Biji-biji Dandelion

Bunga dandelion

Ketika untuk sementara waktu saya tinggal di benua Eropa, saya terkesan dengan bunga dandelion. Bukan  karena keindahan atau keharumannya tetapi karena bunga ini membuat saya merenungkan dharma hidup dan pemberian diri.

 

Suatu saat, bahkan sampai saat ini, saya amat menyukai keharuman tanah saat hujan pertama. Saat   rumput-rumput yang tadinya coklat layu, kembali memunculkan pucuk-pucuk daunnya. Rumput tak pernah benar-benar mati. Saat kemarau panjang tampaknya saja ia mati, tetapi akarnya jauh menjalar di dalam tanah. Oleh sentuhan hujan beberapa hari saja, kembali ia akan menghijau. Dan pada saat yang tepat ia akan berbunga. Cantik dalam kebersahajaannya. Itulah filosofi rumput bagi saya, simple humble survival.


Di negeri empat musim, rumput membuat saya lebih terkesima. Pada musim panas ia seakan mati. Pada musim dingin, ketika hampir semua pepohonan kehilangan daun, rumput tetap menghijau subur. Dan nanti rumput akan mengawali musim semi dengan bunganya yang berwarna-warni.

Di mata saya, dandelion bukan bunga rumput yang paling cantik. Tapi jumlahnya paling banyak. Warna kuningnya yang cemerlang mendominasi warna-warna bunga  rumput yang lain. Mungkin ia seperti rakyat jelata, saya salah satunya.

Biji dandelion

Dandelion hanya  mekar untuk sehari dua hari saja. Sesudah itu kelopak bunga mengering begitu pula biji-biji yang terkandung  dibawahnya.  Nanti angin akan menerbangkan biji-biji ini ke segala penjuru. Sebagian biji-biji ini akan terbang jauh dari induknya. Sebagian jatuh ke tanah subur, sebagian jatuh ke tanah gersang, dan sebagian lagi jatuh ke atas padas yang keras. Biji-biji itu tak dapat memilih ke mana angin akan membawanya.

Yang jatuh ke tanah subur, ia akan tumbuh dan berbunga dengan cantiknya. Yang jatuh di tanah gersang, ia akan berbunga tapi tentu tak sebagus yang tumbuh di tanah subur. Yang jatuh di atas padas, seberapa kuat pun daya hidup yang dimiliki rumput, hukum alam tak mengijinkannya untuk hidup berlama-lama.

Mungkin hidup seperti itu. Kita seperti biji-biji dandelion. Saat matang kita semua harus menyebar dari induk yang menetaskannya : orang tua, kampung halaman, tanah air, dunia kampus. Kedewasaan yang sesungguhnya harus dimulai. Biji yang berkualitas baik, jatuh di lahan yang baik dan mendapat pemeliharaan yang baik, akan berbunga dengan sempurna. Inilah kondisi ideal yang diinginkan semua orang.

Dandelion tumbuh di sela batu

Tapi tidak semua dari kita berada dalam kondisi ideal seperti ini.  Ada biji baik yang jatuh ke batu karang. Mungkin ia bisa hidup untuk sehari dua hari lalu mati. Sebaliknya, mungkin ada biji dengan kualitas rendah tapi jatuh ke lahan ideal, maka ia sanggup berbunga dengan baik – bahkan terbaik dalam kapasitasnya.

 

Bukan fatalistik  tapi memang ada hal-hal yang tak bisa kita ubah dalam hidup. Ada “garis nasib dan garis takdir” yang harus dijalani. Pada “garis nasib” inilah kita harus menjalankan dharma – pembaktikan hidup pada peran kita masing-masing. Terlalu sombong kalau saya mengatakan nasib ada dalam tangan saya sendiri. Bagi saya, keberhasilan dalam hidup adalah gabungan synchronicity dan serendipity, usaha yang tekun dan peluang yang jatuh ke tangan kita.

Kita adalah biji-biji itu. Seperti rumput yang memiliki daya hidup yang tinggi dalam segala musim, kita harus tumbuh berkembang. Mungkin kita tidak berada dalam kondisi ideal. Mungkin orang-orang di sekeliling kita sering tidak mendukung kita. Mungkin persaingan di sekitar kita begitu ganas. Tapi kita harus memberi yang terbaik dalam kapasitas kita. Toh nanti kita tidak diukur dengan takaran yang sama. Kita diukur dengan takaran yang unik, yang sesuai dengan kondisi kita masing-masing. masing.

Bunga dandelion

Kita adalah lahan, di mana benih-benih generasi baru berharap untuk bertumpu. Apakah kita lahan subur dan tangan mulia, yang memberi peluang pada benih kualitas baik, kualitas sedang dan kualitas buruk untuk mampu mempersembahkan hasil maksimal mereka bagi peradaban kemanusiaan? Apakah kita batu padas yang siap menghancurkan benih yang paling baik, yang pernah lahir di tengah masyarakat ?

Artikel terkait :

Dandelion flower, symbol and the meaning

Some images of serenity prayer

Serenity prayer

 

 

One thought on “Biji-biji Dandelion

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s