Pierre, Selebritas dan Bintang Jatuh

Kenangan pada Pierre Babin, guruku (1925 – 2012)

Bintang-bintang di angkasa, selebritas dalam tayangan media, satu hal menyamakan mereka di mata saya. Jauh dan tak tersentuh. Pierre adalah bintang, Pierre adalah selebritas. Namanya berkibar dan disebut dengan hormat oleh para tokoh di jagat media dan komunikasi sosial Katolik.  

This slideshow requires JavaScript.

Waktu saya kanak-kanak, setiap kali ada bintang jatuh saya mengucapkan sebuah permohonan. Begitu yang diajarkan oleh orang-orang di sekitar saya. Sulit dinalar memang, tapi sampai sekarang setiap setiap kali melihat meteorit.. ya bintang jatuh, diam-diam saya mengucap sebuah permohonan. Sebuah doa yang tidak menuntut, mungkin begitu. Syukur terkabul, bila tidak ya tidak mengapa.

Begitulah. Suatu saat saya mengucap harap ingin pergi ke Eropa. Alasannya sangat dangkal. Ingin melihat salju, dan sinterklas yang meluncur dengan keretanya.  Lalu saat akil balik:  ingin melihat daunan luruh di musim gugur, ingin berdiri di atas Seine sambil membaca puisi Sitor Situmorang yang waktu saya SMP puisi-puisinya menghipnotis saya.

Tapi betul. The power of dream, kata iklan. Saya ke Eropa. Melihat semua yang saya mimpikan bahkan lebih dari itu :  menangkap getaran bintang jatuh yang bekelebat dalam hidup saya. Ya Pierre adalah meteorit. Nama besarnya bukan lagi saya dengar, tapi sosoknya begitu dekat, begitu touchable, accessable and available. Awal dekade 2000, saat usianya mendekati angka 80 ia tak terlihat rapuh. Ia cukup tahu diri untuk tidak lagi menjadi direktur Crec Avex, lembaga yang didirikannya tahun 1970. Ia cukup menjadi kepala departemen riset dan sesekali mengajar di kelas.

Mestinya saya bisa banyak belajar dari Pierre. Kebesaran namanya – ia disebut sebagai a giant in catholic communication oleh situs resmi kuria romana- , pengalamannya, tak membuatnya jaim. Ia tetap sederhana dan tak sok sibuk. Sayangnya,  saya tidak banyak memanfaatkan peluang itu. Sesuatu yang saya sesali seumur hidup saya. Ada beberapa alasan atau tepatnya pembelaan diri tentang hal ini.

Pertama, saya hanyalah anak kampung. Hinggap di benua Eropa membuat saya gagap budaya. Banyak hal yang tak saya pahami. Cara hidup orang, logat bahasa dari berbagai bangsa, perubahan cuaca. Saya sibuk dengan diri sendiri. Segala pelajaran di kelas saya telan- telan saja. Saya pahami secara hurufiah, tapi tak punya banyak waktu untuk mendalami dan merefleksi. Kedua, saya tak “kenal”  dengan mendalam siapa itu Pierre dan bagaimana kiprah Crec dalam jagat media komunikasi Katolik. Pengetahuan saya dengan keduanya justru terjadi ketika saya sudah meninggalkan Crec. Apa boleh buat.

Toh dalam keterbatasan pengetahuan saya, saya bisa merasakan kebesaran Pierre. Tapi ia seperti tak pernah merasa bahwa ia adalah “tokoh.” Setiap saat ia datang ke kampus Crec, kami biasa bercanda. Ia cuma seperti kakek sebelah rumah, setiap kali orang bisa datang bermanja-manja.

Sesekali ia mengajar di kelas. Symbolic way, yang merupakan “benchmark” Crec dan ajaran Pierre, kadang tak mudah saya tangkap dasar filosofinya. Tetapi saya selalu asyik mengerjakan praktik kelas symbolic way. Misalnya suatu saat ia meminta kami membuat foto-foto dan memadukannya dengan musik dalam sebuah slide. Slide itu merupakan simbol apa yang kami rasakan atau pikirkan tentang keadaan, situasi atau objek tertentu. Saya memilih musik yang familiar di telinga saya.

Ketika siap saya perdengarkan itu pada Pierre. Ia menyarankan saya untuk melakukan beberapa perbaikan sehingga slide saya tidak saja mewakili perasaan saya secara personal tetapi bisa menyimbolkan sesuatu yang lebih univesal. “Ganti musiknya dengan musik yang lebih bernuansa spiritual, musikmu terlalu oriental,” sarannya. Ketika saya tanyakan musik “spiritual” itu yang macam apa, ia menjawab, “i will show you, i will show you.”

Ia lantas berjalan menuju perpustakaan di mana banyak tersedia kaset dan CD musik. Ia keluar lagi dan menuju ruang kerjanya. Saya terus membuntuti. Tiba-tiba dia membalik dan bertanya mengapa saya terus mengikutinya. O la la. Pierre. Ya, sudahlah. Saya tepok jidat sendiri dan ngacir secepat-cepatnya menuju kelas sambil tertawa kecut.

Tetapi kadang kelupaannya itu sering menguntungkan sebagain dari kelas kami. Crec adalah institusi dwibahasa. Semua staf di sini menguasai minimal bahasa Inggris dan Perancis. Di pojok ruang kelas ada sebuah kamar kaca tempat seorang penerjemah bisa mengikuti aktivitas kelas menerjemakan komunikasi kami. Ada dua kelompok mahasiswa, yang berbahasa Inggris dan yang berbahasa Perancis. Kami yang berbahasa Inggris datang dari berbagai bagian dunia. Sedangkan yang berbahasa Perancis kebanyakan teman asli Afrika atau missionaris (mantan missionaris) di Afrika. Para mahasiswa maupun pengajar harus setia memasang headphone agar apapun yang kita sampaikan bisa diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain.

Suatu saat Pierre masuk kelas dan berkata bahwa ia akan mengajar dalam bahasa Perancis. Tentu saja Pierre menguasai banyak bahasa dengan fasih. “Kelompok bahasa Inggris lebih beruntung. Banyak pengajar tamu memakai bahasa Inggris di kelas, “  katanya. Ia mulai asyik mengajar dalam bahasa Perancis. Kadang kami selingi dengan diskusi singkat. Setelah itu Pierre akan beralih mengajar dalam bahasa Inggris. Kami yang merasa diuntungkan senyum-senyum saja, sampai kemudian seseorang protes, “en francais s’il vous plait” Oooops … untunglah Pierre tidak pernah selip lidah mengajar dalam bahasa Togo atau entah bahasa lain yang tidak kami kenal.

Ia juga seorang yang sangat peduli dan peka. Seringkali ia membawa majalah Time edisi bahasa Inggris dari apartemennya. Ia memberikan kepada saya karena tahu tidak mudah menemukan majalah atau buku-buku dalam bahasa Inggris di Ecully, kota kecamatan kami yang teletak di kaki pegunungan batu karang.  Sementara informasi di internet pada awal dekade 2000-an itu belum membludak seperti sekarang. Merasa bahwa majalah itu masih baru, seusai membacanya saya mengembalikannya. Tapi dia selalu berkata, “No. I gave it to you.”

Suatu hari ia datang ke kelas dengan jaket warna merah, dan rambut tercukur rapi. “You look young,” kata Agnes, teman Uganda saya. “Oh… so i can married,” balasnya dengan cuek. Ia orang yang ceria. Mungkin keceriaannya itu membuatnya awet sehat. Ia di penghujung usia 70-an tahun, ia mampu  menyetir sendirian, membawa kami dari Ecully menuju La Blachere, desa klasik di perbatasan Italia. Sepekan di desa ini membuat kami merasa terisolir sekaligus  saling dekat.

Di akhir pekan khafilah kami berkendara pulang ke Ecully. Sesudah sarapan kami bersiap. Sampai jam 10 pagi tak juga kami berangkat.  Apa rupanya ? “We wait Pierre. He drunk a lot and now he’s sleeping, “ kata Clotilde sambil tersenyum geli. Setelah bangun, ia terlihat lebih segar dan ceria. “I will show you all the very beautiful and unforgettable places.” Jadi kami berjalan memutar, menyusuri jalur yang lebih panjang menuju rumah kami di Ecully. Kami merayapi gunung karang, menyusuri tepian sungai dan ngarai dan hmmm… menerobos hutan suaka margasatwa.

Sekali waktu Pierre pernah berang pada saya. Hari itu jadwalnya mengajar di kelas. Seperti biasa, saya jam 8 pagi saya berangkat ke kampus  Crec yang terletak di Chemin du Challin. Perhentian bus terdekat tidak jauh dari apartemen saya dan Michelle, teman Korea saya. Kami berdua cukup menyeberangi jalur bus ke Dardilly, lalu potong kompas tepat di pelataran gereja St. Jean Mary Vianney santo pribumi kampung ini. Jam 8.10 bus menuju kampus akan datang, tidak kurang tidak lebih. Perjalanan ke kampus bisa kami tempuh dalam sepuluh menit saja. Kelas akan dimulai pukul 8.45 dengan doa pagi.

Tapi entah apa yang terjadi. Pagi itu bus terlambat datang. Tak pernah terjadi sebelumnya keadaan seperti itu. Dalam hawa dingin kami berdiri menunggu bus. Waduh, ternyata menjelang jam 9 bus baru datang. Kami berlari menuju kelas. Pierre sedang mengajar. “Pardon,” kami nyengir lalu duduk. Pierre  memandang sejenak lantas menanyakan alasan keterlambatan kami. Kami bercerita apa adanya. Tentu saja kami tidak bersalah, yang salah adalah sopir bus. Bukankah ini Perancis, semua  jadwal sudah teratur rapi tak pernah meleset walau satu menit pun.

”Kalian belajar media dan komunikasi di sini. Kalau kamu bekerja di radio atau televisi, siaranmu tak bisa ditunda dengan alasan hujan badai sekali pun. Kamu harus melayani orang tepat waktu. Pahami itu.” Ia memandangi kami dengan mata birunya yang tajam. Kami menghentikan ritual cengengesan kami, menunduk, merasa bersalah. Kelas hening.

Saya menyesal. Mestinya tadi, sesudah beberapa menit bus terlambat datang, saya berhenti ngobrol dengan Michelle dan berjalan kaki. Toh tidak terlalu jauh. Atau saya cari taksi toh saya punya cukup uang saku. Atau cara konyol yang diajarkan sahabat saya boleh dicoba: pasang tampang bloon,  menghampiri  polisi lalu lintas, lalu nyerocos ngomong dalam bahasa Jawa sambil bawa secarik kertas bertuliskan  alamat. Saking stress-nya polisi itu akan mengantar saya ke alamat yang dituju dengan mobil terbukanya.

Yaaah, selalu saja penyesalan itu datang belakangan. Tapi ada penyesalan saya yang lebih besar. Ketika saya dan Pierre – meteorit, bintang jatuh, bintang berpijar itu – berada pada orbit yang sama, saya tak benar-benar memanfaatkannya. Mestinya saya tak mendasarkan kebanggaan saya pada secarik foto kenangan bersamanya. Mestinya saya menjadi pemilik dan pewaris pelajarannya. Yah, penyesalan datang belakangan. Tapi saya masih masih ingat kata guru saya yang lain, “Banyak teori dan pelajaran di kelas bisa saja terlupakan tetapi satu hal yang akan terus hidup. Teman-teman, guru, civitas akademika – komunitas yang terdiri dari berbagai bangsa akan mengasah kita dalam hal kebijaksanaan hidup.” Selamat jalan Pierre. Pijar kebijaksanaan hidup yang engkau ajarkan aku coba ikuti. Sampai jumpa kelak!

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s