Tentang Arah dan Tujuan, sharing my journey……..

Tuhan selalu menolong pada detik terakhir,” demikian sabahatku Jill pernah berkata. Aku tidak punya sense apapun waktu dia ngomong itu. Tapi suatu hari, ketika aku sedang memikirkan sesuatu yang subtil: life crisis, and the route ahead, tiba-tiba aku mendapat sedikit pencerahan. Mungkin semacam pengalaman atau pendalaman spiritual, aku tak yakin benar. Ini tentang tujuan, dan arah, dan harapan…..

Mass Rapid Transportation (MRT) Araneta – Ayala

Aku memutuskan untuk membolos kelas dan pergi kedutaanIndonesia (Awan- temanku yang culun itu, selalu bilang : kedustaan besar) untuk membuat paspor baru. Sayang sih, harus membolos sessinya Ric Cossico yang bagus banget. Mana Lettie, koordinator program, sekarang galak betul menghadapi para pembolos. Terpaksa jalan sendiri, semua teman sibuk dengan modul summer yang super padat. Nindi yang janji mau menemani malah sibuk mengurus kepulangannya. Aku sama sekali tidak kenal daerah Makati – ini pusat bisnisnya Manila- pergi ke sana pun baru sekali,. Itu pun naik taksi. Ah ya dua kali, dengan Ray, tapi aku dulu selalu tergantung dia. Kelemahanku dari dulu tetap sama: sering bingung arah. Lima kali jalan sendiri, lima kali kesasar. Masih untung aku nggak pernah malu tanya-tanya hahaha…. kadang memaksa orang untuk mengantar.

Arah yang kutuju tahu : harus naik kereta sampai Cubao, lalu pindah jalur MRT ke jurusan Ayala, nama ststion kereta listrik di daerah Makati. Dari Greenbelt, konon katanya cukup jalan kaki. Pasti suatu penderitaan: musim panas begini, arah pun harus menerka-nerka. Hari Rabu malam sesudah makan, Juliet menyederhanakan peta kota yang rumit itu. Dia menyarankan aku untuk tidak turun ke lantai bawah dari stasion Ayala. Terus saja menerabas mall demi mall. Baru turun sesudah mencapai Greenbelt.

Greenbelt di Makati – taman terbuka di tengah pusat belanja

Tiba-tiba Pani – ini Filipino yang tak pernah kusapa karena aku terlanjut punya prejudice dia sombong – nimbrung. “Sampai Greenbelt pergilah ke-arah kanan, jalan di lantai dasar saja, keluarlah di basement Mc Donnald. Kamu akan lihat gedung Asia Institute of Management. Kamu harus menyeberang ke sana dan menyusuri jalan di depannya.” Lalu dia gambarkan sebuah peta sederhana. “Ini Gamboa street, jalan utama, lalu jalan yang memotong Gamboa street itulah Salcedo street. Di situ Indonesia Embassy. Don’t worry. You will come back safely, don’t forget to bring your cellphone. Contact us if you lose the way.” Aku sebel sekali pada Pinoy satu ini. Di kelas ia selalu membuat komentar-komentar usil yang kadang mengacaukan atau bahkan melukai orang lain, ketawanya suka melecehkan harga diri orang. Mungkin ia merasa kaya. Mungkin begitulah Pinoy.

Belum berangkat saja aku sudah capek duluan. MRT ke dan dari jurusan Ayala selalu penuh sesak, karcisnya cuma untuk sekali jalan saja, jadi selalu harus antri panjang. Aku tak punya bayangan, dari Cubao sampai Ayala ada berapa stasion. Lagi pula apa aku sempat menghitung, melihat ke arah luar saja pasti susah saking penuhnya manusia. Pusat bisnis Ayala terlalu rumit untukku, tak tahu harus bagaimana nanti. Apalagi memikirkan harus berurusan dengan, maafkan, pegawai Indonesia, yang meskipun pendidikannya tinggi dan hidupnya sudah di luar negeri kinerjanya ya begitu-begitu saja.

“Berangkatlah pagi-pagi, kalau kamu punya janji jam 11, “ nasehat teman-teman. Aku malas pergi sarapan, langsung ke Cubao jam delapan pagi. Menyeberang ke stasion Araneta di Cubao, bukan lagi sebuah kesulitan bagiku. Tapi antre kereta memang butuh kesabaran. MRT juga tak sebagus LRT. Lepas dari antrean jantungku berdebar, ada beberapa jurusan, yang mana yang ke Ayala…. Oh, pilih kanan dari portal ini, lalu naik tangga. Tunggu… . kereta penuh sesak, termasuk gerbong khusus perempuan. Tak ada alasan menunda, begitu pintu listrik itu terbuka aku harus loncat, tak peduli badan rasanya mengambang karena terdorong arus penumpang lain, dan di dalam rasanya tak ada lantai untuk sekedar berpijak kaki…. Eh boro-boro tiang atau dinding untuk berpegangan. Syukur, kalau badan ini tak digelendoti orang lain.

Ah… bernafas sekarang. Tapi aku tak juga lega, berapa perhentian harus kuhitung untuk mencapai Ayala station. Mulai colek-colek orang, “ Hi, I will go to Ayala, how many station are there before arriving ?” Tentu saja jawabnya “I don’t know, “ setelah yang ditanya bengong sejenak. Dasar… peryanyaan guoblog begini pasti milik kepala yang juga guoblog. Masak orang disuruh ngitung berapa kali kereta ini berhenti sebelum Makati. “Do you know Ayala ? Still far ?” Si Cute boy yang kutanya balik badan dan tanya Kasak kusuk dengan sebelahnya dalam Tagalok, lalu menggelengkan kepala. Dia nggak ngerti tempat itu, atau nggak nangkep pertanyaanku, entahlah. Repot.

Aku beringsut, mencari tempat dengan pandangan ke luar yang lebih lapang. Maksudku supaya bisa membaca nama stasion demi station yang terkelewati. Satu, dua, .. tiga…lalu entah yang keberapa, Banifacio station, aku pernah lewat sini, dengan Boni (See… I am rich, have a train station,” katanya), Jill, Peter pulang dari pemakaman aeorang pastor Indonesia yang terbunuh di daerah utara sana.

Selewat satu station terakhir menjelang Ayala, seseorang lelaki, berdiri agak jauh dariku, berkata keras, agak berteriak, dengan bahasa Tagalok. Maknanya kuduga, “Bersiaplah, sesudah ini Ayala, “ ia melihat ke arahku. Ia lelaki sederhana, bermata galak, agak kumuh, mungkin penampilannya seperti pekerja bangunan, para komuter yang banyak kutemui di Indonesia. Agaknya lelaki ini mengawasi ketika beberapa saat lalu, aku kebingungan menanyakan station Ayala. Mungkin ia mengerti bahasa Inggris, tapi tak dapat menjawab aku dalam bahasa yang sama. Ya Allah, pada saat yang tepat ia menjawabku dengan bahasa hati. Aku mengangguk, “Oo…Salamat Po.”(Ya, terima kasih Bapak).

Belum selesai aku merenungkan keherananku, cowok imut yang tadi kutanya mencari aku dengan matanya, “This is Ayala, “ – “Yes, maraming, maraming salamat Po, nice to meet you all,” aku menangkupkan tanganku ke dada. Aku terdorong keluar oleh arus penumpang lain. Ayala, station dari pusat bisnis terbesar di Manila.

Aku melangkah, nyaris tak tahu, mau apa, kemana. Ego dan alter ego berdialog terus dalam kepalaku. I don’t know the road ahead. Bukan dalam arti harafiah sekarang ini tetapi lebih dalam lagi. Sering dalam kenyataan hidup aku menemui uncertainty, ketidakpastian. Tapi harus melangkah. Dalam perjalanan ini tadi tiba-tiba sebuah discernment masuk dalam sanubariku. Aku punya tujuan: ke Ayala, Makati. Aku tak tahu bagaimana mencapai tempat itu. Lalu aku cerita saja kepada orang-orang sekitarku, bahwa aku harus ke Ayala. Orang lain, bahkan orang yang tak kusukai pun akan membantu. Pani misalnya.

Dalam kasusku itu, setelah bertanya kesana-sini dengan hati yang resah, toh pada detik terakhir aku mendapat pertolongan juga. Selalu ada hal-hal kecil yang menunjukkan arah tujuan. Mungkin begitu. Itu bahasa Jill dulu, God will help, perhaps in the last minute. Kata orang bijak, kalau semua pintu tertutup pasti ada satu jendela atau celah untuk mendapatkan jalan keluar. Kalau celah pun tak ada, pasti ada sebuah linggis untuk mendobrak pintu, and move on.

Aku harap aku bisa survive melintasi hari-hari panjang di depan, gurun saharaku, Nazaretku, tempat Jesus bertapa…40 tahun lamanya ya …ya..ya..ya… Datar, rutin, tanpa gegap gempita seperti dunia remaja, atau dunia kampusku kini, but open the heart and someone watch over me. Move on. Harapan tak boleh padam.

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s