Backpacking : Cambodia – Thailand – Malaysia

Melintas Batas Selanjutnya 

Episode 2 : Poipet – Aranyaprathet – Sadao – Bukit Kayu Hitam

Setelah pengalaman pertama, maka pengalaman kedua tidaklah terlalu menakutkan, pengalaman ketiga dan seterusnya akan membuat ketagihan.

IMG_20141030_174031Melewati perbatasan  antarnegara pada pengalaman pertama bagiku terasa menakutkan. Pengalaman kedua, masih mendebarkan. Dan yang ketiga kalinya, menyalakan passion untuk lagi dan lagi berjalan, ketagihan ! Hayuuuh…solo backpacking mode on. Dulu aku pernah melintasi perbatasan negara di Eropa Barat. Tapi rasanya lain sama sekali, ketika segala urusan  dibantu oleh orang lain dan aku tinggal duduk manis.

Kali ini semuanya aku kerjakan sendiri, menyusun itinerary, menyiapkan asuransi, berburu tiket murah, booking hostel, dst. Semuanya sambil berusaha menekan pengeluaran seminimal mungkin. Berjalan seorang diri, berbagai masalah harus diatasi. Seringkali, dalam situasi genting tak ada orang yang bisa memberi pertimbangan. Ya, mengandalkan naluri saja.

Thanks to God, perbatasan Cambodia – Vietnam berlalu dengan selamat. Sedikit membuat itinerary-ku menjadi kacau, tapi ya sudahlah. Karena terlalu lelah akhirnya kuputuskan untuk menginap dua malam saja di Cambodia. Semula aku ingin menginap tiga malam, hari terakhir untuk istirahat. Karena semula kupikir, Siem Reap kotanya kecil, jadi aku bisa agak tenang di sini. Tanggal 25 Agustus aku meninggalkan rumah. Berarti tanggal 31, hampir seminggu aku berjalan. Sudah cukup lelah

Poipet Border Check Point

Poipet Border Check Point

 Tapi mood tiba-tiba berubah. Aku mengubah itinerary untuk segera meninggalkan Siem Reap keesokan paginya sesudah menjelajah Angkor Wat. Palm garden Lodge agak jauh dari Pub Street dan Old Market, pusat keramaian Siem Reap. Kamarnya besar tapi pengab. Aku malas untuk berkemas lagi dan pindah hostel. Jadi kuputuskan sesudah berkeliling Angkor, langsung membeli tiket ke Bangkok. Aku akan istirahat di sana pada malam dan esok harinya.

Pengalamanku sebelumnya, membeli tiket ini bisa menjadi sangat risky bagi para traveler. Kita sangat beresiko untuk ditipu: tiket jauh lebih mahal  atau mendapat kendaraan yang amat kacau. Kita tak bisa apa-apa. Jangan pernah bertengkar di negara orang, ini hal yang harus dipegang. Kalau ada apa-apa, mau lapor ke mana ?

Sore, sesudah pulang dari Angkor Wat, Ara mengantar kami bertiga untuk membeli tiket. Krizia dan Wyeth memilih naik bus. Aku memilih naik minivan, karena akan diantar langsung ke Khaosan Road. Sementara bus akan berhenti di Mochit, dan dari sana repot lagi mencari bus ke khaosan. Belum lagi kemungkinan keterlambatan kendaraan. Siapa tahu ?

Tarif minivan lebih mahal daripada bus. Sudah punya pengalaman, eh masih kena tipu pula. Salahku sendiri, reseh dan sok elit (nggak lagi-lagi deh !!!!). Tarif minivan ke Bangkok cuma $18. Tapi aku pakai tanya, apakah ada yang pakai WIFI. Mereka cepat menjawab, bahwa ada VIP minivan dengan tiket seharga $25. Aku setuju. Tapi apa lacur ! Keesokan harinya, minivan yang menjemputku sama sekali tak ada WIFI. Minivan yang ini, kalau kemarin aku beli via hostelku, cuma dibanderol $22. Huh, menahan geram.

 Poipet – Aranyaprathet

Aranyaprathet Border Check Point

Aranyaprathet Border Check Point

Sekitar  8.30 pagi minivan menjemputku ke hostel lalu juga 11 penumpang lainnya. Kemarin agen mengatakan bahwa minivan akan berangkan tepat jam 9 .  Tapi, kenyataannya kendaraan ini lama berhenti di depan  Backpacker Hostel. Baru setengah jam kemudian kami berangkat. Ada 4 pemuda Korea, dua duduk di sampingku dan dua dibelakangku. Ada 2 pasangan bule yang ramainya seperti bebek sekandang. Celakanya, mereka, tiga orang duduk di depanku, dan satu orang di kursi paling belakang.  Aku yang duduk di kursi tengah jadi risih karena mereka berempat terus ngoceh. Yang di depan bahkan kadang sampai berlutut di atas kursi supaya bisa berkomunikasi dengan orang di belakangku. Masih ada dua lagi penumpang perempuan Eropa di kursi depan sebelah sopir.

Aku benar-benar sendiri sekarang. Empat orang Korea itu berwajah beku. Sesama mereka pun tak banyak komunikasi. Dua perempuan di depan, jauh dari jangkauan. Empat bule di depan dan belakangku ini sibuk sendiri dan reseh bukan kepalang sepanjang perjalanan. Kepalaku pusing mendengar percakapan mereka dalam bahasa Italia.

Jarak 254 km dari Siem Reap – Bangkok akan ditempuh dalam 7 jam perjalanan, kalau normal. Kenyataannya tidak begitu. Lama kami berhenti di perbatasan dua negara itu, Poipet dan Aranyaphratet. Menjelang tengah hari kami baru mencapai Poipet. Setelah menyeberangi perbatasan, kami harus berganti mobil. Sopir  minivan itu tak peduli, tak pernah ia berkomunikasi dengan kami.

Seorang contact person dari agen perjalanan kami menjemput, memeriksa tiket dan paspor kami, lantas menyuruh kami mengantre stempel di imigrasi. Ia memberi kami stiker warna merah dan meminta kami melekatkan di dada.  Barang-barang diturunkan dari minivan. Beberapa porter mendekat. Tetapi contact person itu memaksa penumpang untuk mengangkut barang-barang mereka sendiri. Rupanya porter itu harus dibayar, dan ia enggan mengeluarkan uang. Empat penumpang Korea dengan wajah beku patuh saja, tanpa protes mengangkut barang-barang mereka. Dua perempuan Eropa di kursi depan juga tidak protes, meski mereka membawa koper-koper jumbo. Nah, empat bule reseh itu protes keras. “Kami kan sudah bayar $25, itu lebih mahal dari harga normal” kata mereka.

Si lelaki contact person tak peduli, atau kemampuan berkomunikasinya dalam bahasa Inggris sangat kurang. Tiba-tiba ia menoleh padaku. “Only you can put your bag here,” ia menunjuk sebuah kereta dorong milik seorang perempuan. Aku bukannya senang, malah takut mendapat perlakuan khusus begitu. Aku kapok, ransel terpisah entah ke mana, aku harus jalan mengurus dokumen yang entah berapa lama antriannya. Tapi mau bawa sendiri juga berat dan capek.  “Why, they can’t put their belongings here and only mine ? “ aku protes. “Because you are different,” jawabnya singkat. Aku ragu. Tapi untung satu dari empat bule reseh itu nekat. Dia letakkan saja satu tasnya di atas kereta dorong, bersama ranselku.

Bangunan imigrasi Poipet itu sekilas mirip ornamen pada bangunan Bali. Pelintas batas banyak sekali siang itu, tapi antre dengan tertib. Lancar. Masalahku adalah aku harus memperhatikan porterku, apakah ia masih terlihat. Bagaimana aku bisa menghafal wajahnya kalau ia menghilang. Tampaknya ia memahami kekhawatiranku. Tiap kali aku celingukan, ia tersenyum.

Bebas dari antrean panjang ini kami harus menyeberang gerbang perbatasan. Si kontak person sudah menghilang entah ke mana tanpa memberi instruksi kami ini harus ke mana atau bagaimana. Petunjuk jalan kami justru si  porter itu. Ia berjalan cepat ke sisi Thailand dan kami mengikuti di belakangnya. Gedung border check point Thailand, Aranyaphratet terlihat dari sisi Cambodia. Di depan pintu ia menyerahkan ransel kami berdua. Antrean lagi-lagi cukup panjang di sini. Untung tak ada scam.

Perhentian minivan di Aranyaprathet

Perhentian minivan di Aranyaprathet

Selepas check imigrasi kami dijemput oleh contact person yang lain lagi. Mereka dua lelaki berkulit gelap, berwajah entah Tamil entah Burmese. Konon Burmese juga merupakan salah satu suku minoritas di Thailand. Yang jelas bahasa Inggris keduanya clear, tidak sama dengan logat orang Thai (aku tahu karena aku pernah hidup bersama kelompok mereka dulu di Manila). Konon ada beberapa etnis minoritas yang juga hidup di Thailand. Kedua yang kusebut tadi adalah dua di antaranya. Ia meminta kami menunggu di pinggir jalan bersama serombongan traveller berstiker merah lainnya.

Udara sangat panas. Tengah hari, matahari sengangar, Aku lapar, haus dan kebelet pipis. Setengah jam lebih kami dijemur begitu. Akhirnya salah satu dari mereka muncul kembali membawa mobil pick up untuk mengangkut barang-barang kami. Mobil itu mempunyai dua baris kursi panjang yang saling berhadapan, beratap, tapi terbuka bagian belakangnya. Ia mempersilahkan semua penumpang dan barang-barangnya baik ke bak belakang.

Tiba-tiba ia memandangku, “You, Sister, come follow me.”

“Where ? Shall we go now ?”

“Yes, to Bangkok in 5 minutes, “ ia cengengesan.

Mendapat perlakuan istimewa di tempat asing begini aku justru merasa was-was. Mengapa cuma aku? Lagi-lagi aku lambat bereaksi. Dua pemudi Korea tanpa ragu, justru menyerobot tawaran yang diberikan padaku mengikuti si pemuda. Aku mengikuti mereka. Oh rupanya, di belakang ruang kemudi ada satu baris kursi penumpang. Adem, ber-AC. Lumayan.

Betul tak sampai 10 menit kami diturunkan di sebuah rumah makan. Bangunannya sederhana. Penumpang bus dan minivan dari Cambodia bertumpuk di sini. (Ketemu Krizia dan Wyeth lagi di sini, padahal mereka berangkat jauh lebih pagi dengan bus).  Di sini penumpang dipilah-pilah lagi sesuai tujuannya, Bangkok, Phuket, dll. Sambil menunggu kendaraan lanjutan, kami dipersilahkan makan siang lebih dahulu.

Beberapa minivan jemputan mulai berdatangan. Makanan yang kupesan belum lagi datang. Satu pemuda contact person tadi mendekatiku. “Sister, are you ready to go to Bangkok now ? “ Ia mengatakan akan mengirimku dengan minivan ke Bangkok pada kesempatan pertama. Kukatakan bahwa makanan yang kupesan belum datang, tapi aku bisa minta pelayan untuk membungkusnya.  “No, I will tell  them to serve you soon. You can eat dan go after it.” Entah peristiwa kebetulan atau bukan. Tiga kali berturutan aku mendapat bonus kebaikan orang tak dikenal. Mungkin mereka merasa  “dekat” denganku karena di antara para bule, turis Korea dan  Filipina, kulitku lebih gelap. Atau karena siang itu hanya aku sendiri  yang berjalan sorangan alias solo backpacker.

Betul juga, selesai makan, tak perlu menunggu lama ia menyuruhku segera berkemas. Minivan hanya sekali berhenti di tengah perjalanan untuh mengisi bahan bakar gas selama 20 menit. Setelah itu melaju dan tiba di Khaosan sore hari. (Cerita tentang bangkok dan sekitarnya akan ditulis tersendiri)

Hatyai – Sadao – Bukit Kayu Hitam

Central Hatyai : stasiun kereta api

Central Hatyai : stasiun kereta api

Tak akan pernah cukup waktu untuk menikmati sebuah kota. Setiap tempat cuma sebuah perhentian sementara. Segera bergegas menyambut pengalaman di tempat baru. Berdebar melintasi tapal batas berikutnya. Itu agendaku.

Pada sore yang keempat di Bangkok, aku berangkat ke Hatyai. Ivan, staf hostel Suneta tempat aku menginap bertanya, apa menariknya Hatyai sehingga aku memilih tujuan itu.  Ya, dibanding Krabi, Phuket, Chiang Mai, Hatyai mungkin kurang menarik. Tapi ini jalurku menuju pulang. Going down to the mountain, then being stuck at home, when life is felt flat ~ The Nazareth experience ~

Karena penasaran aku mencoba  naik bus double decker atau bus tingkat. Di Indonesia bus jarak jauh double decker tidak ada. Ada juga bus wisata di Jakarta atau Surakarta. Bayanganku, mungkin enak juga meilhat pemandangan dari bus tinggi begitu. Maka sejak awal aku pesan nomor kursi depan, dekat jendela di lantai II di Welcome Tour di Khaosan.

Jam 4 sore kami dijemput, lalu dengan minivan di antar ke Southern Terminal. Aku memang dapat tempat duduk di lantai II, relatif depan tapi tidak di sebelah jendela. Tak bisa tukar, padahal masih ada kursi kosong. Orang di sebelahku, laki-laki paruh baya gendut, yang tentu saja lebar tubuhnya menyita sebagian jatah kursiku. Sandaran kepala terasa keras menekan kudukku. Sama sekali tidak nyaman. Aku harus habiskan malam dengan duduk manyun macam begini ? Belum lagi, menurut agen penumpang mendapat jatah satu kali makan malam gratis. Ternyata tidak benar. Kami harus bayar. Lagi-lagi dibohongi.

Hanya satu kali aku bicara dengan lelaki teman tidurku..eh lelaki yang tidur di sebelahku..maksudku penumpang di sebelahku, gitu lho. Menjelang tiba di Hatyai, aku bertanya berapa tarif tu-tuk dari terminal ke Laemthong hotel. Kutunjukkan alamat hotelku dengan aksara latin dan thai, lengkap dengan peta google-nya. Ajaib. Ia menjawab dengan bahasa Inggris yang sangat clear dan baik. “About 20 bath. I am not sure, between 10 to 20 bath. You can bargain it, “ ia menggoyang-goyangkan tangannya. ~ “Owalah pak, kalau tahu kamu bahasa Inggrisnya lancar gitu, tadi malam takajak ngobrol,”  ~kataku dalam hati.

Tepat jam sembilan pagi, bus tiba di terminal Hatyai. Terminal tampak sepi. Letaknya sekitar 1 km dari Central Hatyai. Hanya ada beberapa ojek dan tuk-tuk. Tukang ojek, supir tuk-tuk dan mungkin calo merubung bus kami. Aku berjalan ke luar terminal. Kuhampiri satu supir tuk-tuk, berkulit gelap, berusia paruh baya. Langsung saja kutawar 20 bath ke Laemthong hotel, batas ataslah, dari pada menghabiskan waktu untuk tawar-menawar.

Ada beberapa penumpang lain yang ikut ke dalam tuk-tuk. Jadi tuk-tuk di Thailand beda dengan di Cambodia. Di Cambodia tuk-tuk hanya melayani tujuan penyewanya saja. Kalau kita berempat ya harga sewanya bisa dibagi empat. Kalau sendiri ya kita bayar sendiri. Seperti becaklah. Di Bangkok juga di Hatyai lebih mirip angkot omprengan. Bentuknya juga lebih besar. Trayeknya tergantung tujuan para penumpangnya.

Laemthong Hotel terletak tak jauh dari stasion kereta api, pasar dan pusat pertokoan. Cukup murah, Rp 170.000 per malam, dan sudah kupesan via Agoda. Aku memang sengaja pesan hotel, bukan hostel, agar bisa beristirahat dengan nyaman. Sejak meninggalkan Sieam Reap aku merasa badanku luar biasa capek. Rencana semula ingin istirahat sehari semalam di Bangkok telah gagal. Di sana aku bukannya istirahat, tetapi malah kena penyakit gatal kaki, jalan terus. Hasilnya sekarang : badan babak belur, kulit wajah gosong, kaki bengkak. Waktunya untuk recovery, seharian ini dan nanti malam aku akan tidur, luluran (ah..) hanya keluar untuk cari makan. Besok sore menuju Kuala Lumpur. Siangnya kalau mood baik ya bolehlah tengok-tengok Songkla.

deretan toko emas, pemandangan khas Hatyai

deretan toko emas, pemandangan khas Hatyai

Baru berbaring sebentar dan ketika WIFI terhubung, sebuah pesan masuk dari Ké, sahabatku, “How is Hatyai ?” Pastilah ia cuma ingin memancingku untuk bercerita. Ia tahu persis kota ini. ~ Am excited, renewed, but needing some hours ahead for sleeping. Making the body and the mind to be normal again.”        ~ OK, take a rest and enjoy Hatyai,” balasnya.

Ya, kurasa aku tak normal,  ¼ gila saat itu. Hampir 2 minggu hidup di atas bus  atau di jalanan. Bangun pagi-pagi, istirahat larut malam,  menjelajah berbagai tempat, makan, tidur tak teratur. Selalu berkemas dan bergegas. Irama tubuh menjadi kacau. Karena aktivitas fisik yang berlebihan aku jadi rakus menelan makanan (Hahaha… jadi sungkan waktu makan bareng  Ké beberapa hari kemudian.  Aku makan seabreg dan dalam tempo yang secepat-cepatnya. Sementara Ké cuma makan seiprit sambil sesekali mlongo mendengarkan aku yang ngoceh dengan penuh gusto ). Untungnya kesehatanku tak terganggu sama sekali. Asurasi yang kubeli tak berfungsi.

Senja hari aku keluar sebentar untuk cari makanan. Pemandangan kota kecil yang tak terlalu asing. Aku selalu suka pada atmosfer kota kecil macam ini. Motor bersliweran juga tuk-tuk. Toko-toko makanan, dan yang paling spesial adalah jajaran toko-toko emas di seputaran Central Hatyai. Wajah-wajah penduduk sedikit berbeda dengan Bangkok. Di sini lebih beragam. Ada wajah ras Melayu, kulit coklat dan mata bulat. Ada ras Indo-China yang cenderung berkulit terang bermata sipit. Beberapa perempuan juga tampil berkerudung.

Sebelum keluar tadi datang lagi pesan dari Ké, “Bon apetit. Actually Hatyai has a lots of tasty foods.  But also bars and red lights which are alive in the night. Full of tourists especially Arabs. Ensure yourself will not go there alone.Take care.” Hari belum lagi malam. Lampu-lampu bar, cafe, cabaret telah dinyalakan. ~ “Ké,  aku tak pernah masuk night club atau bar seorang diri, kecuali kepepet hahaha…,”~

Aku hanya menyusuri jalan-jalan utama sepanjang depan hotelku lalu sedikit sight seeing  di salah satu toko fashion. Benar, banyak kujumpai wajah-wajah lelaki Arab di mall dan di jalan-jalan. Ah…, kukatakan pada Ké bahwa sepanjang musim haji, yang beginian juga banyak di Puncak. Konon, pesawat yang dicarter untuk mengangkut  jemaah haji dari Indonesia itu nyaris kosong saat balik ke Jakarta. Daripada kosong lebih baik tiketnya dijual murah. Jadi aku tak perlu kaget dengan pemandangan dan situasi kota Hatyai yang seperti ini. Mungkin kondisi ini juga yang membuat cabaret, bar dan hiburan malam lainnya marak di sini. Tapi warning dari Ké sempat membuatku sedikit paranoid juga ketika harus menyusuri lorong kamar hotelku di lantai 4 yang senyap dan agak gelap. Takut kalau-kalau ketemu Arab yang lagi mabuk berat. Waduh ada CCTV nggak ya ?

Keesokan harinya aku hanya sewa tuk-tuk sekitar 3 jam saja untuk keliling kota Hatyai. Sore jam lima sudah harus tiba di agen bus. Kulilih Sri Maju, karena sebelumnya kata para backpacker, bus ini cukup baik. Jam enam sore bus berangkat menuju KL. Aku tidak punya jadwal jalan-jalan khusus di sana. Beberapa teman dan sahabat mengundangku untuk bertemu, salah satunya keluarga Beatrice dan Charles, yang kukenal sejak di Manila.

 Kapasitas kursi 24 hanya terisi 8 orang. Serasa nyater bus pribadi. Kata pemilik agen perjalanan, “You are free to choose your seat, even you may take 2 for yourself,” sambil mempersilahkan penumpang menaiki bus.

Sadao Border Check Point

Sadao Border Check Point

Bus berhenti di Sadao, border check point wilayah Thailand. Hujan rintik-rintik. Ada 3 perempuan muda antre di depanku untuk mendapatkan stempel. Sulit berkomunikasi dengan mereka. Tak paham bahasa Inggris, tak mengerti pula bahasa Melayu. Dengan komunikasi yang amat sangat miskin tadi aku tahu bahwa mereka orang Thailand dari etnis Lao di Utara. Mereka adalah para pekerja migran.  Mereka sudah terbiasa keluar masuk perbatasan ini. Dengan sigap mereka menyelipkan 100 bath ke dalam paspor.Mestinya tidak ada pungutan apa-apa.  Ini scam. Aku tidak mau. Tapi waktu tiba giliranku petugas tetap ngotot minta pula 100 bath. Aku malas berdebat. Dalam hati saja mengumpat-umpat.

Semuanya relatif lancar saja. Antrian tidak panjang. Perbatasan selanjutnya Bukit Kayu Hitam, border check point di wilayah Malaysia itu hanya di depan mata. Aku sedikit bingung, tidak ada formulir yang harus diisi, seperti biasanya jika kita memasuki suatu negara. Rupnya di pasporku hanya ditempeli stiker yang separuhnya nanti disobek di imigrasi tempat kita keluar dari Malaysia.

Hanya beberapa menit berjalan bus berhenti lagi di sebuah restoran untuk memberi kesempatan para penumpang menikmati makan malam.. Tadi di bus aku sudah makan bekalku yang kubeli dari restoran halal di Hatyai. Aku hanya duduk saja, mengamati sekitar. Aku tidak tahu ini restoran Melayu atau India, yang pasti ini halal food. Para pelayan restoran semuanya lelaki berwajah Asia Selatan. “Mereka kebanyakan orang-orang Bangladesh , “ kata Ké ketika suatu saat kami menghabiskan malam di KL. “Tetapi akhir-akhir ini pelayan restoran kebanyakan datang dari Myanmar. Now, people from many countries are easy to come dan to find job.  Amazing, they learn Bahasa so fast,” katanya. Lalu, “Untuk house maid and pekerja gedung masihlah orang Idonesia. They are good for that.” Ghrrrrrr…tersinggung, tersinggung. Untung Ké tidak menyebut Indon, kalau dia sampai keselip lidah menyebut kata itu, kuhajar dia.

Bus hanya satu kali berhenti dan selanjutnya melaju sampai KL. Jam lima pagi kami sampai di terminal Pudu Raya. Ada lelaki paruh baya berwajah India mendekat, “Where are you going ? I can help you. “ Aku berlalu. Dari sini ke UFO Capsule Hostel tidak jauh. Tapi untuk jalan kaki sambil menggendong backpack begini tentu tidaklah nyaman. Belum lagi resiko kesasar karena salah membaca peta. Untung ada taksi yang mau mengantarku ke tempat itu. Alamat lengkap dan peta google sudah ku-print out. 11 RM, sesuai tarif yang diperkirakan oleh hostelku. Repotnya memang, banyak sopir taksi di KL tak mau mengantar penumpang jarak dekat seperti ini.

UFO Hostel terletak di belakang Berjaya Times Square, tak jauh dari Bukit Bintang, area backpacker-nya KL. Tapi tempat yang kupilih ini terasa lebih tenang. Hingar bingar Mall Berjaya tidak terasa sama sekali. Aku langsung menghempaskan diri, mandi dan terkapar, sampai sebuah irama pesan Whatapp terdengar lagi. Ké lagi, “ Are you going for Sunday mass today ? It’s in jalan Robertson, a walking distance from your hostel. Mass in Bahasa Indonesia at 12 pm.”

Pengin teriak. Ké, mungkin merasa harus bertanggung jawab pada keselamatan jiwaku. Dia jadi  menyebalkan kalau sudah kumat seperti ini. Tapi akhirnya aku ambil peta di resepsionis dan berjalan ke arah depan Berjaya Times Square. Mestinya aku berjalan ke arah kiri, tapi otakku terasa kosong, jadi aku justru berjalan ke kanan. Disorientasi, hilang arah. Menyusuri jalan Bukit Bintang, melewati Robertson Dept Store lalu terduduk di samping Sungai Wang Plaza. Ada halte di situ. Aku terpekur. Genap dua minggu meninggalkan rumah. Mental yang jenuh dan lelah tak mau lagi diajak kompromi. Bahkan hal-hal yang remeh seperti ini aku tak saggup lagi berpikir.

Aku capek, sekarang tidak hanya fisik tapi juga mental. Dengan sepasang kaki yang limbung karena terlalu banyak berjalan aku pulang ke hostel. Terkapar, menunggu malam…….

Tips :

  • Tiket minivan ke Bangkok dari Siem Reap sekitar $ 18 dan akan berhenti di Khaosan.
  • Bus / minivan dari Siem Reap akan berhenti border Poipet (Cambodia) dan Aranyaprathet (Thailand) untuk stempel paspor, . Mulai dari Aranyaphratet penumpang akan berganti bus/minivan.
  • Di Poipet penumpang diminta menurunkan barang-barangnya tapi tidak dipindai. Paspor hanya distempel, tidak ada biaya sama sekali.
  • Immigrasi Aranyaphratet hanya berbatasan pagar besi dengan imigrasi Poipet. Traveler berjalan ke sana sambil menyeret barang masing-masing dan mengisi formulir. Untuk traveller dari sesama negara Asean tidak perlu visa dan biaya apapun.
  • Keluar dari imigrasi Aranyaphratet penumpang akan dikumpulkan di suatu tempat biasanya rumah makan langganan biro travel yang menjual tiket kita.
  • Tunggu di sini sampai kita dijemput oleh bus/minivan sesuai tujuan kita masing-masing.
  • Dari Bangkok menuju Hatyai kita membeli ticket di Southern Terminal. Bisa juga beli di khosan, tetapi harganya akan lebih mahal. Bus tingkat yang saya naiki, dari Souther terminal harganya sekitar 700 bath, di khaosan menjadi 1100 bath.
  • Laemthong Hotel di Hatyai cukup recommended. Murah. Single room without AC yang saya booking sekitar Rp170.000 via Agoda. Early check in tidak dimintai tambahan. Late check out saya hanya dimintai 60 bath. Tidak ada uang jaminan untuk safe deposit. WIFI di dalam kamar agak lelet, tapi masih dalam batas toleransi.
  • Tuk-tuk bisa disewa seharga 500 bath untuk mengunjungi sekitar 4 tempat di Hatyai selama ½ hari.
  • Di Hatyai ticket menuju beberapa tujuan di Malysia tidak harus dibeli di terminal, bisa beli di beberapa agen di Central Hatyai dan bus-nya memang berangkat dari agen bukan dari terminal.
  • Bus Sri Maju cukup bagus, sampai KL tarifnta 450 bath
  • Boleh juga dicoba KKKL, tampaknya  busnya cukup baru, ada juga bus super VIP lupa namanya…
  • Bus menuju KL ada dalam 3 kasli pemberangkatan ; pagi, siang dan malam. Yang malam berangkat sekitar jam 6 sore dan tiba di Pudu Raya sekitar jam 5 pagi.
  • Bus akan berhenti di Sadao, border check point wilayah Thailand. Di sini paspor cukup distempel. Harusnya tidak ada biaya. Tapi petugas imigrasinya ngawur, Kita bisa diperas 100 bath. Kalau berani ngeyel ya bisa gratis, ngomong aja keras-keras, “Really ? What ! 100 bath ?! Kalau petugasnya punya kemaluan anda akan dibebaskan. Barang-barang tidak perlu diturunkan dari bus.
  • Kita naik bus lagi sebentar dan diturunkan di imigrasi Bukit Kayu Hitam (Malaysia). Barang-barang diturunkan untuk dipindai lagi. Tidak ada biaya apapun. Di sini tidak ada formulir yang diisi. Paspor ditempeli stiker yang nanti disobek di imigrasi tempat kita meninggalkan Malaysia.
  • Bus akan berhenti di terminal Pudu Raya. Kalau masih terlalu pagi, biasanya tidak masuk terminal. Dari Pudu Raya menuju Bukit Bintang bisa naik taksi sekitar RM 10 – 12 saja. Tapi sopir taksi sering menyebalkan, mereka sering tidak mau pakai argo kalau jarak dekat seperti ini.
  • Mau yang gratis juga bisa, naiklah bus GO KL warna purple. Tunggu di depan Kota Raya dan berhenti di Ain Arabia dekat Sungai Wang Plaza.
  • Kalau anda Katolik dan hari Minggu kebetulan berada di kawasan Bukit Bintang, ada misa dalam bahasa Indonesia di Gereja  Jalan Robertson setiap jam 12.

2 thoughts on “Backpacking : Cambodia – Thailand – Malaysia

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s