Tags
Oh….. we only remember God in time when we…….
This slideshow requires JavaScript.
Download power point time for god
24 Friday Feb 2012
Posted in Christianity, Inspirational Power Points
Tags
Oh….. we only remember God in time when we…….
This slideshow requires JavaScript.
Download power point time for god
31 Tuesday Jan 2012
Posted in Beranda : Obrolan Santai, Umum
Kita bertaruh nyawa di jalan raya setiap hari. Ini bukan kiasan. Sungguh, jalan raya di negara ini bisa menjadi killing field bagi siapa saja. Kita sudah berhat-hati dan menaati peraturan, kalau orang lain sembrono, celaka jugalah kita.
Di mana peran negara ? Nyaris abai. Para pejabat baru ribut setelah terjadi kecelakaan yang diekspos oleh media. Mereka berpikir seolah negara hanya cukup membuat seperangkat undang-undang dan peraturan. Siapa takut melanggar aturan? Kalau kena tilang, karena tidak punya SIM atau melanggar aturan lain, sudah jadi kebiasaan umum bahwa orang akan melakukan tawar menawar dengan polisi untuk membayar denda. Ingin dapat SIM dengan mudah ? Gampang, beli saja. Sering kali kita ingin jadi warganegara yang baik dengan mengikuti aturan dan prosedur yang benar, tapi para aparat justru mempersulit.
Kematian tragis sembilan orang pejalan kaki di Tugu Monas, 22/1/2012 merepresentsikan silang sengkarut kekacauan aturan jalan raya di Indonesia sebagaimana tersebut diatas. Di antara para pemakai jalan, pejalan kaki di Indonesia memang menjadi paria. Kelas paling bawah yang nyaris tak punya hak. Mari kita lihat. Tidak semua jalan raya menyediakan trotoar untuk pejalan kaki. Kalaupun ada, sangat sering trotoar direbut oleh pedagang kaki lima atau lahan parkir motor. Di kota saya, dalam rangka pengoperasionalkan bus Trans Bandarlampung, trotoar yang sudah ada pun disempitkan lagi.
Jalan raya yang sudah ramai semakin tak ramah bagi pejalan kaki. Kondisi semakin menakutkan dengan hilangnya etika publik di mana-mana. Pengendara motor bebas menyalip kendaraan di depannya baik dari kiri mapun dari kanan. Angkot ngebut atau mengerem mendadak dengan tape rekorder yang disetel keras-keras. Butuh mental baja untuk menyeberang jalan, sekalipun kita sudah melangkah di atas zebra cross. Jembatan penyeberangan hanya sedikit sekali. Itupun sangat kotor dan dihuni oleh para gepeng.
Beberapa tahun lalu, ketika baru pulang dari Perancis, saya selalu berkeringat dingin tiap kali menyeberang jalan. Jika naik angkot jantung saya berdegup kencang dan tangan saya berpegangan kuat-kuat pada jok. Di Perancis, saya tinggal di sebuah kota kecil bernama Ecully. Masalahnya bukan karena kotanya kecil maka hak-hak pejalan kaki dihargai, tetapi menyangkut karakter sebuah bangsa saya kira. Juga didukung dengan adanya aturan dan penegakan hukum yang tidak bisa ditawar-tawar.
Trotoar menuju kampus saya di Chemin de chalin (berseberangan dengan Valpre Hotel) ada di kedua sisi jalan. Salah satunya permukaannya berpasir. Rupanya ini adalah trotoar untuk anjing. Pemilik anjing menuntun hewan peliharaannya di trotoar itu, sehingga tinjanya tidak megotori badan jalan. Bayangkan anjing pun punya hak asasi dan juga kewajiban untuk mematuhi aturan. Tidak ada jembatan penyeberangan, karena kotanya nyaris tidak pernah ramai atau macet. Tetapi tiap kali ada orang mau menyeberang jalan, kendaraan dari jauh akan mengerem untuk memberi kesempatan pada pejalan untuk menyeberang. Sesama pejalan kaki pun kalau mendahului orang lain akan berbisik perlahan,”Pardon.”
Kita bisa berkilah,”itu kan negara maju.” Sekali lagi bukan itu masalahnya. Esensinya adalah karakter bangsa ini. Bandingkan saja dengan negara tetangga yang hampir sama tingkat (ketidak-)makmurannya, Philipina, misalnya, kita pun sangatkalah dalam hal keadaban publik di jalan raya. Benar Manila dan Jakarta sama macetnya. Tapi trotoar dan jembatan penyeberangan masih lebih banyak dan berkualitas di sana. Belum lagi penyediaan ruang terbuka untuk pejalan kaki, dan bukannya semua ruang yang ada disesaki oleh bangunan pertokoan. Undak-undakan sangat sering diberi partisi. Semua orang tahu bahwa kita harus memilih jalur kiri baik saat menuruni atau menaiki tangga. Dengan demikian orang tidak akan saling bertubrukan.
Kembali ke hidup keseharian kita. Adakah aturan bahwa pemerintah wajib menyediakan trotoar dalam setiap pembangunan jalan raya? Apakah sarana jalan tersebut juga memberi akses kepada kaum difabel ? Kalau memang ada aturannya tapi tidak dipenuhi oleh pemerintah apakah kita sebagai rakyat jelata dapat menuntut pemerintah lewat PTUN ? Saya hanya berpikir dalam logika sederhana dan tidak berbelit. Rakyat sudah membayar pajak, maka pemeritah harus memberik hak kepada pemakai jalan. Sekali lagi kita ini kaya akan aturan. Tapi pelaksanaannya selalu jatuh dalam kompromi negatif.
20 Friday Jan 2012
Posted in Beranda : Obrolan Santai
Tags
Saya itu paling malas berurusan dengan kantor dinas pemerintah. Paradigmanya itu lho, dari dulu tak pernah berubah. “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah.” Tapi ya namanya masih warga negara Indonesia, sesekali pasti harus berurusan dengan mereka, mengurus KTP misalnya.
Sejak 2 tahun lalu saya sudah mendengar tekat bulat pemerintah (Depdagri?) untuk membuat KTP elektronik (E-KTP) bagi semua WNI. Gembar-gembornya ini akan menjadi “semacam” basis data penduduk Indonesia. Ambisinya proyek ini akan diselesaikan dalam tahun 2011 di beberapa provinsi.
Kalau di beberapa provinsi di Jawa proyek sudah berjalan sejak 2010, di kampung saya, di Bandar lampung, baru dimulai akhir 2011. Saya agak lupa, mungkin akhir November. Pak RT membagi-bagikan undangan untuk foto ramai-ramai di kantor kecamatan. Tapi tak ada yang ditujukan ke penghuni rumah saya. Katanya, nanti akan undangan secara bertahap. Kalaupun tak pakai undangan, yang penting bawa fotokopi KTP lama dan kartu keluarga, maka akan dilayani.
Nah. Tanpa undangan, hanya berbekal pemberitahuan pak RT yang terakhir itu, ibu saya yang sudah lansia, bersama-sama tetangga kiri kanan, jam 6 pagi sudah antre di kantor kecamatan. Orang-orang berjubel, bahkan kata seseorang sejak jam lima pagi. Tapi apa lacur, tanpa undangan dari kantor kecamatan, ibu saya ditolak dengan satu bentakan. Ia pulang dengan memendam kejengkelan.
Tunggu punya tunggu, undangan dari kecamatan tak pernah mampir ke rumah saya. Sampailah pada tanggal 13 januari lalu. Sepulang kerja, seorang tetangga yang aktivis lingkungan, memberitahu bahwa hari itu juga Dibatasi sampai tanggal 16 malam) kecamatan memberi kesempatan kepada orang-orang yang belum diundang untuk difoto dan mengisi data. Konon katanya Pak Walikota, Herman H.N., murka berat (…sehari sebelumnya ia memutasi beberapa camat, pejabat di dinas kota, dan memecat seorang lurah…). Pegawai banyak yang nganggur-ngangguran, proyek E-KTP tak sesuai tenggat yang ditargetkan.
Yah, keesokan harinya terpaksa membolos kerja, saya dan ibu saya bersiap ke kecamatan. Sial. Rupanya kartu keluarga kami nyelip entah ke mana. Yang ketemu malah kartu keluarga yang model lama (tapi tak ada tanggal kedaluwarsanya kok). Di kecamatan, kembali pegawai pendaftaran menanyakan undangan. Saya jawab tidak pernah ada. Kartu keluarga kami pun ditolaknya, dengan alasan data tak bisa dibuka dengan kartu lama itu. Ini alasan tolol yang anak SD pun tak mau percaya. Mungkin data penduduk di kantor itu dibuat oleh programer dari angkasa luar, sehingga tak bisa mencari entri data dengan mengetikkan keyword tertentu.
Saya malas bersitegang. Daripada pusing, lebih baik saya pakai jalan belakang. Saya minta tolong seorang pegawai kecamatan untuk membuat lagi kartu keluarga baru dan KTP. Pasti bukan yang elektronik. Kebetulan KTP saya pun habis masa berlakunya. Mengurus pakai “biro jasa” tak resmi begini pasti saja harus menguras kocek lebih dalam, yang tarifnya bisa beberapa kali lipat tarif resmi.
Ya, rupanya saya tidak cukup tabah untuk menjadi warganegara yang baik. Saya terjerumus dalam “dosa sosial” yang menyuburkan suap. Saya jadi ingat seorang sosiolog, entah siapa, yang mengatakan bahwa kita sudah menjadi pelaku korup sejak melangkah dari pintu rumah. Tanpa bermaksud membela diri, saya yakin ada banyak orang seperti saya. Saya ingin negera ini bersih dari korupsi, saya ingin di negeri ini, hukum positif ditegakkan tapi…. apalah daya… .
Eh.. kembali ke E-KTP. Dengan birokrasi dan cara pelayanan pegawai kantor yang menyebalkan seperti ini saya kok tidak yakin dengan ambisi pemerintah kita. Paling-paling ini akan jadi program KTP massal seperti puluhan tahun lalu. Mungkin tahun 80’an. Waktu itu pemerintah gerah. Orang Indonesia tak peduli pada yang namanya KTP. Pemerintah lantas bikin program KTP massal lewat kantor kelurahan. Orang-orang didudukkan berjejer ramai-ramai lalu jebret difoto. Alhamdulillah, jadi juga KTP bagi sebagian besar orang Indonesia. Tapi nanti dulu. Orang-orang protes. Tetangga saya, nama: Suratman, jenis kelamin : laki-laki, pekerjaan : ibu rumah tangga. Orang tua saya fotonya saling tertukar tapi datanya benar. Banyak lagi kelucuan-kelucuan lain.
Bahwa E-KTP akan jadi basis data ?. Duh ! Proyek pemerintah itu apa sih yang tidak bermasalah? Janganlah bermimpi. Indonesia ini begini luas. Kondisi sosial warganya juga amat beragam. Jurang perbedaan demikian luas. Belum lagi mentalitas pegawai pemerintah yang tak pernah membaik. Lha Malaysia saja, yang dalam banyak hal jauh lebih maju dari pada kita, elektronik KTP bisa menimbulkan masalah pelanggaran HAM (berapa kali kita baca ada mayat yang ganti agama, sehingga keluarganya tak bisa mengambil jenazah orang yang dikasihi, karena direbut oleh negara..busyet..).
Kembali ke Eeee-KTP. Kalau nanti didenda gara-gara tidak punya E-KTP, eh.. masak sih tak ada jalan kompromi ? Orang yang tak punya SIM saja bisa kasak-kusuk sama polisi kok, apalagi cuma KTP. Nggak punya KTP, nggak bisa ikut pemilu ? Huh…saya sudah muak lihat muka-muka pejabat korup di tv. Jadi golput ? Siapa takut…
12 Thursday Jan 2012
Posted in Umum
The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.
Here’s an excerpt:
The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 45,000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 17 sold-out performances for that many people to see it.
30 Sunday Oct 2011
Posted in Inspirational Power Points, Reflection
(Text tribute to Charles Chaplin)This slideshow requires JavaScript.
Download power point CHAPLIN, Laugh, Live, Dream Life is a drama that allows no rehearsals... Sing, therefore, laugh, dance, cry and live intensely. Live intensely each moment of your life... Before the curtain falls, and the show finishes without applause. Courage, smile! But don’t hide in that smile... Show all that you are, without fear. Some will dream and rejoice with your smile. Live! Try it! Dream! But do not harm anyone. Believe! Hope! There is always an exit, there is always a star that shines. Life is a try at being. Love! Love above everything. Love everything and everyone. Don’t close your eyes to the dirt in the world, to violence, to injustice... Never ignore HUNGER. Forget war, do something to stop it, even if you feel powerless. Search! whatever good there is in everything and everyone. Don’t make a distance out of shortcomings; turn them into a bridge. Accept! life and persons; make of them your reason to be alive. Understand! the persons who think differently, Do not reject them. Hi! Look... see how many friends... Today,have you already made anybody happy? Or, did you pain anyone with your selfishness? Hey! Do not run... Why the rush? Please, relax. Come up... Change the obstacles into steps to reach the goals you desire. Do not forget those who could not climb the staircase of life. HELP THEM! DISCOVER! everything good that you have inside . Above everything try to be A PERSON, (I will try it also myself) Live relaxed! Live intensely each moment of your life. Sing, laugh, dance, cry... Put humor into action. Each day drink a little glass of laughter. NEVER HESITATE TO LAUGH AT YOURSELF LAUDLY. Courage! And now go in peace. I love you.
26 Wednesday Oct 2011
Posted in Christianity, Reflection
My friend Isabelle http://tw.myblog.yahoo.com/isabel-blog forwarded this beautiful reflection. Got it !
This is so beautiful make sure you read the little story at the bottom..
The painters of these Feathers are outstanding,
But the message below the Feathers, “God’s Wings,” will touch your heart……
This slideshow requires JavaScript.
After a forest fire in Yellowstone National Park, Forest rangers began their trek up a mountain to assess the inferno’s damage. One ranger found a bird literally petrified in ashes,
Perched statuesquely on the ground at the base of a tree. Somewhat sickened by the eerie sight,He knocked over the bird with a stick.
When he gently struck it, Three tiny chicks scurried from under their dead mother’s wings.
The loving mother, keenly aware of impending disaster, Had carried her offspring to the base of the tree, and had gathered them under her wings. Instinctively knowing that the toxic smoke would rise. She could have flown to safety, but had refused to abandon her babies. Then the blaze had arrived and the heat had scorched her small body,
The mother had remained steadfast… Because she had been willing to die, So those under the cover of her wings would live.
‘He will cover you with His feathers, And under His wings you will find refuge.’ (Psalm 91:4)
20 Thursday Oct 2011
Posted in Ruang Refleksi
1. Take into account that great love and great achievements involve great risk. Risk is involved in every great opportunity in life. It it isn’t risky, then everyone would be doing, thus making it ordinary and not “great.” Separate yourself from the crowd as one who not only can take risks, but enjoys doing so. Certainty in life can only be so comforting until it gets boring.
2. When you lose, don’t lose the lesson. If you lose what you have learned not to do, you will be doomed to repeat it. More importantly, however, do fear failure. Failure is the precursor to success. Hardly any great thing that you wish to accomplish will come without failure. This ties back to the rule of risk mentioned above.
3. Follow the three Rs:
10 Monday Oct 2011
Posted in Ruang Refleksi
(Biarkan Bebek Berenang dan Elang Terbang)
Saya ingat dongeng ibu ketika saya kecil tentang anak itik yang buruk rupa. Alkisah, sebutir telur itik dititipkan pada seekor induk ayam untuk dierami. Ketika genap harinya, menetaslah beberapa ekor anak ayam yang lucu, mungil dan bersih serta seekor anak itik, yang buruk, karena bulu-bulunya belum lagi tumbuh. Mereka diasuh bersama-sama oleh si induk ayam. Tetapi anak-anak ayam itu segera tahu bahwa anak itik itu bukanlah saudara kandung mereka. Si anak itik yang buruk rupa selalu diolok-olok dan dipojokkan.
Suatu hari banjir melanda tempat tinggal mereka. Ayam-ayam tinggal di kandang dan kelaparan. Hujan tak menunjukkan tanda-tanda mereda. Demi melihat genangan air itu, timbullah getaran kekuatan menjalari tubuh si anak itik untuk merenanginya. Ya ! Si buruk rupa telah menemukan jati dirinya. Ia memang berbeda dengan anak ayam. Ia berenang, makin lama makin lancar, ke sana kemari. Induk angkatnya panik bukan main. Bagaimanapun ia takut anak asuhnya akan tenggelam dan mati. Tapi tidak! Ia justru bisa mencarikan makanan buat induk dan sudara-saudara angkatnya. Si anak itik telah menjadi makhluk sesuai fitrahnya tetapi tidak pula melupakan siapa yang mengasuhnya.******
Saya memparalelkan dongeng ini dengan dongeng seekor anak elang yang diasuh induk ayam. Continue reading »
02 Sunday Oct 2011
Posted in Umum
Tags
Fiksi
Kata orang ayahku bertangan dingin. Apa saja yang ditanamnya akan tumbuh subur. Apapun yang dipeliharanya akan beranak pinak. Itulah yang jadi kebanggaannya semenjak pensiun lima tahun yang lalu. Tanah selebar tujuh kali sembilan meter di depan rumah ditanaminya dengan berbagai bunga: aster, matahari, mawar, melati dan kemuning. Sadar bahwa bunga memberi keindahan, tapi tak membawa banyak manfaat, ia menanam pula kumis kucing, jahe, mahkota dewa dan beberapa jenis perdu tanaman obat lain. Masih ada pula pohon nangka berusia sekitar tiga tahun, rimbun, dengan beberapa buah ranum wangi bergantungan. Continue reading »