Kawanku Isabelle

Ada sesuatu yang aneh. Begitu kesan pertama kali bertemu dengannya. Pagi pertama aku masuk kampus Crec, Isabelle datang menyambutku. Sebelum aku kebingungan mencari di mana bel pintu, seorang perempuan muda, berwajah oriental, bersiap membuka dan menghampiri dari dalam. “Isabelle,” katanya sambil memelukku erat, kelewat erat. Sepanjang lorong menuju kelas ia menggandeng tanganku.

Jalannya agak kurang beres. Lututnya terlalu dalam menekuk setiap kali melangkah, dan kedua tungkainya agak berjauhan.Tapi bukan cacat lahiriahnya yang terasa aneh, cara memeluk yang kelewat erat itu membuatku kikuk. Terlepas dari itu, Isabelle PD bukan main. Justru PD-nya ini membuatku menarik kesan dia over acting. Ternyata kemudian, dia temanku yang paling setia di selama di Lyon. Dia membantuku atau selalu siap membantu setiap kali aku mengalami kesulitan.

Di negeri orang namanya kesulitan bukan main banyaknya. Apalagi ini negeri yang kata orang teknologinya sudah amat canggih. Hal-hal sepele saja seperti bagaimana naik bus kota, di mana beli karcisnya, bagaimana menggunakan kartu telepon, bagaimana mengoperasikan komputer, semuanya sulit. Di sini aku baru tahu bahwa menunggu bus kota harus tepat waktu, di bawah sebuah papan nomor jalur yang akan dilalui oleh bus tersebut. Tak perlu mengacungkan tangan untuk memberhentikannya. Kalau sopir bus melihat ada orang berdiri di bawah papan itu ia akan menghentikan kendaraannya. Kedatangan bus di halte – bukan halte sebenarnya, hanya sebuah tiang di pinggir jalan yang bertuliskan nomor jalur dan rute perjalanan – setiap harinya selalu sama, kecuali Sabtu dan Minggu. Dua hari itu kebanyakan orang libur jadi mungkin berpengaruh pula pada rute perjalanan.

Isabelle baik pada semua orang. Ironisnya hatinya yang baik ini sering jadi bahan tertawaan di belakang punggungnya, karena dia mengekspresikannya secara berlebihan. Soal ciuman misalnya. Setiap pagi dia akan mencium semua orang sambil berteriak, ” I love you…. I love you.” Kalau seseorang, itu Neun, suatu saat tidak menciumnya ia akan protes, “ Kenapa kau tidak menciumku ?” Tidak saja bagiku, bagi Janet, kebiasaan Isabelle ini juga dipandang berlebihan, meski kami tak pernah terganggu oleh ulahnya.

Neun, juga Renaud meladeninya, meski suatu saat, di dapur kampus, ketika kami hampir menyelesaikan program kami, aku menangkap kesan bahwa Neun juga merasa risi dengan ritual cium-ciuman. “Aku dulu juga melakukan kissing pada Mathilde, tapi itu tak lagi kulakukan,” katanya. Isabelle protes- kissing cuma ekspresi persahabatan biasa, katanya. “Tidak selalu. Itu bisa menimbulkan sentuhan emosi yang berbeda,” tambah Neun, seperti biasa, nada suaranya begitu lembut mendayu (dia selalu menyejukkan hati).

Aku tidak ingat apa topik pembicaraan saat itu, tapi kami menyinggung soal kissing. Mungkin sesorang bertanya -aku menuduh Janet karena anak ini nafsu ingin tahunya begitu dahsyat – apakah orang-orang biasa melakukan kissing di Korea. “Oh, tidak. Di Korea orang dewasa tidak pernah berciuman di depan umum, “ kata Mathilde. “Kamu tahu Isabelle menunggu 35 tahun dan pergi ke Perancis untuk mencium semua orang dan berkata I love you..I love you,” ketawalah kami semua. Itu soal kissing.

Cerita yang lain soal cinta. Seringkali terucap bahwa ia sangat gelisah karena di usianya yang ke –35 ia belum menikah. “Saya pikir mencintai seseorang, menikah dan melahirkan adalah pengalaman yang paling hebat bagi perempuan, “ katanya. “Sayang saya belum ketemu dengan seseorang yang saya cintai dan mencintai saya.”. Mungkin karena cita-citanya yang satu ini belum kesampaian, atau naluri keibuannya yang sangat menonjol (hal mana aku tidak termasuk apalagi Janet) ia selalu mencari sasaran salah seorang di kelas kami untuk diurusnya laksana mengurus balita.

Nico adalah lelaki yang kesekian. Sebelumnya, kata Janet, seorang dari Amerika Latin, namanya aku lupa, jadi sasarannya. Lantas Frits, seorang  Italia yang bekerja  di Chad. Si Amerika Latin itu amat lugu. Sementara Frits amat gaul dan … Nico amat pendiam. Aku tak tahu memang aslinya begitu, ataukah sama seperti aku tak fasih berkomunikasi dalam bahasa yang asing dan manusia yang saling asing. Nico ini orangnya sangat lelaki di mataku. Badannya atletis, mungkin sekitar 180 senti. Kulitnya putih, sedikit sipit – oriental, tapi tak Cina. Cara berpakiannya modis. Tapi lebih dari itu, dia Asia sekali.

Mungkin aku salah atau terlalu cepat menarik kesimpulan. Teman-teman Asiaku punya hati yang lebih menolong di banding anak-anak benua yang lain. Orang Eropa yang aku kenal di sini, terlalu kompleks dengan tata krama, lip service, dan basa-basi. “Saya akan membantu kalau kamu dalam kesulitan,” sering kudengar. Tapi ketika aku dalam kesulitan yang sebenarnya, mereka cepat menarik tirai batas. Orang-orang Afrika di kelasku ? Antarmereka saja tak punya solidaritas apalagi dengan orang lain. Itulah, maka Nico adalah tipikal lelaki seperti dalam buku pelajaran etika. Dia akan berjalan di sisi luar bila kami pulang bersam-sama. Ia akan menunggu sampai kami mendapatkan bus kota bila kami bersama meninggalkan kampus larut malam. Dia tidak peduli meski ia sendiri akan tertinggal bus kota ke rutenya. “Di negaraku lelaki harus bersikap begitu,” katanya.

Sebagai seorang teknisi pekerjaan Nico amat bertumpuk, terutama ketika pelajaran audio visual tiba. Ia harus siap di studionya yang dingin dan sepi. Jam berapa pun ketika kami siap dengan naskah kami, ia akan menyuntingnya di komputer. Ia pernah bikin peraturan bahwa ia hanya bekerja paling lambat jam sepuluh malam. Lewat dari tenggat ini berarti pekerjaan untuk besok hari. Tapi ternyata hatinya tak sekeras mulutnya. Ia langgar sendiri peraturan ini, alasannya tak sampai hati, kalau kami tak rampung dengan tugas-tugas hari itu. “Aku terbiasa dan cukup sehat bekerja sampai larut,” katanya.

Sebagai imbalan kebaikan hati Nico, Isabelle kemudian menyiapkan makan malam untuk tiga orang : Isabelle sendiri, aku dan Nico. Pagi hari, sebelum berangkat ke kampus aku dan Isabelle selalu menyiapkan rantang plastik berisi tiga porsi makan malam kami. Kami tak perlu menyiapkan makan siang, karena kampus sudah mengatur agar kami bisa makan di biara Valpre, di seberang kampus kami. (Makan siang seharga delapan euro itu sering tidak pas untuk perut Asia. Mereka sering masak nasi nglethis yang ditanak bersama sayuran dan berbagai bumbu. Kalau sakit maagku kambuh dan muntah, keluarnya semacam itu ). Malam hari, kami masih di kampus menyelesaikan banyak tugas, kami memasak makan malam kami sendiri. Sibuklah Isabelle di dapur, sementara aku hanya sedikit membantu.

Ketika gereja paroki Ecully, mengadakan suatu acara pemutaran film selama beberapa malam, ternyata tenaga Nico teramat dibutuhkan. Siang hari ia sibuk di kampus. Malam hari ia menunggui segala peralatan film. Saat itu Isabelle pulang duluan ke apartemen kami. Sekitar jam sembilam malam aku menyusul, seorang diri. Isabelle gelisah dan bertanya apakah Nico sudah kembali ke kampus. Ketika tahu bahwa Nico masih di gereja, Isabelle gopoh-gopoh menyalakan kompor dan memasak sesuatu. Jam sepuluh malam larilah ia ke gereja, itu cuma dua kali menyeberang jalan dari apartemen kami. Pulangnya, tanpa kutanya, ia bercerita bahwa Nico belum makan sejak siang harinya. “Wajahnya terlihat surprise ketika kubawakan makan malam,” kata Isabelle dengan wajah ceria. “Oh, dia pasti berterima kasih karena ada orang yang sangat perhatian seperti kamu, “ kubombong dia.

Suatu saat datanglah Linen, anak guru video kami Siriwan. Enam belas tahun umurnya tapi pembawaannya dewasa sekali untuk anak seusia itu. Dugaanku, karena faktor kesamaan bahasa, hari-hari selama pelajaran video itu merupakan hari-hari yang lebih berwarna bagi Nico. Aku lihat wajahnya lebih sumringah. Bicaranya lebih banyak, tentu saja antar mereka bertiga dengan bahasa dan logat Thailand yang di telingaku terdengar seperti logat Cina kaleng. Guru video ini bukanlah orang yang disukai di kelas. Kalau diberi ranking, mungkin ia akan menduduki ranking nomor satu dari bawah. Terlalu menekan sampai nafas rasanya sesak karena tak sempat berpikir. Dia seorang mantan wartawan TV pemerintah di Bangkok dan juga mantan presiden UNDA/OCIC Asia. Linen cantik. Badannya tinggi semampai. Lebih dari itu otaknya terkesan cemerlang. Dalam usia belianya ia menguasai beberapa bahasa, beberapa ketrampilan dan ia tak canggung bergaul di kalangan orang yang seusia ibunya. Kalau sudah berbicara padanya, aku lupa bahwa ini kanak-kanak yang belum lagi selesai masa pubernya.

Aku tidak tahu apakah beberapa faktor di atas menggoreskan rasa cemburu di hati Isabelle. Suatu saat ia bicara padaku, “Kamu tahu, Nico tampaknya mencintai Linen.” Ketika aku tanya dari mana ia menarik kesimpulan sedemikian ia menjawab, “Terasakan olehku, ketika kemarin siang Nico memberikan jatah makan siangnya di Valpre kepada Linen.” Komentarku, “ Oh….. is it true?” Aku hanya punya sedikit kepekaan soal itu, karenanya aku bukan seorang pengamat yang baik. Jika Isabelle merasa bahwa Nico jatuh cinta pada Linen, justru Janet, Linen dan teman-teman lain melihat bahwa Isabellelah yang jatuh cinta pada Nico.

Sehari menjelang kepergianku dari Ecully, kami berjalan-jalan ke down town Lyon. Isabelle tidak ikut karena mobil tidak muat. Pulangnya mampirlah kami ke biara OMI. Ada teman-teman kami di sini, Francois dari Congo , Neun dan juga Renaud, penerjemah kami. Neun punya sebuah mainan, bola kaca ajaib, katanya. Sebuah benda bulat sebesar kepalan tangan orang dewasa berwarna biru gelap dengan banyak sisi-sisi prisma. “Bartanyalah sesuatu, ucapkan sim-sala-bim, kocok bola, dan kau akan membaca jawaban atas pertanyaanmu, “ kata Neun. Mulailah kami melontarkan berbagai tanya, dan kami tergelak-gelak karena jawaban yang muncul kadang cocok kadang ngawur. Seperti jawaban jailangkung agaknya. Aku yang terbiasa diam tenang di pojok pembicaraan, tiba-tiba punya ide. “Does Isabelle love Nico ?” Tergelak serempak semua menjawab,”Yesssss!!!!!” bahkan sebelum bola ajaib menjawab. “Does Nico love Isabelle ?” Yang punya nama menjawab “I don’t think so.”

Isabelle pasti tak nyenyak tidurnya malam itu karena banyak dirasani. Topik obrolan kami mengalir seputar dirinya. Linen bercerita bahwa ia kaget ketika suatu hari Isabelle bertanya apakah ia mencintai Nico. Isabelle juga berkata padanya bahwa Nico mencintainya.

Kami pulang ke kampus diantar Francois dan tiba sekitar jam satu malam. Aku membereskan peralatan pribadi, mengucapkan salam pada tiap benda dan ruangan yang telah demikian familiar, lalu, hug and kiss – yang pertama dan terakhir- pada Nico. Itulah malam terakhirku di Ecully. Berdua Janet aku menyusuri jalan-jalan yang setiap pagi dan malam  kami tapaki. Dini hari yang amat dingin, meski musim semi telah benar-benar tiba. Aku tak pernah merasa sedekat ini dengan Janet sebelumnya Jam sebelas siang esok harinya aku akan naik kereta cepat menuju Dijon. Terpaksa ke sana, karena boss besar menitipkan logistikku di sana. Selanjutnya Raul pasti menjemputku di Lyon de Garre…another journey will be begun.

Ketika membuka pintu apartemen, rekasi Isabelle,”Aku sulit tidur.” Aku dan Janet berpandangan dan ketawa keras, “We are true!” Tapi alasannya berbeda, “Sudah sangat larut malam dan kalian belum pulang. Aku gelisah jika terjadi sesuatu yang buruk pada kalian.” Oh…forgive us ! Aku berkemas dinihari itu. Pekerjaan ini tak dapat kutunda sampai esok seperti saran Isabelle. Aku khawatir ada barang penting yang lupa kumasukkan dalam kopor dan aku tak sempat mengingatnya sebelum berangkat. Jam sembilan esok Mathilde akan mengantarku ke stasiun Lyon Part Dieu.

Selalu di manapun, berkemas adalah hal yang paling tak kusukai. Stasiun selalu membuatku resah dan kembali bertanya, “Sesudah ini ke mana?” Jadi malam itu aku tak dapat tidur sampai lonceng-lonceng gereja berdentangan pada keesokan paginya.

Aku pergi. Ataukah aku datang ? Aku tak pernah yakin. Lantas apa pula bedanya? Di stasiun orang datang dan orang pergi, sama bergegas. Ke happyland somewhere? Kupeluk dan kucium Isabelle. Erat sangat erat. Hangat. Sangat hangat. Akankah kautemui happyland somewhere itu dan pangeranmu di sana, Isabelle ? Jangan khawatir, seperti kata Neun, kau bertangan hangat. Apapun yang kausentuh akan tumbuh dengan indah (“but Vero.. she is rather complicated, ” kata Neun suatu malam). Ataukah seperti Ahasveros, tak henti berjalan dalam pencarian eksistensi ? Ataukah kita sebenarnya berada di stasiun, sejenak berhenti lalu berjalan lagi ? Apakah pencarian membuat kita terlihat bodoh dan menggelikan di mata orang lain, seperti kami menertawai kamu di rumah Neun malam itu ? There’s happyland somewhere. Aku berangkat menuju perhentian selanjutnya.

Silakan tulis komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s