Baguio

Baguio Permata Cordilera

Baguio laksana permata di pegunungan Cordilera, bagian  utara Pulau Luzon, Philipina. Hawa sejuk membuat bunga-bunga selalu mekar bak musim semi abadi. Pantaslah jika kota ini dinobatkan menjadi ibu kota musim panas Philipina.

Bunga-bunga di salah satu sudut Mines View Park

Kota berjarak 254 km ke arah utara Manila ini konon mulai dibangun secara modern tahun 1903 ketika Philipina berada dalam kekuasaan Amerika. Antara bulan Maret sampai Juni ketika cuaca Manila sangat menyengat, para petinggi pemerintahan kolonialis itu beramai-ramai memindahkan aktivitasnya ke Baguio. Temperatur di kota ini dalam kondisi normal berkisar 15 – 23 0 Celcius, dan akan lebih dingin lagi pada sekitar bulan Desember dan Januari.

Semenjak saat itu Baguio dikenal ke mancanegara. Kota ini sangat kosmopolit. Meski begitu kotanya tetap terasa tenang, jauh dari keriuhan  suasana Manila. Kita bisa menjumpai komunitas berbagai bangsa di sini, bangunan-bangunan mewah dan artistik milik pesohor dan orang asing. Tapi kita masih juga menyaksikan rumah-rumah penduduk asli dengan segala atribut kesederhanaannya.

Musim panas di Philipina memang di luar dugaan saya. Saya tak membayangkan bahwa negara yang Cuma berbeda beberapa derajat dari garis lintang paling utara peta Indonesia itu bisa mengalami panas 41o Celcius. Maka wajar jika sengatan hawa panas macam ini membuat orang berbondong-bondong berlibur ke wilayah paling utara Pulau Luzon. Tetapi tidak cuma musim panas, setiap akhir pekan bisa dipastikan bus dari Manila menuju Baguio selalu dipenuhi para penumpang yang akan berlibur. Selain hawanya yang sejuk dan pemandangannya yang indah,  bagi turis asing banyak hal yang bisa dilihat di Baguio. Kita bisa menonton atraksi seni tradionalnya atau ikut acara panen stroberri.

Saya sendiri bukan saat musim panas mendapat kesempatan berlibur ke Baguio. Seminggu  menjelang Natal, sahabat saya, Barbara menelpon bahwa dia boleh berlibur ke convent Gembala Baik (RGS) di Baguio di sela-sela break kuliah pasca sarjananya. Meski ia juga anggota kongregasi itu, tetapi karena berasal dari negara lain (Malaysia), ia sedikit canggung berada di tengah-tengah orang yang tidak dikenalnya secara dekat. Maka kepada nyonya rumahnya ia mengajukan nama saya agar juga dapat diterima sebagai tamu mereka. Kebaikan yang luar biasa saya hargai.

Sebenarnya tidak terlalu mudah bagi saya yang awam untuk dapat menginap di dalam konvent seperti itu. Barbara harus bercerita dulu, bahwa saya seorang partner awam yang punya jam terbang belasan tahun bekerja di organisasi gereja. Barbara juga mengatakan kepada saya untuk menyiapkan uang. Bahkan untuk sesama anggota kongregasi pun kalau menginap lebih dari tiga hari biasanya harus membayar. Saya tidak berkeberatan.

Honeymoon City

Jam 9 pagi kami berangkat dari terminal bus di Cubao .Perjalanan dengan bus umum ini akan kami tempuh dalam 6 jam. Jalanan menanjak dan berkelok-kelok tajam.  Tak sekalipun saya ingin terlelap. Pemandangan alam begitu memasuki pegunungan Cordilera luar biasa memukau. Sawah-sawah yang subur menghijau dibuat bertingkat-tingkat dalam larik-larik yang teratur.

Banyak pasangan muda juga berangkat dalam bus ini. “They are too fast in sex,” komentar Barbara tanpa berpretensi negatif. Ya, sudah jadi pengetahuan umum bahwa Baguio juga merupakan kota “honeymoon” bagi pasangan-pasangan muda termasuk mahasiswa dari Manila. Tapi mereka bukan cuma mahasiswa asli Philipina.  Manila  terasa sangat kosmopolit dengan banyak mahasiswa asing dari berbagai negara Asia.

Bersama sahabat, Barbara Lip

Jam tiga sore kami tiba di Baguio. Kami harus naik jeepney ke tujuan kami. Rumah tujuan kami terasa mungil di tengah tanah luas perbukitan yang ditanami bunga-bunga dan cemara. Pernak-pernik Natal telah pula menghiasi rumah dan taman di depannya. Dari halaman depan ini saya bisa memandang gunung-gunung  berselimut kabut. Kami mendapat dua kamar di lantai dua. Kamar yang nyaman. Lantainya terbuat dari papan sehaingga hawa tingin tidak terlalu menyengat telapak kaki. Dari jendela kamar saya bisa menyaksikan hamparan gunung dan kebun luas mereka yang penuh bunga-bungan dan tanaman pinus.

 Kami diberi kunci pintu samping rumah agar bisa keluar masuk secara bebas tanpa merepotkan nyonya rumah. Kami juga dibebaskan untuk tidak mengikuti jadwal rutin mereka. Tapi kami masih berusaha mengikuti ibadat dan meditasi pagi (usaha yang sulit bagi saya : bangun pagi di tengah hawa dingin begini). Seperti kebiasaan di konvent manapun kami hanya perlu memberi tahu jadwal kepergian kami dan pernyataan apakah kami akan makan di rumah atau tidak. Kebanyakan kami makan di rumah bersama mereka, karena kami toh tidak berminat pergi terlalu jauh dari pusat kota.

Menengok Mountain Maid Training Center (MMTC)

Salah satu produk selai terkenal di Filipina bermerk Mountain maid, berbahan dasar ube. Ube atau dalam bahasa Indonesianya ubi jalar ini sangat khas baguio. Warnanya ungu dan ukurannya bisa sebesar buah nangka. Setiap pagi saya bisa melihat truk memuat ube ini menurunkan muatannya di samping konvent.

Gerai selai MMTC

Ternyata selai  ini diproduksi di pabrik yang terletak di bagian depan tanah susteran RGS ini. Pertama kali dibangun  pada tahun 1975 sebagai jalan keluar mengentaskan kemiskinan gadis-gadis di regensi Cordilera. Waktu itu para biarawati itu berpikir bagaimana mengentaskan kemiskinan bukan dengan cara instan, melainkan memberi para gadis dengan pendidikan yang baik, sehingga mereka mampu memberdayakan diri sendiri dan keluarganya. Dengan berbagai uji coba dan jatuh bangun, dibuatkan pabrik selai ini. Para gadis akan bekerja dan tinggal dalam asrama. Upah yang diperoleh akan digunakan untuk kuliah dan membantu keluarganya.

Bangunan berlantai tiga itu sekarang terlihat megah. Padahal tahun 1990 ketika gempa tektonik mengguncang Baguio, semua bangunan ini luluh lantak dan mereka memulai segalanya dari nol lagi.  Para biarawati tidak lagi mengurusi manajemen pabrik. Urusan itu diserahkan kepada lay collaborator-nya agar dapat diurus secara profesional. Para biarawati cukup menjadi pengawas dan mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas.

Dalam kunjungan ini saya diberi kesempatan untuk menengok kegiatan pabrik. Gerainya terletak di tepat di tepi jalan. Cukup banyak orang mengantre untuk membeli produk ini. Selai merk Mountain maid memang tidak membuka gerai atau cabang di tempat lain. Jadi kalau orang mau membeli ya harus datang ke pabriknya. Selain menjual produk utama, gerai ini juga menjual beberapa jenis makanan khas tanah pertanian pegunungan seperti madu, stroberi, ampyang kacang, dll.

Juga ada kafe kecil di pojok gerai bagi ingin sekedar makan atau minum di sini. Uniknya di kafe ini tidak disedikan tempat duduk. Mejanya berkaki tinggi sehingga orang harus makan sambil berdiri. (Di kampus Atheneo juga ada kantin yang semacam ini). Maksudnya jelas, agar orang tidak betah berlama-lama di kantin. Pokoknya eat and run. Hanya kantin untuk orang lapar!

Sesuai merek dagangnya, Mountain Maid, selai ini dibuat oleh para gadis  dalam asuhan suster-suster Gembala Baik (RGS) provinsi Philipina. Pabrik mampu memberi kerja bagi puluhan gadis dari seantero pegunungan Cordilera. Mereka diasramakan dalam bangunan yang terletak tak jauh dari pabrik, masih dalam areal tanah RGS ini. Mereka tidak diharapkan untuk selamanya bekerja di sini. Mereka bekerja untuk membiayai pendidikan tinggi bagi diri sendiri. Setelah lulus dan mendapat kerja yang lebih baik, mereka harus keluar dan kesempatan diberikan kepada gadis yang lain. Dengan cara ini pabrik selai Mountin maid telah bekerja nyata mengentaskan kemiskinan.

Disengat Dingin dan Simbanggabi

Saya tidak menyangka bahwa Baguio akan membekukan tulang tropis saya.  Wow… 16 0 Celcius di siang hari dan meluncur bebas di malam hari. Seperti hawa ketika musim semi baru tiba. Memang pantas, Baguio ini disebut kota musim semi abadi. Beraneka jenis bunga dan tamanan selalu tumbuh subur di sini. Saya cuma membawa sweater dan jaket tipis. Sebab saya pikir paling-paling sedingin Puncak di Jawa Barat. Untung jalan raya di muka konvent ini kalau siang menjadi pasar tempel segala jenis suvenir termasuk kaos dan sweater.

Hawa dingin harus dilawan. Saya harus bangun pagi mengikuti doa komunitas di pagi hari. Tidak ada yang memaksa, tapi saya ingin tergabung dalam angelic voice mereka. Malam saya  mengharus diri lagi untuk mengikuti simbanggabi atau misa (menjelang) tengah malam atau dini hari selama 9 hari berturut-turut sebelum Natal. Misa dimulai pukul 10 malam bersama seoarang pastor muda SVD. Semula saya pikir dia orang Indonesia, sebab dibalik albanya saya mengenali kemeja batik yang dikenakannya. Juga kulitnya tidak seterang orang-orang pegunungan Cordilera pada umumnya. Baru ketika ia berkotbah dalam bahasa Ilokano saya sadar bahwa saya salah duga.

Saya tidak memahami bahasa Ilokano bahasa lokal di bagian utara pulau Luzon yang agak berbeda dengan Tagalog.  Untung liturginya menggunakan bahasa Inggris. Ini bukan misa di kota Manila yang seringkali dipaket harus selesai 1 jam, karena banyaknya umat. Sesudah  misa kami masih bisa bincang-bincang di aula.  Tanggal 22 Desember  simbanggabi dimulai lebih awal, pukul 20.00 malam. Sesudahnya kami akan merayakan pesta natal bersama. Hmm…. bayangkan, pesta ini pasti akan berakhir tengah malam. Alasannya, karena tanggal tu adalah hari terakhir kerja, besok pagi-pagi sekali anak-anak asrama akan pulang ke rumah orang tuanya dan baru kembali sesudah tahun baru.

Seperti pesta di Indonesia. Acara dimulai dengan sambutan dari suster pimpinan, nasihat dari pastor, makan,  nyanyi-nyanyi, drama natal, dan pembagian bingkisan. Semua dapat bingkisan Natal yang sudah disiapkan oleh manajemen Mountain Maid dalam tas  gendhong warna ceria remaja, biru muda, pink, kuning, dan hijau muda. Semua membentuk lingkaran dan bersalaman.

Ada kebiasaan yang sama dengan Indonesia rupanya. Sebagian gadis remaja itu mencium tangan orangng-orang tua yang dihormati. Karena saya berdiri berjajar dengan para oma suster penghuni konven, maka tangan saya dicium juga. Waduh……. jangan-jangan saya memang sudah terlihat tua ya ? Memang para suster Gembala Baik (RGS) tidak lagi memakai habet atau jubah suster, jadi tidak mudah membedakan saya yang awam dengan mereka.

Misa dan pesta Natal malam itu juga perpisahan bagi kami. Pagi berikutnya, sesudah sarapan pagi kami pulang ke Manila. Penghuni komunitas yang baik ini menyiapkan setangkup sandwich, snack dan minuman untuk bekal. Seperti ketika datang, kembali kami akan menikmati 6 jam perjalanan munuruni punggung perbukitan Cordilera. Mabuhay. Sampai jumpa lagi. Terima kasih atas semua kebaikan yang kami terima dengan cuma-cuma dan penuh cinta.~~~ *** ~~~

This slideshow requires JavaScript.

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s