Bapak Ayam : Cerita Cinta Beda Kasta

Menggosip tentang Enji Hendarso dan Ayu Ting-ting

ayu_ting_ting_51a

Sekali waktu boleh dong saya menggosip. Kali ini tentang percintaan dua anak manusia : Ayu Ting-ting dan Enji, dengan tagline : dukacerita cinta beda kasta.

Kemarin saya meminta mahasiswa saya berlatih membuat karangan singkat dengan menggunakan teknik narasi. Seorang  membacakan karangannya tentang Ayu Ting-ting dan Enji hendarso. Teman-temannya tertawa. Di tengah sulitnya mereka mencari ide cerita yang serius, tiba-tiba seorang teman dengan polosnya menulis topik ringan yang setiap hari memenangkan rating tinggi acara televisi. Kenapa tidak. Aku juga sedang tertarik menulis topik ini, mungkin dengan sudut pandang yang sedikit berbeda.

Dua pesohor itu memang sedang rajin menyambangi penonton televisi. Apalagi jika bukan dengan kisah cinta mereka yang kini berkeping-keping. Masing-masing saling menuduh, saling menjelekkan. Sebenarnya  dari awal saya sudah dapat menerawang (wah…. ketiban wangsit jadi tukang ramal gossip lho !) bahwa ada yang tidak beres dengan jalinan percintaan mereka.

Ayu Ting-ting, seorang pedangdut belia yang beberapa tahun lalu melejit dengan lagu Alamat Palsu. Konon lagu itu sudah beberapa tahun sebelumnya direkam tapi jeblok di pasaran. Entah angin keberuntungan apa, tiba-tiba lagu itu muncul di pasaran ringback tone ponsel dan laris. Terangkatlah nama pelantunnya.

Tawaran pertunjukan terus mengalir, menggendutkan pundi-pundi sang penyanyi. Magnetnya menarik seoarng perjaka berkepala plontos, bertampang ingah ingih. Konon anak petinggi polisi, tapi si lelaki ini lebih suka bungkam tentang asal usulnya. Ibarat parngko dan amplop keduanya selalu memamerkan kelengketannya di televisi. Kemanapun si biduan pergi show, si pemuda  ini selalu membuntuti. Sampai kepikiran, ini anak kerja apa ya, kok bisa setia setiap saat (kayak iklan Rexona jaman dulu!).

Tibalah suatu saat. Pernikahan keduanya dilangsungkan secara mendadak di rumah pengantin puteri yang  tampaknya termasuk rada ambelusuk ke dalam lorong labirin Jakarta. Berlawanan dengan masa pacaran yang seolah diumbar di muka kamera, pernikahan keduanya sepi dari liputan paparazi gossip negeri ini. Bahkan terkesan dirahasiakan. Tapi yang begituan ya pastilah tak bisa disembunyikan. Kata wartawan gossip lagi, dugaannya si pengantin puteri sudah hamil.

Bukan perkara hamil yang mau saya soroti. Itu urusan merekalah. Saya tak mau sok suci – siapalah saya ini. Tapi tak jamak bagi pesohor negeri ini : entah dia pejabat, artis, pembalap atau apapun, menggelar pernikahan tertutup begitu. Seolah ada yang harus dirahasiakan. Dan dugaan banyak penggosip, yang harus ditutup itu adalah “restu” dari sang petinggi Polri. Mungkin ras-nya terluka anak lelakinya kawin dengan pedangdut. Beda kasta – begitulah istilah kasarnya.

Benar saja, sejak pernikahan itulah, pemuda anak manja petinggi Polri itu menghilang dari radar pewarta gossip. Ia kembali ke habitatnya semula, dunia gemerlap anak pejabat yang jauh dari liputan kamera. Si pedangdut masih tetap bernyanyi seperti biasa, kerja keras  demi si calon jabang bayi.

Setelah disindir berkali-kali si pemuda muncul juga. Kali ini ia minta didampingi pengacara bermulut busuk yang biasa menyemburkan kalimat-kalimat ad hominem untuk menyerang lawan kliennya. Ini tentu saja untuk menggendutkan kantongnya sendiri. Alih-alih menjelaskan apa yang terjadi, ia malah beralibi macam-macam untuk membenarkan sikapnya.

Fenomena seperti si Enji bin Hendarso Danuri ini kalau di kampung saya disebut “bapak ayam”. Maksudnya ya seperti ayam jago itu. Bebas mencumbu babon dan dan tanpa beban pula meninggalkannya. Mungkin banyak binatang seperti itu. Perkembangbiakan mereka dikendalikan oleh naluri dan insting. Coitus terjadi karena diatur oleh alam dalam musim-musim tertentu saja. Tapi manusia tak mengenal musim kawin. Manusia tercipta dengan dilengkapi  hardware yang bisa dikendalikan oleh software-nya sendiri. Konon itulah yang namanya budi pekerti dan hati nurani. Tapi software ya bisa saja sowak, kalau tak pernah diapakai dan dipelihara.

Pejantan Sejati : Bertanggung Jawab Terhadap Anak-anaknya

 Tidak semua binatang lho, yang punya tabiat seperti ayam jago. Ada beberapa binatang yang sangat setia pada pasangannya dan monogami, ada pula binatang berkelamin jantan yang sangat melindungi betinanya ketika hamil dan melahirkan, ada pula jantan yang mengasuh anaknya baik bersama betinanya maupun sendiri.

Ikan punggung duri, pejantannya sangat bertanggung jawab dalam pengasuhan anak

Ikan punggung duri, pejantannya sangat bertanggung jawab dalam pengasuhan anak

Saya  kebetulan baru saja membaca Ensiklopedi Kehidupan di Dalam Air. Ini tentang ikan punggung duri (gasterosteidae) jantan yang selalu menjaga telur (baca keturunannya) sampai menetas. Saat anak-anak ini masih kecil si jantan akan melindungi mereka dengan berenang di sekitarnya.  Ikan punggung duri adalah ikan kecil yang hidup di air tawar, payau atau laut di daerah beriklim sedang belahan bumi utara. Ikan ini dikenali dari duri-duri pendek runcing pada punggungnya. Ikan ini punya perangai unik sewaktu kawin.

Selama musim kawin, ikan punggung duri jantan membuat sarang rumit dari potongan tumbuhan yang direkatkan dengan lendir dari ginjalnya. Kemudian si pejantan akan menari dengan gerakan cumbu siku-saki, untuk membujuk beberapa betina masuk ke dalam sarang. Kadang ia menggigit ekor betina agar cepat masuk ke sarang yang dibangunnya. Segera setelah telur dikeluarkan oleh si betina, telur-telur itu dibuahi dengan sperma si jantan. Sang bapak yang bertanggung jawab tadi tetap di situ, menjaga telur sampai menetas dengan selamat.

Kebanyakan ikan memang meninggalkan telur mereka tanpa parawatan lebih lanjut. Oh ya, kalau pembuahan terjadi di dalam tubuh (si jantan mengawini betina), biasanya si betina yang akan merawat anaknya dengan penuh perhatian. Si betina akan melewati masa-masa sulit sendirian, mengandung, melahirkan dan mengasuh bayi-bayinya seorang diri.

Ternyata ikan punggung duri adalah perkecualian. Sebenarnya juga ada beberapa pejantan ikan yang lain yang mengasuh keturunannya dengan baik. Contoh lain adalah ikan mujaer mesir jantan (Haplochromis multicolor) yang mengerami telur yang sudah dibuahinya dalam mulutnya. Setelah cukup harinya, telur-telur itu akan menetas dan keluar dari mulut bapaknya. Tetapi si bapak akan terus menyediakan mulutnya sebagai tempat persembunyian bagi bayinya jika ada bahaya mengancam.

Sekarang kembali ke laptop, eh ke topik. Setelah lari ke sana-sini dari Ayu Ting-ting sampai ke ikan di belahan bumi utara sana, apa dong inti yang mau dicari. Moral of the story iyalah…, pertanyaan retoris sajalah. Tidakkah kita manusia bisa belajar dari alam ?

4 thoughts on “Bapak Ayam : Cerita Cinta Beda Kasta

  1. Bu Vero, makasih Cerita Cinta Beda Kasta, sebagai hidup yg wajar jadi pedoman…

    Terkirim dari tablet SamsungVERONIKACLOSET menulis:

    Like

  2. Seringkali perempuan yang menjadi korban dari perkawinan seperti ini. Ah… jangan diulang lagi oleh yang lain, terima kasih bu Vero atas inspirasimu..

    Like

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s