DI BALIK KENYAMANAN NAIK BRT

Dengan hadirnya Bus Rapid Transit (BRT)  di Bandar Lampung jarak antarbagian dalam kota terasa dekat. Dalam beberapa hal, naik BRT tentu saja lebih nyaman daripada naik angkot.  Tapi di benak saya masih tersisa beberapa pertanyaan.

Tak mau ketinggalan dengan kota-kota lain di Jawa, mulai November 2011 Bus Rapid Transport (BRT) beroperasi di Bandar Lampung. Sampai Maret 2012 BRT telah melayani empat rute yang melewati jalan protokol, Rajabasa – Sukaraja, Perum Korpri – Sukaraja, Kemiling – Sukaraja dan yang terbaru Jl. Ir. Sutami – Sukaraja.

Sistem tiket terusan (transit) sungguh meringankan, karena penumpang akan dibantu berhenti di halte tertentu dan bisa meneruskan ke tujuannya tanpa membayar tiket lagi. Bus masih baru, AC berfungsi dengan baik, dan kru yang sopan membuat penumpang merasa dimanusiakan. Mudah-mudahan kenyamanan bukan karena BRT merupakan barang  baru, tapi terus berlanjut.

Bandingkan dengan angkot yang hampir semuanya disopiri secara ugal-ugalan,  musik dibunyikan keras-keras, ngebut lalu mengerem mendadak. Kalau ditegur, sopir macam begini bukannya bertingkah lebih baik, tapi makin menjadi-jadi. Nyawa sapi yang dibawa sopir truk antarpulau akan lebih berharga dari pada nyawa penumpang di atas angkot Bandar Lampung.

Terlepas dari beberapa kenyamanan di atas, ada sejumlah permasalahan yang mesti dipikirkan oleh pejabat yang berwenang. Beberapa di antaranya.

  1. Sejak awal keberadaannya BRT merampas hak pejalan kaki. Jalan Zainal Abidin Pagar  Alam diperluas dengan memangkas trotoir. Perluasan jalan akan memberi akses pada kendaraan bermotor terutama sepeda motor untuk semakin ngebut. Sehari-hari jalan dari dan menuju ke bandara ini sangat padat. Menyeberang jalan menjadi kegiatan yang menakutkan karena ketiadaan jembatan penyeberangan.
  2. Dengan adanya BRT secara perlahan  angkot akan kehilangan penumpang dan mati. Sudahkah dipikirkan hak hidup sekian banyak sopir dan keluarganya. Mereka memang sering menjengkelkan tapi saya pikir ini adalah muara dari manajemen transportasi yang kacau di negara kita. Saya senang jika kota menjadi rapi dan tertib, tetapi hendaknya perkembangan hal yang positif ini tidak meniadakan hak rakyat kecil untuk hidup layak.
  3. BRT dengan body tinggi ini memang nyaman untuk berdiri, kalau tempat duduk telah penuh. Tapi bagi saya terasa tidak “gender mainstreaming”. Tali tempat berpegangan cukup tinggi sehingga perempuan (dan anak-anak) yang tidak bertubuh tinggi tidak bisa perpegangan. Juga tali dan pegangan tangan terbuat dari bahan yang ringkih, sehingga suatu saat saya pernah melihat pegangan putus hanya dalam dua menit setelah digelendoti sesosok tubuh penumpang gendut.
  4. Halte sampai kini terasa lambat pembangunannya. Penumpang terpaksa naik dan turun dari pintu disamping sopir. Pintu ini cukup tinggi bagi perempuan apalagi jika mengenakan rok dan juga lansia. Saya perhatikan pada banyak halte yang sedang dibangun, anak tangga hanya ada pada satu sisi saja. Semoga tidak terus seperti itu, sebab jika seperti itu penumpang harus anjlog untuk mencapai tanah kembali.

Semoga kota semakin nyaman dan manusiawi dengan adanya BRT. Semoga beberapa kekurangan bisa semakin disempurnakan.

4 thoughts on “DI BALIK KENYAMANAN NAIK BRT

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s