Kenikmatan Sebatas Lidah

Konsekuansi saya sebagai perempuan yang bekerja di sektor publik adalah, saya tak mampu mengerjakan banyak pekerjaan rumah tangga. Pergi pagi pulang petang adalah ritual yang harus dijalani setiap harinya. Maka untuk membantu saya mengerjakan pekerjaan domestik itu, saya minta tolong tetangga. Ia seorang wanita paruh baya yang tak banyak lagi direpotkan oleh urusan anak-anaknya, karena hampir semuanya sudah remaja atau menginjak dewasa.

Pagi hari saya menitipkan kunci rumah, dan nanti sekitar jam 10 atau 11 siang ia akan datang membereskan rumah saya, menyapu, mencuci, mengepel, memasak dan lain-lain. Tapi suatu saat ia rutin datang pagi-pagi. Sekali kagi saya katakana bahwa ia tak perlu bergegas pagi-pagi ke rumah saya. Yang penting sekitar jam 1 atau jam dua siang saat penghuni rumah mulai pulang, sudah ada makanan di meja. Pekerjaan rumah yang lain boleh dikerjakan dengan santai. “Urus dulu suamimu dan pekerjaan rumah tanggamu, “ begitu selalu saya tekankan padanya. Suami wanita ini seorang pekerja bangunan, yang kadang pergi ke luar kota, sehingga si ibu harus menyiapkan bekal makan siangnya.

“Mulai sekarang  pekerjaan rumah diambil alih oleh mantu saya Bu, “ jawabnya. Wah ia sungguh beruntung. Tapi sejenak pikiran usil mampir ke kepala saya. Saya pun melemparkan pertanyaan iseng, apakah menantunya rajin, sopan, pintar masak, dsb. dsb. Sungguh ini hanya pertanyaan usil yang didasari pandangan rasial bahwa gadis dari suku tertentu sering diasumsikan pemalas, tidak sopan, tidak bisa masak, cuma pinter berdandan. Meski saya sering menganggap diri saya seorang yang egaliter, tapi secara tanpa sadar saya ternyata masih menganggap bahwa “suku”, “kelompok” atau “inner group” saya lebih unggul dari kelompok lain.

Jawaban wanita ini sungguh menohok kesombongan saya. “Bu, rasa enak itu kan cuma dirasakan sebatas lidah. Lewat dari lidah yang cuma setengah jengkal itu makanan apapun tak lagi berasa.” Skak mat untuk saya.  Saya terdiam. Perempuan ini dari segi pendidikan dan pengalaman hidup lebih rendah dari saya. Tapi ternyata kebijaksanaan hidup tidak selalu bergantung dari pendidikan yang tinggi, bahasa yang sempurna grammarnya dan tata etika yang jangkep. Apa boleh buat wanita sederhana ini mengajarkan pada saya bahwa kebijaksanaan hidup ternyata terletak pada hati yang  ikhlas untuk menerima perbedaan dan menerima orang lain apa adanya.

One thought on “Kenikmatan Sebatas Lidah

  1. terimkasih atas share materinya yg sanget bermanfaat juga mohon ijinnya, bahan ini utk dishare sebagai tambahan materi saya mengajar.

    terimakasih

    Like

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s