Blog Archives

Sexual Harassment 1:

TUBUHKU TIDAK PORNO, YANG PORNO OTAKMU (FOKE) !!!!

 Itu kalimat yang terpampang dalam spanduk yang dibawa  para perempuan demostran di bundaran HI, Jakarta, 18 September 2011. Demostrasi ini dipicu oleh kalimat Fauzi Bowo (Foke), Gubernur Jakarta beberapa hari sebelumnya ketika menanggapi kasus perkosaan di angkot yang menimpa RS. Saat itu sambil bercanda Foke, panggilan akrabnya berkata sambil bercanda, “ Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini. Kan gerah juga (kaum pria).”

Aksioma dari kalimat Foke ini setidaknya ada dua : 1) perempuan pakai rok mini sah saja diperkosa; 2)  laki-laki adalah sejenis makhluk yang tak mampu mengendalikan akal budinya jika melihat perempuan memakai rok mini. Dengan demikian Foke sebagai pejabat public melepaskan diri dari tanggung jawabnya untuk memberi rasa aman pada warga negara.

Foke tidak sendiri. Banyak lelaki bereaksi begitu jika mendengar kasus perkosaan dan pelecehan seksual yang menimpa perempuan. Blame the victim, adalah rekasi spontan mereka. Reaksi yang lain mereka menganggap itu hal sepele dan tidakperlu ditindaklanjuti. Apalagi jika hanya pelecehan seksual, ini hanyalah “kenakalan ringan” laki-laki. Para pimpinan : para pejabat public dan boss di kantor yang kebanyakan  laki-laki sering punya pola pikir begitu.

Saya yakin hampir semua perempuan pernah mengalami pelecehan seksual meski dalam kadar yang “ringan” misalnya suitan-suitan nakal di jalan, atau dijadikan korban green jokes di kantor atau di sebuah perkumpulan. Banyak perempuan hanya diam ketika menjadi korban. Bisa jadi mereka malu, atau takut bahwa jika mereka menegur para pelaku akan membuat situasi kantor atau perkumpulan menjadi tidak nyaman dan satu lagi : kalaupun lapor boss – ya setali tiga uang, si boss tak bisa memahami perspektif perempuan.

Kenapa terjadi pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan menurut saya ada dua hal yaitu pola pikir (konstruksi sosial budaya) masyarakat  yang merendahkan perempuan dan tidak memadainya perlindungan hukum bagi korban / ancaman hukuman bagi para pelakunya. Perubahan pola pikir masyarakat itu butuh evolusi yang luar biasa panjang. Tetapi langkah kemajuan itu tidak harus bottom-up tapi juga bisa top-down. Maksud saya, jika pejabat public dulu yang harus memahami perspektif jender, sehingga segala kebijakan public juga peka jender. Semetara masyakarat juga akan berubah dengan pendidikan jender yang terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran di sekolah. Akh… sebuah mimpi.

Dengan cara ini akselerasi / percepatan sensitivitas gender akan terjadi. Bukan sebaliknya bahwa pejabat semacam Foke (dan saya yakin banyak pejabat public bahkan sesama perempuan) yang menyalahkan korban karena bebal terhadap didikan dan hanya menganggap pola pikirnya saja yang paling benar. Wilayah public yang penuh ancaman bagi perempuan seperti ini, dan pejabat yang cuci tangan, tak ada jaminan hukum; masihkan kita menganggap komunitas bangsa kita sebagai bangsa yang sopan, ramah, religious, beradab dan bermartabat ?

Sorry, ranah public yang aman dan santun adalah ciri paling luar, sebuah komunitas diniali bermartabat atau tidak. Saya pernah hidup di Negara secular, yang oleh sebagian para puritan di Indonesia dinilai serba buruk. Tapi saya sebagai perempuan selalu merasa aman berada di ruang public. Bahkan pulang dari kampus jam 1 malam, karena harus berada di studio komunikasi untuk mengerjakan tugas, tak pernah ada gangguan apapun.  Sekedar lirikan atau suitan nakal dari lelaki yang berpapasan dengan saya di jalan pun tak pernah saya jumpai. Saya pastikan, hal ini karena mentalitas dan pola pikir bangsa itu yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama manusia, tak peduli seberapa pun perbedaannya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 514 other followers