Stasi Srimenanti, Paroki Sribawono

Paroki Sribawono  tahun ini merayakan 10 tahun usianya. Paroki yang meliputi kawasan pesisir timur Sumatera ini terdiri dari 23 stasi, yang berdasar kedekatan geografisnya dihimpun dalam 6 wilayah. Stasi-stasi tersebut pernah sebagian dilayani dari paroki Metro dan Kotagajah. Sebagai unit pastoral pernah pula dilayani dari Paroki Telukbetung.

Berikut ini saya menuliskan riwayat stasi Srimenanti, di mana gereja pusat paroki berdiri, sebagaimana diceritakan oleh beberapa narasumber. Storyteller kita kali ini  adalah Yustinus Tamino 73, Agapitus Suyatmin 66, Victoria Iswantiatun 57 dan Yacobus Sadimin 60, yang merupakan genererasi umat perdana dan generasi kedua stasi ini.  Desa Srimenanti juga merupakan “inti” dari kota kecamatan Bandar Sribawono.

 

Gereja St. Thomas, Paroki Sribawono

Sribawono, Tanah Harapan

Wilayah yang kini dikenal dengan nama desa Srimenanti, Kecamatan Bandar Sribawono dibuka 1952 sebagai daerah transmigrasi Biro Rekonstruksi Nasional (BRN). Mereka adalah  mantan veteran perang kemerdekaan yang disipilkan. Ada sekitar 200 kepala keluarga dimukimkan di tempat ini, berasal  dari di Lampung Tengah dan Jawa Barat. Lokasi BRN terletak sekitar Danau Kemuning sekarang.

Sebagaimana peserta transmigrasi lain, para veteran BRN mendapat 2 hektare ladang dan ¼ hektare pekarangan. Ladang dan pekarangan dibuka oleh pemerintah. “Tahun 1953, masih ada alat-alat berat bekas pencetakan ladang di sana, “ Agapitus Suyatmin mengenang. Ia ingat para kepala rombong pembukaan transmigran BRN itu adalah Surowitono dari Metro, Ruslim Mangkuprojo dari Metro, Ibrahim dari Metro dan Haji Embeng dari Jawa Barat.

Pada dasarnya di seluruh kawasan yang kini dikenal sebagai Sribawono hanya transmigrasi BRN ini yang dibuka pemerintah. Pembukaan ladang dan pemukiman baru sangat terbatas karena adanya tanah register kawasan hutan lindung. Sebagian orang-orang yang ingin truka, merintis perladangan baru, ikut para veteran tersebut. Wilayah Sribawono yang berpusat di desa Srimenanti cepat berkembang. “Dulu wilayah itu lebih dikenal dengan nama Puseran. Disebut begitu karena ada 20 batang jambu air yang buahnya sangat lebat. Bahasa Jawanya muser, “ Yacobus kata Sadimin.

Di luar kawasan trasnmigrasi BRN itu dulu dikenal dengan nama Mataram Baru. Di kawasan ini masih banyak tanah-tanah kosong milik marga Lampung. Orang-orang dari berbagai tempat yang ingin  mengadu nasib di Sribawono bisa membeli kaplingan tanah kepada pemiliknya. Satu kapling tanah luasnya sekitar ½ hektare. Biasanya mereka menempati tanah di luar Puseran sampai simpang pasar Sribawono.

Sementara itu,  daerah eks transmigrasi di sekitar Lampung Tengah telah menjadi sangat padat. Generasi kedua transmigran harus mencari lahan baru untuk bertani. Diceritakan oleh Suyatmin bahwa keluarganya yang berasal dari Wonogiri mengikuti program transmigrasi umum yang diselenggarakan pemerintah para tahun 1951. Bersama banyak kerabat sedesanya mereka di tempatkan di bedeng 63, Sekampung, Metro. Tetapi kondisi tanah tidak seperti yang diharapkan. “Tanahnya berpasir, sehingga tidak cocok untuk pertanian,” katanya. Akhirnya banyak transmigran ini yang berpindah di Sribawono. Maka sampai kini di desa Srimenanti banyak bermukim anak keturunan transmigran asal Wonogiri.

Pasutri Tarsisius Isti Susanto dan Rosalia Ismiyati, umat Katolik pertama di stasi Srimenanti, Sribawono

Benih Iman Jemaat Perdana

Sebelum tahun 1965 tidak terdengar seorang pun yang secara terbuka mengaku beragama Katolik di antara para pemukim baru tersebut. Yacobus Sadiman bercerita bahwa pada masa itu kehidupan bergama menjadi urusan pribadi tiap orang. Dalam KTP, seseorang boleh mencantumkan agamanya, boleh tidak mencantumkan, bahkan boleh mencantumkan kata: NON. Tahun 1965 ia baru kelas 5 SD, tapi banyak tahu situasi desanya sebab ia anak kamituwa.  “Bapak saya buta huruf, maka saya menjadi semacam sekretarisnya, “ katanya. Dengan begitu ia banyak tahu kondisi sosial desanya.

Sesudah meletusnya G30S, pemerintah Indonesia menerapkan politik agama lewat TAP MPRS XXVII/1966. Setiap warganegara  harus memeluk dan menjalankan ritual salah satu dari lima agama yang diakui negara yaitu Islam, Hindu, Buda, Kristen Protestan dan Katolik. Perlakuan aparat kepada penduduk di desa-desa bisa sangat keras. “Kalau tidak patuh bisa di PKI-kan dan digebuki,” kenang Sadimin. Setiap ada hajatan, selalu ada pidato dari aparat tentang pentingnya menjalankan kewajiban agama. Batalyon Kompi 2 yang bermarkas di Srbawono waktu itu ikut mengawasi pelaksanaan program “operasi mental” itu.

Berdasar aturan baru itu,  sepulang rapat di kawedanan Sukadana, Lurah Sribawono, Giyin Ranupuspito, memanggil semua penduduk. Semua orang harus punya surat-surat kependudukan antara lain KTP dan surat nikah. Ambil gampangnya saja mereka yang tak bisa menunjukkan surat nikah,  dinikahkan kembali secara Islam. Tetapi Pak Lurah juga memberi pengumuman, bahwa siapa yang merasa “tidak sreg” dengan agama Islam, boleh memilih, menjalankan dan mendirikan rumah ibadat masing-masing.

Waktu itu ada 13 KK yang mengaku bergama Buddha dan mereka boleh mendirikan wihara di kampung itu. Tarsisius Isti Susanto, yang sejak 1963 bermukim dan membuka usaha bengkel sepeda di simpang pasar Sribawono mengemukakan bahwa sejatinya ia seorang penganut Katolik. Maka ia pamitan untuk menjalankan agamanya, meski hanya keluarganya sendiri yang Katolik di desa itu.

Segera saja beberapa orang menyatakan ikut bergabung dengannya. Mereka antara lain keluarga Karyotomo, Keluarga Tukijo dan isterinya Tukiyem, beberapa bujangan antara lain : Tamino, Sipan, Katiman (dari Mandalasari) dan Suraji. Suyatmin, anak Karyotomo,   memperkirakan jumlah magangan waktu itu ada 20 orang. Beberapa dari mereka telah mengenal agama Katolik sejak dari Jawa tetapi belum dibaptis, termasuk keluarga besarnya. Isti Susanto sendiri yang mengajar katekese di rumahnya.

Narasumber yang lain yang juga termasuk generasi pertama ini adalah Yustinus Tamino asal Wonogiri. Ia  tiba di Srimenanti tahun 1964 menyusul  kakaknya pasutri Tukijo dan Tukiyem. Mereka bertiga juga telah mengenal agama Katolik sejak dari Jawa. Setelah setahun mengikuti magangan, jemaat Katolik perdana ini dibaptis oleh Romo Albert Grein, SCJ di rumah Isti Susanto.

Selain pelajaran agama, jemaat perdana ini juga melaksanakan doa bergilir dari rumah ke rumah.  “Jadwal Misa Kudus dulu tidak pasti, pokoknya kalau Romo akan datang, kami diberitahu,” kata Suyatmin. Tapi bila tidak ada Misa Kudus, umat tetap melaksanakan ibadat pada hari Minggu. Biasanya Romo datang ke Srimenanti dalam satu rangkaian kunjungan ke Jabung, di sana juga ada komunitas jemaat Katolik.

Seingat Suyatmin, cukup lama mereka menggunakan rumah Isti Susanto untuk kegiatan keagamaan.  Mungkin sampai sekitar tahun 1968, saat mereka mampu mendirikan kapel sendiri. Kapel yang mereka dirikan itupun sangat sederhana  pada mulanya. Bangunan itu berlantai tanah dan berdinding papan tiga per empat.  Maksudnya, dindingnya tak utuh sampai menyentuh atap. “Pokoknya kalau orang berdiri tidak terlihat dari luar, “ katanya.

Isti Susanto sendiri, yang merupakan umat Katolik pertama Stasi Srimenanti merupakan seorang petani sederhana, berasal dari desa Turi,  Tempel, Sleman, DIY.  Diceritakan oleh Victoria Iswantiatun, anaknya, dan Yacobus sadimin, menantunya, ia dilahirkan sekitar tahun 1938 dan meninggal dunia pada tahun 1999. Pada tahun 1957 ia dan isterinya Rosalia Ismiyati, pergi ke Lampung mengikuti program transmigrasi korban bencana Merapi. “Hari ini mereka nikah, besoknya berangkat ke Lampung. Untuk ikut transmigrasi kan syaratnya harus sudah menikah,” kata Sadiman.  Mereka ditempatkan di Raman Fajar, Kecamatan Raman Utara.

Di Raman Utara, kondisi ekonominya tidak membaik, sawah pun sering kebanjiran. Maka pada tahun 1963, ia  membawa isteri dan seorang anak balitanya pindah  ke desa Srimenanti. Banyak orang dari berbagai tempat mulai truka, atau merintis perladangan baru. “Ia membuka bengkel sepeda di tempat yang kini dikenal sebagai simpang pasar Sribawono. Jaman itu, katanya, orang yang punya pompa sepeda hanya satu orang,” kata Sadimin. Saat itu wilayah tersebut  belum ramai, tetapi cukup memberi harapan.

Isti Susanto, meninggalkan desanya di Jawa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Lampung. Sebagai petani ia bekerja keras mengolah tanah, berharap memperoleh panenan berlimpah dan hidup yang lebih berkah. Rupanya Gusti Yesus yang diimaninya,  menuntunnya ke lahan pertanian yang lain, meski ia tak punya dasar pendidikan katekese. Ia dipanggil untuk menumbuhkan dan merawat benih  iman umat perdana jemaat Katolik di stasi Srimenanti, Paroki Sribawono. Dan ia tak ragu menjawab panggilan itu.

Storyteller : serah jarum jam dari atas kiri : Yustinus Tamino, Apaitus Suyatmin, Yacobus Sadimin dan Victoria Iswantiatun

Danau Kemuning atau lebih dikenal dengan nama Kali Mesin, sekarang

Vihara yang berdiri hampir bersamaan waktunya dengan gereja

Narsis

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s