Cerita di Balik Secangkir Kopi

SAM_0360

“Datanglah ke Bukit Barisan saat paceklik, maka kamu akan bisa membeli sepeda motor atau barang-barang mewah lain dengan harga murah, “ kata teman saya, seorang pendeta yang betugas di antara petani kopi, jauh di gigir tulang punggung Pulau Sumatera itu. Agaknya pulen nikmat  kopi Sumatera yang sedang moncer di gerai-gerai kafe berlabel internasional tak selalu bisa dinikmati petaninya.

Pegunungan Bukit Barisan adalah salah satu hulu produksi kopi Sumatera, yang konon katanya termasuk salah satu kopi ternikmat dunia. Kalau panen kopi jatuh pada waktu tepat para petani dengan mudah membeli barang-barang mewah. “Mereka mampu membeli sepada motor seperti orang lain membelikan sepeda mini untuk mainan anaknya,” imbuh teman saya tadi. Waktu yang tepat bagi kopi untuk panen kopi adalah saat musism kemarau dan permintaan kopi cukup tinggi. Dan yang menjadi keajabaiban ialah jika panen kopi bersamaan dengan kurs dolar terhadap rupiah melambung tinggi.

Cara hidup konsumtif yang mungkin ditularkan orang kota,  membuat mereka membeli berbagai barang yang bagi kita terasa aneh. Sepeda motor dibeli seperti orang di kota membelikan sepeda mini mainan anak. Padahal sepeda motor bukanlah sarana angkutan yang efektif di pegunungan macam begitu. Tetapi beberapa musim kemudian, kalau harga kopi merosot mereka akan menjual semua barang tersebut. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun mereka bisa berhutang kepada pengepul dengan sistem ijon. Siklus hidup terus begitu dari tahun ke tahun.

Ya boleh jadi nasib petani kopi Sumatera  tak semoncer segelas yang terhidang di kafe berlabel internasional. Jalan pegunungan yang berjurang dan berliku itu seperti tak pernah berubah sejak puluhan tahun yang lalu.  Hutan-hutan tropis telah gundul dirambah orang untuk dijadikan kebun-kebun kopi. Pemerintah daerah telah menetapkan beberapa lokasi sebagai area sabuk hijau dan memindahkan para petani dan perambah ke lokasi transmigrasi lokal, tetapi mereka kembali lagi ke daerah ini untuk berladang kopi.

Mereka peladang kopi dan di lokasi transmigrasi local mereka harus mencoba tanaman keras yang lain, missal karet atau sawit. Pasti tidak mudah untuk menyesuaikan diri. Belum lagi hitungan keuntungan hasil panennya. Mereka balik lagi ke Lampung Barat. Jadi jangan heran kalau kerimbunan hutan yang tampak di tepi jalan, hanyalah kamuflase. Kalau kita masuk lebih dalam lagi, gunung-gunung di belakangnya telah menjadi ladang kopi.

Bermula dari Sekincau

rumah2

Rumah adat Lampung di Sekincau

Sekincau adalah nama sebuah desa di tepi jalan raya menuju Liwa, ibukota Lampung Barat. Saya telah mendengar nama ini berpuluh tahun yang lalu ketika saya masih kanak-kanak. Tahun 70-an beberapa tetangga saya ada yang berladang kopi di sana. Beberapa yang lain pergi ke sana pada musim panen saja untuk bergabung dengan para buruh petik. Mereka bercerita tentang hawa yang sangat dingin dan hewan yang sangat menakutkan yang sesekali datang menyambangi mereka, si raja hutan.

Baru tahun 1995 saya berkesempatan ke sana, tepat satu tahun setelah Lampung Barat dilumpuhkan gempa tektonik. Tanda-tanda bekas gempa tak banyak terlihat. Beberapa hari saya menginap di sana, lalu melakukan perjalanan panjang untuk masuk ke pedalaman: Suwoh, Marang, Sidomakmur, Hulu Mayus, Ranau, dan beberapa sentra perladangan kopi lainnya. Tak nampak tanda-tanda bekas gempa setahun sebelumnya. Penduduk yang saya temui tetap terlihat optimis. Memang saat gempa besar itu terjadi, ladang-ladang kopi sedang mempersembahkan panenan terbaiknya. Harga kopi di pasaran dunia sedang melambung. Maka bantuan-bantuan makanan semacam mie kering dari para penderma tidak terlalu penting dan mangkrak di gudang.

Sesudah kunjungan pertama itu, saya sering berkunjung ke Lampung Barat meski tidak teratur waktunya. Selalu Sekincau menjadi titik tumpu perjalanan saya. Dan terakhir, bulan Juni 2013 lalu saya ke sana, sebelum melajukan kaki ke Ranau dan pulang menyusuri pantai barat Sumatera. Mungkin bukan sekedar hawanya yang dingin yang membius saya. Tetapi juga kesuburan alamnya, keheningannya dan senyum sapa penduduknya.

Memetik kopi

Memetik kopi

Sekincau akan terjangkau sekitar 5 jam perjalanan mobil dari Bandar lampung. Transportasi  umum juga mudah. Dari terminal Rajabasa di ibukota Provinsi Lampung itu, carilah bus AC menuju Ranau. Atau bisa juga dengan travel. Berangkat pagi atau siang hari, akan lebih menguntungkan. Selepas Bukit Kemuning, mobil akan berbelok ke kiri. Jalanan mulai mendaki. Selepas Sumberjaya, jalanan aspal sempit berkelok-kelok sangat tajam. Perlu super hat-hati memegang kemudi, terutama jika belum terbisa menyusuri jalur ini. Tapi pemandangan yang terhampar bukan main indahnya. Kehijauan semata, ngarai dan punuk-punuk punggung Bukit Barisan berbalut kabut berbataskan kaki langit.

Berangkat malam hari kecuali tak dapat melihat indahnya pemandangan, juga lebih berisiko. Pada musim penghujan, badan jalan bisa saja tertutup longsoran dari dinding batu dan tanah di kiri kanannya. Bila ini terjadi tak banyak yang kita perbuat  kecuali menunggu. Satu lagi. Waktu bulan Juni lalu saya ke Sekincau, jalanan antara Kotabumi – Bukitkemuning rusak parah. Jalur ini juga rawan kemananannya. Para sopir tronton pelintas jalur Sumatera akan berhati-hati di daerah ini. Bajing loncat terbilang nekat. Dan kalau tak nemu rejeki dari truk apa boleh buat pengendara mobil pribadi pun bisa saja disikat.

Di Sekincau saya bisa menginap barang semalam atau dua malam, sebelum meneruskan perjalanan ke pedalaman. Beberapa konglomerat pedagang kopi punya vila di sini. Kalau kenal dan bicara sebelumnya dengan pengurusnya bisa saja menginap di sini. Tapi itu tidak pernah saya lakukan. Saya lebih suka menginap di Ben Venuto, rumah singgah sederhana berdinding papan milik paroki. Saya sih mudah. Mau numpang tidur di rumah penduduk di sekitar Gereja Sekincau pun pasti dibolehkan. Saya biasa berangkat pagi hari, dan tiba sore hari di Sekincau.

Sejuknya  senja menyapa. Kabut kadang turun mengiringi malam. Temperatur bisa anjlog di bawah 10. Ben Venuto, rumah berdinding papan tempat saya menginap sesekali bergetar jika kendaraan berat lewat. Halaman depan cuma selebar 8 meter dan berbatasan langsung dengan jalan lintas Liwa – Kotabumi. Kendaraan pengangkut kopi dan sayuran itu akan terus melintas sampai dinihari, meski juga tidak terlalu sering. Rupanya truk dan tronton lebih suka melawati jalur ini dibanding jalur pantai barat Krui-Kotaagung-Bandar Lampung.  Jalan raya jalur pantai barat lebih mulus tapi masih teramat sepi apalagi larut malam dan dini hari begini. Jalur Sekincau – Kotabumi dipenuhi oleh belokan dan tikungan tajam bahkan pada beberapa ruas jalan rusak parah,  tetapi relatif lebih aman karena selalu melewati pemukiman penduduk.

Pagi hari, kabut tebal turun di permukaan tanah. Bunga-bunga, rumput dan tanaman kopi di kebun sekitar rumah kuyup oleh embun. Saat matahari mulai muncul, saya ikut ke kebun, memetik kopi dan menjemurnya di siang hari. Di sekitar Sekincau, beberapa petani juga berkebun sayuran. Memang sayuran adalah juga hasil bumi andalan Lampung Barat.  Cuaca dan tanah di pegunungan Bukit Barisan ini seperti surga dalam lagunya Koes Plus. Apapun dilempar ke tanah akan jadi tanaman dan menghidupi penduduknya.

Sesudah istirahat siang saya bisa meluangkan waktu ke tetangga kiri kanan, melihat mereka menjemur kopi. Saya bisa pula memilih biji-biji yang tua dan kering untuk disangrai dan digiling sendiri. Kedua jenis kopi baik robusta maupun arabica biasa ditanam penduduk di sini. Robusta adalah jenis kopi yang bisa tumbuh pada dataran rendah. Jenis inilah yang banyak menjadi komoditas dari Lampung. Sementara arabica, hanya bisa tumbuh di dataran tinggi saja.

Saya biasanya senang jenis robusta, karena rasanya lebih ringan dibanding arabica. Tapi soal rasa juga bergantung dari proses penaman sampai pengolahannya sih. Misalnya pohon yang relatif tua akan menghasilkan rasa yang lebih enak pula. Perhitungkan juga pemilihan biji kopi apakah seragam hanya bibit yang benar-benar matang saja yang dipetik. Lalu juga pengeringan dan  pemasakan (dioven atau cara tradisional disangrai).

Tentang rasa kopi, saya punya dusun favorit untuk didatangi. Namanya Sidomakmur. Letaknya beberapa kilometer ke arah barat dari Sekincau. Oh ya, kalau saya berbicara tentang desa-desa di pegunungan Bukit Barisan, jangan membayangkan seperti desa-desa di Jawa yang tertata rapih secara fisk maupun admisitratif. Desa atau dusun-dusun itu bisa jadi hanya berupa beberapa gubuk para peladang kopi di antara ratusan hektar kebun kopi. Seringkali lokasi ini berada di sebuah “lembah” – tanah yang aka rata atau cekung di tengah lereng pegunungan itu.

Biasanya lembah yang dijadikan pemukiman itu ada mata air atau beliknya sehingga mereka bisa mendapat akses air bersih untuk keperluan sehari-hari. Orang-orang di Lampung menyebutnya “umbul”. Makna umbul sesungguhnya adalah mata air. Tetapi makna yang lebih luas, umbul adalah sebuah bakal dusun. Nanti kalau ada beberapa peladang lagi yang bermukim di situ, mereka akan bisa dicatat sebagai warga dudun yang menginduk kepada desa terdekat. Jangan salah…. desa terdekat itu bisa jadi gunung di seberang sana, yang tampak samar membiru di batas pandangan.

Kebun Sayuran

Kebun Sayuran

Untuk menuju desa itu tak akan ada transportasi umum. Yang biasa digunakan penduduk adalah motor trail atau mobil jeep brondol buatan tahun 70’an. Itu pun harus dibelit rodanya dengan rantai ketika kita berkendara pada musim penghujan. Bisa dibayangkan betapa terisolirnya umbul-umbul para perladang kopi ini. Maka umbul sebagai “bakal desa” ini sangat sering tetap saja selamanya menjadi umbul.

Sebagian para peladang ini memiliki rumah di desa atau kota lain. Misalnya saja sebagian pengumbul di Suwoh adalah juga warga Pringsewu. Sebagian petani di Sekincau mempunyai rumah di Baradatu (Way Kanan). Di desa-desa asal mereka inilah mereka menitipkan anak-anak mereka kepada famili agar dapar bersekolah secara normal. Beberapa keluarga di umbulan yang saya kenal, lebih mempercayakan anak-anak mereka yang bersekolah di sekolah dasar kepada pengelola panti asuhan.

Ya, apa boleh buat. Lingkungan terbaik anak-anak adalah keluarga,  pasti mereka tahu itu. Tetapi bayangkan. Saya pernah mendengar cerita para petani di Suwoh tentang betapa beratnya perjuangan anak-anak meraka dalam menuntut ilmu. Untuk mencapai SD terdekat meraka harus berangkat subuh, meyebarang sungai, pendaki bukit yang lain. Sekolah usai jam 1 siang, dan mereka butuh dua jam lagi untuk mencapai rumah. Tengah hari, para ibu yang begitu mencintai anak-anak mereka akan berangkat menyusuri jalur sekolah anak-anak mereka membawa bekal makan siang. Di pertengahan jalan, ibu dan anak bertemu, mereka beristirahat untuk menyantap makanan, kemudian bersama pulang. “Makanan akan terlalu dingin kalau dibawa sejak pagi,” kata mereka.

Begitulah hidup berjalan hari ke hari di perladangan kopi. Hiburan yang murah hanyalah televisi. Tentu saja antena biasa tak bisa menangkap siaran. Mereka harus membeli antena parabola dari kota. Listrik tak ada. Jalan satu-satunya mereka harus pula membeli seperangkat genset. Dan….. solarnya harus pula beli di kota. Padahal transportasi amatlah langka dan mahal. Keperluasn hidup menjadi mahal, dan lagi-lagi mereka harus terjerat tengkulak.

Menyambut kabut di Ranau

Danau Ranau

Danau Ranau

Kali ini saya ingin meneruskan perjalanan ke Ranau, danau terbesar kedua sesudah Toba di Sumatera Utara. Danau ini terbelah dalam dua wilayah yitu Provinsi Lampung dan Provinsi Sumatera Selatan. Pintu masuk kawasan wisata ada di dua kawasan tersebut. Saya sendiri terus melaju, memasuki kawasan Kepahyang (Ogan Komering Ulu – Sumatera Selatan) dan masuk dari sana. Dari jauh danau menghampar biru dengan latar belakang Gunung Seminung yang berasap di puncaknya.

Kawasan wisata ini belum banyak dipromosikan. Meski begitu keindahannya patut diperhitungkan. Kurangnya fasilitas yang memadai pagi pelancong, mungkin membuat tempat wisata ini terasa senyap. Wisma Pusri yang sebenarnya cukup megah terlihat kurang terawat. Padahal dari wisma ini kita bisa menikmati pemandangan Gunung Seminung di latar depan dan pegunungan Bukit Barisan di latar belakang. Di bawah anjungan, pantainya juga terlihat landai, berpasir lembut, sehingga kita bisa bermain di situ. Sayang, sampah-sampah plastik berserakan.

Dari anjungan ini kita bisa menyewa perahu untuk menuju Gunung Seminung. Hati-hati. Tawar dulu sebelum berangkat. Kalau tidak begitu di tengah perjalanan kita bisa “dipaksa” untuk membayar mahal. Ini bukan pengalaman khas di tempat ini. Banyak tempat wisata seperti ini. Pada dasarnya penduduk di sekitar danau ini cukup ramah. Perhitungkan juga makanan. Bawa bekal sendiri lebih baik. Di sekitar danau tak banyak warung makan. Kalau pun ada, harganya sering tak sebanding dengan rasanya.

Sayang saya tak bisa berlama-lama di Ranau. Sekitar pukul tiga sore awan hitam bertiup kencang dari arah Gunung Seminung. Saya masih harus mampir Liwa dan tempat –tempat lainnya, menempuh jarak lebih dari 100 kilometer lagi. Di perjalanan menuju basecamp kami di Sekincau, kami membeli sayuran, dan ketela rambat. Hasil-hasil pertanian ini banyak dijual di kios-kios di tepi jalan. Para petani membawanya dari gunung dengan mengendarai motor trail. Kebanyakan pemilik kios sekaligus pengepul hasil pertanian ini orang Batak. Tentu kita tak dapat membeli sayuran secara eceran. Harus membeli minimal satu karung plastik. Tak apa. Toh nanti di rumah bisa dibagi ke tetangga untuk oleh-oleh.

Ketika maghrib tiba, kami sudah mencapai Liwa, ibu kota Kabupaten Lampung Barat. Kami mampir sebentar di rumah kenalan. Hujan deras datang mengiring malam. Meski hujan tak berlangsung lama, bukan berarti perjalanan kami menjadi lancar. Kabut turun sangat pekat. Batas pandangan paling jauh hanya tiga atau empat meter ke depan. Padahal jalanan sangat berliku-liku dan sempit. Kami harus ekstra hati-hati.

Jam delapan malam kami tiba kembali di Sekincau. Makan, cuci muka dan tidur. Pagi berikutnya kami menuju Bandar Lampung melewati jalur pantai Barat Sumatera……..

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s