JEJAK REKSA SANG GEMBALA

Ia seperti gembala sesungguhnya. Lereng dan lembah  Bukit Barisan dijelajah. Menghilir Sungai Tulangbawang,  dan menyisir jalan-jalan berlumpur di pedesaan translok  biasa dilakoninya. Segala cara ditempuh,  naik mobil, membonceng ojek, bahkan berjalan kaki selama berjam-jam. Energinya tak pernah surut untuk menemui umat yang dipercayakan dalam reksa pastoralnya.

Menemui dan berdialog dengan umat di stasi, itulah salah satu sumber energi kegembiraan almarhum Mgr. Henrisoesanta. Antara tahun 1995 – 1999 ia sangat intensif mengadakan visitasi pastoral. Berangkat dari Bandarlampung Jumat sore  dan kembali pada Senin atau Selasa, bergantung dari jauh dekatnya dan sedikit atau  banyak kelompok yang harus dikunjunginya.

Tema dialog dengan kelompok umat bisa beragam, tentang visi dasar pastoral Keuskupan Tanjungkarang, katekese, sosial politik ekonomi, sampai masalah ringan misalnya tentang muda-mudi yang “loncat pagar”.  Ia selalu mencatat pertanyaan-pertanyaan umat itu dalam buku tulis tebal, yang  dibawanya dalam setiap kunjungan. Berikut beberapa catatan tentang kunjungan almarhum uskup emeritus itu.

Membonceng Rm. Janto menuju stasi way Kambas, 1997

Jatuh di Suwoh

Sampai  1999 Unit pastoral Liwa merupakan salah satu wilayah dalam keuskupan Tanjungkarang yang medannya cukup berat. Pada bulan September Mgr. Henrisoesanta terjadwal untuk mengunjungi Suwoh, sebuah stasi yang terletak di cekungan pegunungan Bukit Barisan. Mgr. Henri selalu bangga pada stasi ini karena kemandirian umatnya selama sekian tahun ngumbul–  merintis perladangan baru – di tempat terpencil  tetapi  mampu mempertahankan iman tanpa kehadiran pastor.

Saat itu merupakan kunjungan uskup yang kedua ke Suwoh. Lima tahun sebelumnya, 1994,  Suwoh merupakan tempat yang cukup parah dilanda gempa tektonik. Desa subur penghasil kopi itu total terisolir. Untuk sampai ke sana orang harus naik helikopter, kuda atau berjalan kaki. Naik motor juga bisa tetapi tidak lebih cepat atau lebih aman, karena jalan tanah sangat buruk dan terputus di beberapa tempat.

Dalam perjalanan yang kedua itu, Mgr. Henri bercerita tentang pengalamannya lima tahun sebelumnya. Bersama rombongan kecil di bawah pimpinan Rm. Vincent le Baron, ia bermaksud mengunjungi Suwoh. Perjalanan  paling cepat dapat ditempuh dalam 8 jam. Setelah beberapa jam berjalan kaki, Rm. Baron memaksa Mgr. Henri untuk membonceng motor. Dipanggillah tukang ojek berjuluk Si Teler. “Dia crosser paling handal, Bapa Uskup,” kata Rm. Baron.

Mgr. Henri pasrah. Tetapi apa daya, di tengah perjalanan motor itu jatuh. Mgr. Henri dan si Teler terbanting. Rm. Baron dengan enteng berkometar, “Bapa Uskup, kalau tidak jatuh, belum ke Suwoh namanya.” Mgr. Henri bercerita sambil tertawa, menganggap hal itu sebagai sesuatu yang menggelikan.  Mungkin pengalaman itu membuat ia pernah terpikir untuk membelikan seekor kuda untuk Rm. Baron.

Tahun 1999 kondisi jalan sedikit lebih baik, meski belum diaspal, dan tetap rawan longsor. Jam 8 pagi rombongan kecil bapa uskup bertolak dari Sekincau. Tengah hari rombongan tiba di Dusun Sri Mulyo, Suwoh,  dan bertemu dengan kelompok umat di sana. Mgr. Henri  masih mengingat beberapa perintis jemaat. Ramah ia menyapa, “Panen menapa Pak Bibit ?”  Yang disapa menjawab, “ Dereng panen, Monsinyur.” Tanpa senyum Mgr. Henri menimpali, “Lha panjenengan niku asmane Bibit, dados mboten panen-panen.” Orang yang mendengar cakap akrab itu tersenyum.

Malam itu rombongan  menginap di rumah umat di Talang Gendung, sebuah tempat yang lebih “mblusuk” dibanding Suwoh. Tempat itu masih bisa dicapai dengan mobil tapi jauh lebih lambat daripada dengan sepeda motor atau kuda. Mgr. Henri  memilih membonceng motor. Desa umbulan itu berpenghuni 25 keluarga dan hanya 5 keluarga yang Katolik.

Malam hari selepas misa, penduduk non-Katolik ikut makan malam bersama dan berdialog dengan uskup. Mereka bercerita tentang bagaimana mereka merawat instalasi air bersih sederhana  yang beberapa tahun sebelumnya dibangun bersama Rm. Baron. Mereka bertanya, bagaimana pandangan uskup tentang kepemimpinan perempuan dalam politik bernegara, dan berbagai masalah sosial lain.

Memasyarakat dan Loncat Pagar

Antara tahun 1995 – 1999 seluruh paroki / unit pastoral di Keuskupan Tanjungkarang mendapat jatah kunjungan Mgr. Henri . Diawali tahun 1995 kunjungan kepada kaum muda dan tahun 1997 kunjungan kepada keluarga. Dilanjutkan tahun 1998 kepada kaum muda dan tahun 1999 kepada keluarga lagi. Tahun 2000 tidak ada kunjungan kepada kelompok umat karena kegiatan lebih terfokus kepada perayaan Tahun Yubileum Agung.

Bisa dikatakan penghujung dekade 90-an itu merupakan tahun-tahun yang sarat dengan permasalahan politik. Orde Baru sangat kuat menancapkan kuku kekuasaannya dan pada 1998 KWI mengeluarkan Surat Gembala KWI, yang bagi sebagian orang dinilai sangat berani bahkan kontroversial. Maka dalam dialog umat dengan Mgr. Henri permasalahan politik dan sosial sangat  sering mengemuka. Misalnya, bagaimana menyikapi tekanan pemerintah tentang adanya target pemenangan pemilu sementara Gereja memberi arahan agar orang Katolik selalu berpedoman pada hati nurani dan kebenaran.

Menghadapi hal-hal semacam itu Mgr. Henri tak jemu-jemunya mengingatkan umat Katolik untuk melaksanakan hasil-hasil Perpas Gelar II yang dilaksanakan tahun 1992. Dalam peristiwa itu dihasilkan lima butir kesepakatan yaitu paradigma baru, dialog, keterbukaan, memasyarakat dan nilai penebusan atau semina verbi. Memasyarakat menjadi butir penting untuk berperan serta dalam aktivitas bernegara.

Menanggapi penjelasan Mgr. Henri,  seorang pemuda di suatu stasi  berkata, “Kami orang muda sudah memasyarakat, tapi hasilnya malah justru banyak yang murtad.” Anak muda lain yang menimpali, bagaimana mereka akan memasyarakat, jika di antara mereka sendiri tidak kompak. Ada juga yang merasa pesimis, “Bagaimana kami mau memasyarakat jika baru keluar saja sudah disindir dengan kata-kata nylekit.”

Kepada mereka Mgr. Henri selalu memberi dorongan agar tetap membaur, ambil bagian dalam bidang ilmu, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan pertahanan (ipoleksosbudhankam), karena itulah bidang panggilan khas kaum awam. “Masuklah KNPI, Pemuda Pansasila, FKPPI dan berbagai ormas lain atau  organisasi politik,” kata Mgr. Henri selalu.  Ia tidak menolak bahwa ada tantangan. Tapi di situlah justru kaum muda Katolik diharapkan menjadi garam atau matahari. “Iman Katolik itu seperti matahari,  menerangi  tanpa memilih-milih.”

Di luar politik, salah satu hal yang banyak dibicarakan umat adalah tentang kawin campur atau bahkan anak muda Katolik meninggalkan imannya. Tidak peduli orang tua atau orang muda sering membicarakan hal ini kepada Mgr. Henri. Menurut almarhum uskup emeritus itu, dalam kawin campur berarti seseorang membawa duri dalam daging, atau menyimpan potensi konflik dalam perkawinan mereka. Salah satu solusi yang ditawarkannya adalah memasyarakat.

“Memasyarakatlah, mungkin nanti kalian bisa ketemu jodoh, eh…ada seorang Katolik yang menarik di sana. Juga dengan bergaul dengan banyak orang kalian akan tahu perbedaan mendasar dengan mereka dan iman kalian bertambah kuat.” Memang betul Gereja bisa memberi dispensasi terhadap perkawinan campur. Tapi dispensasi hanyalah kelonggaran hukum yang tidak bisa menjamin iman Katolik seseorang akan berkembang dan berbuah.

Beberapa orang tua mengenang masa keemasan RKPK sekitar tahun 1980-an di mana kaum muda Katolik aktif dalam berbagai kegiatan olah raga dan seni antarmereka sendiri. “Banyak pemuda dan pemudi Katolik ketemu jodoh di acara itu,” kata mereka. Beberapa dari mereka mempertanyakan kepada Mgr. Henri apakah mungkin acara-acara seperti itu dapat dilaksanakan lagi.

Tetapi menurut Mgr. Henri saat itu (tahun 1990-an)  sudah tidak tepat lagi hidup secara eksklusif seperti itu. “Tidak ada sepak bola Katolik, tidak ada duwit Katolik,” kata uskup. Membaur, hidup inklusif, ambil bagian dalam setiap aktivitas bernegara, membangun persaudaraan sejati dengan semua orang, itulah hal penting yang ingin ditekankan Mgr. Henri dalam butir memasyarakat yang dihasilkan oleh Perpas Gelar II.

Adakalanya perbincangan dengan kelompok keluarga bukanlah hal-hal yang berat-berat, tetapi hal-hal praktis menyangkut kehidupan sehari—hari mereka misalnya tentang sulitnya izin mendirikan atau merehab kapel atau pendidikan agama anak-anak. Bahkan di stasi pedesaan ada pertanyaan yang unik, misalnya bagaimana pandangan Gereja Katolik tentang inseminasi buatan. Sebisa mungkin Mgr. Henri menjawab dengan kalimat sederhana tapi mengena.

Tak Pernah Menolak

Mgr. Henrisoesanta sering dikesankan sebagai seseorang yang tegas, kaku, mahal senyum. Sebenarnya kalau kita sudah mendekat,  ia tidaklah seseram itu. Hidupnya sangat teratur memang. Segala aktivitasnya seakan terjadwal.  Tubuhnya seperti  punya alarm alami, jam berapa bangun pagi, berdoa, makan, minum, bekerja dan istirahat. Tetapi dalam kunjungan ke stasi-stasi jadwal rutin bisa saja berubah demi bertemu umat.

Di rumahnya,  Mgr. Henri bekerja sampai jam 1 siang, lalu makan, dan beristirahat. Jam 4 sore mulai bekerja lagi atau menerima tamu-tamu, diawali dengan berdoa. Jam 11 malam biasanya ia akan beristirat. Dalam kunjungan ke stasi-stasi tak ada istirahat siang. Pertemuan dimulai pagi hari dan terus berlanjut sampai malam. Selama itu nyaris tak ada keluhan kesehatan atau kelelahan.

Uniknya, jam berapapun ia berangkat tidur, tetap saja ia bangun saat subuh. Dalam suatu rangkaian kunjungan ke Mesuji, rombongan uskup emeritus  baru pulang ke pastoran jam 11 malam. Jalanan buruk, dan mobil pastoran Mesuji rewel di jalan.

Sesampai pastoran belasan umat sudah menunggu. Keluarga koster mengatakan bahwa mereka bersikeras untuk bertemu uskup dan tidak mau disuruh pulang. “Baik, saya akan temui mereka sebentar,” kata Mgr. Henri. Tidak ada rasa jengkel terpancar di wajahnya. Ternyata pembicaraan tidak bisa sebentar. Sekitar jam satu malam, Mgr. Henri baru bisa beristirahat.

Keesokan paginya, anggota rombongan kecil kami sengaja bangun agak siang, karena tidak ada jadwal pertemuan lagi. Sekitar jam 7.30  pastor kepala Unit Pastoral Mesuji, Rm. Suhendri, membangunkan tiap orang dan mengajak sarapan. Mgr. Henri tidak ada di kamarnya. Ditunggu di ruang makan, akhirnya ia muncul dari gereja di samping pastoran. “Saya bangun subuh tadi dan berdoa di gereja. Saya pikir kalian akan  menyusul. Ternyata tidak,  maka saya misa sendiri.” Kami yang hadir  di ruang makan hanya membalas dengan, “Hahahaha… .” Ia tidak dingin dan kaku  seperti yang diduga banyak orang.

Beristirahatlah sekarang dalam bahagia kekal Bapa Uskup Henrisoesanta.   Kami akan bekerja meneruskan apa yang telah engkau awali dengan sangat baik. ***

 

 

 

 

 

Advertisements

JEJAK SANG GURU

Mengajar adalah salah satu sumber kegembiraan Almarhum Mgr. Andreas Henrisoesanta (1933 – 2016) Sampai menjelang tahun 2000 setiap hari Jumat ia mengajar agama di SMP Fransiskus Pasir Gintung dan dilanjut di Universitas Lampung. Sebulan sekali ia mengajar para novis FSGM dan suster-suster yunior Hati Kudus. Ia  masih turun gunung, seminggu sekali mengajar katekese calon baptis di gereja katedral Tanjungkarang. 

Presentation1

Sepulang dari studi di Roma pada 1966, Mgr. Henrisoesanta, waktu itu masih dipanggil sebagai Pastor Henri, menjadi guru dan kemudian kepala sekolah di SMA Xaverius Pahoman. Selain agama dan budi pekerti ia juga mengajar bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Ia seorang poliglot. Meski memegang ijazah doktor hukum gereja, ia tak canggung mengajar anak kecil. Ketika menjadi pastor kepala paroki kedaton, ia bahkan mengajar agama di SD Sejahtera.

Muridnya tak terbilang lagi banyaknya. Kebanyakan mereka mengatakan Mgr. Henrisoesanta mengajar dengan sistematis dan menarik. Ada pula yang mengatakan bahwa ia sedikit pelit dalam memberi nilai. Tapi ada kesan yang hampir sama dikatakan yaitu bahwa Mgr. Henri adalah guru yang tegas, keras bahkan. Ya, sesekali bisa melucu tapi tetap tak menghilangkan kesan kaku.

Ia bukan guru yang lugu, yang tak tahu jurus tipu-tipu para murid. Selembar arsip naskah kotbah misa reuni SMA Xaverius Pahoman pada 1990 membuktikannya. Dalam teks itu Mgr. Henri bercerita tentang peristiwa 20 tahun sebelumnya. Pada suatu hari raya Tionghoa, seorang guru menghadap padanya. Di sebuah kelas hanya 5 anak memakai seragam, sisanya berpakaian bebas.

Kepada guru tersebut  pastor Henri menginstruksikan agar 5 anak tersebut diberi pelajaran, dan sisanya diperintahkan menuju  aula. Di aula Pastor Henri memberi mereka pelajaran khusus, yaitu bahasa Inggris, bahasa Jerman dan agama / budi pekerti. Tanpa jeda, mereka hanya boleh meninggalkan kelas untuk izin ke toilet saja. Jam 9 pagi di luar gerbang ada suara klakson dengan irama khusus, tapi pastor henri tidak peduli. Para “sandera” tak berdaya. Baru pada pk. 12 mereka dibolehkan keluar berdua-dua. Tiba-tiba seseorang berteriak, “Gagal, gagal, kalah!”

Beberapa hari kemudian skenario itu terungkap. Para murid sepakat untuk pergi ke pantai. Itu hari raya Tionghoa, mungkin Pechun,  tapi bukan tanggal merah. Mereka berharap agar anak-anak yang tidak pakai seragam dipulangkan. Seterusnya 5 anak yang memakai seragam seminta  pulang juga karena tak berminat belajar.

Dalam mengenang peristiwa tersebut Mgr. Henri mempertanyakan kepada mantan muridnya yang sedang merayakan reuni, mengapa orang mau bergembira kok dihalangi. Selanjutnya tulis Mgr. Henri, “Orang muda berwatak dinamis, ingin belajar, mau mengembangkan diri tapi perlu pengarahan agar sampai pada tujuan. Sebagai guru diperlukan kesabaran dan harus bisa menghadapi benturan. ”

Pada saat itu Mgr. Henri, menutup kotbahnya dengan kalimat-kalimat yang menyentuh hati. “Pada kesempatan reuni ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas tindakan dan kata-kata saya selama mendidik Saudara di SMA Xaverius; yang menyakitkan, yang menjengkelkan atau menghalangi keinginan Saudara. Saya akui keterbatasan dan kekurangan saya, misalnya terlalu keras, terlalu tertib, kurang kebijaksanaan, dsb. Mudah-mudahan yang jelek dan menyusahkan itu tak disimpan di dalam hati. Yang baik dan berguna saja yang dimekarkan.”

“Terimakasih, kalian pun sudah mendidik saya. Kita saling mendidik dan memberi, saling memperkaya kehidupan. Keberhasilan kita tergantung pada banyak faktor dan banyak orang. Terima kasih kepada Allah, kepada manusia dan lingkungan. Mudah-mudahan reuni meningkatkan kekayaan kita akan bidang rohani, sifat tertib, jujur, kerja keras, juga sabar dan tahu batas. Dengan itu semua kita ikut membangun bangsa dan negara kita, “ demikian Mgr. Henrisoesanta.

Rupanya Almarhum  Uskup  Keuskupan Tanjungkaranng itu sadar bahwa ia sering dicitrakan sebagai orang yang keras. Perjalanan hidupnya sebagai anak transmigran bisa jadi membentuk karakternya. Hidup tentu tak mudah baginya,   berpindah tempat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik dan berpindah sekolah untuk mendapat pendidikan yang lebih tinggi. Menjalani  peralihan dari zaman penjajahan ke masa revolusi kemerdekaan dan kemudian ditahbiskan sebagai uskup pribumi pertama. Ia harus  mengubah pola pikir orang dan mengimplementasikan dalam reksa pastoralnya. Pasti butuh kesabaran, ketegaran dan seperti ditulisnya sendiri, dan kadang kala, berani menghadapi benturan.

Orang tuanya, Yacobus Samadi Kasandikrama dan Jacoba Wasijem meninggalkan Ngijorejo, Gunung Kidul, DIY,  untuk ikut transmigrasi di Metro pada tahun 1939. Dusun yang terletak beberapa kilometer menjelang kota Wonosari pada waktu itu kurang subur, keras  berbatu cadas. Tanah kelahirannya mungkin memberi sedikit pengaruh. Maka, bisa jadi ia adalah jembatan batu kokoh yang mengantar kita,  generasi gereja yang lebih muda,  menyeberang ke masa depan yang lebih baik. Requiscat in pace Mgr. Andreas Soewijata Henrisoesanta.***

Sharing…..

Caring….

Misa Perpisahan Uskup Tanjungkarang

Mgr. A. Henrisoesanta mengundurkan diri, Mgr. A. Sudarsa SCJ pimpin Keuskupan Tanjungkarang

 Setelah menggembalakan umat Keuskupan Tanjungkarang  selama 36 tahun, Mgr. Andreas Henrisoesanta, SCJ  mengundurkan diri dan memasuki masa emeritus (pensiun). Serah terima kepemimpinan umat Keuskupan Tanjungkarang kepada Mgr. Aloysius Sudarso yang juga merupakan Uskup Agung Palembang, dirayakan dalam misa sederhana di Gereja Katedral   Kristus Raja Kamis, 2/8/2012.  Selanjutnya Mgr. Aloysius Sudarso akan menjabat sebagai Administrator Apostolik sampai terpilih uskup yang baru. Continue reading

Mgr. Andreas Henrisoesanta, Uskup Keuskupan Tanjungkarang

Prolog

Mgr. Andreas Henrisoesanta, Uskup Keuskupan Tanjungkarang, genap berusia 75 tahun pada 7 Juni 2010 yang lalu. Dengan demikian ia akan segera menyandang gelar uskup emeritus begitu nanti uskup baru terpilih. Ia ditahbiskan sebagai uskup pada 19 Februari 1976 menggantikan kedudukan Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras SCJ. Tulisan ini pertama kali dimuat di taboit Comunio, media komunikasi Keuskupan Agung Palembang, pada Maret 2001 untuk menyambut 25 tahun tahbisan uskup dan dimuat lagi dalam buku Eritis Mihi Testes pada Juli tahun yang sama untuk memperingati 40 tahun tahbisan imamatnya. Tulisan ini saya post lagi di sini agar sempat dibaca lagi oleh khalayak, sebagaimana fungsi media komunikasi yaitu sebagai penjaga ingatan publik. Oh ya..saya mengapa saya bisa menulis sedemikian “karib” dan “dekat” ? Saya dan seorang teman di kantor kuria keuskupan Tanjungkarang, Elisabeth Rosa dan sopir pribadi beliau Thomas Wahyono, secara intensif  mengikuti kunjungan pastoral beliau ke kelompok-kelompok kecil di stasi-stasi yang jauh dari pusat keuskupan, antara tahun 1995 – 1998. Rombongan kecil kami ditambah pastor paroki menginap tidak saja di pondok-pondok pastoran stasi tapi juga di rumah-rumah penduduk di umbul (desa rintisan transmigran lokal) dengan segala kesederhanaan dan keterbatasannya. Tiap dua minggu sekali kami ke stasi dan menginap 2 – 3 malam di sana. ****

BERTOLAK KE TEMPAT YANG LEBIH DALAM

Usia 25 dan 40 biasa diperingati secara khusus dalam perjalanan hidup sesorang. Yang pertama biasa disebut pesta perak dalam tradisi Barat. Sedangkan yang kedua dalam tradisi Jawa biasa disebut panca windu atau tumbuk alit. Tahun 2001 ini kiranya menjadi tahun penuh rahmat bagi Uskup Tanjungkarang, Mgr. Henrisoesanta, karena kedua perayaan itu bertemu. Tanggal 11 Pebruari 2001 dirayakan pesta perak tahbisan uskup. Dan pada 2 Juli  2001 akan genap ia menjalani 40 tahun hidup imamatnya.

Uskup kedua Keuskupan Tanjungkarang ini ditahbiskan dua puluh lima tahun lalu, menggantikan Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras, SCJ. Kembali ke Indonesia pada tahun 1966, ia langsung berpastoral di Yayasan Xaverius. Tentu saja tanpa meninggalkan tugas pokoknya sebagai pastor paroki.  Setelah serah terima jabatan uskup  13 Mei 1979 resmilah ia menggembalakan umat Katolik Lampung. Menerima tahbisan uskup dalam usia yang cukup muda, 41 tahun, tidakkah ia merasa takut? Banyak tantangan menghadang dan banyak hal harus dibenahi. “Tentu saja takut dan ragu-ragu. Ada resiko gagal. Tapi saya yakin, Tuhan ambil bagian dalam tugas itu dan memikul tanggung jawab bersama,”  katanya.

Berdarah Peziarah

Gereja Lampung adalah Gereja pendatang, sering dikatakan orang demikian. Demikian pula uskup Lampung ini adalah  seorang anak petani transmigran dari Jawa. Ia dilahirkan di Gunung Kidul, 7 Juni 1935. Bersama keluarga besarnya ia ikut transmigrasi ke Metro pada 1939. Metro waktu itu masih daerah hunian baru. Semua pendatang merasakan benar pahit getir hidup sebagai petani perintis. Tak terkecuali Suwiyata, demikian nama kecil Mgr. Henrisoesanta. Ia mengalami tiga zaman yang sama beratnya, penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan masa-masa awal kemerdekaan. Saat itu semua orang harus bergulat dengan ketidakpastian dan kegelisahan.

Lama kemudian justru ia menemukan spirit dari kegelisahan metafisik ini. Apa yang sering diangankan  orang sebagai sebuah tujuan ternyata  kemudian hanya sebuah perhentian. Manusia harus meninggalkan kemapanannya, memulai lagi perjalanan baru, bergulat lagi dengan ketidakpastian  dalam mencari panggilan hidupnya. Manusia tak pernah berhenti pada suatu titik tertentu. Ia bahkan mengangkat proses ini sebagai semangat peziarahan Gereja lokal Lampung. “Mencari untuk menemukan,” demikian ia sering merefleksikan proses itu.

Ia melukiskan peziarahan itu seperti dua murid yang berjalan menuju Emaus (Luk. 24:3–25). Keduanya saat itu dicekam kebingungan yang luar biasa sehubungan dengan kematian dan kebangkitan Yesus, Sang Guru. Tetapi tanpa mereka sadari Yesus sendiri kemudian hadir menemani perbincangan di sepanjang perjalanan itu. “Dalam semangat dialog seperti itulah, Gereja Lampung akan mendapat pencerahan. Roh Tuhan sendiri yang akan mengarahkan, ikut serta dalam proses pencarian itu , “ demikian ia selalu menguatkan umatnya.

Semangat “anti kemapanan” ini mungkin diwarisi dari keluarganya. Ayahnya Jakobus Samadi Kasandikromo, dan Paklik-nya FX. Satijo Atmo Suparto, orang terpandang di Ngijorejo. Keduanya murid Kyai Kasan Iman, seorang guru spiritual terkenal pada masa itu. Atmo Suparto sendiri kemudian menjadi guru spiritual terkenal pula di desanya. Salah satu muridnya bernama Sastro Utomo. Suatu saat kedua guru dan murid itu berdebat sengit tentang makna kehidupan. Kyai Atmo Suparto mengaku kalah.

Konsekuensi dari kekalahan itu, Kyai Atmosuparto berguru kepada mantan muridnya. Bahkan ia mengajak saudara-saudaranya untuk mengkaji ilmu bersama-sama. Sang guru, yang bernama lengkap Eustacius Puspo Utomo mengajar berbagai ilmu kehidupan dari kitab-kitab Jawa yang terkenal. Baru pada tahap akhir ia mengajarkan keutamaan tertinggi yaitu cinta kasih seperti ditunjukkan Yesus Kristus.

Akhirnya dibaptislah tujuh keluarga di Desa Ngijorejo oleh Romo Strater, SJ. Dua di antara mereka adalah kakak beradik Samadi Kasandikromo dan Satijo Atmo Suparto. Inilah cikal bakal umat Katolik Stasi Ngijorejo, Paroki Wonosari. Sang perintis sendiri, kedua kakak beradik itu pada akhir tahun tiga puluhan bermukim di Metro. Bersama sejumlah umat Katolik lain mereka pun merintis Gereja  perdana di tanah Lampung ini.

Mencintai Lampung

Meski tidak dilahirkan di Lampung, ia mengaku sangat mencintai Lampung dengan segala keunikannya. Kecintaannya itu diwujudkan dalam  mottonya, Eritis Mihi testes, ‘Kamu akan menjadi saksiKu.’ Sebuah bola dunia dengan salib menancap tipis di bumi Lampung dipilih menjadi lambangnya. “Salib yang menancap harus tipis sekali supaya dapat berkontak secara perlahan-lahan, tahap demi tahap, hingga akhirnya tercipta persaudaraan sejati yang kokoh di Lampung yang heterogen ini,” demikian Mgr. Henri sering menerangkan makna lambang itu.

Kecintaan akan Lampung juga mungkin karena ingatan kenangan masa kecil yang manis. Setelah menamakan sekolah rakyat di Metro, ia meneruskan pendidikannya Sekolah Menengah Katolik di Pringsewu. Di sana ia beriteraksi dengan banyak anak yang berbeda suku dan agama. “Dulu begitu menyenangkan kami bergaul dengan teman sebaya. Tak ada sekat-sekat primordial suku maupun agama,”  kenang uskup yang hobi main bola ketika muda dulu.

Ia menambahkan itu semua mungkin saja terjadi karena mereka menghadapi tantangan yang sama: penjajahan, penderitaan dan kemelataran sosial. Sebagai contoh ia menceritakan sepenggal kisah di tahun 1949. Dalam agresi II  sekitar pertengahan 1949  Pringsewu diduduki Belanda. Semua pastor dan suster berkebangsaan Belanda tertahan di Palembang, karena keamanan belum pulih. Satu-satunya imam yang berkarya di Lampung adalah Rm. Padmoseputra, seorang imam projo dari Keuskupan Agung Semarang.

Romo Padmo mengajak suster dan anak-anak asrama sekolah Katolik untuk mengungsi ke Padangbulan (sekarang berdiri gua Maria dan rumah retret La Verna). Pengungsian ini bukan untuk mencari rasa aman. Tindakan ini diambil Rm. Padmo untuk membangun kebersamaan dan rasa senasib dengan para pejuang kemerdekaan yang waktu itu mengungsi ke luar kota. “Pilihan Romo Padmo itu adalah sebuah sikap politis. Gereja harus menjadi bagian dari rakyat Indonesia dan berjuang bersama-sama,” kenang Mgr. Henri.

Pendidikan politik yang sederhana dari Rm. Padmo ini ternyata sering  menjadi warna keputusan pastoral di Keskupan yang dipimpinnya. Sesudah sinode 1992 misalnya, ditemukan butir-butir kesepakatan : paradigma baru, memasyarakat, dialog, keterbukaan dan menerima nilai penebusan Kristus. Maka sejak usai sinode sampai sekarang ia masih rajin mensosialisasikan butir-butir kesepakatan itu ke pelosok-pelosok stasi.

Tak jemu-jemu ia menyerukan agar umat Katolik membongkar gheto ekskluvitasnya. Ia juga berkeliling jauh ke stasi-stasi yang terpencil untuk berdialog dengan kelompok kecil umat. “Tak ada duit Katolik, tak ada beras Katolik, “ ia sering bercanda. Artinya semua kegiatan yang berhubungan ekonomi, politik, kebudayaan dan sosial lakukanlah bersama masyarakat. “Ikutlah dalam semua kegiatan di masyarakat, maka kita akan diakui sebagai bagian yang terpisahkan,” tambahnya.

Bertekad untuk Bertobat

Dua puluh lima tahun lamanya kawanan kecil umat Katolik Lampung berada di bawah pimpinan Mgr. Henrisoesanta menapaki panggilan imannya. Dalam masa perjalanan panjang itu tidak selalu menjumpai hal-hal yang menyenangkan. Dalam proses dialog silang selisish dan beda pendapat bisa saja terjadi. Hal ini bukannya tidak disadari oleh Mgr. Henri. Maka dalam misa perayaan syukur pesta peraknya ia secara khusus menyinggung  hal itu.

“Kepada umat Katolik dan masyarakat: yang senang dan gembira atas penggembalaan saya, yang kecewa, jengkel, sakit hati atas tindakan saya, yang bingung atau merasa dikacaukan, dan secara khusus kepada tarekat Imam Hati Kudus. Dengan tulus hati saya banyak berterima kasih atas kebaikan hati anda mendidik saya dengan sikap dan tanggapan anda yang jujur dan terbuka,” demikian antara lain ditekankan Uskup Tanjungkarang dalam di akhir kotbah berjudul Mempertanggungjawabkan Imamatku, 11 Pebruari lalu.

Dalam kesempatan itu ia juga mengakui kekurangannya yang besar. Maka ia mengungkapkan salah satu tekadnya adalah bertobat. “Bertolaklah  ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan,” demikian Santo Bapa Yohanes Paulus II dalam surat apostolik Novo Millenio Ineunte. Mgr. Henri mengaitkan seruan Bapa Suci ini dengan Injil Matius 28 : 19, Pergilah .….Jadikanlah semua bangsa muridKu. “Dalam mewartakan Injil, saya akan berusaha bertolak ke tempat yang lebih dalam yakni hati manusia,”  tekadnya.

Di usia yang terbilang senja Mgr. Henri masih sering berkeliling ke stasi-stasi di pedalaman. Perihal  kegemarannya ini ia mengatakan bahwa ia hanya sekedar meneladan Yesus: berkeliling, mengajar dan mewartakan, demikian terungkap dalam kotbah berjudul Mempertanggungjawabkan Imamatku.

Daya tahan fisiknya memang masih cukup mendukung untuk itu. Ia tahan duduk berdialog sehari suntuk. Ia pun bisa makan apapun yang dihidangkan umat kecuali “hotdog.” Seusai bertemu umat di stasi, malam hari ia menginap di pastoran. Kalau ada pertandingan sepak bola di televisi ia akan nonton, sehingga pastor yang sudah lelah seharian ikut berkeliling jadi tak enak hati membiarkannya sendirian. Dan bisa dipastikan besok ia akan bangun paling pagi, beribadat dan bersiap untuk perjalanan ke stasi lagi. Tahun 1995, 1997 dan 1998 hampir sepanjang Jumat sampai Minggu  ia berada di pedalaman.

Irama hidupnya spartan. Sepulang dari stasi, hari Senin pagi ia sudah duduk di ruang kerjanya lagi, mempelajari surat-surat atau menerima tamu. Setelah istirahat siang selama dua jam, sekitar pukul empat sore ia siap bekerja lagi. Tidak jenuh Bapa Uskup? Menjawab pertanyaan begini biasanya ia akan tertawa, “ Teman saya banyak….itu…,” ia menunjuk burung-burung di kandang dan sederet buku tebal di rak. Bersama buku-buku dan doa-doa ia melayari ruang dan waktu yang tak berbatas.