Mgr. Andreas Henrisoesanta, Uskup Keuskupan Tanjungkarang

Prolog

Mgr. Andreas Henrisoesanta, Uskup Keuskupan Tanjungkarang, genap berusia 75 tahun pada 7 Juni 2010 yang lalu. Dengan demikian ia akan segera menyandang gelar uskup emeritus begitu nanti uskup baru terpilih. Ia ditahbiskan sebagai uskup pada 19 Februari 1976 menggantikan kedudukan Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras SCJ. Tulisan ini pertama kali dimuat di taboit Comunio, media komunikasi Keuskupan Agung Palembang, pada Maret 2001 untuk menyambut 25 tahun tahbisan uskup dan dimuat lagi dalam buku Eritis Mihi Testes pada Juli tahun yang sama untuk memperingati 40 tahun tahbisan imamatnya. Tulisan ini saya post lagi di sini agar sempat dibaca lagi oleh khalayak, sebagaimana fungsi media komunikasi yaitu sebagai penjaga ingatan publik. Oh ya..saya mengapa saya bisa menulis sedemikian “karib” dan “dekat” ? Saya dan seorang teman di kantor kuria keuskupan Tanjungkarang, Elisabeth Rosa dan sopir pribadi beliau Thomas Wahyono, secara intensif  mengikuti kunjungan pastoral beliau ke kelompok-kelompok kecil di stasi-stasi yang jauh dari pusat keuskupan, antara tahun 1995 – 1998. Rombongan kecil kami ditambah pastor paroki menginap tidak saja di pondok-pondok pastoran stasi tapi juga di rumah-rumah penduduk di umbul (desa rintisan transmigran lokal) dengan segala kesederhanaan dan keterbatasannya. Tiap dua minggu sekali kami ke stasi dan menginap 2 – 3 malam di sana. ****

BERTOLAK KE TEMPAT YANG LEBIH DALAM

Usia 25 dan 40 biasa diperingati secara khusus dalam perjalanan hidup sesorang. Yang pertama biasa disebut pesta perak dalam tradisi Barat. Sedangkan yang kedua dalam tradisi Jawa biasa disebut panca windu atau tumbuk alit. Tahun 2001 ini kiranya menjadi tahun penuh rahmat bagi Uskup Tanjungkarang, Mgr. Henrisoesanta, karena kedua perayaan itu bertemu. Tanggal 11 Pebruari 2001 dirayakan pesta perak tahbisan uskup. Dan pada 2 Juli  2001 akan genap ia menjalani 40 tahun hidup imamatnya.

Uskup kedua Keuskupan Tanjungkarang ini ditahbiskan dua puluh lima tahun lalu, menggantikan Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras, SCJ. Kembali ke Indonesia pada tahun 1966, ia langsung berpastoral di Yayasan Xaverius. Tentu saja tanpa meninggalkan tugas pokoknya sebagai pastor paroki.  Setelah serah terima jabatan uskup  13 Mei 1979 resmilah ia menggembalakan umat Katolik Lampung. Menerima tahbisan uskup dalam usia yang cukup muda, 41 tahun, tidakkah ia merasa takut? Banyak tantangan menghadang dan banyak hal harus dibenahi. “Tentu saja takut dan ragu-ragu. Ada resiko gagal. Tapi saya yakin, Tuhan ambil bagian dalam tugas itu dan memikul tanggung jawab bersama,”  katanya.

Berdarah Peziarah

Gereja Lampung adalah Gereja pendatang, sering dikatakan orang demikian. Demikian pula uskup Lampung ini adalah  seorang anak petani transmigran dari Jawa. Ia dilahirkan di Gunung Kidul, 7 Juni 1935. Bersama keluarga besarnya ia ikut transmigrasi ke Metro pada 1939. Metro waktu itu masih daerah hunian baru. Semua pendatang merasakan benar pahit getir hidup sebagai petani perintis. Tak terkecuali Suwiyata, demikian nama kecil Mgr. Henrisoesanta. Ia mengalami tiga zaman yang sama beratnya, penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan masa-masa awal kemerdekaan. Saat itu semua orang harus bergulat dengan ketidakpastian dan kegelisahan.

Lama kemudian justru ia menemukan spirit dari kegelisahan metafisik ini. Apa yang sering diangankan  orang sebagai sebuah tujuan ternyata  kemudian hanya sebuah perhentian. Manusia harus meninggalkan kemapanannya, memulai lagi perjalanan baru, bergulat lagi dengan ketidakpastian  dalam mencari panggilan hidupnya. Manusia tak pernah berhenti pada suatu titik tertentu. Ia bahkan mengangkat proses ini sebagai semangat peziarahan Gereja lokal Lampung. “Mencari untuk menemukan,” demikian ia sering merefleksikan proses itu.

Ia melukiskan peziarahan itu seperti dua murid yang berjalan menuju Emaus (Luk. 24:3–25). Keduanya saat itu dicekam kebingungan yang luar biasa sehubungan dengan kematian dan kebangkitan Yesus, Sang Guru. Tetapi tanpa mereka sadari Yesus sendiri kemudian hadir menemani perbincangan di sepanjang perjalanan itu. “Dalam semangat dialog seperti itulah, Gereja Lampung akan mendapat pencerahan. Roh Tuhan sendiri yang akan mengarahkan, ikut serta dalam proses pencarian itu , “ demikian ia selalu menguatkan umatnya.

Semangat “anti kemapanan” ini mungkin diwarisi dari keluarganya. Ayahnya Jakobus Samadi Kasandikromo, dan Paklik-nya FX. Satijo Atmo Suparto, orang terpandang di Ngijorejo. Keduanya murid Kyai Kasan Iman, seorang guru spiritual terkenal pada masa itu. Atmo Suparto sendiri kemudian menjadi guru spiritual terkenal pula di desanya. Salah satu muridnya bernama Sastro Utomo. Suatu saat kedua guru dan murid itu berdebat sengit tentang makna kehidupan. Kyai Atmo Suparto mengaku kalah.

Konsekuensi dari kekalahan itu, Kyai Atmosuparto berguru kepada mantan muridnya. Bahkan ia mengajak saudara-saudaranya untuk mengkaji ilmu bersama-sama. Sang guru, yang bernama lengkap Eustacius Puspo Utomo mengajar berbagai ilmu kehidupan dari kitab-kitab Jawa yang terkenal. Baru pada tahap akhir ia mengajarkan keutamaan tertinggi yaitu cinta kasih seperti ditunjukkan Yesus Kristus.

Akhirnya dibaptislah tujuh keluarga di Desa Ngijorejo oleh Romo Strater, SJ. Dua di antara mereka adalah kakak beradik Samadi Kasandikromo dan Satijo Atmo Suparto. Inilah cikal bakal umat Katolik Stasi Ngijorejo, Paroki Wonosari. Sang perintis sendiri, kedua kakak beradik itu pada akhir tahun tiga puluhan bermukim di Metro. Bersama sejumlah umat Katolik lain mereka pun merintis Gereja  perdana di tanah Lampung ini.

Mencintai Lampung

Meski tidak dilahirkan di Lampung, ia mengaku sangat mencintai Lampung dengan segala keunikannya. Kecintaannya itu diwujudkan dalam  mottonya, Eritis Mihi testes, ‘Kamu akan menjadi saksiKu.’ Sebuah bola dunia dengan salib menancap tipis di bumi Lampung dipilih menjadi lambangnya. “Salib yang menancap harus tipis sekali supaya dapat berkontak secara perlahan-lahan, tahap demi tahap, hingga akhirnya tercipta persaudaraan sejati yang kokoh di Lampung yang heterogen ini,” demikian Mgr. Henri sering menerangkan makna lambang itu.

Kecintaan akan Lampung juga mungkin karena ingatan kenangan masa kecil yang manis. Setelah menamakan sekolah rakyat di Metro, ia meneruskan pendidikannya Sekolah Menengah Katolik di Pringsewu. Di sana ia beriteraksi dengan banyak anak yang berbeda suku dan agama. “Dulu begitu menyenangkan kami bergaul dengan teman sebaya. Tak ada sekat-sekat primordial suku maupun agama,”  kenang uskup yang hobi main bola ketika muda dulu.

Ia menambahkan itu semua mungkin saja terjadi karena mereka menghadapi tantangan yang sama: penjajahan, penderitaan dan kemelataran sosial. Sebagai contoh ia menceritakan sepenggal kisah di tahun 1949. Dalam agresi II  sekitar pertengahan 1949  Pringsewu diduduki Belanda. Semua pastor dan suster berkebangsaan Belanda tertahan di Palembang, karena keamanan belum pulih. Satu-satunya imam yang berkarya di Lampung adalah Rm. Padmoseputra, seorang imam projo dari Keuskupan Agung Semarang.

Romo Padmo mengajak suster dan anak-anak asrama sekolah Katolik untuk mengungsi ke Padangbulan (sekarang berdiri gua Maria dan rumah retret La Verna). Pengungsian ini bukan untuk mencari rasa aman. Tindakan ini diambil Rm. Padmo untuk membangun kebersamaan dan rasa senasib dengan para pejuang kemerdekaan yang waktu itu mengungsi ke luar kota. “Pilihan Romo Padmo itu adalah sebuah sikap politis. Gereja harus menjadi bagian dari rakyat Indonesia dan berjuang bersama-sama,” kenang Mgr. Henri.

Pendidikan politik yang sederhana dari Rm. Padmo ini ternyata sering  menjadi warna keputusan pastoral di Keskupan yang dipimpinnya. Sesudah sinode 1992 misalnya, ditemukan butir-butir kesepakatan : paradigma baru, memasyarakat, dialog, keterbukaan dan menerima nilai penebusan Kristus. Maka sejak usai sinode sampai sekarang ia masih rajin mensosialisasikan butir-butir kesepakatan itu ke pelosok-pelosok stasi.

Tak jemu-jemu ia menyerukan agar umat Katolik membongkar gheto ekskluvitasnya. Ia juga berkeliling jauh ke stasi-stasi yang terpencil untuk berdialog dengan kelompok kecil umat. “Tak ada duit Katolik, tak ada beras Katolik, “ ia sering bercanda. Artinya semua kegiatan yang berhubungan ekonomi, politik, kebudayaan dan sosial lakukanlah bersama masyarakat. “Ikutlah dalam semua kegiatan di masyarakat, maka kita akan diakui sebagai bagian yang terpisahkan,” tambahnya.

Bertekad untuk Bertobat

Dua puluh lima tahun lamanya kawanan kecil umat Katolik Lampung berada di bawah pimpinan Mgr. Henrisoesanta menapaki panggilan imannya. Dalam masa perjalanan panjang itu tidak selalu menjumpai hal-hal yang menyenangkan. Dalam proses dialog silang selisish dan beda pendapat bisa saja terjadi. Hal ini bukannya tidak disadari oleh Mgr. Henri. Maka dalam misa perayaan syukur pesta peraknya ia secara khusus menyinggung  hal itu.

“Kepada umat Katolik dan masyarakat: yang senang dan gembira atas penggembalaan saya, yang kecewa, jengkel, sakit hati atas tindakan saya, yang bingung atau merasa dikacaukan, dan secara khusus kepada tarekat Imam Hati Kudus. Dengan tulus hati saya banyak berterima kasih atas kebaikan hati anda mendidik saya dengan sikap dan tanggapan anda yang jujur dan terbuka,” demikian antara lain ditekankan Uskup Tanjungkarang dalam di akhir kotbah berjudul Mempertanggungjawabkan Imamatku, 11 Pebruari lalu.

Dalam kesempatan itu ia juga mengakui kekurangannya yang besar. Maka ia mengungkapkan salah satu tekadnya adalah bertobat. “Bertolaklah  ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan,” demikian Santo Bapa Yohanes Paulus II dalam surat apostolik Novo Millenio Ineunte. Mgr. Henri mengaitkan seruan Bapa Suci ini dengan Injil Matius 28 : 19, Pergilah .….Jadikanlah semua bangsa muridKu. “Dalam mewartakan Injil, saya akan berusaha bertolak ke tempat yang lebih dalam yakni hati manusia,”  tekadnya.

Di usia yang terbilang senja Mgr. Henri masih sering berkeliling ke stasi-stasi di pedalaman. Perihal  kegemarannya ini ia mengatakan bahwa ia hanya sekedar meneladan Yesus: berkeliling, mengajar dan mewartakan, demikian terungkap dalam kotbah berjudul Mempertanggungjawabkan Imamatku.

Daya tahan fisiknya memang masih cukup mendukung untuk itu. Ia tahan duduk berdialog sehari suntuk. Ia pun bisa makan apapun yang dihidangkan umat kecuali “hotdog.” Seusai bertemu umat di stasi, malam hari ia menginap di pastoran. Kalau ada pertandingan sepak bola di televisi ia akan nonton, sehingga pastor yang sudah lelah seharian ikut berkeliling jadi tak enak hati membiarkannya sendirian. Dan bisa dipastikan besok ia akan bangun paling pagi, beribadat dan bersiap untuk perjalanan ke stasi lagi. Tahun 1995, 1997 dan 1998 hampir sepanjang Jumat sampai Minggu  ia berada di pedalaman.

Irama hidupnya spartan. Sepulang dari stasi, hari Senin pagi ia sudah duduk di ruang kerjanya lagi, mempelajari surat-surat atau menerima tamu. Setelah istirahat siang selama dua jam, sekitar pukul empat sore ia siap bekerja lagi. Tidak jenuh Bapa Uskup? Menjawab pertanyaan begini biasanya ia akan tertawa, “ Teman saya banyak….itu…,” ia menunjuk burung-burung di kandang dan sederet buku tebal di rak. Bersama buku-buku dan doa-doa ia melayari ruang dan waktu yang tak berbatas.

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s