Sexual Harassment 2 :

 HUKUM PELAKUNYA DAN JANGAN POJOKKAN KORBANNYA.

 Saya pernah menjadi korban pelecehan seksual. Yup. Waktu itu saya sedang mengambil study pastoral ministry di Manila dan tinggal di asrama dengan penghuni sekitar 100 orang. Menilik jenis studi saya, bisa dibayangkan bahwa hampir semua penghuninya adalah “manusia setengah dewa.” Kecuali saya tentunya. Saya adalah seorang stranger in paradise di sana, sepenuhnya aneh bahwa saya ada di antara mereka.

 Pelecehan yang saya terima tidak secara fisik tetapi secara verbal. Tetapi efek melukai harga diri dan martabat saya tetaplah sangat menyakitkan. Suatu saat datang sebuah sms green joke ke hape saya. Saya diamkan saja, sebab saya pikir itu hanyalah sms nyasar. Tetapi makin lama, sms sejenis semakin sering dan semakin berani. Dari ajakan bertemu empat mata, olok-olok bahwa saya menjual diri di hotel, sampai pertanyaan “have you eaten your sausage this morning ?” dst, dll.    Tak kenal waktu, bisa jam lima pagi, bisa jam 2 dini hari atau di tengah jam kuliah. Satu kali saya membalas sms-nya untuk menanyakan siapa orang ini. Dia menjawab  bahwa dia adalah seorang insinyur, tinggal di Davao. Tapi call dari saya tak pernah diangkat.

 Suatu saat dia terjebak. Saya sakit dan beberapa hari mengurung diri di kamar. Datang sebuah sms yang menanyakan apakah saya sedang sakit. Disertai sebuah nasihat, “Walaupun kamu minum berbagai obat, tapi kalau kamu malas makan, tetap saja kamu akan jatuh sakit. Eat well, “ katanya. Nah lu !! Kena dia. Pasti orang ini sesama penghuni asrama. Dia tahu saya sedang sakit. Dia tahu kebiasaan saya yang malas sarapan dan kurang cocok dengan masakan koki asrama.

 Saya tunjukkan sms itu dan sebelumnya kepada seorang sahabat saya. Sahabat saya yang lain secara diam-diam menyelidiki dan segera tahu siapa orang itu. Saya melapor kepada bapak direktur sekolah dan asrama. Tanggapannya sangat simpatik.  Tidak ada pertanyaan yang melukai perasaan saya atau menyudutkan gender dan seksualitas perempuan. “Beri saya waktu untuk berpikir apa yang harus saya lakukan. Bagi saya kehadiran kalian semua di sini sama pentingnya. Tapi kamu harus tegar., “katanya. Bahkan untuk menjamin keamanan saya di kampus pak direktur menawarkan  seorang “body guard” — yang tentu saja saya tolak dengan halus. Nanti fokusnya malah melebar ke mana-mana.

 Karena menunggu tindakan pak direktur terasa lama, maka saya ambil tindakan sendiri. Saya panggil orang itu secara empat mata. Saya katakan bahwa saya tahu perbuatannya dan saya berjanji akan mengekspos perbuatannya itu jika sekali lagi dia lakukan. Pelecehan dia terhadap saya berhenti.

 Tetapi cerita berulang lagi beberapa bulan kepada seorang perempuan penghuni baru asrama. Ini tak bisa ditoleransi. Saya harus memenuhi janji saya. Tidak, saya tidak mengekspos perbuatannya secara terbuka di kelas. Tapi saya bercerita pada banyak teman baik laki-laki maupun perempuan dalam bincang-bincang santai. Cerita tersebar dari mulut ke mulut. Kalau perbuatannya tak terjangkau oleh hukum normatif maka oleh kesalahannya orang harus mendapat hukuman sosial. Begitu pikir saya waktu itu.

 Di asrama saya ada yang namanya Committee of Life Community yang sangat suportif terhadap kasus saya. Anggotanya adalah orang-orang yang dipilih mewakili negara-negara para penghuni asrama. Tugas mereka adalah membuat hidup para penghuni lebih menyenangkan. Saya juga beruntung hidup di Filipina, di mana kebanyakan warganya lebih memiliki sensitivitas gender dari rata-rata orang Indonesia  atau beberapa warga negara lain.

Suatu malam,  seorang teman laki-laki Filipina bercerita pada saya. “Vero, kemarin saya berhasil mengelus kepala si X (nama pelaku pelecehean seksual itu). Kulakukan itu untukmu,” katanya. (ah…cara laki-laki, sering selalu menonjolkan otot dari pada dialog). Jadi ceritanya ; jam sepuluh malam si X baru keluar dari ruang internet — waktu itu hotspot belum  ada di asrama kami— dan melewati sekumpulan teman lelaki Filipina sedang duduk di halaman. Teman-teman Filipina menyilahkan dia mampir sebentar. Dan pembicaraan bergulir tentang pelecehan seksual via sms yang X lakukan terhadap saya dan perempuan lain penghuni asrama.

 Begitu gugupnya si X, sehingga dia menjawab, bahwa orang lain tak berhak campur urusan terhadap apa yang dia lakukan. Jawaban ini membuat teman-teman Filipina naik darah. “Hati-hati kamu bicara. Kamu hidup di Filipina, dan pelecehan seksual adalah tindakan criminal di sini. Kalau kami laporkan ini ke polisi, kamu bisa ditangkap !” begitu teman-teman Filipina saya bercerita.

 Singkat cerita, pelecehan seksual tidak bisa dibiarkan. Pelecehan terjadi tidak karena cara berpakaian saya, atau sikap saya yang “mengundang”, atau “memberi angin” tetapi karena mentalitas pelakunya yang menganggap perempuan sebagai makhluk yang boleh direndahkan. Mentalitas macam ini akan menjadi perilaku abusif yang akut. Sebagai perempuan korban kita harus berani bertindak.  Ini adalah pertolongan pertama bagi diri sendiri. Kalau ranah hukum normative tak dapat menjangkau, mari kuatkan jaringan untuk menghukum pelaku dengan hukuman sosial.

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s