One Day in Bangkok

Once Upon A Time : Bangkok !

Setiap jengkal ruas jalan di Bangkok serasa destinasi wisata. Tak akan ada habisnya untuk dijelajahi. Sayang saya tidak bisa mengekskplore Bangkok lebih banyak. Mefet ! Tekanan batin karena itin !  Perjalanan darat Vietnam – Cambodia – Thailand – Malaysia memakan waktu yang panjang dan stamina yang lumayan. Libur dua minggu tak mungkin diulur lagi. Kunjungaan ke Thailand saya rencanakan selama 5 hari, yang terbagi dalam 3 tempat : Hangkok, Kanchanaburi dan Songkla. Lima hari itu termasuk perjalanannya lho. Apa boleh buat. Saya berpikir lain kali semoga ada kesempatan untuk ke Bangkok lagi. Toh kota ini bisa menjadi tempat transit jika ingin menjelajah kota atau negara lain. SEMOGA !

Patung Gajah di Persimpangan Emerald Budha dan Taman Sanamluang

Sleepless in Khaosan

Rembang petang saya tiba di Bangkok, setalah menempuh jalur darat nyaris seharian dari Siem Reap. Langsung mini van yang tiketnya seharga $ 25 (kemahalan!!) itu berhenti di Chakraphong Road, tak jauh dari Khaosan.  Saya langsung menuju Rikka Inn di ujung timur Khaosan. Rekomendasi dari beberapa blogger via google, tempat ini cukup tenang meski masih berada di Khaosan.

Cukup mahal untuk ukuran backpacker. Single room yang saya sewa semalam ini harganya sekitar Rp 370.000. Saya booking melalui Agoda sejak masih di Siem Reap, setelah saya memutuskan untuk tidak memperpanjang tinggal di kota itu. Saya berpikir untuk mengambil istirahat semalam di hotel setelah berhari-hari backpacking. Hotel lho bukan hostel !  Tetapi keputusan saya ternyata salah, meski saya juga tidak sama sekali menyesalinya.

Rikka Inn terletak di ujung timur Khaosan.  Konon katanya lebih tenang dari pada bagian Barat dan bagian tengah di mana berbagai hostel dan cafe bertumpuk. Tetapi bukan berarti saya bisa beristirahat dengan tenang di situ. Resepsionis memberikan kunci kamar di lantai 4, setelah mengecek paspor dan kartu kredit. Kamar saya terletak di ujung depan berarti tepat di atas jalan Khaosan. Kamarnya kecil dengan bed cover warna putih. Satu sisi dinding yang merapat pada tempat tidur bergambarkan nuansa keramaian Khaosan. Oh ya, hotel ini menyediakan fasilitas kolam renang di atapnya.

Menikmati pijat di Khaosan

Malam terus merambat. Dan inilah Khaosan yang sesungguhnya. Meski hujan rintik-rintik turun sepanjang malam, keriuhan di sepotong jalan itu terus berlanjut sampai menjelang pagi. Saya tak bisa tidur sama sekali. Jedag-jedug-jeder suara musik terdengar jelas dari kamar saya. Dari pada tersiksa begini, saya putuskan untuk turun ke jalan. Walaupun sudah makan malam, tapi kalau mata tak bisa terpejam, perut jadi keroncongan lagi. Jam satu malam saya keluar, mencari burger di McDonald tepat di sebelah Rikka Inn.

Sambil mengunyah burger saya berjalan ke ujung Barat Khaosan. Toko, cafe, bar, spa masih banyak yang buka. Di depan sebuah restoran, sekumpulan anak muda menari kejang di aspal jalanan. Musik disetel kencang-kencang. Penonton membuat lingkaran, memberi apresiasi dengan bertepuk, bersuit-suit atau berteriak. Saya larut dalam kumpulan itu, sampai dini hari.

Jam tiga pagi saya pulang ke hotel. Keramaian belum juga sirna. Sesudah subuh baru jalanan itu beranjak sepi. Saya terlanjur tak dapat tidur. Dengan urat-urat mata memerah, jam delapan pagi saya turun ke jalan lagi. Setelah keriuhan semalam, Khaosan terasa senyap. Orang lalu lalang seperti biasa. Tuk-tuk sesekali melintas mencari penumpang.  Penjual makanan dengan mobil bak terbuka menawarkan sarapan. Dengan penegeras suara ia berteriak-teriak membangunkan para pelancong yang mungkin masih nyenyak di hostel-hostel yang mereka sewa. Seorang pelancong bule, saya lihat terkapar nyenyak di atas trotoar. Tangannya memeluk botol minuman keras, wajahnya damai. Oh, Khaosan.

Sebelum jam 12 saya check out dan pindah ke hostel Suneta di Soi Kraisi. Soi artinya jalan. Tak jauh, hanya 5 menit berjalan kaki. Tempatnya lebih tenang untuk beristirahat. Tapi lebih dari itu, ternyata saya lebih menyukai atmoster hostel. Di sini kita bisa bertemu dengan berbagai bangsa dengan karakter masing-masing. Sesekali kita ketemu orang-orang yang menjengkelkan memang, tapi kebanyakan para traveller di dormitory cukup menyenangkan.  Masing-masing tahu adablah.

Sudut Suneta

Rikka Inn bagus. Tapi bagi saya hotel ini cocok untuk kunjungan bisnis atau semacam itulah. Orang datang lalu masuk kamar dan tenggelam dalam urusannya masing-masing. Nyaris kita tak dapat bertemu dengan orang lain di sini. Waktu saya naik ke kolam renang di atap hoetel, tempat itupun senyap. Hanya ada kurang dari lima orang di sana. Orang toh tidak jauh-jauh pergi ke Bangkok untuk berenang di hotel kan ?

Staf hostel Suneta cukup ramah, Naree yang cantik dan talkactive; Ivan si wajah India yang hafal semua rute kendaraan umum di Bangkok. Ornamennya yang terbuat dari kayu juga menambah suasana homey di sini. Di lobby para traveller bisa nonton tv, membaca buku, browsing komputer, sarapan, bermain kartu atau  aktivitas sosialisasi lainnya. Sarapan berupa roti tawar dan selai disediakan sejak pukul 6.30 pagi. Kita bisa memanggang sendiri. Air panas, kopi, kreamer dan otmeal selalu disediakan. Kita bebas membuat sendiri. Ada secarik kertas di tempel di dinding : Harap para traveller mencuci gelas dan piring masing-masing sehabis digunakan.

Saya menyewa sebuah kapsul di mix dormitory. Sungguh ini pengalaman pertama, menginap di ruang campuran begini. Agak deg-degan juga sih awalnya. Masalahnya dormitory khusus perempuan itu terdiri dari ranjang-ranjang tingkat tanpa sekat. Saya kurang suka yang seperti itu. Kalau pod kapsul setidaknya kita masih punya privacy. Tapi kapsul hanya ada di mix dorm. Tak apalah saya hanya minta lower bed. Waktu saya masuk ke lorong kamar, ada beberapa lelaki muda sedang berbincang. Backpack mereka terserak di lantai lorong yang hanya selebar 1,5 meter. Kami hanya berhai-hai sekadarnya. Saya masuk ke kotak dan mereka segera pergi dari kamar.

Masing-masing pod terbuat dari kayu diplitur coklat alami. Kasur tipis di dalamnya dibalut sprei putih. Ada televisi besar untuk menonton berbagai channel film. Ac di dalam terasa berisik jadi saya matikan saja. Tutup pod saya geser sedikit, sehingga AC dari lorong bisa berhembus ke dalam. Semalaman saya tidur dengan cara begitu dan feeling safe. Bahkan malam harinya saya bertemu seorang perempuan muda Jepang juga ikutan masuk ke mix dorm demi melihat saya nyaman dan aman di sana.

Under the rain to Khaosan

Berbaring meluruskan badan sejenak, tapi tak juga mata mau terpejam. Dari pada buang-buang waktu begini lebih baik saya berkeliling kota lagi. Hari masih sekitar jam setengah empat sore. Saya pikir saya bisa pergi ke sekitaran MBK dan malam hari pulang ke hostel. Saya naik bus no 47 ke MBK dan putar-putar ke kawasan itu sampai sekitar jam 7 malam. Nah ini yang tidak saya perhitungkan. Bangkok macet-cet sesudah jam 6 sore, saat anak sekolah dan karyawan pulang ke rumah. Lama saya bengong di bawah jalan layang menunggu bus. Begitu ada bus nomor 47 saya langsung naik. Yup! Ini kesalahan terbesar dalam menjelajah Bangkok.

Kesalahan pertama. Mestinya saya naik bus nomor 47 yang hurufnya berwarna biru. Ketika bus sudah berjalan setengah perjalanan saya baru sadar bahwa warna huruf itu merah. Warna merah menandakan bahwa bus ini menempuh jalur khusus dan tidak melewati Khaosan. Minta petunjuk kondektur, diapun angkat tangan. Tak paham bahasa Inggris. Untung ada seorang karyawati cantik dan ramah yang menolong memberi solusi. Untung kedua kali ada satu lelaki bule di bus itu. Saya duga ia juga akan pulang ke Khaosan.

Bergegas saya beringsut (penumpang penuh) mendekati dia. Benar dia akan ke Khaosan. Nah kalau tadi ada dua keberuntungan, sekarang bertemu dengan dua kesialan. Sial pertama : hujan turun cukup deras dan tak henti-henti. Jalanan bukan macet lagi tapi stuck, mengunci. Hampir seluruh penumpang turun dari bus. Bule itu (kami merasa rak perlu merasa bertanya nama apalagi bertukar nomor telpon, eh !) mengajak saya turun. Kami berjalan di bawah guyuran hujan.

Sial kedua. Ia berjalan sangat cepat dengan langkah-langkahnya yang panjang. Sial selanjutnya, langkah kaki saya keci-kecil, mana saya pakai sandal jepit pula. Berkali-kali saya hampir jatuh terpeleset di trotoar. Si bule tak peduli dan sama sekali tak menoleh. Saya hampir menyerah. Tapi saya benar-benar tak tahu jalan pulang. Akhirnya saya copot sandal saja, lantas nyeker di atas aspal jalan. Saya bisa mengimbangi langkahnya. Tapi terus khawatir dan berdoa jangan sampai kaki saya menginjak beling!!!

Hampir jam sembilan malam kami sampai di Khaosan. Basa-basi, saya tanya bagaimana ia bisa menghafal arah jalan di bangkok. Dia menjawab singkat bahwa dia sering pergi ke banyak tempat di dunia dan jalan seorang diri. Dia berbelok ke Soi Rambutri, saya meneruskan langkah ke lorong berikutnya Soi Kraisi. “Bye, “ kami saling melambai dengan acuh tak acuh, tanpa ada usaha untuk berrelasi lebih jauh.

Hujan semakin deras saja. Saya hanya tak mungkin keluar-keluar lagi. Besok pagi-apagi buta saya mesti berangkat ke Kanchanaburi. Baru hari terakhir saya bisa menikmati wisata kota Bangkok. Itupun paswti tak akan banyak yang bisa saya lihat, karena saya pasti akan terburu-buru berkemas menuju Songkla. Oalah…! Tiba-tiba saya merasa menjadi seperempat gila. Selalu terengah-engah dengan perjalanan demi perjalanan, istirahat sebentar, berkemas dan berjalan lagi. Suatu pengalaman berharga.

Baru hari terakhir di Bangkok saya bisa menyusuri objek wisata di sepanjang Sungai Chao Praya yang terkenal itu. Kalau anda hanya punya sedikit waktu di Bangkok mungkin ini tempat-tempat yang wajib dikunjungi. Berdasar pengalaman saya (baca : kesalahan hehe…) saya bisa memberi sedikit tips.

Dermaga di tepi Chao Praya

Ini tentang bagaimana menuju Khaosan dulu ya..

  • Kalau anda mendarat di Dong Muang transportasi yang paling praktis untuk menuju Khaosan adalah taksi. Ongkos taksi paling mahal 350 bath. Ada surcharge sebesar 50 bath. Paling lama ¾ jam kalau kondisi tidak macet. Naik bus juga bisa. Pilih nomor 59, nanti turun di Taman Sanam Luang. Dari Sanam Luang bisa naik tuk-tuk, ojek atau taksi. Sanam Luang tidak jauh dari Khaosan, tapi untuk jalan kaki sambil bawa-bawa backpack juga ribet. Ojek dan tuk-tuk tidak ada tarif standar, jadi pintar-pintarlah menawar. Naik bus tidak disarankan kalau anda baru pertama ke Bangkok.
  • Kalau anda dari Southern Terminal, bus yang menuju Khaosan bernomor 55, turun di Banglampoo.
  • Di Khaosan, banyak penginapan dari berbagai kelas dan fasilitas. Pada umumnya bisa go show, sehingga kita bisa sekaligus melihat kondisi sebenarnya. Bila ingin irit kita bisa memilih hostel, di mana kita hanya membayar per bed. Saya pernah menginap di Rikka Inn di ujung timur (semoga saya tidak disorentasi arah). Hotelnya bagus, tapi mungkin bukan tempat yang tepat untu para backpacker yang lebih mengingkan interaksi dengan para pelancong dari berbagai bangsa. Pengalaman saya sih, Khaosan hingar bingar di waktu malam, sehingga saya tidak bisa beristirahat dengn tenang.
  • Penginapan di Soi Rambutri atau Soi Kraisi yang terletak di sebelah utara Khaosan lebih nyaman untuk beristirahat. Anda hanya perlu berjalan sedikit dari Rikka Inn, berjalan menghadap burger King, lantas berbelak ke kiri, menyusuri deretan toko-toko perak. Berbelok ke kiri, gang pertama adalah Soi Rambutri dan gang selanjutnya adalah Soi Kraisi.
  • Saya sudah mencoba Suneta Hostel. Recommended-lah. Silakan cek hostelworld.com atau bisa juga ke laman facebook mereka. Terletak di Soi Kraisi yang tenang dan pusat makanan kaki lima yang enak dan murah. Kalau mau jalan lebih ke selatan sedikit ada kampung muslim, sehingga mungkin makanan halal bisa dicari di sini.

Sungai Chao Praya

Sepanjang Sungai Chao Praya

Ini sekedar tips kalau waktu anda sangat singkat padat dan ingin menjelajah Bangkok, highlight-nya sajalah. Mungkin jelajah anda bisa dimulai pagi hari ketika jalanan di Bangkok belum macet.

  • Dari Khaosan kalau ingin ke MBK naik bus nomor 47 . Turun di muka National Stadium dan untuk ke mall ini, anda naik tangga penyeberangan. Di MBK ada banyak produk pakaian dan kaos yang murah-murah, juga barang-barang elektronik. Banyak juga gerai makanan di sini, jadi bisa makan siang di sini. Masih satu lokasi dengan MBK adalah juga Siam Paragon dan Siam Discovery. Museum Madam Tussoud berada di Siam Discovery. Siam Paragon menjual produk-produk mewah, Ocean World ada di sini. Jalan kaki sedikit kita bisa juga ke museum sutra John Thomson, harga tiketnya 200 bath.
  • Dari kompleks MBK ini kita bisa menuju sungai Chao Praya. Caranya naiklah BTS sky train Silom line turun di Saphan Taksin. Jalan sedikit menuju Sathorn Phier. Ini adalah salah satu dermaga yang ada di sepanjang sungai Chao Praya.
  • Dari Sathorn Phier naik boat yang berbendera orange turun di Tha Chang Pier. Langsung saja naik, tiket seharga 15 bath akan diminta oleh konderktur di dalam boat. Jalan kaki sedikit kita akan mencapai Grand Palace dan Emerald Buddha. Kedua objek wisata ini jadi satu. Harga tiketnya 500 bath. Luangkan waktu beberapa jam kalau berminat memasuki objek ini. Kalau sekedar foto-foto dari luar ya gratis. Kalau haus bisa minum minuman dingin di Taman Sanam Luang. Letaknya di depan Emerald Buddha.
  • Dari Emerald Buddha jalan kaki sedikit ke Wat Pho. Gampangnya arah belakang ya. Keluar dari Emerald Budha kemudian jalan ke arah kiri. Di sini ada patung Budha raksasa yang sedang berbaring. Harga tiketnya 100 bath. Pakailah pakaian sopan, setidaknya celana panjang dan pakaian atas yang menutup pundak. Kalau pakaian anda kurang sopan anda diharuskan menyewa jubah. Sandal/sepatu harus dilepas dan dititipkan. Saya lebih suka memasukkan ke dalam ransel.
  • Dari sini kita jalan kaki sedikit menuju Tha Tien Pier. Beli tiket penyeberangan seharga 3 bath di dermaga. Kita menuju ke Wat Arun. Lanskap kota Bangkok dan Sungai Chao Praya akan terlihat cantik dari puncaknya. Apalagi jika anda datang di saat matahari terbenam. Hati-hati kalau naik, tangganya terjal sekali.
  • Dari Wat Arun kita menyeberang lagi ke Tha Tien Pier. Dari sini kita naik boat ke Phra Atit Phier. Khaosan Road terletak tak jauh dari Phra Atiet Pier. Anda cukup berjalan kaki ke arah barat sekitar 10 menit saja.

Reclining Budha di Wat Po

Nah kita sudah mencapai khaosan kembali. Kita bisa istirahat sebentar di hostel, mandi, meluruskan punggung, menikmati kopi atau duduk-duduk saja di lobi. Syukur jika ada traveller dari negara lain, kita bisa ngobrol atau bertukar pengalaman.  Baik juga jika ada kesempatan untuk bisa jalan bareng ke tujuan wisata yang lain, sehingga perjalanan lebih menyenangkan dan biaya-biaya tertentu bisa dihemat.  Nikmati nuansa pergaulan dengan traveller dari berbagai bangsa sambil menunggu malam. Suasana pergaulan macam begini yang tidak kita jumpai jika kita menginap di hotel, apalagi yang berbintang banyak !

Malam hari kita jalan ke Khaosan. Siang hari Khoasan senyap seperti pasar bubaran. Ketika malam merambat suasana semakin hidup. Apa yang dapat kita dapati di sini ?

  • Kios, cafe, restoran, bar : berbagai jenis makanan tersedia, makanan Thailand, fast food semacam Mc Donald atau KFC ada di sini. Banyak kios  menjual suvenir, kartu pos, pakaian kaos, tas/ransel.  Tapi di sini sering tidak mencantumkan harga, jadi pandai-pandailah menawar. Kios tatto juga ada. Gerai Sevel juga ada di sini.
  • Salon dan spa : Bukan cuma perawatan wajah dan tubuh yang bisa didapat di sini. Mereka juga menawarkan aneka jenis pijat. Kita bisa memilih yang sesuai selera. Harganya bervariasi dan dihitung perjam. Rata-rata satau jam sekitar 200-an bath. Lebih-lebih dikit, ya tergantung fasilitasnyalah.
  • Food street : banyak sekali penjual makanan khas Thiland dijajakan di Khaosan. Jenis makanannya juga bervariasi. Yang khas pad-thai ; mie goreng dengan campuran taoge, sticky rice dsb. Mau yang ekstrem seperti serangga goreng juga ada.
  • Penukaran dan ATM: jangan khawatir kehabisan bath. Ada banyak tempat penukaran uang di sini. Lebih baik membawa dolar dari Indonesia sehingga mudah ditukar dimanapun. Banyak juga galeri ATM disepanjang jalan ini. Kalau kita punya ATM CIMB lebih baik lagi, sebab tidak kena charge. Tapi perhatikan CIMB kita di Indonesia berlogo Mastercard, tapi di Thailand kebanyakan visa.
  • Biro perjalanan; ada banyak biro perjalanan / wisata di sini. Anda bisa membeli paket wisata ke berbagai tempat di Thailand seperti Phuket, Krabi, Ayitthaya, Kancanabhuri, dll. Anda bisa membandingkan di beberapa tempat hingga mendapatkan harga yang pas. Pada umumnya agen-agen ini tidak memberi kita brosur atas paket yang kita beli. Jadi harap difoto paket yang anda beli dan bawa nota pembayarannya. Saat berwisata kita hanya dikirim dengan minivan ke kota-kota tersebut, tidak ada pemandu wisata, kita dioper dari satu tempat ke tempat lain. Tiap orang dalam rombongan kita membeli paket tour yang berbeda-beda. Tunjukkan bukti bila agan di sana menolak suatu objek wisata yang mestinya termasuk dalam paket yang kita beli.
  • Masih tentang agen perjalanan. Selain paket wisata, kita juga bisa membeli tiket minivan / bus menuju kota-kota lain dari Khaosan, termasuk menuju Cmbodia / Siem Reap. Dengan minivan kita akan berangkat langsung ke tujuan. Jika meilih bus kita akan diantar lebih dulu ke Southern atau Northern terminal. Tentntu saja harganya menjadi lebih mahal. Pengalaman saya Happy tour yang terletak di sebelah pos polisi di ujung barat Khaosan adalah yang paling murah. Juga Happy tour menyediakan angkutan ke Dong Muang setiap hari pada jam-jam tertentu seharga 100 bath saja.

Nah ini dulu. Esok harinya anda bisa melanjutkan perjalanan ke kota lain atau negara lain. ~~~ (*.l.*)

Wat Arun terlihat dari Sungai Chao Praya

Salah satu sudut Wat Pho

Lorong Menuju Emerald Budha

 

Perahu di Sungai Chao Praya

 

 

 

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s