Pohon Nangka di Depan Rumah

Fiksi

Kata orang ayahku bertangan dingin. Apa saja yang ditanamnya akan tumbuh subur. Apapun yang dipeliharanya akan beranak pinak. Itulah yang jadi kebanggaannya semenjak pensiun lima tahun yang lalu. Tanah selebar tujuh kali sembilan meter di depan rumah ditanaminya dengan berbagai bunga: aster, matahari, mawar, melati dan kemuning. Sadar bahwa bunga memberi keindahan, tapi tak membawa banyak manfaat, ia menanam pula kumis kucing, jahe, mahkota dewa dan beberapa jenis perdu tanaman obat lain.  Masih ada pula sebatang pohon nangka yang berdaun rimbun dengan buah-buah yang selalu  ranum wangi bergantungan.

Ayah tak paham teori pertamanan apalagi menerapkannya. Jadi jangan bayangkan halaman rumah kami serasi dengan perpaduan warna hijaunya daun, dan merah kuning ungunya bunga-bunga. Aster dan mawar memperebutkan sinar matahari, sehingga batangnya menjadi panjang lampai ke atas. Sementara batang melati membentuk sulur-sulur yang menjorok memenuhi permukaan parit pembuangan air. Halaman jadi mirip semak belukar. Mungkin sungguh semak belukar, sebab anak balitaku pernah memergoki seekor ular di bawah rak sepatu. Aku curiga tanaman ayah telah  menjadi sarang binatang melata itu.

Tak mudah meyakinkan ayah untuk membuang sebagian tanaman kesayangannya itu.  “Kumis kucing ini berguna untuk obat kencing manis. Bu Aini yang rumahnya di ujung gang itu selalu mencari ke mari, “ demikian katanya kalau aku membujuknya untuk membuang tanaman itu.

Bagaimana pula aku mau memintanya membuang sebagian mahkota dewa.Tanaman itu selalu diberinya pupuk kotoran hewan yang diangkutnya dari kandang milik Bang Topik, belantik kambing yang tinggal di RT sebelah. Setiap kali berbuah, ayah dengan setia memanen dan merajangnya tipis-tipis. Dijemurnya rajangan itu hingga kering benar dan berwarna coklat kehitaman seperti teh tubruk. Dimasukkannya ramuan itu ke dalam plastik-plastik kecil dan disimpannya baik-baik, sampai nanti beberapa orang datang meminta. Katanya bisa untuk mengobati berbagai penyakit. Entahlah, aku sendiri belum membuktikannya.

Cara mengurangi kerimbunan semak belukar di halaman rumah kami adalah dengan membagikan sebagian anakan tanaman itu kepada tetangga. Untuk yang satu ini ayah bukan termasuk orang yang pelit. Bahkan ia menganggap itu sebagai amal.

“Sudah berumur begini yang kucari cuma jalan lapang ke akherat. Hanya pertolongan-pertolongan kecil ini yang bisa aku berikan sekarang, “ katanya.

Bibit bunga bisa dibagi untuk tetangga. Tapi bagaimana dengan pohon nangka itu ? Pohon itu terletak di tepi halaman, satu garis lurus dengan pintu utama rumah yang menghadap timur. Dahan-dahan dan daun-daunnya menghalangi sinar matahari pagi menerobos beranda dan ruang tamu rumah kami. Aku tidak akan  tega menebang pohon itu.

Setelah anak-anak dewasa, tanaman dan hewan peliharaan merupakan tumpuan perhatian ayah. Aku takut, menyuruhnya menebang pohon itu akan menggerogoti semangat hidupnya. Apalagi kelezatan buah nangka itu telah beberapa kali ikut dirasakan para tetangga. Dengan selalu membagi berbagai hasil tanamannya, aku menduga ayah mendapatkan harga dirinya kembali setelah awal pensiun dulu mengalami semacam trauma lansia, tak berpenghasilan sehingga merasa tak berguna dan tak berharga.

Beberapa kenalan juga merasa risih dengan keberadaan pohon itu. Tapi alasannya berbeda. Tabu katanya. Tidak diterangkan kenapa tabu. Memang, kalau aku mengikuti saran tetangga serba bingung jadinya. Dulu tanaman pepaya di depan rumah juga tabu. Kupindahkan tanaman itu ke belakang rumah. Sekarang pohon ini pula yang jadi topik bahasan orang.

“Jangan menanam nangka di halaman, “ kata Mang Basir, agen minyak tanah yang seminggu dua kali menyetor ke rumah.

“Pantangan apa pula ini Mang ? Dulu pohon kates katanya tabu, aku pindahkan ke sebelah dapur. Sekarang nangka pula. Jadi apa yang boleh di tanam di depan rumah ?” tanyaku.

Mang Basir tak tahu jawabannya. Ia dapat petuah itu dari para tua-tua katanya. Jawabannya aku peroleh beberapa hari kemudian. Secara tak sengaja aku nonton acara fengsui di sebuah stasiun televisi swasta. Konsultan fengsui yang bicaranya amat cadel itu bilang tak baik menanam tanaman keras tepat di muka pintu utama rumah. Menghalangi jalannya rejeki katanya.

“Tanamlah belimbing manis dan srikaya di depan rumah, “ timpal Cik Wawa, pemilik toko tempat ibu sering kulakan sembako.

Kata Cik Wawa orang-orang Cina menanam kedua pohon itu untuk menahan rejeki yang datang agar tidak ewes-ewes, mengalir seperti angin. Bagiku tidak penting apakah petuah itu benar ataukah tidak. Cik Wawa tidak menanam kedua tanaman itu di depan rukonya, tapi ia cukup kaya. Dua anaknya bisa kuliah di universitas swasta di Jakarta, dua mobilnya siap pula mengantarnya ke sana kemari.

Perihal rejeki yang surut,  memang itulah kenyataan yang dialami ayah ibuku. Menurutku hal ini sesuatu yang wajar saja dan tidak terkait dengan pohon nangka di halaman itu. Ayah tak lagi bekerja sebagai guru. Ya, berhenti begitu saja, tanpa gaji pensiun tiap bulannya. Usaha jahitan ibu yang dulu laris kini nyaris tutup. Bukannya kami tak mau menanggung penghidupan orang tua kami, tapi seperti kebanyakan orang tua di manapun, mereka tidak mau merepotkan anak.

Sampai lima tahun yang lalu ayah adalah seorang guru sekolah dasar swasta. Maksudku, bukan sekolah swasta bermodal besar seperti banyak diiklankan surat kabar ibukota tapi sekolah swasta kecil. Kalau swasta di ibukota negara itu bisa diibaratkan swasta gurita, sekolah ayah itu swasta gurem. Semenjak penguasa yang lalu mendirikan sekolah-sekolah inpres, sekolah swsata kecil kehabisan murid. Kemudian juga keberhasilan program KB, menyumbang penyebab bagi bangkrutnya sekolah swasta kecil tempat ayah bekerja. Walhasil, sekolah itu tetap dibuka hanya berlandaskan idealisme yang dipegang oleh para pengurus dan guru-gurunya.

Ayahku memang seorang idealis. Sebuah contoh, ayah tak pernah mau memberi les privat kepada muridnya, agar dapat menambah penghasilan bulanan. Padahal bukan sekali dua kali datang wali murid, dengan menggandeng si upik atau si buyung yang nilainya di kelas, maaf, di bawah garis kemiskinan. Mereka minta ayah memberi pelajaran tambahan agar waktu kenaikan kelas nanti si upik atau si buyung tidak tertinggal dengan teman-temannya. Dengan halus ayah akan menolak, dan mempersilakan anak-anak itu didaftarkan ke berbagai tempat bimbingan belajar yang menjamur di kota ini.

Katanya padaku, “Aku sudah kapok mengajar anak begitu itu. Yang mereka kehendaki itu naik kelas dengan nilai tinggi, dengan segala cara. Bukan mencari ilmu.”

Ya, sudahlah. Kata orang rejeki itu sudah ditakar cukup oleh Tuhan untuk semua umat-Nya.  Secara matematis penghasilan ayah jelas tak mencukupi untuk menghidupi seorang isteri dan menyekolahkan tiga anaknya – aku dan dua saudaraku – sampai perguruan tinggi. Hanya cinta Tuhanlah yang memampukannya. Meski Tuhan pun tidak menjatuhkan rejeki dari langit.

Maka ibuku, yang untunglah seorang realis, menyingsingkan lengan baju. Ibu menerima upahan menjahit dari tetangga kiri kanan. Hasilnya lumayan, sebab periuk nasi  rumah tangga orang tuaku selalu berasap meski dalam kesederhanaan.  Kami bertiga bisa menamatkan perguruan tinggi, meski dengan prestasi tidak bisa dikatakan cemerlang. Bagaimana mau cemerlang kalau kami selalu kurang gizi, dan fasilitas yang kami miliki kurang memadai.

Tapi kami harus berterima kasih  karena orang tua kami telah mengusahakan segala keperluan sekolah kami dengan maksimal. Ketika aku diterima di sebuah perguruan tinggi di Jawa, tanpa berkeluh kesah orang tuaku membiayainya. Tiap bulan kiriman selalu lancar meski selalu pas-pasan.

Ekonomi rumah tangga orang tua kami terasa oleng ketika dua adikku menyusul ke perguruan tinggi, swasta pula. Banyak keperluan-keperluan tak terduga yang harus dibayar untuk kami bertiga  seperti biaya KKN, studi tur, penelitian dan tetek bengek yang lain. Semua dipenuhi tanpa banyak keluhan. Sebagai anak sulung aku belum mampu membantu apa-apa. Mencari kerja sambil kuliah tidak mungkin karena jadwal yang padat. Berhenti kuliah dan mencari kerja, pastilah hal ini akan sangat menyakitkan hati orang tua.

Ternyata tanpa sepengetahuan kami, ayah membobol uang tabungan jaminan pensiunnya. Yayasan tempat ayah mengajar memberikan jaminan pensiun yang dipotong sekian persen dari gaji tiap bulannya. Sementara pihak yayasan akan memberi jumlah yang sama. Kedua bagian ini akan ditabung dan diberikan sekaligus setelah karyawan selesai menjalankan pengabdiannya. Istilahnya uang jaminan pensiun ini akan diberikan secara lunsum. Jangan dibayangkan jumlahnya akan mencukupi untuk biaya seumur hidup. Anggap saja ini uang tali asih.

Sampai aku menamatkan SMU uang tabungan pensiun ayah belum terutak-atik. Tapi begitu anak-anak kuliah, mulailah ayah dan ibu hidup dari hutang ke hutang. Tabungan pensiun pun digerogoti. Mula pertama ketika aku membutuhkan mesin ketik. Ibu mengirimkan wesel disertai ucapan, “Pakai baik-baik, nanti adikmu memerlukannya pula.” Ibu  tidak bercerita bahwa uang itu diambil dari tabungan pensiun ayah. Kalau tahu hal itu, aku pasti menolak.

Jaman aku kuliah dulu, punya mesin ketik itu sudah merupakan sedikit kemewahan. Teman-teman sering menginap di pondokanku untuk mengerjakan tugas dari dosen, semata-mata karena aku punya mesin ketik. Kemudian barang itu berturut-turut kuwariskan pada dua adikku. Benda itu besar andilnya dalam kelulusan kami.

Kebutuhan sekolah kami bertiga nyaris tak ada habisnya. Maka setiap tahun ayah selalu menghadap bendahara yayasan untuk memohon agar tabungan pensiunnya bisa diambil lagi dan lagi. Tentu dapat dibayangkan betapa merah biru wajah ayah menanggung malu. Bendahara yayasan bukan satu-satunya tempat ayah menimba hutang. Ia sering pula mendatangi bendahara koperasi karyawan untuk minta pinjaman hutang pula. Dengan merundukkan kepala dan merendahkan harga dirinya, setiap tahun ajaran baru, seperti biasa ayah mendatangi mereka diiringi  pandangan sinis teman-teman kerjanya.

“Pak, kita memang ingin anak-anak maju, tapi jangan melebihi kemampuan kita, “ kata seseorang.

“Anak-anak yang baik tak mungkin memaksa orang tuanya untuk menuruti semua kemauannya, “ kata seorang yang lain.

“Kalau bapaknya guru SD, kenapa dulu tak sekolah kejuruan saja, supaya cepat dapat kerja, “ orang ketiga menyumbang pendapat.

Aku tahu kedua orang tuaku tersinggung jika ada orang lain memandang kami semacam anak durhaka. Tapi mereka hanya bungkam dan memendam kedongkolan itu dalam hati. Sebagai anak sulung bukannya aku tak pernah merasa bersalah. Pernah suatu saat aku melontarkan ide berhenti kuliah, cari kerja dan membantu menyekolahkan adik-adik

“Tidak, Nduk, Sebagai anak sulung justru kamu harus memberi contoh pada adik-adikmu, bahwa kamu bisa lulus meski dengan keprihatinan seperti ini. Soal biaya, itu memang sudah tugas kami,” begitu selalu katanya.

Akhirnya proses yang melelahkan itu berakhir juga. Setahun menjelang ayah pensiun, adikku yang bungsu menyelesaikan kuliahnya. Kami bertiga cukup tahu diri untuk berusaha mencari kerja sendiri tanpa menuntut orang tua untuk menyiapkan sekian puluh juta uang bawah meja. Beruntung beberapa relasi, terutama murid-murid ayah dulu mau menolong kami.

Ketika pensiun ayah mendapat sertifikat ucapan terimakasih, beberapa stel pakaian batik dan uang sebanyak dua juta rupiah. Itulah yang tersisa dari tabungan pensiunnya. Satu sumber penghasilan keluarga telah kering. Toh asap dapur harus terus mengebul.

Usia tua dan penyakit kata orang selalu berjalan beriringan. Ibu, yang dulu hampir tiap malam lembur menjahit, tak dapat lagi meneruskan kebiasaannya. Mungkin karena banyak kerja di malam hari dan bangun jauh sebelum ayam berkokok, jempol tangan kanannya menderita rematik. Jempol merupakan instrumen penting untuk menekan gunting, agar kain dapat dipotong sesuai pola. Juga beberapa tahun terakhir ini banyak department store, supermarket dan mall yang masuk ke kota kami. Pakaian-pakaian yang bagus  bisa dibeli dengan harga murah. Usaha jahitan ibu perlahan-lahan tutup. Kembali satu sumber penghasilan hilang.

Aku kumpulkan dua adikku untuk iuaran memberi modal agar orang tua kami bisa membuka warung kecil-kecilan. Aku sadar warung ini tak akan memberi banyak keuntungan, karena rumah kami berada di ujung gang buntu yang tidak ramai. Tapi yang penting kedua orang tua kami punya kegiatan agar tidak terlalu kesepian.

Tiga anaknya satu persatu meninggalkan mereka untuk membangun rumah tangganya masing-masing. Aku minta ibu menyewakan kamar-kamar agar bisa menambah penghasilan. Lagi pula rumah tua itu terlalu besar untuk sepasang kakek dan nenek. Tapi ibu menolak.

 “Kamar-kamar ini tak akan ibu sewakan, supaya akhir pekan anak, cucu, menantu,  dapat menginap di sini,” katanya selalu.

Dengan sedikit desakan ayah dan ibu akhirnya mau menerima modal dari kami. Maka ruangan yang dulu dipakai ibu menjahit kini dipenuhi jajanan bocah, sembako, sabun dan berbagai keperluan rumah tangga. Tiga drum minyak tanah  ditata tepat di bawah pohon nangka ayah.

Beberapa saat lalu,  hampir mustahil untuk menyingkirkan pohon nangka itu dari halaman rumah kami. Sekarang tampaknya tak perlu lagi membujuk ayah untuk menebang pohon itu. Kulihat daun-daunnya memerah, dan ranting-rantingnya perlahan kering. Kiranya setiap kali Mang Basir selesai memindahkan minyak tanah dari mobil tangkinya, sisa cairan itu mengucur dari selang ke tanah, tepat pada akar pohon itu. Minyak tanah itu rupanya diserap oleh akar dan meracuni seluruh batang pohon itu.

Suatu sore kulihat ayah termangu-mangu berdiri di bawah pohon itu. Tangannya lunglai memegang parang terasah. Ia tak tega melukai pohon itu, sama seperti kebiasaannya yang lain: tak pernah mau menyembelih ayam, itik atau angsa  peliharaannya sendiri.

“Tebang saja, Yah. Nanti kubelikan bibit belimbing bangkok sebagai peneduh halaman, “ pintaku.

Ayah pun memangkas ranting dan dahannya. Sementara batangnya ia biarkan terpancang di tanah sebagai pengikat tali jemuran. Sesuai janjiku kucarikan bibit belimbing di pasar. Oleh ayah cangkokan itu ditanam beberapa meter jaraknya dari pokok nangka kering kesayangannya. Sudah bisa ditebak, apapun yang ditanam ayah hasilnya selalu memuaskan. Mengherankan, sebulan kemudian pohon belimbing kecil itu menampakkan  buah pertamanya. Tiga pentil belimbing itu dibungkus baik-baik  oleh ayah dengan plastik berwarna gelap, agar terhindar dari jarahan anak-anak kecil.

“ Tiga belimbing ini untuk cucu-cucu dari tiga anakku, “ katanya kalau ada anak tetangga  merayu. “Nanti buah-buah selanjutnya, jatah kalian akan lebih banyak dari jatah cucuku, karena kalian  tinggal lebih dekat di sini, “ tambahnya.

Aku tak tahu adakah hubungan antara rejeki dan pohon belimbing itu ? Sebenarnya aku tak begitu percaya. Tapi kenyataannya beberapa bulan terakhir warung kecil ibu mulai dikenal tetangga. Dagangan bertambah. Setiap pagi ibu kulakan ke pasar. Ayah menjemputnya di muka gang di tepi jalan raya untuk membantu ibu mengangkat kantong-kantong dagangan. Kesibukan ini ternyata membuat fisik ibu juga jauh lebih sehat. Aku tak pernah lagi mendengar ia mengeluhkan jempol kanannya yang ngilu karena rematik.

Dengan kesembuhan jempol itu, pelan-pelan  ibu dapat menjalankankan lagi mesin jahitnya. Jahitan tak banyak. Tapi biasanya pada bulan haji, di mana orang sering menyelenggarakan hajatan, ada juga satu dua pesanan baju. Akhir-akhir ini para perempuan lebih suka mengenakan kebaya ke pesta. Kebaya harus pas benar dengan lekuk payudara pinggang pinggul pemakainya. Ukuran yang semacam ini tentu saja tak mudah di dapat di toko. Kata ibu-ibu di kampungku, kebaya jahitan ibuku  tak ada tandingannya.

Kalau jahitan sepi karena bukan musim hajatan ibu sibuk dengan warungnya. Kami berpesan dengan sedikit tegas agar mereka berdua tidak ngoyo mencari rejeki. Cukuplah kalau bisa membeli beras dan lauk pauk untuk mereka berdua. Kebutuhan lain seperti bayar listrik, telepon dan sesekali perbaikan rumah,   kami bertiga iuran membayarnya. Tentu harus pandai-pandai meyakinkan ibu untuk mau menerimanya.

Hari Sabtu dan Minggu adalah hari yang ditunggu pasangan senja usia itu. Ibu akan sibuk membuat soto ayam kesukaan menantunya, atau capcai kuah kesukaan cucunya. Sementara ayah menyiapkan telur ayam kampung dan madu asli untuk cucu-cucunya, “Supaya tidak sakit-sakitan, “ katanya. Sibuklah lelaki gaek itu menimba dan memenuhi bak mandi  agar bisa puas bersiratan dengan para cucu. Jika saat itu tiba, sungguh akhir pekan yang sibuk dan panjang.

8 thoughts on “Pohon Nangka di Depan Rumah

    • Wah Bapak, saya kan bukan ahli feng shui. Kata tetangga saya pohon pepaya tidak baik ditanam di depan rumah. Juga segala jenis tanaman keras tidak boleh di tanam lurus pada pintu utama rumah. Yang baik ditanam di depan rumah, belimbing manis, srikaya dan sri rejeki. Kemanjurannya…. saya tidak tahu. Saya sih ikuti saja saran tetangga, tanam pohon belimbing sebagai peneduh dan yah… sri rejeki juga. Rejeki saya ?…. yang di atas selalu bermurah hati kok. Trims sudah mampir di blog saya.

      Like

  1. Saya baru bertemu dengan blog mbak Vero. Saya browse tanaman yg tdk boleh ada didepan rumah. Baru saja teman kami bercerita sekalian usul supaya tanaman pepaya yg didepan rumah dibunuh /dihilangkan. Memang aneh bagi kami selama ini ada saja yg tak beres dengan anak-anak/keponakan juga rejeki yg seret. Karena saya penganut agama yg taat tentu kata orang tdk saya percayai. Tapi sekarang mencoba utk berbenah toh bkan memepercayai itu hanya menoba menata ulang tanaman yg ada dudepan ataupun dibelakang rumah. Terimakasih sudah menuliskan /berbagi dengan pembaca.

    Like

    • Mbak Marloyati : Saya juga nggak terlalu yakin kok. Kalau dinasehati orang selama itu tidak merugikan, ya saya turuti saja. Kalau tidak dituruti, jika nantinya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kan orang akan berkata,”Itulah, dikasih tahu dari dulu kok bandel.” Saya setuju, jalan hidup, rejeki, dll sudah diatur oleh Sang Maha Pencinta.

      Like

  2. Mbak Vero, saya sungguh mengagumi gaya tulisan mbak Vero. Alurnya enak dinikmati. Saya juga enjoy membaca renungan spiritual mbak. Kira kira sama dengan mbak, saya bukan dokmatis, walaupun saya dibesarkan di lingkungan keluarga katolik – akrab dengan lingkungan gereja.
    Apapun tulisan mbak Vero, di blog ini, saya baca habis seperti membaca novel, bahkan ada yg saya ulang, begitu kira-kira. Bisa jadi karena hausnya bacaan dari tanah air (saya menetap di singapura) , tetapi saya yakin juga karena gaya bercerita mbak, yang enak dinikmati. Semoga mbak terus berkarya, jadi kami ikut menikmatinya. Kalau boleh, saya mintareferensi dimana lagi saya bisa menikmati tulisan mbak Vero? Terima Kasih.

    Liked by 1 person

    • Mbak Lily Rahayu Ytk, terima kasih sudah mampir dan menggemari tulisan dalam blog saya. Saya menulis juga untuk penerbitan-penerbitan internal di lingkungan kerja saya. Syukurlah jika tulisan-tulisan saya bisa bisa sedikit hiburan di tengah rutinitas hidup di negeri orang. Kita saling mendoakan ya mbak agar terus dapat berkarya dan menginspirasi orang lain. GBU

      Like

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s