Vietnam Day 2 : District 1

Backpacking toVietnam Day 2 : Exploring District 1

Vietnam Selatan dan Indonesia  terikat oleh sejarah. Ikatan itu bernama Pulau Galang.  Tempat itu menjadi saksi bagaimana ratusan ribu  orang  Vietnam Selatan bermukim sementara waktu sebelum mendapatkan status imigran di negera ketiga. Yang tak dapat kesempatan emas itu, pada tahun 1997 saat PBB menutup secara resmi penampungan pengungsi di Pulau Galang,  direpatriasi di tanah airnya kembali. Tapi jangan mencari jejak sejarah ini di Pham Ngu Lao, Distrik 1, Ho Chi Min City (HCMC).

Pham Ngu Lao Street di bulan September

Pham Ngu Lao Street di bulan September

Distrik 1 HCMC – orang sana lebih suka menyebut dengan nama lama Saigon –  itu surganya backpacker. Seperti khaosan roadnya Bangkok. Para pelancong dari berbagai negeri berkumpul di sini. Hingar bingar musik berpadu dengan lalu lalang kendaraan – motor terutama – dan manusia dari berbagai ras seolah tak mengenal siang atau malam.

Sulit untuk mengenang bahwa sampai tahun paruh pertama dekade 80’an negeri ini punya kaitan dengan Indonesia. Ribuan pengungsi Vietnam dan Kamboja itu dimukimkan sementara waktu di Pulau Galang. Mereka harus menunggu sampai ada negara baru yang memberi mereka status imigran tetap atau direpatriasi di tanah air mereka kembali. Vietnam Selatan memang baru tahun 1975 digabungkan kembali dengan Vietnam Utara yang komunis. Sebelumnya Vietnam Selatan berada di bawah pengaruh Amerika Serikat.  Penyatuan ini mengundang perang saudara berkepanjangan, penindasan dan pengungsian besar-besaran. Ratusan ribu orang  Vietnam Selatan meninggalkan kampung halamannya bermaksud mencari suaka di negara baru. Dengan berjejal di perahu kecil mereka mengarungi lautan. Oleh PBB ‘manusia sampan’ itu di tampung di Pulau Galang.

Tapi jangan mencari jejak mereka di Distrik 1.  Partautan sejarah itu nyaris tak ada. Seorang staf agen perjalanan di jalan De Tham, sedikit kaget ketika  saya menyebut berasal dari Indonesia. “You are the first Indonesian  i met after have been working for long time here,” katanya. “Tak pernah saya bertemu orang Indonesia selama ini. Selalu saja Filipina, Korea, Japan…, “ ia menambahi.

Jadi selama 4 hari di Saigon saya merasa “the only Indonesian”. Tak mengapa. Beruntung di sini saya selalu ketemu Pinay yang bisa bersama-sama mengeksplorasi perjalanan. Kenapa selalu Pinay ? Ya tidak tahu. Mungkin karena saya pernah tinggal di sana, lalu chemistry itu terbangun begitu saja.

Kantor Pos Saigon

Kantor Pos Saigon

Hari kedua di Saigon, separuh hari saya habiskan mengikuti tur di Cuchi Tunnel. Bing – Jaime, dokter Filipina yang bersam saya ikut tur, tak punya rencana apa-apa untuk separuh hari sisanya. Jadi sepulang dari Cuchi kami sepakat untuk kembali ke hostel, mandi, makan siang sendiri-sendiri, lalu berjanji ketemu lagi di Shin Tourist. Siang sampai malam kami akan bersama keliling distrik satu.

Saya tak sempat kembali ke Hongkong Kaiteki Hotel gara-gara ketemu Ann, perempuan asal Penang, dan mendengarkan curhatnya. Ajaib saja rasanya. Saya makan siang di sebuah fast food di seberang Shin Tourist. Bersitatap, mengangguk dan tersenyum padanya di muka di kasir, justru waktu dia sudah selasai makan dan akan beranjak pulang. Dia membuntuti saya, pesan minuman,  dan minta ijin duduk semeja. Selanjutnya saya lebih banyak mendengar curhatnya. (wajahku ini tipikal orang baik-baik sih…. :P)

Ann sebelumnya pernah bekerja di sebuah hotel di sini, di Saigon beberapa tahun yang lalu. Lantas dia kecelakaan saat dibonceng motor temannya. Tangannya patah. Ia memutuskan pulang ke Penang supaya dekat keluarganya. Ia keluar dari pekerjaannya dan selama setahun total beristirahat. Banyak hal berubah menjadi lebih berat sesudahnya. Ia putus dari pacarnya, tak dapat pula kembali bekerja di hotel tempatnya semula bekerja. Ia kini bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah hotel di Penang, kampung halamannya. Bangun pagi-pagi, seorang diri di rumah lantas mengerjakan proposal pemasaran etc. Dia tidak harus ngantor setiap hari. Hidup terasa kosong baginya saat ini.

Sampai jam 3 sore kami mengobrol.. Saya melihat Bing melintas hendak menyebarang ke rah Shin Tourist.   Saya segera berteriak memanggilnya. Pelayan restoran ikut-ikutan membantu berteriak disambung beberapa pengunjung restoran yang lain. Bing kaget, memasuki restoran dan kami semua tertawa ramai ~ “ Your friend is waiting for you here mom….,”  mereka menunjuk saya. ~

Peta Distrik 1 Saigon (HCMC)

Peta Distrik 1 Saigon (HCMC)

Dengan membawa peta mulailah kami berjalan mengeksplore distrik satu. Untuk usia yang tidak muda lagi, lumayan capek juga mengelilingi areal ini. Bermula dari De Tham / Pham Ngu Lao (1) kami berjalan ke arah Selatan, melewati Taman September 23 (2), di perempatan Ben Than market berbelok lagi ke Ham Ngi Street. Kami terus berjalan sampai Bach Dang Ferry (3) kemudian berjalan terus ke utara  pada jalan Ton Duc Trang yang bersejajar dengan Sungai Saigon. Ikuti saja jalan ini dan kemudian di persimpangan jalan Ngyen Trung Dan berbeloklah ke kiri. Di Ujung jalan ini  kita akan bertemu Zoo and Botanical garden (7).  Musem Sejarah Vietnam (Historical Musem) berada dalam kompleks taman ini. Anda bisa mausk kalau tertarik. Vietnam ini banyak sekali museum dan taman. Anda lihat saja di peta yang saya lampirkan disini.

Gereja Katedral Saigon

Gereja Katedral Saigon

Keluar dari Botanical Garden kita bisa menyusuri Le Duan Street sampai bertemu kantor pos Saigon (6b). Bangunan kuno ini juga menjadi objek menarik untuk dikunjungi. Masuk dan foto-toto di dalamnya. Anda juga bisa membeli beberapa kartu pos, kirimkan ke diri sendiri, sehingga ketika anda pulang ke rumah kartu pos anda sudah menunggu. Di dalam kantot pos juga ada banyak stan yang menjajakan suvenir, buku-buku (hihihi…. buku-buku komunisme yang di Indonesia dilarang bisa lho dibeli untuk menghias almari buku) dan berbagai barang kenangan.

Tepat di seberang kantor pos ada gereja katedral Saigon (6a). Sayang kita tak bisa masuk kalau tidak ada misa kudus. Saya kurang beruntung, waktu saya datang misa sakramen pernikahan baru saja usai. Gereja  hanya dibuka satu pintunya dan dijaga oleh seorang pegawai sipil Vietnam. Saya hanya bisa mengintip ke dalam. Rayuan saya untuk minta masuk berdoa ditolaknya dengan gelengan kepala dan senyum ramah. (Duh… wajahku bukan wajah pendoa yang khusuk rupanya). Jadi foto-to saja di pelatarannya yang luas.

Dari katedral Saigon kami berjalan menyusuri jalan Han Nyuen sampai di persimpangan Jalan Nam Ky Khoi Ngia. Di seberangnya terletak Independence Palace (9). Keluar dari independence palace kita kami berjalan ke arah kiri, terus menyusuri Nam Ky Khoi Nghia sampai bertemu Revolusionary Museum (10) yang berada satu area dengan People Comitte Hall (4). Tempat ini menarik untuk dijadikan untuk latar belakang foto.

Keluar dari People Comittee Hall kami menyusuri Dong Khoi Street sampai bertemu Gedung Opera (5). Jalan di depan Gedung Opera itu namanya Le Loi Street. Kami menyusuri Le Loi Street sampai bertemu Ben Than Market (11). Hari menjelang senja, kami beristirahat sejenak sambil menikmati minuman dingin. Para pedagang food street mulai berkemas menggelar dagangannya.

Gedung People Committee

Gedung People Committee

Sebenarnya malam harinya ada atraksi menarik di distrik 1 yaitu Water Puppet show di Restoran Golden Dragon yang terletak di Jalan Nguyen Thi Minh Khai. Setiap hari ada 3 kali pertunjukan jam 5, jam 6.30 dan jam 7.45. Tapi setelah dipikir-pikir kami lebih memilih untuk kembali di De Tham dan Phan Ngu Lao. Kami masuk ke La Cassa Restourant dan ngobrol sepuasnya sampai malam di situ. Ah… saya selalu punya chemistry kalau bertemu Pinay. Mungkin karena saya lama tinggal di sana, sehingga tak kurang bahan untuk bertukar cerita. Atau pada dasarnya saya orang yang mudah berteman…. . Kami meluruskan kaki yang letih, sambil menikmati hidangan khas Vietnam dan orang lalu lalang sepanjang  Bui Vien Street. Tampaknya ini restoran paling ramai di Bui Vien. Penjungnya didominasi bule-bule. Masakan Vietnam didominasi pork, sup, dan mie. Nasi hanya dalam porsi kecil yang dibungkus dalam adonan tepung beras. Nikmat.

Sekitar jam 9 malam kami cukupkan pertemuan kami. Kami saling menulis alamat, email dan thanks be to Zukerberg for his great invension : facebook. Saya berdiri, celingukan mencari pelayan untung meminta nota.  Tiba-tiba seorang hansip eh…apa ya,  pemuda kerempeng berseragam hijau hansip yang menyandang senapan panjang di bahunya mendekati kami. Dari tadi pemuda ini wira-wiri di sepanjang jalan ini. Entahlah, mungkin dia semacam polisi wisata atau sejenisnya. Sedikit tersenyum ia bertanya dalam bahasa Inggris yang teramat payah,  apakah kami telah selesai makan dan mencari pelayan. Setelah kami iyakan, ia memanggilkan gadis pelayan untuk  menghitung harga makanan kami.

Kami berpisah. Besok saya akan menyusuri Sungai Mekhong, masih bersama Shin Tourist. Bing akan ke Muine. Kami berpelukan, persahabatan antarperempuan, selalu hangat dan penuh pengertian. Terima kasih doctora Bing. Berharap saya akan sekali lagi mengunjungi Manila dan kita bertemu di sana …..

Dengan Bing, istirahat di taman habis jalan seputar Distrik 1

Dengan Bing, istirahat di taman habis jalan seputar Distrik 1

Di resto La Cassa

Di resto La Cassa

Menu di La Cassa, Bui Vien Street

Menu di La Cassa, Bui Vien Street

 

Toko pakaian muslim di dekat Ben Than market.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

~~~~~~~~~~ TIPS /

 Do and Don’t

  1. Bila keluar dari bandara hendak ke Distrik 1 (Pham Ngu Lao, Bui Vien Street), naik taksi Vinasun lebih recommended. Naik bus nomor 152 juga bisa, nanti turun di dekan Ben Than Market. Dari sini kita menyeberangi Taman Cong Vien 23/9.
  2. Di distrik 1, bila turun dari bus kita akan didatangi pengendara cyclos atau ojek. Sebaiknya abaikan mereka. Mereka cenderung memeras.
  3. Tunjukkan peta google, bila bertanya alamat kepada penduduk, sebab pada umumnya mereka tidak bisa bahasa Inggris. Kalau mereka tidak menangkap maksud kita, pengalaman saya sih, mereka cenderung asal nunjuk saja. Kita bisa linglung ngalor ngidul salah melulu.
  4. Ada tur setengah hari untuk eksplore distrik 1, tapi kalau mau jalan kaki masih terjangkau. Ini sedikit petunjuk, sambil cocokkan dengan peta yang saya muat.
  5. Ben than market ramai kalau malam terutama pedagang makanan open air, tapi siang hari menarik juga untuk dikunjungi. Suvenir dan T Shirt bisa dibeli di sini dengan harga murah. Ada T Shirt warna merah manyala dengan gambar palu arit atau bintang emas lho…, yang kalau kita pakai di Indonesiab bikin mata sebagian orang jadi melotot parno !!! Harganya sekitar 50.000 Dong. Beli saja yang sudah ada bandrol harganya.
  6. hati-hati kalau menyeberang jalan, di kota ini motor, mobil dan sepeda semrawut.

Next post : Vietnam ; Menyusuri Sungai Mekhong

 

 

 

 

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s