Stasi Tatakarya, Paroki Murnijaya

MELACAK JEJAK JEMAAT PERDANA WAY ABUNG 

Gereja Stasi Tatakarya, 2015

Buku adalah mesin waktu. Ia mengantar pembaca menerabas sekat-sekat,  menikmati perjumpaan dengan peristiwa dan orang-orang dari ruang dan masa yang berbeda. Berbekal buku berjudul Th. Bosrt SCJ, Aotubiografi Seorang Misionaris, saya mencoba melacak jejak para pemula di stasi Tatakarya.

Sekarang Tatakarya merupakan salah satu stasi Paroki Murnijaya (sebelumnya disebut Dayamurni). Sesungguhnya tempat ini adalah titik awal di mana benih iman Katolik tumbuh di wilayah Way Abung.  Di sini pula untuk pertama kalinya seorang pastor, Martinus van Ooij SCJ tinggal menetap untuk melayani umat. Sebelumnya Romo Borst disusul para pastor yang lain, melayani dari paroki Kotabumi. Romo van Ooij pula yang pada tahun 1982 memulai pembangunan  pusat paroki di Murnijaya karena tempat terakhir ini terletak di tengah-tengah dan dipandang lebih bisa memberi harapan untuk berkembang.

Dengan diantar oleh Yohanes Parijo,63, saya menziarahi perjalanan Rm Borst di Tatakarya dan sekitarnya. Ia juga seorang mantan katekis yang bermukim di wilayah ini sejak 1975, sehingga bisa menjadi narasumber ketika saya kehilangan missing link antarperistiwa. Perjalanan saya tentu tidak dengan  jeep tua diselingi jalan kaki menembus alang-alang setinggi orang seperti Romo Bosrt dulu.

Berikut narasi Romo Borst yang saya sadur secara agak bebas agar bahasanya menjadi aktual tanpa mengubah maknanya.

“Tahun 1965 saya dengar akan dibuka transmigrasi baru, Way Abung I dan II, ± 25 km dari Kotabumi. Jalannnya masih dapat ditempuh dengan mobil. “Lahan baru” ini sama sekali tidak berarti. Belum ada seorang katolik di sini. Sdr. Muhadi menerima saya dalam gubuknya. Sewaktu sekolah ia pernah menjadi katekumen dan ingin melanjutkan pelajaran agama” – halaman 69. 

Romo Theodorus Borst, SCJ

Dalam catatan itu rupanya Romo Bosrt pun tidak bisa banyak berharap. Proyek transmigrasi Way Agung I dan II lebih merupakan rintisan dan gugur prematur. Pemukiman yang semula diangankan meliputi lahan yang luas di timur laut Kotabumi itu mangkrak karena meletusnya peristiwa G30S. Sekitar Agustus 1965 pemerintah  telah mengirim beberapa angkatan trasnmigran ke dua desa yaitu Tatakarya dan Purbasakti. Selanjutnya proyek terhenti. Proyek transmigrasi Way Abung baru dimulai kembali sesudah tahun 1970.

Pak Muhadi yang dicacat Rm. Bosrt dalam bukunya, masih bisa ditemui dan mampu mengingat dengan baik peristiwa lima puluh tahun lampau itu. Ia adalah salah satu dari 49 keluarga peserta transmigrasi umum angkatan pertama yang dimukimkan di wilayah ini. Yulius Lilik Argo Reni Muhadi, 76, bersama isternya Lucia Sudarni, 77, tiba Tatakarya – dulu disebut Proyek Rukti – pada Agustus 1965. “Dulu dari Jawa dijanjikan bahwa tujuan kami itu Belitang. Tetapi entah mengapa kami diturunkan di sini,” katanya. Tanah yang dijanjikan pemerintah hanyalah hutan sekunder, belukar dan rawa-rawa. Tak ada bantuan apapun dari pemerintah untuk mengolahnya, bahkan untuk bertahan hidup.

Selama seminggu mereka ditumpangkan di rumah keluarga orang Lampung asli di desa Surakarta. Kemudian para pemukim baru tersebut diperintahkan membuat bedeng di desa Bandar Abung (dulu bernama kampung Ajan). Kepada mereka juga ditunjukkan kawasan akan dijadikan kampung pemukiman mereka nantinya, masing-masing kepala keluarga mendapat ¼ hektare yanng harus dibuka sendiri.

Muhadi menginngat betapa sulitnya awal kehidupan mereka di sini. Dari 49 KK akhirnya hanya tersisa 13 KK saja yang bertahan di sini. Hidup menjadi lebih sulit ketika pecah tragedi September 1965. Proyek transmigrasi Way Abung terhenti. Para staf unit transmigrasi tak pernah muncul lagi. Untuk bertahan hidup para transmigran bekerja semampunya, buruh kepada penduduk  Lampung asli untuk mendapatkan upah bahan makanan. Kadang mereka pergi ke hutan atau rawa mencari apapun yang bisa menopang hidup.

Suatu hari di tahun 1966 Muhadi pergi ke hutan. Di rumah hanya ada isterinya dan dua anaknya yang masih kecil. Tiba-tiba Romo Borst yang dikawal dua tentara dari Kodim muncul di gubuk mereka. “Saya berkata ‘Berkah dalem Romo’ sambil saya salami dan persilakan masuk,” kata Sudarni, isteri Muhadi. Pasutri ini pernah menjadi katekumen di Jawa. Bahkan ke tanah rantau ini mereka membawa rosario dan buku Padupan Kencana. Pada kunjungan Romo Borst yang ke-3 keluarga kecil ini dibaptis tanpa proses katekumenat lagi.

Sesudah itu ada sekitar 27 KK yang berminat mengikuti pelajaran agama di Tatakarya. Romo Borst mengutus Darjono, katekis pembantu dari Propan untuk mengajar para magangan. Tahun 1967 mereka membangun gereja sederhana, berdinding papan dan beratap welit, di atas tanah jatah transmigrasi yang diberi nama Gereja Sang Timur. Misa sebulan sekali dapat dilaksanaan di gereja setelah sebelumnya dilaksanakan di rumah-rumah umat. Kalau tak ada misa diselenggarakan ibadat sabda dipimpin oleh Muhadi.

Yulius Lilik Argo Reni Muhadi dan Lucia Sudarni

“Suatu saat datang seseorang dari Purbasakti meminta Romo rawuh. (dari Tatakarya) ke tempat itu belum ada jalan, tetapi dapat ditempuh melalui alang-alang. Ketika saya menuju ke sana, ternyata lupa petunjuk  jalannya, tetapi akhirnya sampai juga setelah bertemu beberapa orang, salah seorang di antaranya guru. Saya berjanji akan datang lagi berkunjung bila ke Tatakarya. “ – halaman 70.

Petrus Matyani adalah guru yang dijumpai oleh Romo Bosrt di Purbasakti pada tahun 1966 itu. Ia adalah transmigran gelombang pertama di Purbasakti, hampir bersamaan dengan kedatangan transmigran di Rukti. Ada sekitar 25 KK yang bersedia mengikuti plejaran agama di sini. Tahun 1967 mereka mendirikan gereja di pekarangan H. Mulyodiharjo. Tahun 1970 kapel itu dipipindahkan dekat sekolah tamansiswa dan pada 1981 dibangun permanen di lokasi sekarang, di muka rumah keluarga Matyani.

Di antara Tatakarya dan Purbasakti ada kampung orang asli Lampung bernama Surakarta. Di tempat inilah dulu, para tarnsmigran sementara waktu ditumpangkan.

“… Pulang ke rumah, di Surakarta, kampung orang asli, tiba-tiba mobil saya dihentikan oleh seorang anak, Cyrius namanya. Bapak Simpson seorang guru, mempersilahkan saya mampir. Keluarga ini kemudian menjadi Katolik dan menyediakan tempatnya untuk mendirikan gereja.” – halaman 70.

Keluarga Simpson Simbolon semula penganut Protestan. Karena tak menemukan anggota jemaat yang lain mereka kemudian bergabung dengan gereja Katolik. Selain mereka ada tiga keluarga katolik di surakarta yang mengikuti mereka bergaung dalam gereja Katolik. Jadi sebelum tahun 1970 ada 3 gereja di wilayah Way Abung, yaitu Tatakarya, Purbasakti dan Surakarta. Tetapi pusatnya tetap di Tatakarya.

Proyek Way Abung kemudian terhenti. Baru diteruskan sesudah tahun 1970.  “Di Tatakarya dan Purbasakti tak ada lagi penempatan transmigran dalam skala besar. Paling-paling hanya trasmigrasi lokal atau spontan, itupun di areal yang sangat terbatas,” demikian ditambahkan oleh Parijo. Pertumbuhan jemaat Katolik pun surut karena berbagai sebab.

Tetapi sebaliknya di wilayah Way Abung yang lain dibuka pemukiman secara masif. Dimulai dari Dayasakti, Dayamurni dan seterusnya. Akhir dekade 1970-an jalan tembus dari arah Terbanggi Besar mulai dirintis, sehingga tak lagi harus memutar melewati Kotabumi. Desa dan kota kecil mulai berkembang hingga kini, begitu juga jemaat Katolik.

Mengakhiri tulisan ini perkenankan saya kembali menyadur Romo Borst.

Mereka (jemaat Katolik) menjadi terang dunia hendaknya. Kehidupan Kristiani hendaknya membawa kebahagiaan kepada orang yang belum mengenal dan mencintai Yesus. Gereja katolik berkembang, tetapi tiada akan selesai dalam perutusannya di dunia. “ – halaman 87.

Requiescat in pace Romo Borst. 

Bocah-bocah Way Abung

Yohanes Parijo

Advertisements

Stasi Srimenanti, Paroki Sribawono

Paroki Sribawono  tahun ini merayakan 10 tahun usianya. Paroki yang meliputi kawasan pesisir timur Sumatera ini terdiri dari 23 stasi, yang berdasar kedekatan geografisnya dihimpun dalam 6 wilayah. Stasi-stasi tersebut pernah sebagian dilayani dari paroki Metro dan Kotagajah. Sebagai unit pastoral pernah pula dilayani dari Paroki Telukbetung.

Berikut ini saya menuliskan riwayat stasi Srimenanti, di mana gereja pusat paroki berdiri, sebagaimana diceritakan oleh beberapa narasumber. Storyteller kita kali ini  adalah Yustinus Tamino 73, Agapitus Suyatmin 66, Victoria Iswantiatun 57 dan Yacobus Sadimin 60, yang merupakan genererasi umat perdana dan generasi kedua stasi ini.  Desa Srimenanti juga merupakan “inti” dari kota kecamatan Bandar Sribawono.

 

Gereja St. Thomas, Paroki Sribawono

Sribawono, Tanah Harapan

Wilayah yang kini dikenal dengan nama desa Srimenanti, Kecamatan Bandar Sribawono dibuka 1952 sebagai daerah transmigrasi Biro Rekonstruksi Nasional (BRN). Mereka adalah  mantan veteran perang kemerdekaan yang disipilkan. Ada sekitar 200 kepala keluarga dimukimkan di tempat ini, berasal  dari di Lampung Tengah dan Jawa Barat. Lokasi BRN terletak sekitar Danau Kemuning sekarang.

Sebagaimana peserta transmigrasi lain, para veteran BRN mendapat 2 hektare ladang dan ¼ hektare pekarangan. Ladang dan pekarangan dibuka oleh pemerintah. “Tahun 1953, masih ada alat-alat berat bekas pencetakan ladang di sana, “ Agapitus Suyatmin mengenang. Ia ingat para kepala rombong pembukaan transmigran BRN itu adalah Surowitono dari Metro, Ruslim Mangkuprojo dari Metro, Ibrahim dari Metro dan Haji Embeng dari Jawa Barat.

Pada dasarnya di seluruh kawasan yang kini dikenal sebagai Sribawono hanya transmigrasi BRN ini yang dibuka pemerintah. Pembukaan ladang dan pemukiman baru sangat terbatas karena adanya tanah register kawasan hutan lindung. Sebagian orang-orang yang ingin truka, merintis perladangan baru, ikut para veteran tersebut. Wilayah Sribawono yang berpusat di desa Srimenanti cepat berkembang. “Dulu wilayah itu lebih dikenal dengan nama Puseran. Disebut begitu karena ada 20 batang jambu air yang buahnya sangat lebat. Bahasa Jawanya muser, “ Yacobus kata Sadimin.

Di luar kawasan trasnmigrasi BRN itu dulu dikenal dengan nama Mataram Baru. Di kawasan ini masih banyak tanah-tanah kosong milik marga Lampung. Orang-orang dari berbagai tempat yang ingin  mengadu nasib di Sribawono bisa membeli kaplingan tanah kepada pemiliknya. Satu kapling tanah luasnya sekitar ½ hektare. Biasanya mereka menempati tanah di luar Puseran sampai simpang pasar Sribawono.

Sementara itu,  daerah eks transmigrasi di sekitar Lampung Tengah telah menjadi sangat padat. Generasi kedua transmigran harus mencari lahan baru untuk bertani. Diceritakan oleh Suyatmin bahwa keluarganya yang berasal dari Wonogiri mengikuti program transmigrasi umum yang diselenggarakan pemerintah para tahun 1951. Bersama banyak kerabat sedesanya mereka di tempatkan di bedeng 63, Sekampung, Metro. Tetapi kondisi tanah tidak seperti yang diharapkan. “Tanahnya berpasir, sehingga tidak cocok untuk pertanian,” katanya. Akhirnya banyak transmigran ini yang berpindah di Sribawono. Maka sampai kini di desa Srimenanti banyak bermukim anak keturunan transmigran asal Wonogiri.

Pasutri Tarsisius Isti Susanto dan Rosalia Ismiyati, umat Katolik pertama di stasi Srimenanti, Sribawono

Benih Iman Jemaat Perdana

Sebelum tahun 1965 tidak terdengar seorang pun yang secara terbuka mengaku beragama Katolik di antara para pemukim baru tersebut. Yacobus Sadiman bercerita bahwa pada masa itu kehidupan bergama menjadi urusan pribadi tiap orang. Dalam KTP, seseorang boleh mencantumkan agamanya, boleh tidak mencantumkan, bahkan boleh mencantumkan kata: NON. Tahun 1965 ia baru kelas 5 SD, tapi banyak tahu situasi desanya sebab ia anak kamituwa.  “Bapak saya buta huruf, maka saya menjadi semacam sekretarisnya, “ katanya. Dengan begitu ia banyak tahu kondisi sosial desanya.

Sesudah meletusnya G30S, pemerintah Indonesia menerapkan politik agama lewat TAP MPRS XXVII/1966. Setiap warganegara  harus memeluk dan menjalankan ritual salah satu dari lima agama yang diakui negara yaitu Islam, Hindu, Buda, Kristen Protestan dan Katolik. Perlakuan aparat kepada penduduk di desa-desa bisa sangat keras. “Kalau tidak patuh bisa di PKI-kan dan digebuki,” kenang Sadimin. Setiap ada hajatan, selalu ada pidato dari aparat tentang pentingnya menjalankan kewajiban agama. Batalyon Kompi 2 yang bermarkas di Srbawono waktu itu ikut mengawasi pelaksanaan program “operasi mental” itu.

Berdasar aturan baru itu,  sepulang rapat di kawedanan Sukadana, Lurah Sribawono, Giyin Ranupuspito, memanggil semua penduduk. Semua orang harus punya surat-surat kependudukan antara lain KTP dan surat nikah. Ambil gampangnya saja mereka yang tak bisa menunjukkan surat nikah,  dinikahkan kembali secara Islam. Tetapi Pak Lurah juga memberi pengumuman, bahwa siapa yang merasa “tidak sreg” dengan agama Islam, boleh memilih, menjalankan dan mendirikan rumah ibadat masing-masing.

Waktu itu ada 13 KK yang mengaku bergama Buddha dan mereka boleh mendirikan wihara di kampung itu. Tarsisius Isti Susanto, yang sejak 1963 bermukim dan membuka usaha bengkel sepeda di simpang pasar Sribawono mengemukakan bahwa sejatinya ia seorang penganut Katolik. Maka ia pamitan untuk menjalankan agamanya, meski hanya keluarganya sendiri yang Katolik di desa itu.

Segera saja beberapa orang menyatakan ikut bergabung dengannya. Mereka antara lain keluarga Karyotomo, Keluarga Tukijo dan isterinya Tukiyem, beberapa bujangan antara lain : Tamino, Sipan, Katiman (dari Mandalasari) dan Suraji. Suyatmin, anak Karyotomo,   memperkirakan jumlah magangan waktu itu ada 20 orang. Beberapa dari mereka telah mengenal agama Katolik sejak dari Jawa tetapi belum dibaptis, termasuk keluarga besarnya. Isti Susanto sendiri yang mengajar katekese di rumahnya.

Narasumber yang lain yang juga termasuk generasi pertama ini adalah Yustinus Tamino asal Wonogiri. Ia  tiba di Srimenanti tahun 1964 menyusul  kakaknya pasutri Tukijo dan Tukiyem. Mereka bertiga juga telah mengenal agama Katolik sejak dari Jawa. Setelah setahun mengikuti magangan, jemaat Katolik perdana ini dibaptis oleh Romo Albert Grein, SCJ di rumah Isti Susanto.

Selain pelajaran agama, jemaat perdana ini juga melaksanakan doa bergilir dari rumah ke rumah.  “Jadwal Misa Kudus dulu tidak pasti, pokoknya kalau Romo akan datang, kami diberitahu,” kata Suyatmin. Tapi bila tidak ada Misa Kudus, umat tetap melaksanakan ibadat pada hari Minggu. Biasanya Romo datang ke Srimenanti dalam satu rangkaian kunjungan ke Jabung, di sana juga ada komunitas jemaat Katolik.

Seingat Suyatmin, cukup lama mereka menggunakan rumah Isti Susanto untuk kegiatan keagamaan.  Mungkin sampai sekitar tahun 1968, saat mereka mampu mendirikan kapel sendiri. Kapel yang mereka dirikan itupun sangat sederhana  pada mulanya. Bangunan itu berlantai tanah dan berdinding papan tiga per empat.  Maksudnya, dindingnya tak utuh sampai menyentuh atap. “Pokoknya kalau orang berdiri tidak terlihat dari luar, “ katanya.

Isti Susanto sendiri, yang merupakan umat Katolik pertama Stasi Srimenanti merupakan seorang petani sederhana, berasal dari desa Turi,  Tempel, Sleman, DIY.  Diceritakan oleh Victoria Iswantiatun, anaknya, dan Yacobus sadimin, menantunya, ia dilahirkan sekitar tahun 1938 dan meninggal dunia pada tahun 1999. Pada tahun 1957 ia dan isterinya Rosalia Ismiyati, pergi ke Lampung mengikuti program transmigrasi korban bencana Merapi. “Hari ini mereka nikah, besoknya berangkat ke Lampung. Untuk ikut transmigrasi kan syaratnya harus sudah menikah,” kata Sadiman.  Mereka ditempatkan di Raman Fajar, Kecamatan Raman Utara.

Di Raman Utara, kondisi ekonominya tidak membaik, sawah pun sering kebanjiran. Maka pada tahun 1963, ia  membawa isteri dan seorang anak balitanya pindah  ke desa Srimenanti. Banyak orang dari berbagai tempat mulai truka, atau merintis perladangan baru. “Ia membuka bengkel sepeda di tempat yang kini dikenal sebagai simpang pasar Sribawono. Jaman itu, katanya, orang yang punya pompa sepeda hanya satu orang,” kata Sadimin. Saat itu wilayah tersebut  belum ramai, tetapi cukup memberi harapan.

Isti Susanto, meninggalkan desanya di Jawa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Lampung. Sebagai petani ia bekerja keras mengolah tanah, berharap memperoleh panenan berlimpah dan hidup yang lebih berkah. Rupanya Gusti Yesus yang diimaninya,  menuntunnya ke lahan pertanian yang lain, meski ia tak punya dasar pendidikan katekese. Ia dipanggil untuk menumbuhkan dan merawat benih  iman umat perdana jemaat Katolik di stasi Srimenanti, Paroki Sribawono. Dan ia tak ragu menjawab panggilan itu.

Storyteller : serah jarum jam dari atas kiri : Yustinus Tamino, Apaitus Suyatmin, Yacobus Sadimin dan Victoria Iswantiatun

Danau Kemuning atau lebih dikenal dengan nama Kali Mesin, sekarang

Vihara yang berdiri hampir bersamaan waktunya dengan gereja

Narsis

 

Romo Martinus van Ooij : Hadir dan Berkarya bagi Umat Sederhana.

#‪#‎Sareng_Gusti_Lumampah_ing_Tanah_Berkah_Narasi_Kecil_tentang_Jemaat_Perdana_Gereja_Katolik_Lampung‬#

(**..**) TENTANG PARA LEGENDA (**..**)

Bagi umat Katolik generasi pertama di Paroki Kotagajah nama Romo Martinus Antonius van Ooij, SCJ bersama pendahulunya Romo C. Van Vroenhoven dikenang sebagai “legenda”. Mereka berdua – tanpa merendahkan jasa para pastor yang lain – mengawali pelayanan kepada komunitas-komunitas kecil di mana jemaat Katolik perdana bermukim.

Rm. Martin van Ooij

Akhir dekade 50-an dan awal dekade 60-an wilayah yang membentang dari Lampung bagian tengah hingga menjelang pantai timur ini dibuka sebagai pemukiman baru. Di antara para pemukim baru itu terselip beberapa orang atau keluarga Katolik. Saat itu kadang mereka belum membentuk komunitas. Pertemuan dan pendampingan para pastor meneguhkan mereka untuk setia sebagai pengikut Kristus. Bersama pastor mereka mencari saudara seiman dan perlahan membentuk  komunitas-komunitas kecil.

Bagi Romo Martin van Ooij sendiri perjumpaan dan pendampingan kepada jemaat perdana di wilayah yang kini disebut sebagai paroki Kotagajah meyakinannya bahwa cara berpastoralnya bukanlah sesuatu yang mustahil. Pada waktu itu pelayanan yang umum diberikan oleh para misionaris adalah melalui sekolah, klinik atau rumah sakit. Tetapi Romo Martin berkeyakinan bahwa pendampingan kepada jemaat tidak harus melalui sekolah formal, bahkan tidak pula harus dengan bersegera mendirikan gedung gereja.

Ia terus berjalan, mencari, mengunjungi dan menemani para pemukim baru tersebut. Ia bahkan kadang tak berbuat apapun, tetapi belajar memahami adat, budaya dan pemikiran mereka. Dalam kunjungan jemaat ia bahkan tidak mengutamakan pengajaran katekismus. Tentu, Romo Martin sangat percaya bahwa pendidikan adalah salah satu cara memajukan kehidupan masyarakat. Tanpa pernah mendirikan sekolah formal, Ia banyak membantu pendidikan anak muda di wilayah Kotagajah. Pada saat yang tepat hasil pendidikan itu tidak saja berguna bagi mereka dan keluarganya tetapi juga bagi wilayah di mana mereka berada. Mereka menjadi ragi semesta.

Masa kecil dan Panggilan Menjadi Imam

Romo Martin van Ooij senang hidup dan berkarya di pedesaan di antara para petani sederhana. Hampir seluruh pengabdiannya di Keuskupan Tanjungkarang selama tiga puluh tahun dihabiskan di paroki-paroki pedesaan. Ia sendiri memang terlahir dari pasangan petani sederhana, Henricus van Ooij dan Anna Maria Bennenbroek di Deurne, Netherland pada 14 Desember 1935. Ia merupakan anak nomor lima dari 11 bersaudara.

Kehidupan keluarga yang tenang di desanya terkoyak karena Perang Dunia II. Ibunya, beserta adik nomor sembilan meninggal dunia ketika pada 10 September 1944 sebuah pesawat Jerman memuntahkan tembakan ke arah rumahnya. Martin kecil, 9 tahun waktu itu, terluka parah di bagian kakinya. Ia dibawa ke rumah sakit dan hampir diamputasi. Tetapi pamannya yang mendampinginya – ayahnya sedang bertugas memberikan pertolongan kepada korban perang di tempat lain – mengatakan bahwa lebih baik Martin kecil itu meninggal dunia daripada hidup hanya dengan satu kaki. Akhirnya ia dioperasi tanpa pembiusan. Obat-obatan sangat terbatas waktu itu.

Rm. Martin, nomor lima dari kiri

Ayahnya adalah contoh iman baginya. Ia seorang seorang pendoa yang kuat dan rajin ke gereja. Ketika seorang kakaknya menanyakan hal itu padanya, ayahnya menjawab,” Bagaimana saya bisa mengatasi masalah dengan delapan anak tanpa ibu di samping mereka. Saya bisa gila kalau tidak berdoa.” Dua tahun kemudian ayahnya menikahi Martina Bennenbroek yang merupakan adik kandung almarhum ibunya.

“Tuhan memberi saya dua ibu terbaik. Satu yang melahirkan saya dan satu yang mencintai saya,” demikian komentar Romo Martin tentang keluarganya. Dari bibinya tersebut Romo Martin mendapat lagi tiga orang adik. Sepuluh orang dari sebelas bersaudara itu masih hidup hingga kini.

Waktu kecil, ia tak terpikir untuk menjadi imam apalagi berkarya di Indonesia. “Pernah suatu kali ketika pulang dari gereja ke rumah, saya berdoa agar Tuhan memberi kami seorang imam,” katanya. Waktu itu gereja terdekat dari kampungya berjarak 2,5 km dan sebagai anak kecil ia harus berjalan kaki. “Saya tidak berdoa untuk menjadi imam, tetapi kok saya yang dipanggil,” kata Rm. Martin.

Baru setelah kelas 6 SD ia menyatakan minatnya untuk menjadi imam kepada orang tuanya. Ia masuk dalam seminari SCJ, mengikrarkan kaul pertama pada 8 September 1956 dan ditahbiskan sebagai imam pada 23 Maret 1963 di Nijmegen.

Selama di seminari ia bercita-cita untuk menjadi misionaris di Kanada. Untuk itu ia mempersiapkan diri belajar bahasa Perancis. Sewaktu akan menjalankan Tahun Orientasi Pastoral (TOP), Kanada merupakan salah satu negara yang ditawarkan kepada para seminaris. Para pimpinan seminari meminta agar seminaris yang akan berangkat minta izin kepada orang tua, dan selanjutnya diberangkatkan tanpa syarat apapun.

“Ayah saya mengizinkan saya berangkat, tetapi minta tahbisan saya tetap di Belanda,” kenang Rm. Martin. Permintaan ayahnya ini membuatnya tidak diberangkatkan ke Kanada. Ketika dua temannya kembali dari Kanada, Romo Martin bertanya bagaimana kesan-kesan mereka tentang tempat itu. Mereka menjawab bahwa Kanada bukanlah daerah misi. Jawaban ini merupakan titik balik bagi hidupnya.

Selanjutnya ia tidak berminat lagi untuk pergi ke Kanada. Urutannya kemudian untuk berkarya adalah Indonesia, Brazil, dan Chile. Tetapi ia berprinsip bahwa “bukan aku tetapi Tuhan yang mengutus aku.” Maka ia masih meletakkan Kanada para urutan prioritas ke-4 untuk berkarya.

Mendengar keputusannya untuk mengutamakan berkarya ke Indonesia, satu kata terlontar dari orang tuanya, “Sinting!” Indonesia belum terlalu lama memerdekakan diri dari penjajahan panjang Belanda. Relasi dua belah pihak belum baik saat itu. Jelas keluarganya merasa khawatir.

Tetapi Romo Martin bergeming. Ia tetap pergi. Satu tahun setelah tahbisan imamat, pada 22 Mei 1964 ia berangkat ke Indonesia. Dari bulan Mei sampai Agustus ia ditempatkan untuk membantu Paroki Pringsewu sekaligus belajar bahasa Jawa. Ia juga ditugaskan untuk melayani wilayah Lor Kali, yang kemudian menjadi Paroki Kalirejo. Bulan September sampai 8 Desember tahun itu juga ia tinggal menetap dan melayani Kalirejo.

Tanggal 8 Desember 1964 ia berpindah ke paroki Metro, khususnya untuk melayani wilayah Punggur. Di paroki yang berdiri sejak 1937 itu, sudah ada dua konfrater seniornya, Romo Albert Grein, SCJ dan Romo C. Van Vroenhoeven, SCJ. Tidak terlalu mudah untuk berelasi bila menyangkut tentang konsep pelayanan pastoral.

Kedua seniornya adalah imam-imam yang dididik pada masa sebelum Konsili Vatikan II. Sementara dirinya telah mulai menerapkan sejumlah pembaruan pastoral yang digaungkan oleh konsili tersebut. Perbedaan itu misalnya, Romo Vroen mengutamakan pengajaran katekismus. Sementara Rm. Martin “tidak berbuat apa-apa”.

Ia lebih ingin hadir untuk mengetahui pikiran, budaya, adat kebiasaan dan harapan-harapan orang-orang yang dilayaninya. Cara-cara inilah yang ia terapkan, sampai terjadinya tragedi besar 1965 yang mengubah banyak hal dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan tentu saja dalam cara – cara berpastoral….. *** (dilanjut bagian ke-2).

SEbagai seminaris

Bersama Rm. Martin

TOXIC PEOPLE IN YOUR LIFE

TOXIC PEOPLE adalah orang-orang yang membuat kita tak berdaya, tak berharga, terlecehkan, marah, malu di depan umum, dsb.  Benar bahwa kita harus selalu koreksi diri. Tapi selalu menyalahkan diri sendiri ketika berhadapan dengan orang ini jelas sebuah kesalahan.  Hadapi jenis manusia ini dengan mata dan dagu lurus ke depan. Tidak perlu sombong tapi tidak juga dengan merunduk-runduk. Sebelum menemui orang ini yakinkan diri bahwa kita cukup berharga, bermartabat dan lovable.  Tatap matanya dan tarik nafas. Katakan dalam hati, “Aal iz well.

 Pernah suatu masa saya punya teman kerja yang selalu membuat saya uring-uringan jika bertemu dengannya. Kebetulan jabatannya lebih tinggi dari saya, meski ia bukan atasan langsung  saya. Seusai berbicara dengan dia, saya selalu merasa bodoh, tak berguna, remeh, pokoknya seluruh eksistensi saya hancur. Padahal saya  tidak bego-bego amat  sih. Wong saya ini juga lulusan salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa dan di luar Indonesia.

Solusinya waktu itu, jika terpaksanya harus bicara dengan dia, saya akan mengajak seorang teman. Saya menghindari bicara empat mata dengan dia. Saya bilang pada teman saya, “Tolong kendalikan saya, jika kamu merasa tensi saya mulai naik.” Niat saya selalu ingin berdialog dengan baik-baik, masalah perkerjaan tentu saja. Tapi kadangkala niat ini sulit terlaksana. Warna suara saya yang biasanya alto bisa perlahan berubah menjadi sopran dengan nada melengking tinggi.

Kalau sudah begitu teman saya akan menendang kaki saya dari bawah meja. Saya segera lakukan lima  kali tarikan nafas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan dalam lima kali hitungan. “Oh, Allah paringana sabar,” saya mengucap mantra. (terj : Beri aku kesabaran ya Allah).

Segala hal bisa menjadi sulit  jika berhadapan dengan dia.   Puncaknya adalah ketika saya hendak berangkat  studi ke Filipina. Saya minta kepada dia sejumlah musik daerah klasik (original) yang pasti tersimpan banyak sekali di komputernya. Kebetulan si boss ini semacam kepala divisi radio di lembaga di mana kami bekerja. Di luar negeri saya pasti membutuhkan sejumlah bahan jika sewaktu-waktu diminta memperkenalkan Indonesia.

Cara dia menanggapi permintaan saya sungguh membuat saya terhina. Katanya, “ Itu ambil sendiri di komputer saya,” katanya. Matanya mengarahkan saya untuk memasuki ruang kerjanya yang lain. Wah, ruang yang canggih. Di situ ada komputer desktop yang bagus yang terhubung dengan beberapa tape recorder, dvd player atau entah peralatan apa lagi yang tidak saya kenali. Saya ini gaptek. Lihat alatnya saja saya nggak mudheng, apalagi ketika komputer itu saya nyalakan. Saya tak mengenali program-program di dalamya dan di mana file musik disimpan.

Saya keluar menemui dia dan mengutarakan kesulitan saya. Dia cuma melirik selintas. “Lha kamu ndak akan bisa ngopi pakai CDRW kaya ngono kuwi,”

  •  ” Oh, jadi saya harus pakai CDR ya?”
  •    “Iya.”
  •   Titik.
  •   Senyap.

Saya kembali ke kantor saya dan mengambil perangkat yang diperlukan. Dan masuk lagi ke ruangannya. Tetap tak bisa mengopi file itu. AC yang adem di ruang itu tak bisa menghalangi keringat yang menetes di dahi saya. Karena tampaknya si pemilik tak mau menolong saya, saya mendatangi salah satu anak buahnya, seorang penyiar radio, untuk membantu saya. Dengan penuh belas kasihan si pemuda ini memandang saya tapi tak berdaya. “Aku ora wani Mbak, nek ora entuk izin si boss,” katanya. (terj. Saya tak berani mbak, kalau tak dapat izin dari si boss)

Saya temui lagi si boss  di ruang kerja satunya  —  dia punya dua ruang kerja. Maksudnya untuk sekali lagi mengemis pertolongan. Masyaallah. Ini si boss,  dia sedang dalam posisi merangkak, dengan dua lutut dan dua tangannya di atas lantai ruang kerjanya yang kinclong. Ruang kerjanya baru saja direhab, lantainya dikeramik. Dan di salah satu sudutnya ada setitik semen kering yang tertinggal. Rupanya setitik noda ini mengganggu hidupnya. Sehingga ia sampai nungging-nungging membersihkannya.

Saya ingin menendang pantatnya. Saya ingin mempersembahkan seluruh isi kebun binatang kepadanya  sambil mulut saya marapalkan namanya satu-satu.  Barangkali saya akan puas.

Tapi itu tak saya lakukan. Saya pulang ke kantor saya dengan tangan hampa. Intinya si boss menolak permintaan saya, tapi tidak dikatakan secara verbal.  Di kantor saya mengumpat-umpat, menceritakan derita saya pada teman-teman sejawat. Mereka tertawa.

 Kata mereka, “Mengapa kau tak tendang pantatnya seperti keinginanmu? “

“ Cuma berpikir buruk dengan ingin menendang pantatnya pun kau sudah berdosa. Jadi mending kautendang saja. Sama berdosanya kok, “ kata si sarjana agama.

“ Kalau kamu marah-marah begini, kamu akan dipenuhi dendam yang berubah menjadi luka batin, dan ini akan merusak dirimu sendiri. Kalau tadi kamu tendang pantatnya, kamu puas dan terbebas dari dendam.   Kamu akan sehat secara psikologis,” papar si sarjana konseling.

“Ayo saiki takterne mbalik mrana, tendhang bokonge. Aku taknempil,” kata mereka. (terj. Ayo sekarang  kami antar kembali ke sana. Tendang pantatnya, kami juga akan ikut menghajar dia). “Walah Ver, Ver, kasihan kamu. Biasanya kamu itu kalau ke sana minta dikawal. Tadi kok ya berani-beraninya kamu ke sana sendiri.”

Ah, teman-teman yang menyenangkan. Mereka selalu menyayangi saya sebagaimana saya juga menyayangi mereka. Kepada pundak mereka saya menyandarkan diri di kala lelah, kalah dan marah. Saya tertawa. Berangsur kemarahan mereda.

Bertahun kemudian saya mengetahui bahwa manusia jenis si boss inilah yang disebut TOXIC PEOPLE. Toksik artinya racun. Mereka adalah orang-orang yang membuat kita tak berdaya, tak berharga, terlecehkan, marah, malu di depan umum, dsb. Selalu ada jenis manusia begini di kantor atau di lingkungan tempat tinggal kita. Bukan berarti kita selalu benar dan tak perlu refleksi. Tapi selalu menyalahkan diri sendiri ketika berhadapan dengan orang ini jelas sebuah kesalahan.  Setidaknya paradigma bahwa kalau kita baik kepada semua orang maka semua orang akan baik pula kepada kita tidak selalu berlaku.  Maka stop menyalahkan diri. Hadapi jenis manusia ini dengan mata dan dagu lurus ke depan. Tidak perlu sombong tapi tidak juga dengan merunduk-runduk. Sebelum menemui orang ini yakinkan diri bahwa martabat kita sama, kita layak dihargai dan layak   disayangi. Tatap matanya dan tarik nafas. Katakan dalam hati, “Aal iz well.”

————————————————————————————————-

Note : tunggu postingan berikut tentang ciri-ciri toxic people dan bagaimana berrelasi dengan orang jenis ini. Artikel saya ambil dari buku : TOXIC PEOPLE: 10 ways of dealing with people who make your life miserable  dari ahli komunikasi terkenal Lilian Glass.

Pierre, Selebritas dan Bintang Jatuh

Kenangan pada Pierre Babin, guruku (1925 – 2012)

Bintang-bintang di angkasa, selebritas dalam tayangan media, satu hal menyamakan mereka di mata saya. Jauh dan tak tersentuh. Pierre adalah bintang, Pierre adalah selebritas. Namanya berkibar dan disebut dengan hormat oleh para tokoh di jagat media dan komunikasi sosial Katolik.  

This slideshow requires JavaScript.

Waktu saya kanak-kanak, setiap kali ada bintang jatuh saya mengucapkan sebuah permohonan. Begitu yang diajarkan oleh orang-orang di sekitar saya. Sulit dinalar memang, tapi sampai sekarang setiap setiap kali melihat meteorit.. ya bintang jatuh, diam-diam saya mengucap sebuah permohonan. Sebuah doa yang tidak menuntut, mungkin begitu. Syukur terkabul, bila tidak ya tidak mengapa.

Begitulah. Suatu saat saya mengucap harap ingin pergi ke Eropa. Alasannya sangat dangkal. Ingin melihat salju, dan sinterklas yang meluncur dengan keretanya.  Lalu saat akil balik:  ingin melihat daunan luruh di musim gugur, ingin berdiri di atas Seine sambil membaca puisi Sitor Situmorang yang waktu saya SMP puisi-puisinya menghipnotis saya.

Tapi betul. The power of dream, kata iklan. Saya ke Eropa. Melihat semua yang saya mimpikan bahkan lebih dari itu :  menangkap getaran bintang jatuh yang bekelebat dalam hidup saya. Ya Pierre adalah meteorit. Nama besarnya bukan lagi saya dengar, tapi sosoknya begitu dekat, begitu touchable, accessable and available. Awal dekade 2000, saat usianya mendekati angka 80 ia tak terlihat rapuh. Ia cukup tahu diri untuk tidak lagi menjadi direktur Crec Avex, lembaga yang didirikannya tahun 1970. Ia cukup menjadi kepala departemen riset dan sesekali mengajar di kelas.

Mestinya saya bisa banyak belajar dari Pierre. Kebesaran namanya – ia disebut sebagai a giant in catholic communication oleh situs resmi kuria romana- , pengalamannya, tak membuatnya jaim. Ia tetap sederhana dan tak sok sibuk. Sayangnya,  saya tidak banyak memanfaatkan peluang itu. Sesuatu yang saya sesali seumur hidup saya. Ada beberapa alasan atau tepatnya pembelaan diri tentang hal ini.

Pertama, saya hanyalah anak kampung. Hinggap di benua Eropa membuat saya gagap budaya. Banyak hal yang tak saya pahami. Cara hidup orang, logat bahasa dari berbagai bangsa, perubahan cuaca. Saya sibuk dengan diri sendiri. Segala pelajaran di kelas saya telan- telan saja. Saya pahami secara hurufiah, tapi tak punya banyak waktu untuk mendalami dan merefleksi. Kedua, saya tak “kenal”  dengan mendalam siapa itu Pierre dan bagaimana kiprah Crec dalam jagat media komunikasi Katolik. Pengetahuan saya dengan keduanya justru terjadi ketika saya sudah meninggalkan Crec. Apa boleh buat.

Toh dalam keterbatasan pengetahuan saya, saya bisa merasakan kebesaran Pierre. Tapi ia seperti tak pernah merasa bahwa ia adalah “tokoh.” Setiap saat ia datang ke kampus Crec, kami biasa bercanda. Ia cuma seperti kakek sebelah rumah, setiap kali orang bisa datang bermanja-manja.

Sesekali ia mengajar di kelas. Symbolic way, yang merupakan “benchmark” Crec dan ajaran Pierre, kadang tak mudah saya tangkap dasar filosofinya. Tetapi saya selalu asyik mengerjakan praktik kelas symbolic way. Misalnya suatu saat ia meminta kami membuat foto-foto dan memadukannya dengan musik dalam sebuah slide. Slide itu merupakan simbol apa yang kami rasakan atau pikirkan tentang keadaan, situasi atau objek tertentu. Saya memilih musik yang familiar di telinga saya.

Ketika siap saya perdengarkan itu pada Pierre. Ia menyarankan saya untuk melakukan beberapa perbaikan sehingga slide saya tidak saja mewakili perasaan saya secara personal tetapi bisa menyimbolkan sesuatu yang lebih univesal. “Ganti musiknya dengan musik yang lebih bernuansa spiritual, musikmu terlalu oriental,” sarannya. Ketika saya tanyakan musik “spiritual” itu yang macam apa, ia menjawab, “i will show you, i will show you.”

Ia lantas berjalan menuju perpustakaan di mana banyak tersedia kaset dan CD musik. Ia keluar lagi dan menuju ruang kerjanya. Saya terus membuntuti. Tiba-tiba dia membalik dan bertanya mengapa saya terus mengikutinya. O la la. Pierre. Ya, sudahlah. Saya tepok jidat sendiri dan ngacir secepat-cepatnya menuju kelas sambil tertawa kecut.

Tetapi kadang kelupaannya itu sering menguntungkan sebagain dari kelas kami. Crec adalah institusi dwibahasa. Semua staf di sini menguasai minimal bahasa Inggris dan Perancis. Di pojok ruang kelas ada sebuah kamar kaca tempat seorang penerjemah bisa mengikuti aktivitas kelas menerjemakan komunikasi kami. Ada dua kelompok mahasiswa, yang berbahasa Inggris dan yang berbahasa Perancis. Kami yang berbahasa Inggris datang dari berbagai bagian dunia. Sedangkan yang berbahasa Perancis kebanyakan teman asli Afrika atau missionaris (mantan missionaris) di Afrika. Para mahasiswa maupun pengajar harus setia memasang headphone agar apapun yang kita sampaikan bisa diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain.

Suatu saat Pierre masuk kelas dan berkata bahwa ia akan mengajar dalam bahasa Perancis. Tentu saja Pierre menguasai banyak bahasa dengan fasih. “Kelompok bahasa Inggris lebih beruntung. Banyak pengajar tamu memakai bahasa Inggris di kelas, “  katanya. Ia mulai asyik mengajar dalam bahasa Perancis. Kadang kami selingi dengan diskusi singkat. Setelah itu Pierre akan beralih mengajar dalam bahasa Inggris. Kami yang merasa diuntungkan senyum-senyum saja, sampai kemudian seseorang protes, “en francais s’il vous plait” Oooops … untunglah Pierre tidak pernah selip lidah mengajar dalam bahasa Togo atau entah bahasa lain yang tidak kami kenal.

Ia juga seorang yang sangat peduli dan peka. Seringkali ia membawa majalah Time edisi bahasa Inggris dari apartemennya. Ia memberikan kepada saya karena tahu tidak mudah menemukan majalah atau buku-buku dalam bahasa Inggris di Ecully, kota kecamatan kami yang teletak di kaki pegunungan batu karang.  Sementara informasi di internet pada awal dekade 2000-an itu belum membludak seperti sekarang. Merasa bahwa majalah itu masih baru, seusai membacanya saya mengembalikannya. Tapi dia selalu berkata, “No. I gave it to you.”

Suatu hari ia datang ke kelas dengan jaket warna merah, dan rambut tercukur rapi. “You look young,” kata Agnes, teman Uganda saya. “Oh… so i can married,” balasnya dengan cuek. Ia orang yang ceria. Mungkin keceriaannya itu membuatnya awet sehat. Ia di penghujung usia 70-an tahun, ia mampu  menyetir sendirian, membawa kami dari Ecully menuju La Blachere, desa klasik di perbatasan Italia. Sepekan di desa ini membuat kami merasa terisolir sekaligus  saling dekat.

Di akhir pekan khafilah kami berkendara pulang ke Ecully. Sesudah sarapan kami bersiap. Sampai jam 10 pagi tak juga kami berangkat.  Apa rupanya ? “We wait Pierre. He drunk a lot and now he’s sleeping, “ kata Clotilde sambil tersenyum geli. Setelah bangun, ia terlihat lebih segar dan ceria. “I will show you all the very beautiful and unforgettable places.” Jadi kami berjalan memutar, menyusuri jalur yang lebih panjang menuju rumah kami di Ecully. Kami merayapi gunung karang, menyusuri tepian sungai dan ngarai dan hmmm… menerobos hutan suaka margasatwa.

Sekali waktu Pierre pernah berang pada saya. Hari itu jadwalnya mengajar di kelas. Seperti biasa, saya jam 8 pagi saya berangkat ke kampus  Crec yang terletak di Chemin du Challin. Perhentian bus terdekat tidak jauh dari apartemen saya dan Michelle, teman Korea saya. Kami berdua cukup menyeberangi jalur bus ke Dardilly, lalu potong kompas tepat di pelataran gereja St. Jean Mary Vianney santo pribumi kampung ini. Jam 8.10 bus menuju kampus akan datang, tidak kurang tidak lebih. Perjalanan ke kampus bisa kami tempuh dalam sepuluh menit saja. Kelas akan dimulai pukul 8.45 dengan doa pagi.

Tapi entah apa yang terjadi. Pagi itu bus terlambat datang. Tak pernah terjadi sebelumnya keadaan seperti itu. Dalam hawa dingin kami berdiri menunggu bus. Waduh, ternyata menjelang jam 9 bus baru datang. Kami berlari menuju kelas. Pierre sedang mengajar. “Pardon,” kami nyengir lalu duduk. Pierre  memandang sejenak lantas menanyakan alasan keterlambatan kami. Kami bercerita apa adanya. Tentu saja kami tidak bersalah, yang salah adalah sopir bus. Bukankah ini Perancis, semua  jadwal sudah teratur rapi tak pernah meleset walau satu menit pun.

”Kalian belajar media dan komunikasi di sini. Kalau kamu bekerja di radio atau televisi, siaranmu tak bisa ditunda dengan alasan hujan badai sekali pun. Kamu harus melayani orang tepat waktu. Pahami itu.” Ia memandangi kami dengan mata birunya yang tajam. Kami menghentikan ritual cengengesan kami, menunduk, merasa bersalah. Kelas hening.

Saya menyesal. Mestinya tadi, sesudah beberapa menit bus terlambat datang, saya berhenti ngobrol dengan Michelle dan berjalan kaki. Toh tidak terlalu jauh. Atau saya cari taksi toh saya punya cukup uang saku. Atau cara konyol yang diajarkan sahabat saya boleh dicoba: pasang tampang bloon,  menghampiri  polisi lalu lintas, lalu nyerocos ngomong dalam bahasa Jawa sambil bawa secarik kertas bertuliskan  alamat. Saking stress-nya polisi itu akan mengantar saya ke alamat yang dituju dengan mobil terbukanya.

Yaaah, selalu saja penyesalan itu datang belakangan. Tapi ada penyesalan saya yang lebih besar. Ketika saya dan Pierre – meteorit, bintang jatuh, bintang berpijar itu – berada pada orbit yang sama, saya tak benar-benar memanfaatkannya. Mestinya saya tak mendasarkan kebanggaan saya pada secarik foto kenangan bersamanya. Mestinya saya menjadi pemilik dan pewaris pelajarannya. Yah, penyesalan datang belakangan. Tapi saya masih masih ingat kata guru saya yang lain, “Banyak teori dan pelajaran di kelas bisa saja terlupakan tetapi satu hal yang akan terus hidup. Teman-teman, guru, civitas akademika – komunitas yang terdiri dari berbagai bangsa akan mengasah kita dalam hal kebijaksanaan hidup.” Selamat jalan Pierre. Pijar kebijaksanaan hidup yang engkau ajarkan aku coba ikuti. Sampai jumpa kelak!

Menopause Pada Pria

Prolog :

Saya sedang membaca buku “Menaopause pada Pria”  (Male Menopause) dari Jed Diamond, seorang teraphis dari Amerika. Beberapa point dari buku ini sebenarnya adalah pembicaraan tentang isyu hidup paruh baya yang juga pernah saya tekuni. Saya ringkaskan dua bagian dari buku ini yang cukup menarik yaitu “The Season of Man’s Life”.

 

The Season of Man’s Life.

Orang dewasa berharap bahwa kehidupan dapat dimulai pada usia 40. Life begins at forty. Tetapi sisi lain pada usia ini seseorang juga dihadang oleh kegelisahan dan ketakutan besar dalam hidupnya. Visi hidup dapat digambarkan sebagai sebuah pendakian dengan usia 40 sebagai puncaknya. Banyak orang merasa tertantang untuk melakukan pendakian. Tetapi tidak bergairah dengan sebaliknya.

Perjalanan menuruni sisi sebaliknya selalu dihantui ketakutan, apakah ada gunung lain yang disebut sebagai “kedewasaan kedua” ? Bagaimana kalau di sana tidak ada apa-apa di dasarnya kecuali kematian?

Diilustrasikan dalam novel Independence Day karangan Ricard Ford, yang memenangkan hadiah Pulitzer. Tokohnya, Frank Bascombe bercerai pada usia paruh baya. “Mungkin ini suatu krisis besar atau akhir dari sebuah beban berat dan awal dari sesautu yang tidak jelas., “ katanya.  Seperti pada banyak pria pada usia ini, Bascombe merasa harus membuat perubahan dalam hidup. Ia keluar dari tempat kerjanya di sebuah majalah olah raga besar  di New York, pindah ke Florida, dan tahun berikutnya ke Perancis, sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

Tetapi hidup Perancis, bahkan dengan ditemani oelh perempuan yang dua puluh tahun lebih muda, tidak meghapus kegelisahannya. Ini berbeda dengan apa yang ada dalam pikirannya pada hari-hari  terakhir bekerja : banyak penyesalan, bercerai, mengejar perempuan untuk menenangkan diri sendiri, bersenang-senang dan sedikit bermimpi. Ternyata kegelisahan itu terus bersuara jauh di dalam hatinya sendiri.

Perubahan Pada Usia paruh Baya

Bagi sebagian orang istilah menopause pada pria, mungkin menggelikan, karena istilah ini secara harafiah adalah berhentinya proses menstruasi pada perempuan. Hal ini disadari oleh penulis buku ini. Sesudah ia mengadakan serangkaian diskusi intesif dengan para pria paruh baya, justru para pria tersebut menyetujui ide ini. Sebenarnya intinya adalah perubahan baik fisik maupun psikis pada pria ketika berada para usia paruh baya (penulis buku ini memberi interval usia 40 -55).

Gejala-gejala fisik yang umum yang dihadapi pria pada masa ini termasuk : diperlukan waktu lebih lama untuk sembuh dari luka, daya tahan untuk aktivitas fisik berkurang, berat badan cenderung bertambah, kesulitan membaca huruf berukuran kecil, mudah lupa atau memori hilang, rambut rontok atau menipis.

Gejala psikologi yang umum dihadapi : mudah tersinggung, ragu-ragu, gelisah atau takut, depresi, hilang kepercayaan diri, kehilangan tujuan hidup, merasa kesepian, tidak menarik dan tidak dicintai.

Gejala seksual paling umum dihadapi : minat pada seks berkurang, kegelisahan dan ketakutan mengenai perubahan seksual meningkat, fantasi melakukan hubungan seksual dengan orang lain meningkat, masalah relasi dalam keluarga dan pertengkaran mengenai seks, cinta dan keakraban meningkat, ereksi hilang ketika sedang melakukan hubungan seksual.

Sejumlah perubahan tesebut dapat mengakibatkan depresi. Lebih celaka lagi sebagian pengidapnya tidak menyadari kondisi mereka sendiri. Beberapa tanda-tanda yang umum dari depresi berat antara lain : murung terus-menerus, sering memikirkan kematian, hilang kemampuan untuk berpikir dan konsentrasi, merasa tidak berharga, tidur terlalu banyak, kurang berenergi, hilang kegembiraan dan aktivitas, dan berat badan naik atau turun secara signifikan.

Dua Jenis Depresi

Menurut penulis buku ini ada dua jenis depresi, yaitu depresi dinamik yang mengarah keluar dan depresi magnetic yang mengarah ke dalam. Pria kemungkinan lebih besar mengalami deprsei dinamik, sedangkan perempuan lebih besar kemungkinannya untuk mengalami depresi magnetik.

Berikut ini beberapa gejala yang umum :

No. Depresi magnetik Depresi dinamik
1. Menyalahkan diri sendiri atas pemasalahan yng timbul Orang lain harus disalahkan atas permasalahan yang timbul
2. Sedih, apatis, tidak bernilai Marah, mudah tersinggung, membanggakan diri
3. Gelisah dan takut Curiga dan merasa diawasi
4. Menghindari konflik dengan pengorbanan apapun Menciptakan menykaui konflik
5. Selalu mencoba bersikap manis pada orang lain Terang-terangan atau diam-diam memusuhi orang lain
6. Menarik diri kalau tersakiti Menyerang bila tersakiti
7. Kesulitan menghargai diri sendiri Menuntut orang lain menghormati mereka
8. Merasa dilahirkan untuk gagal Dunia diciptakan untuk membuat mereka gagal
9. Lambat dan gugup Gelisah dan tidak dapat diam
10. Suka menunda-nunda secara kronis Menepati waktu dengan terpaksa
11. Tidur terlalu banyak Kurang tidur
12. Mengalami kesulitan mentapkan batas Perlu kendali dengan pengorbanan apapun
13. Sering merasa bersalah tasa apa yang dilakukan Sering merasa malu akan siapa diri mereka
14. Tidak nyaman menerima pujian Merasa frustrasi bila kurang dipuji
15. Mudah membicarakan kelemahan dan keragu-raguan Takut membicarakan kelemahan dan keragu-raguan
16. Takut sukses Takut gagal
17. Perlu  berada di tengah orang lain untk merasa nyaman Perlu menjadi “orang nomor satu” untuk merasa aman
18. Menggunakan makanan, teman dan “cinta” untuk mengobati diri sendiri Menggunakan alcohol, TV, olah raga dan seks untuk mengobati diri sendiri.
19. Yakin bahwa masalah mereka akan selesai bila meraka dapat menjadi ……(pasangan, rekan kerja, teman, orang tua) yang lebih baik. Yakin masalah mereka akan selesai hanya bila ….. (pasangan, rekan kerja, teman, orang tua) mereka bersedia memperlakukan mereka dengan lebih baik.
20. Selalu mempertanyakan “Apakah saya cukup pantas untuk dicintai?” Selalu mempertanyakan “Apakah saya sudah cukup dicintai?”

 

Apa yang Dapat Dilakukan ?

Orang tak dapat menolak perubahan. Tapi memahami dan menerima perubahan sebagai sesuatu yang semestinya terjadi merupakan cara yang mujarag untuk menjadio teraphis bagi diri sendiri. Sebagagian caranya adalah menjalani cara hidup yang sehat dan seimbang. Bisa dituliskan beberepa di antaranya :

1.       Makan makanan yang tepat. Diet tradisional Asia dengan nasi (biji-bijian), banyak sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, sedikt daging, tanpa produk olahan susu merupakan bahan dasar yang baik untuk makanan kesehatan.

2.       Jaga kebigaran fisik. Olah raga teratur termasuk bernagai komponen sebagai berikut : ketahanan kardiorespiratori, kekuatan otot dan fleksibilitas.

3.       Minum vitamin dan senyawa tambahan.

4.       Makan herba untuk menyeimbangkan system dan melindungi prostat (ada beberapa saran makanan olahan yang saya rasa sulit dicari merek itu di Indonesia /vg).

5.       Memeriksakan kesehatan secara teratur.

6.       Periksa kadar hormon ketika anda semakin tua.

7.       Kurangi stress dan kekhawatiran dalam hidup.

8.       Terima seksualitas secara wajar dalam paruh kedua kehidupan. Pada paruh pertama kehidupan pria sering terfokus pada daya tarik fisik. Dalam paruh kedua kehidupan seksualitas lebih menyertakan penekanan pada persahabatan, cinta, keakraban dan kerohanian.

9.       Mempersiapkan diri memasuki usia lanjut.

10.   Bergabunglah dengan kelompok pria sebaya, dengan demikian akan mendaptak support system atau kelompok pendukung.

11.   Jajaki dan wujudkan panggilan hidup. Dalam paruh pertama kehidupan sebagian besar pria mencari karier dan mengumpulkan uang untuk menopang keluarga. Dalam paruh kedua sering muncul  keinginan untuk mewujudkan pekarjaan dan panggilan lain dalam hidup. Panggulan berasal dari bagaian terdalam mengenai siapa diri kita, apa yang kita cintai, inti dari semangat kita dan kebutuhan masyarakat di sekitar kita. Menemukan dan berusaha mewujudkannya akan membuat paruh kedua kehidupan anda lebih berarti dan menyenangkan.

12.   Menjadi penasihat bagi pria muda. Pada paruh pertama kehidupan pria sering menemukan harga diri dan nilai mereka pada kemampuan untuk menjadi “pelaku” yang berhasil. Pada paruh kedua kehidupan mereka termasuk panggilan meraka adalah “memberi” kembali kepada masyarakat tentang nilai-nilai kebijaksanaan kehidupan. Tanpa pembaktian diri semacam ini masyarakat akan berantakan.

Menghadapi Kenyataan

Kegelisahan, panggilan yang menyeru-nyeru di dalam lubuk hati dalam usia paruh baya bersifat sangat pribadi. Hal ini meungkin akan member pelajaran yang berharga dan pencerahan bila seseorang mampu menangkapnya dan tidak menghindarinya karena ketakukan pada rasa sakit.

Khayalan banyak orang sering terlalu negative mengenai usia tua. Orang ingin langsung meloncat dari puncak gunung yang pertama menuju puncak gunung yang kedua. Tapi hidup tidak seperti itu. Puncak  menuju gunung kedewasaan kedua hanya dapat dicapai dengan menuruni gunung kedewasaan pertama. Perjalanan jauh menuruni gunung itu dan melewati lembah di bawah adalah apa yang disebut oleh penulis buku ini sebagai “Jalan Menopause Pria”.

Panggilan dari Jalan Menopause Pria adalah menyiapkan posisi mereka untuk memelihara dan membimbing pria i yang lebih muda. Penulis sajak Robert Bly menyebut proses ini sebagai “ibu pria”.  Hanya keberhasilan melewati Jalan Menopause Pria yang akan membuat pria memiliki kebijaksanaan dan jawaban atas pertanyaan para pria (dan generasi) yang lebih muda.

Salah satu kegembiraan para usia paruh baya adalah mampu melihat ke belakang sepanjang jalan yang telah dilalui dan menangkap pandangan sekilas mengenai jalan di depan. Setelah berhasil mencapai dasar “Gunung Kedewasaan Pertama” seseorang mampu mengatakan dengan yakin bahwa ada gunung lain yang menunggu.***********

Artikel terkait :

Melewati Krisis Paruh Baya

Menjalani Kehidupan Setelah Tak Muda Lagi

I don’t mind with the darkness for the sun keeps rising every morning

Artikel terkait :

Melewati Krisis Paruh Baya

Mgr. Andreas Henrisoesanta, Uskup Keuskupan Tanjungkarang

Prolog

Mgr. Andreas Henrisoesanta, Uskup Keuskupan Tanjungkarang, genap berusia 75 tahun pada 7 Juni 2010 yang lalu. Dengan demikian ia akan segera menyandang gelar uskup emeritus begitu nanti uskup baru terpilih. Ia ditahbiskan sebagai uskup pada 19 Februari 1976 menggantikan kedudukan Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras SCJ. Tulisan ini pertama kali dimuat di taboit Comunio, media komunikasi Keuskupan Agung Palembang, pada Maret 2001 untuk menyambut 25 tahun tahbisan uskup dan dimuat lagi dalam buku Eritis Mihi Testes pada Juli tahun yang sama untuk memperingati 40 tahun tahbisan imamatnya. Tulisan ini saya post lagi di sini agar sempat dibaca lagi oleh khalayak, sebagaimana fungsi media komunikasi yaitu sebagai penjaga ingatan publik. Oh ya..saya mengapa saya bisa menulis sedemikian “karib” dan “dekat” ? Saya dan seorang teman di kantor kuria keuskupan Tanjungkarang, Elisabeth Rosa dan sopir pribadi beliau Thomas Wahyono, secara intensif  mengikuti kunjungan pastoral beliau ke kelompok-kelompok kecil di stasi-stasi yang jauh dari pusat keuskupan, antara tahun 1995 – 1998. Rombongan kecil kami ditambah pastor paroki menginap tidak saja di pondok-pondok pastoran stasi tapi juga di rumah-rumah penduduk di umbul (desa rintisan transmigran lokal) dengan segala kesederhanaan dan keterbatasannya. Tiap dua minggu sekali kami ke stasi dan menginap 2 – 3 malam di sana. ****

BERTOLAK KE TEMPAT YANG LEBIH DALAM

Usia 25 dan 40 biasa diperingati secara khusus dalam perjalanan hidup sesorang. Yang pertama biasa disebut pesta perak dalam tradisi Barat. Sedangkan yang kedua dalam tradisi Jawa biasa disebut panca windu atau tumbuk alit. Tahun 2001 ini kiranya menjadi tahun penuh rahmat bagi Uskup Tanjungkarang, Mgr. Henrisoesanta, karena kedua perayaan itu bertemu. Tanggal 11 Pebruari 2001 dirayakan pesta perak tahbisan uskup. Dan pada 2 Juli  2001 akan genap ia menjalani 40 tahun hidup imamatnya.

Uskup kedua Keuskupan Tanjungkarang ini ditahbiskan dua puluh lima tahun lalu, menggantikan Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras, SCJ. Kembali ke Indonesia pada tahun 1966, ia langsung berpastoral di Yayasan Xaverius. Tentu saja tanpa meninggalkan tugas pokoknya sebagai pastor paroki.  Setelah serah terima jabatan uskup  13 Mei 1979 resmilah ia menggembalakan umat Katolik Lampung. Menerima tahbisan uskup dalam usia yang cukup muda, 41 tahun, tidakkah ia merasa takut? Banyak tantangan menghadang dan banyak hal harus dibenahi. “Tentu saja takut dan ragu-ragu. Ada resiko gagal. Tapi saya yakin, Tuhan ambil bagian dalam tugas itu dan memikul tanggung jawab bersama,”  katanya.

Berdarah Peziarah

Gereja Lampung adalah Gereja pendatang, sering dikatakan orang demikian. Demikian pula uskup Lampung ini adalah  seorang anak petani transmigran dari Jawa. Ia dilahirkan di Gunung Kidul, 7 Juni 1935. Bersama keluarga besarnya ia ikut transmigrasi ke Metro pada 1939. Metro waktu itu masih daerah hunian baru. Semua pendatang merasakan benar pahit getir hidup sebagai petani perintis. Tak terkecuali Suwiyata, demikian nama kecil Mgr. Henrisoesanta. Ia mengalami tiga zaman yang sama beratnya, penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan masa-masa awal kemerdekaan. Saat itu semua orang harus bergulat dengan ketidakpastian dan kegelisahan.

Lama kemudian justru ia menemukan spirit dari kegelisahan metafisik ini. Apa yang sering diangankan  orang sebagai sebuah tujuan ternyata  kemudian hanya sebuah perhentian. Manusia harus meninggalkan kemapanannya, memulai lagi perjalanan baru, bergulat lagi dengan ketidakpastian  dalam mencari panggilan hidupnya. Manusia tak pernah berhenti pada suatu titik tertentu. Ia bahkan mengangkat proses ini sebagai semangat peziarahan Gereja lokal Lampung. “Mencari untuk menemukan,” demikian ia sering merefleksikan proses itu.

Ia melukiskan peziarahan itu seperti dua murid yang berjalan menuju Emaus (Luk. 24:3–25). Keduanya saat itu dicekam kebingungan yang luar biasa sehubungan dengan kematian dan kebangkitan Yesus, Sang Guru. Tetapi tanpa mereka sadari Yesus sendiri kemudian hadir menemani perbincangan di sepanjang perjalanan itu. “Dalam semangat dialog seperti itulah, Gereja Lampung akan mendapat pencerahan. Roh Tuhan sendiri yang akan mengarahkan, ikut serta dalam proses pencarian itu , “ demikian ia selalu menguatkan umatnya.

Semangat “anti kemapanan” ini mungkin diwarisi dari keluarganya. Ayahnya Jakobus Samadi Kasandikromo, dan Paklik-nya FX. Satijo Atmo Suparto, orang terpandang di Ngijorejo. Keduanya murid Kyai Kasan Iman, seorang guru spiritual terkenal pada masa itu. Atmo Suparto sendiri kemudian menjadi guru spiritual terkenal pula di desanya. Salah satu muridnya bernama Sastro Utomo. Suatu saat kedua guru dan murid itu berdebat sengit tentang makna kehidupan. Kyai Atmo Suparto mengaku kalah.

Konsekuensi dari kekalahan itu, Kyai Atmosuparto berguru kepada mantan muridnya. Bahkan ia mengajak saudara-saudaranya untuk mengkaji ilmu bersama-sama. Sang guru, yang bernama lengkap Eustacius Puspo Utomo mengajar berbagai ilmu kehidupan dari kitab-kitab Jawa yang terkenal. Baru pada tahap akhir ia mengajarkan keutamaan tertinggi yaitu cinta kasih seperti ditunjukkan Yesus Kristus.

Akhirnya dibaptislah tujuh keluarga di Desa Ngijorejo oleh Romo Strater, SJ. Dua di antara mereka adalah kakak beradik Samadi Kasandikromo dan Satijo Atmo Suparto. Inilah cikal bakal umat Katolik Stasi Ngijorejo, Paroki Wonosari. Sang perintis sendiri, kedua kakak beradik itu pada akhir tahun tiga puluhan bermukim di Metro. Bersama sejumlah umat Katolik lain mereka pun merintis Gereja  perdana di tanah Lampung ini.

Mencintai Lampung

Meski tidak dilahirkan di Lampung, ia mengaku sangat mencintai Lampung dengan segala keunikannya. Kecintaannya itu diwujudkan dalam  mottonya, Eritis Mihi testes, ‘Kamu akan menjadi saksiKu.’ Sebuah bola dunia dengan salib menancap tipis di bumi Lampung dipilih menjadi lambangnya. “Salib yang menancap harus tipis sekali supaya dapat berkontak secara perlahan-lahan, tahap demi tahap, hingga akhirnya tercipta persaudaraan sejati yang kokoh di Lampung yang heterogen ini,” demikian Mgr. Henri sering menerangkan makna lambang itu.

Kecintaan akan Lampung juga mungkin karena ingatan kenangan masa kecil yang manis. Setelah menamakan sekolah rakyat di Metro, ia meneruskan pendidikannya Sekolah Menengah Katolik di Pringsewu. Di sana ia beriteraksi dengan banyak anak yang berbeda suku dan agama. “Dulu begitu menyenangkan kami bergaul dengan teman sebaya. Tak ada sekat-sekat primordial suku maupun agama,”  kenang uskup yang hobi main bola ketika muda dulu.

Ia menambahkan itu semua mungkin saja terjadi karena mereka menghadapi tantangan yang sama: penjajahan, penderitaan dan kemelataran sosial. Sebagai contoh ia menceritakan sepenggal kisah di tahun 1949. Dalam agresi II  sekitar pertengahan 1949  Pringsewu diduduki Belanda. Semua pastor dan suster berkebangsaan Belanda tertahan di Palembang, karena keamanan belum pulih. Satu-satunya imam yang berkarya di Lampung adalah Rm. Padmoseputra, seorang imam projo dari Keuskupan Agung Semarang.

Romo Padmo mengajak suster dan anak-anak asrama sekolah Katolik untuk mengungsi ke Padangbulan (sekarang berdiri gua Maria dan rumah retret La Verna). Pengungsian ini bukan untuk mencari rasa aman. Tindakan ini diambil Rm. Padmo untuk membangun kebersamaan dan rasa senasib dengan para pejuang kemerdekaan yang waktu itu mengungsi ke luar kota. “Pilihan Romo Padmo itu adalah sebuah sikap politis. Gereja harus menjadi bagian dari rakyat Indonesia dan berjuang bersama-sama,” kenang Mgr. Henri.

Pendidikan politik yang sederhana dari Rm. Padmo ini ternyata sering  menjadi warna keputusan pastoral di Keskupan yang dipimpinnya. Sesudah sinode 1992 misalnya, ditemukan butir-butir kesepakatan : paradigma baru, memasyarakat, dialog, keterbukaan dan menerima nilai penebusan Kristus. Maka sejak usai sinode sampai sekarang ia masih rajin mensosialisasikan butir-butir kesepakatan itu ke pelosok-pelosok stasi.

Tak jemu-jemu ia menyerukan agar umat Katolik membongkar gheto ekskluvitasnya. Ia juga berkeliling jauh ke stasi-stasi yang terpencil untuk berdialog dengan kelompok kecil umat. “Tak ada duit Katolik, tak ada beras Katolik, “ ia sering bercanda. Artinya semua kegiatan yang berhubungan ekonomi, politik, kebudayaan dan sosial lakukanlah bersama masyarakat. “Ikutlah dalam semua kegiatan di masyarakat, maka kita akan diakui sebagai bagian yang terpisahkan,” tambahnya.

Bertekad untuk Bertobat

Dua puluh lima tahun lamanya kawanan kecil umat Katolik Lampung berada di bawah pimpinan Mgr. Henrisoesanta menapaki panggilan imannya. Dalam masa perjalanan panjang itu tidak selalu menjumpai hal-hal yang menyenangkan. Dalam proses dialog silang selisish dan beda pendapat bisa saja terjadi. Hal ini bukannya tidak disadari oleh Mgr. Henri. Maka dalam misa perayaan syukur pesta peraknya ia secara khusus menyinggung  hal itu.

“Kepada umat Katolik dan masyarakat: yang senang dan gembira atas penggembalaan saya, yang kecewa, jengkel, sakit hati atas tindakan saya, yang bingung atau merasa dikacaukan, dan secara khusus kepada tarekat Imam Hati Kudus. Dengan tulus hati saya banyak berterima kasih atas kebaikan hati anda mendidik saya dengan sikap dan tanggapan anda yang jujur dan terbuka,” demikian antara lain ditekankan Uskup Tanjungkarang dalam di akhir kotbah berjudul Mempertanggungjawabkan Imamatku, 11 Pebruari lalu.

Dalam kesempatan itu ia juga mengakui kekurangannya yang besar. Maka ia mengungkapkan salah satu tekadnya adalah bertobat. “Bertolaklah  ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan,” demikian Santo Bapa Yohanes Paulus II dalam surat apostolik Novo Millenio Ineunte. Mgr. Henri mengaitkan seruan Bapa Suci ini dengan Injil Matius 28 : 19, Pergilah .….Jadikanlah semua bangsa muridKu. “Dalam mewartakan Injil, saya akan berusaha bertolak ke tempat yang lebih dalam yakni hati manusia,”  tekadnya.

Di usia yang terbilang senja Mgr. Henri masih sering berkeliling ke stasi-stasi di pedalaman. Perihal  kegemarannya ini ia mengatakan bahwa ia hanya sekedar meneladan Yesus: berkeliling, mengajar dan mewartakan, demikian terungkap dalam kotbah berjudul Mempertanggungjawabkan Imamatku.

Daya tahan fisiknya memang masih cukup mendukung untuk itu. Ia tahan duduk berdialog sehari suntuk. Ia pun bisa makan apapun yang dihidangkan umat kecuali “hotdog.” Seusai bertemu umat di stasi, malam hari ia menginap di pastoran. Kalau ada pertandingan sepak bola di televisi ia akan nonton, sehingga pastor yang sudah lelah seharian ikut berkeliling jadi tak enak hati membiarkannya sendirian. Dan bisa dipastikan besok ia akan bangun paling pagi, beribadat dan bersiap untuk perjalanan ke stasi lagi. Tahun 1995, 1997 dan 1998 hampir sepanjang Jumat sampai Minggu  ia berada di pedalaman.

Irama hidupnya spartan. Sepulang dari stasi, hari Senin pagi ia sudah duduk di ruang kerjanya lagi, mempelajari surat-surat atau menerima tamu. Setelah istirahat siang selama dua jam, sekitar pukul empat sore ia siap bekerja lagi. Tidak jenuh Bapa Uskup? Menjawab pertanyaan begini biasanya ia akan tertawa, “ Teman saya banyak….itu…,” ia menunjuk burung-burung di kandang dan sederet buku tebal di rak. Bersama buku-buku dan doa-doa ia melayari ruang dan waktu yang tak berbatas.