JOHNY (Arti Mencinta)

Prolog

Kembali saya menyadur secara bebas, cerita guru saya Fr. Junny Jessena, SJ. Ini tentang seorang muridnya, Johny, yang tak pernah masuk dalam perhitungan, tetapi justru dalam saat dibutuhkan ia muncul sebagai “penyelamat” seperti orang Samaria yang baik hati.   Ini mungkin bagus untuk renungan hari Valentine.   Fr. Jessena adalah seorang Jesuit yang berkarya sebagai guru SMA, kemudian bertahun-tahun  tinggal ke bagian Selatan Phillipina bersama para buruh perkebunan tebu  pada masa pemerintahan Marcos yang sangat menindas. Saat mana pembunuhan bagi suara-suara kritis adalah berita sehari-hari. Kemudian ia mendampingi para pekerja migran di Korea. Ia kembali ke Ateneo de Manila University di masa tuanya.

Dulu, Johny adalah murid saya. Sudah sejak SMA kelas II ia diketahui sebagai pencandu minuman keras dan juga narkoba. Dia melanggar semua atuiran dan tak menghormati guru atau kepala sekolah.  Saya ingat, saya memberinya angka 35 di rapor, tidak 65, tidak 70, sebab ia memang  tidak  menangkap pelajaran saya.

Tahun kedua di perguruan tinggi, ia DO, dan pindah ke Baguio (sebuah kota di pegunungan Philipina Utara yang  berhawa dingin). Saya dengar suatu hari, kerana mabuk, ia zig-zag menegndarai mobilnya, terbang dan mendarat 150 kaki di antara jurang batu karang raksasa. Mobilnya hancur sama sekali. Tetapi ajaib : Johny selamat.

Sesudah itu Johny hilang dari hidup saya- saya dengar ia pindah ke  Luzon di selatan. Meski saya bekerja di sana antara tahun 1973-81, tak pernah saya mendengar tentang dia apalagi bertemu.

Tahun berganti, saya mendapat kecelakaan fatal ketika menyeberang Aurora Boulevard di Sta Messa. Sebuah bobil box menabrak saya dan meremukkan tulang-tulang saya dan juga hidup saya. Dari sekian banyak saksi dan penonton sesorang  menolong dan mengantar saya ke RS. Saya koma selama 3 hari. Ketika akhirnya RS mereparasi bbagian-bagian tubuh saya, dan memulangkan ke rumah Jesuit di ADMU, tetap saja saya tak bisa berjalan. Saya lumpuh.

Saya coba mangun dari tempat tidur, dan mencoba menapak selangkah, saya jatuh ke lantai. Tak peduli bagaimanapun kerasnya usaha saya, saya selalu dan selalu jatuh ke tanah.

Beberapa saat kemudian saya mulai belajar lagi bagaimana cara berjalan, di seputar campus Ateneo. Dan bila saat itu anda melintasi kampus pada Minggu sore, anda akan melihat seorang Jesuit seberat 105 kg (itu saya) merangkak di tanah dengan tangan dan lututnya, sesudah jatuh yang kesekian kali. Saya selalu mencoba bangkit, meski selalu dan selalu jatuh lagi.

Kemudian kongregasi saya mengirim saya ke sebuah padang rumput di Baguio, di mana kami memiliki sebuah rumah peristirahatan dengan kebun yang indah di puncak bukit. Saya tinggal di sana selama 6 bulan dengan tulang-tulang rang remuk, hati yang hancur dan jiwa yang kosong. Di sana, saya hampir selalu sendiri, serasa mati dalam hidup.

Suatu hari saya kedatangan seorang tamu :…… Dia adalah Johny, sang pengacau, murid yang bodoh dan bandel yang hanya saya beri nilai  35 di rapornya.

“ Hello Fr. Juni, Saya dengar anda mengelamai kecelakaan, itu sebabnya saya datang untuk menemani Anda.”

Kemudian Johny bercerita tentang isteri, dan gadis kecilnya, juga tentang  mantan teman sekelasnya : Dingjo Salang dan Ramon Mayuga, dan beberapa lagi, tentang di mana dan apa yang mereka kerjakan sekarang.  Tetapi saya sakit, saya capek hidup, saya lelah pada dunia, saya jenuh pada diri sendiri, dan tak ingin hidup lebih panjang lagi. Ia terus bercerita sepanjang ia lihat saya mau mendengar. Dan ketika saya terlihat capek, Johny diam. Dia hanya duduk di sana….tersenyum dan menatap saya dengan lembut. Dia telah memboroskan waktunya yang berharga untuk saya.

“ Anda sangat berbeda dengan Fr. Juni, guru saya dulu ,”  katanya pada kunjungannya yang kesekian. “ Dia sesoorang yang dinamis,  penuh semangat,  dan percaya pada diri sendiri. Saya lihat  bara itu masih ada pada FR. Juni tua sekarang ini di sini.”

Suatu hari ia membawa saya berjalan-jalan keluar dari villa Jesuit menyusuri Lourdes street di bukit Mirador di suatu sore yang berangin sepoi.

“Father Juni, ayo jalan ke bawah sana. Bila Anda ingin berjalan, ayo saya gandeng, satu atau dua langkah, OK. Kalau Anda capek, kita duduk di rumput dan istirahat. Ayolah, saya menurut saja apa keinginan Anda.”

Sore itu Johny dan saya kebanyakan hanya duduk saja di tanah, sebab saya merasa sakit, takut dan malas untuk pergi  ke manapun. Berjalan di jalan raya, apalagi menyeberangi jalan, menjadi trauma,, walaupun di bukit ini, dimana nyaris tak ada kendaraan melintas. Hari itu Johny hanya berhasil membimbing saya sejauh  3 meter.

“Nggak mau lagi,” Saya capek,” kemudian kami duduk. Saat itu bila Anda lewat di sana Anda akan melihat kami berdua, lelaki muda yang ramping, dan seorang lelaki tua yang gendut, duduk di trotoar Lourdes street.  Tatapan saya kossong, sementara Johny,  kesabaran dan dorongan tampak terpancar dari tatapan matanya pada saya.  “Anda berhasil berjalan tiga meter ? Bagus “, katanya, mungkin besok bisa lima meter.”

Tiga meter, kemudian lima meter, kemusian 10- meter, lalu makin jauh dan jauh. Akhirnya 1 km, 3 km, kemudian 5 km. Lalu kami pergi ke pantai untuk berenang, kemudian kami mulai mendaki bukit bersama-sama, kemudian dan kemudian, saya pulih.

Saya baik kembali:  secara  fisik, secara emosional, secara kejiwaan. Saya sehat kembali. Hari ini saya  ingat bagaimana rasanya bangun dari “kematian”. Tetapi siapa yang menjadi obat dan dokter saya ? Siapa yang menyembuhkan saya ? Siapa yang membawa saya pada “hidup sesudah kematian” itu ? Siapa  guru terbaik saya ? Dokter dan obat-obat modern ? Bukan ! Bukan pula doktor psikology, bukan doktor filsafat, bukan doktor teologi. No.no.no, No way !

Orang yang menyembuhkan dan memulihkan saya adalah  Johny…… muridku yang terburuk, tetapi guruku yang terbaik.

Mengapa Johny adalah guru terbaik saya ?  Sebab pada hemat saya…………

  1. Dia sungguh peduli. Ketika dia mendengar kecelakaan yang emnimpa saya, dia memberikan perhatian dari perasaannya yang terdalam. Dia tidak berhenti pada rasa kasihan saja. Dia tidak berkata “ Saya ikut prihatin dengan apa yang menimpa Anda,” tetapi ia berkata, “ Apa yang bisa saya bantu untuk Anda ?.” Dan sungguh ia membantu.
  2. Dia percaya pada saya. Dia berpendapat bahwa saya orang yang spesial, dan berguna  bagi orang lain. Saya layak sembuh, layak untuk hidup lagi, sebab lelaki tua yang lumpuh dan hancur semangat hidupnya ini, adalah sahabat dan pernah menjadi pahlawannya.
  3. Dia membayar harga persahabatan itu, dengan memboroskan waktunya menemani saya dengan dengan seluruh energi, emosi, dan dorongan . Mungkin ia kehilangan banyak peluang bisnis dengan menemani saya.
  4. Akhirnya yang paling penting ialah ia sabar menunggu. Dia tidak datang dengan teknik, atau agenda yang dibuat oleh ahli terapi fisik. Dengan kersabarannya ia telah menjadi dokter bagi saya. Dia menghargai dan percaya pada saya sepenuhnya : Dia membiarkan saya memmutuskan, apa yang ingin saya lakukan, dan kapan saya siap melakukannya. Dia percaya bahwa saya mampu  menyembuhkan diri sendiri dan kemudian mencintai hidup saya lagi, setelah ia mebuktikan lebih dahulu bahwa ia mencintai saya.

Pengalaman saya ini mungkin berguna bagi orang tua, konselor tau yang bekerja di bidang ini, Yang paling esensial bukanlah teknik-teknik canggih, tetapi menghargai, percaya, mendengar dan  menanti saatnya tiba bahwa spirit seorang pejuang, seorang santo, bahkan spirit Allah sendiri, muncul dari dalam diri orang yang kita dampingi.

Itulah sebuah cara untuk menyatakan…….. cinta, cinta……

Teman-teman, kita semua adalah  Juny dan Johny. Kita semua pasien dan  kita semua adalah penyembuh satu sama lain. Kita semua anak-anak dan kita semua orang tua. Kita semua adalah murid dan kita semua adalah guru. Dan cara menyembuhkan yang paling manjur adalah dengan cara mendengar, menunggu, percaya dan mencinta………

Epilog

Buku Jayee, The Wind Beneath My Wings dari Fr. Junny, memberi  saya pengalaman spiritualitas yang memerdekakan. Ia berani jujur, misalnya, mempertanyakan, Who is God for me personally, where is God, when that darkest moment happen? Tuhan menjadi dekat dan dialogis. Hal-hal semacam ini yang sulit saya dapatkan dalam keseharian saya di Indonesia sebuah masyarakat yang kata seorang sosiolog “too much religion”. Dan lagi … para pembimbing rohani punya sebuah kelebihan yang sering menyiksa saya…yaitu belum ditanya sudah menjawab.

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s