Backpacking to Vietnam

Doktrin pertama seorang backpacker itu konon katanya IRIT. Demi mempraktikkan satu kata itu aku malah jadi boros. Tapi okelah, orang bisa belajar dari kesalahan, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Vietnam Day 1 : Magnet Kapsul, Pham Ngulao dan Ben Than

IMG_20140828_164733Magnet apa yang menarik hatiku untuk datang ke Vietnam, sebenarnya tak jelas benar. Aku punya beberapa teman orang asli Vietnam Selatan, tetapi sesudah berpisah sekian tahun, tak mudah menghubungi mereka. Jadi bukan alasan pertemanan.

Nah, alasanku yang benar rupanya terjawab oleh seorang teman. Katanya, kemana tiket promo pesawat bertiup, ke situ kaki backpacker melangkah. Tepat. Untuk perjalanan di bulan Agustus September tiket pesawat Jakarta – Singapura – HCMC – KL – Jakarta yang kubeli pertangahan April dibandrol sekitar Rp 1.600.000. Tidak terlalu murah untuk seorang pemburu tiket sejati. Tapi sudahlah, aku tak peduli. Ini juga bukan harga yang buruk.

Vietnam mungkin juga menarik. Aku ingin melihat bagaimana Vietnam (dan juga Cambodia) yang sampai pertengahan tahun 1980-an diluluhlantakkan oleh perang saudara membangun dirinya dengan sangat cepat. Bagaimana pula benteng komunisme tak tahan pula untuk menggeliat ke arah kapitaleisme.

Belum jam sembilan pagi, pesawat yang kutumpangi telah mendarat di Tanh Son Bhrat airport, Ho Chi Min City. Antrian cukup panjang pagi itu, sementara belum semua petugas bersiap di meja tugasnya. Pengecekan paspor terdiri dari 3 kelompok, untuk penumpang asli Vietnam, ASEAN dan non-ASEAN. Petugas berseragam hijau, seperti seragam PNS Indonesia, terlihat dingin dan kaku. Hanya sekejap ia melihat pasporku, bahkan tak mencocokkan foto di paspor dengan wajahku. Dengan tetap menunduk ia hanya bertanya, akan berapa hari tinggal di Vietnam. ~ “four days only, just for travelling,” jawabku. Tanpa reaksi ia memberi stempel pasporku untuk batas kunjungan 1 bulan.

Beberapa bulan sebelum keberangkatan ke Vietnam, aku sudah membuat panduan pribadi, itinerary, peta dan serangkaian do and don’t. Salah satunya, keluar dari bandara jalan ke arah kiri dan naik bus nomor 152 turun nanti di Ben Than market dekat patung penunggang kuda, bayar 7500 dong di atas bus. Dari Ben Than market tinggal jalan kaki ke arah Pham Ngulao, belok kiri ke jalan De Tham sampai bertemu perempatan, jalan yang membentang dari kiri ke kanan kita itulaha Bui Vien Street. Tinggal di cari, gedung nomor 22 di ujung jalan itulah Hongkong Kaiteki Hotel. Segampang itu. Teorinya sih !

SAM_0510

Taman Cong Vien 23/9

 

Praktiknya ? Tidak gampang.  Terutama bagi orang sejenis aku yang sering disorientasi dan kemrungsung di tengah keramian. Apalagi kalau tiba-tiba dikerumuni orang baik (baca scam!!!). Bingung pertama, ternyata bus menuju Ben Than sudah nongkrong di sebelah kanan pintu keluar. Mungkin benar, tadi busnya parkir di sebelah kiri. Tapi begitu banyak penumpang  yang turun dari pesawat, bus bergerak jemput bola. Berhenti bisa di mana saja. Kali ini ada di sebelah kanan terminal kedatangan dia.

Ben Than Market dilihat dari patung penunggang kuda

Ben Than Market dilihat dari patung penunggang kuda

Bingung kedua, turun di Ben Than Market, masih membawa beban ransel depan belakang seberat 8,4 kg, langsung dikerubungi tukang ojek dan pengemudi cyclos. Bertanya pada orang lain, eh.. mereka tidak tahu bahasa Inggris. Ya sudah jalan saja. Yang penting jalan di seberang Taman Cong Vien 23/9 itu Pham Ngulao.

Ben Than Market

Ben Than Market

Bingung ketiga. Kita selalu membawa harapan dan persepsi keseharian kita di Indonesia yang tidak selalu tepat sama di negara lain. Maksudku begini. Di Indonesia semua toko memasang nama dan nomor bangunan dengan aksara latin. Di Ho Chi Minh City – HCMC  (kota ini biasa juga disebut Saigon), setiap toko memasang papan nama dengan aksara Vietnam. Jadi untuk mengetahui nama jalan, kita harus berjalan ke ujung dulu, karena papan namanya ada di situ.

Mau tanya alamat pada orang di jalan? Begitu lihat kita kebingungan, yang datang menghampiri lagi-lagi tukang ojek dan pengendara cyclos. Sudah kecapaian, akhirnya aku menyerah pada pengendara cyclos yang kesekian. Diantarlah ke Hongkong Kaiteki Hotel. Eh, sampai di tempat si tukang cyklos ngotot minta dibayar 150.000 dong. Itu artinya sekitar Rp 80.000. Padahal tadi dia hanya minta 2 dolar. OK. Pelajaran pertama: jangan pernah percaya tukang cyclos. (Tapi malam harinya, ketika aku ngobrol dengan Iyya, Pinay yang nginap satu kamar dorm denganku, ia juga punya pengalaman dipalak supir taksi. “OK. You trapped me. It’s Vietnam. I never had an exepperience like that in another cities,” begitu dia mengumpat si sopir). Aku sempat mengumpat-umpat pula, tapi dalam hati saja.

Sampai Hongkong Kaiteki Hotel di ujung Bui Vien Street sudah pukul 11 siang. Meski aku sudah minta early check in melalui email, tetap saja mereka tidak mengijinkan aku masuk kamar. “Anda harus menunggu jam check in, pukul 1 siang, “ kata mereka. Dingin dan tanpa solusi atau saran apapun. Padahal aku tahu kemudian, pod yang kupesan kosong saat itu. Staf hotel, seorang lelaki dan perempuan muda, meminta tanggungan pasporku.  Agak deg-degan juga. Bagaimana mungkin tanda identitas diri itu dipegang orang lain. Tetapi ia meyakinkan aku bahwa itu tidak akan menjadi masalah di Vietnam. Untung aku sudah membuat fotokopinya, juga memindai dan meletakkannya dalam dropbox.

Tempat tidur kapsul

Tempat tidur kapsul

Sesudah jam satu siang baru aku diijinkan masuk kamar. Aku memilih hotel ini karena penasaran saja dengan yang namanya capsul hotel. Konon katanya, capsul hotel ini semula berkembang di Jepang untuk transit tidur bagi orang-orang yang sangat sibuk bekerja dan tak sempat pulang ke rumah. Dari Jepang, konsep ini dikembangkan ke kawasan-kawasan backpacker.  Staf hotel memberi aku dua kunci loker. Loker pertama terletak di lobi hotel, untuk meletakkan sepatu untuk selanjutnya ditukar dengan sandal rumah. Selanjutnya staf itu mengantarku ke lantai 6. Barang-barang diletakkan di loker yang terletak di belakang deretan pod tempat tidur.

Ternyata yang namanya capsul hotel itu hampir sama dengan dormitory biasa dengan amben (pod) bertingkat terbuat dari kotak fiber berwarna putih.  Di ruangan itu ada 8 pod bertingkat sehingga semuanya ada 16 tempat tidur.  Haha…warnanya yang putih bersih mengngatkanku pada tumpukan peti mati. Yang membedakan dengan dormitory, setidaknya di dalam kotaknya masing-masing setiap orang masih punya privacy. Tapi ya, kalau dapat teman-teman yang reseh, ya tetap saja kita akan terganggu dengan keributan mereka.

Capsul – “peti tidur”

Untung aku dapat pod bagian bawah, tepat di tepi dinding kaca dengan pemandangan Bui Vien Street. Jadi kalau aku membuka tirai podku dan tirai dinding kaca itu,  sambil berbaring aku bisa memandang keramaian Bui Vien Street dari atas. Di dalam pod ada kasur busa tipis, televisi 30 inci dan beberapa colokan listrik. Hnaduk putih lebar dan slimut tebal tersedia pula. Kamar mandi dengan shower air panas ada di deretan belakang ruangan tidur ini.

Mandi dan meluruskan badan sebentar di atas kasur. Hanya aku seorang diri di ruangan ini. Mungkin siang ini semua tamu sedang keliling kota. Tapi ini lebih baik, sebab aku bisa hening sejenak, setelah semalaman begadang di Changi. Bisa tidur sih di sana, tapi tak dapat nyenyak tentu saja.

Tak betah lama-lama beristirahat, akupun turun, mencoba menjelajahi distrik 1, yang merupakan kawasan wisata Hanoi. Hujan rintik-rintik di luar. Kawasan Bui Vien Street yang terletak di belakang Pam Ngulao street ini terkenal sebagai pusat kuliner. Di sini berjajar pula bar, diskotik dan café. Tapi siang hari jalanan agak sepi. Keramaian  baru akan dimulai ketika hari menjelang malam. Kumasuki sebuah restoran kecil di seberang Hongkong Kaiteki Hotel. Hanya ada beberapa turis asing di situ.

Vietnam ini kaya akan ragam kuliner. Tapi yang terkenal memang menu mie. Karena asing dengan nama-namanya maka asal tunjuk saja sebuah foto. Setelah datang, yah… perlu penyesuaian lidah. Nasi dalam porsi kecil, kerang yang sudah dikupas – jadi tanpa kulit, daun bawang, daun mint, semuanya diiris tipis-tipis.  Dan satu lagi entah jenis sayuran apa, wujudnya seperti pangkal batang pisang, tawar tanpa rasa, juga diris tipis-tipis. Dilengkapi cabe cocol dan minyak zaitun. Menu ini ditebus dengan harga sekitar 56.000 dong. Kurs dong waktu itu separuh lebih dikit  dari rupiah kita.

Keluar dari restoran hujan mulai reda. Agenda penting hari ini, membeli paket tur untuk dua hari ke depan. Menyusuri Bui Vien Street ke arah utara, dan berbelok ke kiri menyusuri  De Tham Street, aku mencari The Shin Tourist, tur agensi yang direkomedasikan oleh Tripadvisor. Agen Wisata itu  terlihat cukup menyolok di antara ruko-ruko di sekitarnya. Ada beberapa bus yang parkir di situ dan para pelancong yang baru pulang dari aktivitas  seharian.

Rencana semula aku akan ambil dua paket Chuchi tunnel + Chao Dai temple    dan Mekhong Delta River tur. Masing-masing akan makan waktu seharian. Tapi apa boleh buat, untuk dua hari ke depan Chao dai temple tidak ada ibadat. Jadi keesokan harinya aku hanya ambil paket Chuchi tunnel dan hari esoknya lagi seharian menyusuri sungai Mekhong.  Kedua paket itu seharga 318.000 dong. Lupa berapa dolar kalau dikonversi ke rupiah bulan Agustus lalu. Mungkin antara Rp 170 ribu sampai Rp 180 ribu. Dolar pada bulan Agustus itu sekitar Rp 11.600,00.

Dari situ aku menyeberangi taman Cong Vien 23/9 menuju Ben Than Market. Jalanan semrawut bukan kepalang. Mobil pribadi, bus kota, bus wisata, motor, cyclos, sepeda bersliweran nyaris tanpa aturan. Celakanya hanya perempatan besar saja yang ada lampu pengatur lalu lintas, itupun akan cenderung dilanggar oleh pengendara motor, cyclos dan sepeda. Lebih kacau daripada di Indonesia.

SAM_0509

Papan Peringatan kemerdekaan Vietnam 2/9

Jalan-jalan meriah dengan umbul-umbul warna merah, berselang-seling gambar palu palu arit dan bintang emas. Tangal 2 September adalah peringatan hari kemerdekaan Vietnam dan pembentukan Republik Demokrasi Vietnam (Utara). Biasanya di seantero Vietnam akan diadakan perayaan dan berbagai festival.  Sayang , tanggal 30 Agustus aku harus meninggalkan Hanoi untuk selanjutnya ke Cambodia.

Ben Than market adalah pasar tradisional yang menjual berbagai makanan tradisional, souvenir dan T shirt. Pasar akan tutup menjelang magrib, dan jalanan di sekitarnya akan menjadi pusat kuliner. Kursi-kursi plastik digelar dan di bawah langit terbuka para wisdatawan dapat menikmati berbagai menu makanan, dari tradisional Vietnam sampai menu internasional. Aku hanya membeli satu Tshirt seharga 5Pasar akan tutup menjelang magrib, dan jalanan di sekitarnya akan menjadi pusat kuliner. Kursi-kursi plastik digelar dan di bawah langit terbuka para wisatawan dapat menikmati berbagai menu makanan, dari tradisional Vietnam sampai menu internasional. Aku hanya membeli satu Tshirt seharga 60.000 dong dan pulang ke hotel.

Bersama Iyya

Bersama Iyya

Kuturunkan tirai pod tempat tidurku dan sejenak. Hujan semakin deras saja. Sekitar jam 6 sore baru kubuka tirai. Sesosok wajah ramah penghuni kapsul di depanku tersenyum menyapa, “Hallo, I am Iyya from Philippines. Where are you from ?” Begitu tahu bahwa aku pernah studi di Ateneo, obrolan kami langsung nyambung. Iyya bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Singapura. Ia juga sedang berlibur seorang diri. Hari merupakan hari terakhir di saigon. Besok jam 11 siang ia akan check out dan kembali ke Singapura.

Sekitar jam 8 malam hujan tak juga reda. Akhirnya kami berdua turun ke lobi. Berhujan-hujan kami keluar. Ada satu restoran yang berjarak beberapa langkah dari hotel kami, La Casa. Pengunjung bule memenuhi ruangan, suara musik, asap barbeque, menarik perhatian kami. Menu makanannya bervariasi, tapi yang paling banyak memang yang berbahan mie dan pork. Makanannya cukup enak dengan harga bervariasi dari 50.000 dong sampai 100.000 dong.

Selepas makan malam, kami ke Ben Than market. Hujan kami terabas saja. Sebenarnya kami berdua juga cuma melihat-lihat saja. Iyya hanya membeli sedikit suvenir. Kami juga tidak lagi tertarik dengan lapak-lapak street foods yang memenuhi jalanan. Perut sudah kenyang begini. Putar sana putar sini, akhirnya kami cuma beli jas hujan plastik tipis seharga 10.000 dong. Hahaha…badan sudah kuyup begini. “You still can use it in Cambodia, “ kaya Iyya.

Jam setengah sebelas malam kami berjalan ke hotel kami. Tapi Iyya hanya lewat, ia masih mau meneruskan langkah.  Hari ini adalah malam terakhirnya di Saigon ia ingin ke spa untuk menikmati pijat. Sesudah itu ia masih akan ke bar. Sebenarnya ia sempat menawari aku untuk bergabung dengannya, “Would you like to take a glass of wine with me ?”  ~ I’d like to go but tonight i have to book hostel in Cambodia through internet,” aku menolak halus. Aduh… lama juga kalau harus menunggu dia pijat ke spa baru ke bar. Akhirnya Iyya pergi sendirian.

Districk 1 malam hari

Districk 1 malam hari

Aku pulang dan segera bergulung di peti tidurku, menonton televisi (tak benar-benar kutonton, hanya sekedar membiarkannya hidup tanpa suara), dan membuka sosial media. WIFI dari kamar ini cukup bagus. Aku tak tahu jam berapa Iya pulang dari bar. Rupanya aku terlelap dengan televisi yang tetap menyala. Para penghuni di kapsul hoetl ini sungguh sangat menghargai privacy orang lain dengan tidak berisik. Sesuatu yang sangat kuhargai. Pagi ketika aku bangun, pod tidurnya masih gelap. Aku keluar diam-diam, mandi dan berkemas memenuhi jadwalku hari ini : Chuchi tunnel. Baru esok harinya kami kontak virtual lewat FB. Ia telah menekuni pekerjaannya di Singapura, menabung katanya sehingga tahun depan bisa bertualang ke Spain… . OK Iyya, semoga impianmu terlaksana, it was nice spending the time with you. *-* *_ *

 

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s