Vietnam Day 3 : Menyusuri Sungai Mekhong

Salah satu yang saya kagumi turisme Vietnam adalah bagaimana mereka mengemas kesederhanaan hidup sehari-hari menjadi paket wisata yang unik. Sederhana  tanpa meromatisisir menjadi sebuah penderitaan yang bisa dipamerkan kepada wisatawan manca. Sederhana yang dijalani sebagai sebuah harga diri. Bagi saya sajian wisata mereka tidak terlalu istimewa. Tetapi yang patut dihargai adalah kreativitas dan inovasi, bahwa hidup keseharian yang natural – dekat dengan alam – bagi sebagian wisatawan dari negara maju terlihat eksotis dan layak jual.

SAM_0577Salah satunya yang  saya ikuti adalah wisata menyusuri sungai Mekhong. Sejak jam 7 pagi sudah siap di kantor Shin Tour di Jalan De Tham. Saya tidak ingat benar berapa harga paket wisata ini. Saya mengambil dua paket wisata half day Chuci Tunnel dan full day Mekhong river, sekitar 335.000 dong. Itu berarti seratus lima puluh ribu rupiah lebih sedikit. Tidak mahal toh ? Tapi ingat jangan dibayar dengan kartu kredit. Tagihan bisa bengkak karena charge konversi antarmata uang sekitar 30%.

Jumlah peserta hari itu sekitar 40 orang, yang didominasi turis dari ras “kuning” : Jepang dan Korea.  Yang jelas pemandu wisata kami selalu bercakap dalam dua bahasa Inggris dan Jepang bergantian. Atau mungkin saya salah ? Saya tak bisa membedakan perbedaan fisik dua bangsa itu. Karena kendala bahasa, mungkin, tidak mudah juga mendekati mereka untuk berkomunikasi. Mereka juga tidak tertarik untuk berinteraksi dengan turis dari negara lain karena jumlah meraka yang lumayan besar di grup ini.

Tak apalah. Saya biasa mandiri. Setengah jam kemudian kami berangkat. Teman duduk saya di kursi bus ternyata Emily, seorang wanita asli Vietnam Selatan, tetapi sudah menjadi warga negara Perancis. Seluruh keluarga besarnya juga sudah tinggal di sana. Yang menarik, meski tinggal di Preancis, Emily masih mempertahankan tradisi negara dunia ke-3 (ih…istilah ini siapa yang bikin kok melecehkan begini) : Emily punya 6 anak yang kini beranjak dewasa. Oh my goat. Dia masih ramping dan cantik.

Dengan Emily

Dengan Emily

Pada mulanya sulit juga berkomunikasi dengan Emily. Dia hanya bisa bicara bahasa Perancis dan Vietnam. Tipikal warga Perancislah, malas mempelajari bahasa Inggris. Nyaris sepotong Inggris pun dia tak tahu. Ia kemudian jadi menutup diri. Ia hanya bicara dengan tour leader kami. Aku mengambil inisiatif untuk berteman. Dengan menyentuh tangannya, dengan pandangan mata, bahasa isyarat dan sepotong Inggris yang kuucapkan dengan sangat perlahan (seperti mengajar kelas tuna wicara…) aku meyakinkan dia bahwa bahasa verbal bukan satu-satunya cara untuk menjalin pertemanan.

Ia paham. Selanjutnya ia mengeluarkan tablet, menunjukkan foto anak-anaknya di Perancis. Aha! Dapat akal akhirnya. Kami dapat  berkomunikasi dengan google translate dari tabletnya (saya tidak beli simcard Vietnam).  Ia orangnya cukup asyik. Sepanjang hari dalam rangkaian tur itu, kami tetap duduk bersebelahan, saling mengambil foto dan berjalan bersama. Cool Emily,  Thanks !

Hampir tiga jam lamanya kami berkendara ke arah hulu sungai Mekhong. Kami berhenti di sebuah kampung, dan berjalan menuju bangunan dermaga sederhana. Sungai Mekhong berwarna coklat, lebar dengan arus deras. Beberapa perahu penuh turis melintas di atasnya. Sesekali kami melintasi rumah rakit. Apalah istilahnya ? Semacam rig mungkin. Rakit yang di atasnya didirikan rumah dan beberapa perangkat budi daya ikan. Di situ pula penduduk hidup sehari-hari. Bila bersitatap dengan penguninya kami saling melambaikan tangan.

SAM_0581

Berakit-rakit menyusuri ranting Sungai Mekhong

Perahu wisata kami akan berhenti di beberapa kampung di sepanjang sungai ini. Perhentian pertama, kami digiring ke sebuah galeri kerajinan rakyat. Seperti biasalah di mana-mana sama. Turis selalu diharapkan mengucurkan duit untuk roda ekonomi negara tujuan. Ya bagus jugalah, kalau trickle down effectnya memang sampai langsung kepada rakyat jelata. Tapi suvenir yang dijual di lapak ini tak manarik perhatian saya, sama saja dengan yang ada di pasar Ben Than.

Kami makan siang di saung tak jauh dari galeri suvenir. Menu Vietnam enak menurut lidahku (Apa sih yang tak enak menurutku ? hahaha.. sebagai juru cicip di bulan puasa, dulu ibu kosku yang pengusaha catering sering jengkel padaku. Semua masakannya selalu kupuji enak. “Sampun eca, pas raosipun. Namung kurang kathah anggen kula icip-icip !!!!).  Yang unik – dan ini terjadi di banyak tempat di Vietnam – paket makanan yang kita pesan tidak termasuk segelas air putih. Tidak seperti di Indonesia, kita masuk restoran segelas air putih atau teh tawar gratis langsung disodorkan kepada kita. Jadi kalau tidak membeli air putih ya silakan kesereten. Uh! Jadi ke mana-mana wajib hukumnya membawa botol minum sendiri.

Olah rasa masakan Vietnam tak beda jauh dengan Indonesia. Kaya bumbu, kaya rasa. Hanya mungkin mereka punya berbagai variasi masakan mie, utamanya mie beras yang di kita biasa disebut bihun. Pada umumnya mereka juga makan sedikit nasi, yang dihidangkan dalam mangkok kecil-kecil. Bukankah bihun juga sama sebagai pengganti nasi ? Lantas ikan mas fresh from the river. Selebihnya kangkung ditumis dan beberapa hidangan semacam risoles isi daging. Pasti pork !

Selepas makan siang, kami beberapa kali berganti perahu dan mengunjungi kampung demi kampung untuk melihat keseharian penduduk. Tak ada atraksi spesial turis yang dipertontonkan. Di sebuah kampung, kami disuguhi cara membuat gula aren dan gula kelapa. Para pengunjung ditunjukkan pohon aren dan bagaimana nira pohon itu disadap. Lalu nira itu diolah di atas api dengan wajan besar. Olahannya bisa dicetak menjadi gula merah atau bisa juga diolah lebih lanjut menjadi kembang gula.

Masih di tempat yang sama ditunjukkan pula bagaimana kelapa diolah menjadi produk makanan. Tour leader kami memamerkan cara memarut kelapa dengan parutan tangan. Lalu kerja yang sama ia lakukan dengan kukur (alat parut yang diinjak dengan kaki, separuh kelapa masih lengkap dengan batoknya). Ia kemudian memeras parutan kelapa tadi dengan telapak tangannya. “This is coconat milk, “ katanya. Peserta tur dari Korea dan Jepang terkagum-kagum dan berdesis, “Wooow…!” Saya cuma nggrundel, “Ah…biasa aja kalee. di Indonesia saya juga melakukan itu.” Dasar orang-orang dari negara kaya !

Di sebuah gerai, selain produk makanan seperti gula dan permen dari kelapa,  dijual pula berbagai produk peralatan rumah tangga seperti centong nasi, penghangat nasi dan bermacam pernak-pernik lain. Di sebuah tempat yang lain kami diajak melihat usaha penangkaran lebah madu. Di tempat itu ditunjukkan pula produk-produk yang terbuat dari madu, selain madu asli dalam kemasan botol. Produk itu antara lain sabun mandi, cream perawatan wajah, dan sebagainya. Saya tidak terlalu ingat berapa kali kami berperahu dan berhenti di sebuah kampung sebelum pertunjukan terakhir.

Sekitar jam tiga sore kami menuju atraksi terakhir. Kami diajak naik bendi menuju sebuah kampung. Di sebuah saung sederhana kami beristirahat.  Pemandu wisata kami berpidato singkat menyampaikan ucapan terima kasih. Sebagai salam perpisahan grup kesenian dari penduduk setempat akan mempersembahkan lagu-lagu tradisional Vietnam. Para pengunjung boleh memberi tips untuk usaha pembinaan kesenian tersebut.

SAM_0591Lagu-lagu berbahasa Vietnam itu terasa meliuk-liuk dengan diseling nada-nada minor. Terasa muram. Juga ekspresi penyanyi dan musisinya. Kami tidak tahu arti lagu itu, karena pemandu juga tidak memberi terjemahan. Ah, mungkin berkait dengan sejarah sosial Vietnam Selatan yang sarat dengan pertempuran yang melelahkan. Sambil mendengarkan lagu-lagu kami dijamu dengan makanan ringan sekedarnya dan teh panas madu.

Lagu terakhir usai, lantas  disambung basa-basi ucapan terima kasih dan pamitan. Saung ini terletak di tepi sebuah anak Sungai Mekhong. Kami menuruni tebing sungai dan disambut oleh rakit-rakit kecil yang hanya muat dua atau tiga orang saja. Pengayuh biduk berdiri di bagian belakang. Beberapa dari pendayung rakit itu adalah para perempuan.  Kami menyusuri anak sungai Mekhong sang sempit. Perahu besar tak dapat masuk ke mari tentu saja. Di kiri kanan sungai yang masih terlihat alami tumbuh bermacam perdu dan tanaman enau.

Inilah ujung rangkaian wisata kami hari ini. Pemandu wisata dan asistennya berada di biduk paling belakang. Dengan wireless-nya ia memperdengarkan lagu-lagu tradisional Vietnam. Kami di antar ke dermaga di mana tadi pagi kami tiba. Bus sudah menunggu kami untuk pulang ke Saigon kembali. Malam menyambut. Lampu warna-warni telah bernyala di sepanjang Pham Ngu Lao, Bui Vien dan De Tham. Musik rancak berdentam. Welcome back Saigon. Cheers.

 

Pembuatan santan kelapa

Penangkaran lebah madu

Penangkaran lebah madu

SAM_0589

Au revoir party

 

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s