Blog Archives

Ginekolog Sindrom

Ginekolog sindrom, konon adalah suatu trauma psikologis yang dialami oleh perempuan pascamelahirkan. Trauma ini ditengarai oleh timbulnya rasa sungkan, malu atau sejenis  rasa tidak nyaman lainnya bila bertemu dokter kandungannya. Penyebabnya tentu saja karena daerah rahasia itu dilihat oleh lelaki yang bukan suaminya. Se-ilmiah apapun alasanya pasti rasa tidak nyaman itu akan muncul.

Konteks psikologis semacam ini rupanya yang menghinggapi kami berdua : saya dan “mantan sahabat” saya saat ini. Tidak secara fisikal pasti. Pada suatu  ketika dulu kami pernah  hidup di perantuan sebagai mahaiswa asing, jauh dari segala support system, apakah itu bernama keluarga, profesi, status sosial, dll. Karena berasal dari negara yang sama dan beberapa kesamaan latar belakang lainnya kami menjadi karib. Sebagai sahabat tentu saja banyak hal yang sangat personal sering kami sharingkan.

Bolehkan dikatakan relasi pertemanan kami saat itu mencapai apa yang disebut sebagai intimacy level. Hmm….jangan cepat-cepat menerjemahkan kata ini ke dalam bahasa Indonesia yang salah kaprah, yang sering mendeskripsikan kata intimacy ke dalam konotasi miring. Dalam bahasa Inggris kata ini berarti sangat positif kok. Intinya kami aling mengerti dan memahami wilayah batiniah masing-masing.

Ya, bagi saya relasi itu terjadi dalam tiga tahapan, kenalan, teman dan sahabat. Saya akan membuat analogi. Saya ibaratkan hati manusia itu sebagai sebuah rumah. Kenalan adalah orang yang tiap hari lewat di jalanan depan rumah kita. Kita tahu namanya, hafal wajahnya, bahkan juga mungkin tahu alamat rumahnya. Tapi baik dari pihak kita maupun orang itu tak pernah berniat meningkatkan kualitas hubungan. Relasi sebatas saling senyum, mengangguk dan bertanya dari mana mau ke mana. Tak ingin tahu lebih banyak dari itu.

Sementara teman adalah tingkatan selanjutnya dari seseorang yang saya sebut kenalan. Ini adalah kelompok orang yang saya izinkan berkunjung ke rumah saya.  “Tapi jangan jauh-jauh, silahkan duduk manis  di ruang tamu saja.., “ begitu saya memberi alarm pada orang-orang ini, sehingga relasi akan terjadi dalam tingkatan yang formal, santun dan bisa jadi basa-basi. Kita hanya saling tahu tentang kepribadian masing-masing dari kulit luarnya saja. Bolehlah saya mengaku bahwa dalam hidup saya orang dari level relasi semacam ini yang lebih banyak saya miliki.  Dasarnya saya ini juga bukan orang yang suka buka-bukaan masalah pribadi dengan banyak orang.

Sahabat sekarang. Ini adalah sekelompok (kecil) orang yang boleh masuk ke segenap penjuru rumah saya, kapan saja. “Feel like a home….” Itu isyarat yang saya sampaikan kepada orang-orang ini. Dalam tataran relasi persabatan ini dua pihak merasa menjadi dirinya sendiri. Tanpa basa-basi. Watak asli kita yang paling buruk sekalipun tetap dipahami. Tentu seorang sabahat bukan orang yang menganggap saya paling benar. Seorang sahabat tidak pernah membiarkan sahabatnya terjerumus dalam sikap dan tindakan yang ngawur. Sahabat saya tahu bagaimana caranya mengritik saya tanpa membuat saya marah. Sepahit apapun kritik yang disampaikan sahabat, saya percaya bahawa itu adalah demi kebaikan saya dan orang banyak, tapa ada udang di balik batu misalnya untuk menjatuhkan saya. Hal inilah yang saya maksudkan sebagai intimacy level dalam relasi. Kuncinya satu yaitu kepercayaan. Dua pihak mengakui vulnerability “kerapuhan” masing-masing dan menyandarkannya pada sahabatnya.

Kembali ke kasus saya tadi. Pada akhirnya kami pulang ke Indonesia dan suntuk dengan profesi masing-masing. Saya kembali menjadi ordinary people di sebuah kota kecil di pulau Sumatera. Ia disibukkan oleh “jabatan publik”-nya di pusat pulau Jawa. Sesekali kami berbincang on line. Tetapi makin lama juga makin jarang. Bahkan pada akhirnya saya merasa ada keanehan di antara kami. Beberapa kali dia cepat-cepat mematikan chat box-nya kalau secara kebetulan saya meng-on- kannya.

Sekali waktu ketika seorang teman sekolah kami dari luar negeri ingin berkunjung ke Indonesia. Lewat email saya minta ia menjadi tuan rumah, sebab di kota saya ini apalah yang bisa saya pamerkan. Saya katakan bahwa jika teman kami datang di kotanya, saya juga akan datang, sehingga kami bisa mengadakan reuni kecil. Pada saya ia menanggapi dengan baik dan menyatakan sanggup. Tetapi  ternyata kepada teman kami  ia menolaknya meski itu dikatakan dengan bahasa yang sangat halus dan berbelit. Pada saat itu saya sadar bahwa ia tidak lagi menjadi intimacy friend tetapi hanyalah aquintance, dari sahabat berubah menjadi sekedar teman atau kenalan saja. Dari perbincangan yang biasanya personal menjadi formal bahkan diplomatis – yang setiap kata harus kita tafsirkan sendiri apa makna sebenarnya di belakang itu.

Apakah dia terhinggapi gynecologist syndrome, karena saya tahu banyak tentang innerself-nya (sebaliknya ia juga tahu saya). Sementara sekarang ini,  jabatan publiknya membuatnya harus menjaga citra berwibawa, bersih dan “tabularasa’. Kalau saya berprasangka begitu, kok salah juga ya. Apakah jabatan public seseorang harus menghilangkan the ability to express and accept intimacy from and to others? – saya bertanya pada batin saya sendiri.

Saya  merasa kehilangan tentu saja, tetapi tak dapat berbuat apa-apa, kecuali berusaha memandang hal itu dari segi positif saja. Hidup bukan pasar malam. Kita tidak datang bersama-sama untuk sebuah hura-hura dan nanti pulang bersama-sama pula. Saya sedih bahwa relasi kami “turun” pangkat, tapi saya tak pernah menyesal telah membangun a human intimacy relationship. Setiap intimacy akan memberi rasa pahit ketika berpisah.  Urip mung mampir dolan. Hidup ini cuma mampir “keluyuran”, kita ketemu di sepotong perjalanan, membangun relasi  dan berpisah di persimpangan, sebab setiap orang punya tujuannya masing-masing. We have our own trajectory. Let people come, stay or go out from my life, and  I am remain OK. Letting be – letting go – we move on.

Artikel terkait :

Friendship ….and Relationship

A Healthy Adulthood

1.         I accept full responsibility for the shape my life has taken.

2.         I need never fear my own truth, powers, fantasies, wishes, thoughts, sexuality, dreams, or ghosts.

3.         I trust that “darkness and upheaval” always precede an expansion of consciousness” (Jung)

4.         I let people go away or stay and am still okay. Read the rest of this entry

Melewati Krisis Paruh Baya

  • Judul Buku : Through A Dark Tunnel (Midlife Chronicles)
  • Penulis : Earnest L. Tan
  • Penerbit : A Spiritus Works Publication, Manila, 2003.
  • Ukuran : 22 x 12,5 cm x 118 + xi hlm.

Prolog :

Buku ini ditulis oleh Earnest L. Tan dan didedikasikan kepada pada midlife journeyer. Meski ia berlatar belakang ilmu konselling buku ini sama sekali tidak sarat dengan istilah-istilah psikologi yang hebat dan berat. Earnest  secara tulus menuliskan pengalamannya bergulat dengan midlife crisis atau yang kita kenal dengan nama krisis paruh baya.

Untuk memahami buku ini, ada baiknya kita mengerti bahwa ada dua macam krisis dalam hidup manusia yaitu : accidental crisis dan developmental crisis. Yang pertama bisa dicontohkan misalnya krisis yang diakibatkan meninggalnya orang yang dekat. Sedangkan yang kedua adalah krisis yang dialami oleh manusia dalam tiap perkembangan psikologisnya. Dengan memahami terminologi ini kita akan tahu krisis adalah sebuah proses yang normal terjadi pada siapapun. Ketika krisis terjadi pada diri kita atau orang-orang yag dekat dengan kita maka kita dapat mengenali dan mengatasinya.

Midlife dan midlife crisis ( Usia paruh baya dan krisis paruh baya)

Selama ini orang banyak menaruh perhatian pada krisis yang dialami remaja atau yang disebut masa pubertas. Padahal masa transisi pada usia dewasa harus juga diberi perhatian  yang seimbang. Permasalahannya adalah dalam masyarakat kita krisis paruh baya sering dipandang dengan sisnis seperti sebuah aib. Orang sering melecehkan dengan mengatakan misalnya, “Maklum dia lagi puber kedua.” Dengan kondisi ini orang akan menekan perasaannya dan menyembunyikan simpon-simtonnya, lantas merasa “sendiri”, ini akan memperparah kondisi kejiwaannya.

Midlife adalah suatu fase saat seseorang memasuki middle age atau usia paruh baya.  Dalam teori Erikson, yaitu pada sekitar usia 40 – 50. Tidak semua orang yang memasuki usia paruh baya mengalami krisis. Ada orang yang melaluinya tanpa pergolakan psikologis. Sebagian orang yang melewatinya sebagai sebuah masa transisi biasa dengan sedikit rasa tidak nyaman saja. Tetapi tak kurang pula orang-orang yang menjalaninya dalam sebuah krisis yang cukup serius. Krisis ini kita kenali dengan munculnya rasa gelisah dan depresi. Pada usia ini seseorang menyadari bahwa waktunya semakin terbatas, usia tua dan kematian semakin membayang nyata.

Krisis merupakan ouput dari adanya sejumlah perubahan dan tidak setiap orang merasa nyaman dengan perubahan itu. Tanda-tanda penuaan itu pada fase ini akan berkembang cepat : double vision (rabun jauh rabun dekat), kebotakan, uban yang semakin banyak, tingkat energi yang tidak lagi seperti fase sebelumnya, pada perempuan terjadi pre-menopause / menopause. Secara psikologis pada fase ini bisa jadi orang berhadapan dengan pengalaman ditinggalkan orang-orang yang dekat: orang tua, pasangan hidup, dan beberapa kondisi lain misalnya pensiun,dsb.

Seseorang dapat bertahan dalam menjalani krisis midlife-nya jika mereka dapat mengelola perubahan dengan bertindak kreatif. Dengan begitu krisis menjadi breakthrough dan bukan breakdown. Jelas tidak mudah untuk menjadi kreatif, sementara dalam masa paruh baya, emosi seseorang bisa digambarkan Earnest seperti roll coaster, dari permenungan ke kesepian yang mendalam, dari depresi sampai pada kemarahan dan kadang juga disertai dengan rasa bingung dan tidak aman.

Kita sadar akan kebingungan kita, tapi sulit keluar dari kondisi ini, seperti ilustrasi Earnest (note : buku ini kaya dengan ilustrasi pengalaman pribadi penulisnya):

Pada usia 40 tahun Earnest memutuskan keluar dari lingkungan keluarga besarnya (dari keluarga China- Philipina) serta membangun rumahnya sendiri. Ia juga keluar dari pekerjaan tetapnya sebagai dosen dari sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Manila. Ia menyandarkan hidupnya dari penggilan menjadi pembicara seminar dan mendirikan sebuah penerbitan buku dengan meminjam modal dari bank.

Suatu saat ia harus memberi sebuah seminar. Di dalam hati ia ingin mmebatalkan acara itu. Tapi tak bias. “If I don’t work I won’t have money to pay my bills. Yet I know it is unfair to my audience that I give myself half heartedly.” Earnest merasa sangat ironis, bahwa ia harus menginspirasi orang sementara ia sendiri “kering.” – I hate myself , I am trapped – katanya.

Setiap pilihan hidup mempunyai konsekuensi. Meski hal itu telah diperhitungkan pertanyaan-pertanyaan keraguan tetap muncul dalam hati kecil:

What if nobody hires my service anymore? What if I no longer have money to tide me over. Who could I turn to support? Can I go on doing what I have been doing for the twenty years? Did I make the right decision in pursuing this life? What alternatives do I have in case I shift careers? What else can I do? ……All questions but no answers. Nothing scares me more than not having any answer. It is so difficult not to be in control.

Burn out

Burn out adalah isu penting yang dihadapi oleh kaum paruh baya. Lebih dari sekedar stress,  burn out adalah sebuah istilah yang mungkin sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia ; the experience of depletion, wearing out or exhaustion of our resources, wether physical, emotional or mental, which are brought about by internal or external pressures and demands.

Kondisi burn out kadang tidak disadari oleh para midlifer tetapi efeknya akan dirasakan oleh orang di sekitarnya. Kondisi ini bisa mengubah seseorang yang aslinya adalah orang yang baik dan selalu bertujuan baik menjadi orang yang tidak efisien, mudah tersinggung, sangat kritis, sinis, pelupa, tidak bahagia, atau cukup digambarkan dengan dua kata: tipe sulit.

Untuk mengatasi burn out orang harus menyadari sumber masalahnya baik internal maupun eksternal. Earnest mengenali sumber luar masalahnya adalah tekanan untuk mengembalikan modal yang dipinjamnya. Sedangkan dari dalam dirinya sumber masalahnya antara lain : wataknya yang selalu mengerjakan segala hal dengan standar yang tinggi. Juga dilatarbelakangi oleh “tagasalo lifestyle” , suatu karakter yang selalu berusaha menyenangkan hati orang lain. “ Perhaps my “tagasalo” lifestyle is responsible for my anger during midlife. Afterall, I have been constantly striving to please people, to consider their wishes, and to give their needs. Yet all along, I am always crying deep inside, “What about me?”

Sealanjutnya ia menulis, “ My anger at midlife is telling me to learn to tip the balance. While it is wonderful to give, and one can’t stop tagasalo from continually giving, I should also learn to receive. And more importantly, not feel guilty about it.

Masih banyak ilustrasi pengalaman pribadi Earnest yang menarik untuk diikuti. Singkat kata, tidak ada sebuah cara instan melewati masa krisis paruh baya ini. Krisis ini tidak akan selesai dalam seminggu dua minggu tetapi bisa mencakup periode yangrelatif panjang. Satu hal yang harus disadari : krisis paruh baya adalah sebuah proses biasa yang harus dikenali, diterima dan dijalani. Semakin ditolak semakin akan menyakiti. Dengan mengalir di dalamnya orang menemukan kebijaksanaan dan hal-hal baru yang tidak dikenali sebelumnya.

Earnest menawarkan 9 cara bagaimana “mengalir” dalam melewati krisis paruh baya yang sebenarnya merupakan inti sari buku ini :

  1. Mengenali perasaan yang muncul yang tidak pernah dialami dalam fase sebelumnya. Perasaan itu antara lain frustrasi, depresi, kesepian, takut, tidak aman, ragu-ragu, malas, lelah, kehilangan arti dan tujuan hidup, mempertanyakan tentang arti hidup, kematian dan Tuhan, bingung,hopeless dan helpless, bahkan bisa jadi  muncul pikiran-pikiran bunuh diri, dan berbagai perasaan menyakitkan lainnya biasa timbul tenggelam dalam hati.  Perasaan itu bisa muncul  ke tingkat tindakan yang negatif dan merusak. Pada saat seperti ini seseorang harus berusaha “nyaman” , berserah, sabar, mengalir dan percaya.
  2. Menemukan seseorang yang dipercaya untuk menemani proses perjalanan (spiritual) midlife-nya.  Orang ini haruslah membuat si midlifer merasa nyaman untuk mencurahkan perasaan dan pikirannya. Ia haruslah seseorang mampu mendengarkan dengan emphati, tanpa mengkotbahi dan menghakimi.   Dengan penerimaan yang tulus semacam ini maka si midlifer mulai dapat menerima dirinya sendiri dan mengakrabi pergulatan bathinnya.
  3. Dengarkan suara hati sendiri. Kenali apa yang bergema dari pengalaman pergulatan paruh baya ini. Sangat sering kebingungan dalam masa krisis ini membuat kita tidak rasional. Sangat ideal bila dapat sharing dengan seseorang yang memiliki pengalaman yang sama. Saran yang lain : membaca ulang buku ini, memberikan marker warna – warna yang berbeda pada bagian-bagian yang menyentuh perasaan kita, misalnya sesuatu yang “menohok”, penting, serius untuk diperhatikan, dst, sampai kita menemukan “the aha experience”.
  4. Menulis Jurnal / catatan harian. Jurnal adalah instrumen penting dan efektif untuk berdialog dengan diri sendiri. Menulislah dengan bebas dan jujur, termasuk emosi-emosi negatif yang muncul, karena ini akan membebaskan kita dari tekanan. Bebaskan ekspresi kita dalam menulis, tak perlu memeperdulikan teknik mengarang, tata bahasa, topik, tema dan basa-basi lain.  Dalam proses menulis kita akan menyeleksi pikiran-pikiran, mengklarifikasi apa yang kita inginkan sehingga  pengalaman ini akan mengantar kita pada situasi yang lebih baik. Satu hal yang amat penting adalah menjaga agar jurnal ini menjadi milik pribadi dan konfidensial.
  5. Terlibat dalam kegiatan-kegiatan kreatif. Karena burn-out adalah pengalaman yang wajar dalam fase midlife, ambilah time-out dan ikut dalam kegiatan-kegiatan kreatif. Kegiatan ini haruslah yang : 1) menyenangkan, 2) tidak ada tekanan dan tuntutan, 3) proses kreatif dalam kegiatan ini haruslah mampu membuat kita mengalir, merasa terbebas dari himpitan  waktu, tempat dan diri sendiri, 4)  tidak ada kompetisi. Earnest memberi contoh misalnya mengikuti kursus membuat keramik, melukis, hiking, naik gunung, memancing, fotografi, main laying-layang.
  6. Perhatikan  serendipitious dan synchronized moments. Serendipity adalah kemampuan menemukan sesuatu jawaban secara tak sengaja ketika sedang mengerjakan sesuatu. Synchronicity adalah sebuah kejadian-kejadian yang terjadi pada saat yang bersamaan untuk sebuah makna tertentu. Kejadian-kejadian ini bukanlah semacam ketidaksengajaan. Kejadian ini didesain untuk terjadi pada saat yang tepat bersama seseorang yang tepat, baik sahabat maupun orang yang tidak dikenal sebelumnya. Saat peristiwa ini menghampiri renungkanlah :
  • Apa makna peristiwa ini bagi saya ?
  • Ke mana persitiwa ini membawa saya dalam rangka midlife journey ?
  • Apa yang ingin disampaikan Tuhan lewat peristiwa ini pada saya ?

Saat – saat ini sungguh merupakan sebuah pengalaman spiritual sebab kita akan mengalami kekuasaan Tuhan yang tak terbatas dalam mengintervensi hidup kita. Majulah dan biarkan Tuhan memimpin jalan kita.

7. Hargailah diri sendiri. Rasa bingung, kesepian, tidak aman, dsb harus disadari sebagai proses dalam hidup. Seperti emas yang harus ditempa dalam api untuk mendapatkan kemurniannya begitu pula kebijaksanaan hidup akan lahir dari proses krisis paruh baya yang menyakitkan ini. Sebaiknya kita membuat daftar hal-hal yang menggembirakan, termasuk bila itu adalah memangkas salah satu beban tanggung jawab kita dalam pekerjaan misalnya. Lakukan tanpa merasa bersalah. Midlife adalah waktu untuk menghargai dan memanjakan diri sendiri tanpa harus menjadi egois.

8. Temukan kembali gairah hidup. Setiap orang mempunyai anugerah berupa bakat khusus yang berbeda satu dengan lainnya. Rutinitas sering membuat sebagian bakat-bakat ini terabaikan.  Refleksikan sekali lagi apa bakat dan ketertarikan kita; hal ini akan mendorong kita menjadi kreatif. Kerjakan, biarkan energi kita mengalir spontan dan kita merasa “hidup” kembali.

9. Jalani “takdir” hidupmu. Gairah besar / passion kita sebenarnya adalah tuntunan menuju takdir kita. Mungkin perlu waktu khusus untuk menemukan passion kita ini. Pertimbangkan pertanyaan berikut : Apa yang ingin saya capai dalam hidup sampai kematian menjemput, sehingga saya bisa menerima kematian sebagai sebuah “wisuda” atas kepenuhan hidup (fulfillment) yang telah saya capai ; apa yang ingin saya dengar tentang sesuatu yang dikatakan orang pada upacara kematian saya ? Mungkin pertanyaan ini akan membimbing kita untuk mendefinisikan hidup. Renungkan kembali jalan hidup yang telah kita lalui dan ke mana “lorong” itu membawa kita.

Epilog :

Saya kutip saja beberapa alinea penutup dari Earnest :

Midlife opens to us doors to new beginning and possibilities. As such, we face life anew with hope and joy. We must remember though that this is only possible if we are not afraid to go through the dark tunnel. Paradoxically, what is seemingly negative is that is which redeems us. What do we see and behold at the end of the tunnel ? Today I see “someone” standing at the end of the tunnel, ready to embrace me in his loving arms. ….

Buku yang luar biasa, bisa dijadikan “buku suci” untuk para midlife journeyer. Saya bukan seorang penerjemah yang hebat. Kalau ada penerbit  yang mau menerjemahkan dan menerbitkannya, saya bisa berbagi  copynya…

Artikel Terkait :

1) Krisis Usia Paruh Baya : http://yulianti.staff.uii.ac.id/2008/08/30/krisis-usia-paruh-baya/

2). Krisis Paruh Baya Bukan Puber Kedua : http://www.intisari-online.com/majalah.asp?tahun=2003&edisi=481&file=warna0901

3) Tips Sederhana Atasi Krisis Paruh Baya : http://www.astaga.com/Tips%20Sederhana%20Atasi%20Krisis%20Paruh%20Baya

4. Menopause pada Pria

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 518 other followers

%d bloggers like this: