Backpacking to Cambodia

Angkor Wat : Melawat Kejayaan Cambodia

Cambodia dalam imajinasi saya adalah gemulai para perempuan cantik isteri raja-raja Jawa, nun datang dari tanah seberang, Kambujadesa, Champa atau jauh lagi, Funan di Utara;  Sebagaimana itu diabadikan  dalam eksotisme tari klasik Jawa. Cambodia dalam ingatan saya adalah sebuah negeri yang tercabik oleh perang, genosida dan pengungsian besar-besaran. Cambodia adalah tempat yang sama, di mana keagungan dan kekejaman berjalinan dalam takdir sejarahnya.~~~

SAM_0608

Cambodia : Tracing My Blood through Champa to Kambujadesa

Saya berkulit coklat, bermata agak sipit. Orang-orang yang baru saja mengenalsaya, menduga bahwa saya mungkin berasal dari salah satu etnis di Sumatera, Sulawesi atau Kalimantan. “Pokoknya bukan Jawa,”  kata mereka. Padahal saya Jawa tulen. Setidaknya sejak  garis kakek buyut saya baik dari pihak ibu maupun bapak tidak tercampuri oleh etnis lain. Tapi konon nenek moyang saya, enam generasi di atas saya, dulu datang dari pantai Utara Jawa sekitar Kabupaten Pati, ke sebuah desa di perbatasan Kabupaten Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta.  Di situlah kampung halaman saya sekarang, di mana ratusan candi Hindu dan Buddha masih berdiri menandai keagungan peradaban masa lalu.

Duluu, ketika sementara waktu tinggal di bukit karang Ecully, France, orang selalu menduga saya keturunan imigran Kamboja. Mungkinkah ada sepercik darah Champa atau Cambodia dalam tubuh saya, sebab penduduk pantai kemungkinan lebih terbuka terhadap kawin campur ?  Mungkin saja. Apalagi saya menengarai, beberapa sepupu saya  bermata sipit, berkulit terang

Champa, cambodia, Vietnam atau lebih ke utara lagi, Funan – China Selatan, sering dicampuradukkan dalam tradisi sejarah lisan tanah Jawa. Setidaknya demikian digambarkan dalam tari klasik Menak, teater rakyat dan babad. Beberapa sejarahwan memang mencatat bahwa kerajaan itu pernah menjalin relasi erat dengan Jawa. Bahkan dinasti pendiri Angkor Wat, pernah tunduk pada hegemoni Mataram kuna di Jawa tengah.

Jadi ketika ada kesempatan melawat Indo China, saya seolah menepaki lorong waktu, jauh ke masa lalu.  Setitik darah di nadi saya ~gelora pantai utara bercampur mistisnya  aura candi-candi Hindu Budhha di kampung halaman saya ~ mungkinkah berhulu di sini ?  Deja vu ? Saya tidak tahu. I am not keen about it. Yang jelas, saya merasa sama sekali tidak asing ketika menapaki batuan Ankor Wat, candi Hindu yang kemudian berubah menjadi candi Buddha di Siem Reap, Cambodia.

SAM_0598

~~

Hari belum lagi subuh, jam 4 pagi, aku sudah siap berdiri di teras Palm Garden Lodge, hostelku. Tidak bisa tidur semalaman, sesudah terguncang-guncang selama hampir 16 jam perjalanan kemarin. Ada seorang wanita muda Eropa bertubuh subur seorang diri berdiri di teras bersamaku. Kami hanya saling tersenyum tanpa ada keinginan untuk bertegur sapa. Adan, pengelola hostel, menggeliat dari tidurnya di atas amben bambu di muka pintu hostel. “What is your plan today?  What can i do for you, please ?” Ia sopan dan helpful walau agak mahal senyum.

Aku menunggu Krizia dan Wyeth. Kami berjanji kemarinuntuk pergi ke Angkor Wat. Normalnya para wisatawan akan pergi sebelum subuh untuk melihat matahari terbit, pemandangan paling spektakuler di sana. Konon landscape  sunset tak terlalu bagus. Wanita Eropa itu rupanya juga akan ke Angkor Wat. Adan menawarkan tuk-tuk, $ 12 saja seharian kalau aku sendirian. Kalau ingin share dengan wanita Eropa itu Adan akan mencoba merembug. Palm Garden punya beberapa tuk-tuk sendiri yang disewakan kepada tamu-tamunya.  Tapi aku pilih menunggu saja.

Tiket

Tiket

Lewat jam lima pagi, mereka berdua baru datang, diantar Ara Pheng. Wah, pasti kami tak akan kebagian sunrise kalau begini. Perjalanan dari hostel ke Siem Reap saja makan waktu hampir setengah jam.

Jam enam kurang sedikit kami tiba di gerbang. Sudah agak sepi, sebab para wisatawan pasti sudah masuk pagi-pagi buta tadi untuk menunggu matahari terbit di sini. Kami difoto dulu, untuk kemudian diprint-out dalam karcis masuk. Karcis ini harus ditunjukkan setiap kali kita memasuki sebuah candi dalam areal ini. Harga karcis untuk sekali kunjungan $ 20. Ada juga harga karcis untuk kunjungan 2 atau tiga hari (arkeolog kaleee…).

Ara mengantar kami sampai di depan candi Bayon. “Terserah kalian, mau berapa jam di sana, aku tunggu di sini, “ katanya. Supir tuk-tuk tak boleh merangkap jadi pemandu, itu aturan di sini. Memasuki Angkor Wat, candi utama, terlihat banyak sekali turis asing berderet di pinggir parit, samping candi Bayon, lengkap dengan kamera canggih dan tele panjang. Mereka pasti sedari tadi menunggu marahari terbit. Tunggu punya tunggu matahari tak muncul pagi itu. Kali ini Tuhan adil (Hehehe…..). Semua orang tak kebagian sunrise seperti juga kami. Mendung menggantung seharian, meski hujan juga tidak turun. September memang bukan saat yang bagus untuk berwisata ke tempat ini. Musim hujan.

SAM_0603

Candi Bayon berdiri megah paling depan. Wisatawan dari berbagai bangsa bersliweran. Beberapa pemandu menawarkan jasa. Ada lagi penjual buku sejarah dan panduan Angkor Wat. Maaf, kami tolak semua. Kami bertiga  cuma ingin bersenang-senang. Bukan fotografer profesional, bukan arekeolog atau sejarahwan. Jadi tak ada satupun dari kami yang ngotot untuk berlama-lama di dalam candi.  Untung chemistry di antara kami bertiga terbangun sejak kemarin setelah mengalami saat sulit bersama, walaupun rentang usiaku dan mereka berdua jauh sekali.

Seorang perempuan muda, berpakaian agak lusuh, berwajah gelap terbakar matahari, terus menempel kami. Dengan bahasa Inggris yang fasih ia menerangkan sekilas tentang bangunan candi ini. Ia juga memotretkan kami bertiga di parit dekat candi Bayon. Kami agak takut juga, jangan-jangan akhirnya ini perempuan minta diupah juga. Segala hal buruk bisa saja terjadi toh ? “I  sell foods. If you finish seeing Bayon, please come for breakfast. My stall is over there. “ Ia menunjuk deretan kios yang menjual makanan, suvenir dan kaos. Kali ini tawaran tidak kami tolak. Memang lapar.

Kecuali warung makan deretan kios itu juga menjual kaos-kaos cinderamata Cambodia. Banyak kaos dengan gambar Tin-tin, karena ada satu episode komik itu yang menceritakan petualang Tin-tin di Cambodia. Desainnya pada umumnya sangat sederhana. Suvenir yang lain berupa gantungan kunci. Ada juga scraft motif kota-kotak khas Cambodia.  Tak banyak pilihan.

Di belakang deretan kios-kios ini ada sebuah rumah besar, seperti bentuk limasan dalam tradisi Jawa. Halamannya sangat luas. Rumah ini nampak hening dan terlindung dari keramaian aktivitas wisata. Tampaknya rumah ini sebuah monastery. Waktu saya melintas, sekitar jam 8 pagi, tampaknya mereka sedang rehat. Beberapa biarawan tua sedang menyelesaikan sarapannya. Beberapa orang makan bersama dalam satu tampah. Beberapa calon remaja calon biarawan sedang istirahat di halaman. Saya sungkan mengambil foto-foto mereka.

SAM_0629Setelah sarapan kami lanjutkan melihat-lihat komples candi Angkor Wat. Lucu rasanya melihat serombongan turis manca, dipandu seorang guide, yang berjalan di muka dengan tongkat berrumbai-rumbai di angkat tinggi-tinggi. Seperti Nabi Musa menggiring kawanannya menyeberangi Laut Merah. Hihi… untung aku sudah berani jalan sendiri. “Ate, menurutmu mereka ini dari negara mana ? “ tanya Krizia menunjuk serombongan ibu-ibu heboh berseragam kaos pink bertuliskan nama biro wisata.  Mereka teriak sana sini memanggil sesamanya. “Ehmm… Japan,” aku menebak.  ~Oh, no, Japanese  never screams histerically like this. Maybe they are from China or Taiwan, “ katanya lagi . ~

Pemandangan lain yang kami saksikan, beberapa biarawan / biarawati Buddha melintas. Pada umumnya mereka sendiri atau berjalan dalam rombongan kecil saja. Entahlah, apakah mereka orang-orang Thailand, Vietnam atau Kamboja . Aku tak dapat membedakan wajah mereka. Kulihat mereka akrab pula dengan gadget, dan dengan peralatan modern  itu mereka saling mengambil gambar.

Angkor Wat juga sangat indah jika dipakai sebagai backgroung pemotretan. Beberapa pasangan pengantin tampak sedang melakukan pemotretan pra wedding. Juga para fotomodel, berjalan naik turun tangga candi dengan sepatu tumit tinggi mereka.

SAM_0627Kami bertiga hanya mengelilingi beberapa candi saja. Amatiranlah. Setengah hari cukup untuk menikmati keindahan candi-candi di kompleks Angkor Wat. Kami makan siang di salah satu restoran dalam kompleks Angkor Wat. Matahari sudah condong ketika kami selesai makan. Ara menawarkan sisa waktunya (sampai jam 6 sore) untuk melihat-lihat tempat lain. Tapi kami bertiga sudah hilang mood. Tujuan kami Cuma cari tiket ke Bangkok. Malam nanti saya sempatkan sedikit jalan ke Old Market dan Pub Street.

Sekilas Tentang Angkor Wat

Dinasti pendiri Angkor dimulai pada sekitar tahun 800 M, ketika raja Jayawarman II memproklamirkan kemerdekaan Kambujadesa (Cambodia) dari hegemoni Jawa, dan mendirikan ibukota kerajaannya di sebelah Utara Tonle Sap. Dengan cara penaklukan militer, perkawinan dan berbagai cara lain ia memerluas wilayahnya hingga berbatasan dengan Champa di Timur, Siam di Barat dan Funan di Utara.

SAM_0616

Angkor Wat kini merupakan situs kompleks candi terbesar di dunia dengan sekitar 1000 candi besar dan kecil, terletak sekitar 5,5 km dari kota Siem Reap. Menurut foto sateli tahun 2007, luas wilayah reruntuhan kota Angkor meliputi 1000 km2. Angkor dalam bahasa Khmer berarti kota atau nagara dalam bahasa Sanskerta.  Candi ini pertama kali dibangun oleh Suryawarman II (1113 – 1150), untuk didedikasikan kepada Dewa Wisnu, sekaligus sebagai ibukota negara. Dengan demikian semula Angkor Wat adalah candi Hindu. Proyek pembangunan tampaknya berhenti sesudah kematian raja.

Pada tahun 1117  Angkor diserang oleh kerajaan Champa tetapi dapat direbut kembali oleh jayawarman VII. Ia mendirikan ibukota baru Angkor Thom, dengan candi kerajaan baru yang dikenal sebagai candi Bayon, terletak  di sebelah Utara Angkor Wat. Pada akhir abad ke-13 Angkor Wat yang semula merupakan candi Hindu beralhih menjadi candi buddha Teravada hingga kini.

SAM_0637Restorasi Angkor Wat dimulai sejak 1907 dibawah pimpinan Ecole Francaise d’Extreme-Orient dan berlanjut sampai 1970. Pada saat perang sipil diCambodia renovasi terhenti dan baru dimulai lagi pada tahun 1993. Renovasi pada tahap ini berada di bawah koordinasi Co-ordinating Committee on the Safeguarding and Develeopment of the Historik Site of Angkor (ICC). Beberapa negara antara lain India, Jepang dan badan PBB Unesco bergabung di sini. Sejak 1070 turis asing mulai banyak berdatangan di Siem Reap.  Untuk menunjang aktivitas turisme dibangun hotel restoran  dsb. Saat ini manajemen resmi Angkor dipegang oleh Apsara Hotel.

Tips :

  • Siem Reap bisa dicapai dengan bus dari Saigon atau Phnomp Phen. Kalau dari Saigon sekitar 10 – 11 jam. Dari Phnomp Pehn sekitar 6 jam.
  • Biasanya berangkat pagi, sekitar jam 7 dari Saigon. Siang hari berhenti satu jam di Phnomp Phen dan melajutkan ke Sieam Reap. Tiba sore hari.
  • Bus yang recommended Mekhong Express atau Sapaco. Setidaknya dua bus ini sudah biasa melayani turis. Ada bus malam namanya Virak Bhuntam. Tapi dengan bus malam perjalanan akan lebih lama karena tertahan di perbatasan Vietnam . Tripadvisor juga tidak merekomendasikan bus ini. Tapi kalau anda mau berpetualang bisa juga dicoba.
  • Harga tiket bus dari Saigonke Siem Reap untuk orang asing sekitar $26, tapi kalau beli di Pham Ngulao bisa sekitar $31. Kalau mau putus-putus, ke Phnom Phen dulu baru ke Siem Reap harga tiket sekitar separuhnya. Cek website Mekhong Express. Melalui web kita juga bisa beli online.
  • Di Siem Reap, biasanya bus akan berhenti di kawasan Old Market. Hotel / hostel yang sudah kita booking akan menjemput bila kita memberitahu sebelumnya.
  • Idealnya bookinglah hotel/ hostel di kawasan Old Market atau Pub street. Kalau bukan peak season (desember) dan akhir pekan biasanya sih bisa go show. Tapi capek juga sih kalau ke sana –sini bawa backpack berat. Harga bisa berkisar 5 atau 6 dollar kalau anda nginap di dorm.
  • Saya nginap di Palm Garden Lodge. Murah sih, saya booking lewat Agoda untuk dua malam sekitar Rp 170.00 single room tanpa AC. Itu sudah termasuk sarapan. Kamarnya dan ambennya besar, begitu juga kamar mandinya. Ada shower air panas. Masalahnya, lokasinya agak  jauh dai Old Market dan Pub steet, pusat keramaian Siem Reap. Jalan-jalan di Siem Reap berdebu kalau siang dan gelap kalau malam, jadi malas untuk jalan kaki ke mana-mana. Tapi hostel ini punya tuk-tuk sendiri. Jalan ke dua kawasan itu bayar satu dolar kalau cuma ngantar. Kalau menunggu sampai tengah malam ya sekitar 5 atau 6 dolar.
  • Esok harinya kita bisa booking tuk-tuk untuk mengeksplore Angkor Wat. Biasanya para turis akan dijemput sebelum subuh dan pulang menjelang matahari terbenam. Sewa tuk-tuk rata-rata $15. Anda bisa share berdua atau bertiga. Minta saja hostel / hotel untuk mengkoordinir.
  • Di gerbang anda akan difoto untuk diprint pada tiket. Tiket ini harus ditunjukkan saat kita memasuki berbagai candi dalam kompleks. Jadi jangan hilang. Harga tiket untuk satu hari tur $ 20. Ada juga tiket terusan untuk 2 hari atau tiga hari.
  • Pemandangan yang diburu wisatawan dan fotografer di Angkor Wat adalah matahari terbit dan bukan sebaliknya.  Matahari yang muncul kemerahan dari arah seberang parit mencipatakan pemadangan yang spektakuler. Bersiaplah cari posisi di sana. Kalau anda datang sejak subuh jangan lupa bawa senter. Sekitar candi cukup gelap.
  • Kalau anda bukan seorang arkeolog atau sejarahwan yang memang sangaaat berminat pada percandian, anda bisa minta pada sopir tuk-tuk untuk minitur saja. Artinya anda hanya diantar untuk melihat beberapa candi utama sampai makan siang (sekitar jam 1 atau jam 2). Sesudahnya anda bisa minta sopir mengantar anda ke objek wisata yang lain misalnya Phnom Kullen, floating market atau objek lain.
  • Sore anda bisa pulang, mandi dulu ke hostel. Malam hari bersantai sejenak di Old Market atau pun street, menikmati minuman, makanan atau tari-tarian apsara.

SAM_0653 modified

  • Ara Pheng, kenalan saya di Siem reap bisa diminta mengantar. Saya pakai jasanya sejak subuh sampai sunset dengan tarif $18 dan share bertiga. Lebih mahal sedikit dari supir tuk-tuk lain, tapi Ara tahu apa yang harus dilakukan dan bisa memberi saran yang baik. Lebih baik agak mahal tapi menyenangkan dripada dapat supir yang nanya melulu dan tak fasih bahasa Inggris. Kalau anda puas bisa tambahkan sedikit tips beberapa dolarlah. Jadi backpacker bukan berarti kita harus pelit. Ini FB-nya https://www.facebook.com/ara.pheng1.

     Ini nomor HP-nya : +85 589 577 550 .

  • Kalau anda bukan atlet, lupakan ide untuk berkeliling Angkor Wat dengan sepeda. Luuuaas banget. Ini situs percandian terbesar di dunia guys. Tapi kalau mau dicoba boleh juga, terus malamnya sekalian menikmati pijat refleksi yang banyak ditawarkan di kawasan pub street.

 Next Story : Day by Day Vietnam

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s