MELAWAT KE BARAT (1)

Jakarta – Paris – Dijon

The show must go on

Mengenang kepergianku ke Eropa membuatku merasa geli. Benar-benar seperti seorang juara kampung yang dilepas ke ajang laga. Maklum, pegawai rendahan seperti aku ini menabung seumur hidup pun tak mungkin bisa melawat ke Barat. Kalaupun bisa ke luar negeri paling-paling ke Arab, Malaysia atau Singapore – ya, jadi TKW- seperti banyak kolega kampungku. Jadi nasib baikku ibarat pucuk kudamba jengkol kuterima.

Bagi boss besar, mengirimkan seorang awam seperti aku adalah pertaruhan (hmm..awam dalam terminologi Gereja Vatikan artinya orang yang bukan pastor – the third caste in their social construction– , dalam kamus bahasa Indonesia bisa diartikan bodoh. Aku pasti keduanya !).  Atau tepatnya  sebuah eksperimen “Apa dia bisa?”, biasalah pertanyaan macam ini selalu didengungkan. Sementara bagi teman-teman sesama buruh rendahan, hal ini merupakan awal yang baik, dengan harapan orang lain pun akan mendapat giliran yang sama.

Jadi sibuklah teman-temanku menjadi official manager-ku. Yuni menyiapkan berpasang-pasang kaus kaki dan stocking wool asli (katanya dari pabrik tempat adiknya kerja di Jawa Timur), Lusi mengirim warta dari Dijon katanya tak perlulah aku membeli jaket – dia punya yang ukuran S, bekas ibunya waktu mengunjunginya tahun lalu. Radyo membekali nasihat agar aku menyiapkan fisik dengan baik karena perubahan cuaca akan sangat ekstrem. “Aku dulu, waktu menyusul bapakku ke Moscow, beberapa hari awal selalu mimisan,” katanya. Ia menyelesaikan SMP di sana, bapaknya seorang guru yang mengajar sekolah Indonesia.

Pere Vassong, nah ini yang kemudian menjadi satu sumber bencana, meminjami kopor besar berwarna hijau lumut. Boss besar membekaliku dengan sejumlah contact person dan koin berbagai negara ; dolar Singapura, gulden, france, euro,dan dolar USA. “Kalau kamu merasa kurang secure, telpon nama-nama ini,” katanya. Safety net-ku sudah dibentangkan rupanya.

Nah, aku tinggal melesat sekarang. Gile ! Visa dan tiket belum ditangan. Mestinya aku sudah berangkat pada bulan Desember, tetapi selalu tertunda karena sulitnya mendapat visa Perancis. Mungkin negeri ini dianggap sarang teroris. Aku pergi saja ke Jakarta. Tapi ketika sampai ke kedutaan Perancis, katanya namaku pun tidak tercantum sebagai pemohon visa, apalagi penerima. Tak ada gunanya untuk ngeyel. Visaku diurus oleh “orang dalam” seorang pegawai bagian kebudayaan di kedutaan ini, maksudnya supaya cepat selesai.

Telpon Pere Vassong saja. “Ok, besok pagi tanyakan lagi hal yang sama, dan lapor saya,” katanya. Aku turuti saja nasihatnya. Ada sedikit keajaiban. Esok paginya namaku  terdaftar. Tapi pengurusan visa paling cepat makan waktu dua minggu. Mateeeek!!! Tiketku sudah ditentukan nanti malam. “Tetap duduk di situ. Hari ini visamu pasti keluar. Duta besarnya akan kutelpon atau minimal atase pertahanannya, “ kata Pere Vassong.

Aku minta ijin pada pegawai di situ untuk numpang duduk. Keajaiban selanjutnya, seorang perempuan Eropa masuk ke ruang pengurusan visa. Dari balik loket, ia bertanya apakah ada yang bernama Veronika.  Ia mengatakan bahwa visaku akan selesai jam 13.00 siang ini. Pontang-pantinglah aku mengambil tiket ke Raptim di Menteng. Tak punya waktu membeli keperluan pribadi. Begitu visa dan tiket di tangan, aku tergopoh pulang ke Tanjung Duren. Makan, tanpa mandi, kugulung saja pakaian, sepatu, kertas-kertas, handuk basah ke dalam koper dan segera cari taksi menuju Cengkareng.

Degup jangtungku baru normal, setelah melewati portal demi portal di bandara Cengkareng. Duduk di ruang tunggu KLM Jakarta – Amsterdam, aku menarik nafas panjang. Baru kuingat, Pere Vassong kemarin menyusulku ke Jakarta dan mau mengantarku ke bandara ini. Tadi siang begitu tahu visaku beres, dia sms, “ tunggu saya di bandara.” Aku lupa mungkin lebih tepatnya gugup, sehingga turun dari taksi langsung saja check in, tanpa tolah-toleh lagi. Kutelpon Pere Vassong tanpa jawaban.

Dia mengawal kepengurusan dokumen-dokumenku dari jauh. Baguslah, ia memaksa aku jalan sendiri mengurus kebutuhanku. Cukup sulit, karena kepergianku ini nyaris tak terencana dengan serius.  Sudahlah, tak apa, I go.

Orang desa ke luar angkasa

Sekitar jam setengah delapan malam burung besi itu mengudara juga. Aku sedikit limbung, atau mungkin gelisah. Pramugari membagikan selimut, earphone dan makan malam. Satu jam kemudian pesawat mendarat mulus di Singapura. Transit satu jam.

Dan mulailah belasan jam yang panjang. Tak ada yang bisa dikerjakan dalam 18 jam menuju  Amsterdam. Dua lelaki disebelahku : saatu pelaut yang bekerja di kapal pesiar bermarkas di Amsterdam dan satu pemuda yang bekerja di Inggris. Tak banyak perbincangan kecuali basa basi mau ke mana, dalam rangka apa. Toh bagi mereka perjalanan panjang ini cuma sebuah rutinitas. Bahkan kemudian si pemuda yang bekerja di Inggris meencari tempat duduk lain – karena selewat Singapura pesawat tak terlalu penuh lagi. Aku dan si pelaut terpisah satu kursi kosong. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Pagi datang, seberkas sinar menyilaukan mendaratkan aku dari lamunan sepanjang lonsome journey itu. Boss besar membekaliku dengan berbagai nomor telepon,termasuk beberapa alamat di Belanda ini yang sebenarnya orang-orangnya kukenal juga meski tidak akrab. Jam setengah enam pagi, winter time. Terlalu dini untuk menelpon orang, untuk sesuatu urusan yang tidak penting. Aku turun dari pesawat, dan penerbangan lanjut ke Paris baru nanti jam 10. Tak ada yang bisa dilihat di luar, gelap dengan sinar-sinar lampu di sana-sini. Seperti baru pukul empat pagi di Indonesia.

Penerbangan ke Paris cuma makan waktu satu jam. Pesawatnya lebih kecil dan pada perasaanku ia terbang lebih rendah. Dari balik jendela aku menyaksikan awan-awan putih di bawah sayapnya. Kadang-kadang terasa pula goncangan di dalam burung besi ini. Menjelang  pukul sebelas  matahari tampak menyilaukan. Pesawat mulai merendah. Petak-petak ladang terbentang luas. Dibatasi galengan-galengan yang rapi, petak-petak hijau  berselang-seling dengan petak serupa yang berwarna coklat tua. Terkadang seleret sungai berwarna coklat berliku di antara petak-petak ladang.

Pesawat mendarat dengan mulus, meluncur dalam kecepatan tinggi di atas landasan pacu. Tapi bukan itu yang mendebarkan tapi kesadaran bahwa aku sampai di Paris. Ini bukan mimpi. Kuingat email Raul setelah ada kepastian aku akan menyusulnya, “Selamat datang di Perancis, tanah air para santo-santa, the land of angels.”

Bandara Charles de Gaulle, jam sebelas siang. Meski tidak sebesar Bandara Amsterdam, tapi jauh lebih ramai dari pada Soekarno Hatta.  Ada banyak konveyor dan aku bingung yang mana konveyor KLM. Ada satu monitor petunjuk tapi aku tak melihat nomor penerbanganku. Bertanya-tanya ke sana kemari, agak sulit karena banyak orang Perancis tidak bisa bahasa Inggris. Kalaupun mereka bisa menjawab pertanyaanku, tetap ada keraguan. Apakah aku percaya pada jawabannya ? Apakah aku percaya pada daya tangkapku ? Apa tidak terjadi misunderstanding?

Bolak-balik bertanya, aku selalu dihadapkan pada seorang nona Afrika muda, berwajah manis. Setelah telpon sana-sini, jalan sana sini, kopor itu ternyata sudah berdiri di depan mataku. Aku sendiri yang lupa koporku berwarna hijau tua  bukan hitam. “Hooooh you told that your luggage is black.” – Sorry I forget it.” Raul yang menjemputku tertawa saat aku bercerita tentang kopor pinjaman itu. Hardono, orang Palembang yang segera akan mengambil studi kependidikan di Sorbone, ikut tertawa. “Ya, bisa dimaklumi karena semua kopor warna dan ukurannya sama. Lain kali ikat kopormu dengan pita warna mencolok,” katanya.

“Semua orang sudah keluar. Saya pikir kamu dapat masalah di imigrasi….. Apa kamu tidak boleh masuk Perancis karena sesuatu hal misalnya membawa terasi atau duren, kan baunya mencurigakan di sini, “ canda Raul. “Saya sampai ndhodhok ngintip-ngintip dari bawah sini. Tapi semua orang kan kakinya sama. “  Untuk menuju keluar area bandara ini,  antara penumpang dan penjemput dipisahkan oleh dinding kaca; di bagian bawah bening biasa setinggi 50 cm dan selewat itu sampai langit-langit merupakan kaca buram.

Winter in Paris

Januari:  matahari cerah setelah beberapa hari lalu mendung. “Ini special day untuk Vero, saya sudah pesan kemarin….. pakai telor..”– kata Raul setelah sedikit putar-putar, karena dia juga lupa di mana telah memarkir mobilnya.  Dari kaca mobil aku memandang ke luar. Musim dingin. Orang-orang berselimutkan baju tebal. Tidak ada kemacetan. Paris siang itu terasa senyap bagi mata Asia. Kata Raul itu karena sekarang jam kerja. Ini tidak biasa bagi Indonesia yang selau crowded. Segala macam urusan tumpah ruah. Segala jenis manusia seperti berhamburan ke jalan. “Sebaliknya saya dulu juga heran kenapa di Jakarta semua orang turun ke jalan, “ – kata Raul.

Raul dan Hardono menerangkan pemandangan yang terhampar. Tentang menara Eiffel, tentang Sungai Seine yang membelah Paris, tentang jembatan di mana Lady Di celaka karena diburu paparazzi, tentang kejayaan suku Galia, nenek moyang orang Perancis. Tidak ingat berapa lamanya menyusuri itu dan sampailah kami  tiba di Rue du Bac 128.

Rue du Bac 128 tempat transitku ini adalah markas MEP, Mission Etrangeres de Paris, kelompok pastor misionaris dari Paris . Sebuah gedung tua berbentuk L itu melingkari perempatan jalan di down town Paris. Bangunan terasa megah, berlantai lima dan beberapa petak lantai dasarnya  disewakan untuk pertokoan. Sebuah petak tepat di perempatan mereka gunakan untuk perpustakaan umum tentang kebudayaan Asia. Sebagian  para misionaris itu mengakrabi kebudayaan di mana mereka bekerja, kemudian menuliskan pengalamannya dan institusi mereka menerbitkannya sendiri. Aku melihat beberapa karya mereka dipajang di sini. Di bagian bawah gedung ini ada ruang bawah tanah yang digunakan sebagai museum MEP, termasuk di sini disimpan relikwi beberapa kolega mereka yang gugur sebagai martir.

Rue du Bac

Aku diantar ke kamarku di lantai tiga. Ingin tidur yang panjang sebelum besok harus berangkat lagi ke Dijon. Tapi beberapa kolega yang baik hati menyiapkan penyambutan khusus buatku. Pere Mousset, yang lama bekerja di Padang mengundang beberapa orang yang pernah bekerja di Indonesia atau bisa berbahasa Indonesia untuk bergabung makan siang di seminari MEP ini. Semacam welcome party untukku. Sebagai tamu tidak sopan kalau aku keras kepala dengan kemauanku sendiri.

Tak berapa lama bel  dibunyikan untuk memanggil penghuni gedung besar ini berkumpul dan makan siang. Penghuninya berbagai ras, Afrika, Eropa, dari Asia kulihat wajah oriental, India dan hanya ada dua Asia tenggara, aku dan Hardono. Kebanyakan para pastor atau seminaris yang sedang studi di Paris. Sebagian lain adalah para karyawan. Di meja yang disiapkan Pere Mousset berdatangan beberapa orang ; ada pastor yang pernah bekerja di Indonesia, seorang yang pernah jadi volunteer pengajar bahasa Perancis di Satya Wacana, dan entah… aku selalu bingung menghapal wajah dan nama.

Aku canggung jadi pusat perhatian begini. Walau dulu pernah belajar teater, tapi watak kampunganku tak pernah benar-benar hilang. Pendatang baru selalu jadi bahan plonco, mungkin tak seburuk itu, just for kidding. Mereka tertawa ketika aku membolak-balik tulang mouton – sapi muda – segede mangkuk bakso. Raul setia di sebelahku, mengajari cara makan. Tiba-tiba…”Vero, kamu harus minum anggur Perancis asli, tidak baik terlalu banyak minum air putih, nanti perutmu kembung, “ kata Pere Mousset, “Ayo, kami bersulang untukmu !!” katanya. Sial.

Dan lagi…..”Kamu punya rencana ke mana sesudah makan siang ?” orang tua itu tersenyum lembut. Ketika aku katakan bahwa aku ingin tidur, ia menggeleng, “Tak seorang pun Pariesiens yang tidur siang kalau matahari cerah begini. Kamu harus jalan-jalan.” Jadi siang itu aku diantar menyusuri lorong pertokoan,  tidak jauh-jauh,  hanya seputar Rue du Back lalu Montparnasse. Badanku sempoyongan setengah mabuk setengah ngantuk. (Tapi tiga bulan kemudian mereka terpukau melihat aku sudah mampu minum segala jenis anggur terbaik bahkan dengan kadar alcohol tinggi tanpa mabuk…”Wow…very best body adjustment.”Aku juga heran.)

Hardono mengingatkanku untuk membeli peralatan yang kubutuhkan. Yang paling penting adalah sepatu. “Kamu nanti akan belajar di gunung, salju sering turun, jalanan licin, harus beli sepatu yang radial,” katanya. Beruntung kami temukan juga sepatu seharga 30 euro. Kapnya berbahan kulit lembut, dan hak dari karet kenyal. Nyaman dan hangat untuk membungkus kaki. Itu sudah yang paling murah, maklum barang obralan. Meski musim semi baru datang bulan April nanti, toko-toko sudah bersiap menyambutnya antara lain dengan menjual pakaian, sepatu, tas, dan pernak-pernaik mode musim semi. Sepatu winter yang kubeli ini sudah harus diobral, kalau tidak, baru laku dijual tahun depan lagi. Ketika matahari mulai condong kami pulang.

Raul memanggilku, memberi sebuah peta kota dan kunci gerbang samping untuk menuju kamarku (uhh…gedung ini terlalu banyak memiliki lorong, gerbang dan pintu). Jam sepuluh malam pintu gerbang utama selalu dikunci. “Tapi jangan khawatir, kamu tetap bisa masuk dengan nomor pin ini, “ ia menyebut ebeberapa sederet angka. “Nanti malam atau besok pagi kamu bebas jalan-jalan. Aman, ini bukan Jakarta,” lanjutnya, “ dan….. “Jangan menunggu saya untuk ke ruang makan, jam makan saya tak pasti.”

“Awas kamu, kalau besok pergi ke ruang makan tanpa mengajak aku, “ kataku pada Hardono. Ia tersenyum dan memberikan nomor line telpon kamarnya.  Untung sebelum pulang tadi ia mengajakku membeli makan malam di restoran Cina di ujung Rue du Bac.  “ Dibungkus saja, bawa ke kamarmu. Kamu pasti canggung masuk ruang makan sendirian, sementara semua orang ngomong Perancis begitu,” katanya tadi.

Sekarang aku bisa tidur nyenyak tanpa diganggu. Tak ada niat untuk menikmati suasana malam di down town ini. Malam terlalu dingin untuk darah tropikaku dan aku tak mau menjadi gadis korek api dalam dongeng Andersen. Lain kali semoga ada kesempatan untuk mampir lagi ke sini. Kamarku di lantai tiga. Tapi mereka mengatakan lantai 2. Orang Perancis selalu mengatakan lantai 1 sebagai ground floor. Tidak ingat di bagian Barat atau Timur.

Aku kehilangan orientasi arah di sini. Aku hanya menandainya dengan munculnya bintang Panjer sore dan Panjer esuk  – Saturnus – planet cemerlang, sang pengawal malam. Terbit sore hari, mengawali malam di sebelah barat dan muncul di timur keesokan harinya. Ia datang paling awal, mengedari langit dan menghilang ketika siang akan datang. Ada keharuan yang mengiris, ketika dari jendela kamarku kupandangi kaki langit.  Jam dua malam aku terbangun dan sampai pagi tak bisa memejamkan mata lagi. Jetlag. Di langit bulan menampakkan diri, pucat. Bumi yang satu, jauh sudah perjalananku.

Pagi berikutnya Raul ada rapat.  Hardono katanya ada kelas. Aku akan jalan-jalan sebentar menunggu makan siang dan berangkat ke Dijon. Menyusuri Rue du Bac ke arah Selatan, aku akan ketemu sungai Seine, kubaca di peta. Kurapatkan leher jaketku, kutarik tutup kepala sampai menutupi kedua telinga. No fear, let’s go. Jalan-jalan di pusat kota Paris  terasa sempit, meski tak disesaki bangunan beton menjulang seperti Jakarta. Sebaliknya bangunan-bangunan kuno dari abad lalu tetap dipertahankan. Aku berjalan santai menikmati nuansa kosmopolit yang terasa hangat manusiawi. Orang berjalan dalam gegas-gegas yang panjang, “Pardon,” kata mereka tiap kali menyalip jalanku meski tak benar-benar sampai bersinggungan.

Jembatan sungai Seine, kukenal namanya lewat puisi Sitor Situmorang, penyair exile yang kubaca sejak SMP. Kini aku berdiri di atasnya. Kulihat beberapa orang asyik membuat foto-foto atau skets lukisan di atas Mirabeau.  Air sungai Seine berwarna coklat dengan arus yang deras. Di kedua tepinya di buat selasar, semacam trotoar, sehingga orang bisa berjalan santai (atau berjemur di musim semi atau panas). Di udara dingin begini, matahari pagi berwarna kekuningan, membias di atas sungai Seine. Perahu-perahu gondola melaju membawa para pelancong, membelah arus. Terlihat beberapa kafe apung dan juga rumah perahu.  Pohon-pohon lurus kaku, dengan seluruh daun luruh.

Aku membuat  foto-foto dan menjelang jam dua belas siang, aku pulang. Tapi jalan-jalan ini seperti lorong labirin, bercabang-cabang, nyaris sama. Aku bertemu para demostran -–mereka bilang manifesto- mungkin menuntut sesuatu yang berhubungan dengan edukasi. Baru aku sadar telah tersesat. Aku berjalan lebih ke utara. Dengan segala ketololaan, aku bertanya tanya polisi, agak sulit, karena mereka sama seperti penduduk yang lain, tak paham bahasa Inggris. Dan pada kali yang ketiga: Rue du Bac cuma di seberang mata.

Tepi Sungai Seine dengan latar belakang menara Eiffel

Go to Dijon

Sehabis makan siang Raul mengantarku ke station kereta api, Gare de Lyon. Tujuanku Dijon, ada Lusi dan Fellipe akan menjemputku dan menjadi host family-ku selama beberapa hari. Di papan pengumuman banyak angka-angka dan nama-nama kota. Terlalu sulit bagiku, bahkan untuk sekedar membaca arah pun. Tanpa bisa bicara Perancis benar-benar seperti buta huruf. Sebenarnya dulu aku pernah coba belajar Perancis di LIP, Jogja. (Aku ingat gedungnya di Sagan, aku masih membau aroma kampung padat tempat aku hidup  bertahun-tahun). Tapi tak ada yang tersisa di kepalaku.

Kereta TGV ini akan berhenti di Dijon tepat seperti tertera dalam tiket, tidak akan meleset. Samakan jam kamu dengan jam station ini, maka kamu tak perlu bingung,” kata Raul. Aku cuma mengangguk. Seorang diri aku menyeret tas punggung dan kopor seberat 20 kg menaiki eskalator. Seseorang membantuku untuk mencari tempat berdiri di selasar tepat di mana nanti gerbongku akan berhenti.

Jam 14.34 kereta datang. Di samping tiap pintu gerbong ada rak-rak untuk meletakkan kopor. Ini Paris Bung! Normalnya aman (Tapi kalau nasib sial bisa saja kecopetan…Kata Pere Mousset “Saya yang asli Perancis saja pernah kehilangan dompet apalagi wajah Asiamu itu kan enak buat dikuntit copet,”). Aku mencari nomor kursiku, 43. Ada dua kursi yang dipasang berhadapan untuk 4 penumpang. Tiga orang wanita Eropa paruh baya sudah lebih dulu duduk di situ dan tenggelam dengan buku bacaan masing-masing. “Excuse me,” aku menghempaskan diri ke jok kursi dan terus memandang ke luar. Kota-kota, desa-desa kecil, hamparan ladang-ladang kosong, gumpalan salju di sana-sini serasa berlari cepat ke belakang.  Tepat jam 16.12 kereta tiba di Dijon ville. ………………bersambung bagian II : Dijon – Mont Blanc.

TGV Paris – Dijon Ville

Pekarangan dalam gedung MEP

Cafe apung di Sungai Seine

6 thoughts on “MELAWAT KE BARAT (1)

  1. sesuatu yg baru, sllu membawa kesan yg amat mendlm.entah itu mnyenangkan or sebaliknya.
    thank’s for that experience….mbak.berani menceritakan apa adanya.jauh lbh indah dan berkesan..hehe

    Liked by 1 person

    • Thanks juga Hotni eh…Suster Erika atas kunjungannya. Banyak guru-guruku di Ateneo mendorongku untuk jujur dan berani bersuara terutama tentang inward/spiritual journey -ku, agar para “pemuka” kita itu tidak saja mendengar yang indah-indah tapi hanya kamuflase. Cheers : VG

      Like

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s