Antre Dong !!

antri

Suatu  siang di bandara LCCT Kuala Lumpur. Saya terpaku  bingung, di ujung antrian penumpang yang hendak check in menuju Palembang. Ada tiga larik barisan di depan counter. Bengkok-bengkok pula barisan itu. Larik mana yang harus saya ikuti ? Seolah-olah setiap orang tak sabar ingin menyalib orang di depannya.

Dekat dari situ ada pula larik antrean menuju Padang dan Jakarta. Keadaannya sama  saja. Kondisi ini berbeda dengan barisan penumpang yang hendak check in menuju kota-kota lain di luar Indonesia.  Barisan mereka lebih tertib. Satu larikan panjang, lurus, setia mendorong kereta barang atau menyeret koper masing-masing tanpa selangkah pun ingin menyerebot orang di depannya. .

Mungkin begitulah gambaran umum kita. Saya malu menjadi orang Indonesia. Susah sekali  kita ini mengatur diri sendiri dan menghormati hak-hak orang lain di ranah publik. Patuh pada kebiasaan antri dengan tertib merupakan salah satu penanda kecil apakah sebuah masyarakat itu mempunyai tertib diri (baca : civilized) atau tidak. Supaya bisa antri dengan tertib, kita  harus dipelototi oleh satpam.

Dalam hidup keseharian, sangat sering saya menyaksikan (dan menjadi korban…) orang-orang yang tidak mau bersusah payah mengantri untuk suatu urusan. Mereka menyerebot hak orang lain, dengan cara kasar atau halus. Cara halus misalnya, dalam antrian ke dokter, mereka akan minta ijin orang lain untuk masuk lebih dahulu. Alasan klasik yang digunakan, sakitnya lebiha parah dan mendesak. Padahal mungkin orang tidak melihat tanda-tanda yang mendukung alibinya.

Di mal atau toko, sangat sering saya bertemu orang semacam ini. Dandanan boleh rapi dengan bau harus sememerbak menandakan mereka golongan atas secara ekonomi. Tapi mentalnya tetap saja norak  tak beradab.  Ada yang sangat kasar memotong barisan tepat di muka kasir. Orang-orang yang diserobot merasa dongkol, tapi biasanya mereka juga tetap menjaga “peradaban”  dengan tidak bertengkar di depan umum. Saya kadang nyeletuk “ Yang lain antri lho bu, “ dengan pasang muka masam.

Lain waktu di mal, seorang ibu di belakang saya berkata, “Maaf, saya duluan ya, saya cuma beli ini saja. “  Tanpa rasa bersalah ia langsung menyelipkan tubuhnya di muka saya. Biasanya saya menjawab, “ Belanjaan saya juga tidak banyak Bu, tapi saya dan yang lain ini tetap antri.” Cara lain yang persuasive tapi intinya tetap tak mau antri adalah dengan menitipkan belanjaannya pada saya. “Bu, tolong saya titip belanjaan ini. Uangnya saya ganti,” Saya gantian menjawab, ” Kok ribet amat sih Bu. Antri sajalah.”

Antri rupanya menjadi masalah berat bagi sebagian masyarakat. Mereka menuntut privilege untuk tidak menjalankan kewajibannya. Mereka merasa harus diistimewakan meski dengan alasan yang tidak masuk akal. Kalau kita keluar kandang, tak usahlah jau-jauh, ke tetangga negara terdekat misalnya, kita akan melihat ketertiban sebagai sesuatu yang sudah membudaya di masyarakat. Membawa kebiasaan buruk di Negara sendiri, membuat kita terlihat udik dan tidak civilized.

Tapi itulah yang terjadi. Penerapan etiket dalam keluarga, masyakarat dan sekolah meluntur atau bahkan terkikis. Pengamatan saya (sekalai lagi ini pengamatan lho bukan penelitian…) orang sekarang menjadi lebih  agamis yang  terkesan formal dan simbolis, yang bisa jadi malah kurang pendalaman pada sisi spiritualitasnya.  Apakah kita nanti puas dan bangga disebut sebagai bangsa yang agamis tapi tak punya adab kesantunan yang sifatnya lebih universal ?

Saya ingin menjawab TIDAK. Ya, kita tidak ingin terlindas. Jadi, mari mendidik diri sendiri dan menyuarakan lebih kencang lagi peri hidup berkeadaban.

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s