Say with Orchid

This slideshow requires JavaScript.

Akhir Maret lalu saya mengikuti rapat kerja di daerah Citeko selama beberapa hari. Suatu pagi, tuan rumah saya yang juga benefactor aktivitas yang saya tekuni, menawarkan siapa di antara kami yang ingin berjalan-jalan ke  kebun anggrek. Buru-buru saya mendaftar.

Bayangan saya, tentu menarik di alam pegunungan begini melihat-lihat kebun anggrek yang mahaluas milik seorang konglemerat kondang negeri ini. Boleh dong foto-foto di hamparan ungunya  angrrek dan putihnya kabut.

Di pintu gerbang besi seorang satpam membukakan pintu. Tak ada tanda-tanda ada perkebunan luas di sana, kecuali jalan aspal sempit yang terus menanjak. Mobil yang kami tumpangi terus melaju, mengantarkan kami ke dua bangunan besar di hamparan yang ditanami jambu biji dan sebagian lainnya dibiarkan kosong.

Lho, mana pohon angrreknya ? Oh… ternyata saya salah. Hahaha…. ini sebuah rumah kaca untuk penangkaran anggrek dengan sistem pengembangan jaringan kultur ( semoga tidak salah ya saya nulisnya…). Seorang lelaki menyambut kami di runag tamu gedung utama. Gedung terlihat lengang, tak banyak pegawai ditampung ini. Segalanya telah diatur dengan teknologi yang efisien. Ia mempersilahkan kami mengganti sepatu kami dengan sandal karet yang sudah disiapkan di muka pintu.

Di gedung pertama ini kami melihat bagaimana pembibitan anggrek dengan pengembangan jaringan kultur. Waduh…maafkan saya tidak bisa mengingat bagaimana langkah-langkahnya. Maklum narsis, malah sibuk foto sana-sini. Ini pun benar-benar saya beruntung. Coba kalau tidak masuk ke gedung ini bersama pemiliknya, tak mungkinlah saya boleh foto-foto macam begini.

Intinya: dengan sistem jaringan kultur segala bagian tanaman anggrek bisa dijadikan benih ; daun, potongan batang, akar, dsb.  Memang butuh waktu lama untuk menghasilkan tanaman anggrek yang unggul. Bayangkan saja, dari butir benih sampai menjadi kecambah yang berukuran 2 cm dibutuhkan waktu satu tahun. Benih-benih ini dimasukkan dalam tabung kaca selama beberapa waktu, dan setelah menjadi tanaman anggrek dalam ukuran tinggi tertentu dipindahkan ke gedung kedua.

Di gedung kedua ini saya akan  menyaksikan kecantikan angrrek. Gedung besar ini disetel dengan suhu yang jauh lebih hangat di banding gedung pertama tadi. Rasanya seperti masuk ke ruang sauna, gobyos. Di dinding terdapat blower (kipas angin) raksasa untuk mengatur perputaran udara. Tapi tetap saja tak dapat menghalau keringat yang mulai mengucur.  Bermacam-macam anggrek ada di sini. Pada salah satu dinding ditempel dua poster besar berisi gambar dan nama jenis angrrek. Tapi saya sih lewat sajalah, yang begini pasti tak akan menempel di kepala saya.

Pangsa pasar anggrek cukup luas, hotel, perusahaan, perorangan dsb. Bahkan orang bisa berlangganan dengan sistem kontrak atau sewa. Setiap periode tertentu diantar bunga-bunga yang baru. Bunga-bunga yang sudah layu ditarik kembali  ke produsennya. Nah di gedung ini pula, bunga-bungan yang sudah kedaluwarsa di daur ulang. Bagian-bagia tanaman ini dipisah-pisahkan untuk kemudian dibuat menjadi benih kembali. Tentu saja lewat sistem kultur jaringan lagi, seperti tadi kami saksikan di gedung pertama.

Sepulang dari kebun (eh… green house anggrek), saya merenung sendiri. Saya  mengingat satu keterangan mas yang memandu kami, bahwa Taiwan adalah negara yang sangat berhasil mengembangkan sistem jaringan kultur untuk tanaman anggrek. Indonesia boleh mendaku sebagai negara yang paling kaya dengan berbagai jenis anggrek, tapi tanpa pengembangan teknologi modern yang mendukungnya ya lagi-lagi kita akan menjadi konsumen penonton saja. (ya maklumlah… kita ini kan negara agama bukan negara agraris…).

Saya juga ingat ke masa yang jauh lampau. Waktu kecil dulu saya punya seorang sahabat yang ibunya adalah pengusaha kebun bunga. Angrrek adalah tanaman yang dominan di kebunnya. IIbunya menerima pesanan rangkaian bunga sebagai ucapan selamat atau dukacita. Pelanggannya para pejabat dan penggede di kota kami. Rangkian itu benar-benar dari bunga asli, bukan bunga plastik atau kertas seperti sekarang. Harganya disesuaikan ukuran dan jenis bunga yang diminta.

Rumah besar teman saya itu terletak di tengah hamparan kebun anggrek (dan beberapa jenis bunga yang lain), pohon buah-buahan,  kolam ikan dan sungai kecil yang selalu meluap bila musim penghujan mencapai puncaknya. Di situ kami naik rakit yang terbuat dari rangkaian gedebog pisang, memancing di kolam, dan bermain petak umpet di sela anggrek. Ah, melodiusnya hidup. Tapi teman saya ini tak meneruskan bakat wirausaha ibunya. Ia lebih suka jadi priyayi yang makan gaji. Sayang sih. Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia kebun itu menjadi hamparan tanah bongkor. Rumah besar itu kehilangan seri dari seminya anggrek.

Tapi sekali lagi sebuah permenungan masuk di kepala saya. Tuntutan jaman menghendaki kita untuk terus berpacu dengan teknologi. Tanpa teknologi kita akan terpuruk di belakang. Ya, pengusaha tanaman bunga tradisional pasti tak mampu bersaing dengan konglomerat. Mereka akan kalah dalam segala hal : modal, tekonologi, jaringan pemasaran, dll. Kecuali, tentu saja pemerintah kita ini kembali ke kithah: kita adalah negara agraris, kita adalah negara pemilik laut terluas di dunia, sehingga teknologi di kedua bidang ini dikembangkan dengan masif dan intensif. Lantas dengan bangga kita berucap bahwa kita adalah bangsa keturunan petani yang gigih mengolah tanah dan bangsa keturunan pelaut (dan mungkin perompak hahaha…) yang gagah menguasai lautan belahan selatan bumi ini.

2 thoughts on “Say with Orchid

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s