Manila:Mendekap Sepi

Menikmati senja di muka Gesu Church

Seorang sahabat pernah berkata bahwa dulu dia pikir sekolah ke luar negeri itu problem utama yang akan dihadapi adalah bahasa. Tetapi ketika ia sendiri memperoleh kesempatan studi di luar negeri, ada problem yang lebih berat lagi yaitu kesepian, beyond the physical tentu.

Sahabatku yang lain lagi, yang punya pengalaman lama tinggal di luar negeri mengatakan hal yang hampir sama. Padahal orang yang satu ini dikenal amat supel, ekstrovert, dan hampir selalu meninggalkan kesan yang baik pada semua kenalannya. “Kamu tahu, ada saat tertentu, ketika aku sendirian aku merasa bahwa I am not the part of them, meskipun semua orang di sekelilingku amat baik padaku, “ katanya.

kampusku

kampus ateneo

Aku sendiri, hanya pada dua minggu pertama merasa bebas dari burn-out dan rutinitas;  boleh bangun siang kalau perlu tidak bangun seharian, boleh tidak makan, boleh tidak mandi, boleh tidak misa, boleh naik meja ….! Tapi minggu ketiga dan seterusnya aku merasa kosong melompong.  Semua orang di sini hanyalah kenalan : dalam definisiku, orang yang kita tahu wajahnya, tahu namanya, tiap hari lewat di depan rumah kita, saling sapa, tapi tak pernah kita persilahkan masuk pekarangan rumah kita.

“Oh definisimu bagus, “ kata Tessi Soriano spiritual companion-ku, “That is aquintance. So what is friend, “ ia mencoba menggiring fokus falsafahku. Teman bagiku adalah seseorang yang boleh masuk dan duduk manis di ruang tamu rumahku. Sedangkan sahabat adalah seseorang yang boleh masuk ke segenap penjuru rumahku tanpa kenal waktu. Sebaliknya ia pun akan mengijinkan aku menjelajah semua ruang rumahnya, demikian pendapatku mengimajinasikan rumah sebagi relung hati. “Good, that is intimacy,” katanya lagi.

Jadi kesimpulannya bagiku intimacy adalah sebuah ruang hangat, mungkin di ujung paling dalam hati manusia, di mana orang-orang dalam kumpulan itu merasa bisa menjadi diri sendiri. Tempat di mana masing-masing menanggalkan topeng dan atributnya,   yang tinggal adalah eksistensinya sebagai manusia polos yang rentan dan butuh bersandar satu sama lain.

Asramaku

Dan itu tak sepenuhnya kudapatkan di asrama ini. Kesepian adalah kondisi di mana aku tak menemukan ruang intimacy. Penyebabnya bermacam-macam. Pada tahap pertama adalah ketidakmampuanmu mengungkap tuntas perasaanku dalam bahasa Inggris. (bahkan Deva, orang Tamil Malaysia mengalami hal yang sama. “We say I love you to people or to cat. It different with Aku suka kamu, aku cinta kamu, aku sayang kamu, “ katanya). Bahasa Indonesia yang bisa mewadahi perasaanku hanya bisa kugunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang Indonesia. Ada tujuh orang di sini, semuanya pastor. Tapi latar belakang sosial kehidupan kami di Indonesia tak mengijinkan seorang awam memiliki kehangatan persahabatan dengan klerus dan religious.

Di Indonesia kami hidup di masyarakat yang kata seorang sosiolog disebut sebagai “too much religion”. Terlalu banyak hal disangkut-sangkutkan dengan agama. Akhirnya orang menjadi hipokrit. Relasi perempuan dan laki-laki selalu dicurigai sebagai mengarah ke aktivitas sekitar selangkangan; genitalize everything. Jangankan  awam perempuan dan pastor, sesama perempuan pun sulit menjadi akrab kalau yang satu awam dan satunya lagi religious. Dengan menjadi klerus, birawan, biarawati, masyarakat menaikkan kelas social mereka. Sebaliknya ekspektasi pada mereka juga demikian tinggi. Akhirnya banyak dari mereka terperangkap dalam usaha menjaga citra diri seperti diharapkan masyarakat.

Gesu Church, Ateneo

Bisa dibayangkan bahwa aku tak bisa berdekat-dekatan dengan teman-teman Indonesia. Beban sosial kami begitu berat untuk bisa akrab. Jelas, aku tak boleh memanggil hanya nama mereka, seperti dianjurkan kampus kami agar tercipta iklim dialogis yang setara. Itu tak sopan bahkan ngelunjak.

“Ver, jangan salah, “ kata Ray suatu saat, “ the darkside of being religious is the lack of ability  to accept intimacy and to express intimacy.” Jangankan dengan awam, dengan sesama teman se-kongregasi pun tidak mudah. Mereka sering dipindahkan, dan pola hidup spartan selama masa formasi yang panjang membuat mereka jadi soliter.

Pendapat Ray diamini oleh Percy, guru kami. “Awam biasanya tak punya beban untuk mengekspresikan intimacy, lain dengan para religious,” katanya. Mungkin betul. Tapi juga cara mengungkapkan intimacy itu berbeda. Saling mengucapkan selamat ulang tahun kelahiran, ulang tahun kaul pertama, kedua, dst, pesta nama, dst, mungkin merupakan cara para religious mengungkapkan intimacy.       Bagi kami yang awam hal-hal semacam itu menjadi sangat “kulit”-lah.  Kami  mengekresikan keakraban dengan cara yang heboh. Sebagai remaja aku membangun kekariban dengan cara membentuk geng, membolos ramai-ramai, nonton gambar dan cd porno, minggat dari kost dan nginap di rumah teman. Sekarang ya paling-paling makan bersama, ngobrol panjang lebar tak berkesudahan, atau saling menampung sumpah serapah kepada orang yang membuat kami marah.

Itu tak bisa kulakukan dengan teman-temanku sesama Indonesia di sini.  Yos seorang lone ranger, yang jetlag berkepanjangan dengan kehidupan di luar firdaus semunya : biaranya dan Flores kampung halamannya. Ada Pak Tua, yang merupakan model pendidikan imam masa lalu, yang akan merasa berdosa kalau bersentuhan dengan perempuan. Satu kali,  kami serombongan orang Indonesia berjalan-jalan di kesesakan pasar malam. Terdorong oleh serombongan orang di belakangku,  secara spontan dan tanpa sengaja (sumpah deh !) aku menarik tangannya. Reaksinya sungguh membuat aku terkejut. Pak Tua mengibaskan tanganku seolah terpegang olehnya bara api. Dua flores yang lain : Herman yang selalu setia menemani Pak Tua dan Donny yang angin-anginan dalam pertemanan.

Dua Batak, Sim dan Benny punya keanehan yang berbeda pola. Benny gendheng dan Sim kadang mencari perhatian dengan menjadikan dirinya objek tertawaan. Benny tak peduli apa kata dunia, ngomong saja apa yang terselip di lidahnya seperti melontarkan jigong, tak peduli pantas atau tidak di telinga orang lain.

Dan Ray, orang yang tak jelas apa sukunya. Mungkin campuran Jawa dan Flores dan ditambah sedikit adonan dari suku-suku yang lain. Ia sanguinis sejati. Selalu ramai dan itu disukai banyak orang. Bicara dengannya sering menyebalkan, sebab ia sering tidak focus. Kami bertemu pertama kali summer tahun lalu di lorong lantai dua yang nyaris kosong karena  ditinggalkan penghuninya. Ia sedang bergabung dengan modul spiritual direction.  “Kenalkan, Rm. Ray,” katanya. Kami berbincang sebentar di lorong yang remang. Tiba-tiba “Sik ya..aku tak neng kamare Rm. Edy, “  katanya, sambil ngeloyor terbirit setengah lari.  Kutunggu sejurus, eh…tak muncul orang ini.  Tadi kukira ia kebelet pipis.

Kampus Ateneo

Mungkin karena berasal dari latar belakang budaya yang berbeda para lelaki itupun tak bonded. Hanya Pak tua, Herman dan Donny agaknya merasa dipersatukan oleh adat yang sama. Kalau lagi jalan bertiga mereka sangat eksklusif dan tak suka dicampuri orang lain.

Aku….hahaha, Take my hand, I am stranger in paradise, all lost in wonderland…. Itu lagu kebangsaanku pada awal datang. Juga jetlag secara mental. Mungkin orang lain juga menganggap aku punya keanehan yang khas. Aku sempat agak stress juga.  Tahap pertama ; tak doyan makan, aku kehilangan sekian kilo berat badan. Tekanan darah juga sulit melewati angka seratus pada  sistolik, lebih sering di angka 90. Helen, juru rawat kami sering hanya tersenyum dan menggelengkan kepala kalau kutanya berapa tekanan darahku. Tahap kedua aku sadar, mulai makan banyak-banyak, dan segera lari ke kamar, sebab merasa mual dan ingin memuntahkan sebagian isi perut. Mungkin ini semacam varian dari anoreksia nervosa yang dilanjutkan dengan bulimia. Perut memang merupakan bagian tubuh-ku yang paling sensitive, juga terhadap tekanan stress.

Yang kusalahkan selalu makanan. Pak Tua sampai hilang sabar mendengar omelanku, “Anak, jangan mengomel terus. Boss-mu pasti  tak salah mengirim kamu ke sini. Tak ada orang baru turun dari gunung bisa dikirim ke Perancis, sekarang ke Philipina. Pasti di matanya kamu punya keistimewaan. Syukuri. Jangan cengeng.” Aku malu juga pada tegurannya dan berusaha melawan stress.

Seperti tubuh punya antibody sebagai penangkal penyakit, demikian juga setiap orang punya pertahanan tertentu menolak segala tekanan mental. Caranya tentu berbeda. Donny yang perutnya aduhai itu memaksa diri setiap hari bermain sepak bola, juga Herman dan Benny. Sim membeli gitar dan terus berlatih mengolah kemampuannya. Tapi apa boleh buat lagu yang bisa dibanggakan selalu saja cuma Sunday Morning yang dibawakannya dengan kocak dalam beberapa kali pertemuan.

Penghuni asrama berolahraga

Suatu saat kulihat Sim memperbaiki sepeda peninggalan pada pendahulu kami di hostel satu tempatnya bermukim. Mulailah dia mendapat keasyikan baru. Setiap akhir pekan ia mepersiapkan bekalnya : roti bakar, dua botol aqua dan peta kota. Bak pembalap muda usia, dia berkeliling kota Manila. Seorang teman sampai agak khawatir pada kebiasaannya yang satu ini. “Jalanan begitu ramai, aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi dan ia blank.” Ya, kami tahu Sim memang pelupa. Pelupanya ini mungkin ada kaitannya dengan operasi syaraf otak pada bulan-bulan awal kedatangannya di Philipina. Operasi sinar laser berbiaya $ 10.000 itu berhasil baik, tetapi sayang beberapa syaraf pengingatnya ikut terbawa.

Aku membawa beberapa peralatan sebagai salah satu cara memelihara hobby. Ada kamera digital dan juga videocam. Tapi hanya bulan-bulan awal saja aku berkeliling kampus membawa peralatan itu. Kesulitan mendapatkan computer dengan speed  dan kapasitas hardisk besar membuatku tak dapat mengedit beberapa rekaman yang aku peroleh. Akhirnya kaset-kaset itu hanya menumpuk saja di kamarku, dengan keyakinan suatu saat akan kuedit. Tapi keyakinan hanya tinggal keyakinan. Aku segera jenuh bermain-main dengan alat itu. Padahal hasil shoot-ku tak terlalu jelek-lah. Beberapa teman bahkan Lettie suka pada caraku mengambil angle pada cultural night. “Aku lebih terpesona pada caramu jatuh bangun untuk mendapatkan angle, “ kata Jim, sahabat Indiaku.

Itulah aku, obor blarak, kata orang Jawa. Menyala dan panas hanya sesaat kemudian segera padam. Kemudian aku mencoba mengatasi rasa jenuh dengan berolah raga. Sabtu atau Minggu sore aku lari keliling kampus. Lebih sering seorang diri. Sesekali merayu salah satu dari lelaki di asrama untuk menemani.  Tapi ini cuma beberapa saat saja, sebab aku juga segera bosan, lebih enak melamun dan memandangi matahariterbenam dari depan kamarku di lantai tiga gedung utama.

Begitu terus sampai pada titik tertentu aku merasa imun dengan rasa sepi dan sanggup mengatasinya. Tidakmenolaknya, melainkan  menerima dan mendekapnya dalam kalbu. Sebab perasaan itu adalah keseimbangan dari banyak kegembiraan yang kuperoleh dalam perjalananku, seperti dua sisi keping mata uang yang  tak bisa dipisahkan. ******

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s