Mogok Massal Dokter dan Hak Pasien

Seorang pasien melintas di Instalasi Rawat Jalan, RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta dengan latar belakang para dokter yang melakukan aksi mogok. Foto ~Kompas~

Seorang pasien melintas di Instalasi Rawat Jalan, RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta dengan latar belakang para dokter yang melakukan aksi mogok. Foto ~Kompas~

Salah satu kalimat dalam  Sumpah Dokter Indonesia yang merupakan adaptasi dari Hippocratic Oath ((460 SM – 370 SM). ~Saya akan memeperlakukan tean sejawat sebagai saudara kandung ~. Mungkin bagian ini yang mendasari para dokter Indonesia melakukan mogok masal kemarin. Hasilnya seperti diduga, kita baca dalam surat kabar, pasien di berbagai rumah sakit terlantar. Kontroversi semakin melebar dan mengemuka.

 Mogok massal dokter (wah… kok kayak buruh saja sih) dipicu oleh kasus divonisnya Dokter Dewa Ayu Sasiary Prawani dan tiga sejawatnya oleh Mahkamah Agung dalam dugaan malpraktik. Pada tingkat pengadilan sebelumnya para dokter itu dinyatakn tidak bersalah. Sikap masyarakat pun terbelah. Sebagian pro dan sebagiannya lagi kontra. Biasalah begitu.

Saya tidak tahu banyak bidang hukum dan bidang kedokteran, dua ranah di mana kasus ini berkelindan. Saya hanya ingin bercerita tentang relasi saya dengan profesi dokter. Selama ini pada umumnya saya bertemu dengan dokter yang baik. Mereka mau diajak berdiskusi dan menerangkan segala sesuatu yang terjadi dengan tubuh saya dan keluhan yang dihadapi.

Saya juga mengenal beberapa dokter yang sabar mendengar keluhan. Mereka juga berbagi ilmu pengetahuan. Mereka menerangkan segala sesuatu tentang penyakit kita dan mendiskusikan terapi yang akan dilakukan.

Seorang dokter muda yang belum lama lulus dari perguruan tinggi bahkan pernah hampir setengah jam memberi kuliah gratis tentang faal tubuh dan penyakit radang tenggorok yang saya derita. Kebetulan praktiknya sepi dan saya orang terakhir yang mengunjunginya malam itu. Ketika saya berkali-kali mengucapkan terima kasih padanya ia membalas, “Sama-sama Bu, tugas kami bukan cuma mengobati tetapi juga mencerdaskan pasien. Ini paradigma dokter zaman sekarang.”

Ketidakpuasan saya biasanya lebih dikarenakan aspek komunikasi interpersonal dokter. Sebagian dokter memang buruk pada aspek ini. Kita semua hampir tidak pernah mendapat mata kuliah interpersonal cummunication skills di bangku kuliah. Tetapi kemampuan berkomunikasi dengan orang lain akan tumbuh seiring bertambahnya pengalaman hidup dan kematangan emosional. Mestinya seorang dokter yang diakui memeiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata, juga memiliki kecerdesan emosional dan sosial yang juga tinggi.

Kurang mampu berkomunikasi secara santun dan empatik dari para dokter membuat profesi mereka dinilai arogan. Mungkin sebagian kecil dokter memang bersikap seperti ini. Akibatnya banyak orang menggeneralisasi. Ini terbukti dari sekian banyaknya komentar negatif oleh pengguna internet dalam menanggapi kasus dokter Ayu dan beberapa persengketaan yang melibatkan dokter.

Para pengguna internet itu bertolak dari pengalaman mereka sendiri, ada dokter yang arogan, lambat dalam menangani keluhan, salah diagnosa, dan sebagaianya. Beberapa malah bercerita di facebook bagaimana dokter salah dalam mengambil tindakan operasi sehingga operasi harus diulang dan pasien tetap harus bayar. Lebih celaka lagi, seorang kolega bercerita tentang koleganya (uhhh…) tentang perban yang tertinggal di perut.

Saya sendiri beberapa kali bertemu dokter yang sangat menjengkelkan. Suatu saat saya mengunjungi seorang dokter mata senior yang cukup terkenal. Ia tidak mendengarkan saya dengan cukup simpatik. Ia malah memeriksa ukuran minus mata. Padahal keluhan saya tidak berhubungan dengan kaca mata saya. Saya merasa ada semacam selaput lemak (?) yang menutupi bagian tepi mata saya. Saya tidak tahu apakah SOP dokter mata harus memeriksa ukuran kaca mata lebih dulu.

Ia langsung menulis resep. Ketika saya bertanya tentang ihwal keluhan saya, ia sama sekali tidak menjawabnya.   Ia malah berkata dengan ketus, “Tidak usah tanya-tanya. Ini dulu diobati. Itu nanti lain lagi tindakannya, lebih berat lagi.” Masya Allah. Saya ini manusia. Tubuh ini milik saya. Saya berhak tahu apa yang terjadi dengan tubuh saya. Mungkin dokter itu pantasnya jadi dokter hewan saja. Sapi atau ayam pasti tidak bisa bertanya tentang penyakitnya.

Lain lagi dengan seorang dokter wanita yang pernah saya kunjungi. Ia mungkin satu atau dua tahun lebih muda dari saya atau setidaknya sebaya saya. Saya selalu berusaha santun kepada orang yang tidak saya kenal secara pribadi. Saya memanggilnya “Ibu dokter”. Tetapi sebaliknya, ia menyapa saya dengan sebutan “Kamu’. Saya terkesiap. Saya tidak pernah menyapa orang seperti itu dan juga tidak pernah diperlakukan seperti itu. Standar sopan santun di manapun mengajarkan agar kita menyapa seseorang yang tidak kita kenal dengan sebutan “bapak”, “ibu”, “adik”, “mbak”, “kakak”, dst.

Saya langsung berprasangka buruk. Mungkin saya ad hominem dan menarik sebuah stereotip berdasar generalisasi masalah. Mungkin ia menganggap etnisnya lebih unggul. Mungkin etnis macam saya cuma layak dari pembantu di rumahnya. Saya diam, tidak protes. Tapi lain kali tidak mau saya pergi ke dokter yang merendahkan orang seperti itu.

Saya tidak menuntut layanan dokter yang berlebihan. Sesuai standar operasional sajalah, ditambah sentuhan kemanusiaan. Itu yang namanya profesional. Tanggung jawab dan resiko yang dipegang profesi dokter memang berat. Ke dalam tangan mereka seorang pasien  memasrahkan nyawa.  Saya percaya dokter tidak pernah berniat mencelakai pasiennya.

Tetapi kalau terjadi “kecelakaan” yang mengakibatkan kematian atau musibah lainnya, seorang dokter tetap harus bertanggung jawab. Pasien juga berhak mendapat jaminan hukum jika terjadi musibah dengan dirinya. Profesi dokter tidak boleh berdiri di luar hukum. Penyelidikan dan pengadilan yang fair dan transparan harus dilaksanakan. Jika semua seudah dilaksanakan, tidak ada alasan melakukan solidaritas dengan mogok nasional.

Related posts :

http://nasional.kompas.com/read/2013/11/27/1053537/Ini.Tiga.Kesalahan.Dokter.Ayu.dkk.Menurut.MA

http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/2831/1/solidaritas.dokter?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktopilwp

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s