Hantu di La Blachere

La Blachere dan Hantu Brondong itu

Dulu kupikir hantu-hantu itu cuma ada dalam  dunia imajinasi kanak-kanakku di Jawa dan kemudian di Sumatera. Kuntilanak, momok, sundhel bolong, pocong, wewe gombel, thuyul gundhul dan berbagai variasinya menjadi ancaman yang setiap waktu bisa datang mewujud. Tetapi lama kemudian di La Blachere aku nyaris bersentuhan dengan dunia di mana mereka berada.

La Blachere adalah sebuah dusun kecil di sebuah bukit perbatasan Italia dan Perancis. Awal musim semi 2003, rambongan kecil kami meninggalkan Ecully dengan tiga mobil. Sekitar jam 8 pagi kami berangkat dan jeda makan siang kami sudah tiba di tempat.  Hawa di sini terasa lebih hangat, dibandingkan Ecully dusun kami di perbukitan pinggir kota Lyon. Mungkin karena musim semi telah menjelang. Mungkin juga karena daerah ini terletak di batas paling selatan Perancis. Atau apakah perbukitan kapur dan hamparan padang pasir ini bisa menghangatkan cuaca ? Entahlah.

Villa kami

Vila yang kami tempati adalah sebuah bangunan biara yang berdiri sejak abad lalu. Hanya ada beberapa biarawati uzur di sini. Mereka menghidupi diri dengan doa-doa, pekerjaan tangan sederhana dan menyewakan sebagian bangunan ini untuk persinggahan bagi para penduduk kota kota yang berlibur atau datang karena berbagai urusan. Kebetulan dusun kecil ini memang merupakan tempat wisata (hmmm … rasanya tiap jengkal tanah Perancis ya tempat wisata). Konon, para pebisnis dari beberapa negara luar akan lebih dulu mampir ke sini, belajar bahasa Perancis dan tradisinya,  dan nanti mereka bisa sedikit presentasi bisnis dalam bahasa Perancis kepada para kliennya. Maklumlah, orang Perancis ini bangga benar pada apa yang mereka miliki. Termasuk bahasa. Tak bisa Perancis, silahkan perot eh repot sendiri, karena mereka tak mau repot dengan mempelajari bahasa Inggris.

Kami akan bertapa selama seminggu di sini. Nama keren acara kami adalah symbolic way. Ini nama pelajaran yang diberikan oleh Pierre Babin, pendiri sekolah komunikasi kami. Pierre bilang ini pelajaran yang unik dan hanya sekolah kami saja yang menjalaninya. Padahal ya… tentu saja banyak kelompok lain melakukan hal yang sama.

Jelasnya acara ini adalah perpaduan retret, teori biasa, immersion (aduh…apa ya: maksudnya, mebenamkan diri ke dalam pengalaman indrawi dan batiniah, lalu menampilkannya dalam sebuah karya komunikasi.). Maka kami pilih tempat yang sepi (walaupun Crec, kampus kami itu juga selalu senyap) dan indah ini. Di belakang vila kami ini ada sebuah bangunan gereja tua dengan menara berpatung Maria di puncaknya. Konon bangunan ini sudah berdiri sejak abad 16. Bangunan-bangunan rumah di sekitar villa ini terlihat kecil-kecil dan sederhana. Jarak rumah yang satu dengan lainnya agak jauh, diselingi tanah-tanah kosong atau dibiarkan ditumbuhi ilalang.

Persinggungan dengan Dimensi ke-6

Begitu datang beberapa teman langsung menghambur ke lantai dua, di mana kamar kami terletak. Ada dua deretan kamar  masing-masing dengan pemandangan menghadap ke luar. Aku, karena telmi, telat mikir, maka setibanya di lokasi malah berbuat yang tidak-tidak: ngulet – stretching boyok, jalan-jalan mengelilingi villa, sok ramah- menyapa sana sini, ngintip dapur melihat menu makan siang kami. Tak sadar teman-teman lain sudah berebut kamar dengan pemandangan ke arah luar yang lebih baik.

Akhirnya aku naik ke lantai dua. Dingin, mungkin karena dinding batu bangunan ini sangat tebal. Lorong pemisah dua deret kamar terasa gelap, karena hanya disinari lampu remang di ujung. Seperti juga di bangunan lain, lampu ini sensitive terhadap gerakan, dia hanya menyala kalau menangkap gerak manusia, beberapa menit kemudian akan otomatis mati sendiri. Hemat energi a la teknologi.

Hanya tersisa empat kamar di sekitar kamar mandi, masing-masing dua di sisi kiri dan kanan lorong. Sial. Aku pasti terganggu suara-suara gemericik air. Juga pemandangan ke arah luar cukup buruk, hanya ilalang dan kebun kosong. Apa boleh buat. Setidaknya aku masih bisa menghibur diri bahwa lorong depan kamarnya akan dilalui teman-teman yang akan mandi atau naik dan turun dari dan ke aula di lantai 1.  Bisa mengurangi aroma seram.

Kamarku masih lebih baik dari kamar Mathilde, kepala sekolah kami. Ini Negara demokratis men !. Biar elo direktur atao tukang kebun, kalau belakangan datang ya silahkan menempati sisa kamar yang ada. Di hadapan kamarku Michelle memilih tempatnya. Dari kamar Micehlle ada sebuah pintu pintas ke kamar paling ujung yang bersebelahan dengan kamar mandi. Itulah kamar Mathilde. Grendel pintu pintas terletak di kamarnya. Sedangkan satu kamar kosong tersisa di sebelah kamarku.

Karena acara ini semi retret maka kami juga tak banyak bicara satu sama lain. Kelas biasanya hanya sekali pagi dan sekali sore. Selebihnya kami silensium sendiri. Aku banyak menggunakan waktuku dengan jalan sendiri di sekeliling villa, ke kuburan biara, atau mendengarkan musik. Sesudah makan malam, biasanya kami menyusun rencana untuk esok harinya, atau sesekali kami berbincang di santai di muka villa.

Suatu sore tiba-tiba Neun, teman kami warganegara Perancis keturunan Kamboja, lari terbirit-birit, “Aku mau tidur duluan…. Kalau tidur terlalu larut aku nggak bisa tidur semalaman. Kamu tahu, aku takut benar pada hantuuuu !!! “ Ia tertawa terkikik-kikik meninggalkan kumpulan.

“Hei… emang di Perancis ada hantu?” tanyaku lugu.

Ia tertawa, “Ghost ya di mana-mana ada…”

Villa ini memang wingit. Terasa seperti bangunan yang lama tak dijamah manusia. Masih ditambah lampu-lampu yang kurang watt-nya. Aku yang biasanya tidur dengan mematikan lampu, di sini jadi tak berani melakukan hal itu. Takut tiba-tiba dalam kegelapan ada sesosok bayangan muncul di kamarku. Akibatnya tiap pagi mataku pedih, tidurnya panjang tapi tak nyenyak.

Sebenarnya ada pengalaman lain yang kusimpan diam-diam. Aku membiasakan diri untuk melakukan meditasi pribadi. Ini kebiasaan yang ditularkan oleh John Froz teman India-Kerala kami. Aku lebih suka melakukannya malam hari. Aku melintas villa kami dan memasuki kapel yang berada di area biara seorang diri. Biasanya sekitar setengah atau satu jam aku luangkan untuk intens bermeditasi.

Tidak ingat hari keberapa.  Saat aku hendak memasuki puncak meditasi (merasakan kekosongan dalam kesadaran), aku menangkap dengan ekor  mataku sesosok bayangan di pojok ruangan, seperti ia juga sedang melakukan meditasi. Tidak tepat benar, mungkin aku merasakan ada energi dari sesuatu yang lain di ruangan itu.

Berkali-kali, John Froz, teman dan guru spiritualitas timur-ku yang pertama, menekankan untuk tidak tekesan atau terobsesi dengan pengalaman-pengalaman halusinatif begitu. Aku toh tercekat. Pengalaman semacam tubuh melayang, mengambang di air dan sebagainya, biasa saja terjadi pada sesorang yang mendalami meditasi. “Tapi jangan berhenti pada pengalaman ini. Ini lumrah. Tak perlu diwartakan pada semua orang, nanti kamu dijadikan tukang ramal togel, “ katanya selalu.

Bahkan akan muncul semacam “indra keenam” juga harus dianggap sebagai hal yang tidak istimewa. Tapi baru sekali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ini yang namanya hantu atau apa ? Apa hantu itu seperti ini ? Aku terganggu, dan mendaratkan kesadaranku, menepi sejenak dari alam meditasi. Kulirik sudut itu. Tak ada siapa-siapa. Aku pulang ke villa dengan memendam pertanyaan sendiri.

Esok harinya aku tak berani bertandang ke kapel malam hari. Ketika rehat siang aku sempatkan meditasi. Terulang kejadian yang sama. Mendekati puncak yang meditasi, bayangan itu muncul lagi. Kali ini dengan sosok yang lebih jelas daripada kemarin. Bulu kudukku berdiri. Aku terbirit pulang dan tak pernah menyambangi lagi kapel itu sampai retret kami di La Blachere berakhir. Tapi pengalaman ini kusimpan diam-diam. Untuk apa diceritakan kepada orang lain. Mereka toh tak kan mempercayaiku. Pengalaman halusinatif mungkin hanya merupakan bagian dari perjalanan sipiritualku pribadi. Tak pantas hal-hal mecam begini diceritakan. Neun pasti akan tertawa terkekeh-tekeh kalau tahu. Ia selalu menganggap aku gabungan “setan logika” dan such complicated person.

Bersama teman-teman

Hantu Brondong

Nah ! Beberapa hari kemudian terjadilah peristiwa itu. Hari ini sampai besok adalah silensium total. Malam hari kami hanya koneferensi teknis saja, merembug keberangkatan kami ke Faugeres. Ini adalah sebuah dusun di puncak bukit. Di sana ada perbukitan kapur juga ada padang stepa mini. Jam empat pagi esok kami harus berangkat. Ibadat di kapel desa Faugere, lalu lalu berpencar sendiri-sendiri melakukan immersion sampai pukul delapan pagi. Malam ini kami sudah mengambil jatah sarapan kami masing-masing yaitu, sepotong roti, sebutir apel dan sebotol air mineral. Hanya itu. Kami boleh makan dan bicara pada sessi sharing sesudah immersion.

Kami masuk kamar lebih awal. Karena setidaknya kami harus bangun pukul 3.30 esok pagi. Seperti biasa aku tak nyenyak tidur. Tiba-tiba awal dini itu aku mendengar Mathilde berteriak-teriak, seperti mengigau. Lalu suara Michelle memanggil-manggil namanya dan mengetuk keras-keras pintu pintas di antara kedua kamar mereka. Aku makjenggirat (hihi…bahasa Jawa), menghambur keluar. Spontan keketuk pintu Michelle dan masuk. Pintu pintas di antara kedua ruangan telah dibuka. Mathilde terduduk di dipannya. Nafasnya pendek-pendek.

“What happen..” teriak kami berdua sambil mengguncang-guncangkan bahunya.

“Kamu mengigau?”

Ia berusaha mengatur nafasnya. Katanya ,”No.” Lalu ia bercerita. Pagi itu ia bangun karena merasa sudah pagi dan harus berangkat ke Faugeres. Dalam setengah kesadarannya ia melihat sesosok orang terbaring di sisinya.

“Kamu mimpi ?” Tanya kami berdua.

“Yakin. Tidak,” katanya tegas. “Sesosok laki-laki. European. Muda, gundul. Aku menggosok mataku dan memusatkan kesadaran, lalu bayangan itu lenyap, “ katanya. Kami bertiga diam. Berkemas dan tepat jam empat pagi kami bertolak ke Faugeres, tempat yang lebih tinggi.

Cerita tentang hantu brondong gundul itu kami ulas  waktu silensium kami selesai. Tapi tak ada respon yang berlebihan dari teman-teman maupun Mathilde sendiri. Hari-hari selanjutnya Mathilde tetap tidur di kamar yang sama. Kulihat tak ada sisa-sisa ketakutan dari sikapnya. Aku malah yang trauma. Setidaknya aku jadi yakin bahwa hantu bukan cuma ada dalam rimba imajinasi kanak-kanakku tapi bisa mewujud di dunia dewasa dan di sembarang tempat, bahkan di mana logika didewakan. *****

Foto-fotoku di La Blachere :

Katedral La Blachere

My Africans friends

Rumah tetangga sebelah : cekli bin cantik !

Kapel kecil di Faugeres, desa sebelah La Blachere

Empty bench at the edge of the path to Faugeres

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s