkat yang diujung.  Barang yang berharga titipkan di safety box di resepsionis. Biasanya kita akan dimnitai uang tanggungan yang akan dikembalikan jika kita check out.

T          : Saya bisa nggak jalan-jalan ke luar negeri gratis ?

J           : Sangat bisa. Caranya cari dong beasiswa sekolah atau minimal kursus di luar negeri yang menanggung seluruh cost. Saya juga pernah kok dapet. Solo travelling saya yang pertama malah ke Perancis loh. Gratis. Cara lain jika ingin menginap gratis di rumah penduduk local, bisa bergabung dengan Couchsurfing (CS) di www.couchsurfing.org dan sign up di situ. Keanggotaannya gratis. Sebagai anggota anda juga harus siap menerima traveller dari negara lain di rumah anda.

T          : Apa saya harus fasih bahasa Inggris ? Apakah wajib belajar bahasa lokal di tempat-tempat yang kita kunjungi ?

J           : Nggaklah. Di beberapa tempat malah bahasa Inggris kita tak berguna sebab orang tidak paham. Bahasa lokal, boleh dipelajari, tapi tidak terlalu pentinglah. Bayangkan kalau kita berjalan ke 10 negara, kita harus mempelajari 10 bahasa. Mabok.

T          : Apakah aman bagi perempuan backpacker masuk restoran, cafe, bar seorang diri ?

J           : Saya selalu masuk restoran / warung / cafe seorang diri. Jika seseorang meminta duduk semeja dengan saya, dengan senang hati saya menyetujui. Ngobrol saja hal-hal yang ringan atau tukar pengalaman tentang perjalanan. Kalau obrolan mulai tidak nyaman, tinggalkan.  Bar ? Lihat dululah situasinya. Kalau bar itu berada dalam hotel yang saya inapi, saya cenderung berani masuk, hanya lihat-lihat sebentar. Saya tidak minum alkohol dengan orang yang tidak saya kenal dengan baik.

T          : Apa yang harus dijawab ketika seseorang baru dikenal  dan mengajak sharecost taksi, kamar hostel dll ?

J           : Pakai logika, intuisi dan kata hati. Artinya jangan naif tapi jangan pula berburuk sangka terus. Setelah ngobrol panjang lebar, ditambah pengalaman seharian bersama dalam perjalanan, kita bisa tahu latar belakang teman tersebut. Kalau kita yakin bahwa mereka orang baik-baik kenapa tidak ? Share dorm, taksi bahkan menu makanan di restoran akan sangat menghemat.   Tentu sangat mengesankan punya teman-teman baru dengan latar belakang yang sangat berbeda. Kalau intuisi anda merasa tidak nyaman, katakan saja bahwa anda lebih suka sendirian. Kalau dikatakan dengan sopan pasti mereka maklum kok. Jangan sungkan mengatakan NO. @@vg@@

Tiket Angkor Wat

Grand Palace – Bangkok

Menyolder- Pasar Seni, Kuala Lumpur

Petronas Tower

One Day in Bangkok

Once Upon A Time : Bangkok !

Setiap jengkal ruas jalan di Bangkok serasa destinasi wisata. Tak akan ada habisnya untuk dijelajahi. Sayang saya tidak bisa mengekskplore Bangkok lebih banyak. Mefet ! Tekanan batin karena itin !  Perjalanan darat Vietnam – Cambodia – Thailand – Malaysia memakan waktu yang panjang dan stamina yang lumayan. Libur dua minggu tak mungkin diulur lagi. Kunjungaan ke Thailand saya rencanakan selama 5 hari, yang terbagi dalam 3 tempat : Hangkok, Kanchanaburi dan Songkla. Lima hari itu termasuk perjalanannya lho. Apa boleh buat. Saya berpikir lain kali semoga ada kesempatan untuk ke Bangkok lagi. Toh kota ini bisa menjadi tempat transit jika ingin menjelajah kota atau negara lain. SEMOGA !

Patung Gajah di Persimpangan Emerald Budha dan Taman Sanamluang

Sleepless in Khaosan

Rembang petang saya tiba di Bangkok, setalah menempuh jalur darat nyaris seharian dari Siem Reap. Langsung mini van yang tiketnya seharga $ 25 (kemahalan!!) itu berhenti di Chakraphong Road, tak jauh dari Khaosan.  Saya langsung menuju Rikka Inn di ujung timur Khaosan. Rekomendasi dari beberapa blogger via google, tempat ini cukup tenang meski masih berada di Khaosan.

Cukup mahal untuk ukuran backpacker. Single room yang saya sewa semalam ini harganya sekitar Rp 370.000. Saya booking melalui Agoda sejak masih di Siem Reap, setelah saya memutuskan untuk tidak memperpanjang tinggal di kota itu. Saya berpikir untuk mengambil istirahat semalam di hotel setelah berhari-hari backpacking. Hotel lho bukan hostel !  Tetapi keputusan saya ternyata salah, meski saya juga tidak sama sekali menyesalinya.

Rikka Inn terletak di ujung timur Khaosan.  Konon katanya lebih tenang dari pada bagian Barat dan bagian tengah di mana berbagai hostel dan cafe bertumpuk. Tetapi bukan berarti saya bisa beristirahat dengan tenang di situ. Resepsionis memberikan kunci kamar di lantai 4, setelah mengecek paspor dan kartu kredit. Kamar saya terletak di ujung depan berarti tepat di atas jalan Khaosan. Kamarnya kecil dengan bed cover warna putih. Satu sisi dinding yang merapat pada tempat tidur bergambarkan nuansa keramaian Khaosan. Oh ya, hotel ini menyediakan fasilitas kolam renang di atapnya.

Menikmati pijat di Khaosan

Malam terus merambat. Dan inilah Khaosan yang sesungguhnya. Meski hujan rintik-rintik turun sepanjang malam, keriuhan di sepotong jalan itu terus berlanjut sampai menjelang pagi. Saya tak bisa tidur sama sekali. Jedag-jedug-jeder suara musik terdengar jelas dari kamar saya. Dari pada tersiksa begini, saya putuskan untuk turun ke jalan. Walaupun sudah makan malam, tapi kalau mata tak bisa terpejam, perut jadi keroncongan lagi. Jam satu malam saya keluar, mencari burger di McDonald tepat di sebelah Rikka Inn.

Sambil mengunyah burger saya berjalan ke ujung Barat Khaosan. Toko, cafe, bar, spa masih banyak yang buka. Di depan sebuah restoran, sekumpulan anak muda menari kejang di aspal jalanan. Musik disetel kencang-kencang. Penonton membuat lingkaran, memberi apresiasi dengan bertepuk, bersuit-suit atau berteriak. Saya larut dalam kumpulan itu, sampai dini hari.

Jam tiga pagi saya pulang ke hotel. Keramaian belum juga sirna. Sesudah subuh baru jalanan itu beranjak sepi. Saya terlanjur tak dapat tidur. Dengan urat-urat mata memerah, jam delapan pagi saya turun ke jalan lagi. Setelah keriuhan semalam, Khaosan terasa senyap. Orang lalu lalang seperti biasa. Tuk-tuk sesekali melintas mencari penumpang.  Penjual makanan dengan mobil bak terbuka menawarkan sarapan. Dengan penegeras suara ia berteriak-teriak membangunkan para pelancong yang mungkin masih nyenyak di hostel-hostel yang mereka sewa. Seorang pelancong bule, saya lihat terkapar nyenyak di atas trotoar. Tangannya memeluk botol minuman keras, wajahnya damai. Oh, Khaosan.

Sebelum jam 12 saya check out dan pindah ke hostel Suneta di Soi Kraisi. Soi artinya jalan. Tak jauh, hanya 5 menit berjalan kaki. Tempatnya lebih tenang untuk beristirahat. Tapi lebih dari itu, ternyata saya lebih menyukai atmoster hostel. Di sini kita bisa bertemu dengan berbagai bangsa dengan karakter masing-masing. Sesekali kita ketemu orang-orang yang menjengkelkan memang, tapi kebanyakan para traveller di dormitory cukup menyenangkan.  Masing-masing tahu adablah.

Sudut Suneta

Rikka Inn bagus. Tapi bagi saya hotel ini cocok untuk kunjungan bisnis atau semacam itulah. Orang datang lalu masuk kamar dan tenggelam dalam urusannya masing-masing. Nyaris kita tak dapat bertemu dengan orang lain di sini. Waktu saya naik ke kolam renang di atap hoetel, tempat itupun senyap. Hanya ada kurang dari lima orang di sana. Orang toh tidak jauh-jauh pergi ke Bangkok untuk berenang di hotel kan ?

Staf hostel Suneta cukup ramah, Naree yang cantik dan talkactive; Ivan si wajah India yang hafal semua rute kendaraan umum di Bangkok. Ornamennya yang terbuat dari kayu juga menambah suasana homey di sini. Di lobby para traveller bisa nonton tv, membaca buku, browsing komputer, sarapan, bermain kartu atau  aktivitas sosialisasi lainnya. Sarapan berupa roti tawar dan selai disediakan sejak pukul 6.30 pagi. Kita bisa memanggang sendiri. Air panas, kopi, kreamer dan otmeal selalu disediakan. Kita bebas membuat sendiri. Ada secarik kertas di tempel di dinding : Harap para traveller mencuci gelas dan piring masing-masing sehabis digunakan.

Saya menyewa sebuah kapsul di mix dormitory. Sungguh ini pengalaman pertama, menginap di ruang campuran begini. Agak deg-degan juga sih awalnya. Masalahnya dormitory khusus perempuan itu terdiri dari ranjang-ranjang tingkat tanpa sekat. Saya kurang suka yang seperti itu. Kalau pod kapsul setidaknya kita masih punya privacy. Tapi kapsul hanya ada di mix dorm. Tak apalah saya hanya minta lower bed. Waktu saya masuk ke lorong kamar, ada beberapa lelaki muda sedang berbincang. Backpack mereka terserak di lantai lorong yang hanya selebar 1,5 meter. Kami hanya berhai-hai sekadarnya. Saya masuk ke kotak dan mereka segera pergi dari kamar.

Masing-masing pod terbuat dari kayu diplitur coklat alami. Kasur tipis di dalamnya dibalut sprei putih. Ada televisi besar untuk menonton berbagai channel film. Ac di dalam terasa berisik jadi saya matikan saja. Tutup pod saya geser sedikit, sehingga AC dari lorong bisa berhembus ke dalam. Semalaman saya tidur dengan cara begitu dan feeling safe. Bahkan malam harinya saya bertemu seorang perempuan muda Jepang juga ikutan masuk ke mix dorm demi melihat saya nyaman dan aman di sana.

Under the rain to Khaosan

Berbaring meluruskan badan sejenak, tapi tak juga mata mau terpejam. Dari pada buang-buang waktu begini lebih baik saya berkeliling kota lagi. Hari masih sekitar jam setengah empat sore. Saya pikir saya bisa pergi ke sekitaran MBK dan malam hari pulang ke hostel. Saya naik bus no 47 ke MBK dan putar-putar ke kawasan itu sampai sekitar jam 7 malam. Nah ini yang tidak saya perhitungkan. Bangkok macet-cet sesudah jam 6 sore, saat anak sekolah dan karyawan pulang ke rumah. Lama saya bengong di bawah jalan layang menunggu bus. Begitu ada bus nomor 47 saya langsung naik. Yup! Ini kesalahan terbesar dalam menjelajah Bangkok.

Kesalahan pertama. Mestinya saya naik bus nomor 47 yang hurufnya berwarna biru. Ketika bus sudah berjalan setengah perjalanan saya baru sadar bahwa warna huruf itu merah. Warna merah menandakan bahwa bus ini menempuh jalur khusus dan tidak melewati Khaosan. Minta petunjuk kondektur, diapun angkat tangan. Tak paham bahasa Inggris. Untung ada seorang karyawati cantik dan ramah yang menolong memberi solusi. Untung kedua kali ada satu lelaki bule di bus itu. Saya duga ia juga akan pulang ke Khaosan.

Bergegas saya beringsut (penumpang penuh) mendekati dia. Benar dia akan ke Khaosan. Nah kalau tadi ada dua keberuntungan, sekarang bertemu dengan dua kesialan. Sial pertama : hujan turun cukup deras dan tak henti-henti. Jalanan bukan macet lagi tapi stuck, mengunci. Hampir seluruh penumpang turun dari bus. Bule itu (kami merasa rak perlu merasa bertanya nama apalagi bertukar nomor telpon, eh !) mengajak saya turun. Kami berjalan di bawah guyuran hujan.

Sial kedua. Ia berjalan sangat cepat dengan langkah-langkahnya yang panjang. Sial selanjutnya, langkah kaki saya keci-kecil, mana saya pakai sandal jepit pula. Berkali-kali saya hampir jatuh terpeleset di trotoar. Si bule tak peduli dan sama sekali tak menoleh. Saya hampir menyerah. Tapi saya benar-benar tak tahu jalan pulang. Akhirnya saya copot sandal saja, lantas nyeker di atas aspal jalan. Saya bisa mengimbangi langkahnya. Tapi terus khawatir dan berdoa jangan sampai kaki saya menginjak beling!!!

Hampir jam sembilan malam kami sampai di Khaosan. Basa-basi, saya tanya bagaimana ia bisa menghafal arah jalan di bangkok. Dia menjawab singkat bahwa dia sering pergi ke banyak tempat di dunia dan jalan seorang diri. Dia berbelok ke Soi Rambutri, saya meneruskan langkah ke lorong berikutnya Soi Kraisi. “Bye, “ kami saling melambai dengan acuh tak acuh, tanpa ada usaha untuk berrelasi lebih jauh.

Hujan semakin deras saja. Saya hanya tak mungkin keluar-keluar lagi. Besok pagi-apagi buta saya mesti berangkat ke Kanchanaburi. Baru hari terakhir saya bisa menikmati wisata kota Bangkok. Itupun paswti tak akan banyak yang bisa saya lihat, karena saya pasti akan terburu-buru berkemas menuju Songkla. Oalah…! Tiba-tiba saya merasa menjadi seperempat gila. Selalu terengah-engah dengan perjalanan demi perjalanan, istirahat sebentar, berkemas dan berjalan lagi. Suatu pengalaman berharga.

Baru hari terakhir di Bangkok saya bisa menyusuri objek wisata di sepanjang Sungai Chao Praya yang terkenal itu. Kalau anda hanya punya sedikit waktu di Bangkok mungkin ini tempat-tempat yang wajib dikunjungi. Berdasar pengalaman saya (baca : kesalahan hehe…) saya bisa memberi sedikit tips.

Dermaga di tepi Chao Praya

Ini tentang bagaimana menuju Khaosan dulu ya..

  • Kalau anda mendarat di Dong Muang transportasi yang paling praktis untuk menuju Khaosan adalah taksi. Ongkos taksi paling mahal 350 bath. Ada surcharge sebesar 50 bath. Paling lama ¾ jam kalau kondisi tidak macet. Naik bus juga bisa. Pilih nomor 59, nanti turun di Taman Sanam Luang. Dari Sanam Luang bisa naik tuk-tuk, ojek atau taksi. Sanam Luang tidak jauh dari Khaosan, tapi untuk jalan kaki sambil bawa-bawa backpack juga ribet. Ojek dan tuk-tuk tidak ada tarif standar, jadi pintar-pintarlah menawar. Naik bus tidak disarankan kalau anda baru pertama ke Bangkok.
  • Kalau anda dari Southern Terminal, bus yang menuju Khaosan bernomor 55, turun di Banglampoo.
  • Di Khaosan, banyak penginapan dari berbagai kelas dan fasilitas. Pada umumnya bisa go show, sehingga kita bisa sekaligus melihat kondisi sebenarnya. Bila ingin irit kita bisa memilih hostel, di mana kita hanya membayar per bed. Saya pernah menginap di Rikka Inn di ujung timur (semoga saya tidak disorentasi arah). Hotelnya bagus, tapi mungkin bukan tempat yang tepat untu para backpacker yang lebih mengingkan interaksi dengan para pelancong dari berbagai bangsa. Pengalaman saya sih, Khaosan hingar bingar di waktu malam, sehingga saya tidak bisa beristirahat dengn tenang.
  • Penginapan di Soi Rambutri atau Soi Kraisi yang terletak di sebelah utara Khaosan lebih nyaman untuk beristirahat. Anda hanya perlu berjalan sedikit dari Rikka Inn, berjalan menghadap burger King, lantas berbelak ke kiri, menyusuri deretan toko-toko perak. Berbelok ke kiri, gang pertama adalah Soi Rambutri dan gang selanjutnya adalah Soi Kraisi.
  • Saya sudah mencoba Suneta Hostel. Recommended-lah. Silakan cek hostelworld.com atau bisa juga ke laman facebook mereka. Terletak di Soi Kraisi yang tenang dan pusat makanan kaki lima yang enak dan murah. Kalau mau jalan lebih ke selatan sedikit ada kampung muslim, sehingga mungkin makanan halal bisa dicari di sini.

Sungai Chao Praya

Sepanjang Sungai Chao Praya

Ini sekedar tips kalau waktu anda sangat singkat padat dan ingin menjelajah Bangkok, highlight-nya sajalah. Mungkin jelajah anda bisa dimulai pagi hari ketika jalanan di Bangkok belum macet.

  • Dari Khaosan kalau ingin ke MBK naik bus nomor 47 . Turun di muka National Stadium dan untuk ke mall ini, anda naik tangga penyeberangan. Di MBK ada banyak produk pakaian dan kaos yang murah-murah, juga barang-barang elektronik. Banyak juga gerai makanan di sini, jadi bisa makan siang di sini. Masih satu lokasi dengan MBK adalah juga Siam Paragon dan Siam Discovery. Museum Madam Tussoud berada di Siam Discovery. Siam Paragon menjual produk-produk mewah, Ocean World ada di sini. Jalan kaki sedikit kita bisa juga ke museum sutra John Thomson, harga tiketnya 200 bath.
  • Dari kompleks MBK ini kita bisa menuju sungai Chao Praya. Caranya naiklah BTS sky train Silom line turun di Saphan Taksin. Jalan sedikit menuju Sathorn Phier. Ini adalah salah satu dermaga yang ada di sepanjang sungai Chao Praya.
  • Dari Sathorn Phier naik boat yang berbendera orange turun di Tha Chang Pier. Langsung saja naik, tiket seharga 15 bath akan diminta oleh konderktur di dalam boat. Jalan kaki sedikit kita akan mencapai Grand Palace dan Emerald Buddha. Kedua objek wisata ini jadi satu. Harga tiketnya 500 bath. Luangkan waktu beberapa jam kalau berminat memasuki objek ini. Kalau sekedar foto-foto dari luar ya gratis. Kalau haus bisa minum minuman dingin di Taman Sanam Luang. Letaknya di depan Emerald Buddha.
  • Dari Emerald Buddha jalan kaki sedikit ke Wat Pho. Gampangnya arah belakang ya. Keluar dari Emerald Budha kemudian jalan ke arah kiri. Di sini ada patung Budha raksasa yang sedang berbaring. Harga tiketnya 100 bath. Pakailah pakaian sopan, setidaknya celana panjang dan pakaian atas yang menutup pundak. Kalau pakaian anda kurang sopan anda diharuskan menyewa jubah. Sandal/sepatu harus dilepas dan dititipkan. Saya lebih suka memasukkan ke dalam ransel.
  • Dari sini kita jalan kaki sedikit menuju Tha Tien Pier. Beli tiket penyeberangan seharga 3 bath di dermaga. Kita menuju ke Wat Arun. Lanskap kota Bangkok dan Sungai Chao Praya akan terlihat cantik dari puncaknya. Apalagi jika anda datang di saat matahari terbenam. Hati-hati kalau naik, tangganya terjal sekali.
  • Dari Wat Arun kita menyeberang lagi ke Tha Tien Pier. Dari sini kita naik boat ke Phra Atit Phier. Khaosan Road terletak tak jauh dari Phra Atiet Pier. Anda cukup berjalan kaki ke arah barat sekitar 10 menit saja.

Reclining Budha di Wat Po

Nah kita sudah mencapai khaosan kembali. Kita bisa istirahat sebentar di hostel, mandi, meluruskan punggung, menikmati kopi atau duduk-duduk saja di lobi. Syukur jika ada traveller dari negara lain, kita bisa ngobrol atau bertukar pengalaman.  Baik juga jika ada kesempatan untuk bisa jalan bareng ke tujuan wisata yang lain, sehingga perjalanan lebih menyenangkan dan biaya-biaya tertentu bisa dihemat.  Nikmati nuansa pergaulan dengan traveller dari berbagai bangsa sambil menunggu malam. Suasana pergaulan macam begini yang tidak kita jumpai jika kita menginap di hotel, apalagi yang berbintang banyak !

Malam hari kita jalan ke Khaosan. Siang hari Khoasan senyap seperti pasar bubaran. Ketika malam merambat suasana semakin hidup. Apa yang dapat kita dapati di sini ?

  • Kios, cafe, restoran, bar : berbagai jenis makanan tersedia, makanan Thailand, fast food semacam Mc Donald atau KFC ada di sini. Banyak kios  menjual suvenir, kartu pos, pakaian kaos, tas/ransel.  Tapi di sini sering tidak mencantumkan harga, jadi pandai-pandailah menawar. Kios tatto juga ada. Gerai Sevel juga ada di sini.
  • Salon dan spa : Bukan cuma perawatan wajah dan tubuh yang bisa didapat di sini. Mereka juga menawarkan aneka jenis pijat. Kita bisa memilih yang sesuai selera. Harganya bervariasi dan dihitung perjam. Rata-rata satau jam sekitar 200-an bath. Lebih-lebih dikit, ya tergantung fasilitasnyalah.
  • Food street : banyak sekali penjual makanan khas Thiland dijajakan di Khaosan. Jenis makanannya juga bervariasi. Yang khas pad-thai ; mie goreng dengan campuran taoge, sticky rice dsb. Mau yang ekstrem seperti serangga goreng juga ada.
  • Penukaran dan ATM: jangan khawatir kehabisan bath. Ada banyak tempat penukaran uang di sini. Lebih baik membawa dolar dari Indonesia sehingga mudah ditukar dimanapun. Banyak juga galeri ATM disepanjang jalan ini. Kalau kita punya ATM CIMB lebih baik lagi, sebab tidak kena charge. Tapi perhatikan CIMB kita di Indonesia berlogo Mastercard, tapi di Thailand kebanyakan visa.
  • Biro perjalanan; ada banyak biro perjalanan / wisata di sini. Anda bisa membeli paket wisata ke berbagai tempat di Thailand seperti Phuket, Krabi, Ayitthaya, Kancanabhuri, dll. Anda bisa membandingkan di beberapa tempat hingga mendapatkan harga yang pas. Pada umumnya agen-agen ini tidak memberi kita brosur atas paket yang kita beli. Jadi harap difoto paket yang anda beli dan bawa nota pembayarannya. Saat berwisata kita hanya dikirim dengan minivan ke kota-kota tersebut, tidak ada pemandu wisata, kita dioper dari satu tempat ke tempat lain. Tiap orang dalam rombongan kita membeli paket tour yang berbeda-beda. Tunjukkan bukti bila agan di sana menolak suatu objek wisata yang mestinya termasuk dalam paket yang kita beli.
  • Masih tentang agen perjalanan. Selain paket wisata, kita juga bisa membeli tiket minivan / bus menuju kota-kota lain dari Khaosan, termasuk menuju Cmbodia / Siem Reap. Dengan minivan kita akan berangkat langsung ke tujuan. Jika meilih bus kita akan diantar lebih dulu ke Southern atau Northern terminal. Tentntu saja harganya menjadi lebih mahal. Pengalaman saya Happy tour yang terletak di sebelah pos polisi di ujung barat Khaosan adalah yang paling murah. Juga Happy tour menyediakan angkutan ke Dong Muang setiap hari pada jam-jam tertentu seharga 100 bath saja.

Nah ini dulu. Esok harinya anda bisa melanjutkan perjalanan ke kota lain atau negara lain. ~~~ (*.l.*)

Wat Arun terlihat dari Sungai Chao Praya

Salah satu sudut Wat Pho

Lorong Menuju Emerald Budha

 

Perahu di Sungai Chao Praya

 

 

 

 

Vietnam Day 3 : Menyusuri Sungai Mekhong

Salah satu yang saya kagumi turisme Vietnam adalah bagaimana mereka mengemas kesederhanaan hidup sehari-hari menjadi paket wisata yang unik. Sederhana  tanpa meromatisisir menjadi sebuah penderitaan yang bisa dipamerkan kepada wisatawan manca. Sederhana yang dijalani sebagai sebuah harga diri. Bagi saya sajian wisata mereka tidak terlalu istimewa. Tetapi yang patut dihargai adalah kreativitas dan inovasi, bahwa hidup keseharian yang natural – dekat dengan alam – bagi sebagian wisatawan dari negara maju terlihat eksotis dan layak jual.

SAM_0577Salah satunya yang  saya ikuti adalah wisata menyusuri sungai Mekhong. Sejak jam 7 pagi sudah siap di kantor Shin Tour di Jalan De Tham. Saya tidak ingat benar berapa harga paket wisata ini. Saya mengambil dua paket wisata half day Chuci Tunnel dan full day Mekhong river, sekitar 335.000 dong. Itu berarti seratus lima puluh ribu rupiah lebih sedikit. Tidak mahal toh ? Tapi ingat jangan dibayar dengan kartu kredit. Tagihan bisa bengkak karena charge konversi antarmata uang sekitar 30%.

Jumlah peserta hari itu sekitar 40 orang, yang didominasi turis dari ras “kuning” : Jepang dan Korea.  Yang jelas pemandu wisata kami selalu bercakap dalam dua bahasa Inggris dan Jepang bergantian. Atau mungkin saya salah ? Saya tak bisa membedakan perbedaan fisik dua bangsa itu. Karena kendala bahasa, mungkin, tidak mudah juga mendekati mereka untuk berkomunikasi. Mereka juga tidak tertarik untuk berinteraksi dengan turis dari negara lain karena jumlah meraka yang lumayan besar di grup ini.

Tak apalah. Saya biasa mandiri. Setengah jam kemudian kami berangkat. Teman duduk saya di kursi bus ternyata Emily, seorang wanita asli Vietnam Selatan, tetapi sudah menjadi warga negara Perancis. Seluruh keluarga besarnya juga sudah tinggal di sana. Yang menarik, meski tinggal di Preancis, Emily masih mempertahankan tradisi negara dunia ke-3 (ih…istilah ini siapa yang bikin kok melecehkan begini) : Emily punya 6 anak yang kini beranjak dewasa. Oh my goat. Dia masih ramping dan cantik.

Dengan Emily

Dengan Emily

Pada mulanya sulit juga berkomunikasi dengan Emily. Dia hanya bisa bicara bahasa Perancis dan Vietnam. Tipikal warga Perancislah, malas mempelajari bahasa Inggris. Nyaris sepotong Inggris pun dia tak tahu. Ia kemudian jadi menutup diri. Ia hanya bicara dengan tour leader kami. Aku mengambil inisiatif untuk berteman. Dengan menyentuh tangannya, dengan pandangan mata, bahasa isyarat dan sepotong Inggris yang kuucapkan dengan sangat perlahan (seperti mengajar kelas tuna wicara…) aku meyakinkan dia bahwa bahasa verbal bukan satu-satunya cara untuk menjalin pertemanan.

Ia paham. Selanjutnya ia mengeluarkan tablet, menunjukkan foto anak-anaknya di Perancis. Aha! Dapat akal akhirnya. Kami dapat  berkomunikasi dengan google translate dari tabletnya (saya tidak beli simcard Vietnam).  Ia orangnya cukup asyik. Sepanjang hari dalam rangkaian tur itu, kami tetap duduk bersebelahan, saling mengambil foto dan berjalan bersama. Cool Emily,  Thanks !

Hampir tiga jam lamanya kami berkendara ke arah hulu sungai Mekhong. Kami berhenti di sebuah kampung, dan berjalan menuju bangunan dermaga sederhana. Sungai Mekhong berwarna coklat, lebar dengan arus deras. Beberapa perahu penuh turis melintas di atasnya. Sesekali kami melintasi rumah rakit. Apalah istilahnya ? Semacam rig mungkin. Rakit yang di atasnya didirikan rumah dan beberapa perangkat budi daya ikan. Di situ pula penduduk hidup sehari-hari. Bila bersitatap dengan penguninya kami saling melambaikan tangan.

SAM_0581

Berakit-rakit menyusuri ranting Sungai Mekhong

Perahu wisata kami akan berhenti di beberapa kampung di sepanjang sungai ini. Perhentian pertama, kami digiring ke sebuah galeri kerajinan rakyat. Seperti biasalah di mana-mana sama. Turis selalu diharapkan mengucurkan duit untuk roda ekonomi negara tujuan. Ya bagus jugalah, kalau trickle down effectnya memang sampai langsung kepada rakyat jelata. Tapi suvenir yang dijual di lapak ini tak manarik perhatian saya, sama saja dengan yang ada di pasar Ben Than.

Kami makan siang di saung tak jauh dari galeri suvenir. Menu Vietnam enak menurut lidahku (Apa sih yang tak enak menurutku ? hahaha.. sebagai juru cicip di bulan puasa, dulu ibu kosku yang pengusaha catering sering jengkel padaku. Semua masakannya selalu kupuji enak. “Sampun eca, pas raosipun. Namung kurang kathah anggen kula icip-icip !!!!).  Yang unik – dan ini terjadi di banyak tempat di Vietnam – paket makanan yang kita pesan tidak termasuk segelas air putih. Tidak seperti di Indonesia, kita masuk restoran segelas air putih atau teh tawar gratis langsung disodorkan kepada kita. Jadi kalau tidak membeli air putih ya silakan kesereten. Uh! Jadi ke mana-mana wajib hukumnya membawa botol minum sendiri.

Olah rasa masakan Vietnam tak beda jauh dengan Indonesia. Kaya bumbu, kaya rasa. Hanya mungkin mereka punya berbagai variasi masakan mie, utamanya mie beras yang di kita biasa disebut bihun. Pada umumnya mereka juga makan sedikit nasi, yang dihidangkan dalam mangkok kecil-kecil. Bukankah bihun juga sama sebagai pengganti nasi ? Lantas ikan mas fresh from the river. Selebihnya kangkung ditumis dan beberapa hidangan semacam risoles isi daging. Pasti pork !

Selepas makan siang, kami beberapa kali berganti perahu dan mengunjungi kampung demi kampung untuk melihat keseharian penduduk. Tak ada atraksi spesial turis yang dipertontonkan. Di sebuah kampung, kami disuguhi cara membuat gula aren dan gula kelapa. Para pengunjung ditunjukkan pohon aren dan bagaimana nira pohon itu disadap. Lalu nira itu diolah di atas api dengan wajan besar. Olahannya bisa dicetak menjadi gula merah atau bisa juga diolah lebih lanjut menjadi kembang gula.

Masih di tempat yang sama ditunjukkan pula bagaimana kelapa diolah menjadi produk makanan. Tour leader kami memamerkan cara memarut kelapa dengan parutan tangan. Lalu kerja yang sama ia lakukan dengan kukur (alat parut yang diinjak dengan kaki, separuh kelapa masih lengkap dengan batoknya). Ia kemudian memeras parutan kelapa tadi dengan telapak tangannya. “This is coconat milk, “ katanya. Peserta tur dari Korea dan Jepang terkagum-kagum dan berdesis, “Wooow…!” Saya cuma nggrundel, “Ah…biasa aja kalee. di Indonesia saya juga melakukan itu.” Dasar orang-orang dari negara kaya !

Di sebuah gerai, selain produk makanan seperti gula dan permen dari kelapa,  dijual pula berbagai produk peralatan rumah tangga seperti centong nasi, penghangat nasi dan bermacam pernak-pernik lain. Di sebuah tempat yang lain kami diajak melihat usaha penangkaran lebah madu. Di tempat itu ditunjukkan pula produk-produk yang terbuat dari madu, selain madu asli dalam kemasan botol. Produk itu antara lain sabun mandi, cream perawatan wajah, dan sebagainya. Saya tidak terlalu ingat berapa kali kami berperahu dan berhenti di sebuah kampung sebelum pertunjukan terakhir.

Sekitar jam tiga sore kami menuju atraksi terakhir. Kami diajak naik bendi menuju sebuah kampung. Di sebuah saung sederhana kami beristirahat.  Pemandu wisata kami berpidato singkat menyampaikan ucapan terima kasih. Sebagai salam perpisahan grup kesenian dari penduduk setempat akan mempersembahkan lagu-lagu tradisional Vietnam. Para pengunjung boleh memberi tips untuk usaha pembinaan kesenian tersebut.

SAM_0591Lagu-lagu berbahasa Vietnam itu terasa meliuk-liuk dengan diseling nada-nada minor. Terasa muram. Juga ekspresi penyanyi dan musisinya. Kami tidak tahu arti lagu itu, karena pemandu juga tidak memberi terjemahan. Ah, mungkin berkait dengan sejarah sosial Vietnam Selatan yang sarat dengan pertempuran yang melelahkan. Sambil mendengarkan lagu-lagu kami dijamu dengan makanan ringan sekedarnya dan teh panas madu.

Lagu terakhir usai, lantas  disambung basa-basi ucapan terima kasih dan pamitan. Saung ini terletak di tepi sebuah anak Sungai Mekhong. Kami menuruni tebing sungai dan disambut oleh rakit-rakit kecil yang hanya muat dua atau tiga orang saja. Pengayuh biduk berdiri di bagian belakang. Beberapa dari pendayung rakit itu adalah para perempuan.  Kami menyusuri anak sungai Mekhong sang sempit. Perahu besar tak dapat masuk ke mari tentu saja. Di kiri kanan sungai yang masih terlihat alami tumbuh bermacam perdu dan tanaman enau.

Inilah ujung rangkaian wisata kami hari ini. Pemandu wisata dan asistennya berada di biduk paling belakang. Dengan wireless-nya ia memperdengarkan lagu-lagu tradisional Vietnam. Kami di antar ke dermaga di mana tadi pagi kami tiba. Bus sudah menunggu kami untuk pulang ke Saigon kembali. Malam menyambut. Lampu warna-warni telah bernyala di sepanjang Pham Ngu Lao, Bui Vien dan De Tham. Musik rancak berdentam. Welcome back Saigon. Cheers.

 

Pembuatan santan kelapa

Penangkaran lebah madu

Penangkaran lebah madu

SAM_0589

Au revoir party