Backpacking Vietnam – Cambodia

PERJALANAN MENEMBUS BATAS

~ CROSSING THE BORDER : VIETNAM – CAMBODIA ~ 

(Bagian 1)

Menjadi solo backpacker itu seperti sebuah perjalanan menembus batas. Batas antara ketakutan dan keberanian, impian dan kenyataan, harapan dan perolehan (wuih…). Bisa jadi juga batas-batas psikologis yang kita ciptakan sendiri : antara menjadi orang yang patuh pada “sesuatu yang normal” atau menjadi sesorang yang punya gairah keberanian untuk mendobraknya. Dan sesudahnya bernafas lega….. “I am taft and still OK.

 “Normal” itu aku tulis dalam tanda petik. Maksudnya, bukan sesuatu yang hakiki tapi sekedar apa kata orang tentang sesuatu lumrah atau tidak lumah. Misalnya,  sebagai perempuan kan lebih normal pergi ke luar negeri bersama muhrimnya. Bisa juga, pada usia tertentu kan mestinya perempuan lebih elok kalau pergi ke luar negeri dengan tour agency bersama ibu-ibu lainnya, berangkat dengan koper besar, pakai sepatu pantofel,  kacamata riben mencorong, dan parfum semerbak. Pulangnya nanti bawa koper satu lagi hasil dari perburuan dari mal ke mal.

Aku tidak sinis memandang orang lain yang beruntung punya kesempatan macam itu. Tapi tidak salah juga kalau aku punya passion yang lain dalam travelling, menjalani  aktivitas  solo backpacking dengan 7 kg ransel, sepatu kets butut untuk siap menjelajah jalur darat Vietnam – Cambodia – Thailand – Malaysia. Menginap di hostel (bayangkan.. aku berani menembus batas tabu dan ketakutanku sendiri : menginap di mix dorm and it was very OK. Ketakutan itu ternyata cuma ada di batok kepala sendiri toh..).    Not so much malls and restourants are visited, but jungle, hills, museum, temple… and surely : people.

Episode pertama tulisanku ini adalah tentang perjalananku melintasi tapal batas Vietnam – Cambodia. Sorry, dongenganku ini melompat-lompat. Alasannya, bagian ini adalah saat-saat adrenalinku mengalir deras:  keberanian, penasaran dan nekat  mengatasi segala ketakutan. Aku ingin menuliskannya selagi segala gairah itu belum lenyap…

Episode 1 : Melintas Batas  ~ Ujian Pertama ~

~ Veni, Vidi….

Pukul sembilan malam, 28/8/2014, sebuah email masuk ,”Sorry, i never hear the name of the bus company which you have already booked – Adan Leng. “

Waduh… langsung dada  serasa tertonjok, begitu menerima berita dari pengelola Palm Garden Lodge, hostel yang sudah aku booking di Siem Reap. Aku  kena scam nich. Padahal jauh-jauh hari aku sudah googling, membuat itinerary yang nyaris perfect. Ya tapi itulah, namanya backpacking. Serapih apapun kita mempersiapkan diri, ada saja ha-hal di luar rencana. Apa boleh buat, kita harus tetap lentur menghadapi hal-hal buruk semacam ini.

Sebenarnya aku juga punya andil salah. Aku tiba di Ho Chi Min City, ( orang orang di sini tetap menyebutnya Saigon ) hari Rabu siang, 27/8/2014. Aku langsung mengeksplore kota dan membeli paket tour untuk tanggal 28 dan  29. Rencana semula aku ingin meneruskan perjalanan ke Phnom Phen tanggal 29 malam. Tetapi beberapa teman dan pemilik hostel tempat aku menginap tidak merekomendasi. “Very risky” kata mereka. Perjalanan yang mestinya 6 atau 7 jam saja bisa mulur sampai 9 atau 10 jam karena bus pasti tertahan di perbatasan. Belum lagi resiko Virak Bhuntam, nama bus itu, rusak di jalan atau tidak jadi berangkat. Menurut situs Tripadvisor, situs wisata yang jadi rujukan para traveller, Virak Bhuntam memang nama yang “not recommended”. Ya sudahlah, akhirnya Phnom Phem aku lompati. Aku putuskan langsung ke Siem Reap pada hari Sabtu 30/8/2014.

Aku pikir karena Agustus maupun September adalah bulan low season  turisme, aku bisa naik bus go show, atau setidaknya beli tiket hari Jumat saja. Agak santailah. Tapi, tenyata aku salah. Hari Kamis, tanggal 28, aku bertemu Ann, perempuan Malaysia yang pernah jadi manajer sebuah hotel di Ho Chi Min City. Ia mengingatkan aku, bahwa akhir pekan, selalu saja arus turisme Vietnam – Cambodia dan sebaliknya cukup padat. Banyak penduduk dua negara itu saling berlibur. “ Jadi cepat saja, sesudah makan siang, kamu cari tiket, “ katanya.

Tiga agen perjalanan kuhubungi. Tak ada satupun tiket yang bisa kupesan. Sapaco, Sorya, Mekong Express, nama-nama bus  yang direkomendasikan para empu backpacking,  tak menyisakan kursi lagi. Baru pada agen yang keempat, kudapat satu nama bus, agak asing, tapi apa boleh buat. Khai Nam  Transportation. Agennya menjamin bus serba beres, AC baik, mesin baik,  tak akan macet di jalan. Perjalanan ke Siem Reap akan memakan waktu 12 jam. Berangkat jam 7 pagi, berarti jam 7 malam aku sudah menjejakkan kaki di Old Market, tempat di mana hampir semua bus dari Saigon atau Phnom Phen mengakhiri trayeknya.

Khai Nam Transportation

Khai Nam Transportation

Aku merasa aman saja, sampai malam harinya sebuah email dari Adan Leng, pengelola Palm Garden Lodge mengejutkanku. Hampir semua hostel di Siem Reap memberi fasilitas penjemputan dengan tuk-tuk bagi tamu-tamunya. Begitupun hostel yang kubooking. Syaratnya tamu harus memberi tahu nama bus, perkiraan bus akan tiba dan tempat di mana bus tersebut berhenti. Begitu Adan Leng mengatakan bahwa ia tak pernah mendengar nama bus Khai Nam, aku langsung, bad feeling. Jadi tak enak makan. Aku orangnya terbiasa well prepared.

Untung, Adan Leng masih memberi sedikit penghiburan. “Mungkin agen anda akan mengganti bus di Phnom Phen. Segera informasikan kepada kami tentang hal itu. Atau jika terpaksanya tak bisa menghubungi kami, sekedar informasi, ongkos tuk-tuk dari Old Market ke hostel kami hanya 1 dolar. Tak lebih.” Pasrah!

Keesokan harinya sebelum jam 7 aku sudah siap di agen bus di jalan De Tham. My Goodness, cuma aku seorang yang dijemput di situ dengan kendaraan semacam L300,  tepat jam 7 pagi. Tapi kami masih menjemput penumpang di dua agen lagi. Hanya 4 orang penumpang dari District 1. Aku, seorang pemuda Jepang, dan dua perempuan muda Filipina. Ah, setidaknya masih ada teman sesama traveller. Tapi mareka akan ke mana ? Phnom Phen atau Siem Reap ?

Berempat kami dibawa ke perhentian bus. Belum banyak penumpang yang datang. Bus warna biru itu tak terlalu bagus. Di lorong bus  banyak kursi plastik kecil diletakkan bertumpuk. Aku curiga, bus ini akan dimuati banyak penumpang tambahan. Ransel kami di lempar saja ke kursi paling belakang. Aku minta kursi paling depan, seperti dijanjikan agen di jalan De Tham. Staf bus tak ada yang bisa bahasa Inggris. Terpaksa  mereka menyeret seorang penerjemah untuk menjadi penengah di antara kami. Kesimpulan ; tak bisa, kursi depan sudah dibooking orang lain. Sudahlah, aku tak mau bertengkar di negara orang. Bahwa perutku akan terkocok-kocok sepanjang perjalanan ini, yah…”itulah deritamu Vero. And…don’t worry the worse will come. Enjoy…., “ mesem kecut.

Menjelang jam 8 pagi bus baru benar-benar berangkat, setelah sebelumnya berhenti untuk menaikkan penumpang di beberapa tempat. Benar saja. Belum meninggalkan kota Saigon, bus telah disesesaki penumpang, termasuk kursi-kursi cadangan telah penuh terisi. AC tak bisa bekerja normal. Kecuali kami berempat, semuanya penduduk lokal. Lokal di sini maksudnya penduduk Vietnam atau Cambodia. Ciri-ciri fisik mereka sama.

Bus berjalan lambat, padahal tidak ada kemacetan. Jalan raya juga mulus. Normalnya, kalau bus berangkat jam 7 pagi, maka paling lambat jam 1 sudah sampai Phnom Phen. Bus akan beristirahat 1 jam, lantas jam 2 akan berangkat lagi, dan palaing lambat jam 7 malam sudah tiba di Siem Reap.

Tapi entah apa yang terjadi, menjelang tengah hari kami baru sampai Moc Bai, border check point di wilayah Vietnam. Inilah saat yang paling mendebarkan. Imigrasi Vietnam ini luar biasa ramai. Seperti pasar tumpah. Semua kendaraan menurunkan penumpang di sini. Sebagian bus bahkan menyuruh penumpang menurunkan ransel dan koper mereka untuk dipindai. Kebanyakan orang membawa paspornya masing-masing.

Kondektur meminta paspor kami berempat, ya hanya kami berempat. Lalu ia nyelonong saja pergi tanpa bicara apapun. Penumpang lainnya, yang memang penduduk lokal, turun dari bus dan mengurus dirinya masing-masing. Beberapa kulihat menyelipkan uang ke dalam pasport. Barang-barang ditinggal di dalam bus. Aku was-was, nyaris panik. Bayangkan, ransel ada di dalam bus yang melaju menerobos perbatasan. Paspor dibawa kondektur, yang tak bisa diajak komunikasi karena tak bisa bahasa Inggris sama sekali. Tak pernah mengalami hal yang seperti ini sebelumnya. Bagaimana si kondektur itu akan menemukan aku di tengah kerumunan orang ? Bagaimana aku bisa mengenali wajah si kondektur, sementara semua orang Vietnam atau Cambodia berwajah mirip dalam pandanganku : kulit kuning, mata sipit. Oh, I can’t do nothing. Tak berdaya.

Vietnam Border Check Point, Moc Bai

Vietnam Border Check Point, Moc Bai

Beruntung, aku akhirnya bisa berkomunikasi dengan dua gadis Filipina, Krizia Juanitas Lucero dan Wyeth May Conje. Untung lagi, kami ternyata akan menuju tempat yang sama, Siem Reap. Keduanya jauh lebih tenang dari pada aku. Krizia berpesan, “Ate (mbak) tolong duduk saja di sini, aku akan jalan ke sana, mencari kondektur kita. Atau mencari cara, kita ini harus bagaimana ? Tolong temani Wyeth.” Krizia agak tomboi dan tampak bisa diandalkan.

Si cantik Wyeth, kulihat luar biasa tenang. Ia minta tukar uang dolarnya kepadaku. Uang dong Vietnam sudah tak ada lagi padanya, katanya. Dengan uang itu ia membeli bermacam jajanan semacam chiki dan asyik makan. Sambil ngemil, jalan-jalan pula ia entah ke mana.(“Wah…cas ndahe kau Vero,” kata hatiku yang galau . Mataku harus mengawasi tiga wajah yang baru kukenal : si kondektur, Krizia, dan Wyeth )

Kukira hampir satu jam kemudian si kondektur itu melintas di tengah keramaian. Kami bertiga teriak bareng, “Hai…..!” . Kami kejar dia. Tarik nafas panjang. Paspor sudah di tangan

Kami Naik bus lagi sebentar sampai Bavet, Border Check point wilayah Cambodia. Lho… penumpang bus kok nyaris habis. Ah, rupanya sebagian besar penduduk lokal memang turun di sini dan meneruskan tujuan masing-masing. Untunglah di sini tidak terlalu berjubel. Tapi senam jantung belum selesai. Di luar gedung ada sesorang berdiri meminta semua paspor kami. Aku tak tahu ia pegawai perusahaan bus yang kami tumpangi atau pegawai imigrasi. Kami masuk ke dalam bus lagi berhenti selama 30 menit untuk makan siang.

Seusai makan siang, penumpang di dalam bus sudah penuh lagi. Kondektur mengembalikan paspor kami berempat. Wajah-wajah berganti. Penduduk lokal Cambodia sekarang. Kembali kursi-kursi plastik di lorong bus dipenuhi. Kembali AC ngadat. Setiap kali AC ngadat jendela di bagian atas bus di buka. Aduh, udara pengab, bau keringat, bau minyak angin, bikin mual….

Cambodia Border Check Point, Bavet

Cambodia Border Check Point, Bavet

Jam setengah tiga sore kami tiba di Phnom Pehn. Tak ada waktu istirahat. Seorang lelaki muda menjemput kami di perhentian bus. Kami berempat dan ransel-ransel kami disorong saja masuk ke dalam minivan dan secepatnya cabut. “Apa yang terjadi dengan anda sekalian ? Your bus was broken ? Biasanya jam 1 bus sudah sampai Phonm Phen. Anda sudah dipesankan tiket untuk jam 2 siang ini. Penumpang bus yang lain sudah menunggu anda berempat, “ ia nyerocos.

Benar rupanya, kami berganti bus di Phnom Phen. Nama bus yang akan mengantar kami ke Siem Reap ialah Ratmony. Ah, pantas pengelola hostel tak mengenal nama Khai Nam. Rupanya trayek bus itu memang cuma sampai Phnom Phen, dan mereka akan mengoperkan penumpang ke perusahaan bus lainnya. Another scam eh ?

Ratmony lebih buruk dari Khai Nam. Tak ada waktu untuk mengeluh. Langsung kami masuk ke dalam bus yang sudah penuh sesak. Sama seperti bus sebelumnya lorong juga dipenuhi kursi tambahan. Lebih padat lagi, karena kursi penumpang sebelah kanan 3 dan kiri 2, lorongnya amat sempit. Khai Nam masih lumayan kursi penumpang  2 di kiri dan 2 di kanan. Untung untuk kami berempat masih disisakan 4 kursi bukan tambahan. Siaaaal….aku dan pemuda Jepang itu duduk di kursi paling belakang. My God, bakal terguncang-guncang aku sepanjang perjalanan panjang ini.

Sepanjang perjalanan bus terus saja menaikkan dan menurunkan penumpang. Setiap 2 jam bus berhenti selama 20 menit untuk memberi kesempatan penumpang untuk pergi ke toilet. Toilet ? Not always a toilet be there !!! Sudah bersyukur kalau berhenti di warung dan ada toiletnya, walau antriannya panjang.

Ini yang lebih unik. Sekitar jam enam sore, bus berhenti di sebuah kampung. Suasana mendung, hujan baru saja berhenti. Tanah becek. Ada sebuah warung di situ. Tapi WC ? Tak ada. Mataku berkeliling. Di seberang jalan, ada sebuah sumur, timbanya terbuat dari tali karet, seperti kebanyakan sumur di perkampungan di Indonesia. Bangunan kecil di samping sumur itu mudah-mudahan WC. Ya benar, itu dua bilik WC. Tapi  bilik yang satu digembok oleh si empunya. Cuma satu yang bisa digunakan. Kotor pasti. Bagaimana ini ? Antrian cukup panjang. Akhirnya kami para perempuan masuk berdua atau bertiga bersama-sama. Penumpang laki-laki mengalah. Terserah, mau kencing di kebon, di alang-alang, di sawah, di pohon… Monggo yang enak saja man !!!

Krizia dan Wyeth yang antre di depanku, langsung mesem sepet dan balik kanan begitu melihat kondisi WC yang sedemikian. Tak tahulah mereka mau kencing di mana. “Apakah di Indonesia Ate pernah naik bus seperti ini ? “ tanya mereka kemudian. Aku ketawa ngakak. What an expensive experience ! Jauh-jauh berjalan hanya untuk menikmati kondisi macam begini ? Di Indonesia aku cukup rewel kalau naik bus malam. Jauh-jauh hari sudah pesan tiket, supaya dapat kursi tepat di belakang supir. Masih ribut pula cari bus VIP, yang pakai toilet, yang pakai WIFI, yang kondekturnya ora mambu, etc., etc (wis.. pokoke ra mutu). 

Khai Nam dan dilanjut Rhatmony membangkitkan ingatanku berpuluh tahun lampau. Ya, pernah aku naik bus buruk seperti ini dalam jalur panjang, Bandar Lampung – Yogyakarta. Itu masa kanak-kanak dulu, ketika transportasi belum selancar sekarang. Kata seorang mentor manajemen di kantorku; penderitaan itu menjadi romantis dikenang ketika tak ada kesenjangan sosial di dalamnya. Artinya semua orang sama miskinnya, sehingga hati kita tidak dibakar oleh api kecemburuan.

Lha sekarang ? Aku punya uang, tapi terjebak scam, naik bus bobrok begini. Tidak sepenuhnya  terjebak sih. Tapi memang kemarin itu, tiket bus yang lebih baik tak ada lagi. Aku nekat saja meneruskan perjalanan dengan bus ini. Takut itinerary yang sudah disusun menjadi semakin berantakan. Liburan dan tiket pulang tak bisa diulur-ulur toh ? Pelajaran yang kudapat : Tidak selalu uangmu memberi semua yang kamu mau ! So ?  Si Cantik Wyeth memberi jawaban :” Ate, we do not always find comfort in our life. “ Jadi, pada peristiwa yang tak bisa dihindari macam begini, teduhkan hati dan nikmati. Kegelisahanmu tak akan mengubah nasibmu !

Kami bertiga sempat berbincang agak panjang di perhentian berikutnya, saat makan malam. Entah apa nama kampungnya. Bangunan tak berdinding itu tampak seperti semacam los pasar kaget. Atapnya terbuat dari seng. Lampu-lampunya redup, menambah dalam rasa muram. “Aku tak bisa makan,” kataku pada Wyeth dan Krizia. Aku duduk di barisan kursi paling belakang. Guncangan keras di dalam bus pasti membuat makanan ini akan termuntahkan keluar dari perutku. Mereka juga ikut tidak makan. Sekedar mengisi perut dengan roti moci. Tak perlu dinikmati rasanya macam apa. Telan saja, kalau perlu tak usah dikunyah.

Saat kami beranjak untuk kembali menaiki bus rongsok kami, sebuah bus lain memasuki pelataran. Terlihat mewah di tengah kemiskinan, kemuraman dan ketidakberuntungan kami macam begini. Catnya putih, meski terkotori oleh cipratan tanah dan air hujan. Tirai putih renda menghalangi pandangan langsung ke dalam bus. Tulisan besar di badan bus itu “The Shin Tourist.” Shin Tourist salah satu biro tur yang paling ternama di Saigon. “Can we change bus ?” Krizia nyengir menunjuk bus mereka.

Jalan raya menuju Siem Reap terasa gelap dan senyap. Penerangan jalan sangat kurang. Di sana-sini aspal mengelupas, menyisakan lapisan tanah merah dibawahnya yang becek. Genangan air terjebak di lubang-lubang yang cukup dalam. Bad feeling. Rasanya seperti pergi ke ujung dunia, atau entah ke planet apa. Tak ada WIFI, tak ada sinyal. Komunikasi ke dunia luar terputus.

Rhatmony - cracking bus hehehe...

Rhatmony – cracking bus hehehe…

Our bus will stop in Old Market, won’t it ? “ tanyaku pada lelaki muda yang menjemput kami di Phnom Phen. ~ “I don’t know. I am not the crew of this bus,” ia cepat-cepat nyelonong menghindari aku. Lha dari tadi dia duduk di samping sopir. Jadi dia siapa ? Kenek, kondektur, calo ? Terus, bus ini akan berhenti di mana ? Tak ada jawaban.

Bus mulai mendekati Siem Reap. Satu persatu penumpang turun. Akhirnya tinggal beberapa orang  penumpang saja, sebelum bus ini benar-benar berhenti. Entah di mana ini. Jam sebelas malam. Beberapa supir tuk-tuk menghampiri kami. Aku mabuk kendaraan. Kubiarkan Krizia mengambil alih kendali. Enam dolar untuk kami bertiga. Perjanjiannya, supir tuk-tuk mengantarku lebih dulu ke Palm Garden Lodge, lalu berbalik (karena hostel kami berlawanan arah) mengantar mereka berdua ke Adamson hostel. Itupun supir tuk-tuk masih nggerudel, yang jauhlah, yang tak tahu arahlah. Cara klasik untuk memeras penumpang. Kami berpisah, setelah berjanji esok subuh akan bersama-sama mengunjungi Angkor Wat.

Pengelola hostel masih menungguku. “So sorry can’t pick you up, “  katanya penuh simpati. Untung ada shower air panas di kamar yang kupesan. Bisa mandi dan keramas. Aku lapar. Makan terakhir yang kunikmati pada malam sebelumnya, lebih dari 24 jam yang lalu. Pagi tadi aku hanya makan sepotong roti. Siang dan malam nyaris tak makan, hanya air putih.. plus sedikit doa.

Beberapa langkah dari pelataran Palm Garden, ada restoran yang masih buka. Lampunya yang redup didominasi warna merah. Red light ? Meja-meja bundar dan kursi-kursi di pelatarannya yang terbuka tampak kosong. Beberapa mobil terparkir di situ. Ke mana para pemilik mobil itu ? Aneh saja.

Tak ada pilihan. Kuberanikan masuk dan duduk. Seorang lelaki paruh baya mengangguk, meminta ijin duduk di meja yang sama denganku, lalu mencoba membuka percakapan. Di pinggir pelataran ini ada beberapa ruang makan kecil. Pintunya memang dibiarkan terbuka, tapi lampu yang sangat redup membuat kita tak bisa memandang ke dalam. Terdengar percakapan dan tawa renyah lelaki dan perempuan dari ruangan-ruangan itu. Seorang pelayan berwajah cantik, berpakaian sangat seksi menghampiri, “Welcome, it’s free, “ ia tersenyum ramah sambil menyorongkan  sebotol air mineral dingin.  “Can you pack my food ? I will take it out,” aku mulai kurang nyaman. Hmmmm…pakaianku terlalu sopan, eh.

~~~~~~

Lewat tengah malam. Terlalu terlambat untuk makan dan istirahat. Kubuka ponsel. Ké, sahabatku, masih online dia. “Ké, aku sudah sampai Siem Reap. What an awful journey.”  Ké,  begitu khawatir dengan keputusanku untuk melakukan solo backpacking jalur darat yang amat panjang ini. “Are you safe ?” tanyanya selalu, lewat Whatsapp. “Selalu hidupkan ponsel dan koneksi internet. Supaya aku bisa tahu bahwa kamu baik-baik saja, ” katanya sebelum aku berangkat.  Aku mengerti. Anything can happen.

“Sudahkah aku layak menjelajah India, sesudah petualangan gila ini?”                    -~ You ? No!” balasnya. Aku cerita tentang perjalanan 16 jam ini. Ké melewatkan suatu masa pendidikannya di India. “Tidak aman untuk solo backpacker woman. You are too ambitious er…” Yah, mungkin too ambitious in this age. Kata yang tepat, masa remaja kurang bahagia hahaha…. Jadi keluyurannya dipuaskan sekarang.

~~~~~~

Pagi datang. Belum lagi subuh, aku sudah berdiri di teras hostel. Krizia dan Wyeth akan menjemputku dengan tuk-tuk yang sudah mereka pesan sebelumnya. Bertiga kami akan mengunjungi  Angkor What. Jamaknya para wisatawan akan berada di sana sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, jam 4.30 sampai jam 6 sore. Melihat kegelisahanku, pengelola hostel menawarkan tuk-tuk mereka, jika saja kedua gadis Filipina itu tak jadi datang. Dia menawarkan 12 US Dollar saja untuk satu hari tur. Cambodia memang menggunakan mata uang dollar selain mata uang lokal mereka.

Selewat jam lima pagi mereka datang, diantar tuk-tuk yang disopiri Ara Pheng yang ganteng. Mereka langsung berkicau ceria. “Ini Ara. Begitu kami sebut Palm Garden Lodge, dia langsung tahu. Sopir tuk-tuk tadi malam itu bohong. Mau memeras kita kan ?” Ara hanya tersenyum, mengangguk santun.

Kami melaju ke Angkor What. Agak terlambat untuk menyaksikan matahari bangkit dari ufuk timur, pemandangan fenomenal yang dinanti turis seluruh penjuru dunia. Tapi kami tak menyesal. Pagi itu tak ada sunrise. Mendung kelabu terlalu tebal, meski seharian hujan tak juga turun. Turis-turis manca yang bersiap dengan kamera canggihnya jadi kecewa. Kami happy saja ~ coz sun arises in your heart. ***

Ara, Krizia, Wyeth

Ara, Krizia, Wyeth

SAM_0654 modified crop

Tips / DO and DON’T

  1. Segera cari tiket bus begitu datang di Saigon, terutama jika pergi pada akhir pekan.
  2. Pilih bus yang baik : Mekhong Express atau Sapaco. Keduanya sudah biasa melayani turis. Tiket juga bisa dipesan secara online. Beli dari agen di Pham Ngu Lao sekitar 5 dollar lebih mahal.
  3. Bayar ongkos bus / hotel dengan uang kontan jangan kartu kredit, sebab kita akan kena charge 3%. Banyak ATM di Pham Ngu Lao dan Bui Vien Street, pusat komunitas backpacker di Saigon.
  4. Siapkan riel (uang lokal cambodia) untuk membeli makanan kecil / minuman sepanjang perjalanan. Dengan dolar jatuhnya akan lebih mahal.
  5. Jangan naik Khai Nam bus.
  6. Jangan naik bus malam, waktu tempuhnya akan lebih lama.

Special Thanks :

  • Krizia Juanitas Lucero and Wyeth May Conje, you both comfort me in the difficult time and litght on the joy of the youth inside me.
  • Ara Pheng : for your help, hospitality and humility. It’s nice for having a friend like you.
  • Ké : for your caring, support and prayers: i will pay in return all of your sincerity in our next reincarnation.

Note :

Untuk teman-teman yang akan berkunjung ke Siem Reap dan butuh tuk-tuk bisa menghubungi Ara Pheng : Ini facebooknya : https://www.facebook.com/ara.pheng1.

 Ini nomor HP-nya : +85 589 577 550 . Bahasa Inggrisnya fasih, helpful, sopan, dan ganteng ~ very recommended~

Next Episode :

 ~ Melintas Batas Berikutnya : Cambodia – Thailand – Malaysia

~ Angkor Wat : Tracing The Glory of Champa Kingdom

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s