Pemimpin Psikopat

Seorang psikopat atau yang dikenal juga sebagai Gangguan Kepribadian Dissosial (GKDS) pada umumnya  pandai berbicara, pandai menarik perhatian massa, persuasif tapi menipulatif. IQ-nya memang tinggi, bahkan seorang psikolog yang berpengalaman pun harus berhati-hati karena bisa tertipu olehnya. Di balik kefasihannya bicara, ia adalah seorang yang mudah melakukan kekerasan, tak punya rasa bersalah, tak mampu memetik pelajaran bahkan dari hukuman sekali pun. Dia akan selalu punya alibi untuk mengkambinghitamkan orang lain. Akibatnya ia bisa melakukan kekejaman berulang-ulang. Hati nuraninya hampir-hampir mati !

adolf_hitler

Beberapa saat belakang ini saya terus bertanya-tanya mengapa seorang psikopat seperti Hitler mampu menghipnosis massa sehingga mengantarkan bangsa Jerman ke dalam keterpurukan sejarah peradaban manusia ? Sebagian pertanyaan saya terjawab kemarin, ketika saya membaca artikel dalam Kompas, 7 Juli 2014. Golongan ini, salah satunya adalah Adolf Hitler, memang seorang megalomania, suka pada narasi-narasi  besar, serta kemegahan dan kegagahan yang bersifat fisik. Mereka menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan dan tak pernah merasa bersalah akan jatuhnya sekian besar korban.

Bagian pertama tulisan ini meringkaskan bagaimana psikopat-nya Hitler. Bagian kedua saya kopi sepenuhnya artikel kompas.  Maksud saya semata agar artikel itu dibaca sebanyak mungkin orang, karena Kompas cetak kini tak lagi dapat diakses gratis via on line. Tak sekedar dibaca, artikel ini saya harapkan mampu mengasah nurani siapapun dalam mengambil keputusan. Atas nama apapun stop kekerasan.

Untuk perdamaian, kebebasan dan demokrasi
jangan  ada lagi fasisme
jangan pernah jatuh lagi jutaan korban dalam kesia-siaan.

Bagian I. Fasisme Hitler

Hitler memang seorang orator hebat, singa panggung. Ia memukau. Pidatonya selalu mengangkat tema-tema populis dan kemudian mencari kambing hitam untuk disalahkan atas kesulitan ekonomi Jerman saat itu. Sejarahwan mencacat, bangsa Jerman terisap dalam pesona magis kata-katanya, terbawa dalam keadaan trans, di mana mereka tak dapat lagi melepaskan diri . Seorang anggota gerakan sayap pemuda Nazi menggambarkan, “ Kami terbakar histeria kebanggaan nasionalis. Kami berteriak dengan derai air mata : ‘Sieg Heil, Sieg Heil, Sieg Heil’. Sejak saat itu diri saya adalah milik tubuh dan jiwa Adolf Hitler.” Massa tak sanggup lagi berpikir kritis dan melulu menyokong ambisi-ambisinya, yang paling gila sekalipun, misalnya pemurnian ras.

Pada pemilu 1932, Nazi, partainya memenangi lebih dari 35 % suara dan bergerak menjadi sebuah kekuatan besar. Ia ditunjuk menjadi kanselir karena pemilu tak menghasilkan kekuatan mayoritas. Dan pada pemilu parlemen 1933 partainya memenangi 43% suara. Sejak saat ini ia berhasil mengendalikan hampir seluruh aspek pemerintahan. Partai pesaingnya dibekukan dan asetnya disita. Serikat dagang dihentikan dan pimpinannya dikirim ke kamp konsentrasi.

Pada 1934 genaplah ia bergelar Fuhrer und Reichshanzler (pemimpin dan kanselir Reich). Ia mengangkat dirinya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, hal yang menyimpang dari konstitusi. Mulai saat ini ide-ide gilanya semakin menggelora. Sejumlah lawan politiknya ditangkap dan ditembak mati. Ia menggunakan taktik fitnah untuk menguatkan posisi militernya. Komunitas internasional dan sebagian kecil masyarakat Jerman terkejut dengan sepak terjangnya. Sebaliknya sebagian besar masyarakat Jerman justru berpikir ia tengah menegakkan ketertiban.

Hitler menganggap kaum Yahudi merupakan musuh besar bangsa Jerman. Pada tahun 1942 ia memutuiskan untuk membunuh orang-orang Yahudi, Slavia dan etnis-etnis lain. Heinrich Himler dan Reinhard Heydrich adalah dua mesin pembunuhnya yang berdarah diengin. Sekitar 30 kamp konsentrasi didirikan, termasuk kamp Auschwitz yang terbesar dan terkenal itu.

Pasukan pembunuhnya melintasi Polandia, Baltik dan Soviet. Antara tahun 1939 – 1945 Hitler dan tentaranya bertanggung jawab atas kematian 11 – 14 juta orang, termasuk 6 juta di antaranya orang Yahudi. Jumlah ini merupakan 2/3 jumlah orang Yahudi di seluruh benua Eropa. Selain genosida terhadap orang Yahudi, ide pemurnian ras Hitler juga memakan korban bangsa-bangsa non-Arya lainnya,  para homoseksual, penyandang cacat fisik dan cacat mental.

Bagian II.

Bagian ini merupakan artikel Kompas, 7 Juli 2014 tentang psikopat. Silahkan dicermati. Link aslinya di sini : http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000007710953

KESEHATAN JIWA : CERMATI GEJALA PSIKOPATI

Presentation1 psi

Perilaku kanak-kanak sangat memengaruhi kepribadian seseorang saat dewasa. Ketika anak gemar melakukan kekerasan, suka menggunakan kata-kata manis untuk mendapatkan keinginannya tetapi berlaku kasar saat tak tercapai, orangtua perlu waspada. Itu adalah sebagian gejala perilaku gangguan kepribadian dissosial atau psikopati. M Zaid Wahyudi

Gangguan kepribadian dissosial (GKDS) atau antisocial personality disorder adalah terminologi baru untuk gangguan psikopati. ”Gejala gangguan ini bisa muncul sejak anak berumur kurang dari lima tahun,” kata Kepala Bagian Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta Dinastuti, di Jakarta, Rabu (2/7).

Gangguan kepribadian itu dipicu adanya perbedaan besar antara perilaku seseorang dan norma yang berlaku. Penderita GKDS tak peduli dengan aturan atau kewajiban sosial. Perilakunya tak bertanggung jawab dan cenderung menyalahkan orang lain.

Mereka juga mudah frustrasi, gampang melakukan kekerasan, tak punya rasa bersalah, dan tak mampu mengambil pelajaran, bahkan dari hukuman. Akibatnya, ia bisa melakukan hal kejam berulang-ulang.

Orang dengan GKDS juga tak bisa berempati, tak peduli perasaan orang lain, dan hati nuraninya hampir mati. Mereka adalah pribadi yang amat egosentris dan emosinya dangkal. Akibatnya, ia tak mampu memelihara hubungan yang langgeng meski sebenarnya tak sulit melakukannya.

Psikiater konsultan di RSUD Dr Soetomo Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Nalini Muhdi, mengatakan, penampilan fisik penderita GKDS atau psikopat sama seperti orang pada umumnya. Namun, perilaku dan cara berpikirnya amat kaku.

”Kaku dengan teguh pendirian atau berprinsip itu dua hal berbeda,” katanya. Orang yang berprinsip tetap bisa luwes dan menerima masukan orang lain. Adapun orang yang kaku sulit menerima dan menghargai perbedaan.

Dari gejala GKDS itu, perilaku yang mudah dilihat pada anak yang berpotensi mengalami gangguan ini antara lain suka melakukan hal berbahaya, senang melanggar hak orang, atau ketika minta maaf tak tulus. Mereka juga suka menyiksa atau membunuh binatang dengan kejam, merusak perabotan, atau membakar barang.

Mereka juga gemar melakukan kebohongan manipulatif, memanipulasi orang lain untuk kepentingan pribadi serta impulsif atau bertindak menurut gerak hati tanpa pikir panjang.

Meski gejalanya muncul sejak kanak-kanak, diagnosis gangguan itu baru bisa ditegakkan saat seseorang telah berusia 18 tahun. ”Orang yang menunjukkan perilaku GKDS tak bisa langsung dicap sebagai psikopat,” kata Nalini. Butuh diagnosis khusus dan pengamatan jangka panjang penderita.

Mendiagnosis penderita GKDS juga bukan perkara mudah. Penderita umumnya manis tutur katanya, pintar bicara dan persuasif tetapi manipulatif. Mereka biasanya memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) tinggi. ”Psikiater atau psikolog harus ekstra hati-hati karena bisa justru menjadi korban manipulasi mereka,” ujarnya.

Multifaktor

Munculnya gangguan itu dipicu banyak faktor. Salah satunya adalah persoalan genetika yang diturunkan atau ada kerusakan pada otak.

Kent A Kiehl dan Joshua W Buckholtz dalam Inside the Mind of a Psychopath di Scientific American Mind, September/Oktober 2010 menulis, otak psikopat memproses informasi secara berbeda dibandingkan dengan orang lain. Kondisi itu memengaruhi kemampuan mereka merasakan emosi, membaca isyarat orang lain, atau belajar dari kesalahan.

GKDS juga bisa dipicu faktor psikologis. Menurut Dinastuti, anak korban kekerasan atau tinggal di lingkungan penuh kekerasan bisa mengalami gangguan itu. GKDS juga bisa terpicu dari relasi penderita dengan orang lain, baik keluarga, teman, atau lingkungan, juga rentan menderita gangguan. ”Pola asuh yang salah bisa menimbulkan GKDS,” kata Nalini.

Skizofrenia

Masyarakat awam sering menyebut psikopat sebagai orang gila. Pemadanan itu salah karena yang dianggap sebagai orang gila itu sebenarnya adalah penderita skizofrenia.

Dinastuti mengatakan penderita skizofrenia mengalami hambatan berpikir, perasaan dan perilaku yang tak sesuai realitas. Gejala skizofrenia biasanya baru muncul saat seseorang sudah beranjak dewasa, bukan sejak anak-anak seperti GKDS.

Nalini menambahkan, penderita skizofrenia tak menyadari apa yang dilakukan. Akibatnya, ia tak mampu menimbang baik-buruk, tak sadar dengan apa yang dilakukan, tak punya tujuan dari tindakannya, bahkan tak sadar dengan dirinya.

Kondisi berkebalikan terjadi pada seorang psikopat atau penderita GKDS. Mereka sadar dengan dirinya dan orang lain, sadar dengan apa yang dilakukan, dan tujuan tindakannya adalah untuk keuntungan dirinya.

Skizofrenia jauh lebih mudah dideteksi serta diobati dan diterapi dibandingkan dengan GKDS. Adapun GKDS bersifat menetap dan hanya bisa dikelola dengan terapi intensif psikiater atau psikolog berpengalaman.

Obat bagi penderita GKDS hanya digunakan untuk mengatasi gejala amat parah. Namun, obat itu tak bisa membuatnya menjadi seperti orang normal. ”Walau GKDS menimbulkan parut di jiwa penderita, tetapi ia masih bisa diperhalus agar tak bertambah parah. Namun, cacatnya tetap akan ada,” katanya.

Dalam hukum pidana, penderita skizofrenia biasanya tidak dihukum. Sementara dalam hukum agama, mereka umumnya dibebaskan dari sejumlah kewajiban agama. Namun, seorang psikopat bisa dijatuhi hukuman.

Kepemimpinan

Prevalensi penderita GKDS di dunia diperkirakan 0,5-1 persen. Sebagian besar di antara mereka justru bukan pembunuh dingin sadis yang ada dalam penjara seperti dalam gambaran film atau novel, melainkan justru aktif di masyarakat dan bekerja dalam berbagai profesi.

Eric Barker dalam Which Professions Have the Most Psychopath? The Fewest? di Time.com, 21 Maret 2014, menyebut tiga profesi yang banyak digeluti penderita GKDS adalah pejabat eksekutif tertinggi (CEO), pengacara, dan pekerja media elektronik.

Prevalensi psikopat pada kelompok pejabat eksekutif tertinggi, yakni empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi di masyarakat umum.

Sejumlah pemimpin dunia pun teridentifikasi sebagai psikopat. Mereka umumnya adalah pemimpin negara yang gemar mengobarkan peperangan, menebar kebencian, hingga membunuh jutaan manusia, termasuk rakyatnya tanpa rasa bersalah.

Contoh paling sering disebut sebagai pemimpin yang psikopat adalah pemimpin Nazi, Adolf Hitler. Bahkan, psikiater Kanada, Phillip W Long, menyebut Hittler tidak hanya menderita GKDS, tetapi juga paranoid (curiga dan tak percaya orang lain) dan narsistik (mengagungkan diri berlebih).

Sebaliknya, pemimpin yang sering dicontohkan berkebalikan dengan karakter psikopat adalah pemimpin rakyat India, Mahatma Gandhi, tokoh yang sederhana, merakyat, dan pejuang tanpa kekerasan.

”Terkadang agresivitas diperlukan dalam sebuah kepemimpinan,” kata Dinastuti. Penderita GKDS biasanya memesona, penuh daya tarik, luwes, dan mudah memengaruhi orang lain. Karakter itu membuat seorang psikopat biasanya memiliki banyak pengikut dan pengagum.

Saat menjadi pemimpin dan melakukan kesalahan, penderita GKDS mampu menawarkan penjelasan yang seolah-olah masuk akal sehingga ia bisa terlepas dari tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah. Bawahan atau rakyat yang terpesona pun akan mudah memaafkannya, bahkan terus mengagung- agungkannya.

Namun, rakyat atau bawahan yang terpesona dengan karisma dan kata-kata pemimpin yang menderita GKDS itu akan sulit menumbuhkan motivasi untuk maju. Kepemimpinan pemimpin yang psikopat sulit menciptakan suasana adil dan setara karena semua komando dan kekuasaan ada di tangan pemimpin.

”Pemimpin dengan GKDS tak mau mendengar pendapat berbeda dan akan melakukan apa pun agar orang setuju dengannya,” katanya. Rakyat atau bawahan tak boleh membantah jika tidak ingin menjadi korban agresivitas pemimpinnya.

Kondisi itu membuat tak akan ada persaingan sehat dalam dunia politik karena semua lawan politik akan ditekan, diberi sanksi, bahkan dibasmi oleh sang pemimpin psikopat.

dhani dan heimler

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s