Romo Martinus van Ooij : Hadir dan Berkarya bagi Umat Sederhana.

#‪#‎Sareng_Gusti_Lumampah_ing_Tanah_Berkah_Narasi_Kecil_tentang_Jemaat_Perdana_Gereja_Katolik_Lampung‬#

(**..**) TENTANG PARA LEGENDA (**..**)

Bagi umat Katolik generasi pertama di Paroki Kotagajah nama Romo Martinus Antonius van Ooij, SCJ bersama pendahulunya Romo C. Van Vroenhoven dikenang sebagai “legenda”. Mereka berdua – tanpa merendahkan jasa para pastor yang lain – mengawali pelayanan kepada komunitas-komunitas kecil di mana jemaat Katolik perdana bermukim.

Rm. Martin van Ooij

Akhir dekade 50-an dan awal dekade 60-an wilayah yang membentang dari Lampung bagian tengah hingga menjelang pantai timur ini dibuka sebagai pemukiman baru. Di antara para pemukim baru itu terselip beberapa orang atau keluarga Katolik. Saat itu kadang mereka belum membentuk komunitas. Pertemuan dan pendampingan para pastor meneguhkan mereka untuk setia sebagai pengikut Kristus. Bersama pastor mereka mencari saudara seiman dan perlahan membentuk  komunitas-komunitas kecil.

Bagi Romo Martin van Ooij sendiri perjumpaan dan pendampingan kepada jemaat perdana di wilayah yang kini disebut sebagai paroki Kotagajah meyakinannya bahwa cara berpastoralnya bukanlah sesuatu yang mustahil. Pada waktu itu pelayanan yang umum diberikan oleh para misionaris adalah melalui sekolah, klinik atau rumah sakit. Tetapi Romo Martin berkeyakinan bahwa pendampingan kepada jemaat tidak harus melalui sekolah formal, bahkan tidak pula harus dengan bersegera mendirikan gedung gereja.

Ia terus berjalan, mencari, mengunjungi dan menemani para pemukim baru tersebut. Ia bahkan kadang tak berbuat apapun, tetapi belajar memahami adat, budaya dan pemikiran mereka. Dalam kunjungan jemaat ia bahkan tidak mengutamakan pengajaran katekismus. Tentu, Romo Martin sangat percaya bahwa pendidikan adalah salah satu cara memajukan kehidupan masyarakat. Tanpa pernah mendirikan sekolah formal, Ia banyak membantu pendidikan anak muda di wilayah Kotagajah. Pada saat yang tepat hasil pendidikan itu tidak saja berguna bagi mereka dan keluarganya tetapi juga bagi wilayah di mana mereka berada. Mereka menjadi ragi semesta.

Masa kecil dan Panggilan Menjadi Imam

Romo Martin van Ooij senang hidup dan berkarya di pedesaan di antara para petani sederhana. Hampir seluruh pengabdiannya di Keuskupan Tanjungkarang selama tiga puluh tahun dihabiskan di paroki-paroki pedesaan. Ia sendiri memang terlahir dari pasangan petani sederhana, Henricus van Ooij dan Anna Maria Bennenbroek di Deurne, Netherland pada 14 Desember 1935. Ia merupakan anak nomor lima dari 11 bersaudara.

Kehidupan keluarga yang tenang di desanya terkoyak karena Perang Dunia II. Ibunya, beserta adik nomor sembilan meninggal dunia ketika pada 10 September 1944 sebuah pesawat Jerman memuntahkan tembakan ke arah rumahnya. Martin kecil, 9 tahun waktu itu, terluka parah di bagian kakinya. Ia dibawa ke rumah sakit dan hampir diamputasi. Tetapi pamannya yang mendampinginya – ayahnya sedang bertugas memberikan pertolongan kepada korban perang di tempat lain – mengatakan bahwa lebih baik Martin kecil itu meninggal dunia daripada hidup hanya dengan satu kaki. Akhirnya ia dioperasi tanpa pembiusan. Obat-obatan sangat terbatas waktu itu.

Rm. Martin, nomor lima dari kiri

Ayahnya adalah contoh iman baginya. Ia seorang seorang pendoa yang kuat dan rajin ke gereja. Ketika seorang kakaknya menanyakan hal itu padanya, ayahnya menjawab,” Bagaimana saya bisa mengatasi masalah dengan delapan anak tanpa ibu di samping mereka. Saya bisa gila kalau tidak berdoa.” Dua tahun kemudian ayahnya menikahi Martina Bennenbroek yang merupakan adik kandung almarhum ibunya.

“Tuhan memberi saya dua ibu terbaik. Satu yang melahirkan saya dan satu yang mencintai saya,” demikian komentar Romo Martin tentang keluarganya. Dari bibinya tersebut Romo Martin mendapat lagi tiga orang adik. Sepuluh orang dari sebelas bersaudara itu masih hidup hingga kini.

Waktu kecil, ia tak terpikir untuk menjadi imam apalagi berkarya di Indonesia. “Pernah suatu kali ketika pulang dari gereja ke rumah, saya berdoa agar Tuhan memberi kami seorang imam,” katanya. Waktu itu gereja terdekat dari kampungya berjarak 2,5 km dan sebagai anak kecil ia harus berjalan kaki. “Saya tidak berdoa untuk menjadi imam, tetapi kok saya yang dipanggil,” kata Rm. Martin.

Baru setelah kelas 6 SD ia menyatakan minatnya untuk menjadi imam kepada orang tuanya. Ia masuk dalam seminari SCJ, mengikrarkan kaul pertama pada 8 September 1956 dan ditahbiskan sebagai imam pada 23 Maret 1963 di Nijmegen.

Selama di seminari ia bercita-cita untuk menjadi misionaris di Kanada. Untuk itu ia mempersiapkan diri belajar bahasa Perancis. Sewaktu akan menjalankan Tahun Orientasi Pastoral (TOP), Kanada merupakan salah satu negara yang ditawarkan kepada para seminaris. Para pimpinan seminari meminta agar seminaris yang akan berangkat minta izin kepada orang tua, dan selanjutnya diberangkatkan tanpa syarat apapun.

“Ayah saya mengizinkan saya berangkat, tetapi minta tahbisan saya tetap di Belanda,” kenang Rm. Martin. Permintaan ayahnya ini membuatnya tidak diberangkatkan ke Kanada. Ketika dua temannya kembali dari Kanada, Romo Martin bertanya bagaimana kesan-kesan mereka tentang tempat itu. Mereka menjawab bahwa Kanada bukanlah daerah misi. Jawaban ini merupakan titik balik bagi hidupnya.

Selanjutnya ia tidak berminat lagi untuk pergi ke Kanada. Urutannya kemudian untuk berkarya adalah Indonesia, Brazil, dan Chile. Tetapi ia berprinsip bahwa “bukan aku tetapi Tuhan yang mengutus aku.” Maka ia masih meletakkan Kanada para urutan prioritas ke-4 untuk berkarya.

Mendengar keputusannya untuk mengutamakan berkarya ke Indonesia, satu kata terlontar dari orang tuanya, “Sinting!” Indonesia belum terlalu lama memerdekakan diri dari penjajahan panjang Belanda. Relasi dua belah pihak belum baik saat itu. Jelas keluarganya merasa khawatir.

Tetapi Romo Martin bergeming. Ia tetap pergi. Satu tahun setelah tahbisan imamat, pada 22 Mei 1964 ia berangkat ke Indonesia. Dari bulan Mei sampai Agustus ia ditempatkan untuk membantu Paroki Pringsewu sekaligus belajar bahasa Jawa. Ia juga ditugaskan untuk melayani wilayah Lor Kali, yang kemudian menjadi Paroki Kalirejo. Bulan September sampai 8 Desember tahun itu juga ia tinggal menetap dan melayani Kalirejo.

Tanggal 8 Desember 1964 ia berpindah ke paroki Metro, khususnya untuk melayani wilayah Punggur. Di paroki yang berdiri sejak 1937 itu, sudah ada dua konfrater seniornya, Romo Albert Grein, SCJ dan Romo C. Van Vroenhoeven, SCJ. Tidak terlalu mudah untuk berelasi bila menyangkut tentang konsep pelayanan pastoral.

Kedua seniornya adalah imam-imam yang dididik pada masa sebelum Konsili Vatikan II. Sementara dirinya telah mulai menerapkan sejumlah pembaruan pastoral yang digaungkan oleh konsili tersebut. Perbedaan itu misalnya, Romo Vroen mengutamakan pengajaran katekismus. Sementara Rm. Martin “tidak berbuat apa-apa”.

Ia lebih ingin hadir untuk mengetahui pikiran, budaya, adat kebiasaan dan harapan-harapan orang-orang yang dilayaninya. Cara-cara inilah yang ia terapkan, sampai terjadinya tragedi besar 1965 yang mengubah banyak hal dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan tentu saja dalam cara – cara berpastoral….. *** (dilanjut bagian ke-2).

SEbagai seminaris

Bersama Rm. Martin

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s