Dijon to Mont Blanc (Melawat ke Barat 2)

TGV selama sekitar 1.5 jam mengantarku ke Dijon. Fellipe mejemputku. Jelas tak sulit mengenaliku. Satu-satunya wajah Indonesia cuma aku saja. Sebelum aku kebingungan, seorang lelaki Perancis berbalut jaket hijau lumut berdiri di peron, tepat di muka lorong keluar. Tak banyak penumpang turun di kota kecil ini.

Katedral Dijon

“Vero ya ?” sapanya dalam bahasa Indonesia yang fasih. “Lusi harus menjemput anak-anak di sekolah, maka menyuruh saya menjemput.” Ia mengambil alih koporku dan kami melaju ke rumah mereka, sedikit di luar kota Dijon.  Selama lima hari aku sempatkan tinggal di keluarga ini. Sebenarnya aku bukan orang yang betah berada di tengah kumpulan orang yang tak kukenal. Tapi kali ini Pere Vassong menyarankan aku untuk ke sini untuk menyesuaikan diri, terhadap hawa dingin, makanan, dll.

Fellipe adalah master antropologi dari Sorbonne, thesisnya tentang Indonesia, dan kemudian sempat bekerja sebentar sebagai staf lokal di kedutaan Indonesia di Paris. Dua tahun ia bekerja sebagai volunteer pengajar bahasa Perancis di Lampung, sebagai pengganti wajib militernya. Kecintaannya pada Indonesia diabadikan dengan menikahi Lusi teman SMA-ku di Yogya dulu. Sesudah itu ia pulang ke kampung halamannya mengelola usaha pembangkit listrik swasta sebagimana ayah dan saudara-saudaranya.

Rumah besar mereka terletak di tepi ladang-ladang anggur (aku jadi ingat buku Little House in the Prairie karya Laura Ingals Wilder), berdampingan dengan rumah sanak famili mereka. Hanya ladang-ladang itu sekarang ini terhampar kosong. “Rumah ini berusia lebih dari seratus tahun,” katanya. “Itu kamarmu di lantai dua, ayah ibuku tinggal di lantai satu, dan kami di pavilion.” Ia mengantar aku ke rumah induk, sebuah bangunan bertembok tebal.

Sepotong sore yang tersisa tak banyak yang kami kerjakan. Sebelum makan malam Felipe memperkenalkan aku pada dua orang tuanya, dan kami berbincang basa-basi. Lusi pulang, kami menyiapkan makan malam, masakan harian keluarga Indonesia. Hanya mungkin sayuran yang seadanya, karena musim dingin dan pasokan sayuran hanya sebatas daun selada. Jam sembilan malam aku masuk ke kamarku. Hampir tak dapat tidur. Jetlag, dingin yang menusuk tulang, membuatku cuma melamun semalaman.

Jam sembilan pagi keesokan harinya baru aku muncul ke pavilion Felipe dan Lusi. Tuan  dan nyonya rumahku, kedua orang tua Felipe, nyaris tak pernah kutemui lagi sampai aku pergi dari Dijon. Mereka sibuk sendiri. Tipikal keramahan orang Barat yang tak mau masuk dalam privacy orang lain. Anak-anak berangkat ke sekolah, bertiga kami berbincang ke sana ke mari tentang teman-teman yang kami kenal, tentang orang Indonesia di seputar Dijon, yang tak ada hubungannya denganku tentu saja, dan tentang cara hidup orang Perancis.

Dijon town square

Bagi orang Indonesia di seputar Dijon, terutama para pelajar Indonesia, ya pasti mereka mengenal keluarga muda ini. Kefasihan Felipe dalam berbahasa Indonesia, bahkan lebih dari itu, wataknya yang agak pakewuhan seperti kebanyakan orang Jawa, membuatnya menjadi tempat mencari pertolongan bagi orang-orang Indonesia di perantauan. Satu kali kedutaan besar Indonesia memintanya menolong seorang perempuan muda yang menjadi korban KDRT dari keluarga besar suaminya, warga Negara Perancis keturunan Timur tengah. Tapi yang paling sering tentu saja para mahasiswa Indonesia yang memintanya membantu menjadi editor bahasa dalam penulisan thesis.

Menjelang siang Lusi mengantar anaknya ke sekolah, kemudian menyelesaikan sesuatu urusan di kampusnya – ia mengambil S2 di bidang akuntansi – , Felipe meninjau pembangkit listriknya di tempat lain. Aku bisa menjelajah pekarangan sekitar rumah mereka. Pintu –pintu rumah besar itu dibiarkan saja tak terkunci. Bangunan rumah mereka berbentuk U. Dua pavilion mengapit bangunan utama yang berlantai dua. Satu pavilion ditempati Felipe dan keluarganya. Satu pavilion lagi dipakai untuk menyimpan mesin-mesin generator besar, juga kulkas besar untuk menyimpan persediaan makanan mereka selama musim dingin. Seperti sudah kukatakan Felipe dan keluarga besarnya memiliki usaha pembangkit tenaga listrik.

Ada sebuah sungai berair bening membelah pekarangan belakang rumah mereka. Uniknya rumah mereka menempel langsung pada alur sungai. Persis seperti kanal-kanal di negeri Belanda dalam bentuk mini. Sungai yang tak seberapa besar ini dibendung dan dijadikan tenaga listrik. Mereka harus menjual listrik ini kepada pemerintah dan penduduk desa bahkan mereka sendiri harus membeli kembali dari pemerintah. Keluarga Felipe mempunyai beberapa unit usaha semacam ini di beberapa tempat. Salah satunya di sebuah desa di kaki Mont Blanc. Ke sanalah kami akan menghabiskan akhir pekan.

Tapi sebelum ke Mont Blanc keesokan harinya, Lusi membawaku keliling Dijon, sekedar melihat-lihat atau mengunjungi beberapa keluarga Indonesia. Dijon adalah sebuah kota kecil, penduduknya tak sampai 200.000 jiwa. Maka wajar kalau beberapa orang Indonesia yang tinggal di sana saling mengenal dengan baik. Salah satu yang  kami kunjungi hari itu adalah Hari dan Titin, pasangan muda, dosen komputer sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Beberapa hari sebelumnya mereka baru saja memiliki bayi, putri mereka yang kedua.

Kelahiran yang boleh dibilang tidak terlalu siap. Bayangkan beasiswa  “hanya” 1000 euro per bulan. Jangan kurs-kan jumlah ini dengan rupiah, karena biaya hidup di Perancis juga luar biasa tingginya. Separuh dari jumlah itu harus dipakai untuk membayar sewa apartemen yang untuk ukuran Perancis amat sederhana. Tentu saja Hari tak dapat hidup di asrama mahasiswa yang jauh lebih murah karena ia membawa anak dan isterinya.

Untung ada Felipe. Sebagai orang Perancis ia tahu betul bagaimana mengupayakan bantuan sosial bagi maaf “keluarga miskin.” Inilah uniknya Negara Perancis, pendatang sekalipun berhak mendapat jaminan sosial. Walhasil, operasi sesar itu gratis, bahkan selama seminggu sesudah kepulangannya dari rumah sakit, tiap hari ada perawat datang untuk mengurus sang bayi. Seperti “keluarga miskin” lainnya di Perancis si bayi berhak mendapat uang susu selama tiga tahun. Sungguh jaminan sosial yang membuat iri orang-orang dari negera korup macam negeriku.

Sore hari kami berbelanja ke Carreffour. Di negeri asalnya ini, pusat pebelanjaan besar harus dibangun di luar kota. Dengan demikian toko-toko kecil mendapat kesempatan hidup di pusat perkotaan. Mungkin ini juga yang membuat kota-kota terlihat senyap, dan tak banyak kemacetan. Kami membeli makanan untuk week-end. Kusempatkan pula untuk membeli peralatan sekolah, awal pekan berikutnya aku harus masuk kelas komunikasi di Ecully.

Esoknya, Jumat, adalah akhir hari kerja dalam sepekan. Anak-anak pulang sekolah lebih awal. Siang hari kami meluncur menuju sebuah desa di kaki Mont Blanc. Felippe punya pembangkit tenaga listrik di sini. Tapi tujuan utama adalah….”mau kasih lihat rupa tumpukan salju buat Vero.” Sebenarnya Raul juga ditawari buat bergabung. Maklumlah, kampung halamannya Les Epesses, adalah  kampung pantai, sehingga meski ia asli Perancis, berlibur di pegunungan bersalju begini tetap juga sebuah eksotisme baginya. Tapi tampaknya ia lebih suka berkutat dengan angka-angka di belakang meja kerjanya dan mengucapkan selamat bersenang-senang pada kami semua.

Menjelang magrib kami sampai. Gunung salju abadi ini hanya kukenali lewat merek ballpoint. Kini aku berdiri di kakinya. Hanya ada beberapa rumah di desa ini. Bangunan-bangunan terbuat dari kayu dengan ornamen sederhana, tertutup oleh tumpukan salju tebal. Ukuran rumah terlihat kecil-kecil dengan warna kayu alami, coklat karena vernis. Di pintu rumah masih tersisa lingkaran natal dan ornamen-ornamennya. Rasanya aku terbang ke dunia khayal masa kanak-kanak, tentang Sinterklass dan kereta luncurnya…terbang melintasi pegunungan salju.

Malam hari, kami hanya menyiapkan pasta, makan makanan sederhana. Nonton televisi, tapi mereka tahu aku tidak nyambung dengan bahasa Perancis, lalu kami bertiga hanya ngobrol saja ngalor ngidul. Larut datang, bunyi tetes-tetes salju di atap dan di permukaan tanah terdengar ritmis di telingaku. Rumah papan ini rupanya memberi rasa lebih hangat di banding rumah berdinding batu di kota. Keesokan harinya kulihat tumpukan salju semakin tebal, menutup pintu pondok kami.

Tak ada banyak pekerjaan yang kami lakukan di sini. Felippe sesekali menengok generator listriknya, tak jauh dari bungalow di mana kami menginap. Siang hari, anak-anak bermain kereta luncur. Kami hanya menyaksikan saja. Ini bukan arena permainan ski yang sesungguhnya. Aku hanya berkeliling sejenak ke pekarangan tetangga sekitar, yang tentu saja dipenuhi salju.

Hawa semakin terasa dingin, justru kalau matahari bersinar cerah. Ini hal yang tidak masuk dalam logikaku sebelumnya. Bagaimana mungkin salju tak mencair kalau kena panas matahari? Lugu….maksudnya lu..guoblog. Juga kupikir, Natal serta winter identik dengan salju di mana-mana. Tak terbayangkan bahwa untuk melihat salju aku harus pergi ke gunung seperti ini.

Dua malam kami berlibur di sini. Dan pada Minggu sore, kami meluncur ke Lausane kota terdekat. Aku harus berkereta menuju Lyon. Senin pagi aku harus sudah duduk manis di kota yang asing, di antara teman-teman yang asing, semuanya asing : makanan, cara hidup, cuaca…Aku gamang.

Sepanjang perjalanan menuju Lyon, pikiranku sibuk sendiri membayangkan esok pagi yang akan kujelang. Tak banyak yang bisa dilihat. Winter time, malam lebih cepat datang menyambangi kaki langit. Apa artinya kerlap-kerlip lampu di luar jendela kereta bagi seseorang yang sedang gugup memerangi watak kampungan yang menindasnya hampir sepanjang hidup.

Patokanku hanya satu. Kereta di Perancis tak pernah meleset dalam hal ketepatan waktu. Jam 19.15 kereta berhenti juga di Lyon. Kutuliskan saja tujuanku dan kuberikan pada sopir taksi, karena aku pesimis dia bisa berbahasa Inggris. Ajaib, sopir muda berwajah oriental itu menyapaku dalam Inggris tak lama setelah aku duduk di jok belakang. Sapaan keramahan Asia, suatu yang tidak lumrah di Eropa ini. Intonasinya sangat halus dan santun, “Pardon me, are you originally Vietnamese, Cambodian or Chinese ?” dia bertanya, sedikit ragu.

“My eyes look like an oriental type, right ? “ aku mencoba mengimbangi keramahannya. “Thank you. I am Jawanese, Indonesian. Maybe my ancestor came from Cambodia hundreds years ago.” Ia tersenyum, tetap santun di belakang kemudinya. Lalu ia bercerita bahwa ia adalah pendatang dari Cambodia, menjadi pengungsi karena kekacauan politik berkepanjangan. “Many Cambodian and Vietnamese live here. So your face is familiar with me,” katanya. Sekali lagi aku hanya berucap “thank you.”

Sekitar setengah jam berkendara, sampai juga kami di Valpre, sebuah gedung besar milik Asumpsion congregation. Bangunan megah ini masih terang benderang. Ada sebuah hall luas di dalam (kelak aku tahu itu ruang makan), tapi bagaimana aku bisa masuk ke situ ? Di mana bel pintu ? Aku ragu. Tak ada yang bisa ditanya.

Aku minta sopir pergi ke gedung seberang. Dari brosur kubaca bahwa Crec Avex berada tepat di seberang gedung ini.  Benar,  di remang halaman Crec ada seseorang yang bisa disapa. Aku katakan bahwa aku adalah pendatang ang baru, dan akan bergabung besok. “Yes, but now Crec is close. Where will you stay tonight ? – Valpre, jawabku. – Valpre is located across this building, you can go there.”

Sopir taksi menurunkan aku di halaman Valpre yang beraspal. Kuseret kopor menuju pintu kaca. Untuk beberapa saat aku tak tahu apa yang harus diperbuat. Dinding kaca tak memungkinkan komunikasi dengan mereka orang di dalam. Lagi pula kalau ada orang ke luar masuk Valpre, siapa peduli ? Hooh, rupanya….. pintu kaca ini tak terkunci. Aku cukup menarik handelnya. Bagaimana mau tahu, di Indonesia pintu selalu membuka ke arah dalam.

Dekat meja resepsionis, seorang pastor jangkung, menyapaku : – Are you Veronika ? Welcome ……., this is the key of your room, this is the letter for you. “ Tanpa basa-basa lagi ia mengangsurkan kunci dan amplop kecil. “Yes. But  I don’t take my dinner yet. Is there any food for me ? kataku berusaha menindas rasa malu. Dengan tersenyum ia mengantarku ke ruang makan, yang tadi aku lihat dari balik kaca.

Semua serba asing : wajah, aroma, makanan, semuanya. Makanan sulit masuk ke dalam kerongkongan. Cuma karena ketakutan akan kelaparan di tengah hawa dingin malam saja, makanan itu tertelan. Nasi nglethis, dicampur buncis, dicampur saus warna kuning kemerahan. Ini mengingatkaku pada campuran berbagai sisa makanan sehabis pesta, sebelum dibuang ke tempat sampah atau diberikan pada ayam atau dilego ke peternakan babi. Ingatan itu membuat  makanan ini mencari jalan ke luar dari lambungku. Tak perlu berlama-lama aku segera lari ke kamarku.

Lantai tiga nomor 378, tapi di sini ini berarti lantai empat. Ruangan yang cukup manis. Amben, meja belajar terbuat dari kayu. Jendela dengan kerei logam yang digulung. Pemadangan ke arah luar hamparan kebun dan hutan buatan. Ada kamar mandi dengan bath tube yang cukup mewah untuk ukuran pegawai rendahan macam aku. Cuma ambin ukuran satu orang dengan sprei putih polos yang tetap mengingatkan bahwa ini rumah retret (dan atau seminari) bukan hostel. Ada aturan tertulis di selembar kertas hijau yang dilaminating: bagaimana menggunakan telepon, mesin cuci, jadwal kamar dibersihkan oleh petugas, dll. Kubuka surat kecil dari Mathilde:

Dear Veronique,

Welcome in France, We have a diner at  Crec, it  only walks across Valpre, 6 p.m until ……  I invite you to join us. You can contact me in the number ……. Mathilde.

Sudah terlalu malam. Akupun enggan memulai kegiatan malam ini. Aku mencoba menghubungi nomor Mathilde lewat telepon kamar. Tidak bisa. Dalam pemberitahuan dalam kertas hijau, hal itu dapat dilakukan dan nanti akan ditagih. Yang jelas telepon ke luar hanya bisa lewat telepon kartu di lorong menuju ruang makan. Sekitar jam sepuluh malam, aku menggeletakkan diri,  membiarkan angan-anganku berputar. Terasa ngelangut, jauh menerawang.  Sungguh aku mengalami bahwa dunia ini cuma sebuah desa besar. Dan bumi tempat aku tumbuh berakar nun di sana, cuma sebuah titik. Aneh bahwa aku tidak sulit tidur. Mungkin karena lelah mencerna semua kejadian yang begitu cepat dan tak terduga.

Masih jetlag. Sebelum subuh aku sudah bangun dan tidak bisa tidur lagi. Dengan mata sedikit pedih, aku ke ruang makan. Jam delapan pagi,  masih gelap. Sarapan self service. Aku tidak tahu, apa yang mesti di makan. Tak ada yang kukenal untuk mengajariku. Semua orang bicara Perancis. Ini hanya rumah persinggahan. Orang kadang cuma menginap satu malam dan pergi lagi. Siapa peduli kalau pagi itu ada tambahan seorang tamu lagi. Dan siapa pula mau tahu urusannya apa.

Masih menyisakan kantuk, kuseberangi jalan. Ketika hari terang aku lihat sekarang, gedung crec, sekolahku beberapa waktu ke depan merupakan sebuah gedung kecil saja. Aku masih termangu-mangu antara mau masuk gedung itu atau meneruskan langkah menuju gerbang yang lain. Gedung ini terlalu kecil untuk menyandang nama yang bergema ke beberapa benua.

Selanjutnya, belok kanan dan seorang perempuan muda berwajah Oriental  dari balik kaca bersiap menyambutku. Sebelum bel pintu kutekan, dia buka. – Welcome, are you Veronika ?- sebuah pelukan erat. Ia menuntunku pada perempuan  juga berwaja oriental, beberapa tahun lebih tua, wajahnya sedikit dingin.  “Veronika ? I am Mathilde and  this is Isabelle from Korea”, dia menunjuk pada penyambutku itu. “We wait you.” Hari sudah pukul sembilan dan mereka mengajakku ke ruang doa. Morning prayer, sesorang membaca kutipan Injil, tak masuk benar dalam otakku, bagian yang mana. Ada slide, ada musik. Ada beberapa wajah Afrika dan memberi senyum. Ayo…aku bukan penonton… next: Ecully, The Sleepy City.

This slideshow requires JavaScript.

My host family

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s