Baguio

Tags

Baguio Permata Cordilera

Baguio laksana permata di pegunungan Cordilera, bagian  utara Pulau Luzon, Philipina. Hawa sejuk membuat bunga-bunga selalu mekar bak musim semi abadi. Pantaslah jika kota ini dinobatkan menjadi ibu kota musim panas Philipina.

Bunga-bunga di salah satu sudut Mines View Park

Kota berjarak 254 km ke arah utara Manila ini konon mulai dibangun secara modern tahun 1903 ketika Philipina berada dalam kekuasaan Amerika. Antara bulan Maret sampai Juni ketika cuaca Manila sangat menyengat, para petinggi pemerintahan kolonialis itu beramai-ramai memindahkan aktivitasnya ke Baguio. Temperatur di kota ini dalam kondisi normal berkisar 15 – 23 0 Celcius, dan akan lebih dingin lagi pada sekitar bulan Desember dan Januari.

Semenjak saat itu Baguio dikenal ke mancanegara. Kota ini sangat kosmopolit. Meski begitu kotanya tetap terasa tenang, jauh dari keriuhan  suasana Manila. Kita bisa menjumpai komunitas berbagai bangsa di sini, bangunan-bangunan mewah dan artistik milik pesohor dan orang asing. Tapi kita masih juga menyaksikan rumah-rumah penduduk asli dengan segala atribut kesederhanaannya.

Musim panas di Philipina memang di luar dugaan saya. Saya tak membayangkan bahwa negara yang Cuma berbeda beberapa derajat dari garis lintang paling utara peta Indonesia itu bisa mengalami panas 41o Celcius. Maka wajar jika sengatan hawa panas macam ini membuat orang berbondong-bondong berlibur ke wilayah paling utara Pulau Luzon. Tetapi tidak cuma musim panas, setiap akhir pekan bisa dipastikan bus dari Manila menuju Baguio selalu dipenuhi para penumpang yang akan berlibur. Selain hawanya yang sejuk dan pemandangannya yang indah,  bagi turis asing banyak hal yang bisa dilihat di Baguio. Kita bisa menonton atraksi seni tradionalnya atau ikut acara panen stroberri.

Saya sendiri bukan saat musim panas mendapat kesempatan berlibur ke Baguio. Seminggu  menjelang Natal, sahabat saya, Barbara menelpon bahwa dia boleh berlibur ke convent Gembala Baik (RGS) di Baguio di sela-sela break kuliah pasca sarjananya. Meski ia juga anggota kongregasi itu, tetapi karena berasal dari negara lain (Malaysia), ia sedikit canggung berada di tengah-tengah orang yang tidak dikenalnya secara dekat. Maka kepada nyonya rumahnya ia mengajukan nama saya agar juga dapat diterima sebagai tamu mereka. Kebaikan yang luar biasa saya hargai.

Sebenarnya tidak terlalu mudah bagi saya yang awam untuk dapat menginap di dalam konvent seperti itu. Barbara harus bercerita dulu, bahwa saya seorang partner awam yang punya jam terbang belasan tahun bekerja di organisasi gereja. Barbara juga mengatakan kepada saya untuk menyiapkan uang. Bahkan untuk sesama anggota kongregasi pun kalau menginap lebih dari tiga hari biasanya harus membayar. Saya tidak berkeberatan.

Honeymoon City

Jam 9 pagi kami berangkat dari terminal bus di Cubao .Perjalanan dengan bus umum ini akan kami tempuh dalam 6 jam. Jalanan menanjak dan berkelok-kelok tajam.  Tak sekalipun saya ingin terlelap. Pemandangan alam begitu memasuki pegunungan Cordilera luar biasa memukau. Sawah-sawah yang subur menghijau dibuat bertingkat-tingkat dalam larik-larik yang teratur.

Banyak pasangan muda juga berangkat dalam bus ini. “They are too fast in sex,” komentar Barbara tanpa berpretensi negatif. Ya, sudah jadi pengetahuan umum bahwa Baguio juga merupakan kota “honeymoon” bagi pasangan-pasangan muda termasuk mahasiswa dari Manila. Tapi mereka bukan cuma mahasiswa asli Philipina.  Manila  terasa sangat kosmopolit dengan banyak mahasiswa asing dari berbagai negara Asia.

Bersama sahabat, Barbara Lip

Jam tiga sore kami tiba di Baguio. Kami harus naik jeepney ke tujuan kami. Rumah tujuan kami terasa mungil di tengah tanah luas perbukitan yang ditanami bunga-bunga dan cemara. Pernak-pernik Natal telah pula menghiasi rumah dan taman di depannya. Dari halaman depan ini saya bisa memandang gunung-gunung  berselimut kabut. Kami mendapat dua kamar di lantai dua. Kamar yang nyaman. Lantainya terbuat dari papan sehaingga hawa tingin tidak terlalu menyengat telapak kaki. Dari jendela kamar saya bisa menyaksikan hamparan gunung dan kebun luas mereka yang penuh bunga-bungan dan tanaman pinus.

 Kami diberi kunci pintu samping rumah agar bisa keluar masuk secara bebas tanpa merepotkan nyonya rumah. Kami juga dibebaskan untuk tidak mengikuti jadwal rutin mereka. Tapi kami masih berusaha mengikuti ibadat dan meditasi pagi (usaha yang sulit bagi saya : bangun pagi di tengah hawa dingin begini). Seperti kebiasaan di konvent manapun kami hanya perlu memberi tahu jadwal kepergian kami dan pernyataan apakah kami akan makan di rumah atau tidak. Kebanyakan kami makan di rumah bersama mereka, karena kami toh tidak berminat pergi terlalu jauh dari pusat kota.

Menengok Mountain Maid Training Center (MMTC)

Salah satu produk selai terkenal di Filipina bermerk Mountain maid, berbahan dasar ube. Ube atau dalam bahasa Indonesianya ubi jalar ini sangat khas baguio. Warnanya ungu dan ukurannya bisa sebesar buah nangka. Setiap pagi saya bisa melihat truk memuat ube ini menurunkan muatannya di samping konvent.

Gerai selai MMTC

Ternyata selai  ini diproduksi di pabrik yang terletak di bagian depan tanah susteran RGS ini. Pertama kali dibangun  pada tahun 1975 sebagai jalan keluar mengentaskan kemiskinan gadis-gadis di regensi Cordilera. Waktu itu para biarawati itu berpikir bagaimana mengentaskan kemiskinan bukan dengan cara instan, melainkan memberi para gadis dengan pendidikan yang baik, sehingga mereka mampu memberdayakan diri sendiri dan keluarganya. Dengan berbagai uji coba dan jatuh bangun, dibuatkan pabrik selai ini. Para gadis akan bekerja dan tinggal dalam asrama. Upah yang diperoleh akan digunakan untuk kuliah dan membantu keluarganya.

Bangunan berlantai tiga itu sekarang terlihat megah. Padahal tahun 1990 ketika gempa tektonik mengguncang Baguio, semua bangunan ini luluh lantak dan mereka memulai segalanya dari nol lagi.  Para biarawati tidak lagi mengurusi manajemen pabrik. Urusan itu diserahkan kepada lay collaborator-nya agar dapat diurus secara profesional. Para biarawati cukup menjadi pengawas dan mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas.

Dalam kunjungan ini saya diberi kesempatan untuk menengok kegiatan pabrik. Gerainya terletak di tepat di tepi jalan. Cukup banyak orang mengantre untuk membeli produk ini. Selai merk Mountain maid memang tidak membuka gerai atau cabang di tempat lain. Jadi kalau orang mau membeli ya harus datang ke pabriknya. Selain menjual produk utama, gerai ini juga menjual beberapa jenis makanan khas tanah pertanian pegunungan seperti madu, stroberi, ampyang kacang, dll.

Juga ada kafe kecil di pojok gerai bagi ingin sekedar makan atau minum di sini. Uniknya di kafe ini tidak disedikan tempat duduk. Mejanya berkaki tinggi sehingga orang harus makan sambil berdiri. (Di kampus Atheneo juga ada kantin yang semacam ini). Maksudnya jelas, agar orang tidak betah berlama-lama di kantin. Pokoknya eat and run. Hanya kantin untuk orang lapar!

Sesuai merek dagangnya, Mountain Maid, selai ini dibuat oleh para gadis  dalam asuhan suster-suster Gembala Baik (RGS) provinsi Philipina. Pabrik mampu memberi kerja bagi puluhan gadis dari seantero pegunungan Cordilera. Mereka diasramakan dalam bangunan yang terletak tak jauh dari pabrik, masih dalam areal tanah RGS ini. Mereka tidak diharapkan untuk selamanya bekerja di sini. Mereka bekerja untuk membiayai pendidikan tinggi bagi diri sendiri. Setelah lulus dan mendapat kerja yang lebih baik, mereka harus keluar dan kesempatan diberikan kepada gadis yang lain. Dengan cara ini pabrik selai Mountin maid telah bekerja nyata mengentaskan kemiskinan.

Disengat Dingin dan Simbanggabi

Saya tidak menyangka bahwa Baguio akan membekukan tulang tropis saya.  Wow… 16 0 Celcius di siang hari dan meluncur bebas di malam hari. Seperti hawa ketika musim semi baru tiba. Memang pantas, Baguio ini disebut kota musim semi abadi. Beraneka jenis bunga dan tamanan selalu tumbuh subur di sini. Saya cuma membawa sweater dan jaket tipis. Sebab saya pikir paling-paling sedingin Puncak di Jawa Barat. Untung jalan raya di muka konvent ini kalau siang menjadi pasar tempel segala jenis suvenir termasuk kaos dan sweater.

Hawa dingin harus dilawan. Saya harus bangun pagi mengikuti doa komunitas di pagi hari. Tidak ada yang memaksa, tapi saya ingin tergabung dalam angelic voice mereka. Malam saya  mengharus diri lagi untuk mengikuti simbanggabi atau misa (menjelang) tengah malam atau dini hari selama 9 hari berturut-turut sebelum Natal. Misa dimulai pukul 10 malam bersama seoarang pastor muda SVD. Semula saya pikir dia orang Indonesia, sebab dibalik albanya saya mengenali kemeja batik yang dikenakannya. Juga kulitnya tidak seterang orang-orang pegunungan Cordilera pada umumnya. Baru ketika ia berkotbah dalam bahasa Ilokano saya sadar bahwa saya salah duga.

Saya tidak memahami bahasa Ilokano bahasa lokal di bagian utara pulau Luzon yang agak berbeda dengan Tagalog.  Untung liturginya menggunakan bahasa Inggris. Ini bukan misa di kota Manila yang seringkali dipaket harus selesai 1 jam, karena banyaknya umat. Sesudah  misa kami masih bisa bincang-bincang di aula.  Tanggal 22 Desember  simbanggabi dimulai lebih awal, pukul 20.00 malam. Sesudahnya kami akan merayakan pesta natal bersama. Hmm…. bayangkan, pesta ini pasti akan berakhir tengah malam. Alasannya, karena tanggal tu adalah hari terakhir kerja, besok pagi-pagi sekali anak-anak asrama akan pulang ke rumah orang tuanya dan baru kembali sesudah tahun baru.

Seperti pesta di Indonesia. Acara dimulai dengan sambutan dari suster pimpinan, nasihat dari pastor, makan,  nyanyi-nyanyi, drama natal, dan pembagian bingkisan. Semua dapat bingkisan Natal yang sudah disiapkan oleh manajemen Mountain Maid dalam tas  gendhong warna ceria remaja, biru muda, pink, kuning, dan hijau muda. Semua membentuk lingkaran dan bersalaman.

Ada kebiasaan yang sama dengan Indonesia rupanya. Sebagian gadis remaja itu mencium tangan orangng-orang tua yang dihormati. Karena saya berdiri berjajar dengan para oma suster penghuni konven, maka tangan saya dicium juga. Waduh……. jangan-jangan saya memang sudah terlihat tua ya ? Memang para suster Gembala Baik (RGS) tidak lagi memakai habet atau jubah suster, jadi tidak mudah membedakan saya yang awam dengan mereka.

Misa dan pesta Natal malam itu juga perpisahan bagi kami. Pagi berikutnya, sesudah sarapan pagi kami pulang ke Manila. Penghuni komunitas yang baik ini menyiapkan setangkup sandwich, snack dan minuman untuk bekal. Seperti ketika datang, kembali kami akan menikmati 6 jam perjalanan munuruni punggung perbukitan Cordilera. Mabuhay. Sampai jumpa lagi. Terima kasih atas semua kebaikan yang kami terima dengan cuma-cuma dan penuh cinta.~~~ *** ~~~

This slideshow requires JavaScript.

Website / Link Pendidikan

Tags

,

Akhir Februari lalu kita sudah melaksanakan Workshop ICT untuk Guru SD. Pelatihan yang seru, meski waktu terasa kurang, karena cuma dua hari. Instruktur dari Pesona Edu sebanyak 4 orang membimbing para peserta dengan sabar. Semoga hasil dari workshop telah dapat kita aplikasikan dalam cara pengajaran kita di sekolah masing-masing.

This slideshow requires JavaScript.

Berikut ini adalah link yang dikirimkan Bu Yohana , salah satu instruktur, tentang materi-materi pengajaran yang bisa kita download. Semoga berguna. * * * Continue reading »

HUNDRED ISLANDS

Tags

, , ,

Kalau Indonesia punya Kepulauan Seribu, Philipina punya Hundred Islands. Kalah “judul”, memang, yang satu mengaku berjumlah ribuan yang satunya cukup ratusan saja. Tetapi dalam hal keindahan, mungkin Hundred Island tidak kalah cantik.

Gugus kepulauan atol sebagai latar belakang

GUGUS PULAU KARANG DI HAMPARAN LAUT DAN LANGIT BIRU

Gugus atol di provinsi Pangasinan ini teramat sayang  untuk dilewatkan  kalau kita pencinta wisata pantai dan laut. Maka dalam suatu kesempatan week-end, saya sanggupi ajakan beberapa teman di asrama Atheneo untuk bergabung bersama mereka. Dengan berwisata ramai-ramai maka biaya sewa penginapan akan lebih murah tentunya.

Jumat malam kami bersembilan meninggalkan Katipunan menuju Cubao. Bus malam yang sudah kami  pesan bertolak dari sana. Sekitar jam 11 malam kami beranngkat.  Hmm… AC bus terlalu dingin. Untung saya bawa sarung. Tak peduli apa kata orang, saya bergulung saja, memundurkan sandaran tempat duduk dan … tidur.  Toh, di luar juga tak banyak pemandangan yang bisa dinikmati dalam keremangan malam begini.

Sekitar jam 3 dinihari kami sampai Alaminos.  Berdua-dua kami naik tricycle  menuju pantai Pangasinan. Ada penginapan sederhana milik seorang kolega yang kami sewa. Masih terlalu dini untuk memulai aktivitas. Kami meneruskan tidur yang tak lelap di atas bus. Ini week-en man… jadi besok tetap bisa bangun semaunya. Saya mendengar langkah-langkah pemilik penginapan menyiapkan sarapan sederhana di teras, tepat di muka kamar saya. Lalu gumam teman-teman, aroma kapi…baru saya bangun.

Pemilik penginapan membantu kami mencari perahu motor sewaan. Rencana kami pagi ini kami langsung akan berkeliling pulau-pulau atol itu dan melewatkan siang atau sore di salah satu pulau terbesar.  Kami diminta mencatatkan nama, umur dan alamat dulu di kantor pengawas pantai. Pukul 11 siang, mulailah pelayaran wisata kami.

Laut mulai pasang. Motor tempel di perahu kami terasa terengah-engah dijejali 9 penumpang plus dua kru. Air laut di bawah serasa bisa diciduk dengan jangkauan tangan kami. Meski kami semua diwajibkan memakai pelampung, tetap saja jantung saya berdegub. Tetapi laut yang biru, langit bersih tak berawan dan gugusan ratusan pulau karang kecil-kecil di tengah laut ini merupakan pemandangan yang eksotis.

Seperti sepotong sandwich

Duh ! Lapaaar….!

Siang hari kami berhenti di sebuah gugus pulau terbesar untuk menikmati laut. Bebera teman kami segera berenang atau sekedar berjemur di pantainya yang berpasir putih. Saya sendiri cukup mencari tonjolan karang dan memandangi hamparan laut dan gugusan pulau karangnya.

Tapi ketika matahari beranjak semakin tinggi dan perut kami mulai lapar, barulah permasalahan muncul. Di pulau ini tidak ada restoran. Yang ada hanyalah beberapa kedai menjajakan air mieral dan makanan kecil. Beberapa keluarga yang berpiknik di sini kami lihat telah menyiapkan bekal dari rumah. Ya, begini piknik dengan teman-teman laki-laki, biasanya mereka tak peduli pada detil perjalanan.Sementara saya yang perempuan tak cukup feminin untuk ribet dengan pernak-pernik perlengkapan wisata. Tak apalah, saya toh menikmati perjalanan backpacker-an macam begini. Beberapa penduduk menawarkan ikan laut segar dan sekaligusnya membakarnya di atas tungku yang telah di sediakan di gazebo kami. Lumayanlah untuk mengganjal perut…..

Sekitar jam 4 sore kami pulang.  Tak ada yang mengusulkan untuk menjelajahi pulau-pulau kecil lagi. Kami langsung saja ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan. Mandi dan sambil menunggu makan malam kami mengobrol di teras. Kami menikamati makan malam di salah satu restoran yang menghadap pantai. Kita juga memilih teman makan a la kaki lima yang banyak digelar oleh penduduk. Makanan cukup bervariasi dan tidak aneh bagi lidah Indonesia.

Malam hari kami  menikmati bulan purnama di hamparan langit jernih. Langitnya pekat, karena belum terpolusi oleh lampu-lampu kota besar. Kepenatan seharian membuat kami tertidur pulas, meski kamar kami berada berbatasan langsung dengan laut.

Sebenarnya kami merencanakan menginap dua malam di sini. Tapi Minggu siang, selepas jalan-jalan di perkampungan nelayan dan membeli suvenir di pasar wisata tak banyak lagi aktivitas yang ditawarkan. Kami pun kembali ke Alaminos, kota terdekat. Makan siang di fast food Chowking dan bersiap pulang ke Manila. Akhir pekan yang menyenangkan. Memang perkampungan nelayan itu tak benyak menawarkan sarana-sarana wisata yang mewah. Tapi justru saya menyukai hal-hal seperti ini, pemandangan yang masih natural belum tercemari bisnis padat modal, udara yang bersih, dan di atas semuanya itu interaksi dengan penduduk asli.

This slideshow requires JavaScript.

DI BALIK KENYAMANAN NAIK BRT

Tags

Dengan hadirnya Bus Rapid Transport (BRT)  di Bandar Lampung jarak antarbagian dalam kota terasa dekat. Dalam beberapa hal, naik BRT tentu saja lebih nyaman daripada naik angkot.  Tapi di benak saya masih tersisa beberapa pertanyaan.

Tak mau ketinggalan dengan kota-kota lain di Jawa, mulai November 2011 Bus Rapid Transport (BRT) beroperasi di Bandar Lampung. Sampai Maret 2012 BRT telah melayani empat rute yang melewati jalan protokol, Rajabasa – Sukaraja, Perum Korpri – Sukaraja, Kemiling – Sukaraja dan yang terbaru Jl. Ir. Sutami – Sukaraja.

Sistem tiket terusan (transit) sungguh meringankan, karena penumpang akan dibantu berhenti di halte tertentu dan bisa meneruskan ke tujuannya tanpa membayar tiket lagi. Bus masih baru, AC berfungsi dengan baik, dan kru yang sopan membuat penumpang merasa dimanusiakan. Mudah-mudahan kenyamanan bukan karena BRT merupakan barang  baru, tapi terus berlanjut.

Bandingkan dengan angkot yang hampir semuanya disopiri secara ugal-ugalan,  musik dibunyikan keras-keras, ngebut lalu mengerem mendadak. Kalau ditegur, sopir macam begini bukannya bertingkah lebih baik, tapi makin menjadi-jadi. Nyawa sapi yang dibawa sopir truk antarpulau akan lebih berharga dari pada nyawa penumpang di atas angkot Bandar Lampung.

Terlepas dari beberapa kenyamanan di atas, ada sejumlah permasalahan yang mesti dipikirkan oleh pejabat yang berwenang. Beberapa di antaranya.

  1. Sejak awal keberadaannya BRT merampas hak pejalan kaki. Jalan Zainal Abidin Pagar  Alam diperluas dengan memangkas trotoir. Perluasan jalan akan memberi akses pada kendaraan bermotor terutama sepeda motor untuk semakin ngebut. Sehari-hari jalan dari dan menuju ke bandara ini sangat padat. Menyeberang jalan menjadi kegiatan yang menakutkan karena ketiadaan jembatan penyeberangan.
  2. Dengan adanya BRT secara perlahan  angkot akan kehilangan penumpang dan mati. Sudahkah dipikirkan hak hidup sekian banyak sopir dan keluarganya. Mereka memang sering menjengkelkan tapi saya pikir ini adalah muara dari manajemen transportasi yang kacau di negara kita. Saya senang jika kota menjadi rapi dan tertib, tetapi hendaknya perkembangan hal yang positif ini tidak meniadakan hak rakyat kecil untuk hidup layak.
  3. BRT dengan body tinggi ini memang nyaman untuk berdiri, kalau tempat duduk telah penuh. Tapi bagi saya terasa tidak “gender mainstreaming”. Tali tempat berpegangan cukup tinggi sehingga perempuan (dan anak-anak) yang tidak bertubuh tinggi tidak bisa perpegangan. Juga tali dan pegangan tangan terbuat dari bahan yang ringkih, sehingga suatu saat saya pernah melihat pegangan putus hanya dalam dua menit setelah digelendoti sesosok tubuh penumpang gendut.
  4. Halte sampai kini terasa lambat pembangunannya. Penumpang terpaksa naik dan turun dari pintu disamping sopir. Pintu ini cukup tinggi bagi perempuan apalagi jika mengenakan rok dan juga lansia. Saya perhatikan pada banyak halte yang sedang dibangun, anak tangga hanya ada pada satu sisi saja. Semoga tidak terus seperti itu, sebab jika seperti itu penumpang harus anjlog untuk mencapai tanah kembali.

Semoga kota semakin nyaman dan manusiawi dengan adanya BRT. Semoga beberapa kekurangan bisa semakin disempurnakan.

TOLAK KENAIKAN HARGA BBM !!!

Tags

ATAS DASAR AMANAT UUD 1945  TOLAK KENAIKAN HARGA BBM !!!

Bohong besar bahwa pemerintah memberi  subsidi BBM kepada rakyat. Yang benar adalah rakyat miskin memberi  subsidi kepada para pejabatnya untuk  laku hedonis dan koruptif mereka.

Pasal 33 UUD 1945 mengamanatkan bahwa  kekayaan sumber daya alam dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tetapi apa yang terjadi dengan rakyat di Negara Indonesia yang kaya sumber daya alam ini ? Seperti anak ayam mati di lumbung padi, karena padinya dirampok  oleh orang-orang yang dipilih menjadi pejabatnya  (baca penjajah).

Mencermati debat panjang  tentang kenaikan BBM April nanti, pemahaman saya mengenai issue itu semakin diperkaya oleh thread teman-teman di grup Fb saya. Bahan berikut ini saya unggah dari diskusi maya mereka.

Pak Kwik Kian Gie  mengatakan, bahwa sistem tata buku pemerintahan itu adalah cash-basis. Lantas  keuntungan nilai jual dikurangi harga bahan dasar itu uangnya lari ke mana?  Jadi sebenarnya pemerintah tidak memberi subsidi, tetapi justru rakyatlah yg mensubsidi kemewahan pejabat-pejabat  pemerintah.

Ada beberapa kesalahan mendasar pemerintah dalam mengelola sumber daya minyak Indonesia:

  • Pertama, minyak mentah dibeli dari kilang yg dikelola perusahaan asing.  Kenapa a set strategis sampai jatuh hampir semua (85%) ke tangan asing?
  • Kedua, harga minyak mentah dijual ke luar negeri mengikuti harga pasar. Ini sudah bertentangan dengan  UUD ’45.
  • Ketiga, selisih harga jual (yg mengiikuti harga pasar) dan harga beli (dari rakyat) itu uangnya lari ke mana?
  • Keempat, mengapa penjualan crude  dan pembelian BBM harus melalui sebuah perusahaan misterius ‘Petral’ yg berdomisili di Singapura? Siapa saja pemegang sahamnya? Keuntungannya lari ke mana?

Kalau tidak salah ingat, transaksi melalui Petral itu tiap hari 700.000 barrel. Kalau 1 barrel saja mengambil untung USD 0.1. Berarti tiap hari sudah untung USD 70.000 atau setara dengan Rp.650 juta per hari ! keuntungan minimal per bulan (30 hari) : Rp 19,5 Miliar. Ini tak jelas masuk ke kantong siapa.

Alasannya  yang dikemukakakan adalah  hedging  (hedging adalah tindakan yang dilakukan untuk melindungi sebuah perusahaan dari exposure terhadap nilai tukar) Ini karena Pertamina tidak kompeten melakukan hedging finansial di oil market.  LHO !

 Kalau memang pemerintah benar – benar berniat mengemban amanat rakyat, tentu perusahaan hedging itu tidak perlu dididirikan di Singapura (dan tak jelas). Mengapa tidak didirikan saja perusahaan itu di Jakarta, sehingga keuntungannya bisa dimasukkan dalam buku pemasukan keuangan negara?

INi adalah parabel / perumpamaan sederhana tentang tragedi menyak tersebut di atas .

Ibaratnya, kita punya air, terus kita titip ke dispenser tetangga  sebelah, wee lha selanjutnya kita musti bayar untuk setiap segelas air milik kita sendiri itu, dengan  harga selangit.

Lebih parah lagi. Setiap anggota keluarga yang mau minum harus beli melalui perantaraan  si kakak sulung. Keuntungannya masuk ke kantong si kakak tentu saja.  Jadi adik-adiknyanya semakin miskin, si kakak semakin kaya. Kalau dibilang merampok  jelas dia menolak dan  menjawab “Ini pengaturan utuk kesejahteraan keluarga kok !”

Si kakak bilang ke adik-adiknya,  ”Harga air minum itu benernya 1500 lho, tapi saya subsidi 500 karena saya prihatin dengan kesulitanmu”. Adiknya yag masih TK senang berteriak, “Horee kakak baik”.

Tapi berhubung si kakak kaya ini walau sudah mewah tapi rakus masih ingin beli mobil sport terbaru dan uangnya kurang, maka ia harus menambah pemasukannya, ia bilang ke adik-adiknyanya, “Maaf, kakak sekarang tidak punya uang, maka subsidi saya hapus. Kalau tidak kakak akan bangkrut. Kalo bangkrut nanti kalian tidak   bisa minum aqua lagi”.

NAH ! Sederhana kan  untuk dipahami ?? Jadi TOLAK KENAIKAN BBM ATAS  NAMA AMANAT PENDERITAAN RAKYAT JELATA !!!

Satu lagi :

Anggito Abimanyu, salah satu fundamentalis neo-liberal Indonesia yang selalu bersikeras menaikkan harga BBM dengan alasan “mengurangi beban subsidi BBM”,  pun akhirnya bertobat mengakui bahwa tidak ada subsidi dalam BBM.  http://cahyono-adi.blogspot.com/2012/03/pengakuan-anggito-abimanyu-tidak-ada.html  Continue reading »

KARMA BAIK

Tags

Serendipity..”luck in making desirable discoveries by accident.”  At first, it seems to fit this definition. But then you begin to realize it is no accident, nor is  luck. Bless everything today and be joyful your happiness is intended and not an accident. ♥ ♥ ♥

 Hal-hal kecil yang tampaknya hanya sebuah kebetulan, sering kali bukanlah sebuah kebetulan. Peristiwa itu dirancang untuk datang pada saat yang tepat dan dengan orang-orang yang tepat. Kalau saya bicara dalam bahasa spiritual  mungkin itu adalah sebuah karma baik, yaitu buah dari kebaikan kita di masa lalu. Seperti kisah yang saya alami ini.

Di suatu Sabtu malam saya menyelesaikan pekerjaan saya mengkoordinir pelatihan bagi guru-guru sekolah dasar yang dimulai sejak 2 hari sebelumnya. Para instruktur datang dari Jakarta dan baru akan pulang dengan peasawat pada Minggu pagi. Setelah memastikan bahwa sopir kantor akan mengantar mereka ke bandara esok hari, saya pun pamit pulang, sebab hari keesokan paginya saya harus menghadiri sebuah acara lain.

Saya minta seorang anggota keluarga saya untuk menjemput. Tetapi mobil sedang dipakai oleh anggota keluarga yang lain dan baru bisa dipakai pada pukul sepuluh malam. Maka saya akan dijemput dengan sepeda motor pada pukul tujuh malam. Tetapi ternyata hujan turun sangat deras dengan petir dan guntur menggelagar.  Saya membatalkan jemputan dengan motor dan terpaksa mengunggu sampai jam sepuluh malam.

 Kami   - saya dan empat orang instruktur  – merasa sangat  lelah maka kami masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat. Tiba-tiba pukul 9 malam, seorang instruktur perempuan menelpon saya dan meminta saya datang ke kamarnya. Ia meminta saya mengeroki punggungnya. Ia terlihat sangat kesakitan.  Ia kemudian bercerita bahwa 8 tahun sebelumnya ia pernah menderita lupus. Sampai saat ini pun penyakit itu masih menyisakan penderitaan baginya. Kalau terlalu lelah punggung dan lututnya sangat berasa sakit. Beberapa hari sebelumnya ia pun masih menjalani terapi pada tulang belakangnya.

“Untung Ibu tidak jadi dijemput tadi pukul tujuh. Kalau Ibu pulang, siapa yang menolong saya. Saya  tidak bisa minta tolong pada teman-teman instruktur lain karena mereka laki-laki, “ katanya. Tampaknya hanya sebuah kebetulan bahwa hujan deras dan guruh membatalkan kepulangan saya. Tapi bagi saya peristiwa ini bukan kebetulan semata. Peristiwa ini dirancang oleh sang mahahidup agar ibu instruktur itu mendapat pertolongan pada saat yang tepat. Ia mendapatkan kebaikan (pertolongan) pada saat yang tepat karena saya yakin ia sendiri telah berbuat banyak kebaikan pada orang lain. Itulah karma.

Saya lantas teringat peristiwa yang hampir sama berpuluh tahun yang lalu ketika saya masih kuliah di Yogyakarta. Suatu saat saya pulang kampung di Bandar Lampung dengan bus dan kemalaman di jalan. Dulu transportasi belum selancar sekarang. Perjalanan dengan pesawat terbang hanya monopoli anak-anak orang kaya saja. Sejak dari Jakarta, di sebelah saya duduk seorang bapak berusia sekitar 50-an. Dia mengatakan bahwa rumahnya terletak tak jauh dari terminal induk Rajabasa. Ia baru saja menengok anak gadisnya yang kuliah di Jakarta. Menjelang tengah malam bis malam yang saya tumpangi memasuki Bandar Lampung.  Dari terminal saya masih harus berganti dua angkot lagi untuk sampai ke rumah. Anehnya bapak ini mengikuti saya, padahal rumahnya tak jauh dari terminal. Ia mengantar saya sampai saya turun dari angkot tepat di muka gang menuju rumah saya. Ketika saya tanya, bapak tadi mengatakan bahwa ia merasa harus mengantar dan memastikan  saya  aman selamat sampai di rumah. Ia berkeyakinan bahwa jika ia menolong orang lain, maka suatu saat anak gadisnya juga akan ditolong oleh orang lain pada saat ia membutuhkan.

Mungkin itulah karma baik. Tindakan positif akan menuntun pada hasil yang positif. Meski saya yakin bahwa setiap perbuatan baik yang kita lakukan haruslah didasarkan pada sikap iklas, tanpa berharap pada imbalan, tetapi karma konon terjadi secara alamiah seperti hukum gravitasi.  Bagi saya sendiri hal ini membawa kesadaran bahwa jika saya mengharapkan kebahagiaan dan pengalaman baik di masa datang saya harus melakukan tindakan yang baik di masa kini dan jika berharap untuk terhindar dari kekecawaan maka harus menjauhi tindakan negatif.

“Bahkan perbuatan baik yang sederhana

Akan mendatangkan kebahagiaan pada kehidupan mendatang

Yang telah mencapai kehidupan mulia

Bagaikan benih yang menjadi panen berlimpah.”

~ Dhammapada ~

TIME for GOD

Tags

Oh….. we only remember God in time when we…….

This slideshow requires JavaScript.

Download power point time for god

MAUT DI JALAN RAYA

Tags

,

Kita bertaruh nyawa  di jalan raya  setiap hari. Ini bukan kiasan. Sungguh, jalan raya di negara ini bisa menjadi killing field bagi siapa saja. Kita sudah  berhat-hati dan menaati peraturan, kalau orang lain sembrono, celaka jugalah kita.

Di mana peran negara ? Nyaris abai.  Para pejabat baru ribut  setelah terjadi kecelakaan yang diekspos oleh media. Mereka berpikir seolah negara hanya cukup membuat seperangkat  undang-undang dan peraturan. Siapa takut melanggar aturan? Kalau  kena tilang, karena tidak punya SIM atau melanggar aturan lain, sudah jadi kebiasaan umum bahwa orang akan melakukan tawar menawar dengan polisi untuk membayar denda.  Ingin dapat SIM dengan mudah ? Gampang, beli saja. Sering kali kita ingin jadi warganegara yang baik dengan mengikuti aturan dan prosedur yang benar, tapi para aparat justru mempersulit.

Kematian tragis sembilan orang pejalan kaki di Tugu Monas, 22/1/2012 merepresentsikan silang sengkarut  kekacauan  aturan jalan raya di Indonesia sebagaimana tersebut diatas.  Di antara para pemakai jalan, pejalan kaki di Indonesia memang menjadi paria. Kelas paling bawah yang nyaris tak punya hak.  Mari kita lihat.  Tidak semua jalan raya menyediakan trotoar untuk pejalan kaki. Kalaupun ada, sangat  sering trotoar direbut oleh pedagang kaki lima atau lahan parkir motor. Di kota saya, dalam rangka pengoperasionalkan bus Trans Bandarlampung, trotoar yang sudah ada pun disempitkan lagi.

Jalan raya yang sudah ramai semakin tak ramah bagi pejalan kaki. Kondisi semakin menakutkan dengan hilangnya etika publik di mana-mana. Pengendara motor bebas menyalip kendaraan di depannya baik dari kiri mapun dari kanan. Angkot  ngebut atau mengerem mendadak dengan tape rekorder yang disetel keras-keras. Butuh mental baja untuk menyeberang jalan, sekalipun kita sudah melangkah di atas zebra cross. Jembatan penyeberangan hanya sedikit sekali. Itupun sangat kotor dan dihuni oleh para  gepeng.

Beberapa tahun lalu, ketika baru pulang dari Perancis, saya selalu berkeringat dingin tiap kali menyeberang  jalan. Jika naik angkot  jantung saya berdegup kencang dan tangan saya berpegangan kuat-kuat pada jok. Di Perancis, saya tinggal di sebuah kota kecil bernama Ecully. Masalahnya bukan karena kotanya kecil maka hak-hak pejalan kaki dihargai, tetapi menyangkut karakter sebuah bangsa saya kira. Juga didukung dengan adanya aturan dan penegakan  hukum yang tidak bisa ditawar-tawar.

Trotoar menuju kampus saya di Chemin de chalin (berseberangan dengan Valpre Hotel)  ada di kedua sisi jalan. Salah satunya permukaannya berpasir. Rupanya ini adalah trotoar untuk anjing. Pemilik anjing menuntun hewan peliharaannya di trotoar itu, sehingga tinjanya tidak megotori badan jalan. Bayangkan anjing pun punya hak asasi dan juga kewajiban untuk mematuhi aturan. Tidak ada jembatan penyeberangan, karena kotanya nyaris tidak pernah ramai atau macet. Tetapi tiap kali ada orang mau menyeberang jalan, kendaraan dari jauh akan mengerem untuk memberi kesempatan pada pejalan untuk menyeberang. Sesama pejalan kaki pun kalau mendahului orang lain akan berbisik perlahan,”Pardon.”

Kita bisa berkilah,”itu kan negara maju.”  Sekali lagi bukan itu masalahnya. Esensinya adalah karakter bangsa ini. Bandingkan saja dengan negara tetangga yang hampir sama  tingkat (ketidak-)makmurannya, Philipina, misalnya, kita pun sangatkalah dalam hal keadaban publik di jalan raya. Benar Manila dan Jakarta sama macetnya. Tapi trotoar dan jembatan penyeberangan masih lebih banyak dan berkualitas di sana. Belum lagi penyediaan ruang terbuka untuk pejalan kaki, dan bukannya semua ruang yang ada disesaki oleh bangunan pertokoan. Undak-undakan sangat sering diberi partisi. Semua orang tahu bahwa kita harus memilih jalur kiri  baik saat menuruni atau menaiki tangga. Dengan demikian orang tidak akan saling bertubrukan.

Kembali ke hidup keseharian kita. Adakah aturan bahwa pemerintah wajib menyediakan trotoar dalam setiap pembangunan jalan raya? Apakah  sarana jalan tersebut juga memberi akses kepada kaum difabel ? Kalau memang ada aturannya tapi tidak dipenuhi oleh pemerintah apakah kita sebagai rakyat jelata dapat menuntut pemerintah lewat PTUN ? Saya hanya berpikir dalam logika sederhana dan tidak berbelit. Rakyat sudah membayar pajak, maka  pemeritah harus memberik hak kepada pemakai jalan. Sekali lagi kita ini kaya akan aturan. Tapi pelaksanaannya selalu jatuh dalam kompromi negatif.

Eeee-KTP

Tags

Saya itu paling malas berurusan dengan kantor dinas pemerintah. Paradigmanya itu lho, dari dulu tak pernah berubah. “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah.” Tapi ya namanya masih warga negara Indonesia, sesekali pasti harus berurusan dengan mereka, mengurus KTP misalnya.

Sejak 2 tahun lalu saya sudah mendengar tekat bulat pemerintah (Depdagri?) untuk membuat KTP elektronik (E-KTP) bagi semua WNI. Gembar-gembornya ini akan menjadi “semacam” basis data penduduk Indonesia. Ambisinya proyek ini akan diselesaikan dalam tahun 2011 di beberapa provinsi.

Kalau di beberapa provinsi di Jawa proyek sudah berjalan sejak 2010, di kampung saya, di Bandar lampung, baru dimulai akhir 2011. Saya agak lupa, mungkin akhir November. Pak RT membagi-bagikan undangan untuk foto ramai-ramai di kantor kecamatan. Tapi tak ada yang ditujukan ke penghuni rumah saya. Katanya, nanti akan undangan secara bertahap. Kalaupun tak pakai undangan, yang penting bawa fotokopi KTP lama dan kartu keluarga, maka akan dilayani.

Nah. Tanpa undangan, hanya berbekal pemberitahuan pak RT yang terakhir itu, ibu saya yang sudah lansia, bersama-sama tetangga kiri kanan, jam 6 pagi sudah antre di kantor kecamatan. Orang-orang berjubel, bahkan kata seseorang sejak jam lima pagi. Tapi apa lacur, tanpa undangan dari kantor kecamatan, ibu saya ditolak dengan satu bentakan. Ia pulang dengan memendam kejengkelan.

Tunggu punya tunggu, undangan dari kecamatan tak pernah mampir ke rumah saya. Sampailah pada tanggal 13 januari lalu. Sepulang kerja, seorang tetangga yang aktivis lingkungan, memberitahu bahwa hari itu juga Dibatasi sampai tanggal 16 malam) kecamatan memberi kesempatan kepada orang-orang yang belum diundang untuk difoto dan mengisi data. Konon katanya Pak Walikota, Herman H.N., murka berat (…sehari sebelumnya ia memutasi beberapa camat, pejabat di dinas kota, dan memecat seorang lurah…). Pegawai banyak yang nganggur-ngangguran, proyek E-KTP tak sesuai tenggat yang ditargetkan.

Yah, keesokan harinya terpaksa membolos kerja, saya dan ibu saya bersiap ke kecamatan. Sial. Rupanya kartu keluarga kami nyelip entah ke mana. Yang ketemu malah kartu keluarga yang model lama (tapi tak ada tanggal kedaluwarsanya kok). Di kecamatan, kembali pegawai pendaftaran menanyakan undangan. Saya jawab tidak pernah ada. Kartu keluarga kami pun ditolaknya, dengan alasan data tak bisa dibuka dengan kartu lama itu. Ini alasan tolol yang anak SD pun tak mau percaya. Mungkin data penduduk di kantor itu dibuat oleh programer dari angkasa luar, sehingga tak bisa mencari entri data dengan mengetikkan keyword tertentu.

Saya malas bersitegang. Daripada pusing, lebih baik saya pakai jalan belakang. Saya minta tolong seorang pegawai kecamatan untuk membuat lagi kartu keluarga baru dan KTP. Pasti bukan yang elektronik. Kebetulan KTP saya pun habis masa berlakunya. Mengurus pakai “biro jasa” tak resmi begini pasti saja harus menguras kocek lebih dalam, yang tarifnya bisa beberapa kali lipat tarif resmi.

Ya, rupanya saya tidak cukup tabah untuk menjadi warganegara yang baik. Saya terjerumus dalam “dosa sosial” yang menyuburkan suap. Saya jadi ingat seorang sosiolog, entah siapa, yang mengatakan bahwa kita sudah menjadi pelaku korup sejak melangkah dari pintu rumah. Tanpa bermaksud membela diri, saya yakin ada banyak orang seperti saya. Saya ingin negera ini bersih dari korupsi, saya ingin di negeri ini, hukum positif ditegakkan tapi…. apalah daya… .

Eh.. kembali ke E-KTP. Dengan birokrasi dan cara pelayanan pegawai kantor yang menyebalkan seperti ini saya kok tidak yakin dengan ambisi pemerintah kita. Paling-paling ini akan jadi program KTP massal seperti puluhan tahun lalu. Mungkin tahun 80’an. Waktu itu pemerintah gerah. Orang Indonesia tak peduli pada yang namanya KTP. Pemerintah lantas bikin program KTP massal lewat kantor kelurahan. Orang-orang didudukkan berjejer ramai-ramai lalu jebret difoto. Alhamdulillah, jadi juga KTP bagi sebagian besar orang Indonesia. Tapi nanti dulu. Orang-orang protes. Tetangga saya, nama: Suratman, jenis kelamin : laki-laki, pekerjaan : ibu rumah tangga. Orang tua saya fotonya saling tertukar tapi datanya benar. Banyak lagi kelucuan-kelucuan lain.

Bahwa E-KTP akan jadi basis data ?. Duh ! Proyek pemerintah itu apa sih yang tidak bermasalah? Janganlah bermimpi. Indonesia ini begini luas. Kondisi sosial warganya juga amat beragam. Jurang perbedaan demikian luas. Belum lagi mentalitas pegawai pemerintah yang tak pernah membaik. Lha Malaysia saja, yang dalam banyak hal jauh lebih maju dari pada kita, elektronik KTP bisa menimbulkan masalah pelanggaran HAM (berapa kali kita baca ada mayat yang ganti agama, sehingga keluarganya tak bisa mengambil jenazah orang yang dikasihi, karena direbut oleh negara..busyet..).

Kembali ke Eeee-KTP. Kalau nanti didenda gara-gara tidak punya E-KTP, eh.. masak sih tak ada jalan kompromi ? Orang yang tak punya SIM saja bisa kasak-kusuk sama polisi kok, apalagi cuma KTP. Nggak punya KTP, nggak bisa ikut pemilu ? Huh…saya sudah muak lihat muka-muka pejabat korup di tv. Jadi golput ? Siapa takut…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.