Munir: Muchdi, Polly dan AMH ?

Seberapa pun berharga nyawa anda bagi orang-orang yang mengasihi anda, tetapi di hadapan aparat intelijen, kalau anda aktivis bersuara kritis, bisa jadi anda hanyalah seekor hewan buruan. “Operasi ikan besar sudah selesai,” kata Pollycarpus Budihari Priyanto kepada koleganya di BIN,  sesaat setelah yakin Munir Said Thalib tewas oleh racun arsenik yang ditaburnya.

munir1Nyawa begitu murah. Begitu pendapat saya setalah memabaca Tempo edisi 8 Desember 2014 yang memuat laporan khusus tentang kematian Munir. Kalau saat itu Munir disebut sebagai “ikan besar”, maka target lain bisa jadi hanya sekedar si “kutu kupret”. Pokoknya siapapun yang mengganggu bisa menjadi target operasi. Dan kasus kematian anda akan hilang dalam senyap.

Membaca berlembar-lembar isi majalah itu, saya menduga bahwa boleh jadi pelenyapan Munir adalah operasi intelijen yang gagal. Indikasi kegagalan itu antara lain kematian Munir menyisakan banyak jejak. “Itu cara yang paling bodoh dan sangat memalukan.” Demikian Abdullah Makhmud Hendropriyono (AMH) petinggi BIN saat Munir dibunuh, berkometar tentang kasus tersebut. Tentu saja ia menolak kematian Munir dikaitkan dengan lembaganya. “Kasus hukumnya sudah selasai,” katanya.

Jadi menurut AMH pembunuhan ala intelijen yang berhasil itu yang seperti apa ? Ini jawabnya,           “ Seperti pada zaman operasi penembakan misterius era Pak Benny Moerdani. Intel-intel masuk penjara, mencari orang yang sudah membunuh dua-tiga kali. Mereka dikeluarkan, lalu diminta mendaftar teman-temannya. Dia sendiri yang kemudian membunuh teman-temannya. Ada yang dipinjami pistol, tetapi lebih banyak pakai senjata tajam, seperti golok. Setelah membunuh mereka lapor kepada intel. Lalu dicek. Jika benar semua mati, baru intel membunuh preman ini. Mayatnya ditenggelamkan ke laut. Investigator sehebat apapun tak bisa membongkar kasus ini.”

Sementara Munir, pembunuhannya  menyisakan banyak jejak meski dirancang dengan rumit. Keping-keping fakta tersebut bila dipetakan satu demi satu akan mengerucut ke arah BIN. Satu nama besar, Muchdi Purwopranjono, Deputi V saat itu, sempat duduk diajukan ke pengadilan. Ia dibebaskan dari tuduhan karena dapat mengajukan bukti bahwa saat nomor teleponnya berhubungan dengan Pollycarpus ia berada di Malaysia. Bukti itu berupa cap imigrasi bandara. Padahal cap macam begini menurut salah seorang narasumber cukup mudah didapat untuk orang sekelas Muchdi. Pada waktu itu, menurut AMH, kalau Muchdi kena bidik, ia sempat deg-degan juga sebab ia bisa terseret pula.

Akhir-akhir ini ketika kasus kematian Munir kembali digemakan oleh masyarakat, AMH sempat berkata bahwa ia siap bertanggung jawab. Tanggung jawab macam apa ? “Saya harus bertanggung jawab pada apa yang saya alami, yang saya lakukan, bahkan yang tidak saya kerjakan tapi seharusnya saya kerjakan. Kalau yag membunuh Munir itu orang BIN, saya bertanggung jawab secara moral, bukan tanggung jawab komando.”

Tanggung jawab komando hanya pada waktu perang. Maksudnya, jika anak buah nya membunuh orang pada situasi perang, seorang komandan harus bertanggung jawab. Tapi hal ini tidak berlaku pada saat damai. AMH menolak pendapat yang mengatakan bahwa Munir merupakan target nasional untuk dilenyapkan.

Dalam cara kerja BIN, memang benar bahwa setiap deputi otonom untuk dapat melakukan operasi iteljen.tetapi mereka punya mekanisme laporan harian, mingguan, bulanan dan 3 bulanan. Jadi masih menurut AMH, tidak mungkin Munit menjadi target operasi liar atau salah menerjemahkan instruksi. Kalau para deputi jalan di luar alur tersebut, itu merupakan tanggung jawab pribadi. Operasi membunuh orang harus lapor; dan menurut AMH tak ada cerita operasi BIN bunuh orang [sic!].

Dalam setiap operasi AMH harus tahu. Komandan lapangan tak harus direktur. Bisa saja ditunjuk orang yang dipandang cakap. Untuk sasaran teroris internasional semacam Umar al Faruk, AMH harus melapor ke presiden. Dan menurutnya Munir bukan orang semacam al Faruk.

Meski hampir semua petinggi BIN menolak keterlibatan dalam kematian Munir, tampaknya hampir tak terelakkan bahwa operasi itu dirancang sistematis. Fakta-fakta kematian dan kesaksian beberapa orang merujuk kepada lembaga tersebut. Tapi link yang mengubungkan fakta-fakta tersebut – dalam hal ini Pollycarpus Budihari Priyanto – tetap bungkam. Apakah ia seorang agen BIN ? Jangan diharap ia akan bersuara, ini ciri khas seorang agen inteljen.

Pollycarpus akan diam.  BIN juga pasti tidak akan mengakui kaitannya dengan Pollycarpus. Di BIN ada dua jenis agen yaitu organikdan non-organik. Yang terakhir itu disebut juga sebagai contact person, dan mereka ini hanya didata. Kalau terjadi apa-apa dengan mereka tak akan diakui. Setiap agen bisa punya agen lagi di lapangan. Orang-orang ini biasa disebut informan, tidak digaji dan hanya dibayar sesuai pekerjaan. Agen asli biasanya tidak akan pernah mengaku. Jadi apakah Pollycarpus ini agen organik atau non-organik ? ya pastilah kedua belah pihak tak akan mengaku!

munir

 

 

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s