Dr. Sudaryanto, Begawan Linguistik Indonesia

 Dr. Sudaryanto begawan linguistik itu menginspirasi saya dalam hal semangat kebangkitan. Meski ia bukan penganut Katolik – ia seorang jemaat protestan yang terlihat saleh dan ugahari di mata saya –  ia menghayati ajaran klasik Benedictine : Succisa virescit — pruned, it grows again.

Bisa saja kita menjadi orang baik, taat hukum, welas asih dan sejenisnya, tetapi bukan jaminan bahwa jalan hidup akan lancar selamanya. Ibarat kata, kita sedang berjalan dengan hati-hati di trotoar pun bisa saja ditabrak pengendara mabuk. Jatuhlah kita. Tapi Dr. Sudaryanto, dosen saya itu tahu betul apa artinya jatuh dan bangkit lagi. Kreativitas, intelektulaitas dan daya hidupnya tak putus ditebas parang. Ia bangkit dengan dahsyat : tetap mengajar dan produktif menuliskan banyak buku yang memberi sumbangan besar bagi dunia linguistik Indonesia.

Sekitar enam tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang teman kuliah. Cerita ngalor ngidul, sampailah kami pada obrolan tentang dosen-dosen kami. Teman ini bercerita bahwa Pak Daryanto, demikian kami biasa memanggilnya, tidak lagi mengajar di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada. Berkonflik dengan Bapak Djoko Surjo yang waktu itu menjabat sebagai dekan, begitu katanya. Dalam hal apa mereka berkonflik, saya lupa karena tidak terlalu jelas alur cerita yang sampai kepada saya. Tapi pasti sesuatu sesuatu yang sangat serius, sebab konflik itu berhasil menyingkirkan Pak Daryanto dari Fakultas Sastra.

Masih menurut cerita teman itu, Pak Daryanto kemudian mengajar di sebuah perguruan tinggi yang tidak ternama di Klaten. Episode selanjutnya tak pernah sampai kepada saya. Beberapa hari yang lalau saya iseng mencari namanya di google. Saya bersyukur mendapati bahwa guru saya itu masih sehat, terus produktif dan tak pernah patah semangat.

Tak banyak yang saya dapati tentang hidup pribadinya (juga gambarnya). Saya mengenangnya sebagai lelaki bertubuh kecil dan kurus, berkulit gelap dan selalu berjalan tergesa. Pagi-pagi ia datang ke kampus dengan mengendari mobil mungil, sejenis mobil Mr. Bean, saya lupa mereknya. Saat tertentu ia mengajak isterinya  ke kampus untuk suatu urusan. Entahlah. Jaman itu kan, isteri PNS harus terlibat dengan kegiatan yang namanya Dharma wanita. Bertolak belakang dengan Pak Daryanto yang agak culun, isterinya ramping, tinggi dan cantik. Sesekali  Pak Daryanto naik sepeda jengki yang digowesnya cepat-cepat.

Ia tertib dan sistematis dalam mengajar tetapi bukan juga dosen yang sulit didekati. Kacamata bertangkai tebal memberi kesan serius. Sebelum kedatangannya di kelas, pegawai tata usaha memasang TOA dan menyiapkan segelas air putih di meja. Mahasiswa tak boleh datang terlambat. Ia masuk diiringi seorang asisten dosen yang selalu duduk di baris paling depan tepi kanan. Ia memasang kaus tangan warna hitam (saya tidak pernah bertanya – mungkin ia alergi kapur), mengucap salam dan mulai mengajar.

Kuliah tiga jam itu dibagi dalam dua sessi. Di tengah-tengah ia akan berhenti selama 10 menit untuk istirahat. Sang asisten akan membagi kartu presensi. Kuliah dilanjutkan, termasuk tawaran untuk sessi tanya jawab. Tapi biasanya tidak banyak mahasiswa yang bertanya. Maklumlah. Di mana-mana mahasiswa ya sama saja. Diam itu menyiratkan seribu jawaban dari sangat tahu sampai tidak tahu apa-apa. Mungkin juga karena kami waktu itu baru semester pertama, jadi kesenjangan usia dan intelektualitas dengan Pak Daryanto terasa sangat jauh.

Cara Pak Daryanto mengajar sangat mudah dimengerti. Ia selalu membagi silabus pada hari pertama perkulihian. Dan ia patuh pada jadwal yang dibuatnya sendiri. Well prepared and organized person. Satu hal saya masih saya ingat dan ajaran beliau. Ciri orang pandai dan bijaksana adalah membuat masalah rumit menjadi sederhana. Ciri orang bodoh adalah membuat masalah sederhana menjadi rumit.

Ia tentu mempraktikkan kata-kata itu. Di kala hidupnya menjadi rumit, ia bertahan dan membangun optimisme. Dua puluh tahun haknya dirampas dan pada titik tertentu ia berkata, “ Sekarang saya siap berperkara…,”  atau kata lain yang mengartikan kearifan dan ketegasan, “ di sepanjang hidup, kita tidak dapat memilih untuk tidak menyampaikan makna ke dunia sekeliling kita…”

Saya membayangkan ia mengatakan kata –kata itu dengan gayanya yang khas : energetik, lugas.…dan tampilan fisik yang lugu cenderung culun. Yup. Mari Pak ungkapkan “makna” dan kebenaran meski pahit bagi berbagai pihak (kita juga termasuk di dalamnya), sebab itulah arti sebuah integritas.♣♥♣

  ==============================================

 sudaryanto_artkl

SUDARYANTO, AKAR BUDI BAIK

— Hariadi Saptono

DI bukunya yang mutakhir ”Semiotik” (2009)—sebuah buku terjemahan mungil yang naskahnya sebenarnya sudah belasan tahun tersimpan di laci—terungkaplah anak-kunci-hati penulisnya. Dr Sudaryanto menulis dengan jitu: ”…di sepanjang hidup kita, kita tidak dapat memilih untuk tidak menyampaikan ’makna’ ke dunia sekeliling kita.”

Sejak sekitar 1999, ia memang tidak lagi mengajar di almamaternya, Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Akan tetapi, pergulatannya dengan bidang-bidang yang menjadi perhatian dan minatnya membuat Dr Sudaryanto—ilmuwan yang ke mana-mana hanya bersepeda onthel itu-—tak lenyap dari peta ilmuwan di Indonesia, khususnya kajian linguistik dan semiotika Indonesia.

Tiga bidang minatnya adalah pertama, linguistik (sintaksis, tipologi, dan semestaan bahasa, teori linguistik, metode linguistik, leksikografi bahasa Jawa/daerah, hiposemantik Jawa); kedua, semiotika (ikonisitas verbal); dan ketiga, pemrosesan direktori dan profil.

Bahkan, para mantan mahasiswa dan koleganya di ranah linguistik sangat menghormatinya sebagai perintis dan secara terbuka menyebut Sudaryanto seorang linguis-filsuf.

”Bapak itu filsuf. Bapak Sudaryanto harus disebut eyang guru,” kata salah satu alumni Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra UGM, dengan mata berkaca-kaca, saat perayaan Peringatan 60 Tahun Dr Sudaryanto, 12 September 2009 di Kampus Universitas Sanata Dharma, salah satu dari belasan universitas di Indonesia di mana Sudaryanto menjadi dosen pembimbing program pascasarjana.

”Anak-kunci-hati” hidup Sudaryanto terungkap kembali saat ia memberi sambutan setelah seminar dan pembahasan buku kado bagi Sudaryanto berjudul Peneroka Hakikat Bahasa, Karangan Muhibah untuk Sudaryanto, terbitan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bekerja sama dengan Universitas Widya Dharma Klaten, Jawa Tengah.

Sudaryanto mengemukakan, ilmuwan kita rakus mengimpor teori asing dan tidak pernah mencipta teori sendiri. Padahal di Inggris, di Perancis, teman-teman ilmuwan mendialogkan kajian-kajian mereka dan mereka saling menghargai temuan mereka. Dialog jadi penting jika kita menemukan isu-isu besar. ”Apa tidak mungkin di Indonesia dikobar-kobarkan isu-isu besar. Ya, tetapi ini hanya bisa dipahami untuk orang yang punya jiwa filosofis,” kata Sudaryanto menyebut dua figur filsuf (alm) Prof Dr Driyarkara dan (alm) Prof Dr Sudjatmoko.

Di rumahnya, Perumahan Jombor Baru, Mlati Sleman, ia mengungkapkan tali-temali filosofi hidup dan rentetan peristiwa mengenaskan yang menimpa diri dan kariernya sebagai ilmuwan yang disia-siakan.

Tali-temali persoalan yang dia ungkapkan mendadak mirip gaya Sudaryanto mengelola rumah dan perabot rumahnya. Tanaman sulur-suluran dibiarkan merambat dan menjulur di langit-langit ruang tamu. Di antara sulur tanaman itu anggota keluarganya bahkan menggantungkan bonekaboneka monyet…. Di ruang tamu itu pula foto hitam-putih Sudaryanto dan istrinya (yang cantik) dalam ukuran sekitar 120 X 90 sentimeter dipajang sebagai hiasan dinding utama.

”Sekarang, saya siap berperkara dan selama ini sebagai pegawai negeri sipil (PNS) tidak pernah menerima gaji,” kata dia.

Sudaryanto sebenarnya lebih siap untuk dua hal esensial: mengarungi bidang ilmu kecintaannya dan filosofinya; serta sewaktu-waktu bila diperlukan berperkara di pengadilan untuk menuntut keadilan.

Setelah karier dan hak hidupnya dirampas sejak peristiwa tahun 1992, hampir 20 tahun ia menahan diri terhadap perlakuan atasannya di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Itu bermula dari penundaan penerimaan gelar profesor tahun 1992, yang ditunda secara lisan hingga 1993, tetapi terus berlarut tanpa penjelasan resmi, kecuali pernyataan dirinya dianggap tidak loyal meskipun nilainya sebagai PNS memadai. Ia secara perlahan kemudian disingkirkan ketika ia dan istrinya pada Maret 1999 ditolak untuk mengambil haknya, gaji yang sudah terlambat dibayarkan.

Sekarang, ia lebih melihat peran dirinya sebagai ilmuwan yang berusaha mempertahankan argumentasi orisinal. ”Ini penting saya tekankan karena linguis kita berusaha keras menerapkan teori-teori yang ada karena dianggap ampuh meskipun mereka kadang ragu karena datanya tidak cocok. Pada saat teori ampuh dan data valid dibenturkan, ilmuwan kita bingung.”

Itu sebabnya ia menganjurkan lebih baik mundur lebih dulu untuk memperbanyak data, lalu dipikirkan sendiri, lalu dibuat hipotetis sendiri. Yang tak kalah penting, ilmuwan kita tidak biasa mendalami latar belakang sebuah teori. ”Jadi, seperti pernyataan Bambang Kaswanti itu. Itu sebabnya adalah komplikasi jiwa yang minder,” kata Sudaryanto.

Prof Dr Bambang Kaswanti Purwo adalah kolega Sudaryanto, linguis dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta. Ia menilai, kekuatan Sudaryanto adalah pada kemampuan mencari data secara cepat, dan menyusunnya menjadi metode linguistik. ”Pak Dar bahkan membuang waktunya untuk membantu linguis muda meneliti,” kata Kaswanti.

Ucapan Sudaryanto yang sering kali muncul juga dikutip pada buku Peneroka Hakikat Bahasa, Karangan Muhibah untuk Sudaryanto adalah ”Orang yang dapat memberi hanyalah orang yang memiliki. Bila seorang linguis tak memiliki pengetahuan yang meyakinkan mengenai bahasa, lalu apa yang dapat diberikannya kepada ilmuwan lain?

Namun, meskipun ia sungguh-sungguh orang Jawa, ia tahu persis dunia ilmiah tidak seperti pergaulan atau adat-istiadat Jawa. ”Jaga rasa, tepa selira, itu tidak ada dalam dunia ilmiah. Oleh karena itu, kalau pendapat saya salah, saya sangat siap mendapat masukan dan kritik. Begitu pula sebaliknya, saya tidak akan sungkan mengkritik senior saya atau ilmuwan sepuh jika argumen saya lebih benar. Karena itu dunia ilmiah dan dunia akademis mestinya dunia paling demokratis: ada argumen, sanggahan harus didukung data, berani mengakui kekeliruan.

Sudaryanto dalam pergulatannya merumuskan, abad ke-21 adalah abad hanya bagi umat manusia bermutu. Jadi, yang tidak bermutu akan tersingkir. Abad ini diperuntukkan bagi dua pihak, yaitu pertama, guru dan dosen, dan kedua, para ilmuwan aneka semiotika dan para kreator aneka tanda. ”Tetapi, kita tahu kan, ternyata guru dan dosen kita martabatnya sangat rendah. Masih tergoda dan terkecoh,”

Sedangkan ilmuwan aneka semiotika dan para kreator aneka tanda adalah mereka yang tak pernah menjadi epigon (peniru).

”Ada lima kreator—dan ini tidak berurutan secara berjenjang, yaitu seniman karena karya-karyanya yang menyentuh; ilmuwan yang berperan penemuan; kalangan patiman (yaitu orang- orang yang memberikan simpati untuk menggerakkan orang) seperti pengusaha; filsuf, makhluk yang serba bebas dan gagasannya menyeluruh serta mendasar. Kreator terakhir adalah wartawan: kerja kreatif mereka yang menyajikan kebenaran dengan sudut pandang berbeda-beda menempatkan wartawan sebagai pekerjaan kreatif.

Sulur-sulur pohon di ruang tamu Sudaryanto kini menjulur bersama akar-akar budi baiknya yang selalu menopang moril dan watak para linguis muda dan koleganya…

Sumber: Kompas, Minggu, 20 Desember 2009

 http://cabiklunik.blogspot.com/2009/12/persona-sudaryanto-akar-budi-baik.html

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s