HUNDRED ISLANDS

Kalau Indonesia punya Kepulauan Seribu, Philipina punya Hundred Islands. Kalah “judul”, memang, yang satu mengaku berjumlah ribuan yang satunya cukup ratusan saja. Tetapi dalam hal keindahan, mungkin Hundred Island tidak kalah cantik.

Gugus kepulauan atol sebagai latar belakang

GUGUS PULAU KARANG DI HAMPARAN LAUT DAN LANGIT BIRU

Gugus atol di provinsi Pangasinan ini teramat sayang  untuk dilewatkan  kalau kita pencinta wisata pantai dan laut. Maka dalam suatu kesempatan week-end, saya sanggupi ajakan beberapa teman di asrama Atheneo untuk bergabung bersama mereka. Dengan berwisata ramai-ramai maka biaya sewa penginapan akan lebih murah tentunya.

Jumat malam kami bersembilan meninggalkan Katipunan menuju Cubao. Bus malam yang sudah kami  pesan bertolak dari sana. Sekitar jam 11 malam kami beranngkat.  Hmm… AC bus terlalu dingin. Untung saya bawa sarung. Tak peduli apa kata orang, saya bergulung saja, memundurkan sandaran tempat duduk dan … tidur.  Toh, di luar juga tak banyak pemandangan yang bisa dinikmati dalam keremangan malam begini.

Sekitar jam 3 dinihari kami sampai Alaminos.  Berdua-dua kami naik tricycle  menuju pantai Pangasinan. Ada penginapan sederhana milik seorang kolega yang kami sewa. Masih terlalu dini untuk memulai aktivitas. Kami meneruskan tidur yang tak lelap di atas bus. Ini week-en man… jadi besok tetap bisa bangun semaunya. Saya mendengar langkah-langkah pemilik penginapan menyiapkan sarapan sederhana di teras, tepat di muka kamar saya. Lalu gumam teman-teman, aroma kapi…baru saya bangun.

Pemilik penginapan membantu kami mencari perahu motor sewaan. Rencana kami pagi ini kami langsung akan berkeliling pulau-pulau atol itu dan melewatkan siang atau sore di salah satu pulau terbesar.  Kami diminta mencatatkan nama, umur dan alamat dulu di kantor pengawas pantai. Pukul 11 siang, mulailah pelayaran wisata kami.

Laut mulai pasang. Motor tempel di perahu kami terasa terengah-engah dijejali 9 penumpang plus dua kru. Air laut di bawah serasa bisa diciduk dengan jangkauan tangan kami. Meski kami semua diwajibkan memakai pelampung, tetap saja jantung saya berdegub. Tetapi laut yang biru, langit bersih tak berawan dan gugusan ratusan pulau karang kecil-kecil di tengah laut ini merupakan pemandangan yang eksotis.

Seperti sepotong sandwich

Duh ! Lapaaar….!

Siang hari kami berhenti di sebuah gugus pulau terbesar untuk menikmati laut. Bebera teman kami segera berenang atau sekedar berjemur di pantainya yang berpasir putih. Saya sendiri cukup mencari tonjolan karang dan memandangi hamparan laut dan gugusan pulau karangnya.

Tapi ketika matahari beranjak semakin tinggi dan perut kami mulai lapar, barulah permasalahan muncul. Di pulau ini tidak ada restoran. Yang ada hanyalah beberapa kedai menjajakan air mieral dan makanan kecil. Beberapa keluarga yang berpiknik di sini kami lihat telah menyiapkan bekal dari rumah. Ya, begini piknik dengan teman-teman laki-laki, biasanya mereka tak peduli pada detil perjalanan.Sementara saya yang perempuan tak cukup feminin untuk ribet dengan pernak-pernik perlengkapan wisata. Tak apalah, saya toh menikmati perjalanan backpacker-an macam begini. Beberapa penduduk menawarkan ikan laut segar dan sekaligusnya membakarnya di atas tungku yang telah di sediakan di gazebo kami. Lumayanlah untuk mengganjal perut…..

Sekitar jam 4 sore kami pulang.  Tak ada yang mengusulkan untuk menjelajahi pulau-pulau kecil lagi. Kami langsung saja ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan. Mandi dan sambil menunggu makan malam kami mengobrol di teras. Kami menikamati makan malam di salah satu restoran yang menghadap pantai. Kita juga memilih teman makan a la kaki lima yang banyak digelar oleh penduduk. Makanan cukup bervariasi dan tidak aneh bagi lidah Indonesia.

Malam hari kami  menikmati bulan purnama di hamparan langit jernih. Langitnya pekat, karena belum terpolusi oleh lampu-lampu kota besar. Kepenatan seharian membuat kami tertidur pulas, meski kamar kami berada berbatasan langsung dengan laut.

Sebenarnya kami merencanakan menginap dua malam di sini. Tapi Minggu siang, selepas jalan-jalan di perkampungan nelayan dan membeli suvenir di pasar wisata tak banyak lagi aktivitas yang ditawarkan. Kami pun kembali ke Alaminos, kota terdekat. Makan siang di fast food Chowking dan bersiap pulang ke Manila. Akhir pekan yang menyenangkan. Memang perkampungan nelayan itu tak benyak menawarkan sarana-sarana wisata yang mewah. Tapi justru saya menyukai hal-hal seperti ini, pemandangan yang masih natural belum tercemari bisnis padat modal, udara yang bersih, dan di atas semuanya itu interaksi dengan penduduk asli.

This slideshow requires JavaScript.

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s