Prolog :
Saya sedang membaca buku “Menaopause pada Pria” (Male Menopause) dari Jed Diamond, seorang teraphis dari Amerika. Beberapa point dari buku ini sebenarnya adalah pembicaraan tentang isyu hidup paruh baya yang juga pernah saya tekuni. Saya ringkaskan dua bagian dari buku ini yang cukup menarik yaitu “The Season of Man’s Life”.
The Season of Man’s Life.
Orang dewasa berharap bahwa kehidupan dapat dimulai pada usia 40. Life begins at forty. Tetapi sisi lain pada usia ini seseorang juga dihadang oleh kegelisahan dan ketakutan besar dalam hidupnya. Visi hidup dapat digambarkan sebagai sebuah pendakian dengan usia 40 sebagai puncaknya. Banyak orang merasa tertantang untuk melakukan pendakian. Tetapi tidak bergairah dengan sebaliknya.
Perjalanan menuruni sisi sebaliknya selalu dihantui ketakutan, apakah ada gunung lain yang disebut sebagai “kedewasaan kedua” ? Bagaimana kalau di sana tidak ada apa-apa di dasarnya kecuali kematian?
Diilustrasikan dalam novel Independence Day karangan Ricard Ford, yang memenangkan hadiah Pulitzer. Tokohnya, Frank Bascombe bercerai pada usia paruh baya. “Mungkin ini suatu krisis besar atau akhir dari sebuah beban berat dan awal dari sesautu yang tidak jelas., “ katanya. Seperti pada banyak pria pada usia ini, Bascombe merasa harus membuat perubahan dalam hidup. Ia keluar dari tempat kerjanya di sebuah majalah olah raga besar di New York, pindah ke Florida, dan tahun berikutnya ke Perancis, sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Tetapi hidup Perancis, bahkan dengan ditemani oelh perempuan yang dua puluh tahun lebih muda, tidak meghapus kegelisahannya. Ini berbeda dengan apa yang ada dalam pikirannya pada hari-hari terakhir bekerja : banyak penyesalan, bercerai, mengejar perempuan untuk menenangkan diri sendiri, bersenang-senang dan sedikit bermimpi. Ternyata kegelisahan itu terus bersuara jauh di dalam hatinya sendiri.
Perubahan Pada Usia paruh Baya
Bagi sebagian orang istilah menopause pada pria, mungkin menggelikan, karena istilah ini secara harafiah adalah berhentinya proses menstruasi pada perempuan. Hal ini disadari oleh penulis buku ini. Sesudah ia mengadakan serangkaian diskusi intesif dengan para pria paruh baya, justru para pria tersebut menyetujui ide ini. Sebenarnya intinya adalah perubahan baik fisik maupun psikis pada pria ketika berada para usia paruh baya (penulis buku ini memberi interval usia 40 -55).
Gejala-gejala fisik yang umum yang dihadapi pria pada masa ini termasuk : diperlukan waktu lebih lama untuk sembuh dari luka, daya tahan untuk aktivitas fisik berkurang, berat badan cenderung bertambah, kesulitan membaca huruf berukuran kecil, mudah lupa atau memori hilang, rambut rontok atau menipis.
Gejala psikologi yang umum dihadapi : mudah tersinggung, ragu-ragu, gelisah atau takut, depresi, hilang kepercayaan diri, kehilangan tujuan hidup, merasa kesepian, tidak menarik dan tidak dicintai.
Gejala seksual paling umum dihadapi : minat pada seks berkurang, kegelisahan dan ketakutan mengenai perubahan seksual meningkat, fantasi melakukan hubungan seksual dengan orang lain meningkat, masalah relasi dalam keluarga dan pertengkaran mengenai seks, cinta dan keakraban meningkat, ereksi hilang ketika sedang melakukan hubungan seksual.
Sejumlah perubahan tesebut dapat mengakibatkan depresi. Lebih celaka lagi sebagian pengidapnya tidak menyadari kondisi mereka sendiri. Beberapa tanda-tanda yang umum dari depresi berat antara lain : murung terus-menerus, sering memikirkan kematian, hilang kemampuan untuk berpikir dan konsentrasi, merasa tidak berharga, tidur terlalu banyak, kurang berenergi, hilang kegembiraan dan aktivitas, dan berat badan naik atau turun secara signifikan.
Dua Jenis Depresi
Menurut penulis buku ini ada dua jenis depresi, yaitu depresi dinamik yang mengarah keluar dan depresi magnetic yang mengarah ke dalam. Pria kemungkinan lebih besar mengalami deprsei dinamik, sedangkan perempuan lebih besar kemungkinannya untuk mengalami depresi magnetik.
Berikut ini beberapa gejala yang umum :
| No. | Depresi magnetik | Depresi dinamik |
| 1. | Menyalahkan diri sendiri atas pemasalahan yng timbul | Orang lain harus disalahkan atas permasalahan yang timbul |
| 2. | Sedih, apatis, tidak bernilai | Marah, mudah tersinggung, membanggakan diri |
| 3. | Gelisah dan takut | Curiga dan merasa diawasi |
| 4. | Menghindari konflik dengan pengorbanan apapun | Menciptakan menykaui konflik |
| 5. | Selalu mencoba bersikap manis pada orang lain | Terang-terangan atau diam-diam memusuhi orang lain |
| 6. | Menarik diri kalau tersakiti | Menyerang bila tersakiti |
| 7. | Kesulitan menghargai diri sendiri | Menuntut orang lain menghormati mereka |
| 8. | Merasa dilahirkan untuk gagal | Dunia diciptakan untuk membuat mereka gagal |
| 9. | Lambat dan gugup | Gelisah dan tidak dapat diam |
| 10. | Suka menunda-nunda secara kronis | Menepati waktu dengan terpaksa |
| 11. | Tidur terlalu banyak | Kurang tidur |
| 12. | Mengalami kesulitan mentapkan batas | Perlu kendali dengan pengorbanan apapun |
| 13. | Sering merasa bersalah tasa apa yang dilakukan | Sering merasa malu akan siapa diri mereka |
| 14. | Tidak nyaman menerima pujian | Merasa frustrasi bila kurang dipuji |
| 15. | Mudah membicarakan kelemahan dan keragu-raguan | Takut membicarakan kelemahan dan keragu-raguan |
| 16. | Takut sukses | Takut gagal |
| 17. | Perlu berada di tengah orang lain untk merasa nyaman | Perlu menjadi “orang nomor satu” untuk merasa aman |
| 18. | Menggunakan makanan, teman dan “cinta” untuk mengobati diri sendiri | Menggunakan alcohol, TV, olah raga dan seks untuk mengobati diri sendiri. |
| 19. | Yakin bahwa masalah mereka akan selesai bila meraka dapat menjadi ……(pasangan, rekan kerja, teman, orang tua) yang lebih baik. | Yakin masalah mereka akan selesai hanya bila ….. (pasangan, rekan kerja, teman, orang tua) mereka bersedia memperlakukan mereka dengan lebih baik. |
| 20. | Selalu mempertanyakan “Apakah saya cukup pantas untuk dicintai?” | Selalu mempertanyakan “Apakah saya sudah cukup dicintai?” |
Apa yang Dapat Dilakukan ?
Orang tak dapat menolak perubahan. Tapi memahami dan menerima perubahan sebagai sesuatu yang semestinya terjadi merupakan cara yang mujarag untuk menjadio teraphis bagi diri sendiri. Sebagagian caranya adalah menjalani cara hidup yang sehat dan seimbang. Bisa dituliskan beberepa di antaranya :
1. Makan makanan yang tepat. Diet tradisional Asia dengan nasi (biji-bijian), banyak sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, sedikt daging, tanpa produk olahan susu merupakan bahan dasar yang baik untuk makanan kesehatan.
2. Jaga kebigaran fisik. Olah raga teratur termasuk bernagai komponen sebagai berikut : ketahanan kardiorespiratori, kekuatan otot dan fleksibilitas.
3. Minum vitamin dan senyawa tambahan.
4. Makan herba untuk menyeimbangkan system dan melindungi prostat (ada beberapa saran makanan olahan yang saya rasa sulit dicari merek itu di Indonesia /vg).
5. Memeriksakan kesehatan secara teratur.
6. Periksa kadar hormon ketika anda semakin tua.
7. Kurangi stress dan kekhawatiran dalam hidup.
8. Terima seksualitas secara wajar dalam paruh kedua kehidupan. Pada paruh pertama kehidupan pria sering terfokus pada daya tarik fisik. Dalam paruh kedua kehidupan seksualitas lebih menyertakan penekanan pada persahabatan, cinta, keakraban dan kerohanian.
9. Mempersiapkan diri memasuki usia lanjut.
10. Bergabunglah dengan kelompok pria sebaya, dengan demikian akan mendaptak support system atau kelompok pendukung.
11. Jajaki dan wujudkan panggilan hidup. Dalam paruh pertama kehidupan sebagian besar pria mencari karier dan mengumpulkan uang untuk menopang keluarga. Dalam paruh kedua sering muncul keinginan untuk mewujudkan pekarjaan dan panggilan lain dalam hidup. Panggulan berasal dari bagaian terdalam mengenai siapa diri kita, apa yang kita cintai, inti dari semangat kita dan kebutuhan masyarakat di sekitar kita. Menemukan dan berusaha mewujudkannya akan membuat paruh kedua kehidupan anda lebih berarti dan menyenangkan.
12. Menjadi penasihat bagi pria muda. Pada paruh pertama kehidupan pria sering menemukan harga diri dan nilai mereka pada kemampuan untuk menjadi “pelaku” yang berhasil. Pada paruh kedua kehidupan mereka termasuk panggilan meraka adalah “memberi” kembali kepada masyarakat tentang nilai-nilai kebijaksanaan kehidupan. Tanpa pembaktian diri semacam ini masyarakat akan berantakan.
Menghadapi Kenyataan
Kegelisahan, panggilan yang menyeru-nyeru di dalam lubuk hati dalam usia paruh baya bersifat sangat pribadi. Hal ini meungkin akan member pelajaran yang berharga dan pencerahan bila seseorang mampu menangkapnya dan tidak menghindarinya karena ketakukan pada rasa sakit.
Khayalan banyak orang sering terlalu negative mengenai usia tua. Orang ingin langsung meloncat dari puncak gunung yang pertama menuju puncak gunung yang kedua. Tapi hidup tidak seperti itu. Puncak menuju gunung kedewasaan kedua hanya dapat dicapai dengan menuruni gunung kedewasaan pertama. Perjalanan jauh menuruni gunung itu dan melewati lembah di bawah adalah apa yang disebut oleh penulis buku ini sebagai “Jalan Menopause Pria”.
Panggilan dari Jalan Menopause Pria adalah menyiapkan posisi mereka untuk memelihara dan membimbing pria i yang lebih muda. Penulis sajak Robert Bly menyebut proses ini sebagai “ibu pria”. Hanya keberhasilan melewati Jalan Menopause Pria yang akan membuat pria memiliki kebijaksanaan dan jawaban atas pertanyaan para pria (dan generasi) yang lebih muda.
Salah satu kegembiraan para usia paruh baya adalah mampu melihat ke belakang sepanjang jalan yang telah dilalui dan menangkap pandangan sekilas mengenai jalan di depan. Setelah berhasil mencapai dasar “Gunung Kedewasaan Pertama” seseorang mampu mengatakan dengan yakin bahwa ada gunung lain yang menunggu.***********
Artikel terkait :
Menjalani Kehidupan Setelah Tak Muda Lagi



+ lampiran