Société des Missions Etrangères de Paris, Bertumbuh Bersama Gereja Lokal

Imam Diosesan, Giginya Uskup

Imam diosesan itu ibarat giginya uskup. Demikian Pastor M. Dwijowandowo, pernah menulis dengan gaya yang renyah. Maksudnya dengan memiliki sejumlah imam diosesan, uskup mempunyai kekuatan untuk menjalankan karya penggembalaannya sebab para imam diosesan akan bekerja secara menetap di keuskupannya dan di bawah pimpinannya.

Tetapi karena berbagai kendala tidak selalu mudah bagi sebuah keuskupan untuk mendidik dan memiliki imam diosesannya sendiri. Di Keuskupan Tanjungkarang, tahun 1968  Rm. Marselinus Dwijowandowo ditabiskan sebagai imam diosesan pertama. Lama kemudian baru ditahbiskan satu lagi imam diosesan pribumi.

Memasuki tahun 1970-an jumlah umat semakin berkembang.   Tenaga imam SCJ yang selama ini berkarya di Keuskupan Tanjungkarang dan Palembang pun terbatas. Mungkin hal-hal tersebut  menjadi  alasan Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras SCJ meminta tenaga Serikat Misi Imam-imam Praja dari Paris atau dikenal sebagai MEP untuk berkarya di Lampung. Menjelang penghujung dekade 1970-an uskup pertama keuskupan Tajungkarang itu mendapat balasan surat dari pimpinan MEP bahwa untuk Lampung akan dikirim 4 orang misionaris. Mereka adalah Vincent le Baron (31), Paul Billaud (32), Joseph Gourdon (33) dan Ferdinando Pecoraro (57).

mep2b0012bmodified1

  • Berdiri kika : Jo Gourdon, Vincent le Baron dan Paul Billaud. Duduk : Ferdinando Pecoraro.
  • Foto 1978

Begitu membaca usia Pastor Percoraro yang uzur untuk ukuran seorang misionaris, Mgr. Hermelink menolaknya. “Tiga pastor yang muda dipersilakan datang,” tulisnya dalam surat. Pasti tidak mudah untuk orang yang berusia hampir 60 tahun untuk menyesuikan diri dan berpastoral di tempat baru, meski sebelumnya ia memilki “track record” yang luar biasa hebat sebagai misionaris di Tibet dan Taiwan.

Pastor Pecoraro bisa memahami penolakan itu. Tetapi 3 pastor muda itu menolak datang ke Lampung jika Pastor Peco tidak bersama mereka. “Peco itu payung kami. Dia diterima, atau tidak satu pun dari kami yang berangkat,” demikian suatu saat Pastor Vincent Le Baron bercerita tentang peristiwa hampir 40 tahun lalu itu. Mgr. Hermelink mengalah. Mereka berempat akhirnya tiba di Lampung pada 18 Maret 1978. Selama tiga bulan mereka mengenali keuskupan Tanjungkarang dan selama 6 bulan selanjutnya mereka mempelajari bahasa Indonesia di Bandung. Awal 1979 mereka kembali ke Lampung dan mulai bekerja untuk Keuskupan Tanjungkarang.

Pastor Pecoraro, yang tertua di antara mereka dan biasa dipanggil Simbah oleh umat,  berkarya di Paroki Katedral Tanjungkarang.  Ia kemudian menjadi Vikaris Jenderal atau wakil uskup, Mgr. Andreas Henrisoesanta. Usia lanjut tak mengahalanginya untuk mendatangi umat di desa-desa terisolir dalam wilayah paroki ini. Ia menghabiskan sisa usianya di paroki Tanjungkarang, sampai akhirnya penyakit kanker hati dan pankreas mengantarnya pada ajal, 26 januari 2002 di Charmauvillers, Perancis.

Pastor Vincent le Baron ditunjuk untuk bekerja di Paroki Kotagajah dan Pastor Joseph Gourdon di Paroki Pringsewu. “Kami berempat tidak bisa tinggal bersama dalam satu rumah,” kata Pastor Jo suatu saat. Ia melanjutkan sambil tertawa kecil, “ Vincent dan Paul bertengkar terus kalau tinggal bersama. Hanya masalah sepele. Misalnya Vincent merokok, abunya tercecer di mana-mana. Atau ia masak mie, bungkusnya tidak dibuang di tempat sampah. Paul orang yang selalu rapi. Dan Peco, tahu sendiri, seperti itu orangnya.”

Mungkin mereka masing-masing punya karakter mandiri yang unik.  Mereka tidak hidup berkomunitas dengan sesama pastor MEP, melainkan membentuk kolegialitas dengan imam-imam yang lain. Mereka sepenuhnya mengabdi kepada umat keuskupan di mana mereka berkerja di bawah wewenang uskup setempat.

Kehadiran keempatnya memberi warna baru bagi Gereja Lampung. Sebelumnya umat hanya mengenal para pastor religius dari kongregasi SCJ. Sekarang umat mengenal lebih dekat sosok seorang imam projo dengan gaya komunikasi dan pastoral yang berbeda. Memang sebelum mereka datang, di Keuskupan Tanjungakarang pernah berkarya dua pastor projo MSP dari Filipina. Tapi mereka tidak lama bekerja di Lampung.

Mengenal Serikat MEP

Société des Missions étrangères de Paris atau MEP didirikan  tahun 1658 berdasar pemikiran Alexandre du Rhodes SJ untuk menanggapi situasi misioner zaman itu. Kerajaan Spanyol dan Portugal menguasai berbagai belahan bumi. Dengan kekuasaan yang sangat besar tersebut kedua kerajaan itu memonopoli penyelenggaraan karya misioner dan seringkali hanya seturut cara yang menguntungkan mereka sendiri. Dengan situasi semacam ini dibutuhkan suatu  presbiterium yang terdiri dari klerus sekulir pribumi dan juga dipimpin oleh hirarki pribumi. Dengan demikian uskup dan imam setempat dapat berkarya secara lebih sempurna, tidak bergantung kepada dua kerajaan itu.

Beberapa orang di Perancis sepakat untuk menjalankan model misi di bawah bimbingan langsung Tahta Suci, tanpa bergantung kepada dua kerajaan tersebut. Untuk itu Vatikan mengangkat François Pallu, Pierre Lambert de la Motte dan kemudian Ignace Cotolendi, anggota pertama serikat MEP, sebagai Vikaris Apostolik yang akan diutus ke Asia. Tahun 1659 Propaganda Fide menyerahkan kepada mereka pedoman pokok karya misioner mereka.

Beberapa kutipan antara lain : Janganlah berusaha untuk meyakinkan bangsa-bangsa agar mereka mengubah kebiasaan dan adat mereka kecuali kebiasaan itu bertentangan dengan moral. Sebaliknya para anggota serikat MEP diminta agar mendorong bangsa-bangsa di tempat mereka berkarya untuk mencintai dan menjunjung tinggi tradisi mereka sendiri. Mereka hanya membawa iman kepada bangsa-bangsa dan tidak sama sekali “memindahkan Perancis, Itali, Spanyol, dll ke salah satu negara lain.”

Tahun 1660 Mgr. Pallu, Mgr. De la Motte dan Mgr. Cotolendi bersama beberapa imam sekulir berangkat menuju Asia. Mereka harus berjalan kaki sebab Portugal menolak membawa mereka dengan kapal-kapal mereka, sementara pemeritah kolonial Inggris dan Belanda menolak misionaris Katolik. Selama berbulan-bulan mereka berjalan berkelompok melewati Irak, Iran, dan India. Ada juga yang mencapai Thailand, Vietnam dan China. Beberapa anggota meninggal dalam perjalanan.

Mgr. Pallu bersama empat imam dan dua awam dapat mencapai Bantam (sekitar Jakarta sekarang). Merekalah yang mengawali karya misi MEP di Indonesia. Kerena Perancis dan Belanda bermusuhan waktu itu, rumah mereka ditutup pada tahun 1684.

MEP dicatat dalam sejarah Gereja Indonesia sebagai serikat misioner pertama yang menanamkan iman Katolik di antara kaum pribumi. “Upaya pertama untuk bermisi di antara orang Indonesia pribumi tidak dilaksanakan oleh imam-imam Belanda tetapi oleh imam-imam Perancis.  Pada tahun 1824 sekitar 30 budak dan mantan budak dibawa dari Nias oleh para saudagar China. Di Penang mereka dibaptis oleh seorang imam dari Société des Missions étrangères de Paris. Setelahnya, dua orang imam muda, Jean-Pierre Vallon dan Jean-Laurent Bérard berangkat ke Nias. Ditemani seorang katekis asal Nias dan isterinya mereka tiba di Gunung Sitoli pada Maret 1832. Kedua imam itu meninggal karena demam. Dua orang anggota Serikat MEP diutus untuk menggantikan mereka. J.J. Candhal dan A. Galabert tiba di Padang pada 1834. Mereka menghadapi kesulitan dalam hal politik dan administratif dengan pemerintah kolonial Belenda. Pada April 1835 mereka terpaksa meninggalkan Padang.” (Karel Steenbrink, Orang-orang Katolik Indonesia jilid I, Ledalero, Maumere, 2006, hlm. 33-35).

Jaman telah berganti. Negara-negara di Timur yang dulu merupakan tanah jajahan telah merdeka. Yang dulu merupakan tanah misi kini telah berdiri  hirarki pribumi yang mandiri. Itulah memang yang dicita-citakan para pendiri MEP. Tujuan pokok pendirian MEP sudah tercapai. Sesorang mengatakan, “Tampaknya MEP didirikan untuk menghapuskan diri. Mereka memandang diri berhasil jika pelayanannya tak dibutuhkan lagi !” Jawab mereka, “Dipandang dari segi tertentu, memang demikianlah.”

Saat ini masih ada lebih dari 200 imam MEP yang berkerja di berbagai negara,  menemani para imam setempat di bawah pimpinan uskup di mana mereka berkarya. Di tempat-tempat tersebut mereka berusaha agar panggilan biarawan-biarawati dan imam diosesan tumbuh subur. Meski panggilan imamat di Perancis bahkan Eropa sudah amat jarang, mereka tidak menerima anggota dari negara di mana mereka bekerja.  Tetapi mereka bersedia membantu imam-imam diosesan yang akan melanjutkan studi di Perancis demi pelayanan kepada keuskupan mereka sendiri.

Dalam buku kecil peringatan 350 tahun berdirinya serikat MEP, mereka mengajukan pertanyaan reflektif kepada diri sendiri. “Apakah serikat ini masih berguna ?” Kalau pertanyaan ini diajukan kepada umat Keuskupan Tanjungkarang, tentu akan dijawab secara positif. Tidak berlebihanlah kiranya jika segenap umat Keuskupan Tanjungkarang mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan atas kehadiran mereka di Lampung. Lewat pemberian diri yang tulus mereka telah menjadi benih-benih awal tersemainya panggilan imam diosesan di Lampung.

Romo “Simbah” Peco, Romo Jo, Romo Vincent, dan Romo Paul : mercy beacoup, terima kasih, matur nuwun. Romo Peco telah hidup dalam damai surgawi. Semoga romo bertiga tetap gembira berkarya, melewatkan masa tua, menemani kami  di bumi Ruwa Jurai ini. ***

*) Bagian kedua tulisan ini disadur dari buku kecil peringatan 350 tahun berdirinya Serikat MEP dan sumber lain. 

 

 

 

 

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s