Balada Syarifah

Syarifah menikah dengan lelaki yang tidak direstui keluarganya untuk jadi suaminya. Alasannya menurutnya terllau kuno dan rasis. “Jangan menikah dengan lelaki dari suku X, sebab mereka biasa dimanja sehingga tak bias diandalkan  sebagai ayah yang baik.”  Jadi ia nekat saja. Toh keluarganya tak menolaknya sampai titik darah penghabisan. Terbukti orang tuanya masih member mereka pinjaman rumah sederhana untuk ditempati.

Tahun demi tahun berjalan. Pandangan keluarganya terbukti. Bedu, suaminya itu, pemalas. Ia bekerja sebagai pemain organ tunggal kalau ada orang hajatan. Kalau tak ada panggilan ia jadi tukang ojek. Tapi ia hanya mau melayani satu pelanggan saja : mengantar daging dari rumah jagal ke pedagang di pasar. Sebelu, subuh ia berangkat dan biasanya Jam sebelas pagi ia sudah di rumah. Sisa waktunya di habiskan dengan tidur di rumah dan memancing dengan serombongan temannya.

Ketika anak-anak mulai sekolah, biaya hidup meningkat. menasehati agar ia bekerja lebih keras. Misalnya mencari pelanggan antar jemput ojek anak sekolah. Bedu tak mempan dinasehati. Rumah milik orang tua Syarifah pun terjual.Mereka terpaksa mengontrak. Waktu anak pertamanya masuk  SMA, Syarifah memutuskan menjadi buruh migran, pembantu rumah tangga, di Malaysia. Ia berharap  bisa membeli rumah dan punya modal usaha. Empat  tahun terlewati. Syarifah mampu membeli tanah dan membangun rumah semi permanen di pinggiran kota. Tapi tiga anaknya juga butuh biaya kuliah sekarang.

Ia pun memutuskan memperpanjang kontrak kerjanya. Konon, majikannya sangat baik. Tugas pokoknya hanya menjaga dan membersihkan rumah. Majikannya seorang yang punya jabatan di pemerintahan. Anak-anaknya sudah mandiri. Isterinya seorang saudagar yang sibuk mondar-mandir di beberapa Negara tetangga.

Bedu marah bukan kepalang. Dalam tiap kemarahannya anak-anaknya jadi sasaran. Dia menganggap anak-anak yang berambisi sekolah tinggi-tinggi itulah yang jadi pemicu sang ibu pergi ke Malaysia. Ia berprinsip bahwa hidup ini harus disyukuri. – Dalam arti tak perlulah kita “ngoyo” menggapai hal-hal yang sulit dijangkau.

“Masih banyak orang yang lebih sengsara dari kita, “ begitu terus omelan keluar dari mulutnya.

“Apa pekerjaan ibumu di sana?”

Ia curiga bahwa isterinya bukan sekedar “pembantu rumah tangga.” Uang kiriman selalu lancar. Barang-barang perkakas rumah tangga selalu terbeli. Bagi mata yang selalu curiga, mungkin terlalu tajir untuk ukuran gaji PRT para TKW di Malaysia yang rata-rata cuma 2-3 juta per bulan.   Syarifah juga gampang melenggang pulang balik ke dan dari negeri jiran itu, tak sebagaimana laiknya PRT.

Bedu semakin malas bekerja. Rupanya diam-diam Bedu kawin siri dengan perempuan lain. Anak-anaknya tahu dan mengirim kabar kepada ibunya. Syarifah pulang. Emosinya tak langsung meledak. Ia cuma minta agar Bedu menceraikan isteri sirinya. Tapi Bedu tak mau. Ia memilih poligami. Maka Syarifah pun menggugat cerai lewat KUA. Bedu pergi tanpa gono-gini yang bisa dibagi.

Kepada para tetangga Sarifah bercerita bahwa sebenarnya ia memang sudah ingin pulang da hidup “normal” dengan keluarganya. Tapi ia tak mau dipoligami. Ia juga sakit hati jika setiap bertengkar Bedu selalu mencurigainya sebagai “pembantu luar dalam.” Maka seusai urusan perceraiannya, ia terbang lagi ke Malaysia untuk satu tahun. Katanya relasinya dengan boss-nya sangat baik.

+   “Bedu sialan. Padahal aku sudah melepas spiralku, ” katanya suatu hari.

–   “Lho gimana toh.. nggak kebalik ? Ketemu misua malah copot spiral, ke Malaysia malah pasang spiral?” yang diajak bicara mengkritisi.

+  “Ya…, spiral kan membuat lelaki tak nyaman berhubungan, ” ia cepat menukas. Ups. Mungkin slip of the tongue.

Tapi bisik-bisik tetangga terus bergulir. Aku jadi ingat teman-teman yang mengaku diri feminis, yang kadang terlalu sensitif, jika membela kepentingan perempuan. Tentu saja mereka jadi menganggap perempuan sebagai pihak yang selalu tertindas dan harus dimenangkan. Tapi hidup tak selalu bisa dipandang dalam ekstrem warna hitam dan putih. Di antara dua kutub itu terdapat ruang abu-abu setidaknya. ****

 

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s