Myanmar, Rohingya

SAHABAT-SAHABAT MYANMAR SAYA

Saya mempunyai sejumlah sahabat Myanmar. Pada umumnya mereka adalah orang-orang yang berkarakter sederhana, santun dan penolong. Ketika sebagian orang Indonesia dibakar kegeraman karena etnis Rohingya teraniaya, dan menjadikan hal itu sebagai alasan untuk menyerang vihara Buddha, saya teringat mereka. Ketika pada tahun 2007 pemerintahan junta militer secara brutal menindas gelombang protes rakyat Myanmar, apakah kita menganggap itu sebagai penindasan atas agama ? Saat itu saya teringat para sahabat Myanmar saya. Apa kabar mereka ?

This slideshow requires JavaScript.

Ketika tinggal di salah satu asrama di dalam kampus Ateneo saya mempunyai sejumlah teman Myanmar. Mungkin antara tahun 2005 – 2007 itu Myanmar menjadi kawasan yang banyak dilirik oleh lembaga dana internasional, sehingga temen-teman ini mudah mendapat beasiswa. Kebanyakan mereka berasal dari suku Karen dan Kachin meski beberapa di antaranya juga dari suku mayoritas Burmese. Mata mereka agak sipit dan kulit kecoklatan. Konon menurut sejarahnya dulu nenek moyang mereka berasal dari Tibet, jadi ciri fisik itu masih melekat sampai sekarang.

Kesan saya secara umum mereka adalah orang-orang sederhana dan santun. Mereka tidak heboh seperti teman-teman India saya, yang suka benar runtang-runtung bepergian ramai-ramai, masak di dapur umum asrama, ngomong dengan volume keras dan overconfidence dalam diskusi atau dalam atraksi malam kesenian. Yang laki-laki di luar kelas mereka suka menggunakan sarung. Yang perempuan di kelas pun mereka sering menggunakan sarung dan blus sederhana di bagian atas, seperti biasa dikenakan Aung San Suu Kyii.

Mereka berbicara dengan volume suara pelan. Rata-rata bahasa Inggris mereka lebih baik dari orang Indonesia pada umumnya. Kata teman  saya, seorang missionaris Indonesia yang lama bertugas di sana,  hal ini terjadi karena pemerintah junta militer tidak mengijinkan bahasa nasional mereka digunakan dalam liturgi peribadatan. Akibatnya hanya kotbah saja yang menggunakan bahasa Myanmar. Dengan begitu mereka memaksa diri belajar bahasa Inggris, bahasa mantan penjajah mereka.

Pemerintahan junta militer Myamar memang sangat opresif terhadap rakyatnya, apalagi terhadap etnis non-Burmese yang mempunyai sejarah perlawanan yang panjang. Bayangkan saja, para pertengahan tahun 2000-an itu, kata mereka, kalau pulang ke negaranya handpone saja tidak diperbolehkan untuk digunakan. Mungkin pemerimtahan diktator militer jenderal Tein Sein takut alat-alat modern itu dipakai untuk menggalang kekuatan melawan pemerintah.

Seorang sahabat bercerita bagaimana dia, saat itu sebagai seorang anak usia 10 tahun menderita depresi dan trauma berkepanjangan karena meilhat ayahnya disiksa dan dibunuh di depan matanya oleh angkatan bersenjata. Permasalahnnya karena ayahnya memberi makan orang-orang tak dikenal yang oleh militer diduga sebagai pejuang etnis tertentu. Lama kemudian baru ia bisa sembuh dari trauma itu.

Saya pikir ia memang benar telah sembuh dari rasa sakit itu. Karakter pendendam tak ada pada dirinya. Seperti teman-teman Myanmar yang lain, ia santun dan pelan dalam berbicara serta sederhana dalam tingkah laku sehari-hari. Tentang kesederhanaan ini, ada cerita tentang teman Myanmar yang lain. Panggilannya Gigi, nama aslinya Lum Dau. Dari kampungnya ia datang membawa seperangkat alat cukur. Sebenarnya hanya untuk keperluan sendiri. Tapi teman-teman tahu keterampilan khusus si Gigi. Maka Gigi  teman-teman selalu saja antre mengganggu istirahat siang si Gigi. Gigi hampir tak dapat mengatakan “tidak” pada orang-orang yang minta pertolongannya.

Mungkin karakter macam begini biasa dimiliki oleh banyak orang di tempat asalnya. Mungkin mayoritas mereka memang kaum Buddhis yang baik. Gigi berprofesi sebagai pastor bagi kaum minoritas dan sporadis di tengah mayoritas penganut Buddha. Ia bercerita untuk mengunjungi umatnya di gunung ia biasa membawa bahan makanan sendiri, berjalan kaki beberapa hari karena sarana transportasi tak ada. Saat bepergian ia meletakkan bahan makanan di gubuk-gubuk perhentian untuk dimasak dalam perjalanan pulang nantinya. Katanya, walau sampai sebulan bahan makanan itu diletakkan dalam gubuk yang tak terkunci, tak pernah sekali pun ia pernah kehilangan. Cerita Gigi ini diamini oleh sahabat Indonesia saya yang lama bekerja di Myanmar.

Mendengar cerita teman-teman Myanmar saya tentang hidup keseharian mereka di kampung halamannya sulit saya membayangkan bahwa telah terjadi konflik horisontal yang sistematis di Myanmar. Apalagi konflik antarpenganut agama. Bahwa pemerintahan junta militer Jenderal Tein Sein sangat menindas saya dapat menyakininya. (Kita ingat bagaimana Indonesia dulu di bawah pemerintahan Suharto? Kami dulu sebagai mahasiswa UGM, kalau mau mengadakan diskusi politik harus  sembunyi-sembunyi sebab mata-mata ada di mana-mana).

Konflik sosial bisa terjadi di mana-mana. Dalam negara yang multietnis akar permasalahannya bisa sangat beragam, rumit dan terkait dengan kesejarahannya. Alangkah naifnya jika orang selalu mengaitkan semua konflik sosial sebagai pertentangan agama. Mari kita berpendapat dan bertindak berdasar pemikiran yang logis, dilengkapi bacaan yang  komprehensif  dan menyatakannya secara santun. Tanpa itu semua  pendapat Karl Marx bahwa agama hanya akan menjadi candu bagi masyarakat akan menjadi sebuah kebenaran.

“The difference between genius and stupidity is; genius has its limits.”
― Albert Einstein

Related posts :

http://id.wikipedia.org/wiki/Myanmar

http://nasional.kompas.com/read/2012/08/03/02074663/Dilema.Rohingya.dan.Demokrasi.Myanmar

http://mnnonline.org/article/15161

http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1874981,00.html

http://www.zomilibrary.com/main/archive/files/ethnic-groups-in-burma-by-martin-smith_f37300a30d.pdf

2 thoughts on “Myanmar, Rohingya

    • Ya Dasa, saya setuju dengan refleksimu. Menurut salah satu dosen perbandingan agama UIN Jakart5a, Kautzar Azhari Noer, agama pada dasarnya berusaha mengembangkan kesalehan pribadi. Dengan agama orang akan memperbaiki perilakunya terhadap sesama dan mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi dalam perkembangannya kita lihat agama menjadi sistem sosial dan alat membela diri tehadap kelompok lain. Binatang menjadi buas karena instink tapi ini bisa diprediksi, beranalogi pada adagium Einstein di atas, rupanya kebuasan plus keserakahan manusia nyaris tak berbatas….

      Like

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s