Cerita Rian Ernest Saat Menjadi Staf Ahok dan Anies Baswedan

Aneka Info Unik

Rian Ernest bersama Ahok dan Anies Baswedan Rian Ernest bersama Ahok dan Anies Baswedan. (Istimewa)

Anekainfounik.net. Rian Ernest, salah satu staf dari Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di bidang hukum pemerintahan menceritakan pengalamannya saat menjadi ‘staf’ dua cagub yang kini bertarung menjadi DKI 1, Ahok dan Anies Baswedan.

Rian sempat mengabdi sebagai guru selama setahun (2011 sampai 2012) di Pulau Rote, NTT, dalam suatu gerakan relawan Indonesia Mengajar yang digagas oleh Anies. Ia juga pernah membantu mantan Mendikbud itu yang ditunjuk Jokowi sebagai anggota Tim Transisi sebelum resmi dilantik menjadi presiden pada 2014

Salah satu anggota tim penasihat Ahok dalam kasus penistaan agama ini beda gaya kepemimpinan keduanya dalam tulisan di Kompasiana.com.

Berikut tulisan alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini

Catatan “Jongos” Dua Cagub DKI

“In matters of style, swim with the current; in matters of principle, stand like a rock.” —Thomas Jefferson

Tulisan ini bertujuan supaya membagikan apa yang saya ketahui, dari kacamata seorang jongos…

View original post 1,969 more words

Advertisements

Perhelatan Pengantin Lampung Tempo Doeloe

Saya menemukan foto-foto menarik tentang pengantin Lampung tempo dulu. Sembilan foto ini diletakkan dalam satu halaman album kuno, berbanjar 3, masing-masing berukuran 6 x 6 cm dan tidak  bertannggal. Saya  menduga foto-foto ini berasal dari dekade akhir 1940-an. Lihat saja model pakaian para pengiring pengantin, yang bawa bendera itu lho. Pakaian seperti itu meniru model pakaian yang biasa dipakai Bung Karno. Duh, uniknya perarakan pengantin kok didahului pembawa bendera….  Mungkin karena baru saja usai revolusi, jadi terasa patriotik.

Nampaknya pemilik album foto ini (mbah gue, huehehehe…..) menangkap peristiwa istimewa ini di tengah turne tugasnya. Mungkin lokasinya antara Metro- Tanjungkarang atau Pringsewu – Tanjungkarang. Ia berhenti sejenak dan mengabadikan peristiwa ini. Lihat, betapa kooperatifnya para fotomodel dadakan ini. Mereka menghadap kamera dan tersenyum.

Perhelatan pengantin ini tentu saja terjadi di pedesaan bahkan istilah lokalnya umbulan. Kita lihat misalnya para tetangga yang menonton dari kejauhan, di muka rumah-rumah gubug mereka, yang berada di atas gerumbul bukit kecil.

Menarik pula dicermati model pakaian yang dikenakan. Kita bisa melihat Indonesia masa lalu.  Pengantin perempuan mengenakan mahkota yang berbeda dengan model siger zaman sekarang. Blouse berlengan pendek dikenakan di bagian atas melengkapi kain tapisnya. Pengantin lalki-laki mengenakan jas dan dasi, (kain songket ?) menyilang di dadanya.

Dandanan para perempuan pengiring terasa menarik.  Mereka kebanyakan  mengenakan kain kebaya, berkonde dengan selendang yang dikudungkan begitu saja.  Ada juga yang selendang kudungnya diukel ke atas, ini pasti model Sumatera. Model kebanyanya juga ada dua macam. Ada yang model kutu baru dengan setagen, ada pula yang model buju kurung terusan. Beberapa anak-anak perempuan dan gadis muda mengenakan rok. Ada yang melengkapinya kudung pula.

Perhatikan foto tiga gadis kecil itu. Tampaknya ini adalah sebuah ruang kelas. Di latar belakang ada ibu guru berkebaya kutu baru dan berkonde tanpa kudung. Ibu itu pasti dari Jawa. Sekali lagi lihat foto pembawa bendera. Ada beberapa anak laki-laki mengenakan baju yang sama. Mungkinkah anak-anak perempuan tetap di dalam kelas, sementara anak laki-laki boleh membolos sebentar untuk membantu tetangga hajatan ?

Oh, Berasa Indonesia  🙂 !

Monggo dinikmati saja…..

Didahului perarakan bendera

Pengantin laki-laki di antara pengiringnya

Pengantin perempuan dan pengiringnya

Pengantin wanita diapit para wanita pengiringnya

Para tetangga menonton dari kejauhan

Rumah di kampung mereka

Bocah penonton

Pengantin laki-laki

Close up : Pengantin wanita

2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 350,000 times in 2014. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 15 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Dalam Doaku

Dalam Doaku

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak “Hujan Bulan Juni”)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

In My Prayers
Sapardi Djoko Damono
(translated by John McGlynn in the book Before Dawn Yayasan Lontar, 2005)

In my prayers this morning you became the sky 
which through the entire night did not close its eyes, a clear expanse
ready to receive the first light, a curve of silence in wait of sound 

as the sun drifted above my head,
you became in my prayers the tips of pines,
eternally green and forever presenting abstruse questions to the wind
that hisses from directions unknown 

in my prayers at dusk you
became the sparrow that fluffed its feathers in the mist,
alighted on the branch and felled the tassel of the guava flowers
and then in sudden excitement
flew away to alight on the mango branch 

in my prayers this evening you became the distant wind
that descended ever so slowly,
tiptoed down the path and slipped through the cracks of the panes
and door to press its cheeks and lips against my hair, chin and eyelashes 

in my prayers tonight you became the beating of my heart
that has so patiently endured what seems to be limitless pain
and faithfully revealed one secret after another, the unending song of my life 

i love you, and for that reason, will never stop praying for your well-being  

(Sapardi Djoko Damono, 1989 Hujan Bulan Juni)
~translated by John McGlynn~

 

 

 

 

 

 

Munir: Muchdi, Polly dan AMH ?

Seberapa pun berharga nyawa anda bagi orang-orang yang mengasihi anda, tetapi di hadapan aparat intelijen, kalau anda aktivis bersuara kritis, bisa jadi anda hanyalah seekor hewan buruan. “Operasi ikan besar sudah selesai,” kata Pollycarpus Budihari Priyanto kepada koleganya di BIN,  sesaat setelah yakin Munir Said Thalib tewas oleh racun arsenik yang ditaburnya.

munir1Nyawa begitu murah. Begitu pendapat saya setalah memabaca Tempo edisi 8 Desember 2014 yang memuat laporan khusus tentang kematian Munir. Kalau saat itu Munir disebut sebagai “ikan besar”, maka target lain bisa jadi hanya sekedar si “kutu kupret”. Pokoknya siapapun yang mengganggu bisa menjadi target operasi. Dan kasus kematian anda akan hilang dalam senyap.

Membaca berlembar-lembar isi majalah itu, saya menduga bahwa boleh jadi pelenyapan Munir adalah operasi intelijen yang gagal. Indikasi kegagalan itu antara lain kematian Munir menyisakan banyak jejak. “Itu cara yang paling bodoh dan sangat memalukan.” Demikian Abdullah Makhmud Hendropriyono (AMH) petinggi BIN saat Munir dibunuh, berkometar tentang kasus tersebut. Tentu saja ia menolak kematian Munir dikaitkan dengan lembaganya. “Kasus hukumnya sudah selasai,” katanya.

Jadi menurut AMH pembunuhan ala intelijen yang berhasil itu yang seperti apa ? Ini jawabnya,           “ Seperti pada zaman operasi penembakan misterius era Pak Benny Moerdani. Intel-intel masuk penjara, mencari orang yang sudah membunuh dua-tiga kali. Mereka dikeluarkan, lalu diminta mendaftar teman-temannya. Dia sendiri yang kemudian membunuh teman-temannya. Ada yang dipinjami pistol, tetapi lebih banyak pakai senjata tajam, seperti golok. Setelah membunuh mereka lapor kepada intel. Lalu dicek. Jika benar semua mati, baru intel membunuh preman ini. Mayatnya ditenggelamkan ke laut. Investigator sehebat apapun tak bisa membongkar kasus ini.”

Sementara Munir, pembunuhannya  menyisakan banyak jejak meski dirancang dengan rumit. Keping-keping fakta tersebut bila dipetakan satu demi satu akan mengerucut ke arah BIN. Satu nama besar, Muchdi Purwopranjono, Deputi V saat itu, sempat duduk diajukan ke pengadilan. Ia dibebaskan dari tuduhan karena dapat mengajukan bukti bahwa saat nomor teleponnya berhubungan dengan Pollycarpus ia berada di Malaysia. Bukti itu berupa cap imigrasi bandara. Padahal cap macam begini menurut salah seorang narasumber cukup mudah didapat untuk orang sekelas Muchdi. Pada waktu itu, menurut AMH, kalau Muchdi kena bidik, ia sempat deg-degan juga sebab ia bisa terseret pula.

Akhir-akhir ini ketika kasus kematian Munir kembali digemakan oleh masyarakat, AMH sempat berkata bahwa ia siap bertanggung jawab. Tanggung jawab macam apa ? “Saya harus bertanggung jawab pada apa yang saya alami, yang saya lakukan, bahkan yang tidak saya kerjakan tapi seharusnya saya kerjakan. Kalau yag membunuh Munir itu orang BIN, saya bertanggung jawab secara moral, bukan tanggung jawab komando.”

Tanggung jawab komando hanya pada waktu perang. Maksudnya, jika anak buah nya membunuh orang pada situasi perang, seorang komandan harus bertanggung jawab. Tapi hal ini tidak berlaku pada saat damai. AMH menolak pendapat yang mengatakan bahwa Munir merupakan target nasional untuk dilenyapkan.

Dalam cara kerja BIN, memang benar bahwa setiap deputi otonom untuk dapat melakukan operasi iteljen.tetapi mereka punya mekanisme laporan harian, mingguan, bulanan dan 3 bulanan. Jadi masih menurut AMH, tidak mungkin Munit menjadi target operasi liar atau salah menerjemahkan instruksi. Kalau para deputi jalan di luar alur tersebut, itu merupakan tanggung jawab pribadi. Operasi membunuh orang harus lapor; dan menurut AMH tak ada cerita operasi BIN bunuh orang [sic!].

Dalam setiap operasi AMH harus tahu. Komandan lapangan tak harus direktur. Bisa saja ditunjuk orang yang dipandang cakap. Untuk sasaran teroris internasional semacam Umar al Faruk, AMH harus melapor ke presiden. Dan menurutnya Munir bukan orang semacam al Faruk.

Meski hampir semua petinggi BIN menolak keterlibatan dalam kematian Munir, tampaknya hampir tak terelakkan bahwa operasi itu dirancang sistematis. Fakta-fakta kematian dan kesaksian beberapa orang merujuk kepada lembaga tersebut. Tapi link yang mengubungkan fakta-fakta tersebut – dalam hal ini Pollycarpus Budihari Priyanto – tetap bungkam. Apakah ia seorang agen BIN ? Jangan diharap ia akan bersuara, ini ciri khas seorang agen inteljen.

Pollycarpus akan diam.  BIN juga pasti tidak akan mengakui kaitannya dengan Pollycarpus. Di BIN ada dua jenis agen yaitu organikdan non-organik. Yang terakhir itu disebut juga sebagai contact person, dan mereka ini hanya didata. Kalau terjadi apa-apa dengan mereka tak akan diakui. Setiap agen bisa punya agen lagi di lapangan. Orang-orang ini biasa disebut informan, tidak digaji dan hanya dibayar sesuai pekerjaan. Agen asli biasanya tidak akan pernah mengaku. Jadi apakah Pollycarpus ini agen organik atau non-organik ? ya pastilah kedua belah pihak tak akan mengaku!

munir

 

 

 

Mengenang Munir – Merawat Ingatan

Tahun ini genap sepuluh tahun aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib meninggal karena diracun dalam perjalanan ke Amsterdam. Alih-alih menjadi jelas siapa dalang utama pembunuhannya, justru eksekutornya, Pollycarpus Budi Hari Priyanto bebas bersyarat pada bulan November lalu. Pollycarpus hanya menjalani total 8 tahun penjara dari vonis 20 tahun yang semula dijatuhkan padanya. Seorang saksi kunci, Ongen meninggal dunia secara aneh. Seorang lagi, Budi Santoso tak terlacak, setelah sebelumnya mengaku bahwa nyawanya menjadi incaran. Rasa keadilan kita terluka. Murah sekali nyawa seorang anak bangsa  di bumi Pancasila ini, jika ia berjalan di atas integritas.

Dalam edisi khusus yang terbit 8 Desember 2014, majalah mingguan Tempo memuat 35 judul tulisan, feature dan opini,  yang dihimpun dalam tajuk utama : Fakta baru Pembunuhan Munir. Saya capture 2 judul saja di sini, agar saya merayakan hari ini – hari Hak Asasi Manusia Sedunia – dengan merawat ingatan  saya akan kewarasan. Integritas dan segala nilai-nilai luhur harus dimulai dari masing-masing  pikiran dan kebeningan nurani  pribadi.

Silakan klik pada file untuk membaca lebih jelas.

IMG_20141210_091609IMG_20141210_091258IMG_20141209_142145IMG_20141209_142225IMG_20141209_142349

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

IMG_20141210_092137IMG_20141209_142818

Menyoal Quick Count

INTRO – ~ Proses pemilihan umum 2014 ini sungguh melelahkan. Kecurangan  dan kampanye hitam yang sangat masif, penggunaan isyu ras dan agama, dls terus saja menyerang calon nomor dua – Jokowi – JK.  Titik panas berikutnya adalah pada saat 8 lembaga survei memenangkan Jokowi – Jk dalam hitung cepat atau quick count sesusai pencoblosan, 9 Juli yang lalu.  Calon nomor satu menafikan hasil hitung cepat  8 lembaga tersebut dan mengklaim kemenangan dirinya berdasar 4 lembaga survei yang lain.  Penalarannya menjadi jungkir balik, karena pada saat yang sama ia mempercayai lembaga survei yang memenangkan dirinya dan menayangkannya di televisi yang mendukung pencalonannya.

Hasil blusukan  di berbagai grup diskusi dunia maya saya menemukan 2 link yang sangat berguna. Ulir pertama tulisan Merlyna Lim, seorang pakar statistik berkebangsaan Indonesia yang bekerja di Arizona State University tetang Quick count. Perempuan cerdas ini pernah diwawanca Kick Andy pada Jumat, 14 januari 2011 bertajuk “Berjaya di Negeri Orang”. http://kickandy.com/theshow/1/1/2012/read/BERJAYA-DI-NEGERI-ORANG.  Jadi tergolong orang hebatlah dia.

Ulir kedua yang  saya pasang adalah berupa e_book berjudul  The Quick Count and Election Observation, An NDI Handbook for Civic Organizations and Political Parties ditulis oleh Melissa Estok, Neil Nevitte dan Glenn Cowan, diterbitkan oleh National Democratic Institute for International Affairs (NDI) pada  2002. Cukup tipis hanya 47 halaman. Bahasa Inggrisnya juga mudah dipahami.

Kedua ulir ini baik kita pelajari.  Saya pikir, tidak  untuk mampu mengerjakan hal itu secara teknis.,tetapi untuk mendasari wawasan kita sehingga mampu berargumen secara ilmiah. Silakan…………..

Tulisan Merlyna Lim : https://www.facebook.com/notes/merlyna-lim/apa-benar-kita-harus-tunggu-kpu-saja-menyoal-real-count-official-count-dan-quick/10152360323280829

 Apa benar kita harus tunggu KPU saja? — Menyoal Real Count, Official Count dan Quick Count

12 July 2014 at 09:59

Kenapa sih ngga tunggu real count KPU saja?  Banyak pihak, termasuk akademisi, mengimbau kita semua untuk tidak mengindahkan hasil2 Quick Count (QC) dan menunggu “Real Count” dari KPU pada tanggal 22 Juli nanti. Apakah imbauan ini tepat dan bijak? Ini tanggapan saya.

Tentang “Real Count” (RC)
Sebetulnya tak ada yang namanya real count jika real dianggap sebagai hitungan yang benar-benar BENAR yang merujuk pada keabsolutan kebenaran empiris. Walaupun data bisa diambil dari semua TPS (yang jumlahnya setengah juta), tak ada pihak yang bisa memastikan bahwa hitungan2 yang mengklaim “real count” tak luput dari kesalahan.

Nah, kalau ada yang bilang melakukan “real count” tapi ternyata tak mencakup seluruh TPS dan penghitungannya dilakukan dengan % tanpa bobot populasi, itu mungkin lebih tepat dinamakan “Surreal Count” :p (apalagi jika dilakukan sebelum pemilu itu berlangsung ;D).

Apakah perhitungan KPU adalah RC?
Hasil KPU adalah “Official Count” (OC), yakni hasil hitung resmi. Tentunya kita semua mengharapkan bahwa OC dari KPU akan sangat dekat dengan realita empiris. Namun, dengan perjalanan panjang sebuah suara dari TPS ke kantor KPU yang dihitung manual dengan rantai penghitungan yang cukup panjang (TPS, Kelurahan, Kecamatan, dst.), OC ini sangat rentan terhadap masalah dan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Dalam sejarah2 pemilu di dunia, terbukti bahwa OC bisa merupakan keputusan politis.Proses penghitungan bisa dibebani muatan politis sehingga OC bisa bergeser (sedikit atau banyak) dari kebenaran empiris. Maraknya kasus2 Pilkada di Indonesia merupakan indikasi bahwa OC seringkali merupakan keputusan politis. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di jaman Orde Baru, hasil Pemilu bukanlah cerminan kebenaran empiris yang terjadi di TPS-TPS. Patut diakui bahwa sejak Pemilu tahun 1999, KPU sudah lebih baik dalam menjalankan tugasnya sebagai penyelenggara pesta demokrasi. Kita berharap bahwa OC kali ini netral, bebas dari permasalahan teknis perhitungan, dan lebih-lebih, bebas dari kepentingan politis.

Namun berharap saja tidak cukup. Jadi bagaimana caranya agar OC ini mendekati kebenaran empiris?  Tak ada jalan lain selain memonitor dan mengawal perhitungan tersebut.

Penerbitan formulir C1 di http://pilpres2014.kpu.go.id/c1.php dan pengecekan massa terhadap formulir2 tsb n di merupakan salah satu upaya tersebut. Terbukti ada kesalahan2 ‘teknis’ seperti C1 yg kosong, pengunggahan C1 yang salah, dan hitungan yang bermasalah. Belum lagi jika dibandingkan dengan C1 asli yang diambil relawan2 di TPS, ternyata banyak formulir yang sudah berubah angka2nya ketika tiba di website KPU (lihat contoh2 di tautan terkait di bawah). Pengamatan sementara saya, kebanyakan masalah C1 terjadi di tingkat lokal. Yang patut dipuji dari KPU Pilpres 2014 ini adalah ketransparanan data, sehingga masyarakat dapat terlibat dalam pengawasan perhitungan. Kombinasi ketransparanan KPU dan keterlibatan masyarakat merupakan modal utama dalam mewujudkan Pilpres yang jujur.

Selain mass monitoring seperti itu, ada hal lain yang bisa dilakukan secara ilmiah. Di sinilah guna Quick Count (QC).

Apakah Quick Count (QC) itu?
QC bukanlah RC. QC adalah metoda ilmiah untuk memverifikasi hasil pemilihan dengan memprojeksikan dari sampel yang diambil dari TPS-TPS. Menggunakan azas random sampling dari ilmu statistik, metoda ini terukur dan teruji secara ilmiah, dapat memberikan perkiraan hasil akhir yang terpercaya (reliable).

Random sampling ini ibarat mencicipi sop sepanci, kan cukup 1-2 sendok saja. Kalau mencicip sampe 2 mangkok namanya doyan. Kalau sampe sepanci, namanya rewog!

QC biasanya menggunakan Stratified Random Sampling yakni cara mengambil sampel dengan memperhatikan strata di dalam populasi. Data dari seluruh populasi dikelompokkan ke dalam tingkat-tingkatan tertentu, seperti: tingkatan tinggi, rendah, sedang, jenjang pendidikan, dll, dan kemudian sampel diambil dari tiap tingkatan tersebut. Maka dari itu, 2000 TPS bisa menjadi acuan dalam pengambilan sampling.

Sekali lagi, hasil QC tentunya bukan RC dan secara hukum tidak setara dengan OC. QC menyodorkan range dimana RC akan jatuh. Untuk menjadi alat yang efektif, harus lebih dari 1 QC (beberapa) yang dijadikan acuan. Jika dilakukan dengan metoda yang benar, hasil2 QC akan berada pada range yang mirip. Jika berada jauh dari range ini, ada indikasi permasalahan metoda.

Tentang QC Pilpres2014 — bagaimana membaca hasilnya? 
Di Pilpres 2014, ada 12 pollsters yang terlacak melakukan QC.  Margin of Error (MoE) atau tingkat kesalahan dari QC seharusnya tidak lebih dari 1%.

Nilai % yg dicantumkan di QC bukan perkiraan absolut. Toleransi kesalahan atau margin of error (MOE) mengukur seberapa jauh hasil QC mungkin meleset, dengan tingkat kepercayaan (confidence level) tertentu (misal 95% atau 99%).

 

quick2

catatan: MoE yang tidak diketahui (n/a) dihitung 1%

 Ambil contoh hasil QC RRI. Dengan angka2 47.48% (Prabowo-Hatta) vs 52.52% (Jokowi-JK), bukan berarti angka real prosentase suara Jokowi-JK adalah 52.52%, tapi dalam selang 52.52% +/- 1%, yakni antara 51.52% – 53.52%. Jadi, menurut QC RRI, Jokowi-JK menang.

Jadi apa kesimpulan 12 hasil QC yang ada? Apakah benar 8 pollsters memenangkan Jokowi-JK dan 4 memenangkan Prabowo-Hatta? Tidak benar.

quick 1

Dari chart di atas bisa kelihatan bahwa setelah MoE diperhitungkan, bisa diamati bahwa:

  • 7 QC yang menunjukkan kemenangan Jokowi-JK dengan perolehan suara Jokowi-JK lebih dari 50% (bisa dilihat bahwa bar biru melebihi 50%) — overlapped bandwidth 51-53%
  • 4 QC yang memberikan peluang 50%-50% pada Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, tapi 3 dari 4 QC ini terindikasi masalah (MoE >1 atau tak jelas MoE-nya)
  • 1 QC yang memenangkan Prabowo-Hatta (Puskaptis saja)

Saya tidak akan menarik kesimpulan bagi anda dari data-data tersebut. Silakan amati sendiri dengan sikap kritis.

Nah, seperti sudah diungkap di atas, QC hanya akan berguna jika ada beberapa hasil yang dilakukan oleh pelbagai pihak. QC-QC yang selaras dengan kaidah ilmiah akan berada pada range prosentase yang mirip dan bertumpang-tindih (overlapped). QC yang dimanipulasi sesuai dengan kehendak tertentu tentunya (misalnya dengan sengaja memilihsampling yang berpihak, tidak stratified dan random) tentunya bisa menghasilkan rangeyang berbeda.

Kembali ke masalah monitoring OC, jadi apa fungsi QC?

QC adalah metoda yang sangat powerful untuk memonitor proses pemilihan dan penghitungan suara. QC bisa dipakai untuk mengevaluasi kualitas sebuah pemilihan, dan memproyeksikan dan memverifikasi OC (Official Count). Tujuan QC adalah untuk menghalangi penipuan, mendeteksi kecurangan, menawarkan perkiraan hasil yang tepat, menanamkan kepercayaan dalam proses pemilihan dan OC, serta mengukur kualitas proses. Dengan kata lain, QC adalah kontribusi keilmuan terhadap penyelenggaraan negara agar pesta demokrasi dapat dilakukan dengan jujur, adil, dan bertanggungjawab.
Jika dilakukan dengan benar dan bertanggung jawab, QC bisa: 
a. memberdayakan masyarakat: karena lewat QC masyarakat bisa mengkritisi jalannya sebuah prosedur demokrasi dan mengecek akuntabilitas para penyelenggara negara.
b. membangun kapasitas masyarakat lokal lewat partisipasi masyarakat secara aktif dalam proses demokratisasi.
c. memberi informasi yang terpercaya: masyarakat berhak memiliki akses terhadap informasi yang akurat

Ada banyak bukti kegunaan QC. Tahun 1986 di Filipina, “Operation Quick Count” dari NAMFREL (the National Citizens Movement for Free Elections) berhasil mengungkap kecurangan besar (massive fraud) yang dilakukan oleh Presiden Marcos dan pendukung2nya. QC juga menolong masyarakat Chili untuk melawan kecurangan Pinochet di tahun 1988 dan masyarakat Peru di putaran pertama pemilu tahun 2000. Dan banyak contoh kecurangan pemilu2 lain di banyak negara yang bisa diungkap dan diperangi karena adanya QC.

Dalam kasus2 tersebut OC ternyata jatuh di luar range mayoritas hasil2 QC. Jadi bisa disimpulkan jika OC lembaga penyelenggara pemilu jatuh di luar range yang diperkirakan mayoritas QC, OC tersebut terindikasi bermasalah. Kalau OC jatuh tepat di rangetersebut, kita bisa berbangga bahwa lembaga penyelenggara bersih dari masalah!
Jadi, jika dilakukan dengan mengindahkan kaidah ilmiah, QC adalah alat yang netral, terpercaya, dan diperlukan untuk mengawal suara rakyat, supaya satu suara dihitung satu suara. One vote, one count! 

Jadi kembali ke pertanyaan awal: Kenapa sih ngga tunggu real count KPU saja?  Sudah tahu toh jawabannya?

Kita memang tak punya pilihan selain menunggu karena hasil akhir Pilpres ini ditentukan oleh KPU. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, ketransparanan KPU kali ini dan keterlibatan masyarakat dalam pengawasan perhitungan OC merupakan indikasi positif. Tapi bukan berarti QC tidak kita indahkan, justru bisa dan harus kita manfaatkan denganbertanggung-jawab dan kritis. Dan jangan lupa, hitungan KPU bukan real count tapiofficial count, dan harus ketat dikawal supaya hampir sama dengan real count. Mari bantu KPU untuk menyelenggarakan Pilpres yang jujur! 

Tautan2 terkait:

Website Pilpres 2014 KPU: http://pilpres2014.kpu.go.id

Contoh2 C1 bermasalah: http://c1yanganeh.tumblr.com/ dan http://on.fb.me/VUx2E9

Tentang MoE IRC:http://nasional.kompas.com/read/2014/07/11/14504991/Ini.Jawaban.IRC.atas.Hasil.Quick.Count.yang.Unggulkan.Prabowo

Bacaan tambahan: http://electionwatch.edu.au/indonesia-2014/what-basis-jokowis-claim-presidency

Foto2 dari lapangan QC RRI: https://www.facebook.com/anton.dwisunuhanungnugrahanto/posts/10152246076992444

~~~~***~~~~

II. Berikut ini sedikit intro tentang Quick Count  ~ selanjutnya download   e_booknya saja dalam PDF :

quick count cover

Download e_Book (PDF File) : Click The Quick Count and Election Observation

Continue reading