Tragedi Mei 1998

BERTARUNG MELAWAN LUPA (I)

PENCULIKAN AKTIVIS: 15 Tahun, Penyair Wiji Thukul Tak Kunjung Kembali

Minggu depan, usia reformasi mencapai 15 tahun. Sayangnya, hingga kini sebagian dari mereka yang diculik oleh rezim Orde Baru belum kembali.

Arif Zulkifli, redaktur majalah Tempo, bercerita tentang salah satu kisah aktivis penyair Wiji Thukul yang belum jelas keberadaannya hingga sekarang. Lewat akun @arifz_tempo, Arif mengisahkan gelapnya keberadaan penyair asal Solo, Jawa Tengah itu. Berikut ringkasannya.

Wiji Thukul

“Ia penyair cadel, tak sempurna melafazkan R. Tapi sajak-sajaknya membuat gentar Orba. Satu larik yang terkenal: hanya satu kata, lawan! #wiji,” tulis @arifz_tempo.

Wiji hilang sekitar Mei 1998. Nezar Patria, salah satu korban bercerita, ketika disiksa di Kopassus Maret 1998 ia berkali-kali ditanya tentang Wiji. Kamu kenal Thukul? Di mana dia? Nezar bungkam, lalu ia dihujani bogem.
Nezar diikat di tempat tidur besi. Tangannya diborgol, kakinya dibebat kabel. Berkali-kali ia disetrum. “Dalam hati aku bertanya, apakah mereka sedang mencari Thukul atau sudah menemukannya,” kata Nezar.

Cerita yang sama juga diperoleh Tempo dari korban penculikan yang lain. Mereka didesak untuk mengatakan keberadaan Wiji. Hilangnya Wiji terlambat disadari. Setelah Soeharto jatuh, dia tetap raib. Keluarga Thukul kira dia dilindungi Partai Rakyat Demokrat (PRD). Sedangkan PRD menyangka dia disembunyikan keluarga. Adalah Jaap Erkelens yangg pertama kali menyadari hilangnya Wiji. Jaap, peneliti Belanda dan kawan akrab Wiji, menulis surat pembaca di Kompas, menanyakan keberadaan sang penyair.

Ada tanggapan yang sebut Wiji aman tinggal di Depok dan perlu bantuan. Tapi ketika ditelusuri, alamat yg diberikan palsu,” tulis Arif.

Keluarga Wiji lalu secara resmi melapor ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Ikatan korban penculikan juga melakukan investigasi.

Pernah Telepon Istrinya

Sejumlah sumber pastikan Wiji masih hidup setelah Mei 1998. Adapun penculikan aktivis lain terjadi sekitar Maret. Sipon, istri Wiji mengaku menerima telepon dari Thukul pertengahan Mei 1998.

“Aku ora neng endi-endi, ora melu ngono-ngono kuwi [Aku tidak ke mana-mana, tidak ikut-ikut yang seperti itu,-red],” kata Wiji kepada istrinya perihal kerusuhan Mei.

Selain Sipon, yang juga ditelepon adalah Cempe Lawu Warta, guru teater Wiji di Solo. “Saya yakin itu dia karena bicaranya pelo,” kata Cempe.

Budiman Sujatmiko mengaku diberi kabar oleh seseorang yang melihat Wiji pada hari kerusuhan. Sejarawan Hilmar Farid bahkan mengaku bertemu Wiji pada Juli 1998.
Anggota Dewan Pers, Stanley Yoseph Adi bersua Wiji antara Juni-Juli 1998. “Kami bertemu di warung bubur dekat Utan Kayu,” kata Stanley. Saya tanya kabarnya, dia jawab baik. Saya berikan dia pager yang dibelikan Goenawan Mohamad, kata Stanley soal Wiji.

Aktivis PRD, Margiyono, yang mengantar Stanley menemui Wiji mengoreksi tahun pertemuan, bukan 1998 tapi 1997.

Nezar meyakini Wiji sudah tamat sejak 1997. Tapi siapa yang menghabisi Wiji? Muncul beberapa spekulasi.
Pertama, dia diculik Tim Mawar Kopassus lalu mati dibunuh. Tapi pelaku penculikan dalam sidang mengatakan Tim Mawar hanya menculik 9 korban yang kini masih hidup. Kedua, ada operasi lain bersamaan dengan Tim Mawar. Wiji tewas dalam operasi tim ini. Aktivis PRD curiga ada tim di dalam tim.

Cerita tentang tim penculik lain muncul dalam penangkapan Mugi, seorang anggota PRD. Ketika digrebek di rumah susun Klender, ia digelandang ke Kodim Jaktim. Bersama Mugi turut ditangkap juga seorang bernama Jaka. Jaka menghiba-hiba minta dibebaskan karena bukan siapa-siapa. Mugi kira Jaka korban salah tangkap. Di kantor Kodim muncul pria tegap berbaju batik menumpang BMW. Ia memaksa Kodim membebaskan Mugi dan Jaka, namun permintaan itu ditolak. Kemudian pria itu menghardik, “Kamu masih hormati saya nggak!”.
Penculik gemetar. Permintaan dituruti. Mugi dan Jaka dibebaskan, tapi cuma sebentar. Mugi dipindah ke mobil Kijang, matanya ditutup. Jaka entah ke mana. Alih-alih dibebaskan, Mugi dibawa ke markas Kopassus. Seperti yang lain ia disiksa.
Siapa lelaki berbatik? Siapa Jaka? Belakangan diketahui Jaka adalah salah seorang anggota Tim Mawar. Seperti yang lain ia dihukum pengadilan militer. Lelaki berbatik tak jelas diketahui identitasnya sampai sekarang.

Menurut salah seorang pensiunan jenderal, penculikan aktivis merupakan bagian dari operasi Mantap Jaya untuk amankan Sidang Umum MPR. Operasi ini dilaporkan kepada panglima TNI dan Soeharto. Sampai di sini, spekulasi ada tim penculik lain tak bisa diabaikan. Perihal operasi Tim Mawar diceritakan seorang bekas petinggi pasukan khusus TNI. Semua target diawasi dengan seksama sebelum diculik. Haryanto Taslam, aktivis PDI pro-mega, dikuntit hingga ke resto tempat ia biasa makan. Sang penculik menyamar sebagai bartender. Taslam tak sadar. Tak lama kemudian ia dicokok.

Salah satu tersangka kuat otak penculikan, telah mencalonkan diri untuk menjadi Presiden RI. Mengutip dari almarhum Munir, salah satu perjuangan kita adalah melawan lupa. Bangsa kita adalah bangsa pelupa. Berbagai tragedi, hadir, menyedot perhatian, tapi setelahnya, berganti dengan tragedi-tragedi lain atau hiruk-pikuk kemeriahan, sehingga yang sudah terjadi, terlewat dan terabaikan kembali. Menolak LUPA pada korban-korban, aktivis yang “menghilang” untuk tetap diusut kasusnya. Menolak LUPA pada kesalahan-kesalahan pemimpin masa lalu untuk dijadikan perbaikan pemimpin masa depan.

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4907594453493&set=a.1343273347693.2044056.1407007909&type=1&theater

 

4 thoughts on “Tragedi Mei 1998

  1. Kasus penculikan ini menyeret 11 anggota tim mawar ke pengadilan Mahmilti II pada bulan April 1999 . Saat itu Mahmilti II Jakarta yang diketuai Kolonel CHK Susanto memutus perkara nomor PUT.25-16/K-AD/MMT-II/IV/1999 yang memvonis Mayor Inf Bambang Kristiono (Komandan Tim Mawar) 22 bulan penjara dan memecatnya sebagai anggota TNI. Pengadilan juga memvonis Kapten Inf Fausani Syahrial (FS) Multhazar (Wakil Komandan Tim Mawar), Kapten Inf Nugroho Sulistiyo Budi, Kapten Inf Yulius Selvanus dan Kapten Inf Untung Budi Harto, masing-masing 20 bulan penjara dan memecat mereka sebagai anggota TNI.

    Like

  2. pasti yang dimaksud prabowo ya? hahaha… saya mengerti juga sih kalau ada yang enggan pilih dia karena kesalahan di masa lalunya. tapi yah, sampai saat ini masalah ini kan belum jelas siapa yang salah dan kronologi sebenarnya, jadi mau tuding prabowo pun harus pakai bukti kan? mana buktinya? hahaha…

    aku bukan pro prabowo, bukan bela siapapun, tapi emang tertarik juga sama kisah ini dan mencoba berpikir objektif.

    Like

    • Here they come : panasbung ! Kalau Anda tidak bebal dan tidak asal njeplak tentu anda bisa membaca banyak bukti. Bahkan Prabowo pun mengaku menculik para aktivis tersebut di depan DKP. baca lagi secara teliti. Kita sebagai warga negara berhak mendesak kepada pemerintah untuk membuka lagi kasus ini secara transparan.

      Like

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s