Eeee-KTP
Saya itu paling malas berurusan dengan kantor dinas pemerintah. Paradigmanya itu lho, dari dulu tak pernah berubah. “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah.” Tapi ya namanya masih warga negara Indonesia, sesekali pasti harus berurusan dengan mereka, mengurus KTP misalnya.
Sejak 2 tahun lalu saya sudah mendengar tekat bulat pemerintah (Depdagri?) untuk membuat KTP elektronik (E-KTP) bagi semua WNI. Gembar-gembornya ini akan menjadi “semacam” basis data penduduk Indonesia. Ambisinya proyek ini akan diselesaikan dalam tahun 2011 di beberapa provinsi.
Kalau di beberapa provinsi di Jawa proyek sudah berjalan sejak 2010, di kampung saya, di Bandar lampung, baru dimulai akhir 2011. Saya agak lupa, mungkin akhir November. Pak RT membagi-bagikan undangan untuk foto ramai-ramai di kantor kecamatan. Tapi tak ada yang ditujukan ke penghuni rumah saya. Katanya, nanti akan undangan secara bertahap. Kalaupun tak pakai undangan, yang penting bawa fotokopi KTP lama dan kartu keluarga, maka akan dilayani.
Nah. Tanpa undangan, hanya berbekal pemberitahuan pak RT yang terakhir itu, ibu saya yang sudah lansia, bersama-sama tetangga kiri kanan, jam 6 pagi sudah antre di kantor kecamatan. Orang-orang berjubel, bahkan kata seseorang sejak jam lima pagi. Tapi apa lacur, tanpa undangan dari kantor kecamatan, ibu saya ditolak dengan satu bentakan. Ia pulang dengan memendam kejengkelan.
Tunggu punya tunggu, undangan dari kecamatan tak pernah mampir ke rumah saya. Sampailah pada tanggal 13 januari lalu. Sepulang kerja, seorang tetangga yang aktivis lingkungan, memberitahu bahwa hari itu juga Dibatasi sampai tanggal 16 malam) kecamatan memberi kesempatan kepada orang-orang yang belum diundang untuk difoto dan mengisi data. Konon katanya Pak Walikota, Herman H.N., murka berat (…sehari sebelumnya ia memutasi beberapa camat, pejabat di dinas kota, dan memecat seorang lurah…). Pegawai banyak yang nganggur-ngangguran, proyek E-KTP tak sesuai tenggat yang ditargetkan.
Yah, keesokan harinya terpaksa membolos kerja, saya dan ibu saya bersiap ke kecamatan. Sial. Rupanya kartu keluarga kami nyelip entah ke mana. Yang ketemu malah kartu keluarga yang model lama (tapi tak ada tanggal kedaluwarsanya kok). Di kecamatan, kembali pegawai pendaftaran menanyakan undangan. Saya jawab tidak pernah ada. Kartu keluarga kami pun ditolaknya, dengan alasan data tak bisa dibuka dengan kartu lama itu. Ini alasan tolol yang anak SD pun tak mau percaya. Mungkin data penduduk di kantor itu dibuat oleh programer dari angkasa luar, sehingga tak bisa mencari entri data dengan mengetikkan keyword tertentu.
Saya malas bersitegang. Daripada pusing, lebih baik saya pakai jalan belakang. Saya minta tolong seorang pegawai kecamatan untuk membuat lagi kartu keluarga baru dan KTP. Pasti bukan yang elektronik. Kebetulan KTP saya pun habis masa berlakunya. Mengurus pakai “biro jasa” tak resmi begini pasti saja harus menguras kocek lebih dalam, yang tarifnya bisa beberapa kali lipat tarif resmi.
Ya, rupanya saya tidak cukup tabah untuk menjadi warganegara yang baik. Saya terjerumus dalam “dosa sosial” yang menyuburkan suap. Saya jadi ingat seorang sosiolog, entah siapa, yang mengatakan bahwa kita sudah menjadi pelaku korup sejak melangkah dari pintu rumah. Tanpa bermaksud membela diri, saya yakin ada banyak orang seperti saya. Saya ingin negera ini bersih dari korupsi, saya ingin di negeri ini, hukum positif ditegakkan tapi…. apalah daya… .
Eh.. kembali ke E-KTP. Dengan birokrasi dan cara pelayanan pegawai kantor yang menyebalkan seperti ini saya kok tidak yakin dengan ambisi pemerintah kita. Paling-paling ini akan jadi program KTP massal seperti puluhan tahun lalu. Mungkin tahun 80’an. Waktu itu pemerintah gerah. Orang Indonesia tak peduli pada yang namanya KTP. Pemerintah lantas bikin program KTP massal lewat kantor kelurahan. Orang-orang didudukkan berjejer ramai-ramai lalu jebret difoto. Alhamdulillah, jadi juga KTP bagi sebagian besar orang Indonesia. Tapi nanti dulu. Orang-orang protes. Tetangga saya, nama: Suratman, jenis kelamin : laki-laki, pekerjaan : ibu rumah tangga. Orang tua saya fotonya saling tertukar tapi datanya benar. Banyak lagi kelucuan-kelucuan lain.
Bahwa E-KTP akan jadi basis data ?. Duh ! Proyek pemerintah itu apa sih yang tidak bermasalah? Janganlah bermimpi. Indonesia ini begini luas. Kondisi sosial warganya juga amat beragam. Jurang perbedaan demikian luas. Belum lagi mentalitas pegawai pemerintah yang tak pernah membaik. Lha Malaysia saja, yang dalam banyak hal jauh lebih maju dari pada kita, elektronik KTP bisa menimbulkan masalah pelanggaran HAM (berapa kali kita baca ada mayat yang ganti agama, sehingga keluarganya tak bisa mengambil jenazah orang yang dikasihi, karena direbut oleh negara..busyet..).
Kembali ke Eeee-KTP. Kalau nanti didenda gara-gara tidak punya E-KTP, eh.. masak sih tak ada jalan kompromi ? Orang yang tak punya SIM saja bisa kasak-kusuk sama polisi kok, apalagi cuma KTP. Nggak punya KTP, nggak bisa ikut pemilu ? Huh…saya sudah muak lihat muka-muka pejabat korup di tv. Jadi golput ? Siapa takut…
2011 in review
The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.
Here’s an excerpt:
The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 45,000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 17 sold-out performances for that many people to see it.
Laugh, Live, Dream
(Text tribute to Charles Chaplin)This slideshow requires JavaScript.
Download power point CHAPLIN, Laugh, Live, Dream Life is a drama that allows no rehearsals... Sing, therefore, laugh, dance, cry and live intensely. Live intensely each moment of your life... Before the curtain falls, and the show finishes without applause. Courage, smile! But don’t hide in that smile... Show all that you are, without fear. Some will dream and rejoice with your smile. Live! Try it! Dream! But do not harm anyone. Believe! Hope! There is always an exit, there is always a star that shines. Life is a try at being. Love! Love above everything. Love everything and everyone. Don’t close your eyes to the dirt in the world, to violence, to injustice... Never ignore HUNGER. Forget war, do something to stop it, even if you feel powerless. Search! whatever good there is in everything and everyone. Don’t make a distance out of shortcomings; turn them into a bridge. Accept! life and persons; make of them your reason to be alive. Understand! the persons who think differently, Do not reject them. Hi! Look... see how many friends... Today,have you already made anybody happy? Or, did you pain anyone with your selfishness? Hey! Do not run... Why the rush? Please, relax. Come up... Change the obstacles into steps to reach the goals you desire. Do not forget those who could not climb the staircase of life. HELP THEM! DISCOVER! everything good that you have inside . Above everything try to be A PERSON, (I will try it also myself) Live relaxed! Live intensely each moment of your life. Sing, laugh, dance, cry... Put humor into action. Each day drink a little glass of laughter. NEVER HESITATE TO LAUGH AT YOURSELF LAUDLY. Courage! And now go in peace. I love you.
God Always Protects You
My friend Isabelle http://tw.myblog.yahoo.com/isabel-blog forwarded this beautiful reflection. Got it !
This is so beautiful make sure you read the little story at the bottom..
The painters of these Feathers are outstanding,
But the message below the Feathers, “God’s Wings,” will touch your heart……
This slideshow requires JavaScript.
After a forest fire in Yellowstone National Park, Forest rangers began their trek up a mountain to assess the inferno’s damage. One ranger found a bird literally petrified in ashes,
Perched statuesquely on the ground at the base of a tree. Somewhat sickened by the eerie sight,He knocked over the bird with a stick.
When he gently struck it, Three tiny chicks scurried from under their dead mother’s wings.
The loving mother, keenly aware of impending disaster, Had carried her offspring to the base of the tree, and had gathered them under her wings. Instinctively knowing that the toxic smoke would rise. She could have flown to safety, but had refused to abandon her babies. Then the blaze had arrived and the heat had scorched her small body,
The mother had remained steadfast… Because she had been willing to die, So those under the cover of her wings would live.
‘He will cover you with His feathers, And under His wings you will find refuge.’ (Psalm 91:4)
Refleksi Dongeng Anak Itik yang Buruk Rupa
(Biarkan Bebek Berenang dan Elang Terbang)
Saya ingat dongeng ibu ketika saya kecil tentang anak itik yang buruk rupa. Alkisah, sebutir telur itik dititipkan pada seekor induk ayam untuk dierami. Ketika genap harinya, menetaslah beberapa ekor anak ayam yang lucu, mungil dan bersih serta seekor anak itik, yang buruk, karena bulu-bulunya belum lagi tumbuh. Mereka diasuh bersama-sama oleh si induk ayam. Tetapi anak-anak ayam itu segera tahu bahwa anak itik itu bukanlah saudara kandung mereka. Si anak itik yang buruk rupa selalu diolok-olok dan dipojokkan.
Suatu hari banjir melanda tempat tinggal mereka. Ayam-ayam tinggal di kandang dan kelaparan. Hujan tak menunjukkan tanda-tanda mereda. Demi melihat genangan air itu, timbullah getaran kekuatan menjalari tubuh si anak itik untuk merenanginya. Ya ! Si buruk rupa telah menemukan jati dirinya. Ia memang berbeda dengan anak ayam. Ia berenang, makin lama makin lancar, ke sana kemari. Induk angkatnya panik bukan main. Bagaimanapun ia takut anak asuhnya akan tenggelam dan mati. Tapi tidak! Ia justru bisa mencarikan makanan buat induk dan sudara-saudara angkatnya. Si anak itik telah menjadi makhluk sesuai fitrahnya tetapi tidak pula melupakan siapa yang mengasuhnya.******
Saya memparalelkan dongeng ini dengan dongeng seekor anak elang yang diasuh induk ayam. Read more »
Pohon Nangka di Depan Rumah
Fiksi
Kata orang ayahku bertangan dingin. Apa saja yang ditanamnya akan tumbuh subur. Apapun yang dipeliharanya akan beranak pinak. Itulah yang jadi kebanggaannya semenjak pensiun lima tahun yang lalu. Tanah selebar tujuh kali sembilan meter di depan rumah ditanaminya dengan berbagai bunga: aster, matahari, mawar, melati dan kemuning. Sadar bahwa bunga memberi keindahan, tapi tak membawa banyak manfaat, ia menanam pula kumis kucing, jahe, mahkota dewa dan beberapa jenis perdu tanaman obat lain. Masih ada pula pohon nangka berusia sekitar tiga tahun, rimbun, dengan beberapa buah ranum wangi bergantungan. Read more »
Sexual Harassment 2 :
Singkat cerita, pelecehan seksual tidak bisa dibiarkan. Pelecehan terjadi tidak karena cara berpakaian saya, atau sikap saya yang “mengundang”, atau “memberi angin” tetapi karena mentalitas pelakunya yang menganggap perempuan sebagai makhluk yang boleh direndahkan. Mentalitas macam ini akan menjadi perilaku abusive yang akut. Sebagai perempuan korban kita harus berani bertindak. Ini adalah pertolongan pertama bagi diri sendiri. Kalau ranah hukum normative tak dapat menjangkau, mari kuatkan jaringan untuk menghukum pelaku dengan hukuman sosial. Jauhkan rasa kasihan kepada pelaku dari mentalitas kita.
Sexual Harassment 1:
TUBUHKU TIDAK PORNO, YANG PORNO OTAKMU (FOKE) !!!!
Itu kalimat yang terpampang dalam spanduk yang dibawa para perempuan demostran di bundaran HI, Jakarta, 18 September 2011. Demostrasi ini dipicu oleh kalimat Fauzi Bowo (Foke), Gubernur Jakarta beberapa hari sebelumnya ketika menanggapi kasus perkosaan di angkot yang menimpa RS. Saat itu sambil bercanda Foke, panggilan akrabnya berkata sambil bercanda, “ Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini. Kan gerah juga (kaum pria).”
Aksioma dari kalimat Foke ini setidaknya ada dua : 1) perempuan pakai rok mini sah saja diperkosa; 2) laki-laki adalah sejenis makhluk yang tak mampu mengendalikan akal budinya jika melihat perempuan memakai rok mini. Dengan demikian Foke sebagai pejabat public melepaskan diri dari tanggung jawabnya untuk memberi rasa aman pada warga negara.
Foke tidak sendiri. Banyak lelaki bereaksi begitu jika mendengar kasus perkosaan dan pelecehan seksual yang menimpa perempuan. Blame the victim, adalah rekasi spontan mereka. Reaksi yang lain mereka menganggap itu hal sepele dan tidakperlu ditindaklanjuti. Apalagi jika hanya pelecehan seksual, ini hanyalah “kenakalan ringan” laki-laki. Para pimpinan : para pejabat public dan boss di kantor yang kebanyakan laki-laki sering punya pola pikir begitu.
Saya yakin hampir semua perempuan pernah mengalami pelecehan seksual meski dalam kadar yang “ringan” misalnya suitan-suitan nakal di jalan, atau dijadikan korban green jokes di kantor atau di sebuah perkumpulan. Banyak perempuan hanya diam ketika menjadi korban. Bisa jadi mereka malu, atau takut bahwa jika mereka menegur para pelaku akan membuat situasi kantor atau perkumpulan menjadi tidak nyaman dan satu lagi : kalaupun lapor boss – ya setali tiga uang, si boss tak bisa memahami perspektif perempuan.
Kenapa terjadi pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan menurut saya ada dua hal yaitu pola pikir (konstruksi sosial budaya) masyarakat yang merendahkan perempuan dan tidak memadainya perlindungan hukum bagi korban / ancaman hukuman bagi para pelakunya. Perubahan pola pikir masyarakat itu butuh evolusi yang luar biasa panjang. Tetapi langkah kemajuan itu tidak harus bottom-up tapi juga bisa top-down. Maksud saya, jika pejabat public dulu yang harus memahami perspektif jender, sehingga segala kebijakan public juga peka jender. Semetara masyakarat juga akan berubah dengan pendidikan jender yang terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran di sekolah. Akh… sebuah mimpi.
Dengan cara ini akselerasi / percepatan sensitivitas gender akan terjadi. Bukan sebaliknya bahwa pejabat semacam Foke (dan saya yakin banyak pejabat public bahkan sesama perempuan) yang menyalahkan korban karena bebal terhadap didikan dan hanya menganggap pola pikirnya saja yang paling benar. Wilayah public yang penuh ancaman bagi perempuan seperti ini, dan pejabat yang cuci tangan, tak ada jaminan hukum; masihkan kita menganggap komunitas bangsa kita sebagai bangsa yang sopan, ramah, religious, beradab dan bermartabat ?
Sorry, ranah public yang aman dan santun adalah ciri paling luar, sebuah komunitas diniali bermartabat atau tidak. Saya pernah hidup di Negara secular, yang oleh sebagian para puritan di Indonesia dinilai serba buruk. Tapi saya sebagai perempuan selalu merasa aman berada di ruang public. Bahkan pulang dari kampus jam 1 malam, karena harus berada di studio komunikasi untuk mengerjakan tugas, tak pernah ada gangguan apapun. Sekedar lirikan atau suitan nakal dari lelaki yang berpapasan dengan saya di jalan pun tak pernah saya jumpai. Saya pastikan, hal ini karena mentalitas dan pola pikir bangsa itu yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama manusia, tak peduli seberapa pun perbedaannya.









SocialVibe