MANILA:OASE PERTEMANAN

….dan Kami Bangsa(t) Indonesia

asrama dan kampus yang selalu asri

Di tengah kejenuhan rutinitas hidup di asrama ada beberapa tampat yang kuanggap sebagai oase penghiburan. Rumah kost beberapa teman Indonesia di seputar Ateneo cukup nyaman untuk dikunjungi. Sekedar ngobrol, masak atau mangkal sambil bergitar ramai-ramai.

Johan, Martin,  dan si India Gerry – yang wajahnya dan logat bicaranya tak seperti India lainnya – mereka tinggal di tengah kampung padat Barangka, kampung yang harus dilalui kalau kami akan belanja ke River Bank, Marikina. Sebelum dilanda topan hebat tahun 2009, tempat ini merupakan kawasan belanja dan hanging out yang menyenangkan bagi mahaiswa Ateneo. Tempat ini sering jadi pos bagi teman-teman kami dari luar Manila kalau mereka turun ke kota.  Letaknya  strategis kalau kami hendak meneruskan acara kumpul-kumpul dengan hang out bersama di bar pinggir kali Marikina.

Ada Fernanda,  nama aslinya Nathalia Siswanti, anak transmigran Jawa  tetapi lebih suka mengaku sebagai orang Kalimantan, anggota sebuah  kongregasi lokal di sana. Dia tinggal di dalam kampusnya di dekat istana Malacanang. Bermula dari dia aku mengenal beberapa orang Kalimantan yang lain. Beberapa kali aku ke sana, sekedar masak,  makan siang bersama atau menemani temanku Ben yang diam-diam kasmaran dengan janda beranak tiga yang tingal satu atap dengan Fernanda.

Nah ini yang sulit dilupakan : komunitas Salvador. Ada tiga tempat yang sering aku singgahi. Yang pertama Salvador 180. Ada beberapa orang Indonesia yang tinggal di sini. Ini rumah Jesuit yang dikost-kan untuk mahasiswa-mahasiwa Ateneo, sangat nyaman sebagai hunian anak kost. Kamar-kamarnya luas, dengan AC atau  jendela lebar. Masih dilengkapi sarana internet, tv berlangganan dan fasilitas rumah tangga lainnya seperti mesin cuci dan dapur yang lengkap. Dari kampusku aku cukup menyebut Salvador 180 kepada sopir trycicle, membayar 14 peso dan akan diantar sampai depan rumah mereka.

Masih juga : Lembah Sungai Marikina

Memang dalam suatu masa kejenuhanku, Bang Don kakak angkatanku, yang merupakan salah satu penghuni di situ, mengatakan padaku untuk jangan sungkan datang ke sana. “Kalau kamu kangen masakan Indonesia datang saja ke sini.” Sekali waktu mereka terpukau melihatku menyulap terong menjadi sambel yang enak di lidah dan dadar telor yang tipis sehingga bisa digulung dengan rapi. Kadang Bang Don membawa daun singkong entah dari mana, dan kami membuat sambal terasi. Mereka selalu punya persediaan berbagai macam bumbu Indonesia.

Bang Don, selain pintar nyanyi dan bergitar seperti layaknya orang Batak, juga pintar dan hobby masak. Karena keahliannya yang terakhir ini kolesterolnya sempat naik. Ya, dia ahli mengolah berbagai resep berbahan dasar daging. Tapi ia bisa menikmati kalau aku mengolah sayuran dan nasi goreng, “Nasi goreng dengan bumbu spiritualitas a la Vero” ejeknya.

Sekali di Minggu pagi, aku ke sana bersama John Simatupang, dosen bahasa Inggris sebuah universisat swasta di  Medan yang sedang ambil kuliah S3 di UST. Sehabis masak dan makan siang, Gultom, juga penghuni rumah itu, menyarankan untuk tidak pulang, sehingga sorenya kami bisa ramai-ramai ke karaoke. Mengobrol dan bergitarlah kami menunggu jam lima sore. Ternyata banyak tempat tidak membuka  karaoke pada hari Minggu, karena mereka harus memberi libur pada karyawannya. Apa boleh buat maka kami pergi ke Dapitan, daerah padat kost-kostan dekat kampus UST.

Bangunan berlantai lima itu dihiasi oleh lampu warna-warni seperti daerah lampu merah kelas bawah pada umumnya. Pintunya hanya terbuka sedikit. Lantai satu ruangan itu dipenuhi oleh sekumpulan lelaki perempuan bercanda ria. Beberapa perempuan muda mengantar kami ke lantai dua bangunan itu. Ada sebuah televisi berukuran sekitarv 29 inchi, beberapa meja makan seperti sebuah restoran dengan kursi plastik. Kami disodori album lagu serta menu minuman dan makanan ringan. Semuanya dalam tarif yang sangat murah. Ini di luar logikaku,  bukankah tempat karaoke itu tentu harus membayar gadis-gadis pelayan yang jumlahnya cukup banyak. “Ya, untuk apa dipelihara banyak-banyak kalau tidak untuk dijual, “ komentar Bang Don dengan santai.

Benar. Ketika jarum jam me-rambat naik, berdatanganlah pelanggan yang sesungguhnya. Para lelaki  memenuhi beberapa meja di sekitar kami, dengan ditemani para gadis itu. Gultom yang sudah setengah mabuk, dengan leluasa leading seorang diri berkaraoke, sebab para lelaki itu sibuk bercumbu dengan gadis-gadis pelayan dan sama sekali tak ada urusan dengan nyanyian. Aku, John Simatupang dan Bang Don lebih senang mengamati sekitar. Gultom ber-nyanyi dan mabuk, kami bertiga yang patungan membayarnya.

Jam sebelas malam telah lewat. Para pengunjung semakin banyak. Asap rokok menyesakkan nafas. Kami pulang. Jalanan terasa lengang, tapi rumah-rumah hiburan di balik riben kaca gelap dan lampu remang-remang itu semakin meriah. (** ) ———- >>

Memasuki Kampus Ateneo dari Gate 3

Di seberang Salvador 180, ada Anindita,  dosen universitas swasta di Yogya yang mengambil kuliah konselling di Ateneo. Aku kenal namanya sejak pertama tiba di Philipina. Tapi tak pernah kujumpai nyonya muda ini di perkumpulan Indonesia. Kalau kami sedang kumpul ramai-ramai di Salvador 180 pun ia tak mau datang. Alasannya sibuk menyelesaikan thesisnya. Kami hanya titip-titipan salam, lalu SMS-an. Baru beberapa bulan sesudahnya aku kenal langsung orangnya.  Mungkin menjelang Natal. Ia tepar karena sakit gigi selama beberapa hari. Venantia, ini emboknya para mahasiwa Indonesia di Manila,  menelpon meminta aku membawanya ke dokter gigi di Tandangsora. Baru kemudian sesekali kami menyempatkan diri bertemu, makan, ngobrol di resto murah sepanjang Katipunan , biasanya di akhir pekan.

“Aku tak suka datang di kumpulan mahasiswa Indonesia, “ katanya. Aku tahu maksudnya. Aku pun mengalami hal yang sama. Pasti ia mengalami keterasingan berada di tengah klerus dan religious. “Meski ada juga beberapa keluarga Katolik, tapi orang-orangnya kayak gitu sih….,” ia tak melanjutkan kalimatnya. Apa boleh buat, mahasiswa awam beasiswa mlarat seperti kami berdua ini nyaris menjadi kelas tak berkasta dalam kelompok itu. Tiga kali aku datang ke misa Indonesia, tapi mahasiswa awam yang datang hanya aku dan John  Simatupang. Selanjutnya aku malas datang.

Suatu sore, rembang petang, aku sedang berada di lantai II Salvador 180, membantu Wawan yang sedang siap-siap pindah ke kost lain. Tiba-tiba masuk SMS dari Anin, “Aku sebel dengan teman satu kost-ku, nggak siang, nggak malam, ngeseks terus. Suaranya itu lho heboh kemana-mana,” tulisnya.

Aku menjawab enteng, “Gitu aja sewot. Kamu bisa kan mas….sambil membayangkan suamimu, ….”

–          “Hehehe…. lagi di mana ?”  balasnya.

–          “Aku bisa lihat kamu lagi manyun. Lantai II Salvador 180.”

–          “Turun, yo nikmati bareng esek-esek mereka. Malam, kita makan di Mc Donald !”

Aku turun, terbang ke rumah seberang. Tapi kedua asyik masyuk itu sudah mengakhiri ritualnya.

Hanging Out di Tepi Marikina

Anin mondok di sebuah rumah milik seorang janda kaya. Ada puluhan kamar yang disewa oleh mahasiswa dan karyawan muda usia yang berasal dari berbagai bangsa. Selain Anin ada 2 lagi mahasiswi Indonesia yang sedang mengambil pasca sarjana di Ateneo; satu dosen universitas swasta di Surabaya  satunya dari sebuah universitas di Bandung.

Gadis Bandung inilah yang sering bikin masalah. Dia tinggal sekamar dengan pacarnya seorang mahasiswa asli Philipina. Tapi bukan itu yang jadi masalah, sebab di sebelah kamar Anin, sepasang kekasih gay juga tinggal bersama, dan penghuni yang lain tak pernah pusing. Masalahnya adalah, perempuan  Bandung ini tak bisa meredam mulutnya kalau sedang merayakan libidonya. Orang lain sebal, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Pada awalnya, kata Anin, teman-teman se-kost memberi “hukuman sosial” bersikap sinis padanya kalau bepapasan. Tapi anak ini tetap saja menunjukkan wajah manis, seakan-akan tak ada masalah apapun.

Quiapo : Gereja Berusia 400 Tahun

Nah, akhirnya ! Ibu kost punya alasan untuk mengusir pasangan itu. Ketika pekarangan sebelah dibangun, para pekerja bangunan merasa terganggu dengan suara mereka. Para lelaki itu protes pada ibu pemilik rumah. Mereka hengkang, tapi yang menyakitkan hati Anin, ibu pemilik rumah ngomel-ngomel membawa-bawa nama negara, semacam kami orang Indonesia ini bangsat yang tak tahu adat. Padahal si lelaki muda itu orang Philipina. “We are fifty-fifty mom,” kata Anin. – “No, pasti dua-duanya Indonesia, si lelaki itu tak bisa bahasa Tagalok,” si ibu ngotot pada pendiriannya. Padahal dia pasti tahu bahwa orang Philipina Selatan dan Utara belum tentu paham Tagalok.  Anin pulang ke Yogya sekitar bulan April, meninggalkan kesan yang manis, karena sharing kami yang dalam dan personal.

Satu garis dengan rumah kost Anin adalah Salvador 59, kost Wawan dan Baskoro. Keduanya sedang kursus bahasa Inggris untuk nanti mempersiapkan kuliah di Ateneo. Yang satu projo Kalimantan, yang satunya OFM yang lama bertugas di Papua dan Flores. Keduanya Jawa asli. Wawan berwajah culun dan penampilannya agak dekil karena 10 tahun jadi pastor di pedalaman Kalimantan dan bergaul dengan banyak penduduk asli yang amat sederhana. Tapi yang menarik dari dirinya adalah kemampuannya bergaul dan membangun ruang intimacy tak sebanding dengan wajah lugunya.

Quiapo, Plaza Carriedo dengan Patung Jose Rizal

Sepanjang pertemanan kami ia tak canggung mengundang aku datang kekostnya untuk masak dan nanti bercanda gelak-gelak menertawai segala hal sepele yang kami jumpai dalam peristiwa keseharian. Itu misalnya, Dodit koleganya dari Kalimantan yang dilabrak pedagang di Quiapo (Orang Philipina melafalkannya : Kiapo’) karena talkactive-nya over dosis – maklum lagi praktek belajar bahasa Inggris.

Pada awalnya Baskoro lebih suka bertapa di kamarnya meski aku dan Wawan (kadang juga ditambah Suhardi senior mereka yang kuliah di UST) riuh rendah ngobrol. Tapi sekali waktu ia menjumpai aku sedang menceritakan kemarahanku pada seseorang. Mulutku menyumpah-nyumpah, Suhardi mesam-mesem, Wawan dengan takzim mendengarkan. Baskoro tak mampu menahan tawanya, sambil berguling dilantai (karena kami duduk lesehan) ia menirukan mulutku yang monyong ketika mengucap kata “Asssssyuuuu.!

Lain kali ia tergelak-gelak menertawai istilah “kesepian metafisis” yang kuciptakan untuk menggambarkan kesepian yang amat mencekam. Ia menerangkan apa itu metafisika. Jawabku,” Ash aku ora perduli, pokoke ngono.” Ia menyorong kepalaku dan berkata, “Ngeyel.” Mulai saat itu kalau aku datang ke kamar Wawan ia melibatkan diri. Bahkan sekali waktu kami sempatkan main bareng ke Tandangsora dan Quiapo. Jika aku pulang kemalaman dari acara kumpul-kumpul kami, ia juga tidak berkeberatan mengantar aku ke perhentian trycicle untuk pulang ke kampus Ateneo. “Suwe banget aku ora ngrasake kekancan yang lucu-lucu kaya ngene,” katanya. Syukurlah, rupanya ia menemukan kembali ruang intimacy yang lama hilang sebagai konsekuensi dari jabatan publiknya.

Menikmati Perjalanan Malam: Life is a Journey (Inward)

Bulan-bulan selanjutnya di Manila, aku merasa nyaman dengan diriku sendiri. “Kesepian metafisis” adalah bagian dari perjalanan eksistensi setiap orang, sehingga tak jadi beban berat. Maka aku tak terlalu bergantung dengan teman-teman Indonesia lagi. Juga aku punya kelompok backpacker seperti Peter cs, yang banyak jalan.  Atau menemukan keasyikan sendirian keliling kota atau tinggal saja di asrama: masak, mencuri bunga-bunga tanaman pak direktur untuk menghias ruang-ruang doa (Jeya: “Vero…Vero…it is you stealing my flowers, I bought them from another province hah..!!!!——“Sorry I thought all flowers here can be picked for decorating our prayers rooms…Oww…i am the beauty and you are the beast”- nyengir).

Perjumpaan dengan teman-teman Indonesia semakin jarang dan akhirnya relasi kami tanpa sengaja menjadi “jauh”. Beberapa kali undangan Wawan, Baskoro dan teman-teman Indonesia untuk masak-masak tak dapat kupenuhi. “Kok kamu menjauhi kami sih?” protes Wawan  lewat sms suatu saat. Aduh maaf, aku merasa bersalah, tapi juga perjalanan memahami diri sendiri ini bagiku adalah the never ending business.   ******************************


The difference between Goodbye and Letting Go.  GOODBYE  is, ” I ll see you again when i am ready to hold your hand and you are ready to hold mine “.  LETTING GO is, ” I will miss your hand i realized that it’s not mine anymore and i will never be able to hold it again “

2 thoughts on “MANILA:OASE PERTEMANAN

    • kemungkinan tidak ada. Saya ikut misa bahasa Indonesia sebulan sekali kalau datang ke kumpulan mhs katolik indonesia, anggotanya didominasi pator, tapi biasanya beberapa keluarga katolik indonesia ikut datang.

      Like

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s