Polyglot (2)

Seorang mantan mahasiswa saya yang kini menjadi guru di sebuah sekolah menengah pertama berlabel “internasional” bercerita dengan bangga bahwa ia diminta mengampu mata pelajaran lain di luar bidang akademisnya. Ia seorang lulusan jurusan sastra Inggris. Alasannya penunjukannya karena guru bidang tersebut tidak mampu mengajarkan mata pelajarannya dalam bahasa Inggris.

Saya hanya berpesan padanya agar lebih berhati-hati dan jangan larut pada kebanggaannya. Pertama ; sekolah berlabel internasional pun harus mengikuti UN yang memakai bahasa Indonesia. JIka pada mata pelajaran itu nilainya jatuh, maka kredibilitasnya akan jatuh pula. Kedua : ia tidak dipersiapkan pada kompetensi akademis mata pelajaran di luar bahasa / sastra Inggris.

Apa yang kita ajarkan di kelas hanyalah sebuah puncak piramida gunung es, amat sedikit dari sekian banyak ilmu yang kita pelajari di bangku kulaih dulu. Tapi di bawah permukaan yang kecil itu, ada bagian amat luas yang disebut wawasan keilmuan, kearifan akademis, dst. Perlu direnungkan, apakah kemampuan akademis yang dibina selama 4 -5 tahun pada bidang tertentu di perguruan tinggi, bisa dikalahkan oleh seseorang yang tidak dipersiapkan pada kompetensi itu tetapi mampu berbahasa Inggris. Ini  sungguh sebuah kesombongan akademik.

Sikap saya sendiri cukup jelas. Saya akan menolak mengajar sesuatu yang berada di luar kemampuan saya. Juga jika saya diminta untuk mengajarkan mata kuliah Bahasa Indonesia dengan menggunakan bahasa Inggris, saya menolak. Ada aturan menteri yang harus kita patuhi tentang itu, yaitu Permen No. 78/2009 tentang penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional. Di situ disebutkan bahwa dalam sekolah internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, mata pelajaran bahasa Indonesia, sejarah, kewarganegaraan dan agama tetap harus diajarkan dalam bahasa Indonesia. Asumsi saya, keempat mata pelajaran ini adalah salah satu dasar pembentuk karakter anak bangsa, jika kita yakin bahwa sekolah bukan saja lembaga pengajaran tetapi juga lembaga pendidikan. Meski tidak ada aturan terkait untuk pengajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi, saya pikir kita semua harus dijiwai aturan permen tersebut di atas.

Bukan sekedar berpayung pada permen tersebut di atas, saya mempunyai argumen sendiri mengapa menolak. Sebagai pendidik saya mendasarkan diri pada alasan filosofis dan etis sebagai dasar dari segala tindakan saya. Filosofi memberi saya visi atau tujuan  bahkan roh atau spirit tindakan saya. Sedangkan etika memberi saya rambu-rambu bagaimana visi itu harus dicapai, sebuah tertib moral pribadi, batas-batas apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dua hal ini, pilosofis dan etis akan membentuk konsep diri (self-concept) atau integritas seseorang.

Nah, pada dua pendasaran ini dengan rendah hati saya mengakui bahwa saya tidak mampu dan tidak pantas memenuhi permintaan itu. Pertama, alasan filosofis. Tujuan dari pendidikan bahasa Indonesia adalah memampukan anak didik menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, indah, santun dan cerdas sesuai dengan tingkat pendidikan dan wawasannya. Guru adalah figur yang harus menjadi acuan untuk penggunaan bahasa tersebut. Bagaimana anak didik bisa mendapatkan contoh yang baik jika gurunya berbicara campur aduk Inggris dan Indonesia.

Kedua alasan etis. Saya mencoba hanya melakukan sesuatu dalam batas kompetensi saya. Saya tidak mempersiapkan diri mengajar bahasa Indonesia dalam bahasa Inggris. Meski pernah mencicipi pendidikan di luar negeri, tetap saja kemampuan saya dalam berbahasa Inggris tidak sebanding dengan kemampuan saya dalam mengekspresikan pikiran dalam bahasa Indonesia. Harap dimaklumi saya tidak mempelajari bahasa/sastra Inggris di luar negeri. Harap pula dibedakan; bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris tidak serta-merta membuat seseorang mampu mengajar dalam bahasa Inggris.

Kalau memaksakan diri, saya khawatir konsentrasi saya justru pada bagaimana saya harus tampil berhahasa Inggris, dan tidak pada bagaimana saya mampu mentransfer ilmu dan mendidik murid-murid saya di kelas. Lebih celaka lagi bahasa gado-gado yang gunakan terasa janggal : Inggris yang dangkal dan Indonesia yang banal. Dua-duanya tak tuntas. Wassalam.

Artikel terkait :

http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/11/12322148/RSBISBI.Lahir.Tanpa.Landasan.yang.Kuat

http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/08/20324426/10.Alasan.Utama.SBI.Harus.Dihentikan

http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/12/04063954/Bahasa.Asing.di.RSBI.Tidak.Efektif

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s